
...^BEBERAPA JAM SEBELUMNYA^...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Di negara yang terkenal dengan julukan kincir angin, lebih tepatnya di sebuah kamar yang luas. nampak ada sepasang manusia berbeda jenis kelamin tengah bergumul mesra di ranjang berukuran size king, dengan keadaan tubuh keduanya tak berbalut busana sedikitpun.
Tak jauh dari sana, nampak beberapa helai pakaian serta dua sepasang sepatu berserakan di lantai.
Suara bernada erotis kedua manusia tersebut terus menggema ke seluruh sudut ruangan tersebut, mengespresikan rasa yang mereka lalui dengan penuh semangat dan peluh yang bercucuran.
Mereka sama sekali tak merasa takut jika ada orang lain yang mendengarnya dan berakhir memergoki kelakuan mereka, karena kamar yang mereka gunakan tentunya kedap suara. Mau sekeras apapun mereka bersuara, orang lain yang berada di luar tak ada yang bisa dengar.
"Ahh.. baby.. lebih dalam lagi." erang suara wanita, seraya jemari lentiknya mencengkram lengan kekar pria yang ada di atasnya.
Sementara sang empu tak merespon apapun, ia terus menggerakan pinggulnya naik turun dengan ritme cepat. Sementara kedua tangannya menahan kedua kaki wanita yang ada di bawahnya untuk terus terbuka, ia tengah mengejar pelepasannya yang hampir tiba.
Deru nafas kedua manusia yang tengah bercinta itu terdengar begitu kasar dan memburu, bersamaan dengan suara kulit yang bertabrakan. Seakan memberi kesan, betapa panasnya kegiatan mereka di pagi ini.
Jarum jam di dinding masih mengarah ke angka jam delapan pagi waktu china, suasana di luar pun sangat dingin karena sedang turun salju. Namun berbeda dengan suasana di dalam kamar hotel, yang nampak begitu panas akibat pergulatan sepasang kekasih di atas ranjang yang kondisinya sudah berantakan.
"****! Kenapa kamu bisa senikmat ini, hem? Kau membuatku hampir gila!" Racau pria tersebut, seraya mendorong pinggulnya lebih dalam dan merapatkan diri.
Pria yang tak lain adalah dylan menindih tubuh telanjang sang kekasih yang bernama ruby, setelah tadi Melesatkan sepenuhnya pusakanya yang kian membesar ke dalam lubang surgawinya.
Hal itu membuat ruby tak mampu menahan gejolak dalam tubuhnya, suara indahnya keluar begitu dylan bergerak makin liar. Bibir dan tangannya pun tak ingin tinggal diam, pria itu selalu bisa membuatnya bergairah.
Hingga beberapa saat setelahnya dylan menggeram, seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ruby dan menghentak-hentak keras pinggulnya.
"Ahh!.."
Dengan kompak, ruby dan dylan melenguh panjang saat sama-sama mendapatkan pelepasan.
Jika biasanya setiap bercinta dengan wanita lain dylan selalu memakai pengaman atau mengeluarkannya di luar, tidak untuk sekarang. Pria tampan yang kini berusia 25 tahun itu sengaja menanam benihnya ke dalam rahim ruby, berharap besar bisa tumbuh menjadi nyawa yang diberi julukan bayi.
Yah, dylan memang sangat mengharapkan itu dan yang menjadi ibunya adalah ruby. Kekasih hatinya, yang sudah ia pacari selama 4 bulan terakhir.
Clarissa ruby hartono, itulah nama lengkapnya. Sosok wanita cantik berdarah asli indonesia, dan berusia 23 tahun. Ruby sendiri bukanlah wanita karir apalagi publik figur, melainkan dia seorang gadis biasa berstatus mahasiswa tingkat akhir jurusan ekonomi di universitas yang terkenal di china.
Ruby bisa kuliah disana karena mendapat beasiswa saat lulus sekolah, ia sudah tinggal di negara kincir angin itu sudah 6 tahun.
Ruby tak perlu memikirkan bagaimana susahnya hidup di negara orang, karena orang tuanya berasal dari kalangan cukup berada selalu rajin mengiriminya uang meski hanya pas-pasan.
Bukannya pelit, tapi orang tua ruby sengaja mengirim uang sedikit agar anaknya itu bisa belajar hidup mandiri dan bisa menghargai uang. Meski awalnya sulit, namun dengan berjalannya waktu ruby sudah terbiasa.
Dylan mengangkat wajahnya dan menatap wajah ruby yang merona.
"Makasih baby." Bisik dylan.
Ruby hanya merespon ucapan dylan dengan anggukan dan senyum tipis.
...πππ...
"Kamu jadi pulang ke indonesia?" Tanya ruby.
Dylan yang kala itu baru keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap, langsung di sambut oleh pertanyaan sang kekasih.
"Iya." Jawabnya singkat, lalu jalan ke arah meja nakas samping ranjang dan meraih ponselnya.
Dylan tengah memesan makanan, karena ia malas untuk turun ke bawah. Selain karena cuaca diluar yang dingin, dia juga ingin terus berada di kamar bersama kekasihnya.
Selama hampir dua minggu mereka tak saling jumpa akibat sibuk dengan urusan masing-masing, dan baru sekarang mereka bisa habiskan waktu bersama.
Sedangkan ruby duduk di sofa panjang ada di kamar tersebut dan juga sudah berpakaian lengkap, di depannya ada meja bundar berukuran besar yang sudah terisi oleh alat makeup dan ponselnya.
Waktu ia menunggu dylan selesai berpakaian, ia memang sedang berdandan.
"Kapan?" Tanya ruby lagi, seraya memasukkan satu persatu alat makeupnya ke tasnya.
"Nanti sore." Jawab dylan tanpa menoleh, ia berdiri membelakangi ruby dan tetap fokus dengan ponselnya.
Memang, beberapa hari yang lalu dylan sempat memberitahunya soal rencananya yang akan pulang ke indonesia. Katanya sih dia akan menetap disana untuk beberapa hari, karena selain karena bisnis, dia juga ingin menengok keadaan kevin dan alya sekalian juga ingin meninjau perkembangan hotelnya.
Meski para bawahannya selalu memberi laporan perihal kondisi hotelnya, namun dylan tetap ingin melihatnya secara langsung.
"Terus kamu kapan baliknya?" Untuk kesekian kalinya ruby bertanya, namun kali ini terdengar lirih.
Dylan tentunya menyadari itu, tapi pria itu tak langsung menghampiri karena masih sibuk memesan makanan. Begitu selesai, dia pun kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula lalu berbalik badan dan mendekati ruby.
"Kenapa mukanya sedih begitu, hem?"
Bukannya menjawab, dylan malah balik nanya. Membuat ruby menatapnya dengan tatapan sendu.
"Jangan lama-lama ya disana, nanti kalau aku kangen gimana?" Ujar ruby, merajuk.
"Kan bisa kirim pesan atau video call." Balas dylan dengan santai.
"Iya sih, tapi tetap aja aku bakal kangen." Sahut Ruby mengerucutkan bibirnya, lalu bergelayut manja di lengan dylan.
Dylan tertawa pelan, perlahan ia menarik lengannya. merangkul bahu ruby, lalu membawanya ke pelukannya.
"cuma 5 hari aja kok aku disana, aku janji setelah semuanya beres bakal langsung balik kesini." Ucapnya.
Dalam pelukan ruby mengangguk, seraya membalas pelukan dylan. Ia selalu percaya apapun yang pria itu katakan.
"Tapi kalau sudah sampai disana, kamu langsung kabarin aku."
"Pasti."
__ADS_1
Setelah itu hening, kedua insan yang saling mencintai itu hanya diam sambil berpelukan mesra. Seakan-akan itu adalah momen terakhir mereka bisa bersama, dan bisa merasakan sentuhan satu sama lain.
Hingga akhirnya mereka mengakhiri sesi pelukan tersebut setelah terdengar suara bel dari arah luar, pertanda ada orang yang datang.
Dylan bergegas bangun dari posisinya dan jalan mendekati pintu, ternyata yang datang adalah kurir pengantar makanan.
"Kita sarapan dulu ya, baru setelah itu aku akan mengantarmu ke asrama." Ucap dylan, seraya meletakkan dua kotak makanan ke meja.
Ruby mengangguk, ia pun mulai membuka penutup kotak makanan tersebut dan melahapnya.
...πππ...
Hari pun semakin naik ke peraduannya, walaupun rasanya akan sama saja. Tetap dingin.
Dylan nampak berjalan agak cepat menuju mobilnya yang ada di depan gedung kampus ruby, seraya mengeratkan mantel tebal yang membungkus tubuhnya.
Usai sarapan tadi dan sedikit bercumbu di kamar hotel, dylan langsung mengantar sang gadis ke asrama.
Sepanjang jalan seluruh mahasiswa yang melintas selalu melirik padanya, karena memang dylan cukup sering datang kesana.
Bukan karena ingin bertemu dengan ruby saja, tapi dylan memang salah satu donatur penting di kampus tersebut. karena hal itu pula membuatnya bisa mengenal ruby, hingga berakhir menjadi kekasihnya.
Dylan sudah tiba di parkiran dimana mobilnya berada, ia di sambut oleh darren, sang asisten pribadi dengan sebuah payung transparan warna putih.
Pria dewasa yang usianya lebih tua 3 tahun darinya itu menyodorkan payung tersebut, dan tentunya dylan langsung meraihnya.
"Kau sudah persiapkan semua keperluanku buat nanti sore kan?" Tanya dylan, seraya mengibas-ngibaskan mantelnya yang kena butiran salju.
Darren mengangguk. "Sudah bos, tapi ada sedikit masalah dengan jadwal penerbangannya."
Dylan mengernyit sambil meliriknya sekilas. "Maksudmu?"
"Seperti yang anda tahu, cuaca saat ini sudah masuk musim dingin dan semua media sudah memprediksi jika tak lama lagi salju akan turun lebat dan tadi saya mendapat info pihak bandara sudah memberi arahan jika jadwal penerbangan hari ini akan di percepat."
Mendengar penjelasan darren membuat gerakan tangan dylan berhenti, dan berakhir menatapnya lekat.
"Termasuk juga jadwalku?" Tebaknya.
"Iya bos."
Sejenak Dylan membisu kemudian manggut-manggut mengerti, sebenarnya dia juga sudah curiga jika hal seperti ini akan terjadi.
"Oke tak masalah, jam berapa kita berangkat?"
"Sekarang juga bos."
"Hah!"
Dylan terpekik kaget dengan mata sedikit membola, dan darren membalasnya dengan tatapan nanar.
"Maaf bos kalau saya baru kasih tahu anda soal ini, karena saya tak enak karena anda sedang bersama nona ruby dan saya tak mau ganggu."
"Ck! Jam berapa?"
"10."
"Astaga! Ini aja udah jam sembilan lewat, padahal jarak bandara jauh dari sini! Kau seharusnya kabarin lewat pesan atau telpon, jangan diam aja!" Seru dylan, ia kesal.
"Maafkan saya bos."
"Sudahlah, kita berangkat sekarang!"
Setelah itu mereka pun sama-sama masuk mobil, tak lama setelahnya kendaraan beroda empat yang terlihat sangat mewah dan mahal itu perlahan pergi meninggalkan area kampus.
Di dalam mobil dylan yang duduk di jok depan samping pengemudi nampak begitu sibuk dengan ponselnya, ia tengah mengabari kekasihnya tentang jadwal kepergiannya di percepat.
...πππ...
Setelah memakan waktu hampir enam jam dalam pesawat, pada akhirnya dylan dan darren sudah tiba di jakarta pada sore hari. Matanya melirik ke jam tangannya, disana jarum mengarah ke angka empat.
Kedua pria tampan yang sama-sama memiliki postur tubuh tinggi dan kurus itu jalan bersisian, wajah keduanya pun sama-sama memakai masker dan outfit casual. Hanya bedanya dylan memakai topi model kupluk dan kacamata besar warna hitam.
Darren nampak jalan santai, seraya mendorong troli berisi dua koper besar. Sedangkan dylan layaknya seorang bos, ia jalan di depan darren dan pandangannya fokus ke depan.
"Perlu kah aku telpon supir keluargamu untuk menjemput?" Tanya darren dengan nada informal, tidak seperti biasanya.
Saat ini mereka sudah berada di depan teras bandara, berdiri di samping tiang.
dylan menggeleng. "Gak perlu, kelamaan! Kita naik taksi aja." Putusnya dengan tegas.
Darrren hanya bisa menurut, lalu ia pun melambaikan tangannya saat melihat mobil taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
Dengan sigap sang supir menjalankan mobilnya dan berhenti di depan darren dan dylan, setelahnya sang supir segera keluar dan membantu kedua pria itu untuk memasukkan koper ke bagasi.
Selesai dengan koper, mereka pun masuk mobil dan pergi dari sana setelah sebelumnya darren menyebutkan alamat rumah utama dirgantara.
Di karenakan jarak bandara dengan lokasi rumahnya cukup dekat, membuat mereka tak perlu berlama-lama di perjalanan. Mobil taksi berwarna biru itu memasuki area pekarangan rumah luas milik dirgantara, setelah tadi menekan klakson beberapa kali dan gerbang tinggi yang terbuat dari besi itu terbuka.
"Makasih pak." Ucap darren pada supir taksi setelah mengeluarkan dua koper bawaannya.
Setelah itu darren berbalik badan dan jalan menyusul langkah dylan yang duluan masuk rumah, seraya menarik dua koper sekaligus. Ia sedikit kesusahan saat ingin menaiki tanjakkan teras, untung disana ada beberapa bodyguard yang melihat dan berakhir membantunya.
"Aden kok pulang gak bilang-bilang sama bibi sih, kan nanti bibi bisa siapkan makanan kesukaan aden."
Gendang telinga darren mendengar kata itu saat langkahnya semakin dekat ke pintu, mata sipitnya melihat bosnya sedang mengobrol dengan wanita tua berpakaian ala pelayan. Darren tebak wanita tua itu adalah kepala pelayan dirumah tersebut, karena seragam yang ia kenakan berbeda dengan pelayan wanita lainnya.
"Sengaja, biar jadi kejutan." Balas dylan dengan nada ceria.
Ucapan dylan dibalas oleh pelayan senior itu dengan tertawa kecil, setelahnya ia menggiringnya masuk. Termasuk darren.
Saat tiba di ruang tamu, sang pelayan senior itu berteriak memanggil pelayan lain untuk membawa koper dylan dan darren ke kamar dan tak lupa untuk membuatkan minuman.
Mereka pun menurut dan langsung bergegas pergi, termasuk juga dirinya yang ikutan pergi karena ingin membersihkan kamar tuan muda kedua dari keluarga dirgantara itu.
Sebenarnya setiap hari kamarnya selalu di bersihkan, hanya saja agar lebih optimal dan membuat si pemilik kamar nyaman maka ia akan mengeceknya lagi.
__ADS_1
Sembari menunggu pelayan yang membuat minumannya jadi, darren dan dylan duduk di masing-masing sofa panjang, mengistirahatkan tubuh yang terasa kaku akibat perjalanan yang cukup panjang dan terkesan buru-buru. Mungkin malam ini mereka akan menghabiskan sisa waktu dengan tidur, karena besok mereka harus bangun pagi untuk menemui klien.
Drrtt..
Terdengar suara getaran yang ternyata berasal dari saku celana milik dylan, ia yang kala itu duduk setengah rebahan dengan gerakan malas merogohnya dan meraih benda canggihnya.
"Hm! Ngapain si anak itik ini nelpon?" Gumamnya, seraya mengernyit.
Ia bingung karena tidak biasanya salah satu teman dari adiknya itu menelponnya, dan dia juga baru menyadari ternyata banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari rangga.
Yah, orang yang menelponnya kini adalah rangga. Dari dulu dylan memang sering menjulukinya anak itik, karena ia selalu gemas dengan bentuk bibir rangga yang tebal dan sedikit maju. Juga dengan postur tubuhnya yang mungil, dibanding teman-teman lainnya yang lebih tinggi darinya.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, pada akhirnya dylan memilih menerima panggilan tersebut.
"Ada ap--"
[Gue tau lo sekarang lagi ada di jakarta, iya kan?]
Nada bicara rangga terdengar cepat dan mengandung kecemasan, sayup-sayup telinganya juga mendengar suara teriakan. hal itu membuat dylan tak mampu melanjutkan ucapannya, dalam otaknya tengah berpikir siapa kiranya pemilik suara yang teriak itu.
"Kalau udah tau kenapa nanya?"
Dylan tak perlu heran lagi kenapa rangga bisa tahu, karena pria itu memiliki kemampuan ganda dari manusia lainnya. Selain seorang indigo, rangga juga bisa membaca pikiran orang dan menebak keadaan di masa depan.
Contohnya sekarang, rangga sudah tahu tentang keberadaanya sekarang. Padahal kedatangannya ke jakarta belum diketahui oleh siapapun, bahkan rencana awalnya yang akan berangkat nanti sore waktu china malah di majukan ke pagi.
"Kalau begitu bisa kan lo datang ke bogor sekarang juga?" Pinta rangga, mengabaikan ucapan dylan.
"Bogor? Ngapain?"
"Nanti gue ceritain, tapi lo harus datang dulu kesini."
"Ck! Males ah, gue ini baru sampai masa disuruh datang kesana. Ogah ah!" Tolak dylan mentah-mentah.
Baru saja beberapa saat yang lalu dia tiba di jakarta dan merebahkan tubuhnya, kini malah disuruh untuk pergi ke luar kota. Memang gila si rangga itu!
"Ini penting lan, menyangkut kesehatan kevin."
DEG!
mendengar nama kevin disebutkan membuat dylan terkejut, dengan gerakan cepat ia bangun dari posisinya. Ekspresi wajahnya kini nampak tegang, membuat darren yang melihatnya mengernyit heran.
"Apa maksud lo bicara begitu, ada apa dengan kevin?"
Sama halnya dengan dylan, darren pun langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar kevin di sebutkan. Ditambah melihat gelagat sang bos yang berubah panik, membuatnya punya pikiran buruk.
"Kalau lo mau tau cepetan kesini, saat ini kondisinya kembali buruk! Bahkan sekarang lebih parah, dan kami gak sanggup menanganinya. Gue akan kirim alamat rumah sakitnya."
Setelah itu panggilan berakhir, rangga memutuskannya duluan. Membuat dylan yang masih ingin bicara mendengus kesal, seraya sebelah tangannya meremas rambutnya.
Ting!
Tak lama setelahnya dylan mendapat pesan dari kontak rangga, ia pun langsung membukanya dan ternyata berisi alamat rumah sakit yang di maksudkannya tadi.
"Bos mau kemana?" Tanya darren begitu melihat dylan pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu dengan langkah tergesa-gesa.
Namun dylan tak merespon, ia terus melangkahkan kakinya keluar rumah dan jalan menuju bagasi. Darren yang melihat itu pun segera menyusulnya.
"Bos!" Teriak darren saat melihat dylan masuk ke bagasi, tempat dimana semua koleksi mobil mewahnya berada.
"Gue harus pergi!"
Hanya itu yang bisa dylan uraikan, lalu ia membuka sebuah kotak besi yang menempel di tembok. Membukanya dan terpampanglah beberapa kunci yang tergantung disana, entah itu kunci apa saja.
"Pergi kemana bos?"
Pertanyaan darren tak mendapatkan jawaban, karena dylan sudah masuk ke mobil mewah jenis ferrari warna biru langit.
Tanpa memikirkan nasib darren yang terus memanggilnya dan menanyakan kemana ia akan pergi, bahkan saat sang sekretaris menggendor-gendor kaca mobilnya pun dylan tetap membisu dan lebih memilih menjalankan mobilnya.
Pikiran dylan saat ini sudah di penuhi oleh keadaan kevin, perasaannya kalut dan bayang-bayang saat sang adik kecilnya waktu dirawat di rumah sakit jiwa mulai terbayang. Entah kali ini masalah apalagi yang menimpa kevin, sehingga membuat penyakit mentalnya kambuh.
Apapun itu, dylan sudah bersumpah akan menghancurkannya tanpa bersisa.
Dylan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak perduli dengan suasana jalanan yang begitu padat oleh kendaraan lain. Juga Entah sudah berapa kali ia mendapat peringatan dari kendaran lain, namun ia tak perduli.
Dylan tak menyadari jika di belakangnya sudah ada mobil polisi mengikutinya, sebab dylan beberapa kali menerobos masuk lampu merah.
Sayangnya mobil polisi juga tak mampu menahan dylan untuk berhenti, bahkan mereka kehilangan jejak karena cepatnya dylan melajukan mobilnya.
Karena terus mengebut, perjalanan dari jakarta menuju puncak yang biasanya memakan waktu dua atau sampai tiga jam, dylan hanya butuh satu jam saja.
Kini mobil mewah dylan sudah memasuki pekarangan rumah sakit, ia memarkirkannya dengan asal dan langsung berlari masuk ke dalam. Melupakan jika kondisi mobilnya masih menyala, dan pintunya tak tertutup rapat.
Dylan tak perlu bertanya ke meja informasi dimana ruang inap kevin berada, karena rangga sudah memberi tahunya lewat pesan.
"Dimana kevin, dan gimana kondisinya? Dia baik-baik aja kan?" Tanya dylan beruntun dengan nafas tak beraturan saat sudah tiba di depan ruang rawat kevin, dan disana sudah ada teman-temannya berkumpul.
"Tenang lan--"
"BAGAIMANA GUE BISA TENANG SETELAH DENGAR PENYAKIT KEVIN KAMBUH!!"
bentakan dylan sangat menggelegar ke seluruh sudut lorong, membuat semua orang yang ada disana terperanjat kaget dan membisu.
"tenangin diri lo lan, ini rumah sakit!" Ujar jeremi memperingati.
Dylan tak bersuara, dia langsung mengambil nafas dalam-dalam seraya memejamkan matanya. Berusaha menenangkan diri agar bisa rileks, meski rasanya sulit.
Apapun yang menyangkut adik kecilnya, dylan tak pernah bisa memikirkannya. Terlebih ini mengancam jiwanya.
"Jangan terlalu di khawatirkan lan, kondisi kevin sudah baik-baik saja. meski tadi sempat mengamuk dan mencoba melukai dirinya sendiri, tapi sekarang dia sudah tenang." Ucap rangga menjelasakan, dan itu sedikit mengurangi beban pikiran dylan.
"sekarang lo harus bantu kita untuk membebaskan alya." Ucap rangga lagi.
Mendengar itu, dylan mengernyit. "Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Alya di culik oleh geng zervanous."
DEG!