TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 36~Keterkejutan Mingyu


__ADS_3

“kau siapa? Kenapa ada di apartemen temanku?” Tanya pria itu sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah Alya.


Alya tak langsung menjawab, dia menatap pria itu dengan kening berkerut. Merasa heran dengan sikap pria itu yang tiba-tiba datang, dan bertanya dengan nada tak ramah.


“heh! Kalo ditanya itu jawab, jangan bengong!” sentak pria itu, dan hal itu membuat Alya terperanjat kaget.


“A-aku-”


“Nona A--Loh tuan Mingyu ada disini juga?”


Ucapan Alya terhenti kala mendengar suara laki-laki, spontan ia pun menoleh di ikuti juga dengan pria itu yang tak lain adalah Mingyu. Mereka melihat Kenzo sudah berdiri di belakang sofa yang Alya duduki.


“Iya, gue baru sampai. Oh iya Ken, siapa cewek ini? Kenapa dia ada disini?” Tanya mingyu.


Setahunya selama ini apartemen Kevin tak pernah di masuki wanita lain selain pelayan yang dia sewa, bahkan Mayra yang notabenenya sebagai tunangannya saja dilarang masuk.


“Dia nona Alya, istrinya tuan Kevin.” Jawab Kenzo.


Meong..


Leon ikut bersuara, seakan mengiyakan ucapan Kenzo.


Mendengar itu seketika mata sipit mingyu melebar. “APA! ISTRI!!”


saking kagetnya dia sampai teriak, wajahnya kini terlihat sangat terkejut. “J-jadi berita yang lagi viral itu benar? Kevin udah nikah!” Tanyanya terbata.


“Iya tuan.”


Seketika kedua tangannya terangkat menyentuh kepalanya sambil geleng-geleng kepala, dia merasa tak percaya dengan ini semua.


‘apa gue sedang bermimpi buruk?’ batin mingyu.


Kembali di lirik wajah Alya yang juga sedang menatapnya, bola mata itu bergerak naik turun. Seakan sedang menilai penampilan gadis itu, lalu bibir bagian atasnya terangkat tanda merendahkan.


“Lo pasti bohong kan? Mana mungkin Kevin mau nikahin cewek macam dia, udik dan kampungan gini!”


Mendengar cercaan mingyu, Kenzo menyeringai, apalagi dengan sorot matanya yang tajam. Bahkan lebih tajam dari yang selalu Kevin tampilkan, dan mingyu tak menyadari akan hal itu.


“Hati-hati dengan ucapan anda tuan, suatu saat ucapan anda ini akan menjadi bomerang untuk hidup anda sendiri.” Desis Kenzo.


Mingyu mendelik kemudian mendengkus, kedua tangannya melipat di perutnya. Wajahnya terangkat seakan menantang Kenzo.


“Jangan sok mengancam gue Lo, Ken. Gak mempan! Harusnya Lo sadar diri, Lo hanya bawahan Kevin.” Cercanya.


“Saya tidak sedang mengancam anda tuan, tapi memang begitulah kenyataannya. Gadis yang kau anggap udik ini memang nona muda di keluarga dirgantara.”


“Gue gak akan percaya sebelum Kevin sendiri yang bilang! di mana dia?”


“disini.”


Semua mata langsung tertuju pada arah suara, suara yang terdengar sangat dingin. Kenzo dan pelayan muda itu mundur dan pergi ke belakang setelah mendapat kode dari Kevin, bahkan Leon juga ikutan pergi.


Jika suaranya terdengar dingin, tidak dengan raut wajahnya yang santai. Pria itu jalan mendekati sang istri dan duduk di sampingnya, Sebelah tangannya merangkul bahunya yang di akhiri mengecup puncak kepalanya.


Mingyu yang melihat adegan itu melongo dan hampir terjungkal, berulang kali dia mengedip-ngedipkan matanya takut salah lihat. Namun apa yang dilihatnya memang tak salah.


‘apakah hari ini akan datang badai besar? atau gunung Krakatau akan segera meletus?’


Sahabatnya yang selama ini selalu bersikap layaknya es balok seketika langsung mencair saat sudah berada di dekat Alya, gadis yang tadi Kenzo bilang istrinya.


“Dia siapa?” Bisik alya sambil mendongak menatap wajah Kevin.


“Temanku.” Jawab Kevin. “Kamu gak di apa-apain kan sama dia?” tanyanya kemudian.


Alya menggeleng, setelahnya secara bersamaan pandangan pasutri itu kembali menatap ke arah mingyu yang masih berdiri di ambang pintu.


“Ada apa Lo datang kesini?” Tanya Kevin datar.


Nah, sekarang watak aslinya kembali muncul. Dia memang seperti bunglon, sifat dan perlakuannya suka berubah-ubah dengan waktu yang tak tentu.


Perlahan Mingyu sadar, dia pun segera menutup pintu apartemen Kevin lalu berjalan cepat ke sofa, dia duduk tepat di depan pasangan itu.


“Apa benar Lo udah nikah? Dan.. cewek ini adalah bini Lo?”


“Ya.”


Pria itu terkesiap, seraya jakunnya naik turun. “Lo gak lagi stres kan Vin? Gimana bisa Lo nikah sama cewek lain, sedangkan Lo punya tunangan!”


“Gak perlu gue jawab pun Lo pasti udah tahu alasannya.” balas Kevin.


“CK! Tapi gak gini juga kali, kasihan Mayra!”


“Masa bodoh!” Ucap Kevin acuh, seraya membuang wajah.


Ekspresi mingyu kali ini terlihat kesal sekaligus marah, bukan karena sahabatnya itu sudah mencampakkan Mayra. Jujur dia tak masalah mau sama siapa saja Kevin menikah, asal wanita yang dia pilih itu yang terbaik. Dan menurutnya wanita yang ada di depannya itu bukanlah terbaik. Sudah mah tak cantik, penampilannya pun kampungan! Mingyu hanya khawatir Kevin akan dimanfaatkan oleh wanita itu, karena kalau dilihat-lihat Alya bukanlah dari kalangan atas.


“Kapan kalian menikahnya? Dan dimana?” Tanya mingyu dengan rahang mengeras.


“Kemarin, di villa yang ada di Bandung.” Jawab Kevin tanpa menatap mingyu, pria itu nampak memainkan jemari istrinya.


“WHAT?” pekik mingyu, dia langsung berdiri setelah mendengar jawaban Kevin.


“Astaga Vin, Lo benar-benar deh! Kemarin? Berarti saat Lo datang dirumah sakit itu--”


“Siangnya Gue udah nikah!” potong kevin yang kini beralih memainkan ujung rambut panjang istrinya yang di Curly.

__ADS_1


“Dan Lo gak bilang sama gue dan Jakson? Tega Lo ya!” Seru mingyu dramatis sambil menyentuh dadanya.


Kevin yang mendengar itu memutar bola matanya malas.


“Gak usah lebay! Lo bukan orang pertama yang gak gue kasih tahu.” Cetus Kevin menatap wajah mingyu.


“Jadi Dimas dan Rangga juga gak tahu?”


“Hm.. tapi mereka datang kesana karena udah di kasih tahu sama temannya Alya.”


“keluarga Lo gimana?”


“hanya bang Rafa dan Dylan saja yang tahu.”


Setelah mendengar itu mingyu menghela nafas berat seraya kembali duduk di sofa, Sebelah tangannya memijat keningnya. Merasa pening!


“Lo benar-benar gila Vin, gak habis pikir gue! Dan kamu juga, mau maunya dinikahin sama cowok yang udah punya tunangan. Gak ada harga dirinya sama sekali jadi perempuan!” Cetus mingyu, matanya menatap sinis ke wajah alya.


Di katain seperti itu wajah Alya langsung mendung dan menunduk, perasaan bersalah itu kembali muncul. Beda halnya dengan wajah Kevin yang menggelap, sudah jelas ia tidak terima istrinya dikatai begitu.


Tanpa kata Kevin langsung mengambil bantal sofa dan dengan kencang melemparnya ke arah mingyu.


BUK!


“Aduh! Nah kan, kamu bisa lihat sendiri. Dia itu kasar, suka nyiksa! Gak takut apa jika dia juga bakal nyiksa kamu!”


“Lo diam! Gak usah bicara apapun lagi sebelum gue jahit mulut Lo!” Seru Kevin menatap tajam wajah Mingyu.


“Gue kan hanya sekedar mengingatkan. Harusnya-”


Kevin sudah siap menerjang mingyu, namun Alya langsung menahannya.


“Jangan.” Lirihnya.


Kevin mendengkus. “kalau niat kedatangan Lo kesini cuma buat hina istri gue, Pergi aja dari sini!” Usirnya pada mingyu.


“Lah, kok gue di usir sih?” Tanyanya heran.


“KENZO!”


Kenzo yang kala itu sedang menyantap makanan yang tadi di belikan Kevin di dapur langsung mendongak, mendorong kursi kemudian berlari terbirit-birit setelah mendengar teriakan lantang Kevin.


“Y-ya, tuan.” Ucapnya sedikit terbata Karena deru nafasnya yang tak beraturan.


Apartemen itu sangat luas, dan jarak antara dapur dan ruang tamu cukup jauh. Jadi Kenzo memilih langsung berlari biar cepat sampai.


“USIR CECUNGUK SATU INI DAN JANGAN BERI DIA AKSES KESINI LAGI!”


setelah mengatakan itu Kevin langsung menggendong Alya Ala bridal style, dan hal itu membuat gadis itu kaget. Spontan dia pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Kevin.


“Kevin, kok Lo gitu sama gue!” Mingyu berteriak, namun Kevin menghiraukannya.


“Silahkan tuan.” Ucap Kenzo sambil tangannya terangkat ke udara menunjuk ke arah pintu.


“Kenapa dia begitu emosian begitu sih?” Gerutunya seraya bangun dari duduknya.


“Anda tentu sudah tahu jawabannya tuan.”


“Karena gue menghujat istrinya gitu? Cih! Emang dia sehebat apa sih sampai kevin semarah itu, cantik juga kagak!” Ejeknya.


“Silahkan tuan.” Kali ini Kenzo membuka pintu sambil menahan kesal, karena dengan beraninya menghina nona mudanya.


Mingyu mendengkus, lalu dia pun berlalu pergi dari apartemen Kevin dengan perasaan dongkol.


Dia jadi penasaran dengan sosok Alya, kenapa Kevin sebegitu marahnya setelah menghinanya. Pasalnya baru kali ini dia melihat sahabatnya itu membela Wanita sebegitunya.


“apa karena dia istrinya, makanya Kevin sampai segitunya. Sampai gue diusir segala! Kalau iya hebat juga dia.” Ucapnya sambil melangkah menelusuri lorong gedung apartemen itu.


“sepertinya gue harus cari tahu semua hal tentang cewek itu, gue curiga dia hanya ingin memanfaatkan Kevin aja! Jaman sekarang kan banyak tuh cewek miskin nikah sama cowok kaya karena ingin hartanya aja, dan pastinya cewek itu juga salah satunya.”


“Ck, kasihan Mayra, Pasti sekarang dia lagi galau banget ditinggal nikah sama kevin. udahlah mending gue temuin aja.”


Sementara itu di dalam kamar Kevin mendudukkan Alya di ranjang, dengan kedua kakinya lurus. Sedangkan dirinya duduk di sisi ranjang, sebelah tangannya melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.


“Kenapa kamu harus marah marah gitu sih sama teman kamu, kan kasihan dia.” Ucap Alya dengan suara lembut.


“Biarkan saja! Dia memang menyebalkan, Suka bicara asal.” Cetus Kevin.


“Tapi gak harus marah-marah juga kan, kalian bisa bicara baik-baik. Aku yakin dia gak maksud ngomong begitu, mungkin dia kaget aja.”


Mendengar itu Kevin hanya diam saja, apa yang dibilang Alya ada benarnya. Pernikahannya dengan Alya memang mendadak, dan banyak pihak yang terkejut mendengar berita ini. Tak heran juga jika banyak orang berpikiran buruk tentang istrinya, terlebih media.


Selama hampir dua tahun dia bertunangan dengan Mayra, namun saat pernikahan sudah di depan mata, dia malah menikah dengan wanita lain yang kastanya sangat jauh darinya. Pastilah mereka semua akan beranggapan jika Alya hadir hanya ingin mendapatkan hartanya saja.


“Ya, aku tahu.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


Alya nampak tersenyum tipis, lalu pandangannya menatap seluruh sudut kamar itu. Kamar itu nampak luas dengan bernuansa putih pink, segala furniture yang berbau feminim itu sudah ada sana. Bahkan meja belajar pun sudah ada, di atasnya sudah di penuhi tumpukan buku, satu gelas berisi alat tulis, lampu kecil dan laptop. Di sampingnya terdapat ada satu komputer keluaran terbaru dan sepertinya masih baru, soalnya di bagian sisinya masih ada plastiknya.


“Ini kamar siapa Vin?” Tanya Alya tanpa menatap kevin.


“Kamarmu lah, siapa lagi?” Jawabnya.


Mendengar itu sontak membuat Alya langsung menatap sang suami.


“Kamarku? Gak salah?”

__ADS_1


“Kenapa memangnya? Gak suka?”


Alya menggeleng. “Bukan begitu, aku suka kok. Cuma kamar ini keliatan kayak--”


“Dulunya kamar ini adalah ruangan kerjaku, cuma sejak bang Rafa ngasih tahu soal rencananya aku langsung suruh orang memindahkannya ke ruangan lain dan merenovasinya.” Ucap Kevin memotong ucapan istrinya.


Kevin seperti sudah tahu apa yang ada di pikiran Alya, makanya dia menjelaskannya.


“Kenapa harus dipindahin? Aku bisa kok tidur di kamar bawah.” Ucap Alya.


Kevin diam sejenak.


“Gak apa-apa, pengen pindah aja. Biar kalau mau ke dapur gak harus turun tangga.” Sautnya.


Alya manggut-manggut mengerti.


“Kamu istirahat aja, nanti aku akan suruh pelayan buat bawa kopermu kesini.”


Kevin ingin bangun dari duduknya namun Alya mencekal lengannya, dia pun kembali menoleh ke istrinya dengan kening berkerut.


“Kenapa?”


“aku mau nanya, Apa nanti malam Mayra dan keluarganya akan datang ke pesta?”


“Sepertinya. Kenapa? Kamu takut mereka datang dan menghancurkan pesta?” jawab Kevin balik nanya.


Gadis itu mengangguk cepat.


“Tenang saja. Sekalipun mereka datang, mereka gak akan berani melakukan itu.”


“Kamu yakin?” Ragunya.


“Tentu. Selain ada banyak bodyguard, disana juga akan banyak wartawan. Ditambah di Aula itu ada kamera cctv, jadi Jika sampai mereka melakukan itu, tandanya mereka cari penyakit sendiri.”


Alya yang mendengar itu diam sejenak, kening gadis itu berkerut dalam tanda sedang berpikir keras.


“Terus teman-teman kamu gimana, pasti sebelumnya kamu juga mengundang mereka kan?”


“Iya.”


“Apa nanti mereka gak bakal buat ulah, kan mereka awal datangnya atas undangan pernikahan kamu sama mayra?”


“Kan mereka sudah tahu.”


“Vin, aku tahu temanmu bukan hanya Rangga, dimas dan cowok tadi. Terlebih kamu pernah kuliah di Inggris, pasti mereka akan datang kan?”


Kevin menggeleng. “Gak ada, teman kuliahku dulu gak aku undang. Sekalipun mereka datang, pasti itu anak dari rekan bisnis papa atau bang Rafa.”


“Tapi-”


“Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik saja. Udah deh kamu jangan mulai lagi, hobi banget sih bikin aku kesel!” Ucap Kevin sambil tangannya mencubit pipi Alya.


Alya segera menepis tangan suaminya.


“Bukan begitu maksudnya Vin, aku hanya khawatir aja. Apalagi jika nanti Chandra dan Renata ikutan datang!”


Sebelum menjawab, Kevin nampak menghela nafas seraya memejamkan matanya sejenak. Dirinya kini tengah menahan rasa kesalnya karena sifat cerewetnya Alya.


“Meskipun mereka datang, mereka gak akan berani. Udah ah berhenti bicarakan hal ini, intinya kamu tenang saja dan buang pikiran burukmu itu.”


“Tap--”


CUP!


Ucapan Alya langsung terhenti saat bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Kevin, sontak saja hal itu membuatnya kaget, tubuhnya kaku dan kedua matanya melotot.


Soal jantungnya.. tak usah di tanyakan lagi. Saking kencangnya debaran itu, Alya merasa seperti ingin meledak.


Bukan hanya sekedar menempel, namun suaminya itu ******* bibirnya dengan kasar. Pria itu kesal dengan kecerewetan Alya dan dia juga kesal istrinya selalu membahas itu, padahal sudah berulang kali di bahas.


Karena sudah tak mau lagi mendengar ocehannya, terpaksa dia membungkam bibir istrinya dengan ciuman dan selama itu Alya tak bereaksi apa-apa.


Beberapa menit kemudian Kevin melepaskan ciumannya, wajahnya merona dan deru nafasnya tak beraturan, terlebih Alya yang seperti kepiting rebus dan bibirnya bengkak.


“Kamu itu semakin cerewet saja! Aku kan sudah bilang jangan khawatir dan percaya saja sama aku, jadi jangan salahkan aku bila lakukan ini!” Ucap Kevin, pandangannya mengarah ke bibir istrinya seraya jari jempolnya mengusap benda kenyal itu yang basah karena ulahnya.


“Jika sekali lagi kamu bahas ini, aku gak akan segan-segan melakukan ini juga.” Bisiknya, kini pandangan mereka bertemu.


“Ahh!”


Alya tak bisa menahan suara desahannya saat bibir Kevin mendarat di lehernya dan menghisapnya kuat, hingga meninggalkan jejak merah disana. dan dia juga merasakan tangan suaminya itu meremas buah dadanya.


“Dalam surat kontrak tidak tertulis untuk kita tidak melakukan hubungan badan, tapi kamu tenang saja meskipun nanti aku sangat menginginkannya, aku tak akan melakukan itu denganmu. Karena aku tak mau melakukannya dengan wanita yang tak aku cintai!”


Setelah berkata seperti itu Kevin langsung berdiri dan keluar dari kamar Alya.


Sementara Alya masih pada posisinya, pandangannya lurus ke depan. Tanpa bergerak, tanpa suara, bola mata itu mulai berembun dan keluar air hangat membasahi pipinya.


Meskipun sudah tahu dari awal, entah kenapa Hatinya selalu saja merasakan sakit saat suaminya mengatakan sudah tak mencintainya lagi.


Alya sangat sadar akan hal itu, pancaran cinta yang dulu ada di mata kevin kini sudah tak ada lagi.


Namun jika mengingat sikapnya dari awal bertemu kembali hingga saat ini mereka sudah menikah Alya menjadi ragu, dia ragu dengan sikap Kevin yang suka berubah.


‘apakah dia sekarang sedang menghukumku dengan cara memainkan perasaanku? atau aku yang terlalu baper?’

__ADS_1


__ADS_2