
Hingga beberapa saat kemudian,
CEKLEK*
“Belll…” Sapa thomas yang baru saja pulang dengan raut wajah paniknya.
Ibel pun sontak menoleh kearah sumber suara tersebut, “Iyah, Thom..” Sahut ibel dengan menggigit bibir bawahnya, gadis itu takut jika thomas akan marah jika melihat kondisinya yang masih baik baik saja.
“Ayo kerumah sakit sekarang..” Ajak thomas kepada sang istri.
“Tapi aku belum merasakan apa-apa thom..” Pekik ibel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Tapi tadi mamah Telfon aku katanya air ketuban mu sudah keluar kan?!” Sahut thomas dengan menggebu-gebu.
“Iyah sih..” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya secara pelan.
“Yasudah, ayo lekas kita kerumah sakit sekarang saja. Barang barangnya nanti biar aku saja yang bawa ke mobil, kamu duluan saja masuk ke mobil sana..” Perintah thomas kepada ibel dengan raut wajah seriusnya.
Ibel pun menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah suaminya tersebut, ia sontak melangkahkan kakinya menuruni tangga rumahnya dengan langkah yang begitu berhati-hati..
“Woiii! Bantuin bini gue itu! Antar ke mobil sekarang!!” Teriak thomas kepada teman temannya yang berada dilantai bawah rumahnya tersebut.
“Iyah-Iyah, thom.” Sergah Alex dan kedua temannya secara bersamaan.
Mereka bertiga pun bergegas menghampiri ibel yang sedang menuruni tangga rumah tersebut.
“Ayo, bel. Hati-hati.. biar kami pegangin.” Ujar Vega kepada ibel.
“Gak perlu, gue masih bisa kok jalan sendiri. Hehe” tolak ibel dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
“Jangan nolak bel, nanti kita bisa kena omel sama thomas..” pekik revano saat itu juga.
“Hmm, yasudahlah..” dengus ibel dengan raut wajah pasrahnya.
Ibel pun dituntun oleh ketiga teman thomas menuju ke mobilnya.
“Pelan-pelan aja bel..” Lirih Vega saat ibel ingin masuk ke dalam mobilnya.
Brughhhhh!
Setelah ibel masuk kedalam mobil, thomas pun baru saja keluar dari rumahnya dengan membawa beberapa barang bawaan ibel untuk melahirkan nanti.
“Weishhhhhh! Liat bro, teman kita satu ini sudah sangat berguna jadi suami ya kan?! Ini yang dinamakan suami siagaaa, ya gak thom? Ck” Ledek Revano dengan tawa kecilnya.
“Bacot lo! Bawain nih!!” Ketus thomas yang saat itu melemparkan barang barang tersebut kepada ketiga temannya.
“Astaga, kenak juga kan kita..” Keluh Vega dengan menghela nafasnya secara pelan.
“Gara-gara revano nih ah! Segala negur singa, coba tadi gak ditegur, pasti dia bawa semua ini sendirian tuh tadi..” Ujar Alex dengan tatapan sinisnya kepada revano.
“Yee, kenapa jadi gue?!” Protes revano saat itu juga.
__ADS_1
Setelah memasukkan barang barang kedalam bagasi mobil, ketiganya pun bergegas masuk kedalam mobil yang sama.
“Kok gue jadi kaya sopir kalian ini, sialan!” Gumam thomas yang saat itu menyalakan mesin mobilnya.
“Yaudah sih, thom. Gak papa ngalah. Ini darurat tau gak, udah yok ah gas!!” Pekik Vega kepada thomas.
“Hmm.” Dengus thomas saat itu juga.
Bvrommmmm\~\~
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat dikota tersebut,
“Bel, kamu sekarang hubungin ayah. Bilang kalo kita mau kerumah sakit untuk melahirkan.” Perintah thomas yang saat itu fokus menyetir.
“Iyah,thom.” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya pelan.
Ibel pun sontak merogoh ponselnya yang ada didalam tas selempang yang ia kenakan saat itu.
TUT\~\~
“Panggilan anda sedang dialihkan, cobalah beberapa saat lagi”
“Yahh, thom. Sepertinya ayah sedang berkomunikasi dengan seseorang sekarang, ponselnya sedang dialihkan.” Ucap ibel yang sekilas melirik kearah thomas.
“Hmm, yasudah gampang nanti saja biar aku yang hubungi ayah.” Sahut thomas dengan menghela nafasnya pelan.
*Beberapa menit kemudian, setelah menempuh beberapa kilometer perjalanan. Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit tujuannya.
Thomaspun memberhentikan kendaraannya tepat di lobi rumah sakit tersebut,
“Kalian bertiga tolong turun dulu anterin bini gue masuk ke igd. Gue mau parkirin mobil dulu..” Perintah thomas kepada ketiga temannya.
“Okeh, bos!” Sahut ketiganya secara bersamaan.
“Ayo bel, turun..” Pekik Alex yang saat itu membukakan pintu mobil untuk ibel.
Dengan berhati-hati, ibel pun turun dari mobilnya dengan satu tangan yang memegang perutnya yang besar.
Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam igd ditemani oleh ketiga sahabat suaminya tersebut.
“Maaf, ini ramai-ramai mau apa yah? Yang sakit siapa?!” Tegur salah satu perawat rumah sakit tersebut.
“Mau tawuran mba!!” Ceplos revano seketika.
“Is!! Si tolol.. e-ini teman saya mau melahirkan mba, tolong yah.” Gerutu Vega yang langsung menyenggol tubuh revano lalu beralih menatap sang perawat dengan seriusnya.
“Mba yang ini?! Mau melahirkan? Tapi masih kuat jalan nih?!” Tanya perawat tersebut dengan raut wajah herannya.
“Mba, bisa gak gak usah banyak tanya. Bawa saja teman saya ini masuk untuk diperiksa! Sudah pembukaan berapa kirakira, kami ingin tau. Soalnya air ketubannya sudah keluar sedikit demi sedikit.” Tegas Alex jelas dengan tatapan tajamnya kepada sang perawat.
“Oh, iya-Iyah baik mas e sorry pak.” Sergah perawat tersebut yang bergegas mentitah tubuh ibel untuk masuk keruangan periksa.
__ADS_1
Revano dan juga Vega pun saling melemparkan tatapan satu sama lain saat itu juga,
“Sumpah, bapak able banget lo lex! Gila, gak nyangka gue.. Ck” Puji revano dengan menggelengkan kepalanya.
“Diem,diem paling paham lo ya lex soal ibu hamil. ******!” Timpal Vega saat itu juga.
“Hmm..” Dehem Alex dengan memutarkan bola matanya keatas.
“Woi! Lo bertiga kenapa masih disini? Mana bini gue?!” Tegur thomas yang baru saja datang.
“E-itu bini lo didalam, thom. Lagi diperiksa udah pembukaan berapa, ya kan lex?!” Sahut revano dengan menyenggol tubuh Alex disampingnya.
“Iyah, mending sana lo kedalam deh. Kita kan gak enak kalo harus rame rame masuk kedalam, nanti dikira, kita semua suami ibel lagi.” Timpal Alex dengan argumennya.
“Enak aja lo bilang! Jelas-jelas Gue suaminya..” Ketus thomas saat itu juga.
Thomas pun bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan periksa tersebut dan mencari tirai dimana ada istrinya didalamnya.
“Maaf, sus. Pasien atas nama Alisha ibel di tirai yang mana yah? Yang lagi hamil besar dan mau melahirkan itu loh? Ciri cirinya anaknya putih, agak berisi dan imut.” Tanya thomas dengan raut wajah polosnya kepada salah satu perawat yang berpapasan dengannya.
Perawat tersebut pun sontak menahan tawanya, “Maaf, mas ini siapanya mba Alisha ibel?!” Tanya perawat tersebut kepada thomas.
“Saya suaminya, sus!“ Tegas thomas kepada perawat tersebut.
“Oalah, jadi yang ini suaminya. Saya kira yang tiga pria didepan itu tadi yang menjadi suaminya..” Coleteh perawat tersebut hingga membuat Thomas pun sontak menatapnya dengan tajam.
“Eum, maaf-maaf mas. Mba Alisha ibel ada di tirai pojok kiri sana yah, tunggu saja dokter akan memeriksa nya sebentar lagi. Saya permisi mas.” Imbuh perawat tadi yang merasa ketakutan saat thomas sudah merubah ekpresi wajahnya.
Thomas pun melanjutkan langkahnya menuju tirai yang telah diberitahukan oleh perawat tadi.
“Thom..” Sapa ibel yang sudah terbaring dikasur khas rumah sakit.
“Kenapa? Tadi suster bilang sebentar lagi dokter akan datang kesini untuk memeriksa mu, sabar yah.” Pekik thomas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Iyah.” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya.
“Sekarang, rasanya gimana?!” Tanya thomas kepada ibel.
“Masih belum merasakan apa-apa sih.” Sahut ibel dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Saat itu waktu menunjukkan pukul dua belas malam, thomas pun teringat kembali untuk menghubungi ayahnya saat itu juga.
“Duhhh, udah jam 12 lagi. Kirakira ayah masih melek gak yah?!” Gumamnya dengan raut wajah cemasnya.
“Coba aja Telfon lagi, thom.” Usul ibel kepada sang suami.
“Iyah.” Singkat thomas dengan menganggukkan kepalanya.
“Sebentar yah, aku hubungin ayah dulu.” Pamit thomas yang dianggukkan oleh ibel saat itu juga.
“Ya Tuhan, Saat-saat seperti inilah yang membuat aku luluh kepada suamiku. Ketika ia perduli denganku, saat itulah aku seakan lupa atas semua keburukannya kepadaku. Semoga saja ini menjadi awal yang baik yang bisa merubah sifatnya sedikit demi sedikit.” Batin ibel seraya mengelus lembut perutnya sendiri.
__ADS_1