TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 93~Villa


__ADS_3

“kau jangan serakah ya nesa, membeli barang-barang mewah ini saja bisa! Masa bayar kontrakan yang sebulannya hanya 300 ribu tak mampu.” ujarnya.


Alya kembali menggeleng. “Kalian sepertinya salah orang, aku bukan nesa dan aku juga tak mengerti dengan ucapan kalian. Sekarang kembalikan barang-barangku!”


Sejenak kedua ibu itu diam, lalu saling berpandangan. Kemudian kembali menatap Alya, dan berakhir tertawa.


Alya yang melihat itu jelas saja bingung, tadi marah-marah tak jelas dan sekarang tertawa tanpa sebab. Dalam otaknya meyakini jika dua ibu-ibu didepannya adalah orang gila.


Tanpa sadar akibat kericuhan yang di sebabkan oleh dua ibu-ibu itu menarik perhatian seluruh pelayan restoran, dan beberapa orang yang lewat. Tak terkecuali Sean yang kini sudah kembali, dan sudah berdiri dibelakang tubuh Alya.


“sudahlah nesa kamu jangan mengelak terus, apa kamu tidak lelah. Hah!” bentak si ibu berbadan gemuk.


“aku tidak sedang mengelak, kalian itu salah orang!” pekik Alya.


Ibu berbadan gemuk itu terlihat geram, ia pun maju selangkah sebelah tangannya terangkat ke kepala Alya dan ingin menjambaknya. Namun sayangnya jadi, saat sebuah tangan kekar menahannya.


“sekali saja kau berani menyentuh istriku, aku pastikan akan membuat tangan ini lepas dari tubuhmu!”


Sejenak senyap, wajah ibu berbadan gemuk itu nampak tegang. Ia terkejut dengan ucapan pria di depannya yang mengakui wanita yang ia pikir nesa adalah istrinya, ditambah dengan Ancamannya yang terdengar tak main-main, apalagi begitu melihat mimik wajahnya yang kaku.


‘dia sudah menikah lagi? tapi kapan, bukankah selama ini ia selalu menyebutkan dirinya janda?’ batin si ibu bertanya-tanya.


“kevin..” lirih Alya memanggil suaminya, dan hal itu sukses mengalihkan pandangan si ibu berbadan gemuk padanya.


Kemudian dia tersentak kaget saat Kevin menghempas kasar tangannya, tubuh tambunnya sedikit terhuyung ke belakang karena belum siap. Namun untungnya dia bisa menyeimbangkannya, lalu kembali melirik dua orang yang di depannya yang kini tengah berpelukan.


“ibu itu mengambil ponsel dan perhiasanku. Termasuk cincin nikah kita dan gelang yang kamu kasih.” adu Alya, seraya menuding ke wajah ibu yang tadi merebut ponselnya.


Mendengar itu Kevin langsung melayangkan tatapan iblisnya pada padanya, dan hal itu membuat si empu merinding ketakutan.


“jika kalian masih ingin hidup tenang, cepat kembalikan.” ucap Kevin dengan datar, seraya menengadah tangan.


Si ibu itu tak langsung bergerak, namun ia melirik ke ibu yang berbadan gemuk. Seakan memberi kode, apa yang harus dilakukan.


“kau pikir kami akan takut dengan ancaman murahanmu itu? Cih, Jangan harap! Kami takkan memberikannya sebelum dia bayar sisa uang sewa yang sudah nunggak 5 bulan!” cetus si ibu berbadan gemuk.


Kevin mengernyit tak paham, lalu ia menunduk menatap Alya. “kamu mengerti dengan ucapan mereka?” tanyanya.


Alya menggeleng. “aku juga gak paham Vin, mereka tiba-tiba datang dan marah-marah. Ngatain aku perempuan nakal, dan nuduh aku telah menggoda suaminya. Terus nagih uang kontrakan yang aku sendiri tak tahu.” jawabnya.


Setelah mendengar penjelasan Alya, Kevin kembali menatap dua ibu-ibu itu. Wajahnya semakin kaku dan merona, emosinya seketika terpancing saat istri tercintanya dihina sebagai wanita murahan.


Alya yang menyadari itu langsung bertindak, kedua tangannya yang ada dibelakang tubuh Kevin bergerak untuk mengelusnya.


“tenanglah Vin, jangan emosi. Sepertinya mereka hanya salah mengenali saja, karena tadi mereka menyebut aku nesa.”


“tetap saja aku tak terima!” desis Kevin tanpa mengalihkan pandangannya.


Alya menghela nafas, kemudian melepaskan pelukannya dan berbalik badan. Sejenak ia tersenyum ramah, sebelum mengeluarkan suaranya.


“maaf ibu-ibu, tapi sepertinya kalian salah mengenali saya. Saya bukanlah nesa yang kalian maksud, nama saya Alya. Dan saya juga tak kenal dengan kalian, apalagi dengan ucapan kalian. Jadi.. apa boleh saya meminta kembalikan barang-barang saya?”


“tidak akan, sebelum kamu bayar kontrakannya. Kalau tidak mau, aku akan menjualnya.”


“tapi buk, saya bukan nesa. Saya Alya!”


“tidak, aku yakin kamu adalah nesa! Meskipun saat ini kamu terlihat lebih muda tapi aku tahu Kamu memang nesa, janda gatel yang sering menggoda suamiku. sebelumnya kamu pasti melakukan operasi plastik, Dan dia yang membiayaimu, iya kan?”


Alya tercengang mendengar penuturan ibu berbadan gemuk yang ada didepannya itu, ia tak habis pikir kenapa dia begitu yakin dengan praduganya. Apakah semirip itu wajahnya dengan wajah wanita yang bernama nesa itu, sehingga mereka tak mempercayai ucapannya.


“Astaga buk, kalian benar-benar salah mengenali saya. Saya--”


“cukup!” potong Kevin, ia menarik tubuh Alya untuk mundur lalu jalan maju mendekati dua ibu-ibu tersebut.


Sebelah tangannya nampak merogoh kantong celana bagian belakangnya dan meraih dompet, jemari Kevin mengambil seluruh uang cash yang ada disana, dan menunjukkannya didepan wajah ibu bertubuh gemuk itu.


“kalian ingin uang kan? saya akan berikan asal kalian kembalikan dulu barang-barang istriku!” ucap Kevin bernegosiasi.


Ibu-ibu itu diam sejenak, matanya melotot saat melihat gepokkan uang berwarna biru dan merah yang ada di depannya. Entah ada berapa jumlahnya, namun yang pasti lebih dari jumlah yang mereka inginkan.


“kenapa kalian diam? Tidak mau?”


“T-tidak! Baik, kami akan kembalikan.” ucap si ibu berbadan gemuk dengan gugup, lalu dengan cepat merebut barang-barang Alya dari tangan temannya kemudian memberikannya pada Kevin.


Kevin pun melakukan hal yang sama, setelah mendapatkan barang berharga istrinya ia langsung memberikan gepokan uang miliknya ke tangan ibu berbadan gemuk tersebut.


“pergi sekarang juga, sebelum saya panggil polisi atas tuduhan perampokan.” ancam Kevin.


Tanpa harus disuruh dua kali kedua ibu itu langsung pergi, dengan langkah setengah berlari. Kemudian Kevin berbalik badan, jalan mendekati alya lalu menariknya untuk duduk kembali.


Dalam kebisuannya itu Kevin memasang kembali semua perhiasan di jari dan lengan Alya, sementara si empu hanya diam memperhatikan wajah suaminya yang datar.


“vin..” panggil Alya.


Kevin meresponnya dengan deheman ringan, dan tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tengah fokus mengaitkan kunci gelang Alya, sekaligus memeriksa apakah ada yang rusak.


“kamu merasa aneh gak sih dengan ibu ibu tadi?”


“aneh kenapa?”


“mereka begitu yakin dengan praduganya yang mengira kalau aku itu nesa, apakah wajah kami semirip itu?”


Kevin membisu, lalu mengangkat pandangannya dan kini menatap wajah istrinya lekat.


“jangan terlalu di pikirkan sayang, mungkin kalian hanya sekedar mirip aja. Kata orang semua manusia memiliki 7 kembaran di dunia, dan mungkin saja orang yang bernama nesa itu salah satunya.”


“iya juga sih, tapi apa iya bisa semirip itu?”


Kevin mengangkat sebelah bahunya. “aku gak tahu, sudahlah jangan di bahas lagi. Tapi.. kamu gak di apa-apain kan sama mereka?”


Alya menggeleng. “enggak kok, kan udah keburu kamu datang.”


Tak lama setelah Alya mengatakan itu datang dua pelayan sambil membawa nampan berisi makanan pesanannya dan Sean, dengan telaten kedua pelayan itu meletakkannya di meja kemudian berlalu pergi.


Sedetik kemudian ketiga orang itu mulai memakan makanannya dengan tenang, dan seperti biasa Kevin sesekali memperhatikan Alya sembari memasukkan makanan ke mulutnya. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat saat istrinya itu begitu lahap makan sushi, sampai kedua pipinya mengembung akibat kepenuhan.


“enak?” tanyanya.


Alya tak bersuara, gadis itu hanya mengangguk.


“pelan-pelan aja makannya, nanti kesedak.”

__ADS_1


Sekali lagi Alya hanya mengangguk, namun kali ini dengan antusias.


...💐💐💐...


Sementara itu di sebuah lorong rumah sakit yang ada di kota Bandung, nampak ada seorang wanita setengah baya berdiri di depan jendela sebuah kamar inap. Penampilan wanita itu nampak sederhana, dengan rambut yang di sanggul rapi di belakang lehernya. Wajahnya cantik alami, namun nampak merona.


Suasana lorong itu terlihat sepi dan sedikit temaram, dikarenakan waktu masih pagi dan belum ada banyak orang.


“mas..” lirihnya.


Sepasang mata yang agak sipit itu terlihat berkaca-kaca, serta bibir tipisnya bergetar saat melihat penampakan seorang pria yang mungkin usianya tak terlalu jauh darinya tengah terbaring lemas di brankar. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi oleh alat bantu pernafasan, dan di bagian kepalanya terbungkus perban.


“kau harus kuat mas, kau harus cepat bangun. Demi anak-anak kita.” lirihnya lagi.


Tes.


Tak lama setelahnya bulir bening itu keluar membasahi pipinya yang tirus, di temani oleh denyutan hatinya yang terasa perih. Menyaksikan tubuh laki-laki yang masih berstatus sebagai kepala keluarga dalam pernikahannya, namun harus terpisah oleh keadaan.


Bukan hanya terpisah dengan sang suami, tapi dia juga harus meninggalkan kedua anaknya yang kala itu masih sangat kecil dan lebih menitipkannya ke saudaranya. Berharap dengan begitu keselamatan mereka akan tetap terjaga, meski ia harus menahan rindu yang entah kapan bisa teruraikan.


Tak!.. Tak!.. Tak!..


Ekspresi wajah wanita itu langsung berubah saat mendengar suara derap langkah sepatu, ia celingukan dan seketika matanya membola begitu melihat dua pria berbadan kekar dan memakai pakaian serba hitam muncul di lorong seberang. Nampak masing-masing dari tangan kedua pria itu memegang kotak nasi, mereka berjalan santai sambil mengobrol.


Dengan gerakan cepat wanita itu langsung menyingkir, mencari tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Degup jantungnya berdetak kencang saat suara langkah itu semakin dekat dan berhenti tepat dimana ia sembunyi, ia takut akan ketahuan.


Namun untungnya kekhawatirannya itu tak terjadi, karena kedua pria itu kembali melanjutkan langkahnya dan berakhir masuk ke dalam kamar inap pria yang tadi ia lihat.


‘syukurlah..’ batinnya merasa lega.


Drrttt..


Wanita itu terlonjak kaget saat mendengar suara getaran yang berasal dari saku roknya, dengan tangan sedikit gemetaran ia meraih ponsel murahannya. Jarinya menekan tombol hijau saat melihat orang dikenalnya menghubunginya.


[Sudah belum lihatnya?] Tanya seseorang diseberang sana, terdengar seperti suara perempuan.


“sudah.”


[Cepatlah kembali, aku harus pergi ke butik.]


“setelah ini aku turun, tunggu aku.”


Setelah itu panggilan berakhir, ia kembali menyimpan ponselnya. Namun sebelum keluar dari tempat persembunyiannya, ia memasang masker dan topinya terlebih dahulu agar tak ada yang bisa mengenalinya.


“selamat tinggal mas, lain hari aku akan kembali datang.” ucapnya, sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.


...💐💐💐...


waktu pun terus berjalan, jam di dinding sudah mengarah ke angka jam 9 pagi. Jeremi yang kala itu tengah rebahan di kasur menatap jengah ke jam, sementara Fani sudah terlelap di sampingnya.


Perlahan Jeremi bangun dari posisinya, seraya sebelah tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh Fani hanya sampai batas dada. Lalu ia turun dari ranjang, kemudian melangkah menuju kamar mandi karena kandung kemihnya sudah penuh.


Sekitar 5 menit setelahnya ia kembali keluar dari kamar mandi, lalu lanjut keluar kamar.


“abang.”


Bersamaan dengan itu gendang telinganya mendengar suara teriakan Tina yang memanggil kakaknya di lantai bawah, namun Jeremi tak mendengar jawaban Rangga. Ia langsung menutup pintu kamarnya, takut Fani bangun karena teriakan Tina cukup kencang.


“abang ih, gak usah rese!”


Sesampainya di bawah Jeremi menghela nafas panjang seraya geleng-geleng kepala, saat melihat Tina sedang duduk di sofa yang diruang tengah sambil memakan sesuatu. Di depannya sudah ada tv besar yang menyala, dan Rangga tengah mengganggunya dengan cara memotretnya dengan kamera kecil dari samping.


“abang, ish!” sebelah tangan Tina menutup lensa kamera kakaknya itu, dan hal itu membuat si empu berdecak.


“apa sih kamu tuh, orang Abang gak ngapa-ngapain juga.” cetus Rangga mengelak.


“gak ngapa-ngapain? Terus daritadi jeprat-jepret maksudnya apa?” balas Tina dengan sengit.


“foto.”


“dan Abang tahu aku paling gak suka difoto, apalagi sekarang aku lagi makan!”


“ya udah sih cuek aja.”


Setelah itu Rangga kembali mengangkat kameranya, mengarahkan tepat ke depan wajah Tina.


“abang! Udah ih.”


“ck, aneh kamu mah dek! anak remaja lain yang seusia kamu lagi aktif-aktifnya suka Selfi, lah kamu malah kebalikannya.” gerutu Rangga kesal, adiknya memang beda.


Tina yang mendengar itu memutar bola matanya malas. “bodoh amat! Udah ah gak usah foto lagi, dan jangan ganggu aku!”


Jeremi datang mendekati dua bersaudara itu, dan menjatuhkan bobot tubuhnya ke sofa seberang.


“kalian berdua ini berisik banget, sampai kedengaran sampai ke atas.” ucapnya.


“abang Rangga nih usil, orang aku lagi makan malah di foto. Pasti hasilnya bakal jelek.” adu Tina dengan wajah cemberut.


“enak aja kalau ngomong, kamu gak liat hasil potretan Abang waktu kita liburan ke Sydney. Hem? Semuanya bagus!” protes Rangga.


“iya emang bagus, tapi yang Abang foto bukan orang tapi boneka arwah!”


“yeh.. itu juga orang kali dek, punya nyawa!”


“mana ada? Ngaco aja!”


“beneran it--”


“udah.. udah cukup debatnya, kalian gak capek apa? Dan Lo Rangga, udah sih jailin Tinanya. Kasihan tuh, lagi makan juga!”


“Tau!”


Rangga tak lagi bersuara, dia mendengus sebal seraya menurunkan kameranya. Padahal jarang sekali ia bisa memotret wajah adiknya itu, kalau lagi dirumah selalu dihalangi oleh papi dan kakaknya.


Melihat itu Tina tersenyum puas, karena melihat Rangga yang kesal. Setelahnya ia pun kembali melanjutkan acara makannya, sambil menonton tv.


“yang lain pada kemana?” tanya Jeremi.


“samuel dan Nana masih ada di kamar, kalau mingyu dan dimas tadi keluar.” jawab Rangga.


“kemana?” tanya Jeremi lagi.

__ADS_1


Rangga mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. “nyari perawan desa kali.”


Jeremi yang mendengar itu manggut-manggut. “Lo gak nyari juga? Cewek-cewek didesa ini cantik-cantik Loh, bodinya juga semok-semok.” Ucapnya, seraya menarik turunkan kedua alisnya


“Ogah!” tolak Rangga mentah-mentah


“kenapa? Lo gak suka cewek?”


“sembarangan aja kalau ngomong, gue masih normal kali!” semburnya, seraya melempar bantal sofa ke arah Jeremi.


Jeremi tertawa pelan. “kan gue cuma nanya, gak usah ngegas gitulah.”


“banyak bacot Lo ah!”


“ya kalau Lo beneran normal cari cewek sana, gak iri apa sama Kevin dan Samuel? Mereka udah pada nikah, dan Rian juga bentar lagi mau nikah juga kan sama Rosa?”


“hem!”


“makanya cepet-cepet deh cari cewek, biar nanti bisa dibawa ke pesta.”


“bener tuh! Papi juga udah sering  bilang kayak gitu, tapi bang Rangga selalu beralasan.” celetuk Tina.


“diem Lo bocil!” sentak Rangga pada adiknya, seraya melorotkan kedua matanya.


“hahahaha..” alih-alih takut, Tina malah tertawa terbahak-bahak.


“nah kan bokap Lo aja sampai bilang gitu, makanya cepat cari.”


“gak usah mikirin tentang kejombloan gue, mending Lo urus aja hidup Lo sendiri. Pacaran udah lama, tapi kagak nikah-nikah!” cetus Rangga, melirik sinis Jeremi.


“selow bro. gue lagi nunggu Fani wisuda dulu, tinggal beberapa bulan lagi. Bareng kan sama kalian?”


Rangga mengangguk mengiyakan.


“nah, ya udah tinggal Lo dan mingyu aja yang masih sendiri.”


“ck! Gampanglah itu.”


Sejenak senyap. Mereka bertiga terlihat diam, dengan kesibukan masing-masing. Tina dan Jeremi fokus menonton tv, sedangkan Rangga sibuk memotret seluruh ruangan itu dan secara diam-diam kembali memotret adiknya itu.


“oh!” tiba-tiba Rangga berseru kaget, ia langsung menurunkan kameranya dan pandangannya mengarah ke depan.


Jeremi yang mendengar itu melirik. “napa Lo?” tanyanya kemudian.


“kevin datang!” jawab Rangga, lalu beranjak bangun dan jalan cepat menuju teras.


“hah! Seriusan Kevin datang?” pekik Jeremi kaget, lalu menoleh ke belakang dan menyusul langkah Rangga.


Dan benar saja, sesampainya di depan ia melihat mobil pribadi Kevin. Sean keluar dari pintu depan, lalu jalan ke belakang dan tangannya membuka pintu belakang. Jeremi menghela nafas saat pandangan sinis Kevin tak sengaja bertabrakan dengannya, disampingnya sudah ada Alya yang menebar senyuman manisnya. Menyapa Rangga yang sudah berdiri di samping mobilnya.


Segera, Jeremi pun melangkah. Mendekati pasutri itu dan menyapanya.


“hai Alya, gimana kabar Lo?” tanyanya.


Alya mengangguk samar. “baik, kak.”


“jujur gue kaget loh pas denger pernikahan kalian, dan gak menyangka jika kalian bisa menikah. Padahal kan kabarnya Kevin akan menikah dengan mayra.”


Alya yang mendengar itu bisu sejenak, ia melirik ke Kevin yang menampilkan raut wajah kaku. Tatapannya begitu tajam ke wajah Jeremi.


“iya kak, maaf soal itu aku gak berani jawab. Mungkin kak Jeremi bisa tanya langsung ke kevin.”


“gak ada yang harus dijelaskan, gue yakin Lo pasti udah bertanya banyak sama rangga.”


Rangga yang namanya disebut langsung menggeleng. “gak ada! Dia gak nanya apa-apa sama gue.”


Jeremi menghela nafas. “sudahlah soal itu kita bahas nanti saja, lebih baik kita masuk dulu.” ucapnya, kemudian berlalu duluan untuk masuk ke dalam villa.


“Lo bisa gak sih Vin gak usah ketus terus sama dia? Jangan hanya karena dia pacaran sama Fani, membuat persahabatan kalian rusak! Lo itu udah jadi seorang suami, kepala keluarga! Harusnya Lo bisa berpikir dewasa! Dan satu hal lagi, tak ada kata kompromi jika menyangkut hati.”


Setelah mengucapkan kata-kata itu Rangga langsung melenggang pergi, dan masuk villa. Sedangkan Kevin hanya diam saja, kemudian menghela nafas panjang.


Memang, semenjak Jeremi dikabarkan berpacaran dengan Fani setahun yang lalu. Hubungan antar keduanya renggang, dan selama itu mereka sama sekali tak berkomunikasi. Kevin selalu beranggapan kalau Jeremi itu menghianatinya karena sudah menjalani hubungan dengan wanita yang pernah menyakiti Alya, dan dia tak suka itu.


Kevin langsung menoleh saat merasa lengannya di dekap, dan pelakunya adalah alya. Istrinya itu nampak tersenyum tipis, yang sangat menular ke diri Kevin.


“kita masuk yuk?” ajaknya kemudian.


Kevin mengangguk samar, kemudian mereka melangkah maju menuju villa. Sesampainya disana mereka disambut oleh suara teriakan Tina yang melengking.


“kak Alyaaa..” teriaknya, seraya berlari menghampiri Alya dan langsung menubruk tubuhnya.


Ekspresi pasutri itu tentu saja terkejut, namun detik berikutnya Alya nampak terkekeh dan membalas pelukan Tina. Sementara Kevin hanya geleng-geleng kepala, heran.


“gue pikir Lo gak bakalan datang kesini.” ucap Samuel, seraya jalan mendekatinya. Dibelakangnya sudah ada Nana, ia mengulas senyum tipis sebagai sapaan.


Kevin mendengus. “kalau bukan dipaksa oleh Alya, gue juga ogah!” jawabnya dengan ketus.


“kak, kita ke ruang tengah yuk tadi aku lagi nonton drakor.” ajak Tina antusias, dan tanpa harus mendengar jawabannya dia langsung menariknya.


Kevin dan Rangga terlihat kaget saat gadis remaja itu menarik tangan Alya sambil lari-lari.


“astaga, Tina! Jangan lari-lari, nanti jatuh!” pekik Rangga memperingati.


“iya bang!” balas Tina sambil berteriak, karena jaraknya sudah jauh.


Rangga nampak geleng-geleng kepala, seraya berdecak. Sedangkan Kevin hanya menghela nafas, sembari berdoa semoga saja istrinya itu tak dibuat pusing oleh kebarbaran Tina.


“dimana yang lain?” tanya Kevin.


“tadi gue lihat Jeremi masuk ke kamar, kalau mingyu dan dimas..” ucapan Samuel menggantung, sambil celingukan.


“si penyu dan kutub utara lagi keluar, nyari kembang desa!” celetuk Rangga.


Samuel dan Kevin terkejut mendengar itu.


“serius? Bukankah mingyu itu paling ilfil sama cewek desa? Apalagi Dimas, dia kan udah ada Manda?” tanya Samuel heran, begitu pun dengan Kevin.


“tau! Udah ah kita ngobrol di ruang tamu aja, biar enak.” balas Rangga, kemudian merangkul bahu Kevin dan membawanya keruang depan.


“sayang, mending kamu gabung aja sama Tina dan Alya. Mas mau ngobrol bentar sama mereka.” ujar Samuel pada istrinya.

__ADS_1


“iya mas.” balas Nana.


Kemudian dia berbalik badan, jalan ke ruangan dimana Alya dan Tina berada. Begitu pun dengan Samuel yang langsung berbalik, menyusul kedua sahabatnya.


__ADS_2