
“Hai Alya, akhirnya kita bisa bertemu lagi.” ujar seseorang.
Alya, Jessica dan arina secara serempak menoleh ke arah suara. Mereka menatap seorang wanita berpakaian modis dan staylish tengah menatap sambil senyum smirk, di ikuti oleh beberapa temannya di belakang yang juga ikutan tersenyum.
Arina nampak siaga untuk melindungi Alya, mana tahu nanti wanita yang ada di depannya itu mengganggu sahabatnya. Jessica pun begitu, tak segan-segan dia akan menggunakan kekuasaan keluarganya untuk melindungi Alya jika wanita itu berbuat macam-macam.
Sementara Alya sendiri nampak tenang, dan menerbitkan senyum cerah. Meski tak menampik dalam hati dia sudah kalang kabut, memori kelam semasa SMA dulu tak pernah hilang dari ingatannya.
“hai juga tiara.” sapanya dengan nada ceria. “gimana kabarmu?” tanyanya kemudian.
Yah, wanita cantik yang ada di depan Alya adalah Tiara. Kakak kelasnya semasa di SMA dulu, maupun di kampus. Usianya hanya beda satu tahun lebih tua dari Alya, namun karena penampilannya yang selalu menor membuatnya terlihat 5 tahun lebih tua dari umur aslinya.
Tiara kembali tersenyum smirk, dengan melipat kedua tangannya di perut ia jalan mendekati Alya.
“kabar gue selalu baik, mungkin.. ke depannya akan jauh lebih baik setelah Lo balik.” ucap Tiara dengan nada tenang. “Rasanya gue gak sabar lagi ingin mengulang masa SMA kita dulu, apa Lo masih ingat. Hem?” sambungnya.
Mendengar itu tanpa ba Bi Bu lagi arina langsung mendorong tubuh Tiara, dia berdiri di depan Alya dan menatapnya galak.
“jangan macam-macam ya Lo Tiara, berani nekad Lo akan berhadapan langsung dengan Kevin! Lo tahu kan, sekarang Alya sudah jadi istrinya?” berang Arina dengan mata sedikit membola.
“bukan hanya Kevin, Lo juga akan berhadapan sama gue!” balas Jessica, dia ikut berdiri di depan Alya dengan memasang wajah serius.
Bukannya takut, Tiara malah tersenyum sinis. Dia akui kini Alya sulit di sentuh, apalagi di dekati. Tapi untuk menyerah pun tak mungkin, karena dia tak suka itu.
“cih, beraninya keroyokan!” cibir Tiara.
“daripada Lo dan antek-antek Lo yang cuma bisa menindas kaum bawah!” balas Arina. “kalau bukan karena kebaikan Alya yang pada saat itu langsung memaafkan Lo, udah abis Lo sama gue!” sambungnya.
Tiara membisu begitu mendengar kata terakhir Arina, apa yang di ucapkannya memanglah benar. Jika bukan karena kebaikan hati Alya yang langsung memaafkan perbuatannya dulu, mungkin kini ia sudah di cap mantan napi.
Namun.. sekali lagi, Tiara tidak akan Sudi mengakuinya.
“kenapa Lo diam, sudah ingat?”
“bukan hanya gue, tapi semut pun sudah tahu siapa dia.” cetus Tiara dengan wajah jengkel.
Bagaimana tak tahu, Kevin sudah mempublikasikan pernikahan diam-diamnya bersama Alya di sosial media, dan itu membuat jagat Maya heboh. Namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Kevin perihal kabar itu, padahal semua orang menantikan itu. Terutama para fans dan teman-temannya.
“bagus kalau Lo udah tahu, jadi gue peringatkan jangan pernah macam-macam padanya!” ucap arina, seraya menuding ke ke wajah kaku Tiara.
“dia memang sudah menikah dengan Kevin, tapi dengan cara licik. menggoda calon suami orang! Cih, dasar wanita murahan!” cerca Tiara.
Arina yang mendengar itu naik pitam, ia ingin menerjang Tiara namun langsung di halangi oleh Alya.
“rin, udah.” ucap Alya, sambil menarik lengan arina beserta Jessica untuk mundur.
Tatapan tajam Tiara mengarah ke Alya. “Lo sekarang pasti senang kan karena sudah ada yang lindungi? Ah.. bukan! Sejak dulu pun Lo sudah di lindungi oleh orang besar, sumpah ya Lo pakai pelet apa sih sampai semua orang memihak Lo!”
Mendengar itu Alya menggeleng, ia sudah siap bersuara namun tertahan begitu mendengar ucapan Tiara.
“Oh.. atau jangan-jangan rumor yang beredar itu benar ya, Lo yang pernah tidur dengan Dylan dan setelah Lo kembali, gantian Kevin yang Lo jebak sehingga dia mau menikahi Lo dan meninggalkan tunangannya! Iya?”
Alya membisu, sorot matanya nampak berkaca-kaca. Ia sedih dituduh seperti itu, tapi untuk berkata jujur pun rasanya tak mungkin. Bukankah ini yang dia inginkan dari awal, di anggap rendah oleh orang lain maupun Kevin.
“wah.. hebat juga dia bisa menggaet dua anggota keluarga dirgantara sekaligus, kasih tau dong dukun mana yang Lo pakai jasanya, biar gue juga bisa menggaet dimas.” ujar salah satu teman Tiara.
“iya, kasih tau dong. Gue juga mau gaet rangga nih.” balas teman satunya lagi.
“jangan pelit-pelit lah, berbagi ilmu itu indah loh.” sahut teman lainnya.
Mendengar nama Dimas di sebutkan membuat mata Jessica melotot, dengan kasar dia mendorong tubuh Tiara dan teman-temannya hingga mundur ke belakang, Bahkan ada yang jatuh ke lantai. Karena kejadian itu membuat semua mata mahasiswa disana tertuju ke arahnya, dan mulai berbondong-bondong mendekat.
“punya mulut itu di jaga! Sahabat gue gak mungkin main gituan. lagi pula, Dimas dan Rangga itu gak pantes jika bersanding sama cewek berandalan macam kalian!” bentak Jessica, wajahnya terlihat merona karena emosi.
Tiara dan teman-temannya diam sejenak, mereka terkejut kena bentakan dari wanita yang selama ini terkenal kalem dan manja.
“hahahaha.. Wuh santai.. santai, gak usah ngegas gitu. Alya aja diam saja, kenapa Lo yang sewot? Oh.. jangan-jangan Lo suka ya sama Dimas?” tuduh Tiara.
“iya nih, pasti Lo juga suka kan sama Dimas. Ngaku aja deh!” balas temannya.
“bukan urusan Lo!” cetus Jessica.
“ya memang bukan urusan Gue dan gue juga gak perduli! Toh, Dimas juga udah punya pacar, gak mungkinlah gue main rebut pacar orang. Gak kayak sahabat Lo itu, kecil-kecil kok udah jadi pelakor!”
“daripada Lo pelacur! Pengedar narkoba lagi. Cih!” balas arina.
“masih mending gue pelacur yang jelas-jelas hasil servisnya di bayar, sedangkan dia!”
teman Tiara yang ingin menggaet dimas menunjuk ke wajah Alya dengan jarinya.
“Gr a tis an!” sambungnya dengan nada penekanan.
Hening..
“kenapa diam, omongan gue benar kan? Semua anak kampus pun sudah tahu dengan kelakuan teman Lo itu.”
“iyakan guys?" Teriak teman tiara sambil menoleh ke seluruh penjuru kampus, disana memang sudah banyak mahasiswa lain mengerubungi mereka sejak awal.
“benar.” jawab mereka secara serempak.
Alya kembali diam, matanya melirik ke seluruh wajah mahasiswa yang ada disana. Mereka menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Sementara tak jauh dari lokasi Alya berada, nampak Sean memperhatikan dengan ponselnya yang menyala. Ia tengah merekam adegan itu, karena ini adalah salah satu tugasnya.
“diam kalian semua, terutama Lo Tiara! Lo gak tahu masalah Sebenarnya, jadi jangan ngomong sembarangan!” seru Arina penuh emosi, dia sudah tak tahan sahabatnya di tuduh seperti itu.
“meski Lo sahabatnya, tapi janganlah terus bela nanti dia besar kepala. Yang namanya salah tetap saja salah, dasar pelakor! Cewek murahan!” cerca Tiara.
“Lo--”
Arina siap maju dengan kepalan tangannya, dia geram ingin memberi Bogeman mentah di wajahnya. namun lagi-lagi aksinya itu di tahan oleh Alya.
“sudah Rin, hentikan ini semua!” cegah Alya dengan suara bergetar.
“dia sudah menghina Lo Al, gue gak terima!” pekik Arina.
“iya Al, dia udah bicara yang enggak-enggak sama Lo!” ucap Jessica menimpali.
“gue bilang sudah, ya sudah. Mending kita pergi saja dari sini.”
“tapi--”
“ya sudah kalau gitu, biar gue aja yang pergi!”
Selepas mengatakan itu Alya berbalik badan, dengan pelan dan pasti dia mulai menuruni tangga. Sepanjang langkahnya tak henti-hentinya semua mata mahasiswa lain menatapnya sinis, menyorakinya dengan lantang dengan kata tak pantas, bahkan ada yang berani melemparinya dengan gumpalan kertas.
“dasar benalu.”
“cewek murahan, matre!”
__ADS_1
“sampah masyarakat!”
“cewek gak tau diri, amit-amit gue punya bini macam dia!”
Begitulah kira-kira umpatan dan cercaan mereka tentang Alya dan masih banyak lagi, namun gadis itu menghiraukannya. Ia tetap berjalan sambil menahan tangisnya.
Arina yang melihat itu langsung mengejarnya, sementara Jessica memberi tatapan tajam pada Tiara.
“gue pastikan setelah ini Lo akan dapat ganjarannya!” desisnya, Kemudian pergi untuk menyusul kedua sahabatnya.
...💐💐💐...
Sarah dan kakek Rusman jalan berdampingan di lorong rumah sakit ternama yang ada di Jakarta, tangan Sarah nampak membawa kantong plastik yang berisi buah-buahan. Mereka jalan menuju ke ruangan pasien dimana Nattan berada, setelah sebelumnya tadi sempat bertanya pada bagian informasi.
Sepanjang jalan Sarah selalu diam, begitu pun dengan kakek Rusman. Namun sesekali pria tua itu melirik wajah menantunya yang sedikit pucat, entah karena tak enak badan atau karena hal lain.
Langkah keduanya terhenti saat sudah berada di depan ruangan yang di maksud, mata Sarah melirik ke jendela bagian pintu. Nampak disana sosok pria paruh baya berparas bule tengah berbaring di brankar pasien, dengan selang infus yang ada di lengan kanannya.
‘dia kelihatan kurus sekali..’ batin Sarah, ia merasa prihatin dengan kondisi pria yang sempat dekat dengannya itu.
“kamu yakin nak, gak mau masuk?” tanya kakek Rusman yang sedari tadi memperhatikan gelagat menantunya.
Sarah menggeleng. “tidak pa, aku akan menunggu di kantin saja.”
Kemudian Sarah menyerahkan kantong plastik yang dia bawa ke kakek Rusman, setelah itu ia berlalu pergi.
Kakek Rusman yang memandang kepergiannya hanya bisa diam sambil menghela nafas berat, jika bukan karena ulahnya di masa lalu pasti keadaannya tak akan seperti ini.
Tok.. Tok.. tok..
Kakek Rusman mengetuk pintu sebelum akhirnya membukanya dan masuk ke ruangan tersebut, hal itu membuat Nattan yang kala itu sedang berbaring sambil menonton tv beralih ke pintu.
Sejenak ia terdiam dengan kening berkerut, namun detik berikutnya beranjak bangun dari posisi rebahannya menjadi duduk.
“pak Rusman..” lirihnya.
Kakek Rusman tersenyum, seraya jalan mendekat. “bagaimana kabarmu sekarang, maaf saya baru bisa jenguk.”
Nattan mengangguk paham sambil tersenyum tipis. “saya sudah baik-baik saja pak, tinggal masa pemulihan saja. Tak apa pak, saya paham kok.”
“syukurlah.. oh iya saya bawakan buah, semoga suka ya.” ucap kakek Rusman sambil meletakkan kantong plastik itu ke meja samping ranjang.
“ya ampun pak tak usah repot begitu, anda bisa menjenguk saya saja sudah bahagia.” Nattan merasa tak enak.
“hahaha.. tak apa, saya tak merasa keberatan sama sekali. Lagi pula rasanya gak etis jenguk orang sakit, tapi tak bawa apa-apa.”
“makasih pak.”
“iya sama-sama..”
“ayo duduk pak, jangan berdiri terus nanti pegal.”
“ah.. iya.”
Kakek Rusman pun menarik kursi yang Ada disana dan duduk. Sejenak hening, baik Nattan maupun kakek Rusman sama-sama diam. Kedua pria itu nampak canggung satu sama lain, padahal sebelumnya mereka sering bertemu dengan urusan pekerjaan.
“bapak datang kesini sendirian?” tanya Nattan setelah lama terdiam, biasanya pria itu selalu bersama bodyguardnya.
“tidak, saya datang bersama... Sarah.” jawab kakek Rusman.
Nattan kembali diam, mimik wajahnya tak terbaca. “lalu kemana Dia? Kenapa tak ikut masuk?” tanyanya kemudian.
Mendengar jawaban kakek Rusman, Nattan manggut-manggut kemudian tersenyum miris. Entah apa yang ada di pikiran Nattan sekarang, namun yang pasti wajahnya kini nampak suram.
“jangan salah paham Nat, dia tak mau masuk karena masih bersalah denganmu. Dia selalu berpikiran pernikahanmu hancur hanya karena dia.”
Mendengar itu membuat Nattan menatap penuh wajah kakek Rusman. “saya tak pernah menyalahkannya pak, kami bercerai karena memang sudah tak ada kecocokan lagi.”
“iya, saya juga sudah sering mengatakan itu padanya. Tapi dia tetap saja merasa bersalah, di tambah dia juga selalu beranggapan Ferdi pergi karenanya. Padahal kenyataannya itu semua adalah salahku, akulah dalang di balik ini semua.”
Nada bicara terakhir kakek Rusman terdengar gemetar, menahan getir hatinya. Bahkan kedua mata tuanya sudah basah, hingga tanpa bisa di cegah lagi air hangat itu melucur begitu saja membasahi pipinya yang keriput.
Tangan Nattan yang bebas oleh infusan terangkat, mengusap lembut bahu pria tua itu. Ia juga merasa sedih begitu mengingat Ferdi, sahabat baiknya. Dia meninggal di usianya yang terbilang masih muda, namun yang namanya ajal tak ada yang tahu.
“yang lalu biarkanlah berlalu pak, jangan di ungkit lagi. Sekarang Ferdi dan Vanessa sudah tenang di alam sana, kita semua hanya bisa mendoakan.”
Kakek Rusman mengangguk seraya mengusap pipinya dengan jarinya.
“setiap hari aku selalu berdoa agar mereka di tempatkan yang indah, dan saat sudah waktunya kami akan berkumpul lagi.”
“jangan bilang begitu, bapak itu masih sehat bugar. Kasihan nanti Bobby sendirian.”
“bapak ini sudah tua, nak. Waktu bapak sebentar lagi. Tapi sebelum bapak meninggal, bapak ingin bertemu dengan cucu perempuanku.”
“cucu perempuan?” beo Nattan dengan kening berkerut.
“iya. Apa kamu masih ingat dengan anak-anaknya Ferdi?”
Nattan diam sejenak, ia sedang mengingat-ingat. “oh iya, aku baru ingat kalau Ferdi itu memiliki dua anak perempuan ya? terakhir kali dia mengabariku jika Vanessa baru saja melahirkan si bungsu.” ucap Nattan. “lalu.. dimana mereka sekarang?” tanyanya.
Kakek Rusman menggeleng lesu. “bapak tidak tahu, setelah insiden itu mereka menghilang. Menurut info dari anak buahku, mereka berdua di bawa oleh kakaknya Vanessa.”
“maksud bapak.. adinata?”
“iya.”
“terus bapak sudah bertemu dengannya?”
“belum. Kemarin anak buah bapak dapat kabar jika 2 hari yang lalu ada yang melihatnya di bandara bersama istri dan anaknya, bapak pun langsung menyuruh detektif untuk menyelidikinya.”
“lalu hasilnya?”
“puji tuhan ternyata selama ini mereka tinggal di seoul, dan mereka juga memiliki perusahaan disana.”
“seoul? Wah.. jauh sekali. Lalu kedua anak Ferdi gimana?”
“nah.. itu dia. Menurut info para detektif disana hanya ada mereka bertiga, dan satu pelayan wanita. Selebihnya tak ada.”
“jadi.. anak-anak Ferdi tak tinggal bersama mereka?”
“iya.”
“emm.. mungkin saja kedua anak Ferdi sudah tinggal sendiri-sendiri pak, ini kan sudah 20 tahun. Mereka pasti sudah dewasa.”
Kakek Rusman mengangguk mengiyakan. “iya, kamu benar. Mereka sekarang pasti sudah bekerja dan tinggal sendiri.”
“aku jadi penasaran dengan wajah mereka, apa mirip Ferdi atau Vanessa. Apalagi dengan anak bungsunya itu, waktu bayi dia kelihatan mirip Vanessa.” ucap Nattan sambil tersenyum, matanya mendongak ke langit-langit kamarnya seraya menarawang ke masa lalu.
Namun beberapa detik berikutnya senyumnya perlahan luntur, saat mengingat sesuatu. Kemudian dia kembali menatap kakek Rusman.
__ADS_1
“pak, boleh saya bertanya?”
“tentu.”
“apa bapak pernah melihat wajah anak Vanessa setelah dewasa?”
Kakek Rusman menggeleng. “jangankan wajahnya, namanya saja bapak tidak tahu. Hanya waktu 2 bulan setelah Vanessa melahirkan bapak melihatnya.”
“kalau anak sulungnya?”
“tidak juga nak, waktu itu mereka datang hanya bertiga.”
“jadi.. selama ini bapak tak tahu siapa nama kedua anaknya?”
“tidak. apa kamu tahu siapa namanya?”
Nattan mengangguk. “hanya nama anak pertamanya saja, kalau adiknya aku tak tahu. Dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah mengabarkan Vanessa melahirkan, dan pada saat itu juga saya lagi sibuk dengan pekerjaan. Jadi tak terlalu memikirkannya, mana tahu itu adalah hal terakhir saya bisa mengobrol dengannya.”
“siapa namanya.” tanya kakek Rusman penuh harap.
“emm...” Nattan berpikir keras. “kalau tidak salah.. waktu itu Ferdi pernah kasih tahu kalau namanya... Se.. Se.. Selena! Ya, Selena!”
“selena..” gumam kakek Rusman, ia tersenyum senang karena mengetahui nama salah satu cucu perempuannya.
“ada nama panjangnya pak.”
“apa itu?”
“selena Kharisma Putri! Ya, itu.”
“selena kharisma Putri? Kok namanya kayak gak asing ya?”
“iya pak, namanya sama seperti artis yang kemarin baru saja menikah dengan anak sulung dirgantara.”
“emm.. ya, aku juga udah denger kabar itu. Tapi.. apa mungkin ini hanya kebetulan saja, jangan-jangan dia memang cucuku?”
“kurang tahu juga pak, awalnya saya dapat info ini juga dari jeni. Kebetulan dia di undang di acara itu.”
Kakek Rusman diam sejenak. “saya harus cari informasi ini lebih lengkap lagi, jika Selena ini memang selena cucuku, bukan hal mustahil adiknya juga ada disana.”
“mungkin juga seperti itu pak, karena...” ucapan Nattan menggantung, ia merasa ragu untuk mengatakannya.
“kenapa?” tanya kakek Rusman dengan raut penasaran.
“emm.. sebenarnya saya ragu untuk mengatakan ini, tapi..”
“apa ini menyangkut keberadaan cucuku?”
“i-iya pak.”
“katakan!”
“emm.. sebenarnya kemarin saya melihat ada wanita muda yang wajahnya mirip banget dengan Vanessa.”
DEG!
“apa! Wanita muda mirip Vanessa?” pekik kakek Rusman, matanya sedikit membola.
“iya pak.”
“kamu lihatnya dimana?” tanya kakek Rusman antusias.
“dirumah sakit ini pak, dia terlihat keluar dari ruangan dokter syaraf bersama seorang pria muda berjas. Dan saya juga melihat kaki kanannya di perban gitu.”
“ya tuhan.. ini sebuah petunjuk jika mereka memang ada di Jakarta!”
“tapi jangan percaya dulu pak, siapa tahu saya hanya salah lihat.”
“tak apa-apa Nat, bapak akan mencari buktinya lewat rekaman cctv.”
Nattan manggut-manggut. “semoga saja benar ya pak, mereka memang cucu anda.”
“yah, semoga..”
...💐💐💐...
Sementara itu di gedung perkantoran ZN Group, tepatnya di ruangan CEO. Kevin duduk di singgasananya, di temani oleh setumpuk kertas dan laptop di depannya. Pria yang baru menjabat sebagai CEO itu terlihat begitu sibuk dan hanyut dalam dunianya, hingga tak menyadari jika ada seseorang masuk ke ruangannya.
“duh, bapak CEO kelihatannya sibuk sekali.” ujarnya dengan nada menggoda.
Kevin yang mendengar itu hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “mau ngapain Lo datang kesini?” tanyanya tanpa menatap si lawan bicara.
“yang pasti gue mau bicara sama lo.” sahutnya.
“gue sibuk!” ketus Kevin.
Seseorang itu yang tak lain adalah mingyu jalan mendekat, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja. “oh ayolah Vin, maafin gue dan cabut omongan Lo kemarin ke bokap.”
Kevin mendelik tajam pada mingyu. “maaf? gampang banget Lo ya bilang maaf, setelah membawa cewek sialan itu ke pesta!”
Mingyu menghela nafas, dia benar-benar merasa bersalah. “gue tau Lo benci banget sama dia Vin, tapi untuk menolak pun gue gak tega. Dia baru aja patah hati karena di tinggal nikah sama Lo, gue hanya pengen dia ngerasa senang aja.”
“dengan cara datang ke pesta dan Lo membiarkan dia memakai pakaian pengantin! Lo sinting!” sentak Kevin, matanya membulat sempurna.
“gue gak ada hak buat larang dia Vin, sementara bapaknya aja ngedukung.”
“setidaknya Lo kasih tau gue, bego! Lo gak tau aja secemas apa Alya waktu temannya ngasih tau dia datang dengan pakaian kayak gitu. Untungnya disana ada Grandma yang bisa urus, kalau enggak udah abis Lo sama gue!”
Lagi, mingyu menghela nafas namun kali ini terdengar berat. Wajahnya terlihat prustasi.
“sekali lagi gue minta maaf sama Lo Vin, sumpah demi apapun gue gak ada maksud buat hancurin pernikahan bang rafa.”
Kevin mendengus. “pergi Lo!” usirnya.
“vin, ayolah kasihani gue.. cabut lagi keputusan Lo buat gak investasi lagi ke kantor papa.” ucap mingyu mengiba.
Namun Kevin tak perduli, dia tetap fokus pada kerjaannya.
“please Vin, maafin semua kesalahan gue. Gue janji setelah ini gak bakal berurusan apapun sama Mayra, gue kapok Vin.”
Kevin tetap diam tak merespon, membuat mingyu semakin prustasi. Namun tak membuat pria itu menyerah, ia terus membujuknya untuk memaafkannya.
Hingga atensi Kevin terpecah begitu mendengar getaran ponselnya yang terletak di samping laptopnya, Kevin menatap layarnya yang menampilkan nama Sean sebagai pemilik nomor.
Tanpa ragu lagi Kevin meraihnya dan membuka isi chatnya, ia diam sambil keningnya berkerut begitu Sean mengirim sebuah video.
Ibu jari Kevin menekannya dan berputar lah isi videonya, yang mana itu membuat wajah Kevin berubah.
“brengsek!”
__ADS_1