
Katanya menangis adalah cara terbaik untuk mengungkapkan kesedihan..
Katanya berteriak adalah cara terbaik untuk menenangkan kemarahan..
Katanya melempar dan memukul barang adalah cara terbaik untuk meluapkan kekesalan..
Dan.. semua kata-kata itu adalah benar, meskipun itu hanya bersifat sementara, setidaknya hati merasa sedikit lega.
Mayra Adelia Herlambang.. nama yang sangat cantik bukan? Tentu! Sesuai dengan parasnya. sosok gadis cantik berusia 24 tahun, memliki postur tubuh tinggi ideal dan berkulit kuning Langsat, yang biasanya selalu berpenampilan rapi dan modis, sekarang sudah tiada lagi. Kini penampilannya hampir mirip seperti vampir, wajahnya pucat Pasih dan ada lingkaran hitam dibawah matanya. Entah sudah berapa lama dia terjaga, sehingga membuat wajahnya begitu memperhatinkan.
Rambut panjang warna coklat yang selalu terlihat rapi, kini sangat kusut dan lepek.
Tuan Ryan dan nyonya Desti sebagai orang tuanya sangat sedih, melihat anak semata wayang mereka begitu terpuruk setelah gagal menikah dengan Kevin. Sosok pria yang selama ini putri mereka cintai, hanya karena dirinya melakukan satu kesalahan.
Kesalahan?
Jujur saja, nyonya Desti dan tuan Ryan sampai saat ini belum tahu pasti apa penyebab Kevin nekad membatalkan pernikahannya dengan Mayra dan lebih memilih menikahi wanita lain, Padahal tuan Ryan tentu tahu kelemahan pria itu adalah perusahaan kakeknya.
apakah mungkin pria itu meminta bantuan pada neneknya untuk mengatasi ini semua?
Sepertinya begitu.
Mereka berdua sudah berusaha menanyakan alasan itu pada Mayra, ingin tahu apa penyebabnya. namun Mayra selalu mengatakan tak tahu, dan berakhir menyalahi Alya karena sudah merebut Kevin darinya.
Mana mungkin dia mengaku pada orang tuanya jika Kevin sudah mengetahui kalau dirinya sudah pernah tidur dengan pria lain, bisa di bunuh dia sama ayahnya.
Nyonya Desti masuk ke kamar Mayra dengan membawa nampan berisi satu piring nasi beserta lauk pauk dan segelas air putih, Wanita paruh baya itu jalan mendekat ke ranjang dimana Mayra berada, lalu duduk di sisi ranjang.
“Sayang, makan dulu yuk?” Ajaknya.
Mayra menggeleng tanpa bersuara, wanita itu duduk di tengah kasur dengan tatapan kosong menghadap jendela.
“Dari semalam kamu belum makan apa-apa loh sayang, emangnya gak lapar?” Tanyanya.
Lagi-lagi Mayra hanya menggeleng.
Nyonya Desti mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, hatinya hancur melihat putrinya terpuruk seperti ini hanya karena laki-laki. Namun nyonya Desti juga tak bisa menyalahkan Kevin sepenuhnya, dirinya tahu sejak awal pria itu memang sudah menolak perjodohan ini. Tapi Aji dan suaminya tetap saja melanjutkannya.
Sejak kepulangannya dari pesta, Mayra memang tak keluar kamar lagi. Dia mengurung diri dikamar sambil terus menangis, bahkan sesekali dia berteriak sambil melempar barang-barang yang ada di kamarnya. Dia prustasi karena sudah kalah telak dari Alya, gadis miskin yang sejak dulu sudah menjadi rivalnya.
“Ayo sayang, makan. Dikit aja, mama suapi ya?” Nyonya Desti kembali bersuara, sebelah tangannya sudah memegang sendok yang sudah ada nasi dan sepotong daging ayam di atasnya sudah siap mengarah ke mulut Mayra.
Namun wanita itu malah melengos dengan sebelah tangannya menepis kasar benda itu hingga akhirnya jatuh berserakan di lantai.
“Aku gak mau ma, aku gak mau makan.” Tolak Mayra lirih.
“Lalu kamu mau apa sayang? Bilang sama mama, nanti mama akan buatkan.”
“Aku mau Kevin ada disini ma.” Suara wanita itu terdengar bergetar.
Mendengar itu nyonya Desti diam seribu bahasa, mana mungkin Kevin mau kesini setelah kemarin dirinya dan sang suami menghina istrinya.
“Sayang tolong jangan begini, mama sedih lihat kamu seperti ini.”
Tak ada sahutan dari sang anak, wanita itu tetap diam dengan wajahnya yang semakin pucat. Namun bola mata itu mulai berair dan tak butuh waktu lama, air hangat itu keluar membasahi pipinya.
“Iklhaskan Kevin nak, maka hatimu juga akan tenang. kamu masih bisa dapat laki-laki lain yang jauh lebih baik darinya.” Ucap nyonya Desti seraya menghapus air mata Mayra.
Mendengar itu Mayra langsung menoleh ke arah mama-nya dengan tatapan tajam. “Aku maunya sama Kevin ma, gak mau sama yang lain!” Serunya.
“Tapi Kevin gak pernah mencintaimu nak, belajarlah lupakan dia dan bukalah hatimu untuk pria lain.”
Mayra menggeleng kuat sambil air matanya kembali menetes.
“Aku hanya cinta sama Kevin ma.. tolong aku, bujuk dia buat bisa nikahin aku! Aku gak bisa hidup tanpanya ma..” pinta Mayra mengiba.
Nyonya Desti yang melihat itu pun tak bisa menahan air matanya, hatinya sebagai ibu hancur begitu melihat kepedihan putrinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin memaksa pria itu untuk menikahi Mayra juga.
“Itu tak mungkin terjadi sayang, kamu pasti tahu sifatnya seperti apa kan?”
“Tapi aku sangat mencintainya ma..”
“Iya mama tahu tapi perlu di ingat juga, perasaan itu tak bisa dipaksakan. Percuma saja jika nanti dia menikahimu, tapi hati dan pikirannya masih pada wanita lain.”
“Aku tak perduli, aku tetap mau sama Kevin. Titik!” Teriak Mayra.
“Sayang..”
“Gak mau gak mau.. aku pokoknya mau sama Kevin! Aarrrght!” Kini wanita itu berteriak histeris, membuat nyonya Desti gelagapan.
“Mayra sayang tenanglah..” ucap nyonya Desti berusaha menenangkan Mayra, namun gagal.
“Aaarrgghh!!..”
Mayra mengamuk, dia melempar bantal dan selimut sambil terus berteriak, sesekali mencambak rambutnya sendiri. Lalu berakhir menangis tersedu-sedu.
Tuan Ryan yang kala itu sedang berada diruang kerja mendengar suara ribut langsung berlalu keluar dan mencari asal suara, Begitu tahu suara itu berasal dari kamar anaknya pria itu segera berlari kesana, dan membuka pintu secara kasar.
BRAK!
“Ada apa ini?” Tanyanya dengan suara tinggi serta matanya membola. “Astaga! Mayra, kamu kenapa sayang?”
Tuan Ryan langsung mendekati Mayra, merengkuhnya dan berusaha menenangkannya. Sementara nyonya Desti hanya bisa diam berdiri sambil menangis, nampan yang tadi dia pegang sudah di letakkan di meja nakas.
__ADS_1
“Tenanglah sayang, jangan menangis lagi.” Bisik tuan ryan di telinga Mayra sambil kedua tangannya mengusap punggung dan kepalanya.
Mayra tak lagi berontak namun dia tetap menangis meraung-raung.
“Aku mau Kevin pa, tolong bawa Kevin kesini dan nikahkan aku dengannya. Aku gak bisa hidup tanpa dia pa..” ucap Mayra disela-sela tangisannya.
Sama halnya dengan sang istri, tuan Ryan juga tak mampu bersuara. Sebenarnya dia bisa saja melakukan segala cara agar keinginan putrinya terkabul, termasuk menyingkirkan istrinya Kevin. tapi dia juga tak kuasa melawan Anjeli, Dia masih ingin bekerja dan hidup bergelimang harta.
...💐💐💐...
Hari semakin terik, namun Alya dan Kevin masih betah berada di tepi pantai. Menikmati pemandangan ciptaan tuhan sambil menyantap makan siang di salah satu warung yang sudah tersedia disana.
Setelah tadi puas bermain air dan kejar-kejaran, Alya mengajak Kevin pergi makan siang. Awalnya Alya ragu mengajak suaminya makan disana, terlebih menunya yang sangat sederhana. Gadis itu takut Kevin akan menolak.
Tapi kekhawatirannya tak pernah terjadi, justru Kevin terlihat enjoy-enjoy saja. Bahkan Alya melihat hari ini suaminya itu terlihat hangat dan sering melempar senyum padanya. Syukurlah.
Saat ini mereka sedang duduk berdampingan di kursi panjang yang terbuat dari kayu, di depannya terdapat ada meja bundar yang juga terbuat dari kayu. Hanya saja meja itu dilapisi karpet plastik. Di atas meja itu sudah ada dua gelas es kelapa muda, satu piring besar berisi tumpukan gorengan tempe (mendoan) dan satu piring kecil berisi sambal kecap.
Pandangan mereka mengarah ke laut yang tak henti-hentinya bergerak dan bersuara. Alya meraih gelas es kelapa mudanya dan mulai menyeruputnya lewat sedotan, lalu kembali menaruhnya di meja. Kedua jarinya mengambil satu kepingan gorengan, mencocol sedikit sambalnya kemudian melahapnya.
Sementara Kevin sendiri sibuk dengan ponselnya, dia tengah mengedit video singkat berisi suasana pantai untuk dijadikan insta Story.
Uhuk! Uhuk!
Fokus Kevin langsung pecah saat mendengar suara batuk, dia pikir itu Alya tapi istrinya terlihat baik-baik saja dan malah sibuk mengunyah.
“Siapa yang batuk Al?” Tanya Kevin heran, pasalnya disana mereka hanya berdua saja.
Kevin memang memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian, pria itu tak terlalu suka dengan suasana ramai dan berisik.
Alya tak bersuara tapi tangan gadis itu menunjuk ke satu arah, dan Kevin pun mengikutinya.
Kevin terkejut saat melihat arah yang di maksud, disana dia melihat dua pria dengan bentuk wajah yang sama berdiri sambil menatap jahil padanya.
‘ngapain juga si twins nyebelin itu ada disini?’ gerutu Kevin dalam hati.
Ya memang benar, disana sudah ada Adrian dan Rangga. Mereka dengan pakaian formalnya berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
“Mau apa kalian?” Tanya Kevin dengan ketus saat Rangga dan Adrian sudah di dekatnya.
“Yaelah Vin sensian amat, gue dan Rian cuma mau gabung aja kok. Bukannya mau ngajak ribut.” Jawab Rangga.
kemudian tanpa disuruh dia duduk di depan pasutri itu, disusul Adrian yang juga ikutan duduk. Adrian menatap Alya sambil tersenyum tipis, sementara yang di tatap malah sibuk dengan makanannya.
Tanpa Adrian sadari, sejak tadi Kevin memperhatikannya dengan tatapan sinis.
“Berhenti natap istri gue kayak gitu, atau Lo mau mata Lo gue colok pake sedotan!” Ancam Kevin dengan mata melebar, sebelah tangannya sudah memegang sedotan yang sudah siap dia lempar ke mata sipit Adrian.
“Hahahaha..”
“Kayaknya ada yang cemburu nih ga, noh lihat tanduknya hampir aja keluar.” Ucap Adrian di sela-sela tawanya.
Rangga yang mendengar itu pun ikutan tertawa, sedangkan Alya hanya melirik ke arah suaminya sambil mengunyah.
“Kalau ngomong jangan sembarangan ya, siapa juga yang cemburu.” Elak Kevin, ia terlihat salah tingkah.
“Kalau bukan cemburu, terus kenapa tadi Lo bilang kayak gitu sama Rian?” selidik Rangga.
“Gue hanya pengen ngasih tahu aja sama kembaran Lo buat gak jelalatan sama bini orang!” Ujar Kevin beralasan.
“Hahahaha.. alasan aja Lo, dasar Muna!” Ejek Rangga, sementara Kevin mendengkus.
“Tenang aja kali Vin, gue gak ada niatan buat rebut istri Lo kok. Gue udah anggap Alya sebagai adik gue sendiri, gue hanya senang aja akhirnya Alya bisa balik lagi kesini. jadi Tina bakal ada temannya, Secara Lo tahu sendiri Tina itu susah akrab sama orang.” Sahut Adrian panjang lebar.
Kevin yang mendengar itu hanya diam, apa yang dikatakan Adrian memang benar. Tina jarang akrab dengan orang baru, dan selama ini hanya Alya yang benar-benar bisa dekat dengannya.
Christina Hendricks Kusuma yang biasa di sapa Tina itu adalah adik bungsu dari Rangga dan Adrian, gadis itu saat ini masih berstatus pelajar SMA kelas 2. Tina sendiri bisa di bilang anak rumahan, dia tak akan keluar rumah jika bukan soal urusan penting.
“Gak modal banget sih Lo Vin, ngajak bini bulan madu kok ke Ancol. Pergi ke Paris kek, atau Maldives! paling enggak Bali, Duit Lo kan banyak!” Ejek Rangga.
“Banyak bacot Lo ah, lagian siapa juga yang sedang bulan madu. Kita Kesini juga kebetulan kok.” Sahut Kevin. “Terus Lo berdua juga ngapain kesini?” Tanyanya kemudian.
“Tadi gue dan Rian abis ketemu klien, di resort depan pantai. Pas mau mau pulang, gue lihat ada mobil Lo. Jadi ya udah gue samperin aja, mana tahu kalau Lo kesini sama Alya. Biasanya kan suka sendiri.” Ucap Rangga menjelaskan.
Kening Alya berkerut saat mendengar kata terakhir Rangga, dia pun kembali menoleh ke arah Kevin.
“Kamu sering datang ke pantai Vin, ngapain?” Tanya alya heran.
“Bukan sering tapi sesekali aja, buat nenangin diri.” Jawab Kevin santai.
Alya nampak manggut-manggut setelah mendengar jawaban Kevin, pantai memang sangat cocok untuk dijadikan tempat menenangkan diri. Setelah itu mereka berempat mengobrol banyak hal, lebih tepatnya hanya kaum laki-laki saja. Sedangkan Alya menimpalinya sekenanya saja.
Sore pun menjelang, Adrian dan Rangga berpamitan pulang duluan. Sebelum pergi, Adrian sempat mengatakan pada Alya untuk berkunjung ke rumah dan gadis itu menanggapinya dengan anggukan.
Sesuai janji, Kevin menemani istrinya untuk melihat sunset. Sebenarnya dia sudah sangat lelah, hampir seharian dia disana. Namun untuk menolak pun dia tak tega, bagaimana pun dia masih punya hati. Terlebih ini keinginan istrinya sendiri, jadi menurutnya tak apa-apalah.
Jam sudah mendekati angka enam, langit yang cerah pun sudah berganti kekuningan. Perlahan tapi pasti sinar kuning keemasan itu bergerak turun, pertanda waktu malam akan datang.
Alya sudah berdiri di depan pantai, kaki telanjangnya beberapa kali sudah terkena siraman air laut. Semilir angin menerbangi dress warna hitam yang panjangnya sampai ke bawah lutut, dan rambut panjangnya yang di ikat satu pun ikut bergerak.
Sementara Kevin memilih duduk di pasir kering bawah pohon besar, dengan kedua kaki di tekuk, dia menyenderkan bahu lebarnya di pohon tersebut sambil matanya memperhatikan istrinya dari jarak lumayan jauh.
Tanpa mereka sadari, dari jarak yang tak terlalu jauh ada sosok Andreas. Pria tampan berkulit putih bersih itu tersenyum senang saat melihat diri Alya disana, dia tak menyangka kedatangannya disana yang awalnya ingin menenangkan diri malah bertemu dengan gadis pujaannya.
__ADS_1
Meskipun melihat dari belakang, Andreas tahu jika wanita yang sedang berdiri di depan pantai itu memang Alya. Gadis yang teramat sangat dia cintai.
Bergegas dia pun jalan cepat menghampiri gadis itu, perasaannya membuncah dan ada keinginan untuk memeluknya dan menyatakan perasaannya.
Sekali lagi!
Yah, ini bukan kali pertama dia mengatakan kalau dirinya mencintai Alya. Tapi sudah berulang kali, bahkan dia sudah mau melamarnya. Tapi gadis itu selalu menolaknya.
Namun saat jaraknya mulai dekat seketika senyumnya meredup dan langkahnya pun langsung terhenti kala matanya melihat seorang pria berjalan dekat ke arahnya, keningnya berkerut dalam sambil menduga-duga siapa gerangan pria tersebut.
Tak lama setelahnya Alya berbalik badan, lalu tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Nampaknya gadis pujaannya itu sangat senang bersama pria yang belum Andreas ketahui itu.
“Apakah pria itu Kevin?” Ucap Andreas menduga-duga.
saat pria itu sedikit melengokan wajahnya ke samping, Andreas melihat itu memanglah Kevin, suaminya Alya.
Seketika itu pula wajahnya berubah muram, matanya menatap pasangan itu dengan nanar. Dia pikir gadis itu disana sendirian, ternyata sedang bersama suaminya.
Hatinya bagaikan ditusuk sembilu saat melihat Alya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kevin kemudian berjinjit, Dirinya tentu tahu akan apa yang terjadi setelahnya.
Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja, perasaannya hancur kala melihat kemesraan mereka. Dan baru kali ini dia merasakan ini, sebelumnya dia yang menjadi pemicu dari rasa sakit dari para mantan kekasihnya. Sekarang dia bisa merasakan bagaimana rasanya patah hati, dan rasanya memang sangat sakit.
Meskipun begitu, Andreas tetap merasa tak terima. Dia tak rela Alya lebih memilih Kevin ketimbang dirinya.
‘kenapa harus dia yang kamu pilih Al, kenapa bukan aku? aku yang selama ini berjuang, bahkan aku rela meninggalkan semua wanita yang mengejarku demi bisa memilikimu. Namun nyatanya kamu milih pria lain.’
Andreas menggelengkan kepalanya, rahangnya mengeras dan kedua tangannya yang menggantung nampak mengepal.
“tidak bisa! Ini tak boleh terjadi, aku gak akan biarkan kalian bersama! Apapun caranya aku harus bisa merebut Alya dari pria sialan itu! Yah, harus bisa!” ucapnya pelan seraya menatap dua pasangan yang masih berpelukan itu dengan tajam.
Selepas itu Andreas berlalu pergi dari sana dengan segudang amarah dan dendam yang terkumpul di dada. Dia sudah bertekad akan merebut Alya dari Kevin, apapun caranya! Tak perduli dengan posisi Kevin apa, dia akan tetap melakukannya.
...💐💐💐...
“Kau darimana saja Andreas?”
Andreas yang kala itu baru turun dari mobil terkejut saat mendengar suara yang sangat familiar, dia melihat sosok pria paruh baya memakai pakaian rumahan sudah berdiri di ambang pintu dengan bersedekap dada.
“Main.” Ucap pria itu dengan nada malas.
“Main? Apa papa tak salah dengar? Sejak kemarin kamu tidak pulang dan kau bilang main? Luar biasa sekali!” Sahut pria itu sambil geleng-geleng kepala.
Ya memang benar, sejak pergi dengan cara tiba-tiba dari pesta pernikahan Rafael dan Selena, Andreas memang tak pulang ke rumah Dan baru sore ini dia kembali.
Keluarganya yang mengetahui hal itu pun merasa cemas, terlebih Sarah. Ibunya.
mereka sudah berusaha menghubunginya namun nomornya malah tak aktif. Ingin mencari diluar pun bingung, Andreas baru saja tiba di Jakarta dan setahu mereka pria itu tak memiliki teman dekat selain monika.
Selama ini Andreas memang tak tinggal di Indonesia, dia memilih tinggal sendiri di Seoul untuk melanjutkan studinya. Selama hampir 4 tahun dia disana, dan baru dua hari yang lalu dia pulang karena sedang liburan akhir semester.
Andreas menghiraukan ucapan sang papa, pria itu jalan masuk rumah begitu saja. Suasana hatinya sedang buruk, kini papa-nya ingin menambahi dengan marah-marah. Menyebalkan!
“Andreas, berhenti kamu! Dasar anak tak punya sopan santun, orang tua sedang bicara malah melengos pergi!” Seru pria itu seraya jalan menyusul langkah sang anak.
“ANDREAS!” kali ini suaranya terdengar keras dan menggema, membuat si pemilik nama berhenti.
“Apalagi sih pa, aku capek tahu gak!” Cetusnya seraya melirik ke arah papa-nya yang kini sudah berdiri di dekatnya.
“Jawab dulu pertanyaan papa, kamu habis dari mana sejak kemarin?” Tanyanya.
“Kan tadi aku udah jawab, kalau aku habis main.” Jawab Andreas.
“Ya tapi kemana? Kamu itu disini baru dan belum ada teman selain monika.”
“Ada pa, banyak! Papa aja yang gak tahu.”
“Benarkah?”
“Iya!”
“Bobby, Andreas? Ada apa ini, kenapa kalian ribut begini?”
Terdengar suara seseorang dari arah ruang tengah, mata Andreas dan Bobby langsung mengarah kesana. Disana mereka melihat kakek Rusman berjalan pelan mendekat dan tak lupa dengan tongkatnya.
“Gak ada apa-apa pa, hanya saja aku sedang tanya kemana saja anak ini dari kemarin.” Sahut Bobby dengan kesal.
Kakek Rusman yang mendengar itu menghela nafas. “Bobby, Andreas ini laki-laki wajar kalau suka main. Jangan mengekang dia kayak anak perempuan gitu.” Ucap kakek Rusman menasehati.
“Aku tahu pa, tapi setidaknya kasih kabar kek. Ini malah enggak sama sekali!” Cetus Bobby melirik sinis ke andreas. “Apa kamu gak mikir ndre, secemas apa kami kemarin? Terutama mamamu, Dia sampai nangis gara-gara mikirin kamu terus!” Sambungnya.
Mendengar itu Andreas merasa bersalah, bukan maksudnya begitu. Kemarin dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, sehingga melupakan ada keluarganya yang menunggu kepulangannya. Bahkan dia sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang mengganggunya.
Kemarin setelah dia pergi dari tempat pesta, Andreas pergi ke diskotik. Disana dia mabuk-mabukan sambil bermain dengan wanita, namun tak sampai menidurinya.
Tengah malamnya dia memilih menginap di hotel, pas bangun sudah siang hari. Lalu sorenya dia pergi jalan-jalan sendirian ke tepi pantai, berniat ingin menenangkan diri kala ingatannya kembali mengingat Alya yang sudah menikah.
Bukannya merasa lebih baik, disana dia malah melihat kemesraan mereka. Sialan memang!
“Maaf pa, maaf kek.” Hanya kata itu yang bisa Andreas ucapkan.
Kakek Rusman tersenyum samar, sebelah tangannya menyentuh bahu lebar cucunya. “Tak apa-apa nak, tapi lain kali kabarin ya biar orang tuamu tak khawatir.”
Andreas mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
“Ada apa ini? Kenapa rame sekali?”
terdengar suara lain, namun kali ini terdengar seperti perempuan dan asalnya dari dapur. Seketika itu pula tiga pasang mata itu melirik ke arahnya.