TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 32


__ADS_3

*Beberapa hari berlalu*


Kini ibel menjalani hari-harinya seperti biasanya. Meskipun sang anak harus terus menjalani kontrol rutin, namun tak membuat mama muda satu itu pasrah menjalani kehidupannya.


Ibel justru memiliki kekuatan penuh tersendiri ketika melihat sang anak dihadapannya, senyuman dan suara isak tangis anaknya sudah seperti candu baginya.


Sementara thomas sendiri saat itu malah semakin acuh dengan ibel dan juga sang anak, pria itu lebih memilih menghabiskan waktu diluar rumah daripada harus dirumah. Menurutnya, tangisan sang anak malah menjadi petaka baginya. Ia selalu risih mendengar suara isakan anaknya tersebut.


“Thom, lo gak balik aja? Kasian ibel ngurus anak lo sendirian..” Pekik Vega yang saat itu sedang bersama thomas disebuah cafe.


“Arghhhh, males gue dirumah. Pusing denger anak gue nangis!” Tolak thomas dengan raut wajah acuhnya.


“Dihh! Gila lo ya, namanya anak bayi ya gitulah bro! Tangis-tangisan. Lagian lo gimana sih?! Masa jadi orang tua gak mau denger anaknya nangis..” Cela Alex dengan melirik thomas.


“Gue bukannya gak mau denger! Gue cuma belom terbiasa aja..” Elak thomas saat itu juga.


“Gimana lo bisa terbiasa kalo lo sendiri jarang dirumah, yang ada mah lo membiasakan diri jauh dari anak istri lo kalo gini caranya thom.” Ucap Vega dengan sedikit menyeringai.


“Gue no comment aja lah!” Timpal revano dengan menaikkan kedua bahunya.


“Bacot lo pada! Terserah gue lah, hidup hidup gue kenapa lo pada ngatur gue!!” Gertak thomas kepada ketiga temannya.


“Kita bukannya ngatur, thom. Sebagai teman dekat pastinya kita saling menasehati satu sama lain. Lagian ini kan demi kebaikan lo dan keluarga kecil lo juga, lo bayangin aja adanya Alice itu kan karena perbuatan lo sama ibel. Gak adil dong rasanya kalo harus ibel aja yang ngurus Alice sendirian..” Cerca vega dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Jadi, maksud lo? Gue gak tanggung jawab gitu sama perbuatan gue? Lo mikir dong! Gue udah nikahin ibel, artinya gue udah tanggung jawab atas perbuatan gue itu, lol!” Gertak thomas dengan raut wajah ketusnya.


“Lo fikir tanggung jawab itu soal nikahin doang, thom?!” Ketus Alex seketika.


“Brengsek kalian semua! Kenapa malah jadi nyudutin gue! Bilang aja kalo lo pada udah gak mau berteman sama gue!!” Omel thomas yang mulai mengeraskan rahangnya.


“Udahlah weh! Gak usah dibahas lagi udah, kita gak perlu ikut campur urusan rumah tangga thomas! Dia sudah besar gak perlu lagi kita berikan nasehat, jangan sampai gara-gara ini pertemanan kita jadi hancur..” Cela revano kepada ketiga temannya.


“Hmmm.” Dengus Vega dengan menghela nafasnya secara kasar.


“Gue cabut!” Ketus thomas yang saat itu pergi meninggalkan ketiga temannya dicafe tersebut.


“Sudah biarkan saja dia pergi, lama kelamaan gue gak respect sama sikapnya. Menurut gue, dia udah keterlaluan banget sih sama ibel. Kalo dulu, okelah kita masih dukung dia sebagai cowo badboy karena dia blm menikah, tapi kan sekarang udah beda ceritanya. Right?!” Pekik Vega kepada kedua temannya saat itu juga.


“Tapi veg, masa cuma gara-gara ini pertemanan kita harus hancur?!” Sahut revano kepada Vega.


“Lo tenang aja vannn, pertemanan kita gak akan hancur gitu aja. Kalo memang thomas menganggap kita sahabatnya sudah pasti dia bakal balik lagi kekita dan mencerna nasehat baik kita.” Ucap Alex kepada revano.


“Yaelah, lo berdua kaya gak tau sifat thomas ajasih! Dia itu gengsinya tinggi sekali, mana mau dia menerima nasehat orang lain. Gue yakin dia gak balik lagi ke kita kecuali kita yang mohon-mohon kedia..” Sahut revano dengan memutarkan bola matanya keatas.

__ADS_1


“Yasudah biarkan saja, lambat laun dia pasti akan sadar dengan sendirinya..” Pekik Vega yang saat itu dianggukkan oleh kedua temannya.


🍁🍁


Disisi lain*


“Arghhhh, syittttt!!!” Decih thomas seraya menghentakkan tangannya diatas stang mobilnya.


“Dimana tempat nyaman gue sekarang kalo begini ceritanya! Dirumah sendiri berisik ada suara tangisan bayi itu! Kumpul sama temen-temen juga kaya tai semua mereka sekarang!” Gerutu thomas yang saat itu sedang fokus menyetir.


“Lebih baik gue tidur dirumah ayah gue aja deh kalo gini ceritanya. Ayah pasti nerima gue tanpa mencerca gue seperti teman teman sialan gue itu!” Imbuhnya kembali.


TRING\~\~


Suara panggilan masuk pun terdengar nyaring diponselnya, membuat thomas pun sontak menoleh kearah layar ponselnya yang berada didasbor tengah.


“Cih, ibel lagi. Males banget deh gue ngangkatnya. Udahlah biarin aja!” Gumam thomas yang tidak memperdulikan panggilan masuk dari sang istri.


Waktu menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit malam hari,


CIT*


Thomas pun memberhentikan mobilnya tepat di lobi rumah sang ayah.


“Hmm, untung gue masih pegang kunci serep rumah ini.” Gumamnya seraya membuka pintu rumah tersebut dengan kunci serep yang ia bawa.


CEKLEK*


“Syukurlah, aman. Ayah pasti udah tidur, jadi gak akan cerewet nanya-nanyain gue sekarang yang akan tidur disini.” Gumamnya dengan raut wajah yang menyeringai.


Thomas pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar yang dahulu miliknya dirumah tersebut.


Brughhhh!!!


Pria itu pun sontak menjatuhkan tubuhnya diatas kasur miliknya tersebut.


“Arghhhhh!!! Akhirnya gue bisa tidur dengan nyaman tanpa adanya suara bising anak gue yang sukanya nangis nangis itu. Huhhh” gerutunya seraya menatap langit langit kamar nya tersebut.


Sementara Disisi lain||


Suara tangisan bayi terdengar memenuhi seisi ruangan, Suara tersebut membuat seorang mama muda bingung harus berbuat apa. Segala cara telah ia coba untuk membuat sang bayi tenang, namun sang bayi tak kunjung diam juga.


“Ssshttttt Sayangggg, Tenang yah. Ada mommy disini nak, jangan rewel ya sayang..” Celotehnya kepada sang bayi.

__ADS_1


“Duhh, Alice kenapa ya? Gak biasanya dia rewel seperti ini, dikasih susu juga gak mau. Digendong juga tetep nangis. Gue harus gimana yaa, mana thomas gak pulang pulang juga..” Gumamnya dengan raut wajah piasnya.


Gadis itu mencoba menghubungi sang suami berkali-kali, namun tak direspon sedikitpun oleh suaminya tersebut.


“Kenapa nasib gue semenyedihkan ini? Bahkan disaat gue punya suami, gue malah ngerasa jadi single parent.” Batinnya seraya menggendong sang anak dengan perasaan paniknya.


Gadis itu merasa kebingungan terlebih ia hanya seorang diri saja dirumah tersebut, ia tak tahu harus melakukan cara apalagi agar anaknya bisa tenang malam itu.


Ia pun terpaksa menelfon mama rina malam itu, Orang yang dianggapnya selalu sigap dan ada disaat dirinya merasa kesusahan.


TUTTT\~\~


Benar saja, tak lama kemudian. Telfonnya pun tersambung saat itu juga.


“H-halo mahh, maaf menganggu malam-malam.” Ucap ibel dengan nada yang terdengar ragu-ragu.


“Halooo, ada apa bel? Kenapa tengah malam Telfon mama? Everything is Okey right?!” Sahut mama rina diseberang sana dengan suara khas bangun tidurnya.


“Mah, Alice rewel. Daritadi gak berhenti-henti menangis. Ibel jadi bingung harus ngelakuin apa, padahal ibel sudah melakukan segala cara agar Alice tenang, tapi gak berhasil juga.” Ungkap ibel tanpa basa-basi.


“Kamu sudah cek popoknya belom?!” Tanya mama rina kepada ibel.


“Sudah, ibel sudah mengganti popoknya mah.” Sahut ibel dengan menggebu-gebu.


“Berarti mungkin haus, apa kamu sudah memberikannya susu?!” Tanya mama rina kembali.


“Sudah juga mah, Alice malah menolak untuk meminum susunya.” Sahut ibel hingga membuat mama rina pun mulai ikut panik diseberang sana.


“Loh, kok aneh yah. Badan Alice panas gak bel?!” Tanya mama rina kembali.


“Badannya gak panas kok mah, tadi ibel sudah cek pakai alat temperatur suhu malah.” Sahut ibel hingga membuat mama rina pun terdiam sejenak untuk berfikir.


“Thomas suruh gendong coba, biasanya kalo digendong ibunya gak diam juga si bayi berarti pengen digendong sama ayahnya.” Usul mama rina seketika.


“Eum, thomas nya gak dirumah mah.” Lirih ibel hingga membuat mama rina pun sontak membulatkan matanya seketika.


“Apa bel?! Thomas gak dirumah? Dimana dia? Tengah malam seperti ini masih saja diluar rumah, mama rasa gila orang itu!!” Ketus mama rina dalam sambungan telfonn tersebut.


“Ibel gak tau thomas kemana mah, daritadi ibel sudah coba menghubunginya. Tapi thomas gak ngangkat juga..” Sahut ibel.


“Pantas saja Alice rewel! Itu karena anak itu peka jika ayahnya gak dirumah..” Gumam mama rina yang terdengar oleh ibel.


Malam itu mama rina pun menemani anak dan juga cucunya sampai keadaan menjadi lebih tenang melalui virtual telfonnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2