TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 37~Rencana Jahat Mayra


__ADS_3

Hari semakin naik pada peraduannya, langit yang cerah dan terik kini berubah kuning keemasan pertanda hari akan berganti malam.


Alya membuka matanya perlahan, hanya kegelapan yang dia lihat. Gadis itu mendadak panik, dadanya juga merasakan sesak serta tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin, padahal kamar itu full-AC.


“Kevin..” gadis itu memanggil nama suaminya, namun tak ada jawaban.


Alya tidak mengetahui satu hal jika kamar itu kedap suara, mau sekeras apapun dia berteriak orang luar tak akan bisa mendengarnya.


‘tenang Alya, tenang.. semuanya akan baik-baik saja.’ gumamnya dalam hati.


Perlahan-lahan gadis itu bangun dari pembaringannya, tangannya meraba-raba kasurnya untuk mencari ponsel. Tapi tak dia temukan, lalu dia pun meraba ke meja nakas berharap benda pipih itu ada disana.


Brak!


Prank!


Bug!


Terdengar suara berisik dan itu berasal dari lampu tidur dan pecahan gelas yang jatuh akibat ulahnya. Mendengar itu Alya yang tadinya ingin menurunkan kakinya akhirnya tak jadi, dia takut kakinya terluka karena pecahan barang-barang itu.


“Shhh..” ia mendesis saat merasakan ujung jari telunjuknya perih, dan dia juga merasakan cairan keluar dari sana.


Dengan keadaan kamar gelap tanpa pencahayaan apapun, Alya tetap terus mencari ponselnya. selimut dan bantal dia sibak dengan tergesa-gesa, Hingga akhirnya benda itu dia temukan di sudut ranjang paling pojok.


Dengan cepat dia pun meraihnya dan menyalakan senter, menyoroti seluruh kamarnya. Tak jauh dari ranjangnya Alya melihat pecahan lampu dan gelas sudah berserakan di lantai.


Alya menggeser posisi duduknya ke samping, menurunkan kedua kakinya kemudian berdiri. Tangan yang masih menggenggam ponsel dia soroti ke tembok untuk mencari saklar lampu, saat sudah ditemukan dia langsung menyalakannya.


Klek!


Lampu pun menyala, Dan kini dia sudah bisa bernafas sedikit lega karena kamarnya sudah terang benderang. namun tubuhnya masih gemetaran, dia kembali meringis saat rasa perih itu datang. Dan Benar saja, jarinya memang terluka. Ada luka sobekan yang menganga hingga darahnya keluar banyak.


Lalu matanya melirik ke dekat ranjang, disana dia melihat benda-benda yang sudah dia jatuhkan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah sekaligus takut karena sudah merusak lampu tidur yang terbuat dari kristal. Pasti setelah ini suaminya akan memarahinya.


“Mana keliatannya mahal banget lagi.” gerutunya.


gadis itu melirik ke jam dinding dan dia pun terperanjat kaget, disana sudah jam setengah enam.


“ya ampun, aku hampir telat!” Pekiknya.


Alya teringat acara pesta pernikahan kakaknya akan berlangsung jam 8 malam, tapi sekarang sudah setengah enam dan dia belum siap-siap.


“bodoh! Kenapa tadi sampai ketiduran coba!” rutuknya.


Sejak suaminya pergi dari kamarnya, Alya memang tak keluar kamar hingga siang, itu pun karena di panggil pelayan untuk makan. Kevin tak ada disana, katanya pria itu pergi bersama kenzo.


Selepas makan siang Alya kembali ke kamar sambil membawa gelas air putih, dia menonton Drakor hingga ketiduran dan baru jam segini dia bangun.


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan, Alya segera jalan kesana dan membuka pintu. Disana dia melihat sosok Kenzo sudah memakai pakaian formal sambil mentengteng beberapa paperbag.


“Nona, Saya hanya ingin kasih ini.” Ucapnya.


“A-apa itu?” Tanya Alya tergagap.


“gaun, perhiasan dan alat makeup untuk nona kenakan malam ini.” Saut Kenzo, sorot mata pria itu memperhatikan wajah Alya yang pucat, kening dan lehernya nampak basah oleh keringat.


Alya yang mendengar itu manggut-manggut, dia ingin meraih apa yang Kenzo bawa namun aksinya terhenti saat Kenzo kembali bersuara.


“tunggu dulu, Ada apa denganmu nona? Kenapa wajah nona pucat sekali? Dan kenapa anda begitu berkeringat? Apa AC dikamar ini mati?” Tanya Kenzo bertubi-tubi dengan wajah cemas.


Pria itu ingin masuk ke dalam kamar, berniat memeriksa. namun langsung dicegah oleh Alya, Dan hal itu membuat Kenzo mengernyit heran.


“Ti-tidak apa-apa kok, AC di kamar ini juga masih menyala.” Elaknya.


“Terus kenapa anda berkeringat begitu?” Tanya Kenzo lagi.


Alya diam, dia berusaha mencari kata yang pas untuk menjawab.


“Ah.. t-tadi aku abis maraton nonton MV KPop sambil ikutan ngedance juga, jadinya aku keringatan! Yah.. karena itu. Hehehe..”


Hanya kata itu yang melintas di otaknya dan bisa dikatakan masuk akal, tapi gadis itu lupa jika kakinya masih cedera. Apa mungkin bisa orang yang kakinya terluka bisa ngedance? Orang di bawa jalan aja dia mesti pelan-pelan.


“Ngedance? Bukankah kaki nona masih belum sembuh?” Mata pria itu memicing curiga.


DENG!


“I-itu.. eeuu.. itu.. k-kaki aku udah gak terlalu sakit kok. Udahlah Ken, aku gak apa-apa kok.”


Alya terus saja beralasan baik-baik saja, padahal Kenzo tahu tubuh istri tuan mudanya itu sedang gemetaran.


“Nona yakin tidak apa-apa?” Tanya Kenzo sekali lagi.


“Iya, aku baik-baik saja kok. Ini mukaku pucat karena habis bangun tidur aja dan belum sempat cuci muka. Malah tadi langsung nonton dan joget.” Jawab Alya.


Kenzo yang mendengar itu menghela nafas lalu mengangguk pura-pura percaya dengan ucapannya, mungkin nanti dia akan memeriksanya lewat rekaman cctv kamar tersebut.


Dan satu hal yang pasti, lagi-lagi Alya tak tahu jika kamar yang dia tempati sudah terpasang kamera cctv yang langsung menyambung ke ponsel Kevin dan tablet Kenzo.


“Sebaiknya nona siap-siap sekarang.” Ucap Kenzo seraya menyerahkan barang bawaannya.

__ADS_1


Alya menerima semua paperbag itu seraya mengangguk mengiyakan, setelah itu kenzo pergi.


Setelah kepergian Kenzo, Alya menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya. Jalan mendekat ke ranjang, menaruh semua paperbag itu dan ponselnya disana.


Sebelum masuk ke kamar mandi, Alya mengambil ranjang sampah yang ada di dekat meja belajar. Dengan hati-hati dia mengambil satu persatu pecahan beling yang berukuran besar itu lalu di masukkan ke keranjang.


Karena tak ada sapu, akhirnya Alya memakai sapu tangannya yang dia ambil dari tas kuliahnya dan dia juga mengambil beberapa lembar tisu sebagai tempat tampung pecahan beling yang ukurannya kecil.


Dengan telaten tangannya mengelap lantai itu hingga kembali bersih, begitu selesai dia gulung tissu dan sapu tangan itu lalu membuangnya ke keranjang sampah.


setelah itu ia langsung melipir pergi ke kamar mandi.


30 menit kemudian Alya keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit sebatas dada dan panjangnya hanya sampai setengah pahanya, rambut panjangnya dia Cepol ke atas.


Alya jalan mendekati kopernya yang berada dekat lemari besar, lalu membukanya untuk mencari pakaian dalamnya.


Setelah di dapat Alya langsung melepas handuk itu hingga jatuh ke lantai, hingga terpampanglah tubuh polosnya.


kebiasaannya setiap mau berganti pakaian selalu dengan keadaan bugil, Lagipula disana dia sendirian dan pintu pun sudah di kunci, jadi tak ada yang tahu dengan kegiatannya itu.


Itu menurutnya.


Selesai memakai cd dan bra, Alya jalan ke ranjang. Membuka satu persatu isi paperbag itu. Disana ada gaun warna putih, sepatu, kotak makeup dan satu set perhiasan


gaun pesta tanpa lengan yang panjangnya sampai mata kakinya itu sudah terpasang di badannya, sangat pas dan nyaman. Selepas itu dia jalan ke meja rias sambil membawa kotak makeup dan kotak perhiasan, meletakkan dua benda itu di meja lalu dia duduk di kursi depan meja rias dan dia pun mulai menggunakannya.


Sekitar hampir setengah jam kemudian Alya sudah selesai berdandan, wajah dan rambut panjangnya sudah dia tata dengan baik. dia menatap pantulannya di kaca meja rias, Memutar tubuhnya kiri kanan dan memeriksa riasan wajah dan rambutnya, dia juga memeriksa sepatu dan perhiasan yang kini sudah melekat di leher, telinga dan jarinya.


‘semuanya sudah beres, tinggal berangkat.’ gumamnya dalam hati sambil tersenyum di depan cermin.


Dia pun meraih tas Selempangnya, menyampir talinya ke bahunya kemudian berlalu keluar kamar.


Bersamaan dengan itu nampak Kevin menaiki anak tangga dengan kedua tangan melipat di perut, dia menatap penampilan istrinya dari atas sampai ke bawah.


Jangan harap Kevin akan terpesona, kenyataannya pria itu nampak datar-datar saja. Malah terkesan seperti sedang kesal, entah karena lama menunggu atau karena hal lain? Entahlah.


“Lama banget sih? Gak lihat sekarang jam berapa?” Ucapnya ketus sambil menunjukkan arlojinya ke wajah Alya.


Penampilan Kevin saat itu sangat gagah, pria itu memakai kemeja warna putih dan setelan jas warna hitam sebagai pelengkap. Tak lupa juga dasi kupu-kupu yang senada dengan jasnya. Rambut tebalnya yang sebelumnya panjang kini sudah tak ada lagi, pria itu sudah memotongnya dengan gaya seperti idol Korea. Di bagian depannya menyisakan sedikit rambut poni belahnya untuk menutupi sebagian jidat dan kedua alisnya.


“maaf Vin tadi tuh aku ketiduran, dan baru bangun sore tadi.” Cicit Alya.


“Alasan aja kamu tuh, udah ah cepat! Dari tadi mama dan grandma udah nelpon terus tau.” Omel Kevin seraya menarik lengan istrinya jalan turun tangga.


“Pelan pelan aja Vin, kaki aku masih kerasa nyeri.”


“Salah sendiri kenapa gak mau nurut apa kata suami! Sekarang tanggung sendiri akibatnya!”


...💐💐💐...


Sementara itu di kediaman keluarga Herlambang nyonya Desti sedang berusaha membujuk Mayra agar jangan datang ke acara pesta pernikahan Rafael dan Selena.


Sesaat yang lalu nyonya Desti datang ke kamar putrinya, niatnya ingin memanggilnya untuk makan malam. Namun yang dia lihat putrinya itu sedang berdandan dengan memakai gaun pengantin.


Pas di tanya, wanita itu menjawab akan menghadiri pesta pernikahan Rafael dan Selena.


Pesta pernikahan yang awalnya untuk dirinya dan Kevin, kini berubah menjadi pesta pernikahan Rafael dan Selena.


“Udahlah sayang kamu gak usah datang kesana, buat apa coba? Yang ada nanti kamu sakit hati karena melihat Kevin dan istrinya.” Ucap nyonya Desti berusaha menahan putrinya untuk tidak hadir ke pesta pernikahan Rafael dan Selena.


Mayra yang kala itu sedang bersolek di depan cermin meja rias melirik sekilas ke arah mama-nya yang berdiri di belakangnya lewat kaca.


“Gak bisa ma, aku harus datang dan aku harus bisa merebut kembali Kevin dari cewek kampung itu!” Serunya.


“Ya ampun Mayra, mereka itu udah nikah. Udahlah lupain aja Kevin, kamu masih bisa cari pria lain. Masih banyak kok laki-laki diluar sana yang mau sama kamu!”


“Gak mau! Aku maunya sama Kevin, gak mau yang lain.”


Nyonya Desti mendengkus, sebegitu cintanya kah putrinya pada Kevin, sehingga dia harus melakukan segala cara untuk mendapatkannya?


“May--”


“Ma, please jangan larang aku!” Potong Mayra cepat.


“Oke, baiklah. kamu boleh datang kesana tapi ganti dulu gaun kamu itu, Masa iya kamu datang ke pesta pakai gaun pengantin, nanti disangkanya kamu yang akan nikah.”


Mayra yang mendengar itu nampak tersenyum. “Memang sengaja aku pakai gaun ini, biar Kevin bisa nikahin aku.”


Nyonya Desti nampak tercengang dengan penuturan Mayra.


“Astaga Mayra.. apa kamu sudah tidak waras!” Seru nyonya Desti, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya itu.


“mama mengataiku gila?” Cetus Mayra sambil menghentikan gerakan tangannya.


Wanita itu tak terima di katain gila, apalagi kata itu keluar dari bibir ibunya sendiri.


“Gak, bukan begitu sayang tapi..”


“Tapi apa? Mama pikir aku tuli sehingga aku tidak dengar ucapan mama tadi, hah!” Ucap Mayra marah, lewat kaca dia menatap murka wajah mama-nya.


“Maksud mama gak begitu nak..”

__ADS_1


“udahlah! Dari pada bikin aku emosi terus, Sebaiknya mama pergi aja deh dan jangan ganggu aku!” Sentak Mayra.


Nyonya Desti menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya. Menatap wajah cantik putrinya dengan pandangan nanar.


“Mama paham apa yang kamu rasakan nak, tapi Apa yang akan kamu lakukan ini tidak benar. Kamu akan di cap jelek oleh media kalau sampai melakukan itu.” Ucap nyonya Desti lirih.


“Aku tidak perduli dengan semua itu, yang aku inginkan hanyalah Kevin menjadi suamiku!” Keukeuh Mayra.


“Tapi-”


“KELUAR!” teriak Mayra lantang, dan itu membuat nyonya terperanjat kaget.


Tanpa berucap apapun lagi nyonya Desti berlalu keluar dari kamar Mayra.


Sedangkan Mayra sendiri kembali sibuk dengan alat makeup, wanita itu sudah memakai gaun panjang warna putih yang ternyata memang gaun pengantinnya.


Mayra memang ada keinginan untuk menyeret ke altar dan memintanya untuk menikahinya di depan umum, terlebih disana pasti ada banyak wartawan yang meliput. Dengan begitu Kevin nanti tidak akan bisa menolaknya.


Mayra nampak tersenyum lebar saat rencana itu muncul di otaknya, dan dia jamin kali ini akan berhasil.


“Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku Vin, baik cewek kampung itu atau wanita lain tak ada yang bisa merebutmu dariku!”


Pandangan Mayra teralihkan saat mendengar deringan ponselnya yang dia letakkan di sana, jemari lentiknya meraih benda itu lalu menggeser tombol hijau saat melihat siapa yang menelponnya.


“Halo..”


[Kamu sudah siap?] Tanya seseorang di seberang sana, suara laki-laki.


“Ya, aku sudah siap.” Saut Mayra.


[Hm.. 5 menit lagi aku sampai.]


“Oke, aku tunggu.”


Setelah itu panggilan berakhir, Mayra kembali menaruh ponselnya ke tempat semula.


...💐💐💐...


“Bagaimana penampilanku?” Tanya Mayra pada sosok laki-laki di depannya saat sudah berada di lantai bawah.


“Cantik sih, tapi apa Kamu gak salah pergi dengan penampilan begini?” Tanya balik pria itu dengan kening berkerut, wajah tampannya menatap wanita itu heran.


“Kenapa memangnya, salah?” Suara Mayra terdengar ketus, wajahnya nampak judes.


“Ya jelas salahlah, orang yang nikahnya bukan kamu.” Ujar pria itu sambil terkekeh geli.


Pria itu merasa lucu dengan penampilan Mayra sekarang, wanita itu memakai gaun yang di pantaskan untuk pengantin wanita.


Mendengar itu Mayra nampak tersenyum. “Bukan hanya artis itu saja yang jadi pengantin malam ini, tapi aku juga akan menjadi pengantin.”


Kekehan pria itu seketika berhenti. “Hah! Maksudnya?”


“Kevin pasti akan datang ke pesta itu kan?”


“Pastilah, kan ini nikahan kakaknya. Udah pasti dia datang.”


“Nah itu dia makanya aku berdandan seperti ini.”


Pria itu diam sejenak sambil mengernyit, masih belum paham dengan ucapan Mayra.


“Jangan bilang kamu..”


“Aku akan menyeret paksa Kevin ke altar dan disana aku akan memintanya untuk menikahiku.”


Mendengar penuturan Mayra, pria itu nampak terkejut.


“Kamu gila! Gak mungkin Kevin mau melakukan itu! Apa kamu sudah lupa bagaimana sifatnya?”


“Aku tak perduli, aku tetap akan memaksanya menikahiku!”


Nyonya Desti dan tuan Ryan yang kala itu berada diruangan sebelah mendengar semua ucapan Mayra, mereka saling pandang dengan wajah kaget.


Namun sedetik kemudian tuan Ryan nampak tersenyum, dia pun mendekati sang putri.


“Bagus sayang, lakukan saja. Papa akan mendukungmu.” Ucap tuan Ryan yang mampu membuat nyonya Desti dan pria tampan itu tersentak kaget.


“Papa! Apa-apaan kamu ini, kenapa kamu malah mendukung niat buruk Mayra!” Teriak nyonya Desti sambil berjalan cepat ke ruang tamu.


“Sekarang kalian pergilah.” Ucap tuan Ryan yang menghiraukan ucapan sang istri dan malah menyuruh Mayra dan pria itu untuk segera pergi.


Mayra tersenyum senang karena rencananya di dukung oleh papa-nya. “Makasih pa, doakan aku ya semoga berhasil.”


Tuan Ryan mengangguk sambil tersenyum. “Iya nak, pergilah. Doa papa selalu menyertaimu.”


Pria tampan yang tak lain adalah Mingyu itu menatap ke arah tuan Ryan dengan tatapan tak percaya, dia tak habis pikir kenapa ada ayah yang membiarkan anaknya untuk memaksa laki-laki yang sudah punya istri menikahinya juga.


‘ayah dan anak, sama-sama gila!’ gumam mingyu dalam hati.


“Ayo.” Ajak Mayra menarik tangan mingyu untuk pergi.


Mingyu tak menolak ataupun mengiyakan, dia hanya diam saja dan menuruti keinginan gadis gila itu. Dalam hati mingyu meyakini jika rencana Mayra tak akan berhasil, mana mungkin sahabatnya itu mau menikahinya. Dirinya saja yang sedikit menghina istrinya langsung di usir dan melarangnya untuk datang lagi ke apartemennya, bagaimana Mayra yang ada niatan ingin membuat onar. Entah apa yang akan Kevin lakukan, mingyu tak berani membayangkannya.

__ADS_1


__ADS_2