TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 98~Aksi Penculikan


__ADS_3

“bukankah dia sudah mati?” tebak Roni.


Bobby menggeleng. “tidak! Dia belum mati, sekarang dia berada dirumah sakit yang ada di Bandung dan dalam keadaan koma.”


“terus apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“kita harus bisa menyelinap masuk ke ruang inapnya, setelah itu kita membawanya pergi ke tempat jauh dan membuangnya disana.”


Roni nampak manggut-manggut mengerti, lalu kembali berkata.


“tapi.. sebelum kita melakukannya om harus menyiapkan segala sesuatunya, karena lawan kita bukanlah orang sembarangan. Pria yang ingin om bunuh itu dalam lindungan kekuasaan Kevin, dan aku tahu betul dia pasti sudah menyuruh para anak buahnya untuk standby disana.”


Yah, Roni tahu betul bagaimana Kevin. Meski secara pergaulan ia tak mengenal akrab dengannya, setidaknya dia tahu tentang pria itu karena pernah dekat dengan almarhumah adiknya.


Alisa Abraham, itu adalah nama lengkap adiknya. Adik perempuan satu-satunya yang pernah mengalami depresi setelah perpisahan orang tuanya, dan menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 17 tahun.


Roni tak akan bertanya kenapa Alisa bisa kenal dan dekat dengan Kevin, karena di masa itu keduanya memang sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Namun yang pasti Roni selalu menganggap kematian adiknya yang tiba-tiba itu karena ulah Kevin, pasalnya beberapa hari sebelum kabar itu mencuat, Alisa pernah mengaku jika ia menyukai kevin. Namun sayangnya kevin menolaknya, dan berakhir menjauhinya.


Perasaan Alisa saat Kevin menjauhinya tentunya merasa sedih, ia ingin dekat terus dengan pria itu. Namun sayangnya Kevin terus menjauhinya, bahkan pernah mengusirnya saat Alisa memberanikan diri untuk menemuinya di kamarnya.


Hal itu tentu saja membuat emosinya terguncang, kewarasannya yang sempat sembuh itu kembali terganggu. Dan semenjak itu Alisa sering mendiamkan diri di kamar, menangis tiba-tiba, bahkan sampai ngamuk tak jelas.


Sebagai seorang kakak, Roni tentu merasa sangat sedih. Melihat adik kecilnya yang patah hati untuk kesekian kalinya, belum sembuh dengan luka batin akibat perceraian dan kasus yang menimpa ayahnya, ditambah sekarang ia harus mengalami pedihnya cinta tertolak.


Pada masa itu Roni tak bisa menyalahkan Kevin, ia paham betul hati tak bisa di paksakan. Namun semenjak ia mendengar Alisa meninggal akibat bunuh diri, Roni mulai menyalahkan Kevin dan mengklaim kalau pria itu adalah dalang atas kematian adiknya.


Sejak saat itu Roni mulai mencari tahu semua riwayat hidup Kevin, termasuk soal keberadaannya waktu dirawat di rumah sakit jiwa. Dan Ternyata Kevin bisa dirawat disana itu karena mengidap depresi berat, sama seperti Alisa. Hanya saja Roni belum tahu pasti, apa alasan utama Kevin bisa depresi.


Banyak yang mengatakan, Kevin bisa depresi akibat penghianatan mantan pacarnya bersama kakaknya. Ada juga yang mengatakan itu semua karena ulah ayahnya, karena sering melihatnya bermain wanita. Ada pula yang mengatakan kalau Kevin memang memiliki penyakit kejiwaan sejak kecil, namun semua kabar itu tak ada kejelasan yang pasti.


“kau tenang saja, aku sudah menyiapkannya.”


Suara Bobby kembali terdengar, dan itu mampu membuyarkan lamunan roni ke masa lampau.


Drrttt..


Tak lama setelah itu terdengar suara getaran, Bobby melirik ponselnya yang tergeletak di meja dan menampilkan kontak anak buahnya.


“ya.” ujarnya setelah panggilan itu tersambung.


[Pak, sepertinya tadi saya melihat adik ipar anda.]


DEG!


seketika itu wajah Bobby menegang, kedua matanya sedikit melebar.


“apa maksud dari perkataanmu itu, adik ipar siapa?”


[Adik ipar anda pak, ibu Vanessa! Tadi saya lihat dia sedang berada di taman kota, dia berjualan bakso keliling.]


“APA!” teriak Bobby menggelegar, seraya bangun dari posisinya. Sumpah demi apapun dia kaget sekaligus tak percaya dengan ucapan anak buahnya tersebut.


Jika memang benar anak buahnya itu melihat sosok Vanessa, maka artinya wanita itu masih hidup. Ferdinan dan Vanessa selamat dari tragedi kecelakaan itu!


Memikirkan itu perasaan Bobby mulai tak nyaman, ia takut rencananya yang sudah lama ia susun rapi akan berakhir berantakan. Dan lebih membuatnya takut adalah, jika perbuatannya itu akan di bongkar oleh pasutri itu.


‘tidak! ini tak boleh terjadi, rencanaku tak boleh gagal!'


“kirimkan lokasinya sekarang juga, dan awasi dia jangan sampai kabur!” pinta Bobby dengan nada penekanan, lalu mematikan sambungan teleponnya dan menaruhnya kembali ke meja.


Bobby menarik nafas sepenuh dada, seraya memejamkan matanya. Lalu membuangnya secara kasar, dan ia lakukan itu berulang kali. Dengan berharap besar, bisa lebih tenang.


Namun sayangnya tidak! rasa tak nyaman yang bersarang di dadanya tak kunjung menghilang, malah semakin mencuat. Ada perasaan takut dan khawatir menerpanya, selain terancam gagal untuk merebut warisan milik Ferdi, ia juga tak mau papanya sampai tahu jika dialah dalang di balik kecelakaan adiknya itu.


Karena Bobby punya felling jika Ferdinan atau Vanessa akan membeberkan itu ke papanya, maka terancam dia tak akan dapat apa-apa. Mengingat kini sifat papanya sudah kembali seperti dulu lagi, membuat pria itu takut akan masa kecilnya yang selalu di anak tirikan oleh papa kandungnya sendiri.


Yah. Bobby memang putra kandungnya kakek Rusman, namun yang menjadi anak emasnya adalah Ferdinan. bukan maksud pilih kasih, hanya saja perbedaan watak keduanya suka membuat kakek Rusman salah bersikap.


Bobby memiliki sifat yang cenderung arogan, egois dan sombong, dan sifatnya itu menurun dari kakek Rusman sendiri. Sedangkan Ferdinan adalah tipe pria kalem, ramah dan penurut. apapun yang kakak dan ayahnya katakan, maka dia akan terus diam. Persis seperti ibunya.


Dari situlah awal pemicu kenapa Bobby sangat membenci adiknya itu, karena menurutnya kehadiran Ferdinan adalah sebuah bencana. Sejak lahir, Ferdinan memang sudah mencuri perhatian orang tuanya yang dulu selalu tercurah untuknya. Keberadaannya sudah terabaikan, dan sering kena marah ayahnya.


Kakek Rusman memarahinya tentunya bukan tanpa sebab, itu karena dia sering melihat Bobby sengaja menyakiti Ferdinan. Namun bukannya menyadari akan kesalahannya, Bobby malah semakin sering melakukan itu dan secara diam-diam menaruh dendam pada adiknya tersebut.


apapun yang Ferdinan punya, dia juga harus memilikinya. Sifat irinya yang tertanam sejak kecil sudah mendarah daging, menyatu erat dengan aliran darahnya. ditambah dengan wataknya yang arogan dan tak terima akan kekalahan, mampu membuatnya menjadi sosok yang kejam.

__ADS_1


Setelah mendengar pernyataan dari anak buahnya tadi, bobby akui terkejut. ia tak mengerti kenapa Ferdinan dan Vanessa bisa selamat dari tragedi kecelakaan itu, Padahal sebelumnya dia sudah memastikan kalau mereka sudah ikut terbakar bersama mobil yang mereka kendarai, sebelum akhirnya para warga sekitar dan polisi datang. Dan selama ini ia pun tak pernah menyadari, jika keberadaan mereka sangatlah dekat.


Kemudian dia pun mulai berpikir, jika Vanessa dan Ferdinan selamat, terus yang di kubur itu siapa? Padahal saat proses pemakaman dia berada di sana, bahkan ia ikut mengubur peti tersebut.


Memang waktu itu peti matinya tak terbuka, itu pun atas permintaan adinata. Kala itu dia juga tak curiga sama sekali, mengingat kondisi terakhir mereka saat di evakuasi. Namun ternyata di balik itu ada sebuah rahasia besar, adinata seperti sengaja meminta agar petinya tak terbuka karena pria itu sudah tahu kalau Ferdinan dan Vanessa selamat.


Sebenarnya itu hanyalah praduganya, namun entah kenapa Bobby sangat meyakini itu. Tapi.. dia masih di buat bingung, jika memang benar keduanya selamat, lalu siapa dua jasad yang ia lihat gosong di dalam mobil?


Tring!


Terdengar suara notifikasi, pertanda jika ada pesan masuk. Bobby meliriknya, dan seketika itu pula ia tersenyum smirk saat anak buahnya mengirimkan peta lokasi. Lalu pandangannya beralih ke wajah Roni yang sejak tadi diam memperhatikan.


“siapkan semua pasukanmu, kita akan beraksi sekarang!”


Setelah mengatakan itu Bobby langsung beranjak dari duduknya dan berlalu keluar, yang langsung di ikuti oleh Roni di belakangnya.


‘sekali mendayuh dua tiga pulau terlampaui! aku tak perlu capek-capek lagi menyusun rencana untuk membalas dendam ke Kevin, karena aku yakin orang yang om Bobby maksudkan juga orang penting bagi Kevin selain istrinya. buktinya saja dia mau menampungnya! Ah.. ngomong-ngomong soal istrinya, aku jadi punya pikiran untuk menjeratnya juga. hahaha.. sepertinya ini akan seru!’


Roni nampak tersenyum licik saat memikirkan itu, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata.


Segera dia pun menghubungi salah satu inti anggota geng motornya, memerintahkannya untuk bersiap-siap untuk menyerang Kevin. Tak lupa dia juga memberi tahu tentang permintaan Bobby tadi, dan menyuruhnya untuk membawa barang-barang untuk nantinya di gunakan untuk menyamar.


...💐💐💐...


Setelah memakan waktu hampir satu setengah jam dalam perjalanan jakarta-bandung, pada akhirnya para anggota Zervanous dan bobby sudah tiba di belakang gedung rumah sakit. Termasuk Roni, sang ketua.


Sebenarnya tidak semuanya hadir disana, hanya ada 15 anggota. Sedangkan sisanya sedang meluncur ke lokasi dimana keberadaan Alya, karena Roni sudah memerintahkan mereka untuk menculik Alya.


Yah, Roni memang benar-benar melakukan rencananya itu. Setelah sebelumnya ia telah mendapat kabar lokasi terbaru pasutri itu lewat mata-matanya, tanpa mengulur waktu lagi ia langsung memerintahkan sebagian anggotanya untuk menyusup masuk ke dalam villa milik sahabatnya Kevin.


tentunya rencananya itu disetujui oleh Bobby, karena tak sengaja mendengar percakapannya. Pria itu nampak tersenyum smirk saat otaknya memiliki ide licik lainnya, segera ia pun meraih telponnya dan menghubungi Aji.


“kau sedang dirumah kan?” tanya Bobby saat panggilan itu sudah tersambung.


[Iya. Kenapa?]


“lakukanlah rencanamu untuk menyingkirkan Selena sekarang juga, buatlah seolah-olah itu hanya kecelakaan biasa.”


[Itu masalah mudah. Tapi kenapa tiba-tiba, bukankah direncana awal tunggu sampai dia melahirkan dulu?]


[Apa maksudmu?]


“Vanessa dan Ferdinan ternyata masih hidup, Begitu pun dengan anaknya!”


DEG!


Di seberang sana aji yang kala itu sedang berada di ruangan kerjanya membeku, wajahnya terlihat kaget dan kedua matanya sedikit melotot.


Aji sendiri sebenarnya sudah tahu sejak lama dengan fakta kedua anak Vanessa yang masih hidup, namun soal orang tuanya dia baru tahu. Dan selama ini pula ia tak pernah mengatakan ke bobby kalau Alya adalah anaknya Ferdinan, pria itu hanya tahu tentang Selena saja.


Aji memilih bungkam bukan berarti ingin melindungi Alya, namun selama ini ia selalu berpikir ingin membalas rasa sakit hatinya sampai puas. Karena jika bobby mengetahui itu, khawatirnya pria itu akan langsung membunuhnya. Dan Ternyata dugaannya benar, Bobby benar-benar akan membunuhnya.


Memang sebelumnya Bobby pernah mengatakan kalau Ferdinan masih hidup dan ternyata selama ini pria itu bersembunyi di villa Kevin, putranya sendiri.


Sumpah demi apapun aji tak pernah mengetahui hal ini, dan tak menyangka jika putra bungsunya merawat orang yang selama ini ingin sekali dia lenyapkan. Namun setelahnya ia dibuat tenang oleh Bobby, karena pria itu mengabarkan telah membunuh Ferdinan. Bahkan ia memberi bukti sebuah foto, dimana menampilkan keadaan Ferdinan yang sudah terkapar di lantai dengan wajah penuh darah.


Tapi sekarang apa? Aji malah mendengar Ferdinan selamat, ditambah dengan fakta Vanessa yang juga masih hidup.


[Kau serius dengan ucapanmu itu?]


“ya, Vanessa memang masih hidup. Aku tak paham bagaimana alur ceritanya, tapi kata anak buahku dia melihatnya di taman kota dan sedang berjualan bakso keliling. Tapi kau tenang saja, aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengawasinya dan rencananya setelah urusanku dengan Ferdi selesai, aku juga akan menangkapnya.”


Aji bisu sejenak, sebelum akhirnya menghela nafas dan berkata.


[Kondisi Ferdinan sekarang bagaimana?]


“dia sekarang sedang dirawat dirumah sakit yang ada di Bandung dan dalam keadaan koma, sepertinya akibat pukulanku yang mengena kepalanya waktu itu membuatnya koma.”


[Terus rencanamu apa sekarang?]


“sudah jelas aku akan melenyapkan mereka sekarang juga, setelah itu anaknya yang tinggal disini. Kau juga harus melakukannya!”


[baiklah, lakukan semuanya dengan baik dan rapi. perlu di ingat! Jangan pernah bawa-bawa namaku dalam masalah ini, aku tak mau di penjara!]


“jangan khawatir.”

__ADS_1


Setelah itu obrolan dalam sambungan telepon itu pun berakhir, Bobby dan Roni mulai siap-siap melancarkan aksinya untuk menyusup masuk ke dalam rumah sakit. Dua pria beda usia dan generasi itu jalan bersamaan masuk ke sebuah lorong dimana akan menuju ke baseman, mencari ruang gelap untuk mengganti pakaian.


Begitu pun dengan para anggotanya, setelah memarkirkan semua kendaraannya, mereka mulai menyiapkan alat-alat yang nantinya akan melumpuhkan para bodyguard Kevin.


Begitu selesai ganti penampilan, bobby dan Roni keluar dari sana. Sebelah tangan Roni nampak menggenggam kantong plastik yang berisi pakaiannya tadi, lalu memanggil salah satu anggotanya untuk membawanya. 


Setelah itu Mereka jalan menuju pintu darurat, dan masuk kesana. Menapaki anak tangga, yang nantinya akan membawanya ke lantai 2 rumah sakit.


“kau ambil kursi roda itu!” titah Bobby begitu sudah tiba di lantai dua, seraya jarinya menuding ke kursi roda dan letaknya berada di depan ruang perawatan kelas ekonomi.


Roni pun langsung melangkah cepat kesana, dan mengambil satu kursi roda. Selepas itu, ia jalan cepat menuju lift dimana Bobby sudah ada disana menunggunya. Untungnya keadaan disana tak terlalu ramai dan tak tak ada yang curiga, sehingga mereka bisa cepat mencapai lantai tujuan.


...💐💐💐...


Sementara itu di parkiran, para anggota Zervanous sudah beraksi. Mereka juga kini berpenampilan biasa, melepas jaket kebanggaan mereka dan tanda pengenal lainnya. Karena biar bagaimanapun juga nama Zervanous sudah menyebar luas ke halayak umum, di kenal sebagai geng motor incaran para polisi.


“kita harus berpencar, agar tak ada yang curiga!” ucap salah satu geng yang bertubuh kurus.


Segerombolan para pemuda yang terdiri dari 15 orang itu cukup menyita perhatian semua orang yang ada disana, namun tak ada yang curiga sedikitpun.


“betul itu! Ya sudah 5 orang ikut aku ke dalam, sisanya tetap berada disini. Untuk jaga-jaga! Bagaimana?”


“oke!”


Setelah itu 5 anggota Zervanous mulai masuk ke dalam rumah sakit, mereka berusaha berjalan santai menuju lift agar tak mengundang kecurigaan. Sementara sisanya akan standby di lapangan, sembari menunggu interuksi selanjutnya.


Sampai di depan lift, salah satu dari mereka menekan tombol bagian atas. Bersamaan dengan itu datang seorang pria berjas putih ala dokter dan memakai kacamata bening, di sampingnya sudah ada Suster berhijab tengah mendekap papan yang ada beberapa lembar tulisan dan satu pulpen.


Suster dan dokter itu ikutan berdiri di depan lift seraya memberi sapaan lewat tersenyum tipis dan anggukan kecil, membuat seluruh anggota Zervanous terkejut.


Namun itu hanya sebentar, karena setelahnya mereka kembali bersikap biasa setelah sebelumnya membalas sapaan mereka. Meski kaku.


...💐💐💐...


Bobby dan Roni sudah sampai di tempat tujuan, mereka keluar dari lift dengan pandangan penuh waspada. Meskipun saat ini keadaan lorong yang mereka lewati sangat sepi karena lantai tersebut khusus pasien vip, namun tetap saja mereka harus waspada.


Kedua pria itu jelas sangat tahu bagaimana Kevin, dia selalu menjaga semua orang yang menurutnya penting. Dan mereka mengira jika Kevin mau melindungi Ferdinan, dikarenakan dia adalah ayah mertuanya.


Padahal awalnya tak begitu, Kevin memang melindunginya tapi hanya sebagai Raka. Seorang pria paruh baya yang pernah menolongnya saat mengalami kecelakaan setahun yang lalu, dan sebagai ucapan terima kasih ia memberinya pekerjaan untuk mengurus villanya.


Bobby sendiri sebelumnya tak tahu dengan fakta Ferdinan yang selamat dari tragedi kecelakaan itu, hingga akhirnya ia tak sengaja bertemu dengannya di jalan raya saat dalam perjalanan bisnis di kota bandung.


Kala itu Bobby sedang bersama Adnan, sekretarisnya. Lebih tepatnya 5 bulan sebelum aksi penyerangan itu, mereka Melihat diri seorang pria yang persis seperti adiknya jalan berdua dengan wanita tua, sambil membawa beberapa barang belanjaan.


Awalnya mereka mengira itu hanya sekedar mirip, karena secara bentuk tubuh sedikit berbeda. Ferdinan memiliki badan yang kekar, tinggi dan berkulit putih bersih. Sedangkan yang mereka lihat itu badannya kurus kering dan berkulit sawo matang, namun soal tinggi badan dan garis wajah memang mirip Ferdinan.


Adnan beranggapan kalau itu hanya sekedar mirip, tapi tidak bagi Bobby. Ia tahu betul bentuk fisik adiknya seperti apa, dan kala itu firasatnya pun mengatakan kalau itu memanglah Ferdinan.


sejak saat itu ia mulai mencari tahu, walaupun tak secara cepat. Namun Bobby berhasil mendapat info akurat, dan seketika itu pula ia terkejut begitu tahu adiknya itu tinggal di villa milik anak bungsunya Aji. Sekutunya.


Kini Roni dan Bobby sudah berada di depan ruang inap Ferdinan, senyum miring bobby terbit saat melihat penampakan sang adik yang tengah terbaring lemah di brankarnya di balik kaca bening. Hampir di seluruh tubuhnya penuh dengan alat-alat untuk menunjang hidupnya, dan kepalanya di bungkus rapi dengan kain putih.


Keadaan di lorong itu memang sepi, namun tidak untuk di dalam. Ada satu bodyguard yang tengah menjaga, lebih tepatnya di ruangan khusus pengunjung. Kalau dilihat dari luar takkan bisa terlihat, karena posisinya berada di samping kiri kamar inap dan itu bersekat tembok.


Dan Bobby mengira jika ruangan itu beneran kosong, hanya ada pasien saja. Begitu pun dengan Roni yang mengira jika saat ini penjaganya sedang tidak ada, maka itu artinya aksi mereka yang ingin membawa Ferdinan pergi bisa berjalan lancar.


“sebaiknya kita masuk sekarang om, sebelum ada orang lain masuk!” bisik Roni, seraya celingukan dan sesekali mendongak.


Bobby yang mendengar itu mengangguk, kemudian jalan cepat ke arah pintu. Sebelah tangannya meraih knop pintu dan menekannya, kemudian mereka berdua pun masuk.


Seringaian iblisnya terbit, seraya jalan mendekat menuju brankar. Pandangannya begitu tajam menatap wajah tirus dan pucat Ferdinan, dan menyiratkan penuh kebencian.


Setelah sudah berdiri tepat di samping brankar, tanpa membuang waktu lama lagi ia langsung mencopot semua yang menempel di tubuh Ferdinan.


Dan.. akhirnya suara nyaring yang berasal dari layar monitor berbunyi, di susul dengan tubuh Ferdinan yang kejang-kejang. Namun kedua pria itu tetap tak perduli, Bobby tetap mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke kursi roda.


sang bodyguard yang kala itu sedang rebahan di sofa seketika bangun, dan jalan cepat menuju ruang inap. Dan ia kaget begitu melihat ada dua orang asing sudah berada di samping brankar, dan Ferdinan sudah duduk di kursi roda dengan tubuh yang masih kejang-kejang.


“SIAPA KALIAN!” teriaknya lumayan kencang, membuat Bobby dan Roni terperanjat kaget.


Ceklek!


“apa yang kalian lakukan dengan pak Raka!”


Keterkejutan mereka tak sampai di situ, secara serempak keduanya menoleh dan melihat ada seorang dokter pria dan suster berhijab berdiri mematung di ambang pintu.

__ADS_1


‘Aish, sialan!’


__ADS_2