
“A-apa!” Pekik Mayra, matanya melotot.
“Mulai sekarang berhentilah menyebutmu calon istriku, karena gue gak mau alya salah paham.”
“T-tapi-”
“Ehem.. Sebaiknya Kita bicaranya di dalam saja ya, gak enak kalau di dengar tetangga.” potong Marissa.
Kevin dan Dylan mengangguk mengiyakan, lalu mereka berjalan masuk. Sebelah tangan Kevin merengkuh pinggang Alya, membantunya jalan masuk ke dalam rumah dan itu di sadari oleh Marissa.
“eh, Tunggu dulu.” Marissa menghentikan langkah Kevin dan Alya. “Itu kakinya kenapa, kok jalannya pincang gitu?” Tanyanya dengan kening berkerut, matanya melihat ke arah tulang kering Alya yang di perban.
“Kakinya sedang cedera ma, dua hari lalu dia mengalami kecelakaan dan tulang keringnya retak.” jawab Kevin.
“Ya Tuhan, terus kenapa gak pakai kursi roda atau kruk aja. Pasti masih sakit kan?” ucap Marissa, ia terlihat cemas.
“Gak apa-apa kok Tante, kaki aku gak terlalu sakit.” sahut Alya.
“Yakin kamu sayang?” Tanya Marissa lagi.
Suara Marissa terdengar merdu di telinga Alya, mendadak dia jadi teringat dengan sosok mendiang mama-nya yang memiliki sifat lembut dan selalu cemas jika dirinya terluka.
Alya mengangguk mengiyakan, meyakinkan ibu mertuanya itu tentang kondisinya.
“ya udah jalannya pelan-pelan aja ya.” ujar Marissa seraya mengusap kepala Alya, dan gadis itu membalasnya dengan anggukan.
“Kevin, abis ini jaga baik-baik istrimu. Kamu sekarang udah jadi seorang suami, jadi harus bisa berpikir dewasa dan bertanggung jawab.”
“iya mama, aku udah tahu dengan tugasku sekarang.”
Marissa tersenyum mendengar jawaban Kevin, ia bahagia karena anak sambungnya itu tak jadi menikah dengan wanita pilihan papanya. Meski ia tak tahu isi hatinya, setidaknya Kevin sudah bersama dengan wanita yang pernah ia cintai.
Kata orang cinta akan datang jika sudah terbiasa bersama, itu memang benar. Marissa pernah berpikiran seperti itu saat Kevin dan Mayra jadi menikah, begitu pun dengan Kevin yang pernah mengatakannya.
Namun pada akhirnya takdirlah yang menentang itu, Kevin dan Mayra tak jadi menikah. Kini digantikan dengan Alya, wanita yang dia ketahui adalah mantan kekasihnya. Meski kini keadaannya sedikit berbeda, namun Marissa sangat berharap benih-benih asmara itu kembali masuk dalam pernikahan Kevin dan Alya.
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan langkahnya, Marissa yang masih dilanda cemas ikut membantu menantunya itu jalan.
Sementara itu di belakang Mayra nampak terpaku di tempatnya berdiri dengan wajah memerah, ia menatap tajam punggung Alya dengan penuh kebencian, serta kedua tangannya terkepal erat.
Tak berselang lama Kenzo juga ikutan masuk, namun sebelumnya dia sempat berhenti di depan Mayra.
“apa kau lihat-lihat!” sentaknya.
“maafkan saya nona.” Ucapnya, lalu menunduk hormat dan pergi meninggalkannya.
Kevin membawa Alya ke sofa yang hanya muat dua orang, dengan perlahan-lahan ia membantunya duduk. Disusul dirinya yang ikutan duduk, dan selama itu tak sedetikpun pria itu melepaskan genggaman tangannya dari sang istri.
Tanpa ia sadari jika perlakuan tak biasanya itu di perhatikan oleh semua anggota keluarganya yang ada diruangan itu, terlebih aji yang menatapnya nyalang.
Pria paruh baya itu duduk sofa panjang sebelah kanan, bersebelahan dengan Marissa. Sementara sofa panjang sebelah kiri di duduki Dylan dan Rafael, dan fandy duduk di kursi roda samping sofa yang Kevin dan alya duduki. Di tengah-tengah mereka ada meja persegi panjang, yang sudah di isi dengan beberapa gelas minuman dan dua piring berisi makanan kering.
“Bisa kamu jelaskan dengan apa yang kamu ucapkan barusan di depan mayra tadi?” Tanya aji dengan nada dingin.
Aji memang sudah mendengar ucapan Kevin waktu di teras, dan dia tentu terkejut dengan hal ini. Namun dia berusaha terlihat tenang, meski dalam hati dia ingin meledak.
Tak ada raut ketakutan sama sekali dari wajah Kevin, pria itu menatap sang papa tak kalah tajam. Sementara Alya sendiri malah menunduk takut, tanpa sadar ia meremas tangan suaminya.
“Seperti yang kalian dengar, aku dan Alya memang sudah menikah kemarin. Dan pernikahan kami sudah sah di mata hukum maupun negara!” jawab Kevin dengan tegas dan penuh keyakinan.
Setelah mengatakan itu dia segera merogoh kantong jasnya, dan mengeluarkan dua buku nikah lalu meletakkannya di meja. Tak hanya buku nikah, Kevin juga mengeluarkan dua lembar foto dirinya dan Alya saat berada di altar.
“Itu adalah buktinya.” Sambungnya.
Mata aji melirik ke benda yang Kevin tunjukan, lalu dengan cepat dia mengambilnya dan membukanya. Seketika wajahnya berubah merah padam akibat menahan amarah.
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan ini? Bagaimana bisa kamu menikahi wanita lain, sedangkan kamu sendiri sudah punya tunangan?!” Tanya aji lagi dengan nada tinggi, lalu melempar dua buku nikah itu ke lantai.
Sebelum menjawab, Kevin nampak tersenyum sinis ke arah Aji.
“Ya tentu, seribu persen aku sadar dengan apa yang sudah ku lakukan.” Jawab Kevin. “Dan.. soal Mayra, papa tentu sudah tahu dari awal aku sudah menolaknya, tapi dengan egoisnya papa dan tua Bangka itu tetap melanjutkannya.” Sambungnya, dengan nada sedikit menyindir.
“Tapi kamu gak harus seenaknya begini! Apa kamu lupa dulu dia pernah khianati kamu, dia bahkan pernah tidur dengan kakakmu!”
Kevin kembali tersenyum sinis, menatap sengit wajah sang papa.
“Aku pikir semua orang punya kesalahan dan ada kesempatan untuk berubah, sama sepertimu. Ya, memang dulu Alya pernah melakukan itu tapi kini dia sudah berubah. Selain itu kami juga masih saling mencintai, jadi tak ada salahnya jika kami memutuskan menikah.”
Pandangan Kevin kini beralih ke arah kakeknya, dan berkata.
“Dulu kakek pernah bilang padaku, jika ada dua hati yang sudah saling mencintai dan yakin dengan pilihannya harus segera di nikahkan! Benar kan kek?”
Fandy langsung menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.
Sedangkan Aji menggeleng, ia seakan belum percaya dengan semua ucapan dan bukti yang Kevin jabarkan.
“Tidak! Papa tidak akan semudah itu mempercayainya, semua bukti ini pasti palsu!” Serunya.
“dan kamu!” Aji menunjuk wajah Alya dengan telunjuknya. “Kamu pasti sudah menjebak putra saya agar dia harus menikahimu? Setelah itu kamu akan mengkeruk semua hartanya, karena putra bungsuku ini akan mendapat warisan dari mama kandungnya setelah menikah! Iya kan?” tuduhnya.
Alya yang dituduh seperti itu nampak menggeleng. “Tidak om, aku gak ada niatan seperti itu.”
“Jangan bohong kamu! Saya tahu wanita miskin sepertimu akan mencari pria kaya agar bisa kecipratan hartanya, iya kan?” Bentak aji.
“Mas, jaga ucapanmu!” Seru Marissa.
“Kau tak tahu apa-apa Marissa, lebih baik diam saja!” Sentak aji menatap tajam wajah sang istri.
Mayra yang sedari tadi diam, kini jalan mendekat setelah mendengar ucapan aji. Menatap Alya dengan penuh amarah, kemudian...
PLAK!
__ADS_1
satu tamparan keras mendarat di pipi Alya, hingga gadis itu memalingkan wajahnya.
Kevin yang melihat itu sontak saja kaget, matanya melotot. Bukan hanya dirinya, semua orang yang ada disana pun kaget.
“Brengsek, apa yang Lo lakukan hah!” Bentak Kevin seraya mendorong kuat tubuh Mayra.
Lalu Kevin menoleh ke Alya, mengangkat wajahnya dengan sebelah tangannya. dia menjadi emosi saat melihat sudut bibir istrinya itu sudah berdarah, terlebih tercetak jelas ada jejak merah di pipinya.
Sepanjang mereka berhubungan, tak pernah sekalipun Kevin bermain fisik. Hanya mulutnya saja yang kadang bertindak, itu pun tak akan bertahan lama. Dan kini, ia melihat langsung wanita yang dulu pernah menjadi alasan hidupnya berwarna di sakiti oleh orang di bencinya. Persetan dengan kebenciannya terhadap Alya, hatinya tetap tidak terima. Ia murka.
“Keterlaluan sekali kamu Mayra!” bentak marissa, matanya melotot.
“itu hukumannya karena sudah merebut calon suamiku! Dasar pelakor! Tidak kakak, tidak adik, sama saja! Suka merebut yang bukan haknya!!” Raung Mayra.
“Tapi tak seharusnya kamu menamparnya!”
“Aku tak perduli! Dan Apa yang om aji katakan tadi benar, dia pasti sengaja kembali mendekati Kevin agar bisa menguasai hartanya!”
“Tidak! Itu semua tidak benar.” Elak Alya sedikit meringis.
“Alah.. ngaku aja kamu! Apa yang dulu kamu lakukan belum puas hah, setelah dulu sudah tidur dengan Dylan sekarang menikahi Kevin. Dasar wanita murahan!”
BRAK!
“CUKUP!”
Kevin berteriak lantang, sehingga suaranya menggema sambil tangannya menggebrak meja cukup keras. Jika saja meja itu terbuat dari kaca mungkin sudah pecah, namun untungnya terbuat dari kayu.
“Tutup mulut kotormu itu, sebelum gue robek!” desisnya seraya menuding wajah Mayra.
“Memang itu kebenarannya kan? dia dulu pernah tidur dengan Dylan! Harusnya yang menikahinya itu Dylan, bukannya kamu!”
“Mayra, Lo diam!” Kali ini Dylan yang berbicara, dia berdiri dari duduknya menatap bengis wajah wanita itu.
“Nak, tenanglah. Jangan emosi.” Ucap Marissa berusaha menenangkan putranya, walaupun dia sendiri juga marah dengan ucapan Mayra.
“Gak bisa ma, aku harus menutup mulut wanita sialan ini biar gak bicara macam-macam!”
Mayra yang mendengar itu tersenyum sinis. “Macam-macam bagaimana, memang Lo sama dia pernah tidur bareng kan! Dasar pasangan mesum!!”
“Lo-”
“Kalau mereka pasangan mesum, terus Lo apa?” potong Kevin tiba-tiba, kemudian dia berdiri menghadap ke Mayra.
“Aku?” Mayra menunjuk dirinya sendiri. “Memangnya aku kenapa?” Tanyanya heran.
Kevin tersenyum sinis. “Apa dirumah Lo gak ada kaca! Lo mengatakan Seperti itu seolah-olah gak punya salah sedikitpun!”
“Aku memang gak punya salah Vin, dan aku adalah wanita baik-baik. Bukan seperti dia yang udah pernah tidur dengan laki-laki lain, pasti ya waktu di luar negeri dia juga udah tidur dengan banyak laki-laki!”
Kevin yang mendengar itu tertawa pelan. “Wanita baik-baik katamu? Emang ada ya wanita baik-baik tapi rela menyerahkan selangkangannya hanya demi ketenaran!”
Kevin tak langsung menjawab, dia melirik ke arah kenzo yang berdiri di belakang Fandy.
“Tunjukkan.”
Kenzo mengangguk, dia pun membuka resleting tas kerjanya lalu mengeluarkan laptop. Mengotak-atiknya sejenak, lalu meletakkan benda itu di tengah-tengah meja.
“Sekarang Lo lihat!” Bentak Kevin sambil menarik kasar tangan Mayra agar bisa melihat ke layar laptop.
Mayra mengikuti apa yang Kevin maksud, dan seketika itu pula wajahnya nampak kaget. Bukan hanya dia saja, tapi Alya yang melihat itu pun tak kalah kaget. Matanya membola, mulutnya ditutupi dengan sebelah tangannya.
“Tidak mungkin! Ini bukan aku, ini pasti editan!” Pekik Mayra menyangkal sambil menggelengkan kepalanya, wajahnya merona dan matanya membola.
Kevin tersenyum smirk. “Udah jelas-jelas dalam video itu adalah Lo! Lihat, di jarinya aja ada cincin. Dan cincin itu sama persis seperti yang Lo pakai ini!” Ucapnya.
Cincin yang Kevin maksud adalah cincin pertunangannya, dan memang benar wanita yang wajahnya mirip dengan Mayra itu memang ada cincin di jari manis kirinya.
Mayra kembali menggeleng, dia tetap saja menyangkal jika wanita yang sedang di kungkung oleh tubuh pria tanpa pakaian dalam video itu bukanlah dirinya. Di video itu memang tak menampakkan wajah si pria, karena kamera cctv yang menyoroti mereka itu berada di atas bagian sudut kanan, sehingga memperlihatkan dua tubuh polos yang tengah menyatu itu.
Sedangkan si pria menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita yang mirip Mayra sambil terus memaju mundurkan inti tubuh bawahnya, dan tak lupa dengan suara erangan dan desahannya.
“Tidak! Itu bukan aku. A-aku gak mungkin melakukan itu!”
“Buktinya Lo memang ada disana, udahlah ngaku aja.”
“Enggak!” Teriaknya prustasi.
“Hey Kenzo, Lo dapat darimana video ini hah!” Mayra berteriak ke arah kenzo, namun pria itu tak menjawab ataupun merespon.
“Oh.. atau jangan-jangan Lo ya yang lakuin ini! Ngaku Lo!” Kini wanita itu menunjuk Alya.
Alya menggeleng. “Enggak may, aku gak tahu apa-apa soal ini.”
“Alah jangan bohong Lo! dasar perempuan gak tak diri! Udah merebut calon suamiku, sekarang memfitnahku dengan video ini!”
“Sumpah demi tuhan Mayra, bukan aku!”
“Gue gak percaya! Sini Lo cewek kampung, gue bakal kasih perhitungan sama Lo!”
Mayra sudah siap ingin menyerang Alya, namun dengan sigap Kevin menghalanginya.
“Gue udah peringatkan sama Lo sebelumnya! sekali saja Lo sentuh dia, Lo dan keluarga parasit Lo itu akan berhadapan langsung sama gue!” Ancam Kevin sambil menggerutukan giginya.
Lalu Dengan kasarnya dia mendorong tubuh Mayra hingga jatuh ke lantai, pelipisnya nampak berdarah karena tergores ujung meja.
Alya dan seluruh keluarganya kaget dengan tindakan kasar Kevin, termasuk aji.
Pria paruh baya itu melihat dengan jelas, ada sorot kebencian dan dendam yang mendalam dari mata sang anak ke Mayra. Dan hal itu membuatnya ketar-ketir, dalam benaknya muncul mungkinkah Kevin sudah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi?
“Kevin! jangan kasar gitu.” Seru Alya.
__ADS_1
Dengan posisi duduknya alya segera menarik tangan suaminya agar sedikit menjauh dari Mayra, dan untungnya pria itu menurut.
“Jangan begitu nak, apapun kesalahannya kamu gak boleh kasar sama wanita.” Ucap Fandy memberi nasehat pada cucunya.
Kevin tak bersuara, dia lebih memilih diam dan duduk kembali sambil bersedekap dada.
“Emang video apaan sih?” Tanya Dylan yang sedari tadi penasaran, terlebih melihat reaksi Mayra yang shock.
“Lo penasaran?” Tanya Kevin sambil menyeringai.
Dylan mengangguk antusias.
Tanpa kata, Kevin pun memutar balik layar laptop yang masih menyala itu untuk di hadapkan ke arah Dylan. Dan seketika itu pula matanya membola, Marissa juga yang penasaran pun sedikit menggeser laptop itu dan melihat isinya agar suaminya juga bisa melihatnya.
disana tengah menayangkan beberapa adegan panas yang mampu membuat 3 kaum lelaki dewasa itu meneguk salivanya susah payah, sementara Marissa nampak syok dengan mata melebar.
Sebenarnya tadi.. bukan hanya Mayra dan Alya saja yang terkejut melihat adegan tersebut, tapi Fandy juga. Dia merasa tak percaya, putri tunggal dari keluarga Herlambang yang terkenal terhormat itu bisa melakukan hal menjijikkan.
Dari awal memang dia tak menyukai wanita itu tapi aji selalu meyakinkannya jika Mayra adalah wanita yang cocok untuk menjadi pendamping Kevin, terlebih dia mengetahui wanita itu sudah menyukai cucu bungsunya dari jaman sekolah.
Dilihat dari luar Mayra memang nampak sempurna, paras cantik, kaya dan memiliki postur tubuh ideal. Namun sayang bad attitude! Dia yang selama ini selalu bersikap manis dan selalu memberi perhatian pada Fandy ternyata hanya topeng belaka untuk menarik perhatiannya.
Karena pada dasarnya Mayra tahu, Kevin akan nurut pada Fandy. Karena itu dia berusaha terlihat baik Dimata pria tua itu, agar Kevin bisa menerimanya.
“Iyyuuhh.. menjijikkan!” Ejek Dylan saat melihat adegan demi adegan video tersebut, padahal kenyataannya dia sedang menahan hasratnya.
Sebagai seorang lelaki normal dan sering melakukannya tentu dia akan terangsang, apalagi begitu melihat lekuk tubuh polos Mayra yang sangat menggiurkan. Bahkan saat ini juniornya sudah menegang, minta pelepasan.
“Tante gak menyangka kamu bisa melakukan itu Mayra.” Ucap Marissa menatap tajam wajah Mayra, wanita itu masih duduk di lantai sambil kedua jarinya menyentuh pelipisnya yang terluka.
“Itu tidak benar Tante! Dalam video itu bukan aku, itu pasti editan dan yang lakuin ini pasti cewek kampung ini!” Ucap Mayra yang lagi-lagi menuduh Alya.
“Jangan menuduh orang lain hanya demi menutupi kesalahanmu sendiri Mayra, Udah jelas sekali dalam video ini adalah kamu!”
Lalu Marissa menatap kesal ke wajah suaminya yang sedari tadi hanya diam.
“Ini wanita yang mas anggap wanita terbaik untuk istri Kevin? Cih, sekarang mas bisa lihat sendiri kelakuannya seperti apa! Untungnya Kevin tak jadi menikah dengannya, kalau iya entah apa yang akan terjadi dengan rumah tangga mereka!”
Aji yang mendengar itu membisu, dia tak tahu harus berkata apa.
“Aku yakin apa yang dia katakan Alya wanita murahan itu di tunjukkan untuk dirinya sendiri, pasti bukan dengan pria ini saja dia melakukannya. Iya kan? oh.. atau jangan-jangan mas juga pernah merasakannya. Iya?”
Semua orang yang mendengar ucapan Marissa langsung tertuju ke arahnya dengan mimik terkejut, terlebih Mayra dan aji yang nampak pias.
“Kenapa Tante bicara seperti itu, aku bukan wanita seperti itu!” Elak Mayra.
Marissa kembali menoleh ke Mayra, dia tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di perut.
“Kenapa? Apa kamu tersinggung dengan kata kataku? Kalau kamu tak merasa, seharusnya gak harus tersinggung dong.”
Mayra membisu.
“Segera konfirmasi pembatalan pernikahan ini pa!” Teriak Marissa pada aji, wajahnya merah padam.
Mendengar itu Mayra langsung bangun dari posisinya, matanya nampak melebar.
“Tante jangan, aku mohon jangan batalkan pernikahan ini! Aku sangat mencintai kevin, aku gak sanggup hidup tanpa dia.” Ucap Mayra mengiba.
“setelah melihat videomu ini apa kamu pikir kami masih mau memiliki menantu sepertimu? Cih, jangan harap! Terlebih Kevin juga sudah menikah dengan wanita pilihannya, dan semua buktinya sudah ada. jadi sebaiknya kamu lupakan mimpimu itu!”
Mayra tak bersuara, dia mendelik ke arah Alya yang langsung menunduk saat menyadari di tatap oleh Mayra. Spontan kedua tangan gadis itu melingkar di lengan Kevin sambil meremas jasnya.
Menyadari itu Kevin menarik tubuh Alya ke pelukannya, wajah gadis itu dia sembunyikan di dada bidangnya.
Melihat adegan itu membuat perasaan Wanita itu tak karuan. Antara marah, kecewa dan sedih. Semuanya campur aduk menjadi satu! Dia tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada jika selama ini Kevin dan Alya masih saling berhubungan, bahkan kini mereka diam-diam sudah menikah. Secara sah pula!
Semua pengorbanan dan penantiannya selama dua tahun ini berakhir sia-sia, tak perduli seberapa usahanya selama ini untuk bisa berada di posisi ini Pada akhirnya pria itu meninggalkannya.
“Sekarang kamu pergi dari rumah ini dan jangan menampakan diri lagi!” usir Marissa.
Mayra kembali menoleh ke arah Marissa dengan ekspresi tak terbaca. “Aku gak mau pergi sebelum Tante cabut omongan Tante tadi!” Desisnya.
“Apa yang harus di cabut? Kami tak mungkin melanjutkan pernikahan ini! Kamu bisa lihat sendiri kan? Kevin dan Alya sudah menikah, dan pernikahan mereka sah di mata hukum dan negara.”
“Aku bisa menjadi istri keduanya, jadi aku mohon jangan batalkan pernikahan ini.” Sahut Mayra.
Semua orang yang ada disana terperangah dengan ucapan Mayra, termasuk Alya.
“Wah.. mulai gesrek nih otaknya. Baru kali ini gue dengar ada wanita yang mau dijadikan istri kedua.” Celetuk Dylan.
“Jangan ikut campur urusanku!” Desis Mayra menatap tajam wajah Dylan.
“Wah.. wah.. berani jawab lagi! Udah Mending Lo pergi aja deh dari sini!”
“Gak akan!”
“Oke, kalau gitu berarti Lo minta dengan cara kasar.”
Dylan menggulung kedua lengan bajunya yang sebenarnya dia saat ini memakai kaos lengan pendek, lalu berjalan menghampiri Mayra, menarik kasar tangan wanita itu dan mendorongnya hingga keluar.
“PERGI LO DARI SINI, DASAR CEWEK MURAHAN! MASIH UNTUNG ADEK GUE BERBAIK HATI GAK NYEBARIN VIDEO ITU, KALAU ENGGAK BISA ABIS LO! PERGI SANA! PENGAWAL! USIR WANITA INI DAN JIKA DIA DATANG LAGI KESINI, TEMBAK MATI SAJA!”
BAM!
Dylan menutup pintu dengan kasar dan keras sehingga membuat beberapa tukang kebun yang ada disana di taman berjingat kaget.
Di depan halaman rumah itu memang dihiasi taman kecil, ada berbagai macam tanaman hias dan bunga disana. Disana juga ada kolam ikan yang di tengahnya ada pancuran air, selain itu tak jauh dari kolam ada dua ayunan besi, serta empat kursi kayu dan satu meja bundar.
Mendengar teriakan Dylan, beberapa pengawal yang berdiri disana pun mulai jalan mendekat, dan menarik paksa tubuh Mayra hingga mendekat ke mobilnya. Tak di perdulikan lagi dengan teriakannya yang memekikan telinga.
‘awas kalian semua, gue bakal balas! terutama Lo cewek miskin, gue pastikan hidup Lo akan sengsara karena sudah berani merebut Kevin dari gue!’
__ADS_1