
Aiden ingin melangkah masuk lift tapi kakinya tertahan, matanya melirik ke arah Alya yang tak bergerak.
“Ada apa, kok berhenti?” Tanyanya dengan kening berkerut.
Mendengar itu Alya langsung tersadar, Dia menggeleng ragu kemudian kembali berjalan dan masuk lift. Jantungnya berdebar kencang saat berdiri tepat di samping kevin, namun masih memberi jarak. Kedua matanya seketika terpejam saat Hidungnya mencium aroma maskulin milik pria itu, pria yang selama ini dia rindukan.
Yah.. saat ini Kevin memang sedang berada di lift itu bersama Mayra, dan karena pria itu pula membuat langkah alya sempat berhenti.
sementara kevin, seperti biasa. pria itu selalu cuek terhadap sekitar, sehingga tidak menyadari tentang keberadaan alya disana. Pandangannya lurus ke depan, dengan Wajah kaku dan ada kerutan samar di keningnya.
Ting!
Selang beberapa menit kemudian Pintu lift terbuka dan nampaklah beberapa orang masuk sehingga lift itu penuh, bahkan tubuh Alya yang kecil terhimpit oleh tubuh orang-orang tersebut. Aiden yang peka, dengan sigap memegang bahu gadis itu dan menyeretnya untuk berdiri di depannya.
Tak lama setelahnya pintu lift kembali tertutup.
“Are you alright?” Bisik Aiden, sambil sedikit menunduk.
Alya menoleh ke belakang, kemudian mengangguk tanpa bersuara. Lalu pandangannya melirik sekilas ke arah Kevin berdiri, dan pria itu masih belum menyadari keberadaannya. Sudut hatinya terasa berdenyut saat betapa mesranya mayra menempeli Kevin, bahkan dari raut wajahnya pun terlihat amat bahagia.
Meski saat ini Alya melihat Kevin hanya diam saja, bahkan terkesan kaku. Namun dalam pikirannya beranggapan jika itu hanya sementara karena saat ini mereka berada di tempat umum, mungkin jika sedang berduaan saja mereka akan bermesraan.
Kendati begitu Alya merasa beruntung, karena dengan begini ia takkan ketahuan. Namun sayangnya itu tak bertahan lama, Gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan sedikit menurunkan topinya, saat menyadari tatapan Kevin beralih padanya.
Detakan jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya mendadak gemetaran. ia sangat takut Kevin akan menyadari keberadaannya disana, begitu pun dengan Mayra. Sebenarnya tak masalah juga sih jika mereka tahu, hanya saja Alya sudah tidak ingin berurusan apapun dengan mereka berdua.
Ting!
Alya menghela nafas lega saat mendengar suara itu, pertanda jika sebentar lagi pintu lift akan terbuka. Dan yang lebih membuatnya lega adalah, Kevin masih bertingkah biasa.
Sedetik kemudian pintu lift kembali terbuka, satu persatu orang yang ada di lift itu pun keluar. begitu pula dengan dua pasangan itu, namun dengan arah yang berbeda. Alya dan Aiden berbelok ke sisi kiri, sementara kevin dan Mayra belok ke sisi kanan menuju aula hotel. Tempat dimana nantinya pesta pernikahannya akan diselenggarakan.
Ah, rasanya dia ingin sekali mencekik wanita itu sampai mati agar pernikahan ini tak akan pernah terjadi.
Setelah mereka selesai fitting baju pengantin di butik milik Tante Sekar, Mayra mengajak Kevin pergi ke hotel untuk mengecek persiapan pernikahan mereka. Awalnya Kevin menolak bahkan kembali mengancamnya, namun gadis itu tetap memaksanya hingga berujung pertengkaran.
Saat Kevin ingin meninggalkannya, Mayra malah mengatakan jika dia akan melaporkan hal ini pada papanya dan hal itu membuat Kevin tak berdaya dan berakhirlah dia disini. Di sebuah hotel mewah milik salah satu keluarga sahabatnya, Rangga.
Kevin bukannya takut dengan ancaman Mayra, sungguh dia tidak perduli jika papanya marah ataupun akan memukulinya. Tapi yang dia pikirkan adalah soal kakeknya, karena jujur Kevin menerima perjodohan ini semata-mata demi sang kakek.
Kevin dan mayra memasuki ke sebuah aula yang bernuansa putih pink itu sudah di dekorasi sedemikian rupa. Terlihat sudah ada beberapa meja bundar beralas kain putih, di atasnya ada karangan bunga mawar merah yang sudah di tata rapi dengan vas kaca. kursi putih singgasana sang pengantin pun sudah ditata dengan sempurna. Di sebelah sudut kanan terdapat ada meja panjang yang nantinya untuk dijadikan tempat makanan dan minuman.
Semua persiapan pernikahan itu dari mulai konsep, katering, souvernir dan surat undangan nyonya Desti-ibunya Mayra yang merancangnya tapi biayanya dari keluarga Kevin. Keluarga Mayra tak mengeluarkan uang sepeserpun. Hanya saja untuk gaun pengantin Mayra yang pilih, Sementara Kevin hanya bisa menerima saja.
Uh, ingin sekali dia mengamuk disini dan menghancurkan semuanya jika dia tak ingat dengan ancaman papanya tempo hari.
‘jangan pernah ada pikiran untuk lari dari pernikahan ini, jika kamu nekad maka itu sama saja kamu membunuh kakekmu secara perlahan.’
Itulah ancaman yang selalu Aji lontarkan setiap kevin menolak menikah dengan Mayra, Aji memanfaatkan Fandy karena dia tahu Kevin akan nurut jika membawa-bawa nama kakeknya.
Padahal Fandy sendiri juga kurang setuju cucu bungsunya menikah di usia muda, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena jika pernikahan ini batal maka nama perusahaannya yang akan menjadi taruhannya.
Pernikahan ini adalah Pernikahan bisnis, Tuan Ryan adalah salah satu investor terbesar di Zeous Grup. Perusahaan itu di bangun oleh Fandy dari nol, dari yang belum punya apa-apa menjadi besar dan punya puluhan anak cabang di seluruh asia.
Pada saat ini perusahaan itu sedang mengalami krisis keuangan, bahkan pihak bank pun sudah tak sanggup lagi untuk memberikan pinjaman.
Mendengar kabar itu tuan Ryan yang pada saat itu memang sedang mengincar perusahaan itu pun tak mau tinggal diam, perlahan-lahan dia berencana akan mengambil alih perusahaan dengan cara menjodohkan anaknya dengan salah satu anak aji.
Bagaikan mendapat doorprize besar, ternyata putri satu-satunya menyukai salah satu putra aji yaitu Kevin, Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mengetahui kekayaan yang Kevin miliki yang ternyata lebih unggul dari kedua kakaknya.
Kevin adalah satu-satunya anak yang akan mewarisi perusahaan keluarga Tamara yang terkenal miliarder, banyak perusahaan besar yang bekerjasama dengan perusahaan itu dan berakhir sukses. jika anaknya bisa menikah dengannya, maka bisa dipastikan dia akan kecipratan warisan dari keluarga Tamara.
Mulai dari situlah dia semakin semangat dengan perjodohan ini, namun siapa sangka ternyata Kevin langsung menolaknya mentah-mentah. Tapi itu tak bertahan lama, Kevin langsung menyetujuinya setelah mengetahui kondisi fisik Fandy yang memburuk karena terlalu berat memikirkan nasib perusahaannya.
Mendengar itu tuan Ryan merasa sangat senang, terlebih mayra yang memang sejak dulu sudah memendam rasa terhadap kevin.
Namun di balik itu ada rencana jahat lain yang tuan Ryan rencanakan, dia bersedia membantu asal rencana pernikahan Kevin dan Mayra di percepat dan dia juga meminta separuh saham perusahaan itu untuk di berikan kepada Mayra.
Dan.. untuk kesekian kalinya keinginannya itu harus gagal karena Kevin lagi-lagi menolaknya, bahkan pria itu dengan nekad membatalkan perjodohan ini.
sedikit cerita, Mayra sudah menyukai Kevin sejak jaman SMP namun cintanya tak pernah terbalaskan. Tapi hal itu tak membuatnya menyerah, dia tetap gigih mengejar pria itu.
__ADS_1
Hingga saat SMA beredar kabar Kevin berpacaran dengan adik kelasnya yang bernama Alya, sosok gadis miskin yatim piatu yang selalu berpenampilan sederhana. Mereka berpacaran sejak kevin kelas 3, sedangkan alya pada saat itu masih kelas 1.
2 tahun setelah menjadi mahasiswa, kevin memutuskan untuk pindah kuliah ke inggris dan mereka menjalin hubungan jarak jauh. setahun setelahnya hubungan mereka di kabarkan kandas, karena Alya diketahui selingkuh dengan Dylan.
mendengar berita ini membuat mayra senang, dia seakan punya kesempatan untuk bisa mendekati kevin lagi dan membuatnya menjadi miliknya.
mayra pun memutuskan untuk menyusulnya ke inggris dan kuliah disana agar bisa meneruskan rencananya. namun rencananya tak selalu berjalan mulus, karena Kevin susah untuk di dekati sama seperti dulu, selalu Cuek. Tapi kali ini bukan hanya cuek, tapi dia juga berubah menjadi dingin dan tak tersentuh.
...💐💐💐...
Sementara itu di ruangan lain, Alya sedang menenangkan Selena yang sedang menangis tersedu-sedu di atas ranjang king size. Penampilan wanita itu yang biasanya terlihat cantik dan anggun kini terlihat sangat mengenaskan.
Rambut panjangnya acak-acakan, pakaiannya terlihat lusuh dan di bagian lengan kirinya sobek, kedua pipi mulusnya pun terlihat memerah dan menampakkan jejak tangan disana.
Alya yang melihat penampilan kakaknya tentu saja terkejut, sama halnya dengan Aiden. Namun Pria itu hanya diam, berdiri di tengah ruangan sambil matanya melihat Alya yang tengah menenangkan Selena.
“Apa yang udah terjadi kak? Kenapa bisa begini?” Tanya Alya setelah Selena memberhentikan tangisannya, matanya sembab dan memerah.
Alya penasaran siapa yang membuat kakaknya menangis seperti ini dan dia juga penasaran apa yang sudah terjadi karena begitu dia masuk, kamar itu sudah terlihat berantakan seperti ada orang habis ngamuk.
Selena diam sejenak, sambil menatap wajah Alya. “Tadi Chandra kesini.” Lirihnya.
Alya mengernyit. “Chandra?” Kemudian matanya membola. “Jangan bilang Kakak masih berhubungan sama dia?” tebaknya setengah berteriak.
Selena kembali diam, kemudian Mengangguk. “Maafin kakak dek.” sesalnya.
“Ya ampun kak! Aku kan udah sering bilang. jauhi dia! dia itu udah punya istri dan anak!” seru Alya, matanya melotot marah.
Ini bukan pertama kalinya Alya mendengar kakaknya bertemu dengan Chandra secara diam-diam, tapi sudah sering. Tak terhitung lagi berapa kali dia mengingatkan Selena untuk memutuskan hubungannya dengan pria yang sudah menikah itu, tapi Selena tak pernah mendengarnya. Alasannya karena mereka berdua masih saling cinta.
“Al, tenangin diri kamu.” Aiden mencoba menenangkan Alya yang terlihat emosi.
Alya menghela nafas kasar. “Untuk apa lagi kalian bertemu? dan juga kenapa harus di hotel? Kakak tahu, dibawah sana udah ada banyak wartawan! Kalau mereka tahu tentang kejadian ini, karir kakak bakal hancur!” sentaknya.
“Maafin kakak dek, kakak juga gak tahu akhirnya bakal begini. Kakak pikir semuanya akan baik-baik aja, dan gak bakal ketahuan tapi ternyata Renata datang dan melabrak kakak.”
“Renata?” ulang Alya, seraya kerutan di keningnya semakin dalam.
Selena mengangguk.
Selena kembali Mengangguk.
“wajar saja kalau renata marah dan menampar kakak, suaminya ketemuan dengan wanita lain, mana di hotel pula. hati istri mana yang tak panas mengetahui ini!”
“Tapi Kakak temui dia juga karena terpaksa, kakak hanya ingin minta pertanggung jawaban dia!” seru Selena membela diri.
Alya yang mendengar itu menyipitkan matanya. “Maksud kakak?” tanyanya.
Selena diam sejenak, ia menatap Alya dan Aiden bergantian. “maaf dek, Ka-kakak hamil anaknya Chandra!”
DEG!
Alya tercengang mendengarnya, begitu pun dengan Aiden.
“Apa!! Ha--hamil?”
“Iya, usianya Udah memasuki 3 bulan.”
“ya tuhan..” lirih Alya dan Aiden bersamaan, sementara Selena menunduk.
...💐💐💐...
Alya dan Aiden nampak keluar dari kamar hotel, dan kini mereka berdiri di depan pintu.
“Thanks kak udah anterin aku kesini, dan.. maaf soal kejadian tadi.” Ucap Alya.
“Gak masalah.” Sahut Aiden sambil tersenyum.
“Tolong jangan bilang apa-apa dulu kejadian ini ke Jessica atau ke siapapun.” Pinta Alya, wajahnya terlihat memelas.
Aiden mengangguk. “Tentu! Aku gak akan bilang apa-apa. tapi.. bagaimana soal Selena dan kandungannya? Kamu dengar sendiri kan kandungannya sudah memasuki bulan ketiga dan menurut sepengetahuanku akan sulit jika harus di aborsi karena sudah menjadi nyawa.”
__ADS_1
Alya yang mendengar itu hanya diam, wajahnya terlihat sendu atau mungkin prustasi? Entahlah, hanya dirinya sendiri yang tahu.
Selena bukan hanya mengaku sedang hamil tapi dia juga mengatakan akan melakukan aborsi dan itu juga atas keinginan Chandra dan Renata, wanita itu tidak ingin publik tahu jika suaminya memiliki anak dari wanita lain.
Awalnya Selena menolak dan sempat memaki sepasang suami istri itu, namun apa daya. Jika dia mempertahankannya karirnya sebagai publik figur yang selama ini dia impikan akan hancur dalam sekejap, Alhasil dengan perasaan hancur dia pun menyetujuinya.
Jika pun bisa memilih, Selena tak mau kenekadannya untuk menjalin asmara kembali bersama Chandra berakhir seperti ini. Tapi.. apakah dia bisa mengontrol hatinya sendiri? Jelas tidak!
Mau sebesar apapun usahanya untuk menjauh, jika Chandra sendiri yang terus mendekatinya mana sanggup ia melawannya. Karena memang pada dasarnya di lubuk hatinya paling dalam, rasa cinta terhadap pria itu masih ada dan sangat besar. Jadi rasanya akan sulit melupakan semua kenangan yang sudah terjalin selama 5 tahun.
“Entahlah, aku bingung harus gimana.” balas Alya.
Hening sejenak.
“Sebaiknya pikirkan dulu baik-baik, musyawarahkan dengan keluarga gimana baiknya. aku gak akan membela siapapun tapi pikirkan juga anak itu, dia tak bersalah.”
Alya kembali diam.
“Ya udah aku pamit yah, kalian disini aja dulu. Sepertinya wartawan itu masih ada di bawah, kalau ada apa-apa kabarin aku.” Pamit Aiden sambil sebelah tangannya mengusap puncak kepala Alya.
Alya mengangguk. “Sekali lagi makasih kak.”
Aiden tak bersuara, pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berlalu pergi.
Alya masih berdiri di ambang pintu sambil menatap ke kepergian Aiden hingga pria itu masuk lift, barulah dia kembali masuk kamar.
Sementara itu di dalam lift,Aiden tengah menelpon seseorang.
“Halo bro, Lo dimana?”
[Hm, gue lagi ada di hendricks hotel.]
“hah! Sama dong.” kagetnya, tak menyangka orang yang ia telpon ternyata berada di satu tempat yang sama.
[Oh ya? Ngapain? Tumben main ke hotel? Oh.. atau jangan-jangan Lo lagi main sama cewek ya?]
“Enak aja kalo ngomong! Gue tadi abis anterin temannya adik gue.”
Terdengar kekehan di seberang sana.
[Siapa tau aja Lo lagi iseng.]
“CK! Iseng kok sama cewek, Enggaklah! Bisa abis gue di gorok bokap. Oh iya Lo lagi nganggur gak? Gue pengen ngomong sesuatu sama Lo, sekalian minta bantuan.”
[Kedengarannya serius nih, tapi sorry nih gue lagi sama nenek lampir.]
Aiden yang mendengar kata terakhir orang itu pun diam sejenak sambil berpikir, hingga akhirnya dia sadar dan berakhir terkekeh.
[Jangan ketawa Lo! Emang mau ngomongin apa sih?]
“Masalah serius pokoknya, ya udah gini aja gue tunggu Lo di tempat biasa. Nanti Lo kabarin aja.”
[Ya udah, palingan sejaman lagi gue balik.]
“Gak usah buru-buru, nikmatin aja waktu Lo sama si NENEK LAMPIR itu.”
Aiden sengaja menekan kata 'nenek lampir' untuk menggodanya.
Seseorang di seberang sana mendengus kesal saat mendengar ucapan Aiden.
[Sialan Lo!]
“Hahaha.. Oke, gue matiin ya.”
[Hm..]
Setelah itu panggilan berakhir, Aiden menyimpan ponsel pintarnya ke saku jaketnya.
TING!
selang beberapa saat pintu lift terbuka di lantai dasar, dengan segera Aiden keluar dan berjalan keluar hotel menuju mobilnya. Dia memperhatikan halaman parkir hotel tersebut dan benar dugaannya, para wartawan itu masih ada Disana namun tak serame waktu dia dan Alya datang.
__ADS_1
Waktu dia hampir mendekati letak mobilnya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat telinganya mendengar seorang wanita yang tengah berbicara dengan para wartawan.
“sialan, ternyata dia biang keroknya!” desis Aiden, matanya menatap wanita itu dengan tajam.