
Beberapa jam kemudian, datanglah ayah Jacky bersama dengan mama dina yang baru saja pulang dari kampung halamannya kerumah anak dan menantunya tersebut.
“Kemana thomas dan juga ibel, bi?!” Tanya ayah Jacky kepada mbak Susi.
“Eum, anu tuan. Kalo non ibel ada dikamarnya, sementara tuan thomasnya pergi gak tau kemana.” Jawab mbak Susi dengan meneguk salivanya dengan cepat.
“Hmm, pergi kemana thomas itu. Kenapa tidak memberitahuku dulu.” Gerutu ayah Jacky dengan menghela nafasnya secara kasar.
“Kenapa ayah heran, bukankah anak ayah memang sedari dulu seperti itu? Suka pergi keluyuran sesuka hatinya..” Cela mama dina yang mulai bersuara.
“Tapi kan itu dulu sebelum dia berkeluarga, sekarang lihatlah. Anak kita itu sudah berkeluarga, apakah sifatnya tidak akan berubah?!” Sahut ayah Jacky yang saat itu melangkahkan kakinya menaiki tangga rumah tersebut bersama dengan sang istri disampingnya.
“Sepertinya susah untuk thomas berubah, mama sungguh pusing jika memikirkan thomas hm.” Ucap mama dina dengan mengerjapkan kedua matanya.
“Itu pasti ibunya tuan thomas, wajahnya sangat mirip..” gumam Susi yang masih berdiri memperhatikan ayah Jacky dan mama dina yang sedang menaiki tangga rumah tersebut.
Setelah sampai didepan kamar ibel, mama dina pun langsung mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan.
TOK TOK TOK\~
“Buka saja pintunya mah..” Usul ayah Jacky kepada mama dina.
“Jangan yah, gak sopan. Siapa tau ibel sedang menyusui anaknya didalam sana, kita tunggu sampai dia keluar membukakan pintu untuk kita ya.” Sahut mama dina yang saat itu juga dianggukkan oleh ayah Jacky.
Hingga tak lama kemudian, gagang pintu pun terlihat bergerak.
CEKLEK*
Mama dina dan juga ayah Jacky sontak terdiam sejenak melihat Sosok gadis yang biasanya terlihat ceria kini justru nampak terlihat pias seraya menundukkan pandangannya sendiri, wajahnya pun sudah babak belur dibuat oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Ibel menatap kedua mertuanya dengan pelan dari bawah hingga atas.
“Ayah/mama? Ayo silahkan masuk, Alice ada didalam sana.” Pekik ibel yang mempersilahkan kedua mertuanya untuk masuk kedalam kamarnya.
Mama dina dan ayah Jacky pun sontak melemparkan pandangannya satu sama lain,
“Wajahmu kenapa, ibel?!” Tanya mama dina kepada sang menantu.
“Ahini mah? Gak papa mah, ibel habis jatuh kepleset dikamar mandi dan wajah ibel mungkin kejedot lantai makanya jadi seperti ini hehe, Oiya Bay the way mama kapan sampai disini? Aku senang sekali mama sudah pulang kesini..” Sahut ibel kepada sang mertua dengan menyunggingkan senyuman tipisnya.
“Kamu itu, kenapa bisa sampai seperti itu. Ada-ada saja! Mama baru datang pagi tadi, mama kesini ingin bertemu dengan cucu mama, maafkan mama yah baru bisa melihat Alice sekarang. Mama masuk yah..” Pekik mama dina yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
“Thomas pergi kemana,bel?!” Tanya ayah Jacky kepada ibel.
“Eum, ibel tidak tahu yah thomas pergi kemana..” Sahut ibel dengan menggelengkan kepalanya secara pelan.
“Eum, mungkin thomas sedang buru-buru tadi mah waktu mau pergi, jadi dia tidak sempat untuk berpamitan dengan ibel yang tadi memang sedang didalam kamar mandi.” Jawab ibel yang berusaha menutupi masalahnya dengan sang suami.
“Hmm, anak itu memang. Gak pernah berubah sejak dulu, selalu saja pergi tanpa pamit seperti itu.” Gerutu mama dina dengan menghela nafasnya secara kasar seraya menggelengkan kepalanya sendiri.
“Bagaimana dengan kondisi Alice pasca operasi,bel? Sampai sekarang tidak ada masalah apapun kan?!” Tanya ayah Jacky kembali kepada sang menantu.
“Puji Tuhan yah, Alice masih baik-baik saja hingga saat ini. Justru ada sedikit perkembangan setelah pemasangan selang itu. Minum susunya lebih kuat dari biasanya, dan pastinya lebih aktif.” Ungkap ibel kepada ayah Jacky.
“Ya syukurlah kalo begitu, artinya uang yang sudah kita keluarkan tidak sia-sia begitu saja.” Lirih ayah Jacky seketika.
“Apa maksud ucapan ayah itu.” Batin ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Ibel kamu itu harus makan makanan yang bergizi setiap harinya, suruh pembantumu itu menyiapkan lima sehat empat sempurna agar asi mu itu banyak. Alice ini kan anak spesial, maka dari itu kamu sebagai ibu juga harus memperlakukannya dengan spesial agar tumbuh kembang dan juga gizinya tercukupi meskipun memiliki penyakit.” Tutur mama dina kepada ibel.
__ADS_1
“Ya bukan spesial lagi, Alice itu anak emas alias anak mahal mah.” Timpal ayah Jacky saat itu juga.
“Iyah mah/yah. Ibel juga sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk Alice, tapi tolong ya mah/pah maaf banget bukannya ibel tersinggung atas ucapan kalian. Jangan lagi sebut Alice sebagai anak spesial, karena jadi tidak enak untuk didengar. Alice ini memang punya penyakit, tapi dia bukan anak spesial yang seperti idiot mah/pah. Alice normal seperti anak yang lainnya, hanya saja mungkin perkembangannya akan sedikit terhambat karena tekanan otaknya itu.” Sahut ibel dengan sekali meneguk salivanya dengan kasar.
“Gak perlu baper dengan ucapan mama, bel. Namanya juga orang tua gak tau istilah, yang kita tahu kalo anak lahir dengan keterbatasan gini ya namanya anak spesial, ya kan yah?!” Ucap mama dina dengan beralih melirik ayah Jacky
“Iyah, benar apa yang dikatakan mama. Kamu tidak perlu marah. Karena memang itulah kenyataannya. Dari pada orang lain yang bicara lebih baik orang tua sendiri bukan?! Sudahlah ini kan cuma hal sepele, kenapa sampai dipermasalahkan seperti ini.” Timpal ayah Jacky kembali.
“Kalian bukan orang tua ku, jadi kalian tidak bisa menghargai ucapan ku.” Batin ibel dengan melengoskan wajahnya sendiri.
“Iyah mah/pah, Ibel minta maaf.” Sahut ibel yang dengan pasrah mengalah saat itu juga.
“Yah, boleh tidak jika mama ingin membawa cucu kita ini kerumah kita? Mama sangat kesepian disana, sepertinya Alice bisa menjadi penghibur kesepian mama ini..” pekik mama dina kepada ayah jacky.
“Tidak bisa mah, mama tau kan banyak mata-mata ayah disekitar komplek perumahan. Belum lagi jika ada rekan ayah yang datang kerumah untuk menamu. Jika mereka semua melihat Alice, mau jelaskan bagaimana nantinya kita mah.” Sahut ayah jacky dengan argumennya sendiri.
“Sampai kapan anakku terus disembunyikan seperti ini? Aku memang dulu menyetujui hal ini, tapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu anakku perlahan tumbuh besar hatiku malah perih ketika lagi-lagi Alice harus tidak dianggap ada.” Batin ibel yang menatap kedua mertuanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Lalu sampai kapan Alice terus disembunyikan yah? Mama kan sudah tidak sabar ingin memamerkan kepada teman-teman mama yang lainnya kalo mama sudah memiliki cucu yang cantik.” Tanya mama dina hingga ibel pun mempunyai kesempatan untuk mendengar langsung jawaban dari sang ayah mertuanya.
“Sampai waktunya tiba, mama tenang saja. Tidak akan lama lagi kita akan umumkan kepada semua orang bahwa kita sudah memiliki cucu. Tapi jangan sampai ada yang tahu bahwa ini hasil dari anak kita yang telah menghamili orang diluar pernikahannya. Ayah akan bilang ke semua orang, bahwa ini anak thomas dari hasil pernikahannya kemarin.” Jawab ayah jacky dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Syukurlah, aku legah mendengarnya. Tapi kenapa harus tidak jujur kepada semua orang, tetap saja ayah tidak akan mau jika pamornya turun.” Batin ibel dengan menghela nafasnya secara pelan.
“Baiklah, mama setuju dengan ayah.” Ucap mama dina yang menganggukkan kepalanya secara cepat.
Saat itu mama dina dan juga ayah jacky pun menghabiskan waktunya bersama sang cucu dirumah tersebut, sementara ibel sendiri memilih untuk turun kebawah, menemani mbak Susi memasak dihari itu.
**
__ADS_1