TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 111


__ADS_3

*Keesokan harinya, tepat dipagi hari yang cerah. Rupanya marco sudah menginjakkan kakinya diarea lobi hotel yang ia dan ibel curigai. Ia datang kesana untuk memastikan kebenaran atas dugaannya.


“Permisi, mba. Saya mau tanya, Apa benar pada tanggal dan jam sekian. Kamar nomor 105 sudah ter booking oleh bapak yang bernama thomas Imanuella Roberto?!” Tanya marco kepada resepsionist hotel tersebut.


“Maaf, anda siapa ya? Kami pihak hotel tidak bisa sembarangan memberikan info customor kepada sembarang orang.” Sahut sang resepsionist yang nampak mengeryitkan keningnya.


“Saya ini salah satu keluarganya, dan saya hanya ingin memastikan apakah dia sudah memesan kamar dihotel ini atau belum.” Ucap marco yang nampak seriusnya.


“Tapi pak—“ Ucap sang resepsionis namun marco mencela nya dengan menyodorkan segepok uang didalam amplop kepada wanita tersebut.


“Apa-apaan ini pak? Jika saya memberitahukan indentitas customor hotel ini maka saya bisa kena sanksi.” Protes sang resepsionis pada marco.


“Saya hanya ingin memastikan, benar di tanggal sekian kamar nomor 105 sudah terbooking oleh bapak thomas imanuella Roberto?! Jika dia belum memesan, brarti saya akan memesannya sekarang. Karena kamar itu akan dipakai untuk acara bridal shower ponakan saya. Faham anda?!” Jelas marco kepada sang resepsionist.


“Lalu mengapa anda memberikan saya uang?” Tanya sang resepsionis dengan penuh kebingungan.


“Anggap saja itu rejeki anda hari ini.” Jawab marco dengan raut wajah datarnya.


“Baiklah.. tunggu sebentar biar saya cek dulu ya pak.” Ucap sang resepsionis yang saat itu langsung beralih menatap kelayar komputernya.


Beberapa menit menunggu, akhirnya marco pun mendapatkan jawabannya.


“Iya benar pak, kamar nomor 105 sudah terbooking oleh pak thomas Imanuella Roberto..” Ucap sang resepsionis hingga membuat marco pun sontak tercengang mendengarnya.


“Eum, baiklah jika begitu. Terimakasih atas infonya.” Sahut marco dengan mengerjapkan kedua matanya.


“Baik pak, terimakasih kembali atas uang yang sudah bapak berikan ini.” Sergah sang resepsionis tersebut.


Marco pun hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari area hotel tersebut.


“Umurku bahkan lebih tua darinya, namun aku merasa belum siap untuk menikah. Jika melihat ibel yang selalu disakiti oleh thomas seperti ini, aku jadi semakin ragu untuk menikah. Aku takut jika akan menyakiti istriku nantinya.” Gumam marco seraya berjalan kearah mobilnya.


“Thomas.. thomas! Apa kurangnya ibel di matamu, bukankah dia termasuk wanita yang sangat sempurna. Mengapa kau terus mempermainkannya seperti ini.” Imbuhnya kembali seraya mengusap kasar wajahnya sendiri.


Braghhh!


Marco pun menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan kendaraannya dengan perlahan menuju kantornya pagi itu.


Bvrooommmm\~\~


Didalam perjalanannya, ia pun tidak lupa untuk memberitahukan kabar tersebut kepada ibel melalui pesan whatsappnya.


“Bu, saya sudah mendapatkan jawabannya. Memang betul barcode tersebut adalah barcode pemesanan kamar hotel secara resmi oleh pak thomas.” Pesan text yang marco kirimkan kepada ibel.

__ADS_1


“Semoga anda kuat bu, saya bisa merasakan betapa sulitnya bertahan diposisi mu saat ini.” Gumam marco setelah mengirimkan pesan whatsappnya.


*Setelah menempuh beberapa kilometer, akhirnya marco pun tiba di area gedung perkantorannya. Ia pun langsung memarkirkan mobilnya di area parkir kantor tersebut.


CIT!!


Pria bertubuh kekar itu pun turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor tersebut.


“Pak marco…” Panggil hito seketika.


Marco pun menoleh kearah sumber suara tersebut.


“Ada apa dito?” Sahut marco kepada hito yang berjalan kearahnya.


“Pak, a-anda sedang dicari pak thomas sedari tadi.” Pekik hito dengan nada yang tersengkal-sengkal.


“Lalu kenapa kamu seperti habis dikejar anjing begini,To?” Tanya marco kepada hito.


“Saya habis berlarian karena mencari bapak, pak. Dan saya sudah mengelilingi gedung ini, rupanya malah bertemu bapak disini.” Ungkap hito yang masih mengatur nafasnya.


“Hmmm, Yasudah kalo begitu terimakasih infonya. Saya akan datangi pak thomas sekarang juga.” Sahut marco dengan sedikit menghela nafasnya.


“Baik,pak.” Singkat hito saat itu juga.


Beberapa menit kemudian, langkahnya pun terhenti tepat didepan pintu ruangan thomas.


CEKLEK!


“Permisi, pak.. apa anda mencari saya?” Pekik marco yang baru saja masuk kedalam ruangan thomas.


“Hei marco, darimana saja kau ini. Aku mencarimu, kenapa terlambat datang kekantor?!” Tanya thomas tanpa basa-basi.


“Saya minta maaf atas keterlambatan saya hari ini pak, tadi ban mobil saya tiba-tiba bocor di tengah jalan. Jadi saya harus menambalnya dulu.” Ucap marco yang harus berbohong kepada thomas.


“Hmm, baiklah tidak masalah kalo begitu.” Lirih thomas seketika.


“Marco, bagaimana omzet perusahaan kita? Apa semakin naik?” Tanya thomas kepada marco.


“Benar, pemasukan kita naik perlahan-lahan. Omzet keuangan yang tiba-tiba meroket ini sangat menguntungkan bagi perusahaan kita. SDM jadi naik.” Sahut marco seraya menganggukkan kepalanya pelan.


“Syukurlah, ini pasti berkat client kita dari perusahaan felsha. Mereka sudah sangat membantu menaikkan rating perusahaan kita.” Pekik thomas dengan tatapan menyeringainya.


Marco pun terdiam saat itu juga, “Jika benar ada yang tidak beres antara pak thomas dengan bu felisha, aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati ibu ibel untuk yang kesekian kalinya..” Batin marco dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


“Baiklah marco, silahkan kamu kembali pada tugasmu. Hari ini jangan lupa untuk temani aku meeting bersama pak Andre..” Ucap thomas kepada marco.


“Siap pak.” Singkat marco dengan menganggukkan kepalanya kembali.


*Waktu pun terus berputar, hari pun menjelang sore. Thomas dan juga marco masih sibuk dengan beberapa meeting nya hari itu. Sementara Disisi lain, ibel masih berada didalam toko bakery nya ditemani Ayya dan juga Sarah yang hari itu main ketempat nya.


“Bel, gue minta kue yang ini boleh?“ tanya Ayya dengan wajah yang centil.


“Iyah, ambil aja sesuka kalian mau makan kue yang mana gratis..” Jawab ibel dengan tersenyum.


“Yeayyyyyy!!! Berasa didalam surga gue hari ini, makasih ya ibel. Lo emang manusia top markotop deh pokoknya..” Seru Ayya dengan hebohnya.


“Beli bego, jangan minta..” Ketus Sarah seketika.


“Gue bisa aja beli sar, tapi karena kebaikan sahabat gue itu lo denger sendiri kan tadi ‘gratis’ Yaudah gue terima lah. Rejeki tuh namanya bro ckck” Sangkal Ayya dengan mulut yang sengaja dimajukan.


“Gue kuncir juga tuh mulut lo yya!” Ledek Sarah seraya menutup mulut Ayya dengan satu tangannya.


“Ekhm, mas Toni.. ganteng banget sih, umur berapa?” Goda Ayya kepada karyawan ibel.


“Umur saya sama dengan ibu ibel, mbak hehe..” jawab Toni dengan tertawa kecil.


Ibel pun menahan tawanya saat itu juga melihat kelakuan temannya.


“Dasar jombs! Gak bisa liat cowo dikit, urat malunya udah putus..” lirih Sarah dengan melengoskan wajahnya.


“APA?! Seumuran sama ibel? Lah berarti kita seumuran juga dong mas?” Pekik Ayya dengan mulut yang mengangga.


“Aduh belll, kenapa gak pernah bilang sih kalo punya karyawan ganteng kayak gini..” bisik Ayya kepada ibel.


“Iyah mba seumuran kita.” Jawab Toni dengan malu-malu.


“Ekhem, udah punya pacar belum mas?” Tanya Ayya hingga membuat gelar tawa.


“Belum mbak.” Jawab Toni yang semakin merah wajahnya.


“Awww! Pas bangettt, curiga kalo kita jodoh Hahah. Cinta lokasi bener ini mah gue..” Sorak Ayya hingga membuat Sarah dan ibel pun sontak menepuk jidatnya masing-masing.


“Bukan temen gue bel..” lirih Sarah yang saat itu dianggukkan oleh ibel.


“Haha.” Tawa ibel saat itu juga.


**

__ADS_1


__ADS_2