
*Keesokan Harinya*
Thomas membuka perlahan-lahan kedua matanya dan melirik kearah sekitar kamarnya dengan tatapan bingungnya.
“Selamat pagi, sebaiknya hari ini gak usah bekerja yah. Tubuhmu agak demam mungkin gara-gara semalam..” Ucap ibel seraya menghantarkan susu dan juga sandwich untuk thomas yang ia letakkan diatas nakasnya.
“Jangan sembarangan kamu itu! Aku harus berangkat kerja hari ini! Akan ada projek besar yang aku handle!!” Omel thomas yang saat itu langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Baru saja melangkahkan kakinya, thomas langsung memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.
“Awww! Kenapa kepalaku sakit sekali..” gumamnya dengan raut wajah piasnya.
Sementara ibel sendiri hanya melihat thomas dengan melipatkan kedua tangannya diatas dadanya.
“Bel, tolong.. kepalaku terasa berat sekali.” Mohon thomas kepada ibel.
Ibel pun sontak melangkahkan kakinya menghampiri sang suami, “Sudah kubilang istirahat saja dulu, tubuhmu juga demam tinggi. Huh” Ucap ibel yang memopoh tubuh thomas kembali duduk diatas kasurnya.
“Kenapa bisa aku sakit seperti ini? Siapa yang akan menggantikanku dikantor jika aku sakit seperti ini?!” Lirih thomas dengan raut wajah piasnya.
“Kamu bilang, kamu punya seorang ajudan pribadi yang menjadi tangan kirimu, mintalah bantuannya. Agar dia bisa menghandle projek ini beberapa hari ini, sampai keadaanmu pulih kembali.” Usul ibel seketika.
“Eum, baiklah. Kali ini aku akan menuruti perintahmu.” Angguk thomas saat itu juga.
Ibel pun menerbitkan senyumannya saat mendengar ucapan thomas tersebut, namun dengan sigap thomas pun berdialog kembali.
“Hanya untuk kali ini saja! Jadi tak perlu berbangga hati dulu karena aku menurutimu..” Ketus thomas hingga membuat ibel pun menghela nafasnya secara pelan.
“Dimana ponselku berada? Tolong ambilkan, aku akan menelfon marco sekarang juga..” Tanya thomas kepada sang istri.
Ibel pun sontak melangkahkan kakinya untuk mengambilkan ponsel thomas yang berada diatas nakas lemari televisi kamarnya.
“Nih..” Singkat ibel seraya menyodorkan ponsel milik sang suami.
Thomas pun langsung membuka ponselnya dan menghubungi sang ajudan pribadinya.
TUT\~
Tak lama kemudian, marco pun terhubung dalam sambungan Telfon tersebut.
“Haloo, ada apa thom? Apa ada yang bisa aku bantu pagi-pagi seperti ini?!” Tanya marco diseberang sana.
“Ya, marco. Saya sakit, jadi saya gak bisa masuk kerja hari ini. Apa bisa kau gantikan diriku untuk menghandle pekerjaan hari ini?! Mungkin sampai diriku pulih kembali..” Pekik thomas kepada marco dalam sambungan telfonnya.
“Sakit apa kau thom? Apa perlu aku menghantarkan mu kerumah sakit?!” Tanya marco yang merasa khawatir.
__ADS_1
“Gak perlu, saya hanya butuh waktu untuk istirahat saja.” Tolak thomas seketika.
“Baiklah, kalo begitu. Aku akan menghandle semua pekerjaanmu hari ini, dan bila ada apa-apa pada dirimu harap hubungi aku segera ya.” Pesan marco kepada thomas.
“Ya.” Singkat thomas seraya menganggukkan kepalanya secara pelan.
PIP*
Thomas pun menutup ponselnya dan langsung meletakkannya kembali dikasur tempatnya duduk bersandar.
“Nih, sarapan dulu. Mau ku suapin gak?!” Pekik ibel yang mendudukkan dirinya disamping thomas seraya membawa segelas susu dan sandwich ditangannya.
“Aku tidak ingin makan.” Tolak thomas seketika.
“Gak ada penolakan, jika ingin cepat sembuh maka menurut lah denganku.” Pinta ibel yang sontak memasukkan sandwich tersebut kedalam mulut thomas.
Thomas pun dengan terpaksa mengunyah suapan ibel tersebut dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sementara ibel sendiri hanya tersenyum tipis saat itu juga.
“Habiskan yah, setelah ini akan kuberi obat pereda demamnya.” Tutur ibel dengan nada lembutnya.
“Hmm.” Dehem thomas seraya mengerjapkan Kedua matanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi mungil yang berada dalam keranjang tidurnya yang tak jauh dari kasur yang ditiduri ibel dan juga thomas.
“Sayangg, bangunnn yaa. Cupcupcuppp! ini Mommy nak, kamu pasti haus yah. Yuk ***** Mommy dulu nakk..” Celoteh ibel yang bergegas mengangkat tubuh mungil bayinya tersebut dan langsung memberikan asi kepadanya.
“Kenapa gue ngerasa iba ngeliat ibel nyusuin anak gue, padahal itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang ibu.” Batin thomas seketika.
“Arghhh, apaan sih. Kenapa gue harus iba sama dia, lagi pula gue juga udah ngelakuin kewajiban gue sebagai seorang suami sekaligus ayah, gue kerja juga buat mereka. Kalo pun gue main perempuan, anggap saja itu untuk bonus karena gue udah capek cari uang Ck” Imbuhnya kembali.
*Setelah beberapa menit menghabiskan waktunya untuk menyusui sang anak, ibel pun membawa sang anak mendekati thomas.
“Sayang, tuh liat daddy lagi sakit. Alice doain daddy ya supaya cepat sembuh..” Celoteh ibel yang membawa lekat tubuh Alice ke hadapan sang suami.
Tanpa menjawab sekata-kata pun, thomas akhirnya meraih tubuh mungil sang anak saat itu juga.
“Sini, aku ingin menggendong Alice.” Pekik thomas pada istrinya.
Ibel pun sontak meletakkan tubuh sang anak dalam dekapan sang suami.
“Aku nitip Alice dulu ya, aku mau siapkan air hangat untuk mandi Alice.” Pekik ibel yang saat itu dianggukkan oleh thomas.
Setelah ibel hilang dari pandangannya, thomas pun beberapa kali memotret sang anak di kamera ponselnya.
*Cekrek* *Cekrekk*
__ADS_1
Setelah puas memotret sang anak, thomas memandangi wajah sang anak dengan sangat lekat.
“Baru kali ini aku merasa sedekat ini dengan anakku sendiri, kemana saja aku selama ini, aku bahkan baru menyadari wajah anakku sangatlah mirip denganku tuhannn.” Batin thomas yang menatap lekat wajah yang anak.
“Tapi kenapa dia harus diberi penyakit seperti ini, rasanya membuat aku malu untuk mengakuinya.” Imbuhnya kembali dengan mengerjapkan kedua matanya.
*Sifat dan kepribadian thomas memang susah untuk ditebak, terkadang rasa simpatinya muncul kepada seseorang namun sifat buruknya juga bisa datang kapan saja. pria itu merasa sangat susah untuk mengendalikan emosinya sendiri.
BROTTT\~\~
Suara dan bau kentut pun terdengar dari tubuh sang anak, membuat thomas sontak terkejut dan langsung berteriak seraya bergidik ngeri.
“Ibelllll!!!! Cepat bellll!!! Anakmuuuu..” Teriak thomas dengan raut wajah paniknya.
“Kenapaaa, thom? Ada apa?!” Sahut ibel yang baru saja keluar dari kamar mandinya.
“Cepat kemari!!! Anakmuuu..” Perintah thomas dengan menggebu-gebu.
Ibel pun sontak berlari menghampiri keduanya.
“Ada apa dengan Alice? Kenapa kamu panik seperti itu? Apakah ada efek dari penyakitnya?!” Tanya ibel yang ikut panik saat itu juga.
“Bukan, bukan itu.” Elak thomas seraya menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa? Kenapa?” Tanya ibel kembali.
“Alice kentut, dan baunya sangat tidak enak. Aku takut dia buang air besar dan terkena bajuku. Lekas angkat tubuh anakmu ini! Singkirkan darikuuu!” Pekik thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Astaga, thomas. Hanya kentut saja loh, kenapa harus panik seperti itu?! Lagipula jika Alice buang air besar pun tak apa, dia kan masih memakai popoknya. Toh ini kan anakmu sendiri, masa kamu jiji dengan kotorannya.” Sahut ibel seraya mengangkat Alice dari dekapan sang suami.
“Gak, aku gak mau. Aku belum terbiasa dengan hal seperti ini.” Ucap thomas yang menggelengkan kepalanya sendiri.
“Harus terbiasa, kamu kan daddy nya.” Sahut ibel dengan lugas
“Kenapa kamu memaksaku seperti itu? Kamu kan Mommy nya, jadi yang seharusnya mengurus Alice sepenuhnya ya kamu! Tugasku hanya mencari uang saja. Faham!!” Gertak thomas seketika.
“Oh begitu kah caramu? Hanya mau membuat anak saja tapi tidak mau ikut serta untuk mengurusnya.” Pekik ibel dengan mata yang berkaca-kaca.
“Diam atau aku tampar mulut mu!” Ancam thomas dengan tangan yang menuding wajah sang istri.
Ibel pun sontak melengos dan pergi meninggalkan thomas saat itu juga, gadis itu dengan sengaja membiarkan hatinya dingin kembali setelah mendapati perlakuan thomas yang membuat hatinya terlukai.
“Adek, mandi dulu ya sama Mommy. Setelah itu kita main dibawah sama mbak Susi..” Celoteh ibel kepada sang anak.
“Punya istri mulutnya kaya siluman! Gak bisa apa dia jaga perkataannya sama suaminya sendiri! Cih.” Gerutu thomas yang masih duduk bersandar ditepi kasurnya.
__ADS_1
**