TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 110


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, disaat ibel terus memantau sang suami yang dimana isi ponselnya masih tersadap dileptopnya. Ibel pun sontak terkejut ketika melihat isi chat thomas dengan kontak yang bernama ‘pak feli’ dimana chat tersebut berisikan sebuah barcode pemesanan kamar hotel. Hal tersebut membuat ibel sontak tercengang dan curiga. Ia lalu menghubungi marco untuk memberitahukan hal tersebut.


“Sialan! Apalagi ini, sebenarnya siapa ‘pak feli’ ini? Kenapa mereka memesan sebuah hotel? Dan lokasi hotelnya pun masih diarea kota ini, cih!! Apa meeting kalian akan diselenggarakan dikamar hotel ini? Arghhh, sangat tidak mungkin.” Gumamnya.


“Tapi tunggu, jika benar mereka meeting dihotel ini bagaimana? Yang ada jika aku menemui mereka, thomas akan sangat marah kepadaku karena aku lancang datang kesana tanpa disuruh.” Imbuhnya.


TUT!!


Ibel pun sontak menghubungi marco saat itu juga.


“Halooo..” Sapa ibel dalam sambungan Telfon yang telah terhubung kepada marco.


“Halo, bu? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Sahut marco diseberang sana.


“Marco, dimana kamu sekarang?!” Tanya ibel menggebu-gebu.


“Saya dikantor bu, seperti biasanya. Ada apa bu? Apakah ada hal yang mendesak yang memerlukan bantuan saya sekarang?” Sahut marco yang ikut panik.


“Eum, sepertinya kita perlu bertemu. Apakah kamu bisa datang ke toko bakery ku hari ini,marco?!” Pekik ibel kepada marco.


“Bagaimana jika sekitar 3 jam lagi bu? Soalnya saya masih ada kerjaan nih dikantor.” Sahut marco saat itu.


“Baiklah marco, Its Okey. Saya tunggu ya, hanya kamu yang bisa membantu saya..” pekik ibel kembali.


“Siap bu..” singkat marco dengan tegas.


PIP!


“Kira-kira ada apa lagi dengan bu ibel? Apa ini ada hubungannya lagi dengan pak thomas? Hmm..” gerutu marco seraya memutarkan ponselnya ditangannya.


Sementara ibel sendiri, tengah bergelut dengan fikirannya sendiri. Namun ia tetap fokus pada pekerjaannya saat itu.


“Hmm, santai dulu bel santai..” Dehem ibel sendiri.


Ibel pun bangkit dari kursi kerjanya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya,


“Bu..” Sapa karyawannya dengan sopannya hingga ibel pun berbalik memberikan senyumannya kepada karyawan tersebut.


“Selamat datang, silahkan dipilih aneka Cake beserta variannya kak, semoga suka dengan rasanya.” Seru ibel ketika menyapa customor yang baru saja masuk ke tokonya.

__ADS_1


“Terimakasih.” Sahut customor tersebut dengan tersenyum lebar.


“Ibu, Yaampun.. best owner banget deh pokoknya bu ibel mah!” Lirih raras yang berada tak jauh dari ibel.


“Memang harus seperti ini bukan?” Sahut ibel dengan lirih.


“Siappp buu! Hehe..” Ucap raras kembali seraya mengacungkan kedua jempolnya.


Pelanggan pun semakin ramai, hingga ibel pun sampai ikut turun tangan membantu karyawannya yang terlihat kwalahan saat itu.


“Meja kasir satunya pakai saja kalo sedang ramai begini..” Bisik ibel kepada Toni.


“Tapi bu, siapa yang—“ sahut Toni yang langsung dipotong ibel.


“Biar saya yang jadi kasir satunya. Okey?!” Potong ibel yang saat itu dianggukkan oleh Toni.


*Waktu pun terus bergulir, hingga tak terasa jam pun terus berputar. Marco pun menepati janjinya untuk datang ke toko bakery milik ibel tepat pada 3 jam kemudian.


CEKLEK!


“Silahkan tuan, mau cari Cake apa?” Sapa raras kepada marco.


“Oh, maaf kalo boleh tau tuan siapa yah? Biar saya sampaikan sama bos saya jika ada yang mencarinya. Kebetulan, Beliau sedang ada dikamar mandi.” Pekik raras kepada marco.


“Saya marco, ajudan pribadi keluarga pak thomas.” Sahut marco saat itu juga.


“Baiklah, pak marco. Tunggu sebentar yah.” Sergah raras yang saat itu dianggukkan oleh marco.


“Heiii marco!” Sapa ibel yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Arghh, itu dia ibu ibelnya.” Lirih raras seketika.


“Eum, sini marco. Ikut ke ruanganku..” ajak ibel hingga saat itu marco pun melangkahkan kakinya mengikuti ibel didepannya.


Braghh!!


“Ada apa bu? Apa ada hal yang penting?” Tanya marco dengan raut wajah seriusnya.


“Marco, kau lihatlah sendiri ini.. aku tak mau menjelaskannya lagi kepadamu, sudah pasti kau akan faham apa maksudku.” Pekik ibel seraya menunjukkan layar leptopnya kepada marco.

__ADS_1


Marco pun mendekatkan dirinya kearah leptop yang ada dimeja kerja ibel. Ia pun langsung membaca isi chat yang ibel tunjukkan tersebut.


Marco pun sejenak membulatkan matanya lebar-lebar. Lalu kemudian ia pun sekilas melirik ibel dengan lirikan yang sulit diartikan.


“Saya hanya ingin memastikan, apa benar ada jadwal meeting mereka dihotel ini pada tanggal dan hari sesuai yang sudah kamu baca tadi?” Ucap ibel kepada marco.


Marco pun menelan salivanya dengan pelan, “Bu.. sudah saya sampaikan kepada ibu bahwa tidak ada client yang bernama pak feli ini, namun saya kembali teringat pada client besar yang sudah banyak membantu perusahaan kita untuk memenuhi target keuangan yang stabil kembali.” Jelas marco kepada ibel.


“Siapa yang kamu maksud itu?” Tanya ibel dengan menatap marco.


“Client muda yang memiliki perusahaan ternama dikota ini, namanya ibu anggita felisha clara. Sudah sejak dua bulan yang lalu ia sudah bekerja sama dengan perusahaan kita, dan perusahaan kita kembali stabil seperti semula.” Ungkap marco.


“ANGGITA FELISHA CLARA? Apa jangan-jangan yang dimaksud ‘pak feli’ itu felisha ini?!” Lirih ibel dengan tatapan kosongnya.


“Apa hubungannya dengan thomas terlihat mencurigakan? E-maksudnya sama seperti saat thomas berselingkuh dengan Siska dulu?” Tanya ibel kepada marco.


“Tidak bu, bahkan saya tidak menemukan kejanggalan diantaranya. Setiap kali bertemu untuk meeting pun kami hanya seperti biasanya. bertemu-bekerja-lalu pergi secara masing-masing.” Pekik marco dengan mengerjapkan kedua matanya.


“Tetapi kau lihat sendiri kan marco? Isi chatnya dengan ‘pak feli’ itu benar-benar mencurigakan, memang mereka tidak melontarkan secara langsung percakapan mesranya, namun ada beberapa kode yang seperti mereka sengaja pakai dalam komunikasinya. Faham kan maksudku?” Sahut ibel kepada marco.


“Jadi apa yang akan sekarang ibu lakukan?” Tanya marco kepada ibel.


“Apakah kita perlu datang pada hari dimana mereka booking hotel itu?” Gerutu ibel seraya bertanya kepada marco.


“Jika hal itu tepat untuk ibu, maka saya siap untuk menemani ibu. Daripada kita hanya berburuk sangka lebih baik kita juga pelan pelan harus bisa mencari buktinya.” Tegas marco pada ibel.


“Biar saya fotokan barcode hotel ini, dan saya akan survei langsung kesana untuk menanyakan kebenarannya pada resepsionis hotel ini.” Pekik marco yang saat itu dianggukkan oleh ibel.


“Sebelumnya terimakasih banyak marco, kamu selalu siap untuk membantu saya meskipun seharusnya kamu ada dipihak thomas.” Sahut ibel dengan mata yang berkaca-kaca.


“Saya akan selalu ada dipihak kebenaran bu, karena dalam keluarga saya, kejujuran adalah nomor satu.” Pekik marco dengan menatap ibel penuh arti.


“Eum-baiklah kalo begitu, saya permisi balik lagi kekantor ya bu. Takutnya pak thomas mencari saya..” imbuh marco saat itu juga.


“Iyah, marco. Silahkan. Sekali lagi terimakasih banyak ya marco..” sahut ibel yang saat itu dianggukkan oleh marco.


Marco pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ibel tersebut dan meninggalkan area tolo bakery tersebut. Sementara ibel sendiri merasa legah ketika dirinya sudah bertemu dengan marco.


“Puji Tuhan, marco sangat baik hati. Dirinya tulus membantuku, semoga kebaikan selalu menyertainya.” Gumam ibel dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


**


__ADS_2