
Jari lentiknya pun mulai membuka layar ponselnya tersebut, ia mencari kontak seseorang untuk menemani kesepiannya malam itu.
TUT\~\~
Tak butuh waktu lama, seseorang pun sontak menerima panggilan tersebut.
“Halo, mah?!” Sapa ibel dalam sambungan telfonnya.
“Halo, sayang.. apa kabar kamu nak? Vidio call saja dong. Mama rindu ingin melihat wajah anak mama yang cantik ini.” Sahut mama rina yang meminta sambungan telfonnya itu dialihkan menjadi vidio call.
“Baiklah, mah.” Sahut ibel seraya mengalihkan panggilan telfonnya menjadi vidio calling.
“Nahhh, gitu dong. Kan jadi keliatan wajah cantik anak mama ini..” pekik mama rina diseberang sana dengan senyuman manisnya.
“Hehe, mama bisa aja. Bay the way mama lagi ngapain disana?! Ibel kangen..” Ucap ibel yang juga menyunggingkan senyumannya.
“Mama lagi rebahan aja nih sayang, capek. Mama baru pulang dari kantor sekitar satu jam yang lalu..” Sahut mama rina dengan raut wajah piasnya.
“Kasihan, capek ya mah pasti?! Mama udah makan belum?!” Tanya ibel kepada mama rina.
“Sudah kok sayang, kamu sendiri lagi ngapain disitu? Udah makan belum? Tumben kamu gak jalan sama thomas..” Sahut mama rina diseberang sana.
“Enggak mah, badan ibel pegal pegal sekali. Pengennya rebahan terus..” Keluh ibel kepada mama rina.
“Memang begitu rasanya hamil,nak. Kamu suruh saja thomas untuk memijat punggungmu supaya sedikit hilang rasa pegalnya..” Usul mama rina kepada sang anak.
“Thomas lagi keluar mah..” Lirih ibel saat itu juga.
“Keluar? Kemana? Bukannya dia sedang libur bekerja?!” Tanya mama rina seketika.
“Eum, thomas bukan pergi bekerja mah. Dia pergi bersama dengan teman temannya bermain billiard.” Sahut ibel dengan raut wajah polosnya.
“Astaga! Mama gak habis fikir deh sama suami mu itu bel! Kenapa dia malah meninggalkanmu sendirian disaat kamu hamil besar seperti itu. Fikirannya benar-benar masih egois! Dia fikir dia masih perjaka dan bebas bermain kemanapun dia mau tanpa memikirkan istrinya!!” Gerutu mama rina dengan mulut yang tak berhenti berkomat-kamit.
“Sudahlah mah, biarkan saja. Mungkin dia bosan dirumah terus..” Bela ibel saat itu juga.
“Itu egois namanya sayang! Coba lihat dirimu sekarang, mama tau kamu juga pasti bosan dengan kehidupanmu sekarang yang harus berdiam diri terus dirumah, tapi kamu gak egois seperti thomas yang bisa seenaknya keluar main dengan teman temannya dengan alasan bosan dirumah! Hrrr..” Ungkap mama rina yang nampak sebal terhadap thomas hingga membuat Ibel pun sontak merenungi setiap ucapan sang mama tersebut.
__ADS_1
“Ucapan mama memang benar, sebenarnya aku pun sangat jenuh dengan kondisiku saat ini yang harus diam dalam sangkar setiap hari..” Batin ibel yang nampak melamun saat itu juga.
“Belll, Haloo.. kenapa malah melamun kamu? Kamu dengar mama ngomong kan?!” Tegur mama rina kepada sang anak.
“Eum, Iyah Iyah mah. Ibel denger kok apa yang mama ucapkan barusan..” sergah ibel yang tersadar akan lamunannya.
“Bel, Oiya kamu dapat salam loh..” Ucap mama rina yang tersenyum didepan layar ponsel tersebut.
“Dapet salam dari siapa, mah?!” Tanya ibel seketika.
“Dari abang kurir bel, hehe.. kemarin waktu mama beli paketan abangnya malah nanyain kamu ‘bu, anaknya yang cantik itu yang biasa beli paketan Shopee itu dimana? Kok lama ini gak beli paket’ katanya gitu. Bel, Ck” Kelakar mama rina hingga membuat ibel pun sontak tersenyum dengan lebar.
“Haha, kirain dapat salam dari siapa. Mama bisa aja deh, Hmm.” Ucap ibel dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“Ya gimana para kurir gak nanyain kamu, bel. Dulu kamu itu setiap hari ada aja paketan yang datang. Untung mama nya gak tau, coba kalo tau. Beuhhh habis kamu kena ceramah mama bel” Sindir mama rina saat itu juga.
“Ck, ya maaf mah.. lagipula kan paketan paketan dulu itu kan sebagian juga dapat endorse an. Huhh” Ucap ibel dengan memanyunkan bibirnya.
Ibel pun kembali teringat masa-masa dirinya yang sangat aktif dalam bermain sosial media, semua orang di dunia maya begitu mengangumi dirinya. Banyaknya tawaran endorse untuk dirinya membuatnya begitu bersemangat dalam menjalani kehidupannya.
Meskipun dalam lubuk hatinya ia merasa sangat sedih, namun hal itu tetap harus ia lakukan.
“Gak kerasa ya nak, kita telfonan sudah satu jam lamanya..” Ucap mama rina dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
“Iyah, mah.” Singkat ibel seraya menganggukkan kepalanya.
Saat itu ibel ingin merubah posisinya tidur dari miring kanan ke miring kiri, namun ia pun melihat bercak air berwarna putih bening yang ada diatas kasurnya tepatnya dibawah tubuhnya terbaring.
“Air apaan nih? Kayaknya gue gak ngerasa kencing tapi kenapa celana gue juga basah gini yah?!” Gumam ibel yang didengar oleh sang mama didalam sambungan vidio calling nya tersebut.
“Kenapa, kamu bel?!” Tanya mama rina seketika.
“Ini, mah. Celana ibel basah sampe tembus kekasur, tapi ibel gak ngerasa kalo buang air kecil dicelana..” Ungkap ibel kepada mama rina.
“Coba mama lihat..” sergah mama rina yang mulai khawatir diseberang sana.
Ibel pun bergegas menunjukkan cairan tersebut kepada mama rina dalam vidio calling nya tersebut. “Tuh, mahhh.” Singkatnya yang saat itu memperlihatkannya kepada mama rina.
__ADS_1
“Ibel, itu air ketuban nak!!!” Seru mama rina dengan mata yang terbelalak dan raut wajah yang berubah menjadi panik.
“Air ketuban? Apa itu mah?!” Tanya ibel dengan raut wajah polosnya.
“Yaampuun, air ketuban itu air yang ada didalam janinmu. Intinya kalo mau melahirkan pasti akan keluar air ketuban itu. Sekarang, Apa kamu sedang merasakan kontraksi nak?!” Sahut mama rina dengan paniknya.
“Kontraksi itu apa lagi mah?! Ibel gak tau bahasa mama..” tanya ibel dengan raut wajah bingungnya.
“Eum, itu. Sakit perutt! Iya kamu sedang sakit perut sekarang?!” Sahut mama rina dengan menggebu-gebu.
“Enggak, kok mah.. ibel gak ngerasain apapun sekarang.” Elak ibel dengan menggelengkan kepalanya saat itu juga.
“Haduh, bel. Itu kamu sudah keluar air ketuban, lebih baik kamu sekarang Telfon thomas suruh dia pulang dan kalian pergi kerumah sakit secepat mungkin! Cepat, ikuti perintah mama sekarang juga!” Sergah mama rina dengan tegas.
“Tapi mah, ibel kan belum ngerasain apa-apa. Nanti kalo ibel suruh thomas pulang sekarang dan dia tau ibel gak apa-apa pasti dia akan marah sekali mah dengan ibel..” Ucap ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Yasudah, kalo begitu biarkan mama saja yang menghubungi thomas. Mama gak bisa diam saja gini bel. Andaikan rumah kita dekat saja sudah pasti mama yang akan kesitu membawamu kerumah sakit, kondisimu sudah seperti itu, itu menandakan sebentar lagi kamu akan melahirkan.. jangan sampai kamu kesakitan sendirian dirumah itu bel.” Sahut mama rina yang nampak begitu cemas.
Ibel pun nampak mulai gusar dan was-was, ia takut jika harus mengalami masa kontraksi sendirian malam itu.
“Iya sudah mah, tolong mama hubungi thomas sekarang agar cepat pulang kerumah. Ibel juga takut jika harus sendirian disituasi seperti ini..” perintah ibel kepada mama rina.
“Oke, baiklah. Kamu tunggu yah.. kalo begitu mama matikan dulu vidio call nya yah, kamu terus kasih kabar ke mama yah nak..” Pamit mama rina dengan raut wajah piasnya.
“Iyah, mah.” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya.
PIP*
Setelah memutuskan sambungan telfonnya tersebut, ibel pun sontak bangkit dari tempat tidurnya.
Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan untuk mengemasi beberapa barang dan baju untuk ia bawa kerumah sakit.
Meskipun belum merasakan apa-apa, namun dirinya mulai was-was saat itu juga.
“Ya Tuhan, gimana rasanya orang melahirkan yah?! Aku takut sekali, gak pernah terbayangkan jika aku akan merasakannya sebentar lagi..” gumamnya dengan jantung yang berdebar kencang.
“Semoga saja aku diberi kemudahan dalam melahirkan nanti, amen.” Doanya di lubuk hatinya yang paling dalam seraya mengemasi barang barangnya saat itu juga.
__ADS_1