
Sore harinya, setelah dokter telah selesai memeriksa kondisi thomas saat itu.
“Aku sudah memberi kabar ayah soal ini, sebentar lagi ayah akan datang kerumah.” Pekik ibel kepada thomas yang masih terbaring lemah diatas kasur.
“Hmm.” Dehem thomas dengan raut wajah piasnya.
“Kamu dengar kan tadi dokter bilang apa? Kamu harus banyak minum air putih supaya tubuhmu kembali fit! Eum, Untung saja aku tidak bilang kalo kamu kebanyakan minum malam tadi hingga badanmu sampai drop seperti ini..” Ungkap ibel kepada sang suami.
“Aku tidak selemah ini, bel. Kamu tau kan? Dari dulu pun aku sering mabuk, dan aku tidak apa-apa!” Sahut thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Itu dulu kan? Sekarang bagaimana? Coba lihatlah dirimu yang sekarang? Kamu lemah sekarang thomas! Kamu tidak sanggup terlalu banyak minum seperti dulu! Jadi lain kali jangan lakukan itu lagi demi kesehatanmu sendiri..” Tutur ibel kepada thomas.
“Arghhh, aku sakit bukan karena minum! Aku sakit karena aku benar-benar drop saking kelelahannya bekerja mencari uang untukmu dan juga Alice!” Elak thomas saat itu juga.
“Hmm, masih sakit tetep aja gak mau kalah kalo bicara. Dasar kolot!” Batin ibel dengan melengoskan wajahnya dari hadapan sang suami.
“Yasudah terserah kamu saja, aku malas debat denganmu. Sekarang, minum obatmu. Lalu istirahatlah..” Ucap ibel dengan lembutnya seraya memberikan obat kepada thomas.
“Terimakasih.” Singkat thomas yang langsung meminum obatnya.
“Sama-sama, Oiya Bay the way mobilmu baru akan diantar Vega nanti malam. Teman-temanmu bilang waktu mereka ingin mengantarmu pulang kesini, mereka malah mendapati ban mobilmu yang ternyata sudah bocor semua. Jadi semalam mobilmu ditinggal dan diurus oleh Vega.” Ungkap ibel yang menatap sang suami dengan tatapan seriusnya.
“Apa kamu bilang? Ban mobilku tiba-tiba bocor semua?!” Tanya thomas yang terkejut mendengar ucapan sang istri.
“Iyah, aneh sekali bukan. Kalo memang bocor karena sesuatu pasti hanya salah satu bannya saja kan?! Ini kan keempatnya bocor semua..” Sahut ibel yang menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Syit!!! Aku tau ini ulah siapa!!” Decih thomas dengan tatapan tajamnya.
“Belll, ini Alice sepertinya pup deh. Kamu gantiin dulu gih popoknya.” Panggil mama rina yang baru saja masuk kedalam kamar menemui ibel dan juga thomas seraya menggendong Alice.
“Ha? Iya kah mah? Yasudah sini biar ibel gantikan dulu popoknya..” Ucap ibel yang langsung meraih Alice dalam gendongan sang nenek.
“Bel, sudah hampir malam. Kalo mama pulang sekarang bagaimana?” Tanya mama rina kepada ibel.
“Ya gak papa mah, kalo mama mau pulang sekarang gak papa kok. Dari pada nanti kemalaman nanti malah mama kurang istirahat loh..” Sahut ibel saat itu juga.
“Thomas, gimana? Kamu gak papa mengurus Alice sekaligus thomas sendirian?” Tanya mama rina kepada ibel.
“Thomas gak papa kok mah, thomas sama sekali gak merepotkan ibel. Lagi pula kan juga ada mbak Susi yang menemani ibel disini..” Sahut ibel yang dianggukkan thomas juga.
“Thomas kira, mama mau menginap disini mah..” Cela thomas kepada mama rina.
“Enggak lah thom, mama juga gak bawa baju ganti. Besok kan mama harus kerja, mama gak tau kalo kamu sakit. Kalo mama tau tadi mama sekalian bawa baju ganti untuk kerja besok..” Ucap mama rina dengan lembutnya.
__ADS_1
“Hmm, Yasudah mah gak papa. Mama hati-hati ya pulangnya, makasih udah sempetin main kesini jenguk ibel dan juga Alice..” Sahut thomas hingga membuat ibel pun sontak tersenyum mendengarnya.
“Sama-sama nak, kalian yang akur ya. Jangan berantem, kasian Alice. Kalian harus menyingkirkan ego kalian masing-masing demi Alice. Itu saja pesan mama yah.” Pesan mama rina yang saat itu dianggukkan oleh keduanya.
“Oiya, Bay the way bicara soal Alice. Tadi pagi ibel dapat Telfon dari dokter bedah nya Alice. Kita disuruh cepat menandatangani surat persetujuan operasi Alice, karena jadwalnya sudah keluar.” Ungkap ibel saat itu juga.
“Wahhh, syukurlah. Akhirnya jadwal operasi Alice sudah keluar. Semoga Alice bisa secepatnya sembuh setelah operasi nanti.” Seru mama rina yang bahagia mendengarnya.
“Puji Tuhan, akhirnya. Kalo begitu ayo kita kerumah sakit untuk menandatanganinya.” Timpal thomas seketika.
“E-e mau ngapain kamu thomas? Kamu kan lagi sakit. Gimana sih!” Sergah mama rina seketika.
“Gak usah, sayang. Nanti biar aku sendiri yang kerumah sakit gak papa kok. Kan cuma tanda tangan doang..” Timpal ibel kepada thomas.
“Gak boleh, biar saja nanti aku suruh marco yang datang kerumah sakit. Dari pada harus kamu yang sendirian kesana..” Pekik thomas yang menatap ibel dengan tatapan tajamnya.
“Hmm, ya sudah kamu manut saja bel.” Pinta mama rina yang melirik kearah ibel.
“Eum, Ya baiklah. Terserah thomas saja.” Angguk ibel saat itu juga.
“Yasudah sana gantiin dulu popok Alice, aku tahan bau loh dari tadi, bel.” Perintah thomas yang dianggukkan ibel saat itu juga.
“Hehe, Iyah sampe lupa aku..” Ringis ibel seketika.
“Iyah, mah. Hati-hati dijalan ya mah. Gak usah ngebut yang penting sampai dengan selamat.” Pesan ibel kepada mama rina.
“Iyah, sayang!”
“Thomas, semoga lekas sembuh ya! Mama tau kamu strongg!” Imbuh mama rina hingga membuat thomas pun menerbitkan senyumannya saat itu juga.
“Siap mamah!” Sahut thomas seraya mengacungkan jempolnya.
*Waktu pun terus bergulir, setelah kepergian mama rina. Ibel pun sedikit bersendau gurau bersama suami dan anaknya di satu ranjang yang sama. Hal yang sangat jarang terjadi pada keluarga kecil tersebut.
“Liat hidung Alice, kok bisa sama banget ya sama kamu hihi” Celoteh ibel dengan tawa kecilnya.
“Gak papa, beruntung dong harusnya kamu. Aku kan sudah memperbaiki keturunanmu. Lihat Alice, cantik sekali bukan?! Kamu saja kalah jauh wlek” Guyon thomas saat itu juga.
“Yeee! Mana bisa begitu, Alice cantik karena Mommy nya pun cantik! Wuuu..” Protes ibel kepada sang suami.
“Tapi buktinya wajah Alice gak mirip kamu,bel. Alice itu 99% potocopy an ku! Jadi ya terbukti ya siapa gen yang bagus disini Ekhem.” ledek thomas yang tidak mau kalah dengan sang istri.
Ibel pun sontak mencubit tubuh sang suami dengan gemas.
__ADS_1
“Awwww! Sakit, nakkk tolong daddy. Mommy mu ganas sekali sayang..” Ringis thomas yang meminta bantuan sang anak.
Ibel pun tersenyum manis saat itu juga, menikmati moment kebersamaannya dengan sang suami yang baru pernah ia rasakan untuk pertama kalinya.
“Kalo begini rasanya berkeluarga yang sesungguhnya, aku lebih memilih agar thomas terus sakit. Supaya aku bisa terus merasakan kehangatan seperti ini.” Batin ibel yang menatap wajah thomas dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hingga tak lama kemudian, suara ketukan pintu kamar pun terdengar dengan jelas.
TOK TOK TOK\~
“Eum, sebentar ya. Sepertinya itu ayah..” Pekik ibel kepada thomas.
Ibel pun bangkit dari tempat tidurnya dan langsung melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu kamarnya tersebut.
CEKLEK*
“Ayah, sudah datang. Mari yah silahkan masuk.” Pekik ibel kepada ayah Jacky yang ada dihadapannya saat itu.
“Bagaimana keadaan thomas?” Tanya ayah Jacky yang saat itu masuk kedalam kamar sang anak.
“Sudah lebih baik dari sebelumnya yah, dokter bilang thomas hanya butuh istirahat saja dan juga minum air putih yang banyak agar tubuhnya fit kembali. Demamnya juga sudah lumayan turun.” Jawab ibel yang berjalan dibelakang ayah Jacky.
“Ayah..” Lirih thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kamu ini kenapa bisa sampai sakit seperti ini,thom? Apakah pekerjaan kantormu terlalu berat untukmu hingga kamu sampai sakit seperti ini?!” Tanya ayah Jacky kepada thomas.
“Tidak, ayah. Bukan karena itu. Thomas hanya kecapean saja. Paling juga lusa thomas sudah kembali bekerja..” elak thomas saat itu juga.
“Jika kamu terbebani, maka bicaralah dengan ayah. Ayah tidak mau membuatmu sampai sakit seperti ini lagi..” Pekik ayah Jacky kepada thomas.
“Ayah ini bicara apa, jangan seperti itu. Anakmu ini sudah besar, bukan anak kecil lagi. Thomas bisa melakukan pekerjaan yang ayah berikan ini.” Sahut thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Syukurlah kalo kamu menyanggupinya, ayah hanya sedikit khawatir saja.” Ucap ayah Jacky dengan mengerjapkan kedua matanya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan yah, semua akan aman ditangan thomas! Percaya saja pada anakmu ini..” Sahut thomas yang saat itu dianggukkan oleh sang ayah.
“Cucu ku sayang, bagaimana kabarmu nak? Sini sama opa..” Cela ayah Jacky yang beralih berceloteh kepada Alice.
“Jadwal operasi Alice sudah keluar yah, kita disuruh tanda tangan secepatnya.” Pekik thomas kepada ayah Jacky.
“Yasudah kalo begitu tanda tangani lah segera! Agar Alice cepat dioperasi..” Sahut ayah Jacky yang saat itu dianggukkan oleh keduanya.
**
__ADS_1