TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 57~Bagai Cinderella


__ADS_3

“sarah, nanti siang kamu ada rencana pergi gak?” tanya kakek Rusman pada menantunya yang kala itu sedang sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan.


Mendengar ucapan sang ayah mertua membuat gerakan tangan Sarah yang sedang mengolah masakannya di wajan terhenti, ia melihat ayah dari suaminya itu tengah jalan mendekatinya dengan di bantu oleh tongkat kesayangannya.


Jika di lihat Secara kasat mata kakek Rusman memang nampak masih sehat bugar, bahkan jejak ketampanannya semasa muda dulu masih terlihat. Namun percayalah, fisiknya tak sekuat yang terlihat, terlebih hatinya.


“enggak pa, kenapa? papa mau pergi?” jawab Sarah dengan di akhiri dengan pertanyaan.


“iya.” Sahutnya, seraya menarik kursi yang ada diruang makan dan duduk disana.


“kemana?” tanya sarah lagi, pasalnya kakek Rusman jarang keluar rumah jika tidak ada sesuatu yang mendesak.


Semenjak memutuskan pensiun dari dunia bisnis, kakek Rusman memang jarang keluar. Ia selalu habiskan waktunya di rumah, sambil memelihara berbagai macam burung, itu adalah salah satu hobinya sejak muda.


“rumah sakit, papa ingin jenguk Nattan. Kata sekretarisnya Bobby, kondisinya sekarang sudah stabil. Waktu di kabarkan siuman papa belum sempat jenguk, mumpung sekarang papa ada waktu luang jadi mau jenguk. Siapa tahu kamu juga mau ikut?”


Sarah diam sejenak, raut wajahnya berubah. “enggak deh pa, aku... Belum siap buat ketemu sama dia.”


nada bicara Sarah terdengar sendu, kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Kini kakek Rusman yang gantian diam, dia paham kenapa menantunya bisa berkata seperti itu.


“apa.. kamu belum bisa melupakannya nak?” tanya kakekk Rusman dengan nada lembut.


Dalam diamnya, Sarah mengangguk.


“sarah, kejadian itu sudah lama berlalu dan Nattan juga gak pernah menyalahkanmu.”


“aku tau pa, tapi.. gara-gara aku Nattan akhirnya pisah dengan istrinya dan.. papa juga kehilangan Ferdi.”


“enggak nak, soal Ferdi itu murni karena kesalahan papa sendiri. Gak ada sangkut-pautnya sama kamu.” sejenak kakek Rusman kembali diam sambil menghela nafas.


“Andai saja waktu pertama Ferdi minta restu untuk menikahi Vanessa harusnya papa setuju, bukannya menentang. Dengan begitu papa bisa menghabiskan masa tua papa dengan anak-anaknya, tapi karena keegoisan papa sendiri malah membuat semuanya begini. Bahkan lebih fatalnya lagi membuat rumah tangga orang hancur.”


Hati kakek Rusman selalu merasa sakit jika mengingat kelakuannya di masa lalu, terlebih soal anak bungsunya. Belum lagi dengan kemarahan istrinya yang terus menyalahkannya, karena sikapnya membuat Ferdi harus pergi jauh.


“dan.. soal rumah tangga Nattan... Itu juga bukan salahmu, mungkin jodoh mereka hanya sampai di situ saja.” sambung kakek Rusman.


“tap--”


“sudah.. sudah jangan di bahas lagi, nanti Andreas dan Bobby mendengarnya. Papa Gak mau hanya karena masalah ini membuat kalian bertengkar di pagi hari.” potong kakek Rusman cepat.


Sarah menghela nafas, kemudian mengangguk. “ya udah nanti perginya sama Sarah aja ya, soalnya mobil papa akan di pakai Andreas pergi ke kampus barunya. Tapi aku gak ikutan masuk, gak apa-apa kan?”


“iya nak, terserah kamu saja. Kebetulan hari ini jaya juga lagi izin gak bisa masuk kerja.”


Sarah kembali mengangguk, lalu ia jalan ke meja makan sambil membawa wadah yang sudah berisi nasi goreng. Di bantu oleh pembantu, Sarah bolak-balik dari dapur ke meja makan dan menata menu masakannya.


Dirasa sudah siap semua, Sarah mengambil piring kosong lalu mulai mengambil dua centong nasi goreng. Tak lupa ia juga menaruh ayam goreng dan sedikit sambal, kemudian menyodorkannya ke depan kakek rusman. Setelahnya ia kembali masuk ke dapur untuk membuat teh hangat untuk kakek Rusman, dan kembali mendekatinya.


“sarapan dulu pa, aku mau panggilan mas Bobby sama Andreas dulu.” ucap sarah, yang di respon kakek Rusman dengan anggukan.


Sekitar 5 menit kemudian Sarah sudah kembali, di ikuti oleh suami dan anaknya yang mengekornya di belakang. Kedua pria beda generasi itu sudah terlihat rapi, sambil mentengteng tas masing-masing.


Andreas nampak menyapa kakeknya sebelum menarik kursi, sementara Bobby hanya diam saja dan wajahnya pun nampak di tekuk.


Kakek Rusman yang menyadari itu tak bertanya, dia tahu Bobby masih keberatan dengan keputusan Andreas yang tiba-tiba pindah kampus. Sebenarnya dia juga sama, namun baik kakek Rusman maupun Bobby tak tega jika harus menolak begitu kemarin melihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajah Sarah.


Dari dulu Sarah memang tak pernah setuju jika Andreas kuliah di luar negeri, alasannya karena dia ingin selalu di dekat putra semata wayangnya itu.


Wajar jika Sarah merasa senang, karena dirumah itu ia selalu sendiri. Meski ia tahu Andreas jarang betah dirumah, tapi setidaknya dia bisa dekat dan mengawasi pergaulan anaknya itu.


Suaminya selalu sibuk di kantor, dan ayah mertuanya juga selalu sibuk dengan semua burung-burungnya. Jadi.. selain dengan teman-temannya, dia selalu di temani oleh BI Wati, pelayan dirumahnya.


Mungkin karena mereka semua adalah laki-laki, dan kebanyakan mereka tak suka betah dirumah. Sementara dirinya satu-satunya perempuan disana.


Jika saja dia memiliki anak atau saudara perempuan pasti dia tak akan merasa kesepian, dirumah sebesar itu dia hanya di temani oleh satu pelayan yang sudah lama bekerja disana.


...💐💐💐...


Sementara itu Suasana di kampus nampak ramai saat mobil Pajero warna hitam mulai memasuki area parkiran, sepanjang jalan semua pasang mata dari para mahasiswa tak lepas dari mobil mewah itu sambil mulutnya bergumam penuh kekaguman.


Sebagian dari mereka yang jurusan bisnis pada mengira jika ada mahasiswa baru masuk, karena kemarin ada pengumuman seperti itu dari dosennya dan katanya anak orang kaya serta pindahan dari luar negeri.


Walaupun mobil itu keluaran lama, tapi tak bisa di pungkiri jika keadaannya masih sangat bagus, bahkan terlihat seperti baru keluar dari dealer.


Sebenarnya pemandangan seperti ini sudah biasa di kampus tersebut, secara kampus itu adalah salah satu kampus elit dan terkenal mahal dengan biaya bulanannya. Siapa pun yang bisa menjadi mahasiswa di kampus itu sangat beruntung, karena semuanya adalah dari kalangan keluarga artis dan orang kaya. Jadi hampir semua kendaraan yang mereka pakai pun tak kaleng-kaleng.


Alya dan arina adalah salah satu mahasiswa yang beruntung itu, tentunya dengan bermodal otak cerdasnya. Karena baik Alya maupun Alya hanyalah gadis biasa yang lahir dari keluarga yang pas-pasan, terlebih arina yang hanya seorang anak dari ayah yang bekerja sebagai satpam dan ibunya memiliki usaha catering.


Lain dulu lain pula sekarang, Alya yang selama ini di kenal anak miskin dan bisa kuliah disana karena beasiswa bagaikan hilang di telan bumi. Kini ia sudah di kenal sebagai orang terkaya di 5 besar di Indonesia, keluarga dirgantara masuk ke posisi 3 setelah nomor 1 di duduki oleh keluarga abhyvandya dan nomor 2 di duduki oleh keluarga Kusuma. Sementara posisi ke 4 di duduki oleh keluarga Argadinata, dan posisi 5 di tempati oleh keluarga Mahendra.


Karena apa? Karena kini ia sudah di kenal sebagai menantu di keluarga dirgantara, seorang istri dari Kevin Zayn dirgantara. Pria tampan dan sukses di dunia bisnis saat usianya yang baru menginjak 24 tahun.


Hidup di jaman yang serba modern ini memang sangat mudah jika hanya ingin terkenal, hanya bermodalkan handphone dan kamera, maka ia akan tenar. hal apapun yang menurutnya unik pasti akan langsung viral.


Sama halnya dengan apa yang di alami Alya sekarang, semenjak dia di kabarkan sudah menikah dengan Kevin, hidupnya benar-benar sudah berubah.


Ah... Mungkin sejak awal mengenal pria itu hidup alya memang sudah berubah, dari yang awalnya bukan siapa-siapa kini menjadi pusat perhatian.


Bagi yang belum mengetahui kisah cinta mereka pasti beranggapan kalau dia adalah gadis yang beruntung, karena bisa menikah dengan pria yang selama ini terkenal dingin dan arogan. Seorang tuan muda terakhir dari keluarga sangat kaya dan terkenal dermawan, Terlebih Kevin juga di kenal sebagai pewaris satu-satunya dari keluarga ibunya yang berasal dari keluarga bangsawan.

__ADS_1


Namun hal itu tak berlaku bagi yang sudah mengetahui hubungan Kevin dan Alya dari awal, mereka selalu beranggapan Alya adalah gadis yang tak tahu diri dan gila harta.


Jika dulu dia di juluki sebagai wanita murahan karena pernah di kabarkan sudah tidur dengan Dylan, kini julukannya di tambah dengan kata pelakor.


Yah, secara pandangan orang lain dia memang pelakor. Bagaimana tidak, Alya hadir seminggu sebelum pernikahan Kevin dan Mayra di selenggarakan. Banyak yang beranggapan kalau Alya sudah menggoda Kevin, sehingga pria itu dengan nekat menikahinya secara diam-diam.


Padahal kenyataannya tak seperti itu, baik Alya maupun Kevin sama-sama terpaksa. Mereka berdua sama-sama di hadapkan dengan satu masalah yang membuatnya harus mengambil keputusan cepat, Dan hanya tuhan dan orang terdekatnya lah yang mengetahui itu semua.


Mobil Pajero yang di supiri Sean berhenti saat sudah di parkiran, Sean sengaja memarkirkannya di jajaran mobil mewah lainnya.


Tak hanya mobil, tak jauh disana juga ada ratusan motor sport yang sudah berbaris rapi. Lebih tepatnya letaknya berada 5 meter dari tempat parkiran mobil.


Setelah mematikan mesin mobilnya, Sean segera keluar dari mobil. Ia mengitari setengah mobil itu dan membuka pintu bagian belakang.


Semua mata para mahasiswa menatap penuh penasaran ke mobil tersebut, pikiran mereka menduga-duga seperti apa wajah pemilik mobil tersebut.


Namun begitu beberapa saat menunggu Alya yang ada di dalam mobil tak kunjung keluar, gadis itu tetap diam di tempatnya. Ia merasa ragu untuk keluar, apalagi sedari tadi ia memperhatikan gelagat semua mahasiswa yang terus menatap ke arah mobilnya.


“nona tidak ingin keluar?” tanya Sean sambil sedikit melongokan wajahnya, sekedar memastikan.


Karena pertanyaannya itu membuat Alya berakhir menatapnya, dan Alya tetap diam.


“ini kita sudah sampai di kampus, nona.” ucap Sean.


Lama Alya terdiam sambil terus menatap sekitar, wajahnya terlihat gusar. Kedua tangannya nampak meremas ujung kaosnya, Dan hal itu tak luput dari pandangan Sean, dia paham apa yang ada di pikiran nona mudanya.


“nona jangan takut, saya akan selalu ada di belakang nona.” ucap Sean lagi, suara beratnya terdengar menenangkan meski wajahnya tetap kaku.


Mendengar ucapan Sean Alya tentu kaget, meski sebelumnya Kevin sudah mengatakannya tapi tetap saja dia kaget. Gadis itu memang belum terbiasa dengan semua fasilitas yang sudah Kevin beri padanya, dia bagaikan terperangkap di buku dongeng dengan judul cerita Dari Upik abu berubah menjadi Cinderella setelah menikah dengan pangeran kaya.


Yah, dalam ilusinya Kevin memang pangeran impiannya.


“Sekarang nona keluarlah, bukankah tadi anda bilang ada kelas pagi?”


Meski ragu, Alya mengangguk. Dengan pelan ia beranjak bangun dengan di bantu oleh Kruk, tangan Sean terangkat untuk melindungi kepala Alya agar tak terbentur.


Begitu Alya sudah di luar, semua mata mahasiswa yang awalnya penasaran kini berubah sinis dan tanpa di suruh, mereka kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing.


Dalam hati mereka ingin sekali mencerca Alya, namun mereka pun sadar Alya kini sudah berada di bawah perlindungan keluarga dirgantara. Terlebih sebelumnya mereka juga sudah di ancam oleh keluarga abhyvandya agar tak macam-macam lagi dengan Alya maupun Arina.


Sesuai dengan ucapannya tadi, Sean mengikuti langkahnya di belakang sambil sesekali matanya menatap tajam ke seluruh mahasiswa yang menatap Alya dengan sinis.


Bukan hanya tatapan, tapi dengan berani mereka juga mencibir Alya dengan kata-kata yang tak pantas meski dengan suara kecil. Mereka langsung merasa takut dengan raut wajah Sean yang seram, di tambah dengan bentuk tubuhnya yang tinggi besar.


Sedangkan Alya hanya diam sambil terus melangkah pelan, ia berusaha menguatkan hatinya agar tetap tegar, serta Menulikan pendengarnya dari mulut mereka yang berbisa. Bukankah hal seperti ini sudah sering ia alami, jadi dia sudah kebal dengan itu semua.


Saat di perjalanan Alya memang sudah memberi kabar pada Jessica dan arina jika hari ini ia akan masuk, dan secara kebetulan pagi ini mereka masuk satu kelas.


Sebelum benar-benar masuk kelas, arina sempat bertanya-tanya soal siapa Sean sambil memperhatikan penampilan pria itu. Alya pun menjelaskannya, sementara Jessica hanya diam saja. Dia sudah tahu soal siapa Sean karena pria itu sering melihatnya pergi bersama Dylan saat tak sengaja berpapasan di tempat umum.


“gercep juga si Kevin, gue pikir dia bakal masa bodoh dengan Lo mengingat pernikahan kalian hanya sementara.”


Arina mengatakan itu dengan nada berbisik, itu pun dia bicaranya di dekat telinga Alya agar mahasiswa lain tak ikut mendengar, karena saat ini mereka sudah ada di kelas dan suasananya sudah ramai.


“karena Kevin tahu kebanyakan mahasiswa disini ada fansnya mayra, dia pasti khawatir lah kalau ada salah satu dari mereka mau nyakitin Alya.” timpal Jessica yang kala itu duduk di kursi bagian sisi barisan ketiga, sementara Alya duduk di depan dan arina di belakang barisan kedua.


Arina merasa ragu dengan ucapan terakhir Jessica, begitu pun Alya. Dalam benak kedua gadis itu beranggapan rasanya mustahil jika Kevin merasa khawatir, kalau pun benar Kevin khawatir pasti hanya ingin melindungi nama baik keluarganya saja.


“benar juga ya, secara sekarang sahabat kita ini sudah menjadi nona muda dirgantara. apalagi Tiara juga kuliah disini. Cuma untungnya beda jurusan.” ucap Arina pura-pura satu sefrekuensi dengan Jessica.


“Lo masih ingat sama Tiara kan Al?” tanyanya.


Alya tersenyum kecut saat mengingat soal Tiara, kemudian mengangguk. “tentu.”


“Lo meski hati-hati sama dia Al, menurut kabarnya dia masih suka membully anak baru yang kuliah disini dan dia juga punya pacar di kelas kita.”


“benarkah? Siapa?” tanya Alya penasaran, Jessica pun begitu.


“daniel.” jawab arina sambil matanya melirik ke satu laki-laki yang di maksud.


“daniel..” gumam Alya sambil mengernyit, matanya mengarah ke sosok pria berwajah Asia yang duduk di kursi paling depan. Pria itu sudah di kerubungi teman-temannya sambil mengobrol.


“he'eh.. dia juga satu alumni sama kita waktu SMP.”


“oh ya, kok gue gak inget ya?”


“ngapain harus inget-inget, gak penting juga!” cetus Arina.


“memangnya kenapa pacarnya satu kelas sama kita?” tanya Jessica yang tak tahu apapun soal Tiara.


“dulu semasa SMA dulu, Tiara memiliki geng yang suka membully gue dan Alya dan dia juga salah satu pemicu kenapa Alya bisa memiliki trauma terhadap petir dan gelap.” jawab arina menjelaskan.


Jessica yang mendengar itu tentu saja merasa kaget, pikirnya dua sahabatnya di Bully hanya di kampus saja tapi ternyata saat SMA pun begitu.


“seriusan! Lo gak bohong kan?” pekik Jessica dengan mata membola.


“ngapain gue bohong, gak guna!” saut arina ketus.


“beneran Al?” Jessica menatap Alya.

__ADS_1


Alya mengangkat kedua bahunya. “begitulah..”


“astaga.. dia jahat bener, sampe membuat anak orang trauma. Harusnya orang kayak gitu di laporkan ke polisi biar jera!” geramnya.


“dia udah pernah masuk penjara waktu mau lulus SMA karena kasus memakai narkoba, tapi cuma sebentar karena orang tuanya langsung menebusnya.”


“astaga...” lirih Jessica sambil mengusap dadanya, dia tak menyangka dengan kabar Tiara yang pernah memakai obat terlarang.


“padahal dia kelihatan baik Loh, gak nyangka gue.”


“jangan tertipu dengan penampilannya dari luar, terkadang orang yang benar-benar jahat itu suka berpenampilan lugu dan polos agar orang lain tak mencurigainya.”


Jessica dan Alya diam, mereka membenarkan ucapan Arina.


Senyap sejenak.


“oh iya Al, gimana rasanya setelah menikah dengan Kevin? Apa ada sesuatu yang berbeda?” tanya Jessica.


“gak gimana-gimana, biasa aja.” jawab Alya santai.


“kok biasa aja sih?”


“terus gue harus gimana?”


“biasanya ya nih pengantin baru itu masih ada aura-aura bahagianya, tapi.. gue lihat-lihat Lo kayak gak bahagia gitu?”


‘Lo salah Jes, gue sangat bahagia bisa menikah dengan Kevin tapi sebisa mungkin gue tutupin rasa itu.’ batin Alya.


“Lo kan udah tau perihal masalahnya apa yang gue dan Kevin hadapi.”


“ya.. gue tau, kalian menikah karena terpaksa dan gue juga paham gimana rasanya. Tapi dengan seiring berjalannya waktu gue yakin banget cinta yang sudah hilang akan tumbuh lagi asal Lo mau usaha dapatkan itu.”


“apa yang Jessica ucapkan itu benar Al, Lo harus bisa membuat Kevin bisa mencintai Lo lagi dan gue yakin Lo akan berhasil.”


Alya menanggapi ucapan kedua sahabatnya dengan tersenyum miris.


‘benarkah rasa cintanya akan kembali?’


...💐💐💐...


Di tempat berbeda, Kevin nampak baru keluar dari mobilnya. Ia melangkah ke belakang mobilnya untuk membuka bagasi, dengan di bantu oleh kedua kakaknya, dia mengeluarkan beberapa koper besar. Lalu menariknya ke depan teras bandara.


“harusnya kamu gak usah repot-repot antar kami ke bandara nak, kasihan kan Alya sendirian.” ucap Marissa sambil meraih kopernya yang tadi di bawa Kevin.


“gak apa-apa ma, biar sekalian aja nanti berangkat kerja. Lagi pula dia gak sendirian, ada Sean yang menemaninya.” saut Kevin.


Yap, saat ini Kevin beserta keluarga besarnya sedang berada di bandara. Kevin memang sengaja berangkat pagi-pagi agar bisa mengantar mereka ke bandara, sekalian dia juga ingin mengatakan sesuatu pada Rafael.


Marissa yang mendengar mengangguk sambil tersenyum, sebelah tangannya mengusap lembut bahu tegap Kevin.


“selalu ingat ya sayang, sekarang kamu sudah menikah. Maka ubahlah sedikit sifatmu, dan jadilah suami yang baik serta bertanggung jawab. Jaga dan lindungi dia layaknya kamu melindungi keluargamu sendiri, jangan lupa kontrol emosimu juga ketika marah, jangan sampai kamu lampiaskan itu ke Alya.” ucap Marissa memberi nasehat.


Kevin mengangguk patuh. “iya, ma.”


“jangan pernah telat minum obatnya ya.” ucap Marissa lagi.


“iya, mama tenang aja Kevin akan selalu ingat semua pesan mama.”


“bagus.” Marissa tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Kevin.


“kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kalian tolong di selesaikan dengan baik ya.” kali ini Anjeli yang berbicara.


Kevin kembali mengangguk. “iya, Grandma.”


“kakak titip Alya ya Vin, tolong jaga dia dengan baik dan jangan pernah menempatkan dia di tempat gelap karena Alya takut dengan tempat seperti itu.” ucap Selena.


“iya kak.”


Setelah itu mereka semua mulai jalan masuk bandara, Rafael dan aji nampak menarik koper di kedua sisi tangannya. Di susul oleh ketiga sepupunya yang juga sama-sama menarik kopernya masing-masing.


Sementara Marissa, Selena dan Anjeli sudah jalan duluan di depan, Kevin mengekornya di belakang sambil mendorong kursi roda yang di duduki Fandy.


Sebelumnya Anjeli, aji dan Marissa akan kembali besok tapi tak jadi karena tuntutan pekerjaan. Alhasil mereka pulang bersama ke koreanya.


Mungkin hanya keluarga papa-nya saja yang kembali ke Korea, sedangkan Anjeli akan lanjut terbang ke Amerika untuk urusan perusahaan cabang.


...💐💐💐...


Waktu terus berjalan, jam juga sudah menunjukkan jam setengah 10 pagi. Itu artinya selama 3 jam Alya dan kedua sahabatnya mengikuti mata pelajaran pertama yang sangat membuat mereka penat.


Arina nampak tersenyum senang saat sang dosen yang terkenal killer itu mengakhiri kelasnya, begitu dosen keluar bergegas dia pun merapikan semua buku dan alat tulisnya.


“guys, kita makan siang bareng di kantin yuk.” ajaknya, yang langsung di iyakan oleh Jessica dan Alya.


Mereka bertiga pun keluar dari kelas, berjalan berdampingan dengan memposisikan Alya di tengah.


Namun saat ingin turun tangga langkah Alya terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar.


“hai Alya, akhirnya kita bisa bertemu lagi.”

__ADS_1


__ADS_2