
Setibanya dirumah, thomas kembali merebahkan dirinya diatas kasur kamarnya.
Ibel yang melihat tingkah laku suaminya itu merasa muak, “Lama-kelamaan kenapa jadi males malesan gitu sih jadi orang, kerjaannya rebahan aja dikasur. Padahal yang hamil kan gue, mentang mentang lagi libur kerja, meskipun dia capek kayaknya jarang banget ada cowo yang kerjaannya rebahan doang gitu. Hmm” Batin ibel seraya menghel nafasnya secara kasar.
Sudah beberapa hari ini, thomas memang libur bekerja karena cafe tempatnya bekerja sedang direnovasi ulang oleh sang pemilik cafe, bangunannya menjadi lebih besar karena membludaknya customor cafe tersebut.
Saat dirumah, Thomas pun hanya bisa berkomunikasi dengan saffira melalui chat saja secara diam diam dibelakang ibel.
Seolah olah bodoh, sebenarnya ibel pun sudah mengetahui hal tersebut. Namun ia sengaja bungkam dan tak mau bersuara dulu soal itu. Ia lebih memikirkan sang anak yang ada didalam kandungannya tersebut yang dimana sebentar lagi akan terlahir ke dunia.
“Bel, aku boleh keluar gak malam ini?! Aku ingin billiard bersama dengan teman temanku..” Izin thomas kepada sang istri.
“Sebentar lagi kan petang, lalu kamu mau pergi jam berapa thom?!” Tanya ibel kepada sang suami.
“Ya paling jam delapan nanti, gimana? Kamu ngebolehin kan? Dan Kamu gak takut kan aku tinggal dirumah sendirian?!” Jawab thomas dengan menaikkan kedua alisnya.
“Sebenarnya aku takut jika harus sendirian dirumah, thom.” Keluh ibel dengan nada lirihnya.
“Biasanya pun aku tinggal kerja kamu sendirian dirumah gak masalah kan?!” Ujar thomas dengan raut wajah menyeringai.
“Ya Biasanya kan siang hari thom, jika malam hari aku takut jika harus sendirian dirumah. Terlebih ini sudah tanggal hpl ku, aku takut jika aku kontraksi dan gak ada orang dirumah..” Sahut ibel dengan raut wajah piasnya.
“Arghhh kamu itu bel! lagi pula aku cuma main billiard dua jam saja kok! Alasan mu banyak supaya aku gak bisa keluar! Bilang saja kamu gak ngebolehin aku main.. ya kan?!!!” Protes thomas dengan raut wajah kesalnya.
“Lalu untuk apa kamu izin kepadaku, jika ujung ujungnya kamu tidak terima alasanku tidak mengizinkanmu keluar, jika kamu memang ingin sekali keluar main dengan teman temanmu yasudah keluar saja dan tak perlu lagi meminta izin kepadaku..” Sergah ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kamu kan istriku! Nanti kalo aku gak meminta izin kamu lebih dulu,aku pasti disalahkan! Giliran udah minta izin kekamu malah kaya gitu.. terserah lah. Serba salah hidupku!” Keluh thomas saat itu juga.
“Gak ada yang menyalahkanmu, thom. Cuma caramu aja yang aneh, kamu meminta izin tapi giliran aku kasih jawaban kamu malah gak terima. Ya kalo begitu gak usah minta izin saja.. kalo mau pergi, pergi saja. Gampang kan?!” Seru ibel dengan menghela nafasnya secara pelan.
“Atau kamu mau ikut aku bermain billiard?!” Tanya thomas seketika.
“Gak ah, thom. Badanku pegal-pegal, aku cuma pengen rebahan aja dikasur..” Tolak ibel dengan menggelengkan kepalanya.
“Tadi katanya takut dirumah sendirian, giliran diajak malah nolak! Apa sih maunya..” Gerutu thomas saat itu juga.
“Jadi laki-laki gak punya perasaan banget sih, istrinya lagi hamil besar gini malah ngajakin billiard, gue nolak bukannya peka dirumah aja temenin gue malahan mau ninggal gue sendirian dirumah,Hmm.” Batin ibel dengan menghembuskan nafasnya secara kasar.
*Hingga Malampun tiba*
*TING TONG*
__ADS_1
Suara bel rumah pun terdengar berbunyi berkali kali, ibel yang mendengarnya pun sontak menegur thomas yang sedang asyik bermain games saat itu.
“Itu bel nya bunyi berkali-kali, kamu gak denger kah?! Bukain sana pintunya.. paling juga temenmu. Aku capek naik turunnya kebawah!” Tegur ibel pada sang suami.
“Arghhh! Nanggung banget tau gak sih ini mau menang akuuu..” celoteh thomas yang fokus menatap layar ponselnya.
“Terserah, kalo gak mau bukain juga gak papa. Intinya jangan suruh aku untuk turun kebawah, aku capek bawa badan dua..” Sergah ibel dengan memalingkan wajahnya.
“Arghhh! Bawel.. iya-iya ini aku turun kebawah!” Seru thomas yang akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tersebut untuk membukakan pintu rumah tersebut.
*Beberapa menit kemudian, Thomaspun sudah berada dibawah.
*CEKLEKKKK*
“Lama banget anjirrr bukain pintunyaaa!” Protes Alex yang berdiri didepan pintu rumahnya.
“Ya lo kaya gak tau pasangan suami istri baru aja! Udah pasti lagi nanggung kan ya, thom?! Makanya lama bukain pintunya.. Ck” Ledek Revano saat itu juga.
“Mata lo!” Ketus thomas kepada revano.
“Udah Ayo sini pada masuk dulu lo pada..” Perintah thomas pada ketiga temannya.
“Si ibel mana, thom? Mau ikut kita billiard dia? Atau ditinggal sendirian dirumah?!” Tanya Vega kepada thomas.
“Udah gue ajak, tapi dia nolak dengan alasan hpl nya udah deket. Pengennya rebahan aja dikasur. Yaudahlah gue tinggal aja berarti dirumah sendirian.” Sahut thomas dengan santainya.
“Eh gila lo ya thom! Istri lo udah hpl nya, lo serius mau ninggal doi sendirian?!” Sergah Alex seketika.
“Serius lah, emang kenapa? Kan billiard juga cuma dua jam doang, kecuali gue ninggal lama..” Ujar thomas dengan raut wajah datarnya.
“Hpl apaan sih, lex?!” Tanya revano dengan raut wajah polosnya.
“Hari perkiraan lahir bego!” Sahut Alex dengan melirik kearah revano dengan sinis.
“Ya sorry gue kan gak tau, namanya aja belom pernah nikah. Bay the way ko lo bisa tau apa itu hpl lex?!” Tanya revano kembali.
“Waktu mama gue mau ngelahirin si jovin dulu pernah bahas soal hpl, jadi ya gue taulah..” Sahut Alex saat itu juga.
“Ini lo serius mau ninggal ibel, thom? Meskipun dua jam tapi kan tetep aja harus waspada. Gue cuma ngeri pas kita pergi terus ibel kontraksi ege..” Ujar Vega kepada thomas dengan tatapan seriusnya.
“Udah aman! Lagipula kan ada Security gue didepan, kalo ada apa-apa pasti dia bakal nolongin duluan..” Sahut thomas dengan raut wajah santainya.
__ADS_1
Ketiga temannya pun saling melemparkan tatapan satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Lo pada ngapain pada bengong gitu?!” Tegur thomas pada ketiga temannya.
“Eum, gak papa..” Sergah revano saat itu juga.
“Belll..” teriak thomas dari lantai satu rumahnya.
“Ibellll…” teriaknya kembali.
“Iyah, thomm. Sabar, ada apa?!” Sahut ibel yang berdiri diatas tangga depan kamarnya.
“Aku pergi dulu ya sama anak anak, kalo ada apa-apa Telfon aku ajaaa, Okey?!” Pamit thomas dari bawah yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
“Iyah..” singkat ibel dengan memiringkan senyumannya.
“Tinggal dulu ya bel..” teriak revano dengan melambaikan tangannya keatas.
“Bel, hati-hati lo dirumah yaa..” timpal Vega yang juga dianggukkan Alex disampingnya.
“Iyahhh..” singkat ibel dengan menyunggingkan senyumannya kepada teman teman thomas.
Saat itu keempatnya pun melangkahkan kakinya keluar rumah tersebut meninggalkan ibel yang tengah hamil besar sendirian dirumah.
Ibelpun kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat.
BRAK!
Lalu iapun mendudukkan dirinya dikasur miliknya seraya melonjorkan kedua kakinya yang terasa pegal pegal itu.
“Huhhh, gini amat rasanya hidup ikut suami.. andaikan waktu bisa diputar kembali, gue menginginkan kehidupan gue yang dulu, yang bebas mau kemanapun, yang punya temen sana sini, yang sering dicerewetin mama ketika main sampai larut malam.” Gumam ibel dengan pandangan kosongnya.
Gadis itupun menutup matanya dengan sekejap, fikirannya terbayang bayang masa-masa indahnya dulu ketika belum mengenal sosok thomas yang hadir dikehidupannya dan merubah keadaannya dengan secepat kilat.
Namun, Nasi Sudah Jadi Bubur. Tidak ada gunanya jika harus disesali sekalipun. Kini ia harus menata kehidupannya yang baru meskipun dalam suasana yang mencekam sekalipun.
Saat itu, ia meraih ponselnya yang berada diatas nakas tepat disampingnya duduk.
Ia memandang wallpaper foto yang ada dilayar ponselnya, dimana foto tersebut adalah foto dirinya kecil bersama dengan orang tuanya.
“Aku rindu, aku ingin menjadi ibel yang kecil lagi. Ternyata menjadi dewasa itu sulit.. aku belum sanggup berpisah dari mama.” Gumamnya seraya menatap layar ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1