
Kevin dan Alya baru saja sampai di gedung rumah sakit, Mereka langsung masuk lift tanpa harus bertanya ke bagian informasi. karena sebelumnya, Kevin sudah menghubungi Samuel jika mereka akan datang hari ini.
Selang beberapa menit menunggu, pintu lift pun terbuka. Bergegas pasutri itu masuk ke dalam dan menekan tombol, tak lama setelahnya pintu besi itu kembali tertutup rapat.
Alya jalan mundur ke belakang dan menyenderkan tubuhnya ke tembok sambil matanya memperhatikan tubuh tegap suaminya dari belakang, hingga pandangannya berhenti di telapak tangan kanannya.
Kemarin tangan suaminya masih di perban, namun kini sudah tak ada lagi. Dalam hati gadis itu merasa bersyukur, itu artinya lukanya sudah sembuh.
Saat mereka masih menghabiskan waktu di pantai, Alya memang kembali menanyakan perihal kenapa tangan Kevin bisa terluka, dan tanpa berpikir lagi pria itu menjawabnya karena kena goresan pisau saat ingin mengupas buah apel. Alya pun langsung percaya, karena jika di perhatikan memang lukanya mirip seperti goresan pisau.
Padahal kenyataannya saat itu tangannya bisa luka karena memang sengaja dilukai, dan dia lakukan itu bukan tanpa alasan.
TING!
terdengar suara lift, pertanda pintunya akan segera di buka. Mereka pun kembali keluar, lalu berbelok ke sisi kanan menuju ruangan dokter Samuel.
Sama halnya seperti sebelumnya, saat sudah sampai Kevin membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu. Terlihat Samuel sedang duduk di kursinya, sambil menatap berlembar-lembar kertas yang entah isinya apa.
Menyadari akan kehadiran Kevin dan Alya, dokter muda yang kata para suster dan dokter yang mengaguminya sering dikatakan mirip Cha Eun woo itu mendongak. Dia tersenyum cerah, menatap pasangan pengantin baru itu.
“halo Alya, gimana kabarnya? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Samuel saat gadis itu sudah duduk di kursi yang ada depannya, sedangkan Kevin memilih duduk di sofa yang jaraknya tak terlalu jauh dari meja kerja Samuel.
“b-baik dok.” jawab Alya dengan gagap, pasalnya tatapan Samuel sangat berbeda dari biasanya.
“syukurlah, tapi kamu beneran belum di apa-apain sama suamimu kan?”
Seketika itu pula Kevin langsung mendelik tajam setelah mendengar ucapan terakhir Samuel. “heh, maksud Lo apa ngomong begitu?”
Samuel meliriknya seraya menggeleng. “gue gak ada maksud apa-apa, hanya sekedar nanya doang. Apa salah?”
“tapi pertanyaan Lo aneh, seolah-olah Lo menggambarkan gue ini pria kejam!”
“emang benar kan, Lo itu kejam. gak nyadar Lo? Lagian ya Alya ini masih terlalu kecil jika harus dibuat bunting sama Lo, jadi gue sarankan tahan dulu. Ya.. minimal sampai dia lulus kuliah.”
Kevin yang mendengar itu tak lagi bersuara, pria itu mendengus sebal sambil bersedekap. Sedangkan Alya hanya bisa duduk diam, merasa canggung.
Tak lama setelah itu Samuel kembali menatap Alya sambil tersenyum. “saat ini kan kamu sudah menjadi nona muda di keluarga dirgantara, Jadi pesanku adalah kamu harus berubah menjadi wanita berani dan kuat. Selain itu...”
ucapan Samuel menggantung seraya mencondongkan wajahnya ke Alya, lalu kembali berkata.
“Harus bisa ekstra sabar menghadapi sifat trempamen suamimu itu.” katanya dengan nada berbisik.
sejenak mata Samuel melirik ke arah Kevin yang kembali menatapnya tajam, bibir tipisnya bergerak tanpa suara.
“Dan satu lagi, jangan dulu mau jika dia mengajakmu berhubungan badan.” sambungnya.
“Euuhh.. itu--”
“oh, atau perlu aku pesankan obat kontrasepsi ke dokter kandungan?” potong Samuel cepat.
“gak perlu!” cegah Kevin dengan suara meninggi, membuat Samuel dan Alya langsung menoleh padanya.
“Apa-apaan sih Lo main ngatur-ngatur orang segala, lagian ya meskipun nantinya Alya hamil anak gue juga bukan urusan Lo! Dia itu istri gue, jadi gak ada salahnya jika nanti dia hamil!” cercanya seraya jalan mendekat, matanya melotot dan wajahnya pun memerah.
Samuel yang mendengar itu terkekeh geli, dirinya merasa lucu melihat ekspresi wajah sahabatnya itu. Sementara Alya terlihat kaget, namun tak berani buka suara.
“santai bro, gak usah ngegas gitu. Noh lihat, istri Lo sampe kaget gitu. Lagian gue tadi cuma bercanda, ya kali gue harus larang-larang istri Lo buat bunting. tapi kalo bisa jangan cepat-cepat lah, kan dia masih kuliah. Kasihan nanti.”
Mendengar itu Kevin diam, namun raut wajahnya tetap tak berubah. Begitu pun dengan Alya yang memilih diam, bingung juga mau bicara apa. Dalam pikiran gadis itu rasanya tak mungkin jika Kevin akan melakukannya, meskipun ia sadar sejak menikah suaminya itu sering menciumnya.
“gue ngomong gini bukan maksud apa-apa, hanya mau ngasih saran aja. kalian ini kan masih sama-sama muda, Nikmatin aja dulu lah masa-masa pengantin barunya. tapi ingat, Jangan terlalu di gas.”
“banyak bacot Lo ah.” cetus Kevin, lalu menarik kursi yang ada di depan meja kerja Samuel dan duduk disana sambil bersedekap dada.
Samuel yang mendengar jawaban Kevin kembali terkekeh. “baiklah, sekarang apa keluhanmu?” tanyanya pada Alya.
“ah iya.. sejak kemarin kakiku sudah tak merasakan nyeri lagi, bahkan saat aku bawa lari pun sudah tak merasakan apa-apa. Tapi.. tadi aku ngerasa nyeri lagi meski sedikit.”
Samuel mendengar ucapan Alya sambil manggut-manggut. “apa hari ini kamu minum obatnya?”
Alya menggeleng.
“nah itu masalahnya, karena kamu belum minum obatnya makanya kamu merasa sakit lagi. Sebagian obat itu selain untuk bisa menyempurnakan tulang kakimu yang patah, dia juga bisa menghilangkan rasa nyerinya. Aku memang sengaja memberi obat pereda nyerinya dengan dosis tinggi, karena aku tahu kamu gak bisa diam dan gak betah pakai alat bantu. Maka dari itu rajin-rajinlah minum obat itu agar kamu gak terlalu merasa sakit.”
“oh begitu, jadi intinya kaki aku ini belum sepenuhnya sembuh?”
“iya. sebenarnya kamu ini harus dirawat agar bisa mendapat perawatan intensif, tapi karena kamu gak mau jadi aku suruh kamu untuk rajin-rajin kontrol. Tak perlu setiap hari, cukup 3 hari dalam seminggu atau seminggu sekali juga tak apa-apa.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Samuel, Alya mengangguk paham.
“tapi dok aku tetap ingin di periksa.”
“baiklah.”
Samuel bangun dari duduknya dan jalan mendekati Alya kemudian berjongkok, tanpa harus disuruh gadis itu merubah posisi duduknya, lalu menunjukkan kakinya.
Sebelah tangan Samuel meraih kaki Alya, kepalanya bergerak kanan kiri seraya telunjuknya sedikit menekan-nekannya.
“Sshhh..” terdengar desisan keluar dari mulut Alya, dan hal itu membuat kening Samuel berkerut.
“sakit banget?” tanyanya seraya mendongak menatap wajah Alya yang mulai memerah.
Alya mengangguk.
Untuk sejenak Samuel terdiam, hingga akhirnya dia menghela nafas dan berakhir mengangguk. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih lanjut, namun ia langsung paham setelah melihat tatapan Alya yang seakan memberinya kode. Dirinya berpikir, pasti sebelumnya sudah terjadi sesuatu namun Alya tak mau Kevin mengetahuinya.
‘dia gak pernah berubah.’ batin Samuel.
“ya sudah, habis ini kamu langsung minum obatnya ya dan aku sarankan jangan terlalu banyak jalan dulu. Kalau bisa pakai kursi roda aja, biar kaki kamu juga cepat sembuh.” Ucapnya seraya kembali berdiri, kemudian duduk di tempatnya.
“baik dok, terima kasih.” ucapnya sambil bersalaman pada Samuel, kemudian berdiri. Di ikuti oleh Kevin.
“sama-sama, semangat ya.” balasnya sambil tersenyum hangat.
Setelah itu Alya dan Kevin pun pamitan, dan berlalu keluar dari ruangan Samuel.
...💐💐💐...
“habis ini mau kemana lagi?” tanya Kevin sambil jalan santai, menelusuri lorong rumah sakit.
“pulang aja deh. Besok kan aku udah mulai kuliah lagi, dan sebelumnya arina juga ngirimin bahan tugas sama aku. Jadi aku mau ngerjain itu.” jawab Alya.
Kevin yang mendengar itu manggut-manggut saja. Karena memang kenyataannya masa cuti Alya hanya 2 hari, dan besok istrinya itu sudah mulai masuk kampus.
“oke, tapi besok kamu berangkatnya pakai kursi roda.” ucap Kevin.
“aku gak mau, nanti ribet.” tolak Alya.
“jangan! Ck, iya iya deh tapi Kruk aja ya. Soalnya kalo pakai kursi roda ribet Vin harus turun tangga, kecuali kalau apartemen kamu ada liftnya. Eh Tapi kalau lagi di dalam apartemen, aku boleh jalan biasa aja ya?”
“gak masalah. kayaknya dirumah Dylan ada Kruk bekas aku dulu.”
DEG!
Alya yang mendengar ucapan terakhir Kevin diam sejenak dan spontan menghentikan langkahnya, dengan cepat dia mencekal lengan suaminya dan menatapnya dengan kening berkerut.
“kruk bekas kamu? Maksudnya apa?” tanyanya.
Seketika itu pula raut wajah Kevin berubah, seperti baru sadar akan sesuatu.
...💐💐💐...
Di sebuah jalanan yang cukup sepi, nampak ada satu mobil yang jika dilihat sangat elit berhenti di sisi jalan. Di samping mobil itu, tepatnya bagian kiri ada Andreas dan monika tengah berbicara sambil berdiri berhadapan.
“kamu tetap pada keputusan kamu ndre?” tanya monika.
“ya.” jawab andreas dengan singkat.
“tapi kenapa harus dia sih ndre, padahal kamu sudah tahu dia itu udah nikah! Dan yang menjadi suaminya itu bukan orang sembarangan, dia itu cucu dari keluarga Zain. Kamu pasti juga tahu siapa mereka kan?”
“ya.”
Itu sudah pasti! Siapa coba yang tak mengenal keluarga Zain, salah satu marga yang paling ditakuti oleh semua orang karena kekejamannya. Khususnya di dunia bisnis, ditambah dengan keluarga dirgantara yang tak kalah hebatnya dari keluarga tersebut. Jadi bisa di pastikan, siapapun yang berani mengusik ketentraman dua marga itu, maka di detik itu juga hidupnya akan hancur.
“kalau kamu sudah tahu kenapa masih nekad aja? Bukannya berhasil, tapi yang ada kamu akan kalah!”
“maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk bisa mendekati Kevin, buat dia bisa berpaling dari alya.”
Monika yang mendengar itu geleng-geleng kepala, dirinya tak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang ada di depannya itu. Sebesar itukah perasaannya terhadap Alya, sehingga ia rela melakukan apapun agar bisa mendapatkannya?
Sebelumnya Andreas memang mengatakan akan merebut kembali Alya dari Kevin, namun ia tak bisa lakukan sendirian. Makanya setelah ia pulang dari tempat Dion, ia menghubungi Monika untuk bertemu. Rencananya dia akan meminta bantuan wanita itu agar keinginannya bisa terwujud.
Jika Andreas mengajak monika untuk meminta bantuan, beda halnya dengannya. Awalnya Monika pikir Andreas mengajaknya bertemu karena ingin mencari kesenangan, seperti biasanya. Ditambah dia pun mengetahui pria itu tengah galau, karena ditinggal nikah oleh gadis pujaannya. Namun nyatanya salah, pria itu malah menyuruhnya untuk menggoda Kevin.
Apa Andreas tidak tahu sebahaya apa keluarga dirgantara, terlebih keluarga Zain. Ayahnya saja yang sudah sangat terkenal di seluruh mancanagera tak berani berurusan dengan keluarga itu, ini Andreas yang berasal dari keluarga tak terlalu kaya malah mau mengusiknya. Memang sudah gila pria itu!
__ADS_1
“kamu jangan gila deh Dre, aku mana bisa lakukan itu!” pekik Monika menolak.
“kenapa enggak? Bukannya itu sudah menjadi hobimu menggoda pria lain?” balas Andreas dengan tatapan sinis.
“tapi pak Kevin bukanlah pria sembarangan ndre, menurut kabarnya dia itu tak pernah suka disentuh oleh wanita lain. Bagaimana bisa aku mendekatinya, sedangkan dia saja gak mau di sentuh? Dan lagipula dia bukan tandingan kita, jika kamu nekad yang ada kita yang hancur!”
“aku tidak perduli soal itu, yang penting kamu lakukan saja apa yang tadi aku bilang.” keukeuh Andreas.
“hanya karena wanita, kamu jadi hilang akal begini! Lagian Selama ini Alya sudah menolakmu secara terang-terangan, tapi kamu tetap saja keras kepala terus mengejarnya. Dimana harga dirimu sebagai Casanova, hah!”
Senyap sejenak.
Andreas diam, lalu menghela nafas berat. dadanya terasa sesak jika mengingat kembali usahanya selama ini yang selalu mengejar alya, Namun gadis itu selalu saja menghindar.
“aku akan membuat dia bisa mencintaiku, melebihi rasa cintanya terhadap kevin!”
Monika menggeleng. “kamu memang udah gila ndre, diluar sana masih banyak wanita yang lebih dari Alya yang mau sama kamu. Termasuk aku!”
Andreas yang mendengar ucapan terakhir Monika tersenyum sinis. “tapi sayangnya aku gak suka wanita murahan sepertimu!”
Dihina seperti itu membuat perasaan wanita itu tersentil, dia pun membalas senyuman Andreas dengan serupa.
“jangan munafik kamu ndre! Kamu bahkan lebih murahan dariku, Bilang gak suka tapi tetap saja doyan. apa perlu aku beberkan padanya hal apa saja yang sudah kita lakukan selama ini? Lagian apa kamu pikir Alya bakal mau sama cowok sepertimu yang suka tidur dengan wanita lain, Hem? Pikir pakai logika!”
“tutup mulutmu, kita sudah lama tak melakukan itu!” elak Andreas.
“ya, memang kita sudah lama tak melakukannya. Tapi coba deh di pikir-pikir lagi, apa pantas Alya yang masih suci dan polos harus bersanding dengan pria penjahat kelamin sepertimu?”
Andreas kembali membisu, apa yang Monika katakan memang benar. Apa mungkin Alya bisa menerimanya dan mencintainya tanpa melihat masa lalunya, secara seluruh kampus pun sudah tahu jika dirinya memang sering tidur dengan wanita yang berbeda.
“Aku sih kalau jadi dia ogah banget, masih mending pak Kevin kemana-mana. Udah mah ganteng, kaya raya lagi. Dan aku yakin banget dia itu masih bersih, gak kayak kamu yang udah penuh noda!” ucap Monika lagi.
“aku sangat yakin dia bisa menerimaku apa adanya.” sahut Andreas dengan percaya diri.
“udahlah lupakan saja dia, gak baik memiliki rasa sama istri orang. Mending kita senang-senang saja, gimana?” ucapnya, seraya senyum menggoda.
“aku gak perduli, aku akan tetap pada keputusanku.” keukeuh Andreas.
“ck, dasar pria keras kepala!” umpatnya.
Namun setelahnya monika jalan mendekat, dirinya yang saat ini memakai kemeja ketat warna putih dan memakai rok mini warna abu-abu. Rambut panjang lurusnya dia kibas ke belakang, lalu jemari lentiknya mulai membuka dua kancing kemejanya hingga memperlihatkan buah dadanya yang montok dan padat.
Andreas yang melihat itu menatap Monika waspada, sedangkan si empu malah memperlihatkan ekspresi menggoda.
“apa menurutmu Alya bakal mau memiliki seorang suami sepertimu, hm? aku berani taruhan dia pasti akan menolaknya.”
Monika mengatakan itu dengan nada sensual, dan jarak keduanya pun sangat dekat. Saking dekatnya, hidung mereka yang sama-sama mancung hampir bersentuhan.
Dengan Sengaja Monika menempelkan buah dadanya yang besar itu ke dada bidang Andreas, dan sebelah tangannya meraba-raba tubuh atletis pria itu yang di baluti kaos polos warna biru. hingga gerakannya berhenti saat sudah turun ke bawah, menyentuh kejantanannya.
Andreas yang merasakan itu sontak saja kaget, terlebih saat tangan Monika meremas lembut Juniornya. Dengan cepat dia pun melepaskannya.
“apa yang kamu lakukan!” pekiknya, seraya menyingkirkan tangan Monika dari sana pusat gairahnya.
Sedangkan Monika malah tersenyum licik. “lihatkan, baru aku sentuh sedikit saja milikmu sudah bangun. Itu menandakan jika dirimu itu mudah tergoda.”
Andreas menelan ludah, wajahnya sudah merona. Dia pun menunduk, menatap ke celananya yang sedikit mengembung.
“meskipun aku tak terlalu mengenal Alya, tapi sebagai sesama wanita aku tak iklhas jika dia memiliki suami macam kamu. Dia pasti akan makan hati tiap hari, karena aku yakin pria macam sepertimu tak akan puas dengan satu wanita saja.”
“ka--”
CUP!
ucapan Andreas langsung terhenti, kala bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Monika. pria itu tentu merasa kaget dengan serangan Monika yang tiba-tiba, Bisa dilihat dari matanya yang sudah melotot. Namun Sedetik kemudian dia mendorong tubuhnya, hingga akhirnya pagutan kedua bibir itu terlepas.
Andreas mengatur nafasnya yang tak beraturan, sebelah tangannya mengusap bibirnya yang sudah basah sambil matanya menatap nyalang wajah Monika.
Sementara yang di tatap malah tersenyum sinis, sambil kedua tangannya kembali mengancingkan kemejanya.
“sekarang sudah tahu kan apa jawabanku, yaitu tidak! Silahkan lakukan apapun yang kamu mau sama mereka, aku tak mau ikut campur. Jika nanti kamu merasa kesusahan, jangan pernah datang padaku untuk meminta bantuan! Dan perlu aku ingatkan juga, berhati-hatilah. Karena orang yang akan kamu usik ini, bukanlah orang sembarangan!”
Selepas mengatakan itu Monika berlalu pergi dari sana, meninggalkan Andreas yang kini sedang menahan emosinya.
“brengsek!” umpatnya kesal, rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal kuat.
“aku tidak perduli mau sehebat apapun dia, keputusanku sudah final. Aku akan merebut Alya darinya!” ucapnya dengan nada tertahan.
__ADS_1