TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC

TERJERAT PERNIKAHAN TOXIC
Episode 66


__ADS_3

Waktu pun terus berputar, setelah teman-temannya pulang satu persatu. Kini diruangan tersebut tinggalah ibel, Alice dan juga thomas yang hari ini sengaja tidak masuk kerja karena ingin mengambil hati sang istri kembali setelah meninggalkannya semalaman.


“Kamu kenapa gak berangkat kekantor?” Tanya ibel meski tanpa menatap wajah thomas.


“Aku ingin disini menemani anakku..” Sahut thomas yang saat itu sengaja menggendong sang anak.


“Memangnya tidak apa jika tidak masuk kantor?!” Tanya ibel dengan raut wajah datarnya.


“Tidak apalah, aku pun sudah bilang ke marco untuk menghandle nya hari ini karena aku ingin seharian dirumah sakit.” Pekik thomas kepada sang istri.


“Oh.” Singkat ibel tanpa ekspresi apapun.


“Maaf ya semalam aku tidak pulang kesini, aku sengaja ingin beristirahat penuh dirumah setelah pulang bertemu klien kemarin. Kalo disini kan kamu tau aku tidak bisa dengan nyaman beristirahat..” Pekik thomas kembali dengan menatap sang istri.


“Klien siapa yang kamu maksud?” Tanya ibel menohok.


Thomas pun sontak tercengang, “m-maksud kamu?!” Sahut thomas dengan hati yang was-was.


“Iya klien siapa yang kamu maksud? Bukan kah tidak ada jadwal bertemu dengan klien siapapun kemarin? Lantas klien siapa yang kamu maksud?!” Tanya ibel kembali dengan wajah datarnya.


“Ya klien ku lah! Tau dari mana kamu aku tak punya jadwal bertemu dengan klien? Jangan asal bicara kamu itu ya, aku itu seorang CEO, Channel klien ku banyak, mau didalam kantor maupun diluar kantor! Kamu tidak faham hal yang seperti itu, jadi jangan asal menuduh!” Tutur thomas dengan nada tingginya.


“Ahiya aku lupa jika kamu hanya seorang ibu rumah tangga, wajar saja jika pengetahuanmu hanya sedikit seperti itu Ck” imbuhnya dengan senyuman miringnya.


“Sepertinya aku hanya bertanya baik-baik, jika kamu tidak merasa melakukan hal yang aneh diluaran sana harusnya kamu bicara baik-baik pula tidak usah pakai otot seperti itu.” Sindir ibel menohok.


“Aku memang hanya seorang ibu rumah tangga, tapi aku pernah merasakan pendidikan hingga duduk dibangku kuliah meskipun tidak sampai lulus sarjana karena harus hamil diluar nikah. Dan sepertinya meskipun saat ini aku tidak punya pekerjaan apapun, otakku masih bisa berfikir dengan jernih sesuai ilmu-ilmu yang telah kupelajari selama ini. Jadi jangan pernah merendahkanku! Jika aku mau, bisa saja aku bekerja dengan segala kemampuanku yang serba bisa ini. Tapi aku yakin, kamu pasti tidak akan memperbolehkanku.” Imbuh ibel dengan tatapan tajamnya kepada thomas.


Thomas pun tercengang dengan semua pernyataan ibel tersebut, hatinya terasa panas namun ia teringat kembali dengan tujuannya hari ini adalah untuk mengambil hati sang istri agar tidak terus berburuk sangka dan mencurigai dirinya yang telah berselingkuh tersebut.


“Maaf.” Singkat thomas tanpa menatap sang istri.


“Ck, basi!” Batin ibel dengan mengalihkan pandangannya.


TOK TOK TOK!


Suara ketukan pintu pun terdengar, dan gagang pintu pun mulai terdorong oleh seseorang diluar sana.

__ADS_1


“Permisi, pasien atas nama bayi Alice graciella Roberto bukan yah?!” Tanya seorang perawat yang datang bersama sang dokter.


“Eum, Iyah sus benar.” Sahut ibel dengan menganggukkan kepalanya.


“Waktunya kunjungan dokter ya buk..” pekik sang perawat dengan ramahnya.


“Oh Iyah sus/dok, silahkan..” Sahut ibel yang juga ramah terhadap keduanya.


Thomas pun meletakkan sang anak diranjang inapnya kembali, lalu sang dokter pun mendekatkan dirinya didepan Alice yang saat itu terbaring disamping ibel.


“Permisi ya bu, saya izin periksa dulu.” Izin sang dokter kepada ibel untuk memeriksa sang anak saat itu juga.


“Iyah dok, silahkan.” Angguk ibel dengan tersenyum.


Hingga beberapa menit berlalu, setelah dokter memeriksa keadaan Alice, Ibel pun langsung bertanya keadaan sang anak saat itu juga.


“Bagaimana Alice dok? Apakah sudah membaik?!” Tanya ibel kepada sang dokter.


“Over all semuanya baik bu, sepertinya Alice bisa pulang hari ini..” Pekik sang dokter hingga membuat ibel pun sontak menghela nafasnya dengan legah seraya tersenyum manis.


“Selang ditubuhnya juga aman tidak ada masalah apapun, iya kan sus?!” Ucap sang dokter yang saat itu dianggukkan oleh sang perawat yang bertugas menemaninya.


“Baik kalo begitu, nanti ayahnya suruh urus administrasi dan berkas-berkasnya dulu ya bu. Jangan lupa untuk kontrol pasca operasi dan juga kontrol rutin lainnya setiap 3 bulan sekali. Ya buk/pak.” Imbuh sang dokter hingga ibel dan thomas pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan


“Terimakasih banyak dok..” Sahut thomas dengan melebarkan senyumannya.


“Sama-sama pak, kalo begitu saya permisi dulu yah.” Pamit sang dokter yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan perawat pendampingnya.


“Sebentar, aku mau kabarin ayah dulu.” Pekik thomas kepada ibel.


TUT\~


Setelah menunggu beberapa detik, sang ayah pun akhirnya tersambung kedalam panggilan tersebut.


“Ya Halo?!” Sapa ayah Jacky diseberang sana.


“Halo, yah? Ayah sedang berada dimana?!” Sahut thomas dalam sambungan telfonnya.

__ADS_1


“Ayah sedang ada diluar, ada apa?” Tanya ayah Jacky dengan suara khasnya.


“Yah, Alice sudah boleh pulang hari ini..” Pekik thomas kepada ayah Jacky.


“Puji Tuhan, syukurlah. Memangnya keadaannya sudah membaik?!” Tanya ayah Jacky kembali.


“Dokter bilang kondisi Alice sudah bagus, selang yang dipasang dikepalanya pun tidak ada masalah jadi dokter memutuskan Alice sudah bisa pulang hari ini tetapi Alice harus selalu kontrol rutin nantinya.” Jelas thomas saat itu juga.


“Baiklah kalo begitu, semoga tidak terjadi masalah apapun setelah pulang nanti. Segera urus administrasinya lalu bawa Alice pulang kerumah, nanti ayah akan datang kerumahmu setelah urusan ayah selesai.” Tutur ayah Jacky kepada thomas.


“Oke yah. Kalo gitu thomas tutup dulu sambungan telfonnya ya.” Pamit thomas yang saat itu disetujui oleh sang ayah.


“Iyah.”


PIP*


Thomas pun menyimpan kembali ponselnya didalam kantong celananya, lalu ia membalikkan badannya kearah ibel dan juga Alice dibelakangnya.


“Yasudah kalo gitu aku tinggal untuk mengurus administrasi Alice dulu.” Pekik thomas kepada sang istri.


“Iyah.” Singkat ibel seraya menganggukkan kepalanya.


Setelah thomas hilang dari pandangannya,


ibel yang sedang duduk diranjang rawat inapnya seraya menggendong Alice itu pun menatap ponselnya yang berada dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, gadis itu kembali teringat pada Ayya, sahabatnya. Ia khawatir jika Ayya akan marah padanya dan tidak mau lagi berteman dengannya.


“Ayya gimana ya? Apa dia masih marah? Sebaiknya gue kirim pesan aja deh sama dia..” gumam ibel dengan pandangan kosongnya.


Jari jemarinya yang lentik itu pun mulai lihai mengetikkan suatu pesan untuk sahabatnya tersebut.


“Ayya? Lo gak papa kan yya? Maafin sikap thomas tadi pagi ya yya, gue harap hal itu jangan sampai membuat pertemanan kita hancur. Gue sayang banget sama lo yya, cuma lo satu-satunya temen gue yang gue punya, yang selalu support gue kapanpun itu. Sekali lagi gue minta maaf atas sikap thomas sama lo ya yya.” Pesan yang ibel kirim kepada Ayya saat itu juga.


Setelah legah mengirimkan pesan tersebut kepada sahabatnya, ibel pun kembali meletakkan ponselnya diatas ranjang lalu kemudian ia pun meletakkan Alice yang sudah tertidur di pangkuannya sejak tadi diranjang yang sama juga.


Gadis itu lalu bangkit dari atas ranjang, dan melangkahkan kakinya untuk mengemasi barang-barang miliknya dan anaknya diruangan tersebut.


“Akhirnya boleh pulang kerumah juga, semoga penyakitnya cukup sampai disini aja. Sembuh sembuh sembuh aminn!!!” Gerutu ibel seraya mengemasi barang-barangnya.

__ADS_1


__ADS_2