
Setelah beberapa menit menunggu, thomas pun keluar dari ruang tindakan tersebut.
Sementara Ibel yang sedari tadi menunggu itu pun sontak berdiri dan berlarian menghampiri thomas.
“Gimana? Apakah Alice sudah dibius?!” Tanya ibel dengan menggebu-gebu.
“Sudah.” Singkat thomas seraya menganggukkan kepalanya.
“Lalu bagaimana? Apakah semuanya baik-baik saja? Eum maksudnya semua berjalan dengan lancar kan?!” Tanya ibel yang masih penasaran.
“Semuanya lancar, Alice juga pintar. Tidak ada pemberontakan sedikitpun, hanya sedikit menangis biasa saja lalu dokter Anastesi pun langsung menyuntikkan obat biusnya ke tangan Alice.” Jelas thomas kepada sang istri.
“Hmm, puji Tuhan. Syukurlah! Aku takut jika Alice meronta-ronta tadi..” Lirih ibel dengan mengerjapkan kedua matanya.
“Enggak, tenang saja.” Sahut thomas dengan raut wajah santainya.
“Eum, kamu tunggu disini sendiri dulu gak papa kan?! Aku mau keluar sebentar.” Pamit thomas saat itu juga.
“Memangnya kamu mau kemana,thom? Apa kamu tidak mau menunggu disini dulu sampai Alice selesai operasi nanti?!” Tanya ibel dengan mengerutkan kedua alisnya.
“Aku hanya ingin keluar sebentar saja kok, ada urusan. Nanti aku balik lagi kesini, lagipula Alice memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar tiga jam didalam ruangan operasi sana.” Sahut thomas seketika.
Dengan raut wajah terpaksa nya, ibel pun dengan pasrah menganggukkan kepalanya secara pelan.
“Jangan khawatir, ayah sedang dalam perjalanan menuju kesini. Jadi kamu tidak sendirian. Okey?!” Pekik thomas dengan menepuk pundak sang istri seraya tersenyum tipis saat itu juga.
“Ya sudah, pergilah..” Pinta ibel kepada sang suami.
Thomas pun langsung pergi meninggalkan ibel yang masih berdiri terdiam didepan ruangan operasi tersebut.
“Apakah urusan diluar lebih penting dari pada harus menunggu anaknya yang masih bertaruh nyawa didalam sana?! Tega sekali kamu,thom.” Batin ibel dengan mata yang berkaca-kaca.
Sementara thomas sendiri melangkahkan kakinya menuju kendaraannya yang sudah terparkir diarea lobi rumah sakit tersebut.
“Hmm, Siska pasti sudah menungguku..” Gumamnya dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
*Flashback on
Setelah pulang bekerja, thomas sengaja mencari akun sosial media milik Siska.
“Nah, ini dia orangnya! Akhirnya ketemu juga kan..” gumam thomas yang saat itu sedang menyetir mobilnya menuju pulang kerumahnya.
Thomas pun langsung mengetikkan nomor ponselnya di dm instagramnya.
__ADS_1
“+(62)586XXxxxx” ketiknya yang saat itu juga ia kirim ke dm akun Instagram milik Siska.
Tak lama kemudian, suara notif pun muncul dilayar ponsel miliknya.
TING\~
“Loh, apakah ini pak thomas?!” Pesan yang masuk pada layar ponsel thomas tersebut.
Dengan mata yang berbinar-binar, thomas pun segera membalas pesan itu kembali.
“Iyah, saya thomas. bukannya waktu dikantor kamu meminta nomorku? Jadi sekarang, saya minta kamu save nomorku ya!” Pinta thomas dalam pesannya.
Setelah saling bertukar nomor ponsel, mereka pun sering berkomunikasi satu sama lain hingga membuat keduanya semakin dekat. Bahkan mereka pun seringkali jalan berdua ketika sedang ada kesempatan setiap harinya.
Flashback off*
Braghhh!
Thomas pun masuk kedalam mobilnya dan langsung mengenakan seatbeltnya. Dan kemudian ia pun menyalakan mesin mobilnya.
Bvroommmmmm\~\~
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area rumah sakit tersebut.
“Loh, itu kan mobil thomas? Mau kemana dia?” Pekik ayah Jacky saat melihat mobil sang anak keluar dari area rumah sakit.
“Siap pak Jacky, sudah sampai.” Tegas sang ajudan pribadi ayah Jacky yang saat itu membukakan pintu mobil tengahnya untuk ayah Jacky.
“Okey, baiklah! Ayo masuk kedalam..” angguk ayah Jacky yang turun dari mobil tersebut dan mengajak sang ajudan untuk ikut masuk kedalam rumah sakit bersamanya.
*Waktu pun terus berputar, setelah melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit tersebut, Akhirnya ayah Jacky pun melihat keberadaan ibel yang saat itu duduk sendirian dengan raut wajah piasnya didepan ruangan operasi.
Dengan langkah sigapnya, ayah Jacky pun sontak menghampiri ibel saat itu juga.
“Bel?!” Sapa ayah Jacky dari kejauhan.
Ibel pun sontak menoleh kearah sumber suara tersebut.
“Ayah? Apakah ayah tidak ada kesibukan sehingga bisa meluangkan waktunya untuk kesini?!” Tanya ibel saat ayah mertuanya telah berdiri dihadapannya.
“Sesibuk apapun ayah, jika untuk keluarga. Ayah pasti selalu ada!” Jelas ayah Jacky dengan lugas.
“Terimakasih yah..” Lirih ibel dengan mengerjapkan kedua matanya.
__ADS_1
“Thomas pergi kemana?!” Tanya ayah Jacky tanpa basa-basi.
“Eum, ibel sendiri juga tidak tau yah. Thomas hanya bilang kalo dia ada urusan dan akan kembali kesini lagi secepatnya.” Tutur ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Hmm, anak itu selalu saja! Mementingkan ego nya sendiri!” Dehem ayah Jacky dengan menghela nafasnya secara kasar.
“Oiya, bel. Ini Ada titipan dari mama dina untuk Alice. Katanya ini untuk dipakai Alice selama dirumah sakit biar semangat sembuhnya karena pakai baju baru.” Imbuh ayah Jacky yang saat itu sang ajudan pribadi nya pun menyodorkan sebuah paperbag kepada ibel.
“Yaampun, mama ada-ada saja sih. Sampaikan terimakasih ibel untuk mama ya yah. Semoga nenek disana cepat sembuh supaya mama bisa secepatnya pulang kejakarta agar bisa bertemu dengan Alice.” Ucap ibel seraya meraih paperbag tersebut.
“Iyah, nanti ayah sampaikan.” Sahut ayah Jacky.
“Apa mamamu tidak kesini?!” Tanya ayah Jacky kembali kepada sang menantu.
“Mama akan kesini tapi selepas pulang kerja nanti, yah.” Sahut ibel saat itu juga.
“Oh begitu.” Singkat ayah Jacky dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Ayah duduk saja dulu disini seraya menunggu Alice selesai operasi..” Pekik ibel kepada sang mertua.
“Iyah, gampang saja. Bay the way berapa lama Alice menjalani operasi?!” Tanya ayah Jacky seketika.
“Katanya sih sekitar tiga jam an yah. Tapi gak menutup kemungkinan bisa kurang atau bahkan lebih dari itu.” Sahut ibel dengan raut wajah piasnya.
“Apa kamu merasa khawatir, bel?!” Tanya ayah Jacky kembali yang melihat wajah ibel sedikit pucat dan pias.
“Sangat khawatir yah, bisa dibilang saat ini nyawa ibel separuh ada didalam sana. Ibel benar-benar gak bisa berfikir apapun sekarang yah. Cuma keselamatan Alice yang ibel inginkan saat ini.” Sahut ibel yang matanya sudah berkaca-kaca.
Gadis itu seharusnya bisa menaruh bahunya untuk bersandar di suaminya, namun kenyataannya begitu memilukan. Disaat waktu yang menegangkan seperti itu, ibel harus kuat berdiri sendiri menahan semua rasa kekhawatirannya saat itu.
“Kamu yang kuat ya, jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar Alice diberikan kelancaran dalam operasinya. Tidak usah fikirkan thomas! Biarkan dia mau berbuat apapun tidak penting, yang penting adalah Alice. Ingat itu..” pesan ayah Jacky kepada ibel.
“Kenapa ayah bicara seperti itu? Jelas aku memikirkan thomas juga, karena thomas adalah ayah dari anakku. Aku bukan hanya Baby sitter Alice yang harus fokus pada Alice saja. Aku pun mempunyai hak untuk memikirkan thomas, tidak mungkin aku diam saja ketika thomas berbuat yang aneh-aneh diluaran sana..” Batin ibel dengan pemikirannya sendiri.
“Iyah, yah.” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya secara pelan.
“Apa kamu sudah makan?” Tanya ayah Jacky kepada ibel.
Ibel pun menggelengkan kepalanya dengan pelan, “belum yah..” singkatnya.
“Baiklah, john tolong belikan makanan untuk ibel sekarang yah.” Ucap ayah Jacky yang beralih memerintah sang ajudan pribadinya.
“Siap, pak Jacky.” Sahut sang ajudan dengan sigapnya.
__ADS_1