TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 14~Calon Suami


__ADS_3

Siang itu, Alya dan arina tengah sibuk memasak di dapur untuk makan siang. Dirumah sederhana itu mereka hanya berdua saja, Ratna--ibunya Arina sedang pergi ke rumah bibinya yang letaknya tak jauh dari rumahnya, sementara ayahnya sedang Bekerja sebagai satpam di salah satu perusahaan besar yang ada di Jakarta.


biasanya setiap jam makan siang ayahnya selalu menyempatkan pulang untuk sekedar makan siang, tapi sepertinya hari ini tidak. sebelum pergi ibunya sempat berpesan untuk memasak dan mengantarkan makanan untuk ayahnya.


Rudi memang jarang sekali makan diluar, padahal sering sekali kawannya mengajaknya makan bersama dan jarak antara rumahnya dan tempat kerjanya lumayan jauh tapi laki-laki paruh baya berusia 45 tahun bertubuh tinggi dan kurus itu selalu saja menolaknya dan lebih memilih makan hasil masakan istrinya yang katanya jauh lebih enak dari makanan Restoran mahal.


Hari ini jadwal kuliahnya hanya ada satu sehingga dia bisa pulang lebih cepat, namun sesampainya dirumah dia di buat was-was. ibunya menyuruhnya masak, padahal ibunya tahu dia tak terlalu jago untuk di bidang itu. tapi untungnya dia pulang bersama Alya yang pasti akan membantunya yang sudah sangat jago soal dapur.


Alya memang ahlinya soal memasak, selain karena hobi, mendiang ibunya dulu adalah seorang chef dan mungkin bakat itu ia turunkan pada Alya. Menurut Arina seperti itu.


“Nanti Lo temenin Gue ke tempat kerjanya ayah yah Al, sekalian anterin Lo pulang.” ucap arina pada Alya tanpa menoleh karena dia sedang fokus mengolah sayuran yang masih berada di wajan.


Alya yang kala itu sedang memotong ikan langsung menoleh. “Emangnya Lo gak kerja?”


“ada, tapi gak apa-apa lah bolos sehari.”


“kalo gitu Gak usah deh, Gue bisa pulang sendiri.” tolak Alya, dia tidak mau merepotkan temannya.


Mendengar itu Arina langsung menoleh ke arah sahabatnya dengan wajah tak ramah.


“Gak boleh! Pokoknya Gue bakal anterin Lo pulang! Kalau kejadian kemarin terulang kembali gimana? Ditambah kaki Lo masih sakit!” Seru Arina Lalu kembali menoleh dan fokus pada masakannya.


“Lagian ya, udah tahu kaki lagi cedera malah pergi kuliah. Kalau kaki Lo nambah parah terus di ambutasi, gimana?”


“Lo doain gue?”


“Maksudnya bukan begitu tapi Gue hanya khawatir aja, takut terjadi apa-apa sama Lo. Masih untung waktu itu ada yang nolongin, kalau enggak mungkin sekarang Lo hanya tinggal nama!”


“nah kan sekarang Lo malah bicara begitu, kayaknya Lo benar-benar pengen gue mati ya.”


Arina menghela nafas kasar, kemudian kembali menoleh ke arah sahabatnya. “Astaga Al, pikiran Lo negatif Mulu sih! maksud gue bukan seperti itu tapi--”


“iya-iya Gue tau kok, gue cuma bercanda tadi.. hehehe.” potong alya sambil nyengir.


arina diam sambil matanya melayangkan tatapan kesal pada Alya.


“dasar.. udah cepetan motong ikannya, sebentar lagi jam makan siang.” titah Arina, kemudian kembali berbalik.


“baiklah, nyonya.” saut alya sambil terkekeh, setelah itu dia mulai fokus dengan tugasnya.


Alya kembali mengingat perkataan arina. memang ada benarnya juga, jika saja pada malam itu Kevin tak datang entah apa yang akan terjadi dengannya dan dia juga belum mengucapkan terima kasih pada pria itu.


sebenarnya alya sendiri belum yakin jika Kevin yang menolongnya tapi saat mendengar penjelasan dari samuel waktu di rumah sakit bahwa pria itu yang menolongnya membuatnya sedikit percaya. selain itu kemeja yang dia pakai itu persis seperti yang di pakai Kevin waktu di lift hotel, itu saja sudah jadi bukti kuat kalau Kevin memanglah yang menolongnya.


Hanya saja Alya tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa tahu keberadaannya di malam itu. Bahkan dia datang tepat waktu.


Tak ada yang tau jika yang menolongnya adalah Kevin kecuali Selena dan Dylan, dia juga tak ada niatan buat kasih tau pada siapapun, dia hanya mengatakan jika dia di tolong oleh orang yang kebetulan lewat di sana lalu membawanya ke rumah sakit.


Alya tidak mau jika ada orang lain yang mengetahui siapa yang menolongnya termasuk kedua sahabatnya. Mengingat bagaimana terkenalnya Kevin di kampus, pasti cewek-cewek yang menyukainya akan menerornya tiada henti yang akan membuat hidupnya rumit, selain itu dia juga akan malu jika ada yang tau tentang kejadian malam itu.


...💐💐💐...


1 jam kemudian masakan mereka pun sudah matang semua, arina memasukkan sebagian makanannya ke kotak makan dan sebagiannya lagi dia letakkan di atas meja. Setelah semuanya selesai Dia mengajak Alya untuk makan siang bersama dan gadis itu mengiyakannya.


Seusai makan siang, Arina pergi ke kamarnya untuk mandi karena tubuhnya sudah lengket karena keringat, sementara Alya merapikan meja makan. Tadinya arina ingin membantunya namun Alya melarangnya dan menyuruhnya untuk bersiap-siap, dengan terpaksa gadis itu menurutinya.


Alya membawa piring dan gelas kotor itu ke wastafel lalu mencucinya. Setelah selesai dia kembali ke meja makan sambil membawa kain lap yang sudah basah lalu mengusap-usapnya ke meja persegi panjang yang terbuat dari kayu jati dan berwarna coklat kehitaman itu sampai mengkilat.


Gerakannya terhenti begitu mendengar suara dering ponsel yang berasal dari tas selempangnya yang tergeletak di kursi kayu yang berada di ruang tamu.


Dia pun berjalan pelan ke arah kursi dimana tasnya berada lalu meraih benda pipih itu dan melihat nama kakaknya disana, dengan segera dia pun mengangkatnya.


“Halo kak.”


[Kamu lagi dimana Al?]


“Aku lagi ada dirumah arina, kenapa?”


[Oh.. terus kapan pulangnya?]


“setelah anterin makanan ke tempat kerja ayah Rudi, aku akan pulang.”


Alya memang sudah biasa memanggil Rudi dan Ratna dengan sebutan ayah bunda, mereka sangat menyayangi gadis itu dan sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


[Ya udah kakak tunggu dirumah, kamu sama Arina hati-hati di jalan.]


“Iya, oh iya kakak mau dibawain apa biar nanti aku beliin.”


[Gak usah Al, kamu cepetan pulang yah disini ada paman, bibi dan kak Rendy.]

__ADS_1


Mendengar itu Alya terlihat Girang, dia senang karena paman bibinya datang. namun dia sedikit merasa aneh dengan suara kakaknya yang terdengar seperti orang pilek, Seketika pikiran buruk tentang kondisi kakaknya menjalar di otaknya.


“Ada apa sama suara kakak? Kakak sakit?” Tanya Alya cemas, takut terjadi apa-apa dengan Selena apalagi setelah mendengar kedatangan bibinya, takutnya bibinya itu akan berbuat yang tidak-tidak karena Alya tau sifat bibinya yang bar-bar.


[Kakak gak apa-apa kok, kamu cepetan pulang yah kakak tunggu.]


“aku akan pulang sekarang!”


Setelah itu panggilan berakhir. Alya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Dia berbalik badan dan melangkah menuju kamar Arina berniat untuk pamit duluan sekaligus minta maaf karena dia tidak bisa menemaninya.


“Rin.” panggilnya pada Arina saat sudah berada di kamarnya, keningnya berkerut saat melihat sahabatnya duduk disisi ranjang dan masih memakai pakaian yang sama sambil bermain ponsel.


Arina terlonjak kaget saat Alya memasuki kamarnya, wajahnya terlihat gugup. “A-alya! Bikin kaget aja, ada apa?”


“Lo belum mandi?” Tanyanya heran.


“Ini baru mau.” arina meletakkan ponselnya ke kasur lalu berlari kecil ke arah pintu, meraih handuk kemudian keluar kamar. namun seketika terhenti karena suara Alya.


“Rin, tunggu!”


Arina menoleh. “Ada apa?”


“Maaf, Sepertinya Gue gak bisa nemenin Lo ke tempat kerja ayah. Gue harus segera pulang.” ucapnya sambil berjalan mendekati Arina.


“Kenapa? Apa ada masalah?” Tanya Arina dengan kening berkerut.


“Gak ada, cuma tadi kak Lena telpon Gue dan kasih kabar kalau dirumah ada paman, bibi dan kak Rendy.”


Kedua alis arina terangkat. “Mereka datang, Kapan?”


“Entahlah Gue gak nanya detailnya, ya udah ya Gue pamit. Sekali lagi maaf gak bisa nemenin Lo, dan titipin salam buat bunda dan ayah.”


“Iya, nanti gue sampaikan. Ayo Gue anterin cari ojek.” ajak Arina dan Alya mengiyakannya.


Arina pun mengantar Alya sampai ke ujung gang, tempat dimana tukang ojek mangkal. Sesampainya di sana, arina bertanya ke salah satu pemuda yang dia kenal sedang duduk di atas jok motornya sambil menyesap rokok.


“Kak Rey, narik gak?” Tanya Arina.


Pria yang disebut Rey itu pun menoleh. “Ya narik dong neng, kalau gak ngapain ngejogrok disini.” jawabnya agak ketus.


“Ya siapa tau cuma nongkrong doang kayak biasanya, ya udah kalau gitu anterin temen Gue ke jalan Xxx..”


Alya diam sejenak, dia menoleh ke arah Arina dengan tatapan takut. Jujur dia masih trauma dengan kejadian malam itu sehingga dia sedikit parnoan jika bertemu dengan orang baru, khususnya laki-laki.


Seakan mengerti arina mengangguk seraya tersenyum tipis. “Jangan takut, dia asli orang sini dan anak baik-baik kok. Kalau dia macam-macam, kasih tau Gue.” Bisiknya.


Alya mengangguk lalu meraih helm itu dan memasangnya ke kepalanya, dengan hati hati dia naik ke atas motor. tak lama kemudian Rey mulai menjalankan motornya.


Arina menatap kepergian Rey dan Alya sampai menghilang di belokan gang, setelah itu dia berbalik arah menuju rumahnya.


...💐💐💐...


“Sudah sampai neng.” ucap Rey saat sudah berada di depan rumah Alya.


Alya segera turun dari motor, melepas helm lalu memberikannya pada Rey dan Rey menerimanya.


“Berapa mas?” tanya Alya.


“30 ribu aja neng.” jawabnya.


Alya pun merogoh tasnya dan mengeluarkan uang 50 ribu kemudian dia langsung Pergi, namun baru beberapa langkah dia terhenti saat Rey memanggilnya.


“Neng, tunggu! ini uangnya kelebihan.”


Alya menoleh. “Ambil aja mas kembaliannya.” ucapnya sedikit berteriak kemudian dia kembali berjalan dengan tergesa-gesa. Tak dia perdulikan lagi kakinya yang sakit, dalam pikirannya saat ini adalah keadaan kakaknya.


Alya memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia ingin segera bertemu dengan kakaknya memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.


“Kak Lena!” Pekiknya saat melihat sosok kakaknya sedang duduk sendirian di sofa panjang yang ada diruang tamu sambil nonton tv, di pangkuan wanita itu terdapat ada toples kaca yang tutupnya sudah terbuka berisi kue kering.


Mendengar suara adiknya Selena menoleh, wajahnya terlihat kaget. “Pelan pelan jalannya Al, kaki kamu itu masih belum sembuh!”


Selena terlihat marah, kaki Alya itu belum sepenuhnya pulih namun gadis itu malah berjalan cepat.


Sebenarnya waktu Alya pamit ke kampus Selena sudah melarangnya, menyuruhnya untuk istirahat dulu. Bahkan dokter Samuel sudah mewanti-wanti agar Alya jangan banyak gerak dulu, namun apa daya. Adiknya itu keras kepala ingin pergi kuliah, katanya tidak enak sama mahasiswa lain. Baru saja masuk kemarin sudah bolos saja.


Alya tak memperdulikan ucapan Selena, dia tetap melangkah cepat mendekati sang kakak.


“Kakak baik-baik aja kan?” Tanya Alya cemas setelah sudah mendudukkan tubuhnya di samping Selena.

__ADS_1


“kamu bisa lihat sendiri kan? Kakak baik-baik aja. Yang harus di khawatirkan itu kamu!” Seru Selena, jari telunjuknya menoyor kening Alya.


Alya memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat sembab, bahkan suaranya pun terdengar serak seperti orang habis menangis.


“Aku baik-baik saja kok kak.” Lirih Alya sambil tersenyum meyakinkan, padahal kenyataannya dirinya sedang menahan ngilu.


“Lalu kemana paman, bibi dan kak Rendy? Katanya mereka datang tapi kok sepi?” Tanyanya sambil celingukan.


“Mereka memang datang, saat ini paman dan bibi sedang istirahat di kamar atas sementara kak Rendy sedang ke supermarket untuk beli cemilan.”


“Cemilan? Kenapa gak bilang sama aku sih kak, tadi kan aku udah nawarin tapi kakaknya gak mau.”


“Kakak pikir kamu pulangnya bakal lama, tadi kan di telpon kamu bilang mau ke tempat kerja ayah Rudi dulu sementara disini kakak pengen makan sesuatu yang renyah tapi di dapur cuma ada ini jadi ya udah kakak suruh Rendy buat beli cemilan yang banyak.”


“Iya tadinya aku dan Arina memang mau ke tempat ayah Rudi buat anterin makan siang tapi gak jadi.”


“Kenapa?”


“Aku cemas sama keadaan kakak takut terjadi apa-apa ditambah kedatangan bibi Yuna, makanya aku langsung pulang aja.” Ucapnya, kemudian memeluk kakaknya erat.


Selena terkekeh mendengar ucapan Alya seraya tangan kanannya mengusap lembut kepalanya. “Kakak baik-baik aja dek, kamu gak usah khawatir.”


“Kamu udah makan?” Tanyanya.


“Udah, waktu dirumah Arina.”


Tak lama kemudian terdengar suara mobil, Alya melepaskan pelukannya kemudian menoleh ke arah jendela dan segera bangun dari duduknya berlari keluar rumah begitu melihat bayangan Rendy keluar dari mobil taksi.


“Alya, jangan lari! Astaga!!” Teriak Selena.


Mendengar teriakan sang kakak, Alya langsung berhenti. Dia menoleh ke arah Selena sambil cengengesan. Kemudian dia kembali berjalan, namun kali ini dia jalannya pelan.


Selena terlihat geleng-geleng kepala. sedetik kemudian dia menghela nafas berat, wajahnya sendu. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


“Kak Rendy!” Teriak Alya sambil berjalan pelan setengah pincang.


Rendy yang baru saja keluar dari mobil taksi nampak tersenyum, namun sedetik kemudian dia terkejut saat menyadari gaya jalan Alya yang seperti orang pincang. Buru-buru dia menghampiri gadis itu.


“Astaga Al ada apa dengan kaki kamu, hah?” Pekik Rendy sedikit meninggikan suaranya, matanya sedikit membola.


“Aku gak apa-apa kak, hanya kemarin aku keserempet mobil dan kena kakiku.” Ucap Alya berasalan.


Lagi-lagi dia berbohong.


“Astaga, lain kali hati hati dong dek.” Ucap Rendy, wajahnya terlihat cemas.


“namanya juga kecelakaan kak, gak ada yang tahu kapan akan terjadi. Oh iya Kakak kapan datangnya, kenapa gak ngabarin aku dulu sih kalau mau kesini biar nanti aku jemput di bandara.”


“Kami sampai pagi tadi, Gak apa-apa Al lagian ini juga mendadak, mama memaksa kakak dan papa untuk pulang ke sini setelah mendengar kabar tentang kakakmu.  padahal papa sudah merencanakan akan pulang lusa tapi bibimu yang bar-bar itu gak sabaran.” tutur Rendy yang di akhiri dengan terkekeh.


“Yuk masuk, kakakmu pasti udah nunggu.” ajak Rendy sambil sebelah tangannya merengkuh pinggang alya.


“Kakak beli apa aja?” Tanya Alya sambil melirik ke kantong plastik yang Rendy bawa saat mereka sudah duduk di sofa.


“Hanya cemilan dan keperluan kakak, kenapa?”


“Gak beliin buat aku juga?” Ucap Alya manja.


Rendy terkekeh melihat tingkah adik sepupunya itu, dia mengacak rambutnya dengan gemas.


“Kamu itu udah dewasa, udah jadi anak kuliahan tapi kelakuannya masih aja kayak bocah! Lagian Di dapur banyak makanan Al, tadi mama sempat masak lumayan banyak.”


Alya mengerucutkan bibirnya. “Tapi aku juga mau di beliin makanan sama kak Rendy.”


“Yaudah besok kakak beliin, tapi sekarang makan yang ada dulu ya?”


“Iya deh.” Kemudian dia memeluk pria itu dari samping, dan Rendy pun membalasnya.


“Dasar manja.” cibir Selena.


Alya menatap kakaknya dengan sebal. “Bilang aja kakak iri karena gak bisa manja-manjaan sama kak Rendy.”


“Gaklah, ngapain iri lagian juga kakak bisa manja-manjaan sama calon suami kakak!”


Alya langsung diam, mimik wajahnya berubah menjadi serius saat mendengar kata terakhir Selena. Dia pun melepaskan pelukannya.


“Calon suami? Maksud kakak siapa? Chandra? dia mau nikahin kakak, gitu?” tanya Alya.


Selena tak langsung menjawab, dia melirik ke arah Rendy. Pria itu juga ikutan diam.

__ADS_1


__ADS_2