
*Keesokan Harinya*
“Bel, kamu harus sering sering olahraga atau sekedar jalan sehat loh supaya kamu bisa melahirkan dengan normal dan mudah.” Usul ayah Jacky kepada sang menantu.
“Iyah, yah.” Singkat ibel dengan menganggukkan kepalanya.
“Iyah bel, soalnya setau mamah kalo anak yang manja itu lahirannya susah..” Cela mama dina saat itu juga.
Ibelpun mengerjapkan kedua matanya tanpa menyahut kembali ucapan sang mertua.
“Apa hubungannya anak manja sama lahiran susah? Lagian gue juga gak manja manja amat kayaknya deh..” Batin ibel saat itu juga.
“Kamu vitamin yang dari dokter, sudah rutin untuk diminum belum?! Jangan sampe minum vitaminnya malas malasan ya bel. Ingat bayi yang ada didalam kandunganmu itu punya penyakit..” Tanya mama dina kepada ibel.
“Diminum rutin kok mah, ibel juga tau soal itu dan pastinya sebisa mungkin ibel akan berikan yang terbaik untuk bayi ibel..” Sahut ibel yang didengarkan oleh kedua mertua dan juga suaminya.
“Thomas! Mulai besok, kamu temani ibel untuk berolah raga dan jalan sehat setiap paginya.” Perintah ayah Jacky kepada thomas.
“Iyah, yah.” Singkat thomas dengan menganggukkan kepalanya.
“Nanti sore, jangan lupa ikut antar mama kebandara ya thomas..” Ucap mama dina kepada thomas.
“Iyah, mah. Thomas inget kok. Mama mau berapa hari dikampung nenek?! Memangnya mama gak mau lihat cucu mama yah? Kan sebentar lagi ibel mau lahiran..” Sahut thomas dengan menatap mama dina.
“Ya mama pengen lihat cucu mama, cuma kan kamu tahu sendiri nenek disana sedang sakit. Kalo mama gak pulang siapa yang mau merawatnya..” Ucap mama dina dengan memutarkan bola matanya keatas.
“Kan disana masih banyak sodara sodara mah..” Protes thomas kembali.
“Mama gak mau sampe menyesal di kemudian hari bila mama gak bisa menemani nenekmu diakhir hidupnya. Sampe sini kamu faham kan thomas?!” Jelas mama dina dengan lugas.
“Tapi mah, siapa yang mau menemani ibel lahiran?! Kami berdua gak punya pengalaman apapun soal mengurus bayi..” Sangkal thomas dengan menaikkan kedua alisnya.
“Kamu kenapa kebingungan gitu sih thom? Kan disini masih ada ayahmu, masih ada mamanya ibel juga kan? Suruh saja nanti mamanya ibel menginap dirumah kalian untuk menemani kalian mengurus bayi kalian.” Ucap mama dina dengan menghela nafasnya secara pelan.
“Mama ibel kan kerja mah.. kemungkinan hanya bisa kerumahku pas weekend aja gak bakalan bisa setiap hari tinggal dirumah aku.” Sahut ibel kepada mama dina.
__ADS_1
“Sudah sudah hal seperti itu gak perlu diributkan lagi, biarkan mama kalian pulang kerumah nenek kalian. Soal ibel mau lahiran gampang saja, biar ayah yang ngurus semuanya.” Cela ayah Jacky saat itu juga.
“Maksudnya ayah yang mau mengurus bayi aku gitu yah?!” Tanya ibel dengan raut wajah polosnya.
“Ya gak lah! Ayah mana bisa mengurus bayi..” elak ayah Jacky seketika.
“Lah terus?!” Tanya ibel dengan menaikkan kedua alisnya.
“Ya suruh orang saja nanti gampang. Ayah akan bayar orang untuk mengurus bayi kalian dirumah..” Jawab ayah Jacky dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Iya, yah. Thomas setuju kalo gitu.” Seru thomas dengan menganggukkan kepalanya.
“Enak banget mereka berdua yah, mama hanya berpesan jangan sampe membuat kebiasaan buruk memanjakan anak seperti itu. Yang ada mereka malah gak mau belajar hidup susah dan gak mau berusaha sendiri tanpa ketergantungan lagi sama kita.” Ketus mama dina dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Mama ini apa apaan sih, bicara seperti itu jangan langsung didepan anak! Lagipula apa salahnya ayah memberikan yang terbaik untuk anak ayah? Thomas itu satu satunya anak kita mah, ayah punya uang untuk siapa lagi kalo bukan untuk mama dan thomas?!” Gertak ayah Jacky kepada mama dina.
“Maaf, yah. Mama cuma ingin menyampaikan pendapat mama saja tadi. Mama tau kalo thomas anak kita satu-satunya, tapi keadaannya sudah berbeda yah. Thomas ini sudah menikah dan harus punya tanggung jawab sendiri atas keluarganya.. kalo ayah terus terusan berikan fasilitas hidup enak kepada thomas mama yakin thomas akan jadi lakilaki yang gak bisa bertanggung jawab dikemudian hari..” Ungkap mama rina dengan raut wajah piasnya.
“Maksud mama apa bicara seperti itu? Jadi menurut mama thomas ini gak tanggung jawab sama ibel?! Kalo thomas gak tanggung jawab udah pasti thomas gak akan menikah dengan ibel, bisa saja thomas licik dengan tidak mengakui kehamilan ibel ini anak thomas! Tapi nyatanya thomas mengakui ini anak thomas, thomas juga menikah dengan ibel, dan thomas juga sekarang bekerja.. apa itu kurang bertanggung jawab mah!!!” Gertak thomas yang sudah menaikkan rahangnya karena emosi mendengar ucapan sang mama.
“Kalian berdua ini sama saja, gak bisa menerima saran orang lain. Inilah alasan mama pusing jika berada didekat kalian berdua, sekarang terserah saja. Mama tidak akan lagi komen apapun.” Ucap mama dina dengan menghela nafasnya secara kasar.
“Hmm, ya tuhann. Sabar” lirih mama dina dengan menghela nafasnya secara pelan seraya menggelengkan kepalanya.
“Maksud mama bukan seperti itu thomas. Ini demi kebaikan kamu juga, kamu anak lakilaki supaya gak ketergantungan kekayaan orang tuamu saja. Bagaimana jika suatu saat kami meninggal? Apakah kamu bisa hidup sendiri jika sudah terbiasa dimanjakan seperti ini..” Ungkap mama dina dengan nada lembutnya.
“Mama ini gak jelas, bahasnya jadi kemana mana. Ayah kan cuma ngasih solusi aja kalo mama pulang kampung dan gak bisa nemani ibel lahiran, ayah mau bayar orang untuk membantu mengurus bayi aku. Lalu kenapa bahasan mama jadi kemana mana? Dimanjakan, ketergantungan kekayaan dll! Jujur saja mama iri kan?!” Bentak thomas kembali kepada sang mama.
“Yasudah, mulai sekarang mama akan diam saja. Terserah ayah mau perlakukan anak ayah ini gimana, yang penting mama sudah menasehati yang benar. Dan kamu thomas, sudah cukup daridulu kamu seringkali membentak mamamu ini. Mama sudah sakit hati..” Ucap mama dina dengan raut wajah piasnya dan bangkit pergi meninggalkan suami dan juga anak mantunya diruang keluarga tersebut.
Ibel sangat syok melihat kejadian tersebut, tidak menyangka bahwa thomas sangat berani terhadap ibunya.
Hatinya merasa gusar, Disisi lain ia sangat ingin membela mama dina yang maksud ucapannya itu benar namun Disisi lain ia juga takut kepada suami dan juga ayah mertuanya.
Ibel pun hanya bisa terdiam dan tak berusaha ikut campur atas urusan keluarga suaminya tersebut.
__ADS_1
“Dasar aneh!” Ketus thomas saat melihat mama dina pergi meninggalkannya.
“Sudah sudah, biarkan saja. Mamamu memang sudah terbiasa seperti itu.. besok besok kalo kalian mau minta apapun jangan sampe didengar oleh mama takutnya jadi masalah lagi seperti ini. Ayah akan tetap membantu keuangan kalian berdua tapi dibelakang mamamu.” Ucap ayah Jacky kepada anak dan mantunya.
“Iyah, yah. Makasih. Kalo gitu thomas pamit pulang dulu ya yah.. malas disini sama mamah.” Pamit thomas kepada ayah Jacky.
“Iya sudah, hati-hati. Tapi nanti sore jangan lupa antarkan mamamu kebandara supaya gak makin marah dia..” pesan ayah Jacky yang dianggukkan oleh thomas saat itu juga.
“Iyah, yah.” Singkat thomas saat itu juga.
“Ayo kita pulang, bel.” Ajak thomas kepada sang istri.
“Iyah, ayo..” singkat ibel yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
Setelah keduanya berpamitan kepada sang ayah, merekapun melangkahkan kakinya menuju mobil mereka yang berada dilobi rumah orang tuanya itu.
“Ayo bel, cepat naik ke mobil, sepertinya itu ada teman ayah yang datang. Jangan sampe dia melihatmu!” Sergah thomas yang saat itu mentitah tubuh ibel dengan cepat untuk masuk kedalam mobil.
“Iyah-Iyah sabar thomm.” Sahut ibel dengan menggebu-gebu masuk kedalam mobil.
Brughhhh!!
Thomaspun segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah orang tuanya tersebut.
“Nunduk dulu kamu bel.” Perintah thomas yang dianggukkan oleh ibel.
PIP*
Thomaspun mengklakson mobilnya saat melewati mobil teman sang ayah yang baru saja memarkirkan mobilnya didepannya.
“Om!!” Sapa thomas saat itu juga.
“Eh, thom..” sahut pria paruh baya tersebut.
Bvrommmmmm\~\~
__ADS_1
“Huhhhh, hampir saja.” Dengus thomas dan juga ibel secara bersamaan ketika sudah berhasil meninggalkan rumah orang tuanya tersebut.
***