
*Keesokan Harinya, disaat matahari mulai muncul dengan perlahan. Ibel pun sudah lebih dulu bangun seperti biasanya mempersiapkan pakaian dan juga sarapan pagi untuk sang suami.
“Hoammmmms!” Thomas pun menguap seraya perlahan membuka matanya.
“Sudah bangun?” Tanya ibel yang saat itu menghampiri suaminya.
“Kamu habis darimana? Kenapa kamu sudah bangun lebih dulu? Kemarilah, aku masih ingin menikmati moment berdua ini.” Tanya thomas yang masih menyipitkan kedua matanya.
“Aku habis menyiapkan pakaianmu, dan juga sarapanmu. Ayo bangunlah, jangan sampai kamu telat masuk kantor!” Jawab ibel yang saat itu mendudukkan dirinya ditepi kasur.
“Biarkan saja aku telat, lagipula itu kantorku sendiri. Aku bebas datang dan aku juga bebas hilang.” Ucap thomas dengan santainya.
“Hmm, dasar! Gak pernah berubah kelakuanmu yang satu ini..” Dehem ibel dengan menghela nafasnya secara kasar.
“Sini, tidurlah disampingku lagi. Apakah kamu tidak merindukan kebersamaan berdua seperti ini lagi?” Pinta thomas pada sang istri.
“Setiap hari sama saja, memangnya apa yang beda? Bukankah sama, setiap hari Kamu selalu seperti ini! manja kepadaku..” pekik ibel dengan menaikkan satu alisnya keatas.
“Ya memang sih, cuman kan hari ini cuma ada kita berdua disini. Bebas bercumbu setiap menit tanpa ada gangguan tangisan Alice.” Sahut thomas hingga membuat Ibelpun sontak mengeryitkan keningnya.
“Dasar!!! Jadi maksudnya, kamu senang ya Alice tidak ada dirumah seperti ini!” Omel ibel seketika.
“Bukan begitu sayang, maksud aku kita berdua harus memanfaatkan moment ini dengan baik. Flashback waktu kita pacaran dulu, itu yang aku maksud.” Ujar thomas seraya menarik tangan sang istri hingga ibel pun sontak terjatuh tepat didada sang suami.
“Awwww! Thomas…” Ringis ibel dengan lirih.
“Morning kisss nya manaaaa..” Goda thomas seketika.
“CUP!!!”
“Udah!” Singkat ibel dengan memalingkan matanya dari hadapan sang suami.
“Kenapa jadi malu-malu seperti pasangan baru saja sih, ayok! Aku menginginkanmu kembali..” Ucap thomas yang saat itu kembali memangsa ibel dengan begitu semangatnya.
“Yaampun thomas!!! Hentikannnnn…” Protes ibel namun tak dihiraukan oleh thomas.
Thomas pun kembali membuka kancing piyama yang ibel kenakan, dan langsung menyetubuhi ibel tanpa ampun. Ibelpun akhirnya pasrah dan memberikan seluruh tubuhnya kembali kepada sang suami dipagi itu.
“Arghhhh..” Desah keduanya ketika telah menuntaskan nafsu birahinya masing-masing.
*Waktu pun terus berputar, setelah selesai berhubungan badan. Mereka pun masih merebahkan tubuhnya dikasur seraya bersendau gurau satu sama lain.
“Ahahaha.. gimana soal kerjaanmu? Its all good? Or there’s happen? Tell Me, i want To know..” Pekik thomas seraya merangkul sang istri diatas ranjang kasurnya.
“Everythings is Okey, gak ada yang perlu diceritakan. Karena semuanya aman dan bahkan sangat sangat aman.” Jawab ibel kepada sang suami.
“Wow! Its good.. Bay the way jangan sampai karena usahamu makin maju, kamu malah berselingkuh! Awas kamu, langsung ku gorok lehermu kalo sampe itu terjadi.” Ancam thomas seraya tertawa kecil.
“Mana mungkin aku berselingkuh, bahkan untuk sekedar membayangkannya saja aku tidak mau. Bagi aku, seseorang yang mudah berselingkuh itu value nya sangat rendahan! Hehe..” sindir ibel saat itu juga.
__ADS_1
“Eum, oh yaaa! Kamu harus tau, bel. Perusahaan aku kini juga omsetnya kembali stabil loh bahkan akan merangkak naik.” Cela thomas yang sengaja mengalihkan pembicaraannya.
“Hahah oh ya? Wahhh selamat ya suamiku, itu pasti karena doa aku sebagai istri yang baik. Makanya kamu sering sering buat aku bahagia, dijamin urusanmu akan selalu dipermudah termasuk soal pekerjaan.” Seru ibel kepada sang suami.
“Kan memang aku sering buat kamu bahagia, iya kan?!” Tanya thomas dengan percaya dirinya.
“Iyah in ajadeh.” Lirih ibel dengan memalingkan matanya.
“Ini sudah jam 8, apakah kamu akan terus dirumah hari ini dan tidak bekerja?” Tanya ibel kepada thomas.
“Eum, aku akan tetap berangkat kekantor. Mungkin jam 10 nanti. Kamu sendiri bagaimana?” Jawab thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kalo aku pasti ke toko, dan mau ketempat mama rina juga sekalian jemput Alice pulang kerumah.” Pekik ibel dengan lugas.
“Pakai Grab lagi?” Tanya thomas kepada sang istri.
“He’em” angguk ibel seketika.
“Kasian sekali istriku ini, apakah kamu mau aku belikan mobil? Supaya kemana mana bisa pakai mobil sendiri dan tidak perlu pakai Grab lagi.” Pekik thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Tidak perlu, aku lebih suka naik Grab. Aman dan praktis, tidak usah repot-repot membelikanku mobil. Karena jika aku maupun aku bisa beli sendiri.” Elak ibel dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“Sombongg yaaa, Hmm” lirih thomas hingga membuat ibel pun tertawa kecil.
“Bukan sombong, tapi memang itulah kenyataannya.” Ucap ibel dengan raut wajah datarnya.
Thomas pun mencium kening sang istri seraya melebarkan senyumannya.
*Waktu pun terus bergulir, dua jam kemudian\~
saat thomas sudah berangkat kekantornya, sementara ibel masih sibuk memoles wajahnya untuk pergi ketokonya seperti hari-hari biasanya.
“Anjir, kenapa gue goblok banget sih. Lagi-lagi mau kena rayuannya thomas! Ya memang masih jadi kewajiban gue sih sebagai istri buat nge layanannya. Cuma gue kaya mencium bau-bau gak beres lagi aja gitu dari thomas! Tapi gue gak boleh kepancing, sebelum gue menemukan bukti akuratnya sendiri! Sabar.. ikutin aja terus permainan suami lo,bel.” Gumam ibel didepan kaca riasnya.
TUT!
Ibel pun mencoba menghubungi seseorang.
“Halo..” Sapanya dalam sambungan telfonnya.
“Halo, bu?” Sahut marco diseberang sana.
“Marco, thomas sudah pergi sekitar 20 menit yang lalu. Pastikan dia akan masuk kekantor hari ini. Jika tidak, kabari aku secepatnya.” Pekik ibel kepada marco.
“Siap, bu.” Singkat marco diseberang sana.
“Soal yang aku tanyakan kemarin, bagaimana? Apakah kamu sudah mengetahui tentang ‘pak feli’ itu?” Tanya ibel kepada marco.
“Seperti yang saya katakan kemarin, bu. Tidak ada client yang bernama pak feli.” Jawab marco dengan jelas.
__ADS_1
“Ck, dasar! Permainannya kembali dimulai, mari kita ikuti apa maunya saat ini. Sampai dia lengah dan tidak mengetahui bahwa aku sudah mencurigainya.” Ucap ibel dengan pandangan menyeringainya.
“Siap, bu.” Singkat marco kembali.
“Baiklah kalo begitu, terimakasih infonya. Marco! Saya tutup dulu telfonnya.” Pamit ibel yang langsung memutuskan sambungan Telfonnya secara sepihak.
PIP!
Marco pun sontak terdiam sejenak, “bentar deh, kalo difikir-fikir saat ini client terbesar perusahaan ini kan ibu felisha? Apa yang dimaksud ‘pak feli’ itu ibu felisha itu ya?” Batin marco dengan mata yang terbelalak.
Sementara ibel sendiri berkomat-kamit didepan kaca riasnya tanpa henti.
“Penyakitnya kumat lagi?” Gumam ibel seraya menaikkan satu alisnya didepan kaca riasnya.
TRINGGG!!!
Ponselnya pun tiba-tiba berbunyi kembali, hingga Ibelpun sontak mengangkatnya tanpa melihat panggilan dari siapa yang masuk.
“Halo? Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan infonya sekarang?!” Pekik ibel saat mengangkat telfonnya.
“Info apa yang kamu maksud, bel??” Tanya mama rina diseberang sana.
“Loh, kenapa mamah?” Lirih ibel seraya melirik layar ponselnya sekilas.
“Ah? Heheh.. info customor yang memesan banyak sekali kue mah, alamatnya belum jelas dimana tapi sudah membayar cash lunas Huhh.” Ringis ibel yang harus berbohong kepada sang mama.
“Oh, kirain info apaan.” Lirih mama rina diseberang sana.
“Ada apa mah? Apa Alice rewel?” Tanya ibel kembali kepada mama rina.
“Tidak, anakmu sangatlah anteng dirumah mama. Bahagia sekali pokoknya mama hari ini ditemani Alice, rumah jadi ramai. Pokoknya, setiap weekend mama booking Alice untuk mama ajak kerumah ya bel!” Sahut mama rina dengan nada bahagianya.
“Hmm, syukurlah kalo anteng. Ibel sudah cemas dan takut jika disana Alice rewel dan merepotkan mama. Ibel akan datang kerumah mama sekitar jam 3 sore nanti untuk membawa Alice pulang kerumah, oke?!” Pekik ibel kepada mama rina.
“Oke, baiklah mama tunggu. Dimolor-molorin aja supaya makin lama waktu mama sama Alice disini.” Sahut mama rina hingga membuat ibel pun menggelengkan kepalanya sendiri.
“Hmm, dasar.” Dehem ibel seketika.
“Yasudah mama matikan telfonnya ya, Bye!” Pamit mama rina kepada ibel.
“Oke mah.” Singkat ibel.
PIP!
“Hmm, untung saja tidak keceplosan bilang kalo sedang bertanya info tentang thomas, kalo mama tau bisa cerewet dia bertanya-tanya.” Gerutu ibel dengan menghela nafasnya secara kasar.
Ibel pun bangkit dari kursi riasnya dan meraih tas jinjingnya yang ada diatas kasurnya, lalu ia pun meletakkan ponselnya kedalam sana. Dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tersebut untuk pergi menjalani aktivitasnya kembali.
***
__ADS_1