TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 01~Pengganggu


__ADS_3

TAK!..


TAK!..


TAK!..


terdengar suara derap langkah kaki cepat berasal dari sepasang sepatu sniker warna biru, sosok gadis muda berpakaian tomboy, berparas manis dan berambut sebahu itulah pemiliknya.


gadis itu berjalan cepat menuju halaman depan kampus sambil membawa tas ranselnya yang dia sampirkan ke bahu mungilnya, sementara sebelah tangan kirinya memegang buku yang cukup tebal.


dia terus berlari kecil hingga di depan halaman depan kampus hingga akhirnya langkahnya terhenti di ujung tangga semen, matanya yang mirip seperti anak anjing itu melihat seorang wanita cantik memakai dres warna putih sedang duduk di anak tangga sambil bermain ponsel yang tak jauh dari kolam, letak kolam itu berada di tengah-tengah halaman depan kampus.


“Jes!” serunya.


merasa terpanggil, wanita cantik itu pun langsung mendongak. Ia tak bersuara, hanya saja sebelah tangannya sudah melambai ke atas sebagai responnya dan tak lupa dengan senyumannya yang menawan.


Bergegas Gadis berambut sebahu itu pun menghampiri temannya tersebut dan duduk di sampingnya.


“Jes!” panggilnya lagi.


“hm..” sautnya.


“gue mau nanya sama Lo soal semalam!” Wajahnya terlihat serius.


gadis cantik yang di panggil Jes itu mengernyit. “Soal semalam? maksudnya?”


“soal omongan Lo yang semalam, Lo gak serius kan?” tanyanya lagi dengan mata sedikit melebar.


Gadis cantik itu diam Sejenak, kemudian dengan wajah polosnya ia pun bertanya. “omongan gue yang mana ya?”


“Aish.. omongan Lo yang semalam waktu kita vc, masa lupa sih!?”


Nada suara si gadis berambut pendek itu mulai meninggi, dia kesal dengan sifat sahabatnya yang telmi.


‘cakep-cakep kok oon banget, melebihi Dora!’ rutuknya dalam hati.


Gadis cantik itu terdiam sambil berpikir keras, matanya bahkan sampai menatap ke atas namun ia tak mengingat apapun.


“apa ya?” ucapnya sambil garuk-garuk kepala.


BUG!


dengan kesal gadis berambut sebahu itu memukul kepala temannya itu dengan diktat tebalnya yang sangat keras sehingga membuatnya meringis kesakitan, gadis cantik itu mendelik sebal pada gadis itu sambil sebelah tangannya mengusap rambut gelombangnya.


“Ya!! Sakit!” teriaknya.


“Biar tau rasa, lagian Gue nanya serius juga!” cetusnya.


“ya tapi gak usah pake di pukul juga, sakit tau! emang omongan Gue yang mana sih?” balasnya.


gadis berambut sebahu itu mendengus sambil memalingkan wajahnya sekilas lalu kembali menatap wajah temannya.


“semalam kan Lo bahas tentang kepulangan Alya, masa Lo lupa sih?” ujarnya dengan kesal, bisa dilihat di wajah imutnya yang berubah merah bahkan telinganya pun ikut merah.


“oh... soal Alya! Bilang dong dari tadi...”


“Ye.. dari tadi gue juga udah bilang maemunah, Lo nya aja yang telmi!” Ucap gadis berambut sebahu itu sambil menatap wanita cantik di depannya dengan sebal.


“Beneran gak?” Tanyanya lagi.


“iya, bener kok.” lalu kembali menatap layar ponselnya.


mendengar itu seketika wajah gadis berambut pendek itu kembali serius, dia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan temannya itu.


“emang Lo udah pastikan anaknya bakal mau?” Bisiknya.


“gak tau, gue denger ini juga dari mama. Katanya kak Lena nelpon ke mama buat nyuruh orang beresin rumahnya, karena mereka mau pulang.”


gadis itu menghela nafas berat, wajahnya lagi lagi berubah. temannya pun kembali menoleh dan menatapnya heran.


“kenapa? Lo gak seneng kalau dia balik?” tanyanya.


“Ya kali, udah jelaslah Gue senang!” sautnya dengan cepat.


“terus kenapa muka Lo begitu?”


gadis itu kembali menghela nafas sambil kedua tangannya memangku dagunya, ingatannya kembali ke masa lalu. Dimana saat Alya berpamitan padanya untuk pergi meninggalkan jakarta 2 tahun lalu, pada saat itu juga Alya berpesan agar jangan kasih tahu pada siapapun tentang keberadaannya.


“gue cuma khawatir aja, Gue takut kalau dia ada disini, mereka bakal-”


belum sempat ucapannya selesai, temannya sudah memotongnya duluan. dia seakan sudah tahu apa yang akan sahabatnya itu katakan.


“Mereka gak bakal berani berbuat semena-mena sama Alya lagi, Lo tenang aja!” ucapnya menenangkan.


“bukan itu maksud gue!”


“terus apa?”


Gadis berambut sebahu itu diam sejenak, kemudian menggeleng. “gak ada, lupakan aja. terus kapan mereka pulangnya?”


“Lusa...”


gadis berambut sebahu itu mengangguk paham, dia tersenyum cerah. dia senang akhirnya salah satu sahabatnya yang sudah lama tinggal di luar negeri bisa kembali juga ke Jakarta dan mereka akan kembali berkumpul.


gadis berambut sebahu itu bernama Arina Utami, dia adalah sosok wanita tomboy, cerdas, pekerja keras dan jika berbicara suka ceplas-ceplos. arina adalah gadis biasa yang mendapat beasiswa di kampus tersebut.


sementara gadis di sampingnya bernama Jessica Anastasya, sosok gadis cantik, baik, polos dan selalu berpenampilan modis.


berbeda dengan arina yang berasal dari kalangan biasa, Jessica adalah putri bungsu dari keluarga abhyvandya yang terkenal bangsawan.


meskipun dia berasal dari kalangan berada, Jessica tak pernah pilih pilih, baik itu soal pertemanan maupun hal lainnya. selain punya sifat baik dan polos, dia juga friendly pada semua orang sehingga siapapun akan langsung menyukainya, terlebih kaum laki-laki. tapi tak sedikit juga yang membencinya.


...💐💐💐...


waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa pagi yang sejuk kini berubah siang yang panas, tak seperti biasanya suasana kantin kampus hari ini terlihat renggang.


di salah satu meja kantin itu terlihat ada tiga cowok tampan dan populer sedang duduk di kursi masing-masing, dan juga dengan kesibukan masing-masing. Bisa dibilang mereka itu masih berstatus mahasiswa, namun nyatanya secara akademik mereka sudah lulus. Hanya saja mereka masih mau belajar, walaupun tak setiap hari.


sosok pria tampan berwajah lancip, berambut hitam tebal bergaya seperti cowok Korea, matanya sipit dan bibirnya yang tebal berwarna merah alami itu terlihat begitu lahap memakan makanannya. sesekali dia melirik ke dua temannya yang juga sedang sibuk, namun bukan karena makanan tapi karena hal lain.


dia adalah Rangga Hendrick Kusuma, putra kedua dari Nicholas Hendrick Kusuma.

__ADS_1


Rangga menatap wajah kedua sahabatnya bergantian, dan dengan mulut penuh makanan dia pun bertanya.


“gak pada Lo makan pada?” tanyanya, namun hanya keheningan yang dia dapat.


karena tak mendapat jawaban, Rangga kembali menatap kedua sahabatnya yang tak bergeming kemudian menghela nafas. sebenarnya ini sudah hal biasa baginya, setiap dia bertanya selalu tak langsung menjawab tapi entah kenapa dia selalu saja merasa kesal.


‘inilah akibatnya punya dua sahabat yang memiliki sifat seperti kutub Utara, dingin!’ gerutu Rangga dalam hati.


“Woy, Lo berdua! dengerin Gue ngomong gak sih?” serunya.


masih tak ada jawaban.


“Dimas! Kevin!”


SREET!


bagaikan ada sebuah pisau tertancap saat dua pasang mata itu meliriknya.


“bisa diam gak lu?” jawab pria bermata bulat bening itu menjawab dengan nada dingin sedingin es batu, pria itu bernama Kevin.


Kevin Zayn dirgantara, sosok pria tampan berusia 24 tahun, kaya dan populer, namun memiliki mulut tajam. setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu membuat siapa saja tak berkutik, tapi meskipun begitu banyak kaum hawa yang menyukainya dan berusaha menarik perhatiannya. Kevin sendiri adalah putra bungsu dari Setyo Aji dirgantara dan Tamara Zein.


“tau lu berisik banget, makan tinggal makan aja!” kali ini Dimas yang menjawab, pria tampan berkulit eksotis itu menatap Rangga dengan sebal.


Nama aslinya adalah Adimas argadinata, tapi biasa di panggil Dimas. Sosok pria tampan asli keturunan Indonesia ini juga sifatnya tak jauh dari Kevin, hanya bedanya Dimas masih bisa bersikap santai dan tak tegaan. Dimas sendiri adalah putra sulung dari Alexander argadinata dan Sekar Arum.


“gue kan cuma nanya, kalian gak pada lapar apa?”


GAK!!


Rangga memutar bola matanya malas kala mendengar ucapan mereka.


“Kompak bener dah kalian, kayak lagi paduan suara.” Gerutunya. “ikutan makan dong biar gue ada temannya. gak enak tau makan sendiri itu.” Sambungnya.


hening~~


Kevin dan Dimas kembali bungkam dan kembali sibuk dengan dunianya, sedangkan Rangga hanya bisa menghela nafas dan lebih memilih kembali melanjutkan makannya.


Drrrttt.. Drrrttt..


tak lama kemudian terdengar suara getaran ponsel yang ternyata berasal dari saku jaket milik Kevin, dengan malas pria itu merogoh saku jaketnya dan meraih benda pipih itu. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat nama kontak yang ada di layar ponselnya.


“Ck!”


BRUK!


Kevin berdecak kesal lalu meletakkan ponselnya ke atas meja sedikit keras sehingga menyimbulkan bunyi, dan hal itu membuat atensi kedua sahabatnya beralih ke benda tersebut.


“siapa Vin, kok gak di angkat?” tanya Rangga penasaran.


“pengganggu!” ucap Kevin ketus sambil sebelah tangannya membuka kasar lembaran buku dan juga dengan perasaan kesal.


Rangga yang melihat reaksi kevin mengernyit, dia begitu penasaran siapa yang menelpon Kevin sehingga membuat pria itu terlihat kesal, dia pun memajukan wajahnya sedikit dan melirik ke benda pipih itu yang masih menyala, bibirnya yang tebal berwarna merah alami itu terkatup rapat begitu sudah tau penyebabnya.


“angkat aja dulu, siapa tau penting.” katanya memberi saran.


“Males! Palingan juga dia mau bahas soal perjodohan konyol itu!” saut Kevin yang masih dengan nada ketus.


sementara Dimas terlihat tak perduli dan kembali sibuk dengan gamenya.


Namun tak lama setelahnya Kevin beranjak dari duduknya, memasukkan bukunya ke dalam tas lalu meraih ponselnya yang sudah mati dan beranjak Pergi.


“mau kemana Lo?!” teriak Rangga.


“Perpustakaan! Disini berisik.” jawabnya sambil terus berjalan. Rangga hanya terdiam sambil memandangnya begitu pula dengan Dimas yang kini sudah berhenti bermain game.


“berisik apaan, orang disini sepi.” lirih Rangga seraya melirik kanan kiri.


BRAK!


"EH AYAM MELAHIRKAN!" latah Rangga dengan suara nyaring dan kedua tangannya spontan terangkat, setelah Dimas tiba-tiba menggebrak meja.


Begitu sadar, Rangga langsung menatap jengkel wajah Dimas yang datar tanpa dosa.


“ck! Lo apa-apaan sih dim, main gebrak-gebrak meja segala, bikin gue kaget aja! Kalau gue mati karena serangan jantung gimana coba?” protesnya sambil mengelus dada.


Dimas mengangkat bahunya acuh. “kalau mati ya tinggal di kubur, gitu aja kok repot!”


“enak aja kalau ngomong! Gue belum mau mati sebelum nikah, Lo aja sana!” cetus Rangga tak terima.


“ck! banyak omong Lo, gara-gara bacot Lo jadinya Kevin pergi kan!” Balas dimas menuduh Rangga.


“lah kok Gue? Udah jelas-jelas tadi dia pergi setelah dapat telpon!” Rangga menatap kesal Dimas.


Dimas memutar bola matanya malas sambil bersedekap dada.


“udahlah cepetan makannya, lelet banget kayak siput. Kalah Lo sama itik!” cetusnya.


Rangga tak langsung menjawab, pria itu masih menatap wajah Dimas dengan perasaan jengkel.


‘tadi nyalahin, sekarang ngatain. kalau bukan sahabat sendiri, udah gue suruh mba Kunti buat perkosa Lo biar tau rasa!’ batinnya.


“iya-iya, Sabar..”


...💐💐💐...


sementara itu di negara yang berbeda terlihat dua manusia berbeda kelamin sedang duduk di sebuah cafe yang berada di pusat kota yang terkenal dengan tempatnya para oppa dan idol.


“apa kamu yakin?” tanyanya pada gadis cantik memakai masker dan syal warna biru yang kini duduk depannya, mata sipitnya menatap wanita itu serius.


“iya.. aku udah gak bisa nahan diri lagi.” jawab wanita itu dengan suara pelan.


“terus dianya mau gak?” tanyanya lagi dengan ekspresi wajah yang sama.


wanita itu menghela nafas. “sebenarnya.. aku belum bilang ke dia dan kamu juga pasti tau kan apa alasannya?”


pria itu mengangguk. “iya aku tau, terus kenapa kamu tetap mau melakukannya?”


“aku gak mungkin meninggalkannya sendirian disini, meskipun ada kamu, paman dan bibi tapi itu tak menjamin dia akan aman. Para media pasti akan menemukannya.”


“tapi tinggal disana juga kurang baik, kamu tidak lupa kan dengan wasiat papamu dulu?”

__ADS_1


“tapi itu kejadiannya udah lama berlalu, mereka pasti sudah lupa dengan wajah kami. rasanya tak mungkin jika mereka mengenali kami.”


pria itu diam sejenak. “benar juga sih, mereka juga sepertinya sudah lupa dengan umma dan appa. Buktinya sampai sekarang tak ada kabar apapun soal mereka.”


“aku sangat berharap mereka bisa melupakan kami, dan menganggap kami sudah mati. meski itu mustahil, karena mereka pasti akan Langsung mengenali Alya yang mirip banget sama mama. Aku sangat takut jika itu terjadi, mereka akan menjauhkanku darinya.”


“kamu jangan bilang begitu, aku yakin banget keluarga paman ferdi sudah melupakan kalian. Bukankah itu yang mereka inginkan?”


“aku pun sangat berharap seperti itu, tapi ikatan darah tak pernah terputus. Aku hanya takut jika Alya mengetahui rahasia ini, dia akan membenciku.”


“kamu itu ngomong apa sih, gak mungkinlah Alya begitu. Aku bisa menilai Alya itu sangat menyayangimu, sama seperti kami.”


“tapi dia kan belum--”


“sudah, sudah jangan di bahas lagi, jadi kamu tetap mau pergi ke Jakarta nih?”


“iya.”


“kalau adikmu gak mau gimana?”


“aku akan berusaha membujuknya!”


Jeda sejenak.


“saat ini situasinya sangat berbahaya jika dia tetap ada disini, aku takutnya mereka mencari informasiku lebih dalam lagi dan menemukan Alya.”


“tapi kan ini gak ada hubungannya sama masalahmu? sekalipun dia ketahuan pasti hanya akan di minta di interogasi sama media. Kalau kamu nekad membawanya, itu artinya kamu harus siap menjawab semua pertanyaannya.”


“itulah masalahnya, aku gak mau hidup alya akan terganggu hanya karena masalahku.. jadi sebelum mereka benar-benar tahu aku harus segera menyembunyikannya. Dan aku juga sudah siap jika nanti dia bertanya.”


Mendengar hal itu pria itu menghela nafas panjang.


“Oke aku paham dan aku juga gak menjamin bisa menjaga Alya dengan baik, lalu.. karirmu disini bagaimana?”


“aku sudah mengajukan cuti untuk beberapa bulan ke depan sama bu hani dan untungnya beliau menyetujuinya tanpa rasa curiga.”


pria itu tersenyum tipis sehingga memperlihatkan lesung pipinya di kedua pipinya.


“baiklah, kalian hati-hatilah disana. Kabari aku langsung jika terjadi sesuatu.”


Wanita itu meresponnya dengan anggukan sambil tersenyum tipis.


...💐💐💐...


waktu sudah menunjukkan pukul jam 5 sore, suasana kampus juga sudah mulai sepi namun Kevin masih saja berada di perpustakaan menyibukkan diri dengan buku-buku.


suara ponselnya tak henti-hentinya berdering namun pria itu tak pernah meresponnya, dia hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada bukunya. untungnya disana dia hanya sendirian sehingga tak membuat orang lain merasa terganggu.


‘kenapa sih pada ganggu gue Mulu!’ gerutunya dalam hati.


kevin merasa kesal karena notifikasi yang terus-menerus mengganggunya menuntutnya untuk di balas.


dia menghela nafas panjang sambil matanya terpejam begitu ponselnya kembali berdering, dengan terpaksa dia pun menerima panggilan itu agar si penelpon berhenti mengganggunya.


“apaan sih Lo ganggu Gue mulu! gak tau apa kalau Gue lagi sibuk!” ucapnya dengan penuh emosi.


[heh! sopan dikit kalau ngomong sama yang lebih tua!]


terdengar suara di seberang sana yang juga sama-sama emosi.


“Lo ganggu Gue mulu!”


[benar-benar Lo ya gak ada lembut-lembutnya ngomong sama kakak sendiri, di ajarin sama siapa sih hah!]


“CK, udahlah gak usah basa-basi, to the poin aja.”


Terdengar helaan nafas di seberang sana, sebelum akhirnya kembali berbicara.


[oke Gue bakal ngomong ke intinya, Gue telpon Lo karena ada hal penting dan Gue harap bisa melakukannya.]


“apaan!”


[Gue minta Lo balik dulu ke Busan, ada yang harus gue omongin dan ini.. PENTING!]


“ngapain sih? Gue gak mau!”


[ini perintah vin!]


Kevin memutar bola matanya malas. “bodo amat, Gue gak perduli!”


[Ayolah Vin, ini demi kesembuhan kakek juga.]


Kevin mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. jika sudah menyangkut soal kakeknya dia tak bisa menolak.


“kenapa lagi.” kini nada suaranya terdengar lembut.


[Gue mau Lo lanjutin perjodohan ini.]


‘udah gue duga sebelumnya, si tua Bangka itu pasti tak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai. brengsek!’


“keputusan Gue tetap sama! gue menolaknya!”


[Lo gak bisa ngubah seenaknya, semuanya sudah di atur! kalau Lo gak mau, kenapa saat mau lamaran Lo bilang setuju?]


Mendengar itu Kevin tertawa sinis, sumpah demi apapun dia sudah muak dengan drama yang sedang keluarganya mainkan. Hanya demi keuntungan, mereka sampai tega mengorbankan kehidupan dirinya dan sang kakek.


“Lo tau kan alasan terbesar gue nerima perjodohan ini karena siapa? Hah, karena siapa?” Sarkas Kevin. “Asal Lo tau aja kenapa gue tiba-tiba mundur dari perjodohan sialan ini ya karena si tua Bangka itu, dan gue juga tahu Lo udah tahu semuanya! Iya kan?” lanjutnya.


[iya, tapi-]


“memang bangsat kalian semua! udah pokoknya Gak ada tapi-tapian, selama dia masih menolak bantuan dari om haris maka keputusan Gue pun tetap sama! Dan .. sepertinya kakek juga bakal setuju sama keputusan gue ini, jadi apapun yang terjadi ke depannya tanggung sendiri!”


BIP!


panggilan pun berakhir, Kevin langsung memutuskannya secara sepihak.


'Arrght.. sialan! bangsat!' maki Kevin dalam hatinya, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi di dada.


Jika mengingat soal rencana perjodohan itu Kevin memang selalu emosi, terlebih kakeknya dijadikan tumbal agar dirinya bisa setuju. Hidupnya semakin runyam saat kondisi perusahaan kakeknya sedang dalam masalah keuangan, dan karena itu rencana pernikahannya dengan wanita pilihan papanya yang harusnya di laksanakan sebulan lagi, langsung di majukan seminggu lagi.


Sebenarnya masalah itu sangat mudah di atasi, pamannya yang berada di Inggris dan kakak keduanya siap membantu. Namun dengan sombongnya papanya itu menolak, dengan alasan calon besannya sudah membantunya.

__ADS_1


Entahlah itu benar atau tidak, tapi yang jelas dia tak akan menuruti apapun keinginan papa-nya itu.


__ADS_2