TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 23~Setuju


__ADS_3

...•BEBERAPA JAM SEBELUM KONFERENSI PERS DADAKAN•...


Nampak mobil Lexus Warna biru milik Rangga memasuki area parkir rumah sakit, melihat itu tukang parkir yang tadi duduk di kursi plastik dekat pos satpam segera berlari ke arahnya dan dengan sigap membantunya untuk parkir.


Setelah dirasa aman, Rangga bergegas keluar. Memberi uang 10 ribu ke tukang parkir, lalu dengan sedikit berlari dia mengitari setengah mobilnya dan membuka pintu belakang.


“Mau gue gendong lagi atau pake kursi roda aja?” Tanya Rangga pada Alya.


“Kursi roda aja.” Jawabnya.


“Oke, tunggu bentar.”


Rangga langsung lari ke arah dalam rumah sakit, selang beberapa menit dia kembali dengan membawa kursi roda.


Arina yang kala itu masih duduk di jok belakang langsung keluar, berbalik lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Alya berdiri.


Setelah Alya sudah duduk dengan aman, mereka masuk ke dalam rumah sakit. Hingga langkah mereka berhenti di dekat loket informasi, Rangga pun pamit pulang.


“Lo udah konsultasi sama dokternya belum?” Tanya arina.


Alya mengangguk. “Udah, tadi pagi sebelum berangkat ke kampus gue udah buat janji sama dokter Samuel nanti siang akan datang. Tapi karena kejadian tadi, gue harus telpon dia lagi.” Jawabnya.


“Ini semua gara-gara si Kevin! Ya udah Lo telpon deh.”


Alya menurut, dia merogoh tasnya dan meraih ponselnya. Mencari kontak Samuel dan segera menelponnya.


Pada deringan pertama dan kedua Samuel tak mengangkat ponselnya, hingga deringan kelima baru panggilannya di respon.


[Halo] Tanya seseorang di seberang sana dengan suara wanita.


Alya mengernyit, seraya menjauhkan wajahnya dari Ponselnya. Dia melirik ke arah sahabatnya, dan di balas dengan delikan aneh.


“Kenapa?” Tanyanya.


“Suaranya kok cewek ya.” Bisik alya.


“Hah? Mungkin pacarnya kali.”


“Gak tahu.”


“coba Lo tanya.”


Alya kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Halo, maaf apa ini benar nomornya dokter Samuel?” Tanyanya dengan sopan.


[Iya benar, kamu siapa?] nada suaranya terdengar ketus.


“Saya Alya. emm.. bisa bicara dengan dokter Samuel?”


Tak ada sahutan di seberang sana, namun Alya mendengar suara ribut seperti orang beradu mulut. Hingga akhirnya terdengar suara Samuel.


[Halo Alya, ini aku Samuel. Maaf tadi ponselku lagi di pegang temanku.]


“Oh, iya gak apa-apa kok dok. Maaf ganggu.” Ucap Alya tak enak.


[Gak kok, oh ya Ada apa nih kamu telpon?]


“Saya ingin kasih tahu kalau sekarang saya sudah di bawah.”


[Loh, udah datang? Bukannya nanti siang?]


“Iya nih dok, tadi ada insiden dikit jadinya saya majukan.”


[Ya sudah kamu langsung ke ruanganku saja, kebetulan aku gak terlalu sibuk. udah tahu kan dimana tempatnya?]


“Iya dok.”


Setelah itu panggilan berakhir, Alya kembali memasukkan ponselnya ke tasnya. Arina segera mendorong kursi roda yang Alya duduki, berjalan ke arah lorong menuju lift.


...💐💐💐...


Kini kedua gadis muda itu sudah berada diruangan Samuel. disana ternyata Samuel tak sendirian, ada sosok wanita cantik full make-up dan berpakaian mini tengah duduk di sofa sambil bersedekap dada.


Alya sudah berbaring di ranjang pasien dan Samuel berdiri di depannya. Wajah tampan dokter muda yang memakai masker biru itu nampak serius, serta kedua tangannya yang memakai sarung tangan elastis warna putih nampak sibuk mengobati luka Alya yang jahitannya terbuka.


Sementara arina hanya memperhatikannya dari kursi depan meja kerja Samuel.


“Saya kan udah peringatkan untuk jangan banyak gerak dulu, sekarang lihatkan lukanya terbuka. Untung cuma sedikit, kalau semuanya terbuka kaki kamu bisa infeksi.” Omel Samuel.


Alya yang mendengar itu nampak menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah sekaligus menahan sakit.


Sebelum pulang Samuel pernah bilang jika kakinya baru saja di operasi, ada keretakan di tulang keringnya dan jangan terlalu banyak melakukan aktifitas dahulu, namun pada saat itu Alya tak mendengarnya. Dalam pikirannya hanya satu, yaitu ingin pulang.


“Dan apa kamu tahu jika infeksi akibatnya apa?” Tanya Samuel sambil melirik gadis itu sekilas.


Alya menggeleng.


“Kaki kamu akan saya ambutasi! Mau kamu?”


seketika Wajah alya langsung pias, Gadis itu kembali menggeleng.


“m-maaf dok, tapi mau gimana lagi. Saya baru sehari masuk kuliah, masa harus bolos.” Ucap Alya jujur.


Samuel menghela nafas. “Kan bisa cuti dulu, aku yakin pihak kampus akan mengerti jika kamu kasih alasan yang jelas.”


“Iya memang bisa, tapi saya yang gak mau.” Sahut Alya.


Samuel tak lagi bersuara, dia hanya geleng-geleng kepala dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


Selang beberapa menit Samuel sudah selesai dengan urusannya, dia membantu Alya bangun dari posisi tidurnya.


Arina yang melihat itu langsung berdiri, berlari kecil ke arah brankar sambil mendorong kursi roda. Mereka membantu Alya untuk kembali duduk disana, setelah itu berjalan ke meja kerja Samuel.


“Lain kali lebih hati-hati lagi ya, dan saya sarankan untuk sementara waktu kamu cuti kuliah dulu. Atau gak kamu bisa kuliah tapi pakai kursi roda atau kruk aja untuk menghindari hal seperti ini.” Ucap Samuel panjang lebar sambil jarinya menulis di kertas kecil.


“Tap-”


“kalau kamu masih keras kepala begini kamu bakal lama sembuhnya.” Potong Samuel cepat, menatap gadis itu tajam.


“Tuh, dengerin.” Bisik arina menuding ke wajah Alya, sementara si empu langsung cemberut.


“Ini saya kasih resep pereda nyeri, nanti kalian tebus dan minum secara teratur. Minggu depan kalian boleh datang lagi kesini.”


Samuel menyodorkan kertas kecil itu ke Alya dan gadis itu menerimanya.


“Makasih dok.”


“Sama-sama.”


Setelah itu arina dan Alya pun keluar dari ruang dokter, mereka berjalan menuju lift.


TING!


pintu lift pun terbuka, namun kedua gadis itu nampak terkejut karena isi lift itu sudah penuh dengan banyak orang. Masing-masing dari orang itu memiliki kartu indentitas yang mengalung di lehernya, ditambah mereka membawa kamera dan microfon seperti wartawan.


Orang-orang itu nampak celingukan, tunjuk sana tunjuk sini sambil terus berbicara. Membuat orang atau perawat yang melihat mereka antara bingung dan heran.


“EH.. EH.. DIA ADA DI SANA!” teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah lorong menuju poli kandungan.


Secepat kilat orang-orang itu langsung berlari ke arah yang sudah ditunjuk.


“Apa mereka itu wartawan?” Tanya arina pada Alya.


“Kayaknya.” Jawab Alya.


“Berarti dirumah sakit ini ada artis dong! Atau mungkin ada yang syuting?”


“Bisa jadi, udah ah balik yuk. Gue capek nih.” Ucap Alya mengajak arina untuk masuk lift yang masih terbuka.


Arina mengangguk mengiyakan, lalu ingin berjalan masuk. Namun tiba-tiba matanya melihat sosok yang di kenalnya tengah di kerubuni para orang-orang tadi.


Gadis itu menyipitkan matanya, sesekali mengucek matanya, siapa tahu dia salah lihat. Namun ternyata tidak, dia memang mengenali dua orang wanita yang tengah dikerubungi kumpulan orang tadi.


“Lo ngapain masih berdiri di situ, ayo masuk.” seru Alya, gadis itu sudah berada di dalam lift menatap arina dengan kening berkerut.


“Tunggu Al, kayaknya gue lihat bibi sama kakak Lo deh.” celetuk arina.

__ADS_1


“Hah seriusan? Dimana?” Tanya Alya, wajahnya nampak kaget.


“Itu disana, lagi dikerubungi sama orang-orang tadi.” Arina menunjuk ke arah yang dia lihat.


Mendengar itu dengan cepat Alya memutar kursi rodanya dengan kedua tangannya, keluar lift dan menoleh ke arah yang di maksud arina.


‘kenapa mereka ada disini?’ batin Alya


“Gue bener kan, mereka memang bibi Yuna dan kak Lena?” Tanya arina.


Alya mengangguk mengiyakan.


“Ini gimana nolongin mereka ya Rin, gak mungkin kan gue muncul tiba-tiba terus nyeret mereka pergi?”


“Gila aja Lo, gak mungkinlah!”


“Terus sekarang gimana dong, gak mungkin kita diam aja disini apalagi kak Lena lagi hamil muda.” Ucap Alya panik.


Arina diam sejenak. “Lo suruh aja paman atau kak Rendy kesini buat nolongin, mereka pasti ada dirumah kan?”


“Ide bagus, bentar gue telpon dulu.”


Alya pun menelpon nomor Rendy, tak butuh waktu lama pria itu menjawabnya.


[Halo Al, ada apa kamu telpon kakak?]


Terdengar suara Rendy di seberang sana, Alya juga mendengar suara berisik. Sepertinya pria itu ada di luar.


“Kak Rendy lagi ada dimana?”


[Lagi di jalan mau kerumah sakit, tadi mama telpon minta jemput.]


“Kak Rendy cepat kesini, kak Lena dan bibi lagi dikerubungi wartawan!”


Rendy yang mendengar itu pun kaget.


[Hah, dikerubungi wartawan? Dimana?]


“Dirumah sakit kak.”


[Rumah sakit! Jadi kamu lagi ada disana juga?]


“I-iya kak, tadi aku abis chek up sama Arina. Terus pas mau balik aku lihat mereka sudah di kerubungi wartawan! Kakak cepat kesini ya tolongin mereka.”


Terdengar helaan nafas si seberang sana.


[Tapi kakak lagi kejebak macet dek, gak bisa maju ataupun mundur.]


Mendengar jawaban Rendy, Alya nampak panik. “Terus ini gimana dong kak.”


Rendy tak langsung menyahut, pria itu sedang berpikir.


[Coba kamu telpon Kevin, suruh dia datang buat bantuin kamu!]


“Kevin?” Beo Alya dengan kening berkerut.


Arina yang mendengar nama Kevin disebutkan langsung melirik ke arah gadis itu.


[Iya, tadi pagi dia datang ke rumah buat nyari kamu, katanya ada urusan penting yang harus dibicarakan. terus papa bilang kalo kamu pergi ke kampus, Memangnya kalian gak ketemu?]


‘urusan penting? apa dia ingin membicarakan soal rencana kakaknya itu?’ batinnya Alya menduga.


“K-ketemu kak, tapi..”


[Tapi apa?]


“G-gak apa-apa kak!”


[Ya sudah kamu telpon dia ya, suruh cepat ke rumah sakit! Nanti kakak nyusul.]


“I-iya.”


Setelah itu panggilan pun berakhir.


“Gimana? Apa kak Rendy akan kesini?” Tanya arina.


“Duh! Terus ini gimana dong?” Ucap arina prustasi.


“Lo punya nomornya Kevin gak?” Tanya Alya dengan suara pelan.


“Hah! Nomor Kevin? Buat apaan?”


“G-gue mau telpon dia buat suruh kesini, biar bisa nolongin kak Lena dan bibi.”


“Kenap-”


“Nanti aja Lo nanyanya, sekarang Lo jawab punya gak?” Seru Alya, saking paniknya dia seakan tak sadar berbicara dengan nada tinggi.


Arina nampak terkejut sambil mengangguk kaku. “P-punya.”


“Ya udah kirimin nomornya cepat!”


tanpa berkomentar lagi Arina pun mengeluarkan ponselnya, mengotak-atiknya lalu..


Tring!


Ponsel Alya berbunyi, dengan cepat gadis itu melihatnya. Disana ada satu pesan dari nomor arina yang berisi pesan deretan nomor dan sudah tertera ada namanya, ia pun langsung menelponnya.


Panggilan tersambung, namun belum dijawab. Gadis itu berdecak kesal.


“Gimana?” Tanya arina.


Alya menggeleng. “Gak di angkat.”


“Telpon aja terus.” Titah arina.


Alya menurut. Dia terus menelpon nomor Kevin, hingga 5 menit kemudian panggilan terjawab.


[Siapa ini?]


Terdengar suara Kevin diseberang sana, namun suara pria itu terdengar lemas dan sedikit serak.


“H-halo Vin, ini aku Alya.”


Hening sejenak.


[Alya!] Suara Kevin terdengar kaget setelah beberapa saat tak ada jawaban.


“i-iya, k-kamu bisa gak datang ke rumah sakit sekarang?”


Kevin tak langsung menyahut, hanya terdengar suara grasak-grusuk dan erangan kecil. entah apa yang pria itu lakukan, namun yang pasti itu membuat Alya berpikiran negatif.


[Apa yang terjadi?]


Kevin kembali bersuara yang mampu membuyarkan lamunan alya, dan Kini suara pria itu terdengar stabil.


“T-tolongin kak Lena dan bibi Yuna vin, mereka sekarang lagi di serbu wartawan.” suara Alya terdengar bergetar.


[Apa yang mereka lakukan?]


“aku gak tahu, kamu cepatlah kesini. Aku takut mereka berbuat jahat.”


[Oke, kamu tenanglah dulu. Aku kesana sekarang!]


...💐💐💐...


Sementara itu di apartemennya Setelah panggilan berakhir, dengan cepat Kevin membuka laci kecil dekat kasur, mengambil kotak warna putih dan mengambil kain kasa, lalu melilitnya ke telapak tangan kirinya.


Begitu selesai dia meraih jaketnya yang dia lempar di sofa lalu memakainya, kemudian menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di meja bundar tak jauh dari ranjang dan dengan langkah lebar dia keluar kamar.


Kevin menuruni anak tangga dengan langkah tergesa-gesa, apartemen yang terlihat luas dan bersih itu nampak sepi karena dia disana hanya tinggal sendiri.


Sebenarnya Kevin memiliki pelayan, namun mereka akan datang di siang hari yang tugasnya hanya untuk beberes dan cuci baju saja, jika soal makanan Kevin biasanya akan beli di luar atau jika sempat akan masak sendiri.


“Tuan, mau kemana?”

__ADS_1


Kenzo tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu, saat Kevin membukanya.


“Gue harus ke rumah sakit! Tadi Alya nelpon minta bantuan gue buat nolongin kakak dan bibinya yang di jegat wartawan.” Ucap Kevin menjelaskan.


Mendengar itu Kenzo terkejut, dia ingin kembali bicara namun kevin langsung memotongnya.


“Sorry Ken gue buru-buru, nanti aja kita bicaranya. Oh iya nanti suruh pelayan yang biasa datang untuk beresin kamar gue.”


Setelah mengatakan itu dia berlalu pergi menuju lift.


...💐💐💐...


Sekitar hampir satu jam perjalanan Kevin akhirnya sampai dirumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya dia langsung berlari ke dalam rumah sakit. Masuk lift dan menekan angka dimana dia tahu keberadaan Alya, Kevin yakin gadis itu masih berada di lantai dimana ruangan Samuel berada.


TING!


Pintu besi itu pun terbuka, dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah lega Alya. Matanya berbinar, namun sedetik kemudian gadis itu mengernyit saat matanya melihat telapak tangan kiri Kevin yang di perban, dan disana ada sedikit noda merah.


“Vin, tangan kamu ken-”


“Dimana mereka?” Tanya Kevin memotong ucapan Alya sambil menyembunyikan lengannya ke belakang tubuhnya.


“disana.” Jawab Alya sambil jari telunjuknya mengarah ke para wartawan yang masih menjegal bibi dan kakaknya.


Kevin pun mengikuti ke arah yang di tuju, disana terpampang jelas Yuna dan Selena tengah di kerubungi wartawan.


Kevin kembali menatap Alya, lalu turun ke kakinya.


“Udah chek up-nya?” Tanya Kevin lagi.


“Udah, hanya tinggal tebus obat aja.” jawabnya.


Kevin langsung berjalan ke arah belakang tubuh Alya, mengambil alih peran arina.


“Gue mau bicara hal serius dulu sama dia.” Ucap Kevin pada arina saat gadis itu ingin mengikuti langkahnya.


Tanpa menunggu balasan arina, Kevin langsung mendorong kursi roda yang di duduki Alya sedikit menjauh darinya. Kemudian dia berbalik badan, dan berjongkok di depannya.


“Oke, Aku gak bakal basa-basi. Sebelumnya kakakmu pasti sudah mengatakan tentang syarat yang bang Rafa inginkan?”


Alya mengangguk.


“Jadi bagaimana? Setelah melihat langsung keadaan kakakmu sekarang, apa kamu masih mau menolaknya?”


“Aku gak tahu, ini sulit untukku.” lirih Alya.


“Ya, aku tahu. Itu juga berlaku untukku. Meskipun dulu kita ada hubungan, tapi rasa itu sudah lama pergi. Dan perlu aku tegaskan disini, Aku menikahimu bukan karena masih ada rasa, tapi karena terpaksa!”


Alya membisu dan menunduk, rasa panas mulai dia rasakan dikelopak matanya saat Kevin mengatakan itu. Dia tentu sudah tahu Kevin sudah tak mencintainya lagi, tapi tetap saja rasanya sangat sakit mendengar kata itu keluar dari mulutnya langsung.


“Kita sampingkan dulu masalah yang pernah terjadi diantara kita, yang penting sekarang kamu harus tolongin kakakmu dulu.”


Alya masih diam.


“Atau.. kamu mau kakakmu menikah dengan Chandra untuk dijadikan istri kedua? Karena aku yakin Renata gak akan mau diceraikan.”


Mendengar itu, Alya kembali menatap kevin lalu menggeleng kuat. “Sampai kapanpun aku gak akan biarkan itu terjadi!” Ucapnya tegas.


“Lalu maumu apa sekarang?” tanya Kevin.


Alya diam sejenak sambil menatap Kevin lekat, kemudian menghela nafas panjang.


“Baiklah aku setuju menikah sama kamu, tapi.. bagaimana soal Mayra?”


“Kamu gak usah pikirkan itu, biar Mayra menjadi urusanku. Kamu cukup diam dan ikuti saja apa yang aku ucapkan. Bisa?”


Alya mengangguk mengiyakan.


“Aku akan mengadakan konferensi pers dadakan disini.” Ucap Kevin, dan itu membuat Alya terkejut. Namun dia tak berkomentar dan kembali mengangguk, dia paham apa yang akan Kevin lakukan.


Setelah itu Kevin kembali bangun dari posisinya, matanya melirik ke arah arina seraya jalan ke belakang Alya dan mendorong kursi rodanya. Memberinya kode untuk mengikuti langkahnya menuju ruangan Samuel, dan untungnya gadis itu langsung paham.


Samuel adalah cucu dari pemilik rumah sakit tersebut, jadi dia akan meminta bantuannya untuk bisa bicara dengan pimpinannya yang tak lain adalah pak Dharma, kakeknya sendiri.


Ceklek!


Kevin langsung membuka pintu ruangan Samuel tanpa mengetuk pintu, membuat si pemilik kaget dan seketika menghentikan aktifitasnya.


“Aaakkhh!” Jerit Alya, lalu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sementara Arina diam mematung di tempatnya berdiri, gadis itu nampak melotot dengan wajah cengo. Sedangkan Kevin malah menatap kesal wajah Samuel, bisa-bisanya temannya itu berbuat hal tak senonoh di rumah sakit.


“Dasar dokter mesum, cepat pakai baju! Gue mau bicara serius!” Cetus Kevin.


Samuel mendengkus kesal, sementara wanita yang ada di kungkungannya menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang telanjang milik samuel.


“Salah sendiri kenapa masuk gak ketuk pintu dulu, ganggu kesenangan orang aja!” Gerutunya kesal.


“seenggaknya jangan berbuat hal itu di rumah sakit, gak sabaran banget jadi lakik!” balas Kevin.


Samuel tak merespon ucapan Kevin, dengan santainya dia bangun dari tubuh wanita yang tadi dia tindih dan duduk di sofa, begitu pula dengan wanita itu.


“Balik badan kalian!” Titah Samuel pada kevin dan Arina.


Kevin tak bersuara, dia hanya memalingkan wajahnya.


“Tutup mata Lo!” Bisik Kevin pada Arina begitu menyadari gadis itu masih membuka lebar matanya.


Arina menggeleng. “Barang langka Vin, sayang kalo di lewatin!” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Kevin yang mendengar itu berdecih.


Samuel pun segera memungut pakaiannya yang tadi dia lempar di lantai, dan kembali memakainya.


Selesai berpakaian lengkap, Samuel menyuruh tiga orang yang mengganggu aktifitasnya itu untuk duduk. Kedua pria itu duduk berhadapan di meja dinasnya, Sementara tiga wanita berada di belakangnya.


“Jadi gimana?” Tanya Samuel mewakili.


“Gue minta bantuan Lo buat bicara sama kakek Lo untuk mengijinkan gue ngadain konferensi pers disini.” Ucap Kevin to the poin.


Kening Samuel berkerut. “Konferensi pers apa?”


“Udah jangan banyak tanya dulu, sekarang Lo temenin gue. Biar cewek-cewek disini aja.”


Alya yang mendengar itu langsung menggeleng. “Aku gak mau Vin, aku mau ikut!”


Kevin memutar posisi duduknya dan menatap alya. “Gak! Kamu tetap disini!” tegasnya.


“Tapi-”


“tunggu dulu, Sebenarnya ada apa ini Vin, kenapa Lo mau ngadain konferensi pers segala?” tanya Samuel dengan wajah bingung.


“Dokter gak tahu kalau di luar lagi banyak wartawan, yang lagi kerubungin kak Lena dan bi Yuna?” Tanya arina.


Samuel menggeleng.


“Jelas aja Lo gak tau, orang Lo sibuk bikin anak!” Cetus Kevin, seraya melirik tajam ke arah dokter tersebut.


Bukannya merasa malu, Samuel malah nyengir.


“oke Aku setuju dengan ucapan kevin tadi, selama kami pergi kamu tetap diruanganku saja Al.”


“Tapi-”


“Udah Al mending Lo nurut aja dulu, ini demi keselamatan Lo juga.” potong Arina.


Alya menghela nafas. “Baiklah aku akan tetap disini, tapi saat konferensi pers mulai aku tetap mau ikut!” putusnya.


“Memangnya kamu siap disorot kamera? Mereka pasti akan nanya siapa kamu.” tungkas Kevin.


Arina yang mendengar itu pun mengangguk mengiyakan.


“B-bilang aja aku teman kamu, kamu kesini karena mau anterin aku chek up.” balas Alya terbata.


Kevin menghela nafas kasar, kemudian mengangguk. “Oke, Kamu tetap disini, aku gak akan lama.” Ucapnya dengan suara pelan.

__ADS_1


Alya hanya menanggapi ucapan Kevin dengan mengangguk, setelah itu Kevin dan Samuel pergi dari sana.


__ADS_2