
“vin, ayolah kasihani gue.. cabut lagi keputusan Lo buat gak investasi lagi ke kantor papa.” ucap mingyu mengiba.
Namun Kevin tak perduli, dia tetap fokus pada kerjaannya.
“please Vin, maafin semua kesalahan gue. Gue janji setelah ini gak bakal berurusan apapun lagi sama Mayra, gue kapok Vin.”
Kevin tetap diam tak merespon, membuat mingyu semakin prustasi. Namun tak membuat pria itu menyerah, ia terus membujuknya untuk memaafkannya.
Hingga atensi Kevin terpecah begitu mendengar getaran ponselnya yang terletak di samping laptopnya, Kevin menatap layarnya yang menampilkan nama Sean sebagai pemilik nomor.
Tanpa ragu lagi Kevin meraihnya dan membuka isi chatnya, ia diam sambil keningnya berkerut begitu Sean mengirim sebuah video.
Ibu jari Kevin menekannya dan berputar lah isi videonya, yang mana itu membuat wajah Kevin berubah.
“brengsek!” umpatnya dengan nada tertahan, dan rahangnya mengeras.
Mingyu yang mendengar umpatan Kevin, merengsek mendekat. Matanya menatap ke layar ponsel Kevin yang memutar sebuah video. Disana menampilkan beberapa orang mengerubungi Alya, dan seketika sepasang matanya membola begitu mendengar ucapan kasarnya.
‘wah.. ternyata bukan hanya Mayra saja yang nekad, tapi mereka juga. tapi.. tunggu, kenapa mereka menyebutkan Alya cewek murahan ya? pakem bawa-bawa nama Dylan lagi. atau jangan-jangan..’
BRAK!
mingyu terlonjak kaget dan langsung berdiri tegak saat Kevin menggebrak meja, sejenak mingyu menahan nafas begitu melihat wajah menyeramkan Kevin.
Dalam diamnya, ia tengah merenung.
‘sebenarnya apa hubungan mereka ini sebelum menikah, kenapa Kevin terlihat begitu murka? gak mungkin kan dia memiliki perasaan lebih ke gadis itu? yang gue tau Kevin itu susah dekat dengan wanita.’
Mingyu terus bermonolog, menerka-nerka dan menilai sikap Kevin sekarang. Namun detik berikutnya mingyu di buat panik saat Kevin memegang dadanya dan wajahnya pucat, deru nafasnya juga terdengar tak teratur.
“astaga Vin, Lo kenapa?” tanya mingyu dengan wajah cemas.
Namun Kevin tak merespon, dengan tangan gemetar Kevin membuka laci dan meraih beberapa botol kecil berisi obat. Baru setelah itu mingyu paham, jika penyakit sahabatnya itu sedang kambuh.
Inisiatif Mingyu membantu Kevin membuka tutup obatnya saat sahabatnya itu kesusahan membukanya, meletakkan beberapa butir ke telapak tangannya. Dengan cepat Kevin mengambilnya dan memasukkannya ke mulut, lalu meraih botol minum yang sudah tersedia disana dan meminumnya hingga setengah.
Tangan mingyu menepuk-nepuk pundak Kevin saat pria itu mulai terlihat tenang, namun tetap saja suara nafasnya masih memburu. Setelah merasa lebih baik, Kevin meraih gagang telepon kantor untuk menelpon Kenzo.
“cepat kesini!” ucapnya singkat, padat dan jelas. kemudian kembali menutupnya.
Tak memakan waktu lama Kenzo datang. “ya, tuan.” ucapnya.
Kevin melempar ponselnya ke hadapan Kenzo, dan pria itu dengan sigap menangkapnya kemudian mengeceknya.
“urus--dengan--cepat!” titah Kevin putus-putus.
“baik, tuan. Tapi.. apa anda baik-baik saja?” Kenzo perhatikan wajah Kevin memucat.
“ya!”
“Lo tenang aja Ken, dia udah minum obatnya tadi.”
Mendengar itu membuat Kenzo menghela nafas kemudian mengangguk, Setelahnya Kenzo kembali keluar setelah mengembalikan ponsel kevin ke meja, sementara Kevin kembali meraih ponselnya dan menelpon Sean.
“dimana dia sekarang?” tanya Kevin setelah panggilannya tersambung.
[Nona sekarang berada di cafe depan kampus tuan, bersama dua temannya.]
Kevin nampak menghela nafas sambil matanya terpejam sejenak, dia menyenderkan bahunya di sandaran kursi. Dan semua itu tak lepas dari pantauan Mingyu.
“terus awasi dia, jangan biarkan sendiri kecuali sedang bersama dua temannya.”
[Baik, tuan.]
Setelah itu panggilan terputus, Kevin meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. Kemudian matanya melirik ke samping, dia melihat mingyu tengah menatapnya intens.
“napa Lo liat gue begitu?” tanyanya dengan kening berkerut.
“gak ada, gue hanya heran kenapa Lo terlihat marah banget setelah lihat video tadi. Sampai sampai penyakit Lo kambuh.”
“dasar bego! Jelaslah gue marah, istri gue di hina begitu. Coba kalau bini Lo di gituin, marah gak?” sentak Kevin balik nanya.
Mingyu menggeleng, dengan polosnya dia pun berkata. “gue kan belum ada bini Vin.”
Kevin mendengus kesal. “misalkan bangsat!”
“oh misalkan.. ya jelas marah lah.”
“terus kenapa Lo masih bilang begitu?”
“udah di bilang, gue heran sama Lo, selama ini Lo selalu cuek sama cewek. Bahkan saat tahu Mayra bercinta dengan sanha, Lo diam aja. Tapi saat Alya di hina oleh teman-teman kampusnya, Lo langsung kebakaran jenggot.”
‘ini baru dihina loh, gimana nanti kalau ada yang berani nyentuh dia? bisa-bisa tuh orang hanya tinggal nama!’
Kevin yang mendengar itu diam, dan terlihat salah tingkah. Mata mingyu memicing, menatapnya curiga.
“kenapa diam?”
“bukan urusan Lo! Pergi sana, jangan ganggu gue!” usir Kevin dengan ketus.
“gue gak ganggu tapi pengen tau aja!”
“gak usah kepo, gak semua tentang gue Lo harus tau!”
Mingyu diam sejenak. “jangan bilang Lo ada rasa sama dia?” tebaknya.
“mau gue ada rasa sama dia atau enggak, itu gak ada urusannya sama Lo. Meskipun iya, apa salahnya? Dia bini gue!”
“iya juga sih, tapi gue tau banget Lo kayak apa Vin. Lo tipe pria yang susah buat suka sama seseorang, terlebih ini cewek. Atau jangan-jangan apa yang di ucapkan teman-temannya itu benar ya, dia pakai pelet buat menjerat Lo.”
Mendengar ucapan terakhir mingyu membuat Kevin melayangkan tatapan tajam padanya, wajahnya kembali kaku.
“sekali lagi Lo berani bilang kayak gitu, gue gak akan segan-segan buat bunuh Lo sekarang juga!” desis Kevin dengan penuh ancaman.
“gue kan bicara fakta! Apalagi tadi temannya juga menyebutkan dia pernah tidur dengan Dylan, pasti ya dia se--”
Klik!
DEG!
Ucapan mingyu terhenti, matanya seakan ingin keluar dari tempatnya begitu Kevin membuka laci mejanya dan meraih pistol. Jantungnya berdegup tak karuan saat ujung benda itu mengarah ke keningnya.
“gue udah peringatkan sama Lo ya, jangan menghina istri gue atau nyawa Lo gue hilangin.” desisnya.
Mingyu membisu, ia menelan ludahnya susah payah dengan tubuhnya yang semakin kaku. Kevin memang tak pernah bercanda dengan ucapannya, dan harusnya mingyu tahu akan hal itu. Tapi karena rasa penasarannya, membuatnya lupa.
“O-oke oke.. sorry, gue janji gak bakal menghina dia lagi. Jadi bisa dong Lo jauhin benda ini dari kepala gue? Please Vin, gue belum kawin.”
Tanpa kata Kevin menjauhkan pistolnya dari kepala mingyu dan kembali meletakkannya di tempat semula, dan hal itu membuat mingyu bernafas lega.
‘nyeremin banget sih dia kalo lagi marah, mainnya pistol. udah fix ini mah pasti ada sesuatu terjadi sama mereka berdua sebelum menikah, karena rasanya tak mungkin Kevin bisa semarah itu hanya karena statusnya sebagai istri. ditambah tadi sempat kambuh juga penyakitnya, gue harus cari tahu nih.’
...💐💐💐...
Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan 12 siang. Namun suasana di luar terlihat seperti masih pagi buta, karena cuacanya sedang mendung.
Tak heran, setiap akhir tahun memang selalu seperti ini.
Di dalam cafe, Alya masih bersama kedua sahabatnya. Sejak keributan di kampus tadi Alya memutuskan untuk singgah ke cafe depan kampus, sampai menunggu kelas berikutnya.
Sebenarnya tadi ia mau pulang dulu ke apartemen, niatnya ingin membuatkan makan siang untuk suaminya. Namun begitu mengingat jadwal kelasnya akan di mulai jam 1 siang, ingin menyusul ke kantor pun rasanya tak mungkin. Jaraknya sangat jauh, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Kenzo untuk membelikan Kevin makanan.
Alya bukannya tak mau menghubungi Kevin, dia sudah mencobanya tapi nomornya sedang tak aktif. Dalam pikirannya mungkin suaminya itu sedang sibuk sehingga tak sempat mengaktifkan ponselnya, untungnya nomor Kenzo masih bisa di hubungi dan pria itu mengiyakan perintahnya.
“kelas berikutnya pasti akan berjalan lama.” celetuk Jessica dengan wajah lesu, kepalanya berada di atas meja menghadap ke jendela.
“jelas, karena nanti dosennya adalah miss reni. Males banget!” balas arina dengan wajah di tekuk.
Alya yang mendengar keluhan kedua sahabatnya hanya tersenyum tipis, hal seperti ini sudah biasa baginya.
__ADS_1
Senyap sejenak.
Jessica mengangkat kepalanya saat mendapat ide. “kita bolos aja yuk!” ajaknya.
Plak!
“aduh.. sakit!” pekik Jessica sambil mengusap puncak kepalanya karena kena pukulan dari arina dengan buku paket yang tebal.
“biar tau rasa!” cetusnya.
“tapi gak perlu main pukul aja dong, mana di kepala lagi! Sakit tau!”
“gak usah lebay, orang gue mukulnya pelan kok.” elak Arina.
“bohong banget, gue tau Lo mukulnya pake sekuat tenaga. Awas ya Lo kalau gue geger otak, Lo harus tanggung jawab!”
Arina yang mendengar itu memutar bola matanya malas. “lebay..”
“biarin.. wlee.. eh, tapi seriusan deh kita bolos aja yuk.”
“Gila kali ya Lo, ngajak kok bolos.”
“terus?”
“ya apa kek selain bolos, yang ada nanti beasiswa gue di cabut dari pihak kampus. Lo mah enak ada yang bayar, lah gue. Bisa mampus!”
“yaelah soal masalah itu mah gampang, nanti gue bakal minta papa buat biayain kuliah Lo sampe lulus!”
“kagak.. kagak!” tolak Arina sambil melambai-lambaikan tangannya.
“lah kenapa, kan enak di bayarin. Gue yakin papa juga gak bakal keberatan.”
“sekali enggak tetap enggak ya, nanti akan semakin banyak omongan gak jelas di kampus ini.”
“gak usah pikirin, anggap aja angin lalu.”
“gak ada pokoknya. Gue hanya pengen lulus dengan usaha gue sendiri, tanpa bantuan orang lain. Titik!”
“ya udahlah terselah Lo aja, di tawarin enak kok nolak.”
“gue bukannya mau nolak rejeki ya Jes, gue terima kasih banget sama Lo tapi alangkah lebih baiknya lagi kita gunakan waktu dengan belajar lebih giat lagi. Kalau kebanyakan bolos kasihan orang tua, di tambah nyari kerja di jaman sekarang itu susahnya minta ampun!”
“dia mana paham Rin soal cari kerja, orang duitnya aja udah banyak.” ujar Alya.
“hahaha.. iya juga ya, gak perlu capek-capek kerja karena duit akan datang sendiri padanya.”
Jessica yang mendengar ucapan kedua sahabatnya hanya bisa mengerucutkan bibirnya, dia sebal. meski apa yang di ucapkan mereka memang benar adanya.
“oke.. oke, gue gak bakal ngajak kalian bolos. Gimana kalau abis kelas selesai kita pergi nonton?”
“alah palingan juga Lo mau nonton drakor yang melow-melow gitu, males gue!”
“ya abis gimana, kebanyakan film barunya genre romansa. Yang tembak-tembakan gitu belum ada, oh atau Lo mau nonton film zombie? Lagi hits tuh sekarang.”
“emang ada film barunya? Pemainnya siapa?”
“gong yo.”
“yee.. itu mah film lama bahlul! Yang baru dong.”
“kalo Korea kagak ada, paling film orang barat.”
“ogah ah, paling pas di tengah-tengah ada adegan dewasanya.”
“ya udah Thailand deh.”
“males, kurang seram.”
“indonesia?”
“basi! Alur ceritanya udah bisa di tebak.”
“ya udah Lo nonton Masha and the bear aja, sekalian belajar nyanyi!” tawar Jessica dengan nada setengah jengkel.
“Lo pikir gue anak kecil, nonton kartun begitu?”
“ya salam.. salah mulu. Dah lah terserah Lo aja!”
“udah.. udah jangan berantem, gak malu apa kalian dari tadi di lihatin para pengunjung lain?”
“abisnya dia nyebelin!”
“gue kan hanya bicara fakta, semua film yang Lo tawarin itu gak ada yang seru!”
“udah jangan di bahas lagi, mending kita pesan makan aja yuk. Gak enak tahu dari tadi kita hanya pesan minum doang.”
“iya nih, gue juga udah mulai lapar. Sebelum masuk kelas lagi, gue mau makan banyak. Lo traktir ya Al?”
Jessica yang mendengar itu mencibir. “cih, udah mah makan banyak minta traktiran lagi!”
“biarin.. wle..! Iri bilang.”
“ngapain gue mesti iri, duit gue lebih banyak dari uang Kevin punya!”
“duh.. sombongnya nona muda ini, iya deh iya yang merasa paling kaya! Hahahaha..”
“lagipula traktiran ini Sekalian bayar pajak sebagai tanda jika Alya sudah tak perawan lagi, alias udah bukan gadis lajang.”
“dikira Alya apaan, Pakek bayar pajak segala! Mending cepatan deh panggil pelayan, dari pada banyak nyerocos. Mirip bebek Lo lama-lama.”
“sialan Lo.”
Setelah itu arina segera memanggil waiters dengan cara mengangkat sebelah tangannya, tanpa menunggu lama si waiters pun datang.
Sementara Sean yang duduk agak jauh dari tempat Alya dan kedua temannya duduk nampak senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala, sedari tadi dia sudah mendengar semua celotehan Jessica dan Arina sambil sesekali matanya melirik sekitar.
Sean juga sudah memesan makanan dan minuman, agar bisa leluasa memantau nona mudanya tanpa gangguan.
...💐💐💐...
“ya sudah bapak pamit ya, semoga lekas sembuh.”
Nattan mengangguk. “iya pak, terima kasih sudah datang menjenguk.”
“sama-sama. Setelah ini jagalah kesehatanmu, kasihan anakmu. Dia pasti kesusahan di kantor padahal itu bukan bidangnya.”
Nattan nampak menghela nafas, raut wajahnya berubah sendu.
“itulah yang saya pikirkan sekarang pak, saya merasa bersalah sama jeni. Cita-citanya adalah ingin menjadi desainer, tapi saya malah menariknya ke dunia bisnis.”
“maka dari itu cepatlah sembuh, agar kita bisa bekerja sama lagi.”
“pasti pak, terima kasih.”
“sama-sama.”
Setelah itu Kakek Rusman keluar dari ruang perawatan Nattan sambil menggenggam ponselnya, ia tengah menelpon Sarah agar segera menyusul. Ia menelusuri lorong rumah sakit yang terlihat sepi itu sambil menelpon.
“halo nak, kamu dimana?”
[Aku masih ada di kantin pa, papa udah selesai?]
“iya.”
[Ya sudah, Sarah kesana sekarang. Papa tunggu aja.]
“enggak, papa akan turun ke lobi aja. Kamu tunggu saja disana.”
[Baiklah.]
__ADS_1
Panggilan bersama Sarah pun terputus, kakek Rusman kembali menelpon.
[Halo pak.] Terdengar suara di seberang sana.
“ya, apa ada kabar baru lagi?”
[Belum ada pak, kata anak buahku pak adinata dan anaknya masih beraktivitas seperti biasanya. Begitu pun dengan istrinya, Tak ada tanda-tanda sedikitpun tentang cucu Anda]
“begini Adnan.. tadi saya dapat info dari Nattan jika kemarin dia melihat gadis muda yang mirip sekali dengan Vanessa, saya curiga dialah cucuku.”
[Benarkah, pak Nattan lihatnya dimana?]
“di rumah sakit pelita kasih, katanya gadis itu baru saja keluar dari ruangan dokter syaraf bersama seorang pria muda berjas. Jadi saya minta, cari informasi itu semua. Saya yakin jejak mereka kerekam kamera cctv.”
[Baiklah pak, akan saya urus.]
“ada satu lagi.”
[Apa itu?]
“cari informasi tentang artis bernama Selena kharisma Putri.”
[Selena kharisma Putri? Siapa dia pak?]
“kata Nattan anak sulung Ferdi bernama Selena, dan nama artis itu sama seperti namanya.”
[Baiklah pak, saya paham. Saya akan cari informasinya sampai ke akar-akarnya.]
“terima kasih Adnan, dan tolong.. jangan pernah kasih tahu apapun hal ini sama bobby.”
[Bapak tenang saja, saya tak akan bicara apapun padanya.]
...💐💐💐...
“tuan saya dapat amanah dari nona muda untuk membelikan anda makan siang, tapi saya harus bertanya dulu sama anda mau makan apa.”
Kevin yang kala itu baru saja keluar dari ruang rapat dan mau masuk ke lift seketika berhenti setelah mendengar ucapan kenzo.
2 jam yang lalu Kevin, Kenzo beserta para staf lainnya sedang menjalani rapat, dan baru selesai sekarang.
“apa dia menghubungimu?” tanya Kevin seraya menoleh ke Kenzo.
“iya tuan, lewat chat. nona sudah berusaha menelpon anda, tapi nomor anda tidak aktif.” jawab Kenzo.
“ah.. iya, hp gue tinggal di ruangan dan kayaknya lowbet.” ucap Kevin, ia masih ingat terakhir kali di tinggal ponselnya masih menyala dengan daya baterai rendah.
kemudian Kevin kembali melangkah dan masuk lift, di ikuti oleh Kenzo. Sementara staff lainnya masuk lift khusus pegawai.
“setelah ini jadwalku apa?” tanya Kevin lagi seraya melirik arlojinya.
“tak ada tuan, hanya pengecekan biasa.”
“baiklah.. lalu, apa alya masih di cafe?”
“iya tuan.”
Kenzo berani jawab seperti itu karena posisi alya memang masih berada disana, itu menurut GPS yang ada di ponselnya.
Kevin diam sejenak. “ya udah nanti Lo belikan gue makanan yang sering gue makan aja.”
“baik, tuan.”
Ting!
Pintu lift pun terbuka, Kevin dan Kenzo bergegas keluar dan masuk ke ruangan masing-masing. Di ruangannya Kevin langsung meraih ponselnya, dan benar dugaannya jika ponselnya mati. Dia pun langsung menchargernya, kemudian menyalakan laptopnya.
Perlu beberapa menit Kevin menunggu ponselnya terisi baterai, dirasa cukup Kevin menyalakannya. Dia berniat akan video call dengan istrinya itu, sekaligus ingin melihat kondisinya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, tapi dia menginginkan itu.
Begitu ponselnya sudah menyala, Kevin segera mencari kontak Alya dan menelponnya.
Sementara itu di cafe, arina dan Jessica saling lirik-lirikan begitu ponsel Alya bergetar dan menampilkan nama Kevin. Sedangkan si pemilik ponsel sedang pergi ke toilet.
“angkat gak nih?” tanya Jessica.
“janganlah, gak sopan!” jawab Arina.
“tapi kasihan, Kevin pasti nungguin.”
“biarin aja, nanti juga telpon lagi.”
“tapi..”
“udah jangan tapi-tapian, ini privasi antar suami istri. Jomblo gak boleh usik!”
“is.. gak sadar diri. perlu di garis bawahi, kita berdua ini sama-sama jomblo!”
“maka dari itu.. udah, makan makan..”
Pada akhirnya kedua gadis itu mengabaikan ponsel Alya yang terus bergetar, namun percayalah tatapan mereka tak pernah lepas dari benda pipih itu.
Satu menit setelahnya Alya sudah kembali dari toilet dan duduk di kursinya.
“eh, Al tadi lakik Lo vc.” ucap Jessica memberi tahu.
“oh iya?” kaget Alya, segera dia pun meraih ponselnya dan memang benar ada 1 panggilan tak terjawab dari kontak Kevin lewat WhatsApp.
Alya langsung vc balik nomor Kevin, sedetik kemudian Kevin mengangkatnya. Ia melihat suaminya itu sedang bersandar di sandaran kursinya dengan dasi longgarnya, dan wajahnya nampak lelah.
“halo Vin, maaf gak ke angkat telponnya tadi aku lagi ada di toilet.”
[Hmm..]
Sebelum kembali bersuara, Alya meletakkan ponselnya di meja. Menjadikan kotak tisu sebagai penyangga, sehingga ia bisa leluasa melanjutkan acara makannya.
“udah makan siang?” tanya Alya seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
[Belum, Kenzo lagi beli makanannya. Soalnya tadi abis selesai rapat]
“oh gitu.. maaf ya udah ganggu, aku cuma mau ingetin kamu aja. Tadi pagi kan kamu gak sarapan, jadi sekarang aku ingetin biar gak lupa.”
[Hmm.. Tadi pagi aku buru-buru pergi ke rumah, mau bicara sama bang Rafa sekalian nganterin mereka ke bandara]
Alya yang mendengar itu manggut-manggut, soal kepulangan kakaknya Alya memang sudah tahu tapi dia tak tahu jika Kevin akan pergi ke sana.
“harusnya tadi pagi kamu ajak aku juga dong Vin, aku kan pengen ngantar juga.” Rajuk Alya.
[Kamu kan ada jadwal masuk pagi, mana sempat.]
“iya sih..”
[Kamu lagi ada dimana?]
Kevin pura-pura bertanya agar Alya tak curiga, padahal dia sudah tahu.
“lagi di cafe depan kampus. Oh iya nanti aku ijin ya mau ajak Jessica dan arina main ke apartemen, gak apa-apa kan?”
[Gak apa-apa, asal jangan bikin rusuh.]
Jessica dan arina yang mendengar itu dengan kompak muncul, dan berkata.
“Lo tenang aja Vin, gue gak bakal bikin rusuh apartemen Lo tapi mau bikin dapur Lo kosong melompong!” cetus Jessica.
“gue juga mau kuras semua duit Lo yang ada di ATM buat belanja cemilan, biar Lo miskin!” sahut arina dengan nada judes.
Bukannya merasa kesal, Kevin malah tertawa lepas. Yang mana itu membuat kedua gadis itu bengong sejenak, beda halnya dengan Alya yang nampak biasa saja.
“silahkan saja, puas-puasin deh!”
‘si kutub Utara sudah mencair.’
__ADS_1
‘pawangnya sudah kembali, maka dia dia pun kembali melunak.’