
{Mas lagi apa sekarang? Kenapa teleponku gak di angkat?.. aku kangen mas.}
Pandangan Selena tak bisa berpaling dari ponsel Rafael, terlebih saat tak sengaja membaca pesan yang dia sendiri tahu siapa pengirimnya. Selena tak perlu bertanya, karena dari nama kontaknya saja ia paham jika Rafael dan Renata masih berhubungan.
Memang, selain notifikasi pesan tersebut, ada juga notifikasi 5 kali panggilan tak terjawab dan itu dari kontak yang sama. Namun yang membuat Selena heran, kok bisa Rafael masih mau berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Padahal menurut penilaiannya selama ini, Rafael tidak terlihat tertarik lagi dengannya. Bahkan, lebih ke acuh setiap mereka tak sengaja bertemu.
Atau.. mungkin selama ini dia hanya pura-pura saja?
Terus, jika Rafael masih mencintainya kenapa memilih untuk menikahinya dan mengaku ayah dari bayinya? Padahal jelas-jelas ia tahu ayah biologisnya adalah suami dari wanita yang ia cintai, seharusnya dia harus membencinya kan?
“apa jangan-jangan dibalik ini semua ada sesuatu yang sedang ia rencanakan? Apa dia sedang bekerjasama dengan Renata untuk mencelakai bayiku?”
Memikirkan itu Selena langsung menggeleng, seraya kedua tangannya memeluk perut buncitnya. Pikiran buruknya sudah menguasai dirinya, sehingga merasuki akal sehatnya.
“ternyata kamu sama jahatnya sama mereka mas. tidak! I-ini tak boleh terjadi, aku harus bisa melindungi anakku dari bahaya.” gumamnya sambil terus menggeleng, nampak bola matanya berubah sedikit merah.
Cekrek!
Tak lama berselang terdengar suara pintu terbuka, Selena segera menoleh dan melihat Rafael datang sambil membawa segelas susu. Pria itu jalan mendekatinya, dan selama itu pandangannya tak lepas dari wajah tampannya. Jika biasanya Selena akan senang atas kehadirannya, tidak untuk sekarang. Ia takut.
Wanita itu menggeser posisi duduknya dengan gerakan cepat, seraya matanya menatap was was ke arah Rafael. Membuat Rafael yang melihat itu kaget, ia pun mempercepat langkahnya dan memperingatinya.
“hati-hati Lena.”
Biasanya Selena akan langsung merespon, namun kini ia hanya diam saja. Wanita itu sudah di kuasai oleh pikirannya sendiri, sangat meyakini jika sikap baik dan perhatian yang selama Rafael tunjukkan padanya hanyalah tipuan belaka.
“kamu kenapa Len, sakit?” tanya Rafael, iris mata sipitnya memperhatikan wajah istrinya yang merona.
Selena hanya menggeleng. Rafael tersenyum lega, lalu ia duduk di bibir ranjang, tepat di depan Selena. “ya sudah, sekarang minum susunya dulu ya. Baru setelah itu tidur.” ucapnya, seraya menyodorkan segelas susu yang ada di tangan kirinya.
Selena tak langsung bergerak, bola matanya melirik gelas tersebut dan lagi-lagi dalam otaknya muncul pikiran buruk. Ia beranggapan di dalam susu itu sudah di campuri sesuatu, yang bisa menyakitinya. Atau yang paling parah bisa membunuhnya.
“aku gak mau minum susu itu!” tolaknya, seraya mendorong gelas tersebut.
Rafael mengernyit. “kenapa?”
“karena di dalam susu itu sudah kamu campuri racun!”
Kernyitan di kening Rafael semakin dalam begitu mendengar ucapan sang istri, ia tak paham kenapa tiba-tiba Selena bisa berkata begitu.
“kamu ini bicara apa sih, racun apa yang kamu maksud?”
“kamu ingin meracuni aku kan mas, kamu ingin membunuhku dan anak ini kan?”
Rafael terhenyak mendengar itu, matanya pun sedikit melebar.
“astaga Selena, kenapa kamu bisa berkata begitu. Aku gak--”
“udahlah mas, akui saja semuanya. Aku sudah tahu kok.”
“Len, aku benar-benar gak paham apa maksudmu?”
“jangan pura-pura lagi mas, sudahi sandiwara ini. Aku tahu kamu dan Renata sedang bekerja sama untuk membunuhku dan anak ini kan, iya kan?”
Rafael nampak menggeleng, segera ia pun menaruh gelas yang ia pegang ke meja nakas, lalu beringsut mendekati Selena. Namun istrinya itu malah langsung mendorongnya.
“lena tenanglah, sebenarnya kamu ini kenapa?” tanyanya seraya kembali mendekat, dan Selena kembali menghindar.
“menjauh mas!” pekik Selena Seraya menyingkirkan tangan Rafael yang ingin merengkuhnya.
“tidak akan, sebelum kamu jelaskan!”
“apa yang harus aku jelaskan mas, semuanya udah jelas! kalian semua jahat, kenapa--”
“SELENA CUKUP!” teriak Rafael lantang, dan hal itu berhasil membuat Selena terdiam.
Di detik berikutnya Rafael menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya sejenak, ia kembali menatap sang istri.
“sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa kamu tiba-tiba begini. Hem? Coba jelaskan sama aku?” ujarnya dengan suara lembut.
Selena tak langsung menjawab, ia menatap Sejenak wajah suaminya sebelum akhirnya ia bergeser menjauhinya. Hingga akhirnya ia tak bisa berkutik lagi, saat punggungnya sudah mentok ke sandaran ranjang.
“s-seharusnya kamu yang harus menjelaskan mas, bukan aku!”
“menjelaskan apa? Memangnya apa yang aku berbuat?”
“jangan pura-pura lagi mas!”
“aku sedang tidak pura-pura selena, aku memang tak--”
“kamu masih ada hubungan kan sama Renata?”
DEG!
Seketika itu pula wajah Rafael nampak kaget, namun detik berikutnya ia kembali menormalkannya.
“tidak ada!” ucapnya singkat.
“jangan bohong mas, akui saja.”
“itu sudah jujur Selena, kamu sendiri tahu semenjak dia menikah dengan Chandra, aku udah gak mau berurusan sama dia lagi.”
“mungkin di awal-awal memang iya, tapi tidak dengan sekarang.”
“Len--”
“gak apa-apa mas, akui saja kalau kamu masih mencintainya.”
Rafael tak lagi buka suara, namun tatapan matanya begitu tajam menghunus ke netra Selena. Seakan dari tatapan itu Rafael ingin menyampaikan sesuatu, namun sayangnya Selena tak tahu itu.
...💐💐💐...
Sementara itu di Indonesia, lebih tepatnya di kota hujan. Kevin dan yang lainnya sedang menikmati makan malam di sebuah restoran, yang cukup terkenal di kotanya.
__ADS_1
Alya nampak lahap menyeruput kuah soto ayam yang dia pesan, uap putih menyembul di dalam mangkok tersebut pertanda jika makanan itu masih panas.
Sedangkan Kevin juga sibuk dengan makanannya, namun matanya sesekali memperhatikan sang istri. Dalam diamnya ia menggerutu kesal, karena Alya menolak makan nasi dengan alasan sudah kenyang.
Padahal Kevin sendiri tahu istrinya itu sejak siang belum makan, hal itu ia ketahui dari arina. Secara diam-diam ia menghubunginya lewat chat dan menanyakan aktivitas Alya selama di kampus, dan benar dugaannya. Alya memang belum makan sejak siang.
Sementara di sudut lain, ada Jeniffer yang sedari tadi menatap pasutri itu dengan tatapan sinis. Ia merasa kesal karena sejak awal pesanan mereka datang, Kevin tak memindahkan fokusnya dari Alya.
Beberapa kali Jenifer mengajak Kevin mengobrol, berharap pria itu berpaling sejenak. Kevin memang meresponnya, namun tidak dengan posisi duduknya. Pria itu tetap menghadap ke arah sang istri, dan membelakangi semua orang.
“menyebalkan!” desisnya.
“Aduh!”
Di bawah meja ia menghentak-hentakkan kakinya, meluapkan kekesalannya. Hingga tanpa sadar ia menendang tulang kering Kenzo. Tentu saja hal itu membuat semua pasang mata yang ada disana tertuju ke arahnya, termasuk pasutri itu.
“kenapa kak?” tanya Alya.
Kenzo tak langsung menjawab, ia meringis kesakitan. Tatapan matanya mengarah ke Jeniffer yang duduk tepat di hadapannya, wanita itu langsung melotot. Seakan lewat itu ia memberi kode untuk diam, Kenzo yang paham pun mendengus, lalu menoleh ke Alya.
“tidak apa-apa nona, kaki saya tiba-tiba keram saja.” jawabnya.
“kok bisa?”
“kurang tahu nona, tapi nona tenang saja saya masih bisa jalan kok.”
Alya nampak mengangguk mengerti, lalu kembali menyantap makanannya. Begitu pun dengan yang lainnya. Setelahnya Suasananya kembali damai, hanya terdengar suara garpu dan sendok yang bergesekan dengan piring. Tentunya suasana ramai khas restoran.
Hingga beberapa menit setelahnya acara makan malam itu pun usai, dan orang pertama yang makanannya habis adalah Sean. Karena ia memang pesan makanan yang porsinya sedikit.
“aku mau ke toilet dulu.” pamit Alya sebelum akhirnya ia berdiri setelah melihat anggukan Kevin.
“jangan lama-lama ya.” pesan Kevin.
“iya.”
Alya sudah berbalik badan dan siap melangkah, namun aksinya itu terhenti begitu Jeniffer bersuara.
“aku ikut.” lalu Jenifer bangun dari duduknya, dan melangkah menyusul Alya.
Sean yang melihat itu ingin menyusul, namun langsung di cegah oleh Kevin.
“tapi tuan, nona..”
“mereka bakal masuk ke toilet cewek, dan Lo gak mungkin bisa masuk kesana.”
“saya bisa menunggu mereka di luar tuan, seperti biasanya.”
“tak perlu. Sudah.”
“tapi--”
Sean tak mampu membantah lagi, begitu mendapat pelototan Kevin. Pada akhirnya ia pun hanya bisa menghela nafas, seraya menyenderkan bahunya ke sandaran kursi.
Lalu pandangan Sean beralih ke Amara, ia menatap wanita itu tajam. “jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada nona muda, maka kalian berdua akan saya musnahkan dari bumi ini!” Bisiknya.
Amara yang mendengar ucapan Sean yang sarat akan ancaman itu terpaku, ia menelan ludahnya susah payah serta bulu kuduknya merinding saat menatap wajah kaku pria itu. Dalam hatinya selalu berdoa jika bosnya itu tak akan berani macam-macam dengan Alya, karena ia tahu apa yang akan terjadi jika berani mengusik keluarga dirgantara. Terlebih ia juga tahu watak seorang Kevin dirgantara jika sudah murka, sekali di usik ketenangannya, maka di detik itu juga hanya tersisa nama.
...💐💐💐...
Alya dan Jenifer berjalan santai menyelusuri lorong menuju toilet yang agak sepi, hanya ada beberapa orang yang melintas. Itu pun kebanyakan yang baru keluar dari toilet laki-laki.
Sepanjang jalan mereka sama-sama diam, mata Jenifer tak henti-hentinya melirik ke arah Alya. Memperhatikan penampilan rivalnya yang sederhana, namun terlihat elegan. Sedangkan gadis itu menatap lurus, seakan tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Jeniffer.
Yah, Jeniffer akui penampilan Alya sedikit berubah daripada jaman sekolah dulu. Sederhana, namun ada aura keanggunan. Ditambah saat ini statusnya sudah berbeda, menjadikan daya tarik gadis itu menjadi pusat perhatian.
Mereka pun sudah masuk dalam toilet, Alya jalan menuju bilik dan masuk disana. Sedangkan Jeniffer berdiri di depan wastafel, karena memang niatnya tadi ingin merapikan penampilannya. Khususnya di wajahnya.
Wajahnya yang memang sudah menor di buat semakin menor, saat bedak padat itu ia aplikasikan ke mukanya. Blush on yang tadinya memudar, kini kembali di tambahkan sehingga menimbulkan rona merah. Begitu pun dengan bagian lainnya, pokoknya yang menurutnya kurang dia tambahkan. Langkah terakhir ada di bagian bibir seksinya, Jeniffer mengoleskan banyak lipstik merah disana.
Gadis itu tersenyum saat melihat pantulan dirinya, seraya memperhatikan hasil polesannya. Tak sampai di situ, ia juga merapikan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi. Tak lupa rambut panjangnya di buat curly ia rapikan juga.
“ah, kayaknya di buka dikit gak apa-apa kali ya.” gumamnya.
Jari-jari Jeniffer nampak membuka dua kancing bagian atas baju kerjanya, lalu menurunkan sedikit. Sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang sebesar melon.
“dengan begini Kevin pasti akan langsung tergoda, lalu bakal tinggalin si miskin itu deh!” ucapnya, lalu tersenyum senang.
Tak berselang lama Alya keluar dari bilik, lalu jalan ke wastafel. Saat tangannya ingin menekan kran air, matanya tak sengaja menatap diri Jeniffer lewat pantulan kaca dan dia dibuat kaget dengan penampilan wanita itu.
“kamu--habis makeup?” tanyanya kemudian seraya membasahi kedua tangannya.
Jenifer tak langsung menjawab, ia melirik sinis. “iya. Kenapa, gue cantik ya? Emangnya kayak Lo, buluk!”
Sebelum menjawab Alya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “iya cantik kok, kamu memang selalu cantik. Mudah-mudahan saja hatimu juga ikutan cantik ya, karena percuma saja mempercantik penampilan tapi di dalamnya jelek.”
Nada bicara Alya memang terdengar santai, namun cukup nyelekit di hati Jenifer. Ia jelas tahu gadis yang usianya satu tahun lebih muda darinya itu sedang menyindirnya, namun Jeniffer tetap memasang muka tembok.
Alya sudah selesai dengan urusannya, sebelum pergi ia mengalihkan antensi sepenuhnya pada Jeniffer. “aku tahu kamu berpenampilan begini untuk menarik perhatian Kevin, tapi sepertinya kamu lupa ya kalau dia tidak suka dengan wanita yang suka memamerkan tubuhnya di muka umum. Sekarang, lihatlah dirimu di kaca.”
Pandangan kedua gadis itu sama-sama mengarah ke kaca bening yang ada di depannya.
“apa menurutmu Kevin akan suka melihatmu begini, apa dia akan tertarik dan berpaling dariku begitu melihat penampilanmu begini. Hem? jelas jawabannya adalah tidak kan? Selain itu, aku juga yakin sama suamiku itu. Dia tak akan mudah tergoda oleh wanita manapun, karena apa? Karena di dalam hati dan hidupnya hanya ada aku seorang.”
Mendengar ucapan terakhir Alya, membuat pandangan Jeniffer beralih padanya. “jangan sok ya, kamu itu bukan tuhan yang bisa mengatur hidup seseorang. Termasuk Kevin!”
“kenapa gak bisa, dia suamiku?”
Jeniffer merubah posisi berdirinya menghadap sepenuhnya ke arah Alya, menatapnya dengan tajam. “itu hanya sekedar status, dan bisa di ubah kapan saja. Harusnya kamu itu sadar diri, kamu pernah menghianatinya tapi seenak udel merebutnya dari mayra. Dasar wanita gak tahu malu!”
“aku tidak pernah merebutnya dari mayra.”
“tidak merebutnya kau bilang? Cih, kau benar-benar wanita gak tahu malu ya! Seluruh Antero pun sudah tahu kalau kamu itu pelakor, merebut calon suami orang di saat pernikahan itu sudah di depan mata apa namanya kalau bukan pelakor! Ah, mungkin lebih tepatnya pelacur kali ya? Kan kamu sama Dylan pernah tidur bareng. Benar kan? seharusnya kamu itu nikahnya sama Dylan, bukannya dengan Kevin. Oh, atau jangan-jangan niat kamu menikahi Kevin bukan karena cinta tapi ingin mengambil hartanya. Iya kan? Hah, Malang sekali nasibnya, harus punya istri yang sudah tidur dengan kakaknya! Dasar wanita murahan!”
__ADS_1
Alya membisu sejenak, ia menatap lurus wajah Jenifer. Dalam hati ingin sekali ia mengatakan yang sejujurnya, tapi sepertinya tak perlu. Lagipula Kevin sudah mengetahui semuanya, jadi untuk apa ia capek-capek menjelaskan pada Jeniffer.
Yang perlu dia lakukan saat ini adalah menyingkirkan wanita ular ini dari Kevin, meski ia sendiri sangat percaya suaminya itu tak akan mungkin berpaling. Ia sangat percaya Kevin tipe pria yang setia, jika pun tidak, mungkin sejak dulu ia sudah mempunyai pasangan. Wanita manapun pasti tidak akan menolak pesona seorang Kevin dirgantara, terlebih ia terlahir sebagai anak sultan.
“terserah kamu mau bicara apa tentangku, aku tidak perduli. Aku bicara seperti ini karena kasihan sama kamu, selama bertahun-tahun memendam perasaan pada laki-laki yang tak pernah menganggapmu. Kamu itu cantik dan pinter jen, pasti diluaran sana banyak laki-laki yang mengantri ingin menjadi pasanganmu. Tapi kamu selalu tutup mata, Jadi saranku, berhentilah, karena mau sekeras apapun kamu usaha, yang namanya hati gak bisa di paksa.”
Jeniffer yang mendengar itu berdecih, seakan-akan ucapan Alya itu takkan mempan membuatnya berhenti untuk mengejar suaminya. Itu sudah jelas, karena selama jalur kuning belum melengkung, maka selama itu ia akan terus berjuang.
“aku permisi.”
Alya langsung melenggang pergi, meninggalkan Jenifer yang sepertinya masih ingin bicara. Terbukti, ia langsung menyusul langkah Alya dan mencekal lengannya. Hal itu membuatnya sedikit memutar tubuhnya, dan menatap Jeniffer.
“kau jangan pergi dulu gadis sialan, aku bel--”
PLAK!
Ucapan Jenifer spontan terhenti, ia tertegun dengan perilaku kasar Alya yang menyingkirkan tangannya.
“tak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya sudah jelas. Ku peringatkan sekali lagi, berhentilah berharap dengan suamiku. Karena itu tak akan pernah terjadi!”
Setelah mengatakan itu Alya kembali berbalik badan, dan dia pun benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Jeniffer yang menatap tajam kepergiannya, wajah menornya nampak kaku serta kedua tangannya terkepal.
“kita lihat saja nanti siapa yang akan menang.” desisnya.
...💐💐💐...
“kenapa lama banget sih?” keluh Kevin saat melihat kehadiran istrinya, seraya mengulurkan tangannya.
Pria itu sudah berdiri di sisi meja, dengan wajah cemas. Alya yang melihatnya tersenyum, kemudian menyambut tangan Kevin dan menggenggamnya.
“maaf, kebelet tadi.” jawabnya. “kak Fahmi sama kak Ridwan kemana?” tanyanya kemudian, ia celingukan mencari keberadaan dua bodyguardnya.
“mereka sudah pulang duluan.” jawab Kevin, yang langsung di angguki oleh Alya.
“masih sakit perutnya, hem?” tanyanya, nada bicaranya terdengar dalam dan kepalanya sedikit menunduk.
“sedikit.” jawab Alya.
“ya sudah kita pergi apotik ya, buat beli jamunya.”
Alya hanya menggangguk mengiyakan, lalu Kevin memanggil pelayan dan menanyakan nota. Selesai dengan pembayaran, Kevin, Alya dan Sean pun pergi. Meninggalkan Kenzo dan Amara disana, namun sebelum benar-benar pergi Kevin sudah memberi arahan ke bawahannya itu untuk mengantar kliennya pulang.
Selang 5 menit setelah kepergian Kevin, jeniffer muncul. Ia tertegun saat melihat hanya ada Amara dan Kenzo saja.
“mereka kemana?” tanyanya.
“sudah pergi duluan. Kamu habis ngapain aja sih Jen, kok lama?” Amara balik nanya.
Jenifer mendengus sebal. “bukan urusanmu! Yuk ah balik, ini udah di bayar kan?”
“sudah.” kali ini Kenzo yang bersuara, lalu beranjak bangun. “ayo pergi, saya akan antar kalian pulang ke Jakarta.” sambungnya.
“eh tunggu.” cegah Jenifer saat Kenzo dan Amara siap melangkah. “kalau boleh tahu mereka pergi kemana?” tanyanya kemudian.
“maksudmu siapa Jen?”
“kevin dan Alya dong! Siapa lagi emang?”
“kemanapun mereka pergi, itu bukan urusan anda.” cetus Kenzo.
Jeniffer berdecak kesal, ia menatap sinis wajah Kenzo yang sayangnya sangat tampan di matanya. Meski tubuhnya kurus, tapi ada bagian-bagian lain yang berisi.
“iya memang bukan urusanku, tapi aku ini sahabatnya. Jadi boleh dong aku tahu dimana mereka pergi?”
Kenzo tak lagi bersuara, dengan penuh kebisuan ia pun melenggang pergi. Jeniffer yang merasa di acuhkan berdecak jengkel.
“gak bos, gak bawahan tak ada bedanya. Sama-sama dingin, huh!” gerutunya sambil memandang kepergian Kenzo.
“kira-kira mereka kemana ya mar?”
Amara yang ditanya begitu menggeleng, karena ia memang tak tahu. “udahlah jangan di bahas lagi, mending kita pulang aja yuk. Takut kemalaman pas sampai jakartanya.”
Pada akhirnya mereka pun ikutan pergi, menyusul langkah Kenzo yang sudah berada di parkiran. Pria itu nampak tengah fokus ke layar ponselnya, sebelum akhirnya terdengar helaan nafas keluar dari bibir ranumnya.
“ini terlalu beresiko.” Lirihnya, raut wajahnya nampak sendu. “apa aku bisa melakukannya, sedangkan--”
Tak!.. Tak!.. Tak!..
Kenzo menghentikan ucapannya kala gendang telinganya mendengar langkah sepatu dari arah belakang, dengan gerakan cepat ia pun mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku jasnya, kemudian menoleh.
“aku gak mau pulang sekarang!” ucap Jenifer kala sudah di dekat Kenzo.
Dua orang yang ada disana pun kaget, terlebih Amara. “apa maksudmu?” tanyanya dengan kernyitan di dahi.
“kau tuli ya? Aku bilang aku gak mau pulang ke Jakarta sekarang, aku pengen tidur aja di hotel.”
“iya, tapi alasannya apa?”
Jeniffer diam sejenak. “aku pengen liburan disini.”
“hah!”
“kau!” jari telunjuk Jenifer menekan ujung hidung mancung Kenzo, namun dengan kasar pria itu menyingkirkannya.
“carikan aku hotel yang terbaik di kota ini, tapi sebelumnya kita pergi toko baju dulu buat besok. dan kau Amara, Kalau pengen pulang? Silahkan saja.”
“hey, mana bisa begitu. Yang ada nanti aku akan di teror bapakmu! Ya sudah, aku juga bakal ikut menginap.”
Lalu pandangan dua gadis itu mengarah ke Kenzo yang sedari tadi diam, sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang. Jika Jenifer dan Amara tak ingin pulang ke Jakarta, itu berarti dia juga harus mengikuti mereka. Karena Kevin berpesan untuk menjaga kedua gadis itu dengan baik, tanpa kurang suatu apapun.
Padahal rencananya besok nanti dia akan pulang ke rumah orang tuanya, sekalian ingin bertemu dengan kekasihnya yang ada di kampung. siapa sangka rencana itu gagal total akibat dua gadis yang ada di depannya.
“menyebalkan!”
__ADS_1