
“setelah apa yang telah terjadi di antara kita, kamu meminta cerai? Apa kejadian kemarin tak berarti apa-apa bagimu?” desis Kevin, ia menatap istrinya dengan tajam.
Meski awalnya ia menginginkan berpisah dengan wanita yang ada di hadapannya itu, namun setelah mendengar ungkapannya membuatnya ragu. Tapi apakah ucapannya barusan itu jujur dari hatinya, atau sekarang wanita itu kembali berbohong?
Kevin menatap intens kedua bola mata istrinya, seakan mencari kebohongan. Namun Sayangnya ia tak melihatnya, Alya memang berkata jujur. Selain itu Kevin juga tak bisa memungkiri perasaannya sendiri jika ia tak ingin cerai, ia ingin Alya terus bersamanya dan terus menjadi istrinya, tapi logikanya terus beranggapan kalau Alya memang salah.
Ya, secara mata umum Alya memang bersalah. Selama 2 tahun lamanya Kevin di tipu olehnya dan sang papa, bahkan teman-temannya pun tak ada yang berkata jujur padanya. Mungkin jika arina saja Kevin bisa memaklumi, karena ia tahu seberapa erat hubungan pertemanan mereka. Arina pasti akan mendukung apapun keputusan Alya, meski tindakannya itu menyakiti dirinya sendiri. Dan Kevin juga sangat yakin sebelumnya arina pasti sudah menentang keputusannya itu, tapi karena keadaan membuatnya harus setuju dan berpura-pura tak tahu.
Kevin masih ingat saat dirinya menanyakan keberadaan Alya pada gadis itu, namun arina menjawab tak tahu apapun dan memintanya agar jangan mengganggu Alya lagi. pada saat itu ia sudah kembali ke inggris, dan tahu Alya sudah tak ada di Indonesia lagi itu pun dari Dimas.
Setelah mendengar penjelasan yang sedikit misterius dari Rangga, Kevin selalu merutuki dirinya sendiri. Menyia-nyiakan waktu 2 tahunnya hanya untuk membenci Alya, mengklaim apa yang di perbuatnya memanglah benar.
‘harusnya pada saat itu aku curiga padamu kenapa sampai berbuat itu, bukannya malah percaya dan berakhir membencimu. aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan saat ini, tapi setelah mendengar ini semua terlebih melihatmu menangis di depan mataku sendiri hatiku hancur. batinku sakit menyadari tersiksanya dirimu dulu, karena ingin memastikan keluargamu baik-baik saja. maafkanlah pria bodoh ini yang tak menyadari itu semua.’
Sementara itu Alya yang mendengar ucapan Kevin nampak menggeleng. “bukan begitu maksudku.” sanggahnya.
“lalu maksudmu apa? Kamu ingin membawa kabur anakku bersamamu, terus pergi menjauh. Begitu?” tuduh kevin.
DEG!
Alya membisu, jantungnya berdetak kencang saat nama anak di sebutkan. Ia tak lupa jika pada malam itu memang Kevin melakukannya berkali-kali, dan merasakan jika suaminya itu membuang benihnya ke dalam rahimnya. Tapi pertanyaannya adalah, apakah akan secepat itu dia hamil?
Bukannya Alya takut hamil, sungguh demi apapun dia sudah siap jika nanti menjadi ibu di usia muda. Bahkan saat di hari dimana dirinya sudah menyandang sebagai istrinya Kevin, Alya sudah ada keinginan untuk hamil anaknya. Hanya saja saat itu ia masih berpikiran mustahil, karena setahunya Kevin membencinya.
“kenapa diam saja, ucapanku benar kan?”
Alya tersentak kaget saat Kevin sudah berdiri di dekatnya, seketika itu pula ia menjadi gugup.
“vin, A-aku..”
“pakai kembali!”
“hah! A-apa-”
“pakai kembali cincinmu dan jangan pernah berani melepasnya, atau aku akan mematahkan semua tulang-tulangmu!” ancamnya dengan suara tertahan.
Tanpa bertanya lagi dan dengan keadaan masih gugup, Alya kembali memakai cincin pernikahannya. Lagi-lagi Gadis itu di buat kaget saat Kevin menarik tubuhnya, dan mendekapnya erat.
“maafkan aku..” ucap Kevin dengan nada lirih.
Sejenak Alya diam, wajahnya terlihat bingung. “maaf untuk apa, kamu gak ada salah sama aku Vin. Harusnya aku yang minta maaf, karena udah nyakitin kamu.” sahutnya, seraya membalas pelukan suaminya, bersamaan dengan itu air matanya kembali keluar.
“kamu benar, aku terlalu memikirkan urusanku sendiri sampai aku lupa jika kamu juga terluka. Maafkan aku.” sambungnya, dan kali ini nada bicaranya bergetar.
Untuk saat ini perasaan Alya sudah lega, karena rahasianya sudah diketahui oleh Kevin. Namun di sisi lain ia juga merasa ketakutan, bukan karena status pernikahannya yang mungkin sebentar lagi akan selesai, tapi lebih ke nasib keluarganya.
Alya tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika papa mertuanya tahu jika Kevin sudah mengetahuinya, apakah ancamannya yang dulu pernah dia ucapkan akan benar-benar dilakukan?
“setelah ini kamu boleh hukum aku sesuka hatimu, aku akan menerima semuanya. Tapi aku mohon banget, jangan bawa-bawa keluargaku. Terlebih kak selena.” ucap Alya lagi.
Menurutnya dengan mempertahankan pernikahan kakaknya, maka semuanya akan aman. Meski secara pribadi Alya belum kenal sifat Rafael seperti apa, tapi ia yakin pria itu akan melindungi kakaknya dan keluarga pamannya dengan baik.
“apa kamu takut jika papa akan mengganggu keluargamu?” tanya Kevin.
“iya.”
Kevin yang mendengar itu nampak menghela nafas lalu melerai pelukannya, Menatap wajah istrinya sejenak kemudian menggerakkan tangannya untuk mengusap air matanya.
“kamu pernah bilang sama aku bahwa setiap manusia tak luput dari kesalahan dan khilap, begitu pun dengan kita. Aku dan kamu sama-sama punya kesalahan dan Dari kesalahan itu harusnya kita bisa ambil hikmahnya, bukannya saling menyalahkan. dan kamu juga pernah bilang padaku, setiap perjalanan hidup pasti akan menemukan yang namanya masalah. Karena kamu selalu percaya di balik itu semua ada hikmahnya, dan tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk jalan keluar.”
Alya membisu saat Kevin mengatakan itu, kedua pasang matanya kembali berkaca-kaca dan wajahnya merasakan panas. ia paham apa maksudnya, Hatinya semakin perih saat mengingat perbuatannya masa lalu. Meski semua itu ia lakukan demi melindungi keluarganya, bahkan ia rela menyakiti dirinya sendiri dan tentunya Kevin juga.
Bagaimana bisa, dahulu dia selalu mengatakan pada kevin untuk jangan pernah menaruh dendam saat pria itu curhat tentang sejarah perjalanan kisah orang tuanya. Dia juga sering mengatakan untuk jangan berburuk sangka dengan takdir tuhan yang selalu memberinya masalah, nyatanya kini ia sendiri melakukannya.
“tapi kenapa sekarang kamu malah begini, kamu mengingkari semua ucapanmu sendiri. Lari dari masalah dan pergi jauh, apa menurutmu semua yang kamu lakukan itu benar?”
“maafkan aku, hiks.. hiks.. aku tahu aku salah, jujur aku juga gak mau tapi situasinya memaksaku.” lirih Alya dengan suara bergetar, kemudian menunduk dan tangisannya pun pecah.
Kevin menghela nafas panjang begitu melihat Alya kembali menangis, ia bisa melihat di bola mata itu tersirat kepedihan. Ia paham Alya melakukan sandiwara ini demi keluarganya, dan bodohnya Kevin lupa dengan kenyataan itu.
seharusnya Kevin tahu jika wanita di depannya itu selalu mengutamakan ketentraman orang-orang terkasihku, Tapi saat itu Kevin sudah terlanjur termakan oleh hasutan papa-nya, ditambah dengan emosinya yang mudah tersulut sehingga ia tak bisa berpikir jernih.
“kamu seharusnya bilang aja sama aku Al, bukannya mengambil keputusan secara sepihak begini! Apa kamu tidak tahu sehancur apa aku dulu, Hem?”
Alya kembali mendongak dan siap buka suara, namun aksinya itu terhenti saat bibirnya sudah di bungkam oleh jari telunjuk kevin.
“aku tahu kamu melakukan ini semua demi keluargamu, dan inilah kesalahanku yang langsung percaya begitu saja. Harusnya aku tahu kamu melakukan ini pasti ada sebabnya, bukan karena tak mencintaiku lagi tapi karena hal lain. Maafkan aku..” Lirih Kevin.
“tapi itu dulu dan aku bisa memakluminya. Berbeda dengan sekarang, ada aku yang akan terus menjagamu. Bukan hanya aku, tapi Dylan dan bang Rafa juga pasti akan melindungi kalian. Jadi aku minta mulai sekarang berubahlah menjadi berani, lawan semua orang yang pernah menyakitimu. Bahkan kalau perlu sebut saja marga grandma, aku yakin mereka gak akan berani menyentuhmu. Bisa?” lanjutnya.
‘karena aku yakin sebelum ini bang Rafa sudah mengetahuinya, dan dia pasti sengaja merencanakan ini semua agar kita kembali bersama.’ batin Kevin menduga-duga.
Ia sangat yakin kakak sulung itu sengaja melakukan itu semua, bukan semata-mata ingin membebaskannya dari perjodohannya dengan mayra, tapi juga ingin menyatukannya kembali dengan Alya.
Bukan apa-apa, tapi dari semua keluarga dan teman-temannya yang tahu dengan kisah cintanya, hanya Rafael yang tahu sedikit. Karena pria itu terlalu sibuk dengan studi dan urusan kantor, jadi Rafael tak banyak waktu untuk mengurusi kehidupan pribadinya.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, darimana kakak sulungnya itu tahu jika Alya adalah mantan kekasihnya. Padahal dulu dia hanya menunjukkan foto Alya saat masih SMA, itu pun sudah lama sekali. Apakah mungkin Rafael masih mengingatnya?
“termasuk juga papamu?” tanya Alya.
“ya.” jawab Kevin singkat, sorot matanya berubah dingin saat mengingat soal papa-nya.
“tapi.. dia kan papamu Vin, papa kandungmu. Aku gak mau karena masalah ini membuat hubungan kalian retak.” ucap Alya, wajahnya terlihat sendu.
Kevin nampak tersenyum tipis saat mendengar kata terakhir Alya, apalagi begitu melihat raut wajah istrinya itu. Dalam dirinya merasa beruntung karena memiliki istri seperti Alya, tapi ia juga kesal karena dengan sikapnya itu membuat semua orang berani semena-mena dengannya.
“aku tahu, tapi perbuatannya itu tak bisa di biarkan. Dan asal kamu tahu jauh sebelum kita kenal hubunganku dengan papa sudah tak baik-baik saja, apa kamu sudah lupa dengan kisah mereka yang pernah aku ceritakan?”
Alya menggeleng. “tidak!”
__ADS_1
“jadi?”
Sejenak Alya diam, ia menatap lekat kedua netra suaminya kemudian menghela nafas.
“apapun akan aku lakukan demi kenyamanan keluargaku.”
Kevin kembali tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat. Dalam hatinya sudah bertekad, ia akan menjaga dan melindungi alya. Tak perduli jika orang yang menjahatinya adalah ayah kandungnya sendiri, akan ia tetap Brantas.
“apa selain ini ada lagi yang kamu sembunyikan?” tanya Kevin.
Dengan gerakan ragu Alya menggeleng.
“kamu yakin?” mata Kevin menyipit, curiga.
“i-iya. Selain karena ancaman papa, aku gak ada alasan lain untuk meninggalkanmu.”
Kevin yang mendengar itu diam, keningnya berkerut.
“kenapa? Kamu gak percaya sama aku?” tanya Alya balik.
Sebelum bersuara Kevin nampak menghela nafas, seraya bersedekap dada. “kamu tahu kan dengan prinsipku?”
“i-iya.”
“kesalahanmu ini saja belum tentu aku maafkan, dan sekarang kamu masih saja mau berbohong?”
Alya yang mendengar itu langsung menunduk, namun itu tak bertahan lama karena satu jari Kevin berhasil mengangkatnya.
“katakan!”
Alya tak langsung menjawab, ia seakan ragu untuk mengatakannya. Membuat Kevin yang melihatnya merasa jengkel sekaligus gemas.
“mayra!”
DEG!
Kedua mata Alya langsung melebar saat Kevin menyebut nama mantan tunangannya, ia kaget.
Kevin mengangguk. “aku tahu Mayra dan papa ada hubungan, dan aku juga tahu dia pernah mengancammu. Iya kan?”
Alya membisu, ia menelan salivanya dan detakan jantungnya semakin cepat tatkala mendengar ucapan terakhir suaminya. Namun setelahnya ia mengangguk, dan Kevin kembali menghela nafas.
“sekarang lihatlah, kesalahanmu padaku itu banyak sekali. Apa kamu tidak takut dosa, Hem?”
Ekspresi wajah Alya berubah muram, dan matanya berkaca-kaca. Bukan hanya sedih karena kesalahannya, tapi juga kasihan dengan Kevin karena selama ini sudah di tipu oleh ayah dan mantan tunangannya.
“maafkan aku..” hanya kata itu yang bisa Alya keluarkan, membuat Kevin mendengus sebal.
“Lupakan saja!” cetusnya, kemudian menjauhkan diri. “sebaiknya kamu bersih-bersih sana, nanti turun lagi. Intan sudah masak buat makan malam kita.”
Alya menurut, sebelum pergi ia mengambil barang-barangnya yang berserakan di lantai, termasuk paperbag yang Kevin kasih.
Sedangkan Kevin masih berada Disana, ia menatap kepergian istrinya dengan helaan nafas.
Tak berselang lama Kevin merasakan ponselnya yang ada di saku celananya bergetar, ia pun merogohnya dan wajahnya berubah kaku saat ada satu pesan masuk dari akun instagramnya. Bukan hanya pesan, tapi pemilik akun tersebut juga mengirimkan beberapa potret Alya sedang ada di parkiran kampus.
{Istrimu cantik juga, bohay lagi. pintar sekali kau memilih pengganti Mayra. Kali-kali bisa dong gue rasain juga hahahaha..}
“sepertinya setelah ini gue harus menjaganya lebih ketat lagi.” gumamnya.
...💐💐💐...
1 setengah jam pun telah berlalu, setelah membersihkan diri dan berpakaian lengkap Alya keluar dari kamar. Seperti biasa, ia selalu jalan perlahan-lahan saat berada di tangga.
Saat tiba di bawah, ia melangkah menuju dapur dan melihat suaminya sudah duduk di ruang makan sambil bermain ponsel. Penampilan pria itu juga sama seperti dirinya, sudah segar dan memakai baju santai.
“kalau masih sakit sebaiknya pakai aja kruknya.” ucap Kevin saat Alya baru saja duduk di kursinya, tepatnya berada di hadapannya.
“gak apa-apa kok, cuma sakit sedikit.” balas Alya.
Kevin yang mendengar itu mendengus, percuma saja ia menasihatinya pasti tak akan di dengar olehnya.
“terserah! Yang ngerasain sakitnya kan kamu, bukan aku.” ucap Kevin lagi, namun kali ini terdengar ketus.
“makan!” Titahnya, dan Alya mengiyakannya.
Sedetik kemudian pasutri itu pun mulai menyantap makan malamnya, sepanjang itu tak ada obrolan apapun. Mereka makan dengan suasana senyap, dan tentunya dengan suasana hati yang berbeda.
Jika biasanya Alya selalu bawel, menanyai ini itu ke suaminya meski di balas singkat. Tapi kali ini Alya memilih diam, entah kenapa setelah semuanya terbongkar ia menjadi segan berbicara dengan Kevin.
Hingga beberapa menit setelahnya, acara makan malam mereka pun usai. Alya mulai membereskan semua yang ada disana, di bantu oleh Kevin.
Namun saat Alya ingin mencucinya, Kevin langsung melarangnya dan belum sempat protes, ia langsung membawanya ke ruang kerjanya.
“kenapa kamu bawa aku kesini?” tanya Alya saat sudah duduk di sofa panjang yang ada disana.
Sementara Kevin yang duduk di sampingnya nampak memberikan satu map tebal ke Alya dan berkata.
“sekarang kamu buka map itu dan pilih mana yang menurutmu cocok.”
“hah? Maksudnya apa?”
“makanya kamu cepetan buka biar paham apa yang aku maksud.”
Alya pun langsung membuka map tersebut, keningnya berkerut bercampur wajahnya yang bingung saat melihat lembaran kertas berisi biodata pria asing berbadan kekar.
“jangan bilang kamu mau nambah bodyguard?” tebak Alya.
Tanpa harus bertanya kembali, Alya langsung paham dengan maksud suaminya. Apalagi coba Kevin memberikannya biodata pria asing dengan predikat jago bela diri dan biragawan jika bukan untuk menjadikannya bodyguard.
__ADS_1
“ya.” sahutnya singkat.
“untuk apa lagi sih Vin, setahuku bodyguard kamu itu udah banyak.”
Alya tahu betul bodyguard yang selalu mendampingi Kevin dan Kenzo sudah banyak, mereka memang tak menampakkan diri tapi Alya tahu keberadaan mereka yang selalu mengikutinya dari jarak jauh.
“bukan buat aku, tapi kamu!”
“kan udah ada kak sean.”
“satu aja mana cukup! aku aja ada 5, masa kamu hanya satu. Gak adil itu namanya.”
“ya gak apa-apa, wajar kalau kamu punya 5 bodyguard karena aktifitas kamu itu banyak. Sedangkan kesibukan aku hanya di kampus, keluar aja jarang. Udahlah gak usah ya?”
Kevin menggeleng. “gak ada! Keputusanku sudah final dan gak bisa di ganggu gugat, aku akan menyewa 10 bodyguard sekaligus buat kamu.”
GLEK!
Alya menelan salivanya susah payah, dan matanya membola saat mendengar ucapan Kevin.
“se-sepuluh! Banyak amat?” pekiknya.
“gak lah, itu paling sedikit! Kamu gak lihat bodyguard yang rangga dan Adrian sewa untuk menjaga Tina ada berapa? 30 orang! Dan juga teman kamu itu Jessica, dia punya 20! Belum lagi Dimas, dia sampai nyewa 15 bodyguard buat Kenji! Sedangkan aku sama kamu paling dikit!”
Alya meringis seraya menggaruk pipinya yang tak gatal, apa yang di ucapkan suaminya memang semuanya benar. Alya tak akan heran, karena mereka adalah keluarga Sultan yang selalu di kelilingi oleh banyak penjagaan.
Dan sekarang dia juga menjadi salah satu dari para sultan itu, terlebih ia sudah menikah dengan young rich! pewaris dari keluarga Zain yang terkenal miliarder. jadi sebisa mungkin Alya harus membiasakan diri, meski dalam hatinya merasa risih.
“apa ini gak berlebihan?”
“gak!”
“tapi..”
“gak ada tapi-tapian, sekarang kamu aja pilih mana yang paling cocok.”
Alya menghela nafas, dengan malas ia kembali menatap lembar demi lembar biodata calon bodyguardnya. Namun setelah sekian menit ia melihat tak ada satupun yang dia suka, mungkin lebih tepatnya bingung.
“kamu ajalah yang pilih.” pada akhirnya ia pun menyerah, memberikan map tersebut ke pangkuan suaminya.
“kenapa? Gak ada yang cocok?”
Alya menggeleng. “bukan, tapi aku takut.”
“ck! Takut apa sih, cuma disuruh pilih aja bukan disuruh perang!” gerutu Kevin, namun hanya di balas Alya dengan cengiran.
Meskipun begitu Kevin tetap menuruti permintaan Alya, ia mulai melihat dan memilih mana yang menurutnya paling terbaik.
“nambah satu aja ya, jangan banyak-banyak tapi harus perempuan.” pinta Alya.
“gak!” tolak Kevin tanpa menoleh.
“ayolah Vin, biar nanti kak Sean juga ada teman ngobrolnya. Aku suka kasihan dia selalu sendiri waktu nunggu aku.” rengek Alya, dan tanpa sadar ia melingkarkan kedua tangannya di lengan kevin.
“ya kamu ajak dia ngobrol Lah.” sahut Kevin cuek.
“ck! Itulah masalahnya, dia persis kayak dimas. Cuek dan dingin, untungnya ganteng!”
Mendengar kata terakhir istrinya membuat Kevin langsung menoleh, ia menatapnya dengan delikan tak suka.
“kamu bilang apa tadi? Coba ulangi.” desisnya.
“yang mana?” tanya Alya dengan wajah polosnya.
“yang terakhir!”
Alya diam sejenak. “ganteng?”
BRUK!
Kevin menutup kasar map tersebut dan menaruhnya di meja, kemudian mefokuskan pandangannya ke arah istrinya.
“ganteng ya? udah berani sekarang muji cowok lain di depan suamimu sendiri, Hem?”
“lah emang bener kan, kak Sean itu ganteng! Bule lagi. Kamu gak tau aja kan cewek-cewek di kampus pada liatin dia terus, tapi gak berani deketin karena wajahnya selalu kaku, ditambah badannya yang gede.”
“terus kamu suka gitu sama cowok yang badannya gede dan mukanya bule?”
“Gak, aku lebih suka yang Asia! Udah ah jangan di bahas lagi, pokoknya aku mau nambah bodyguard satu aja dan itu harus cewek!”
“ta-”
CUP!
ucapan Kevin tertahan saat alya mengecup bibirnya sekilas, dan hal itu membuat matanya membola karena kaget.
“kalau kamu gak mau mending gak usah aja!”
Setelah mengatakan itu Alya beranjak dari duduknya, dan pergi begitu saja meninggalkan Kevin yang masih terpaku di tempatnya.
...💐💐💐...
Sementara itu di luar, Alya masih berdiri di depan pintu ruangan Kevin. Wanita itu tengah menutup wajahnya yang terasa panas, sambil bergumam merutuki dirinya sendiri yang telah berani mencium Kevin duluan.
Tak lama kemudian ia langsung menurunkan tangannya, wajahnya berubah serius. Berpikir jika wajar saja dia melakukan itu karena Kevin suaminya, dan sebelumnya juga mereka sering melakukannya. Tapi itu dulu saat mereka masih pacaran dan seingatnya Alya tak pernah memulai duluan, baru kali ini ia melakukannya.
Di tambah permasalahan di antara mereka juga belum selesai, Alya takut dengan tindakannya tadi membuat Kevin semakin membencinya.
Alya membuang nafas panjangnya begitu mengingat itu, apakah setelah ini suaminya akan benar-benar memaafkannya atau malah semakin membencinya?
__ADS_1
‘ya tuhan.. aku pasrah, benar-benar pasrah jika nanti Kevin gak akan memaafkan aku. sebisa mungkin aku akan iklhas menerima kenyataan jika seandainya nanti dia memilih pergi dan bersanding dengan wanita lain.’ doa Alya dalam hati.
Gadis itu sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, dan akan iklhas menjalani nasibnya menjadi janda muda. Jika nanti hasil dari hubungan itu akan menjadi nyawa, maka Alya akan menerimanya dengan senang hati.