
*Beberapa menit kemudian*
Thomas pun kembali menghampiri ibel.
“Gimana sayang? Ayah sudah mengangkat telfonmu?!” Tanya ibel kepada thomas.
“Sudah,kok. Sebentar lagi ayah akan segera on the way kesini.” Sahut thomas dengan menganggukkan kepalanya.
“Hmm, syukurlah.” Dehem ibel dengan menghela nafasnya secara pelan.
Tak lama kemudian, Dokter pun datang. membuat thomas dan juga ibel pun tersenyum dengan sopan kepada dokter tersebut.
“Malam, ibu ibel yah?!” Sapa sang dokter dengan ramahnya.
“Iyah, betul dok.” Sahut ibel dengan menganggukkan kepalanya.
“Sudah ada keluhan kah bu? Sakit perut kah? Atau pecah ketuban?!” Tanya sang dokter kepada ibel.
“Eum, kalo sakit perut sih belum dok. Tapi saya sudah pecah ketuban sedikit..” Jawab ibel dengan sekilas melirik kearah thomas.
“Baiklah, kalo begitu saya izin periksa dulu ya bu.” Pamit sang dokter yang saat itu dianggukkan oleh ibel.
Dokter pun sontak memeriksa ibel dengan melihat jalan lahir sang bayi yang ternyata baru saja pembukaan pertama..
“Ini baru pembukaan satu ya bu, tapi memang air ketuban nya sudah keluar sedikit-sedikit. Saya sarankan ibu tetap disini dulu yah.. karena ini juga sudah hpl ibu kan?! Takutnya kalo pulang kerumah dulu nanti dirumah ibu mengalami kontraksi dan harus bolak balik kesini lagi.” Jelas sang dokter kepada ibel.
“Baik, dok. Saya ikuti saran dokter saja.” Ucap ibel yang juga disetujui oleh thomas disampingnya.
“Oke, kalo begitu saya keluar dulu ya bu. Nanti kita lihat lagi perkembangannya.” Pamit sang dokter yang saat itu meninggalkan ibel dan juga thomas.
Setelah dokter meninggalkan keduanya, thomas pun meminta izin kepada ibel untuk ikut keluar juga.
“Bel, aku mau keluar dulu yah. Mau menemui teman temanku diluar kasian.. sekaligus menunggu ayah datang. Gak papa kan? Kalo butuh apa-apa telfonn aku saja. Ya?!” Pamit thomas kepada ibel.
“Iyah, gak papa.” Sahut ibel dengan menganggukkan kepalanya pelan.
“Sama teman temannya bisa merasa iba, sementara sama istri sendiri yang kondisinya genting begini malah gak kasian, lebih baik menemani teman temannya daripada istrinya disini yang sendirian. Hmm” Batin ibel seraya melihat kepergian thomas dihadapannya.
🍁🍁
Disisi lain|
Setelah berhasil menghubungi thomas dan menyuruhnya agar segera pulang dan membawa ibel kerumah sakit, mama rina pun tak bisa diam begitu saja.
Meski banyak kekecewaannya kepada ibel, ia tetaplah seorang ibu yang tidak akan tega melihat anaknya sendirian.
Malam itu juga, ia bergegas menuju rumah sakit tempat dimana ibel dilarikan. Meski jaraknya sangat jauh dari rumahnya, ia tak merasa ragu sedikitpun untuk pergi menemui anaknya yang dirasa membutuhkan sosoknya saat itu.
__ADS_1
Beruntung malam itu kondisi jalanan sepi, hingga mama rina pun bisa membawa laju kendaraannya dengan waktu yang cukup singkat.
CIT*
Mama rina pun bergegas turun dari mobilnya, ia melangkahkan kakinya menuju IGD rumah sakit tersebut. Wajahnya nampak berubah ketika ia melihat thomas sedang bersendau gurau bersama dengan ketiga temannya didepan Igd tersebut.
“Bener-bener anak itu!” Gumamnya dengan kedua tangan yang ia kepalkan.
Wanita paruh baya itu pun melajukan langkahnya untuk menghampiri sang menantu.
“Hei thomas!” Tegur mama rina hingga membuat thomas dan ketiga temannya sontak menoleh kearahnya bersamaan.
“Loh, mamah?! Mama kesini sendirian? Malam malam seperti ini? Yaampun mahh.. bahaya tau gak sih.” Pekik thomas yang saat itu memberikan salam kepada mertuanya tersebut.
“Kamu gak usah basa-basi lagi deh, thom. Ibel dimana? Sama siapa dia sekarang?” Tanya mama rina dengan ketus.
“Dih kenapa sih nih nenek nenek..” batin thomas saat itu juga.
“Eum, itu ibel didalam mah. Kata dokter ibel masih pembukaan satu jadi kita disuruh menunggu disini saja dulu daripada harus bolak balik nantinya kalo pulang kerumah dulu.” Ungkap thomas kepada mama rina.
“Lalu, ditemani siapa ibel didalam?!” Tanya mama rina kembali.
“S-sendirian mah..” Sahut thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Kamu itu gak sigap banget jadi suami ya thom! Istrimu itu sedang membutuhkan sosok mu! Dia ingin kamu menemaninya disaat saat seperti ini, kamu malah cengengesan disini bersama dengan teman temanmu, sebenarnya kamu ini sayang gak sih sama ibel?! Seandainya tadi mama gak menyuruhmu pulang saja sepertinya ibel akan pergi kerumah sakit sendirian tanpa suaminya..” Omel mama rina yang sudah geram dan tak bisa menahan emosinya lagi kepada thomas.
“Sudah sudah sudah! Thom, ingat. Itu mama mertuamu, jangan dilawan!” Sergah Vega yang mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.
“E-tante biarkan kami meluluhkan hati thomas dulu, lebih baik tante masuk dulu temui ibel didalam sana yang sendirian.” Perintah Alex yang saat itu menuntun tubuh mama rina untuk segera masuk kedalam ruangan igd tersebut.
“Dasar mantu kurang ajar, belum apa-apa sudah berani melawanku!” Gerutu mama rina dengan raut wajah kesalnya.
“Bel..” Panggil mama rina pada ibel yang terlihat seperti menahan rasa sakitnya.
“Loh, mamaa? Mama kesini sama siapa?” Sahut ibel dengan raut wajah piasnya.
“Mama sendirian sayang, kamu gimana? Apa perutmu sudah mulai merasakan sakit, nak?!” Tanya mama rina saat itu juga.
“Mah, Yaampun.. ini kan sudah larut malam, kenapa mama nekad sekali kesini sendirian. Seharusnya mama kesini besok pagi saja, ibel gak papa disini kan sudah ditemani thomas juga mah.” Protes ibel kepada mama rina.
“Mama gak bisa tenang jika mama gak melihat langsung kondisimu sekarang, nak. Mama tahu kamu juga butuh mama disini, karena nyatanya suamimu itu gak berguna untukmu. Dia bahkan lebih memilih bersendau gurau tanpa ada beban bersama dengan teman-temannya daripada harus menemanimu disini..” Ungkap mama rina hingga membuat ibel pun sontak terdiam dan merenungi ucapan mamanya tersebut.
“Mana ayah mertuamu? Apakah dia tahu kalo kamu akan melahirkan malam ini?!” Imbuh mama rina saat itu juga.
“Eum, ayah tau kok mah. Dan kata thomas ayah juga sedang on the way kesini..” Sahut ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Hmm.” Dehem mana rina seraya menghela nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
*Waktupun terus bergulir, kini waktu menunjukkan pukul 3 malam. Ibel pun sudah mulai merasakan kesakitan yang sulit sekali diartikan.
“Mah, sakit..” Keluh ibel dengan satu tangan yang menggenggam tangan mama rina dengan penuh energi.
“Apanya sayang? Kamu sudah mulai kontraksi yah?! Sebentar biar mama panggilkan dokter dulu, nak.” Tanya mama rina dengan raut wajah paniknya.
“Dokkkk/susss.. tolongin ini anak saya sudah mulai kontraksi!” Teriak mama rina diruangan tersebut hingga dokter dan juga suster pun bergegas mendatangi ibel saat itu.
Sementara thomas dan ketiga temannya yang lain belum mengetahui hal tersebut, mereka malah asyik mengobrol didepan ruangan igd saat itu.
“Thom, kamu kok diluar? Ibel sama siapa didalam?!” Tegur ayah Jacky yang baru saja tiba disana.
“Ayah kenapa lama sekali sampe sini nya?! Ibel didalam bersama dengan mamanya..” sahut thomas kepada ayah Jacky.
“Loh, mamanya ada disini juga?! Ayah tadi kedatangan tamu dulu jadi baru bisa kesini sekarang..” pekik ayah Jacky
Ayah Jacky pun langsung masuk kedalam ruangan igd tersebut untuk melihat kondisi mantunya tersebut, tak disangka saat itu ia malah terkejut ketika melihat ibel yang sedang ditangani oleh beberapa suster dan juga dokter.
Pria paruh baya itu pun sontak membalikkan badannya dan kembali menemui thomas didepan igd.
“Thomas! Istrimu mau melahirkan itu! Cepat masuk sekarang!!!” Tegur ayah Jacky dengan raut wajah seriusnya.
Tanpa basa-basi lagi, Thomas pun bergegas berlarian masuk kedalam ruang tersebut, ia melihat sang istri yang akan dibawa keruang tindak khusus saat itu.
“Tunggu, istri saya mau dibawa kemana ini sus?!” Cela thomas yang saat itu bertanya kepada perawat yang mendorong troli kasur ibel keruangan tindakan.
“Makanya temanin istrinya! Jadi tau kalo sekarang istrimu itu sedang kesakitan dan akan melahirkan sebentar lagi.” Sindir mama rina dengan raut wajah ketusnya.
Thomas pun tak memperdulikan ucapan mertuanya tersebut, ia terus mengikuti sang istri yang dibawa keruangan tindakan.
“Siapa yang akan menemani ibu ibel didalam sini? Hanya boleh satu orang saja ya..” tanya sang perawat sebelum menutup pintu ruangan tersebut.
“Saya sus!! Saya suaminya..” Sergah thomas saat itu juga.
“Jangan sus, biar saya saja yang menemani pasien didalam sana. Saya ibunya..” Timpal mama rina
“Terserah saja mau suaminya atau ibunya, hanya boleh satu orang saja ya. Mohon pengertiannya!” Tegas sang perawat .
“Biarkan suaminya yang masuk mendampingi ibel didalam sana sus, karena itu sudah menjadi kewajibannya!” Cela ayah Jacky yang baru saja datang saat itu.
Mama rina pun sontak menoleh kearah nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sementara thomas pun bergegas masuk keruangan tindakan tersebut untuk menemani ibel melahirkan.
“Kamu ini jangan egois, anak saya berusaha menjadi suami yang baik loh. Kalo sikap anda seperti itu saya yakin thomas pun akan jadi acuh kepada anak anda. Memangnya anda mau seperti itu?!” Gertak ayah Jacky kepada mama rina.
“Jangan pernah menggiring opini yang tidak baik pak, sebagai orang tua saya juga tidak rela jika anak saya harus dipermainkan dengan orang lain!” Ketus mama rina yang langsung menghindar dari besannya tersebut.
__ADS_1
“Hmm.” Dengus ayah Jacky seraya menggelengkan kepalanya saat itu juga.