
*Beberapa Hari Kemudian\~
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, dimana bayi yang masih berusia enam bulan terpaksa harus melakukan operasi demi kesembuhan penyakitnya.
Hari itu, tepat pukul setengah enam pagi. Para perawat rumah sakit tersebut sudah berbolak-balik kekamar rawat inap anak pertama dari pasangan ibel dan juga thomas itu tentunya untuk memastikan persiapan operasi yang akan dilakukan pukul sembilan siang itu.
“Moms, Adek nya sudah berpuasa kan sesuai perintah dokter semalam?!” Tanya salah satu perawat yang mendatangi ibel saat itu.
“Sudah kok sus, Alice sudah berpuasa dari jam empat subuh tadi.” Sahut ibel seraya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah moms kalo begitu, sebentar lagi Adek Alice akan dicukur ya rambutnya..” Pekik perawat tersebut kepada ibel.
“Memangnya harus banget dicukur ya sus rambutnya? Sayang sekali padahal rambut Alice sudah lebat..” Sahut ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Semua pasien yang akan dioperasi dibagian kepala memang diharuskan dicukur botak, moms. Agar dokter bedah mudah untuk melakukan tindakannya.” Jelas sang perawat dengan ramahnya.
“Hmm, Yasudah kalo begitu baiklah sus. Saya akan coba ikhlaskan meskipun dengan berat hati.” Dehem ibel dengan raut wajah pasrahnya.
“Gak papa moms, nanti juga rambutnya akan tumbuh lagi.” Pekik sang perawat dengan tersenyum.
“Iyah, sus.” Singkat ibel seraya menganggukkan kepalanya.
“Kalo gitu, ditunggu sebentar ya moms. Nanti akan ada perawat yang mencukur rambut Adek Alice..” Pesan perawat itu yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap tersebut.
“Iyah.”
Setelah perawat tersebut hilang dari pandangan ibel, ia pun sontak melangkahkan kakinya menghampiri thomas yang masih tertidur pulas di kasur sofa yang tersedia dikamar vvip tersebut.
“Thom!! Bangun..” Seru ibel seraya menggoyangkan tubuh sang suami.
Dengan hanya sekali panggilan saja, thomas langsung bangun dari tidurnya. Meski dengan raut wajah kesalnya.
“Apa sih bel! Aku masih ngantuk.. dari semalam aku susah tidur disini! Lagi-lagi suster berdatangan! Membuat aku tidak nyaman..” Omel thomas dengan raut wajah khas bangun tidurnya.
“Kamu ini gimana sih, thom! Namanya juga di rumah sakit ya pasti seperti ini lah! Kamu fikir ini hotel bisa membuat tidurmu nyaman tanpa diganggu siapapun!” Sahut ibel dengan memiringkan senyumannya.
__ADS_1
“Arghhhhh! Ada apa kamu membangunkan ku?!” Tanya thomas dengan ketusnya.
“Memangnya Kamu mau tidur terus ? Alice sebentar lagi akan dibawa keruang operasi, memangnya kamu gak ingin melihatnya?!” Pekik ibel hingga membuat thomas pun sontak terdiam saat itu juga.
“Memangnya ini sudah jam berapa?” Tanya thomas seketika.
“Ini hampir jam enam pagi, Alice sudah berpuasa sejak jam empat subuh tadi. Dan sebentar lagi rambut Alice juga akan dibotak oleh suster..” Jelas ibel kepada thomas.
“Loh, kenapa rambut Alice harus dibotak?!” Tanya thomas dengan mengerutkan keningnya.
“Iyah, kata suster hal itu memang wajib dilakukan untuk setiap pasien yang akan melakukan tindakan operasi dibagian kepala.” Jelas ibel kembali.
“Hmm, sudah seperti tuyul saja nanti anakku.” Lirih thomas dengan menghela nafasnya secara pelan.
Tak lama dari itu, suara gagang pintu terbuka pun terdengar dengan jelas.
CEKLEK*
“Permisi, pagi ibu/bapak.. izin mau mencukur rambut pasien atas nama bayi Alice graciella Roberto ya.” Seru salah satu perawat yang datang keruangan tersebut.
“Iyah, silahkan. Sus!” Angguk ibel yang saat itu menghampiri sang buah hati yang masih terbaring di ranjangnya.
“Saya mulai cukur ya moms, bismillah..” Izin sang perawat sebelum mencukur rambut Alice saat itu.
*Setelah kepala Alice terlihat mulus tanpa rambut sehelai pun, perawat tersebut pamit meninggalkan ruangan tersebut.
Hingga beberapa menit kemudian, dua perawat yang berbeda pun kembali masuk kedalam ruangan rawat inap Alice tersebut.
“Permisi, pasien atas nama bayi Alice graciella Roberto ya?!” Tanya salah satu perawat tersebut kepada ibel dan juga thomas saat itu.
“Iyah, betul. Sus! Gimana?!” Angguk ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Adek Alice akan kami bawa ke ruangan tindakan sekarang yah untuk disuntikkan obat bius terlebih dulu.” Pekik salah satu perawat tersebut
“Oh, baiklah sus. Tapi Apakah anak saya akan merasakan sakit jika dibius nanti?!” Tanya ibel dengan raut wajah piasnya.
__ADS_1
“Tidak, moms. Tenang saja, obat biusnya aman kok. Tidak membuat kesakitan juga. Setelah operasi juga gak lama obat biusnya sudah hilang lagi kok.” Jelas sang perawat yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
“Hmm, baiklah.” Dehem ibel seraya menganggukkan kepalanya.
Kedua perawat tersebut pun sontak memindahkan tubuh mungil Alice dari ranjangnya ke ranjang yang dibawa oleh kedua perawat tersebut menuju keruangan tindakan.
Sementara ibel dan juga thomas pun ikut melangkahkan kakinya dibelakang kedua suster yang tengah mendorong ranjang tidur Alice tersebut.
“Thom, aku deg-degan sekali..” Lirih ibel yang berjalan tepat disamping sang suami.
“Sudah, gak papa. Percaya saja Tuhan pasti baik, Alice akan jauh lebih baik setelah dioperasi nanti, jangan berfikir yang macam-macam Okey!” Pesan thomas saat itu juga.
“Amin!” Singkat ibel dengan mengerjapkan kedua matanya.
“Memangnya kamu gak merasa deg-degan juga, ya?!” Tanya ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Ya- Ya aku pun sama deg-degan! Cuma aku pura-pura kuat saja! Aku percaya semua akan baik-baik saja..” Jawab thomas dengan sekilas mengalihkan pandangannya.
“Sebagai orang tua yang telah melahirkannya, tak bisa dipungkiri lagi, sekarang perasaan ku bercampur aduk menjadi satu. Aku sangat tidak tega melihat anakku yang masih sangat mungil itu harus merasakan sakitnya sayatan pisau operasi di salah satu tubuhnya.” Pekik ibel dengan menatap Alice yang dibawa oleh kedua perawat didepannya.
“Kamu fikir hanya kamu saja yang merasakannya? Aku pun sama! Meskipun aku tidak melahirkannya, tapi tetap saja. Alice juga anakku! Aku pun tidak tega melihatnya seperti ini. Ini semua kan karena ulahmu, anakku harus penyakitan seperti ini..” Sahut thomas hingga ibel pun sontak meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku fikir kamu sudah berubah,thom! Ternyata sama saja ya, fikiranmu selalu saja menyalahkanku atas semua takdir buruk yang datang pada kita. Cobalah sesekali kamu menilai dirimu sendiri, jangan hanya pintar menilai orang lain.” Pekik ibel menohok.
“Kamu ini kenapa marah? Aku kan bicara sesuai fakta. Aneh!” Ketus thomas seketika.
“Iyah, aku memang aneh. Lebih aneh lagi jika aku meladenimu!“ Ucap ibel menohok hingga membuat thomas pun terdiam dengan raut wajah kesalnya.
*Setelah sampai diruangan tindakan operasi, salah satu dari kedua orang tua Alice pun diminta untuk menemani Alice yang akan dibius sebelum akhirnya dioperasi.
“Mari bapak atau moms temani Adek Alice untuk dibius..” Pinta salah satu perawat kepada thomas dan juga Alice.
“Kamu saja! Aku tidak akan sanggup melihat anakku disuntik dan sebagainya. Bisa-bisa aku pingsan didalam!” Pinta ibel kepada thomas.
“Hmm, baiklah. Biar aku saja yang menemaninya,sus!” Dehem thomas yang akhirnya menemani sang buah hati untuk dibius pagi itu.
__ADS_1
“Ya Tuhan, please berikan aku kekuatan lebih.” Gumam ibel yang duduk diruang tunggu seraya menunggu anak dan suaminya yang sudah masuk keruangan tindakan tersebut.
“Hmmm, hatiku benar-benar tidak bisa tenang sekarang.” Imbuhnya kembali seraya memegangi dadanya sendiri.