
...PERHATIAN! DI BAB INI ADA BEBERAPA ADEGAN MENGANDUNG 18+ DAN KEKERASAN, AUTHOR HARAP PEMBACA BISA BIJAK! TERIMA KASIH....
...•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
Malam menjelang. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Alya dan Selena masih berada di hotel itu. Suasana di bawah sana nampak sepi, hanya ada beberapa satpam yang lalu lalang.
para wartawan itu memang sudah tidak ada disana, namun itu tak menjamin keselamatan mereka akan tetap aman. Bisa saja beberapa dari mereka ikutan menginap, dan menyamar sebagai tamu. Jadi untuk antisipasi alya memilih untuk menginap semalam disana, menuruti ucapan Aiden.
Di kamar hotel yang cukup luas dan bernuansa putih itu terasa senyap, hanya terdengar suara hembusan angin yang keluar dari lubang AC. Kini, Alya tengah berdiri di depan jendela sambil bersedekap dada, pandangannya lurus ke arah luar yang menampakkan pemandangan lampu berasal dari gedung-gedung menjulang tinggi serta kerlipan lampu jalanan dan kendaraan yang tiada hentinya bergerak.
Jika di siang hari akan terasa panas dan sumpek, maka beda halnya dengan malam hari. Kota Jakarta yang penuh dengan penduduk itu akan berubah menjadi cantik, akibat daru pantulan berbagai lampu dan warnanya jika melihat dari ketinggian. Wajah cantik alaminya yang selama ini selalu terlihat ceria kini berubah suram, serta matanya terlihat kosong.
Cukup lama gadis itu berdiri disana tanpa bersuara, dia hanya diam. namun tidak dengan otak dan hatinya yang terus berperang, mencari cara agar permasalahan kakaknya cepat selesai sebelum keluarga pamannya dan jagat maya mengetahuinya. Alya tahu Renata pasti tak akan tinggal diam, Apalagi begitu mengingat banyaknya wartawan tadi siang, pasti salah satu dari mereka akan membuat berita tentang kejadian hari ini.
Alya menghela nafas pelan kemudian Menoleh ke ranjang, disana ada Selena yang tengah berbaring dengan posisi terlentang. kepalanya sedikit miring ke kiri serta sebelah tangannya berada di atas bantal.
Wajahnya sangat damai meski nampak bengkak di bawah matanya, Terdengar dengkuran halus pertanda wanita itu tidur dengan pulas. lalu Iris matanya melirik ke arah perut kakaknya yang sedikit menonjol, karena wanita itu memakai kaos yang pas di badan.
‘apa ini alasanmu memaksaku untuk pindah kesini, agar aku tak terseret dalam masalah kalian? dan.. agar para media juga tak akan mengejarku?’ batin Alya menerka.
“Tapi sepertinya.. aku akan tetap terserat dan aku punya firasat kalau masalah ini tak akan selesai dengan cepat.” Lirihnya, kemudian menghela nafas.
Tentu saja dia akan terseret, karena dia tak akan tinggal diam melihat kakaknya kesusahan. Terlebih sekarang wanita itu tengah hamil, akan sangat bahaya jika dia menanggung masalahnya sendirian.
Lagi-lagi gadis itu menghela nafas, merutuki dirinya sendiri. Kenapa selama ini dia tak pernah menyadari jika di dalam perut sang kakak ada benihnya Chandra, dan dia juga merasa kecewa kenapa Selena tak pernah mengatakan apapun soal ini.
Alya memang mengetahui kakaknya masih mencintai Chandra, namun dia tak menyangka jika kakaknya bisa berbuat senekad itu, padahal dia tahu Chandra sudah memiliki istri dan anak. yang lebih membuat Alya murka adalah, pria itu menyuruh untuk menggugurkannya.
Laki-laki biadab! jika dia tak mau bertanggung jawab, kenapa harus menidurinya?
Drrrtt.. Drrrtt..
Lamunan alya buyar setelah mendengar suara getaran. Asalnya dari Ponsel yang ada di atas meja nakas samping ranjang, dengan langkah malas alya jalan mendekat, lalu meraih benda pipih itu. seketika raut wajahnya berubah begitu ada panggilan dari pamannya, namun sedetik kemudian wajahnya kembali normal dan segera menerima panggilan tersebut.
“Ha-halo paman.” Ucapnya gugup.
[Halo sayang, gimana kabar kalian disana? baik-baik aja kan?]
“Kami baik-baik saja kok paman, kalian gimana?”
[Syukurlah kalau gitu paman lega dengarnya, kami disini juga baik. oh iya kuliah kamu gimana? Hari ini pertama kamu masuk kuliah kan?..]
“Emm.. Baik juga paman, semuanya berjalan dengan lancar.”
[Bagus, belajar yang rajin yah biar nanti bisa bantuin paman dan kak Rendy di perusahaan.]
“pasti paman. Kan aku sudah janji?”
[Iya sayang. Hah.. Sebenarnya paman sangat menyayangkan saat Selena bilang kamu akan pindah kuliah ke Indonesia dengan alasan kamu gak betah, padahal selama disini paman lihat kamu kelihatan happy-happy aja dan teman teman kamu juga baik.]
Alya terdiam setelah Mendengar ucapan sang paman, dia bingung harus jawab apa. Kakaknya itu memang keterlaluan, mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengannya. Ditambah dia membawa-bawa namanya untuk beralasan.
[Alya, kamu masih disitu kan?]
“Eh iya paman, aku masih disini. Em.. paman doain aja semoga aku betah disini dan aku bisa lulus dengan nilai bagus.”
[Tentu dong sayang, paman selalu mendoakan kalian yang terbaik. Terus Selena gimana? Kapan dia akan kembali kesini?]
“A-aku tidak tahu, seharian ini aku sibuk di kampus. kenapa gak paman tanya sendiri aja pada kak Lena?”
[Dari sore tadi paman udah coba telpon dia, tapi nomornya gak aktif.]
“Emm.. mungkin hpnya mati, makanya gak aktif.”
[Mungkin juga, Oh ya udah nanti kamu bilangin aja ke dia suruh telpon paman.]
“Iya, paman.”
[Dasar anak kurang ajar! Tidak tau di untung! Malu-maluin keluarga saja!]
Samar-samar Alya mendengar suara teriakan wanita di seberang sana, bisa di pastikan Itu adalah suara bibinya.
“Paman, itu suara bibi yah?” tebaknya.
[Eh, i-iya.]
“Ada apa paman, kedengarannya bibi kayak lagi marah-marah?”
[Emm.. Gak ada apa-apa kok sayang, bibimu itu lagi nonton drama favoritnya. Kamu kan tahu sendiri gimana tingkah bibimu kayak apa.]
Alya tertawa pelan sambil membayangkan bibinya yang sedang marah-marah di depan tv, karena tokoh antagonis dalam drama yang sering wanita itu tonton.
“Oh begitu, kirain ada apa.”
Hening sejenak.
[Al, emm.. Kamu serius kan disana baik-baik aja? Gak dapat masalah kan?]
__ADS_1
Alya tak langsung menjawab. Sepertinya pamannya tidak percaya dengan ucapannya, tapi kenapa pamannya tiba-tiba tanya seperti itu? Apa pria itu sudah tahu apa yang terjadi?
“Aku baik-baik aja kok, paman jangan khawatir.”
‘untuk sekarang mungkin iya, entah besok.’ Alya membatin.
Terdengar suara helaan nafas di seberang sana.
[Syukurlah. Ya sudah kalau gitu, disana pasti sudah malam kan? Kamu istirahat ya, jangan begadang. paman tutup teleponnya, Kalian Baik-baik disana.]
“Iya paman, titip salam buat bibi dan kak Rendy.”
[Iya sayang.]
BIP!
Panggilan pun berakhir. Alya kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.
“Maafin aku paman sudah bohong, Alya bingung harus bagaimana.” Lirihnya.
Kruyuk~
Bunyi nyaring berasal dari perut ratanya pertanda cacing-cacing di dalam sana minta asupan, gadis itu menunduk sambil sebelah tangannya menyentuhnya.
Dengan segera Alya mulai membuka aplikasi hijau berlogo animasi yang sedang naik motor untuk memesan makanan, tapi saat dia sudah mantap dengan pilihannya dan ingin menekan kata pesan, tiba-tiba layar ponselnya mati karena kehabisan baterai.
“Ya ampun malah mati, mana aku gak bawa charger lagi.” gerutunya kesal, lalu dia memasukkan hpnya ke tempat semula.
Alya ingin meminjam ponsel kakaknya untuk pesan makanan, namun ia semakin kesal saat ponsel kakaknya bersandi dan dia tidak tahu kodenya. Mata gadis itu melirik sinis ke layar ponsel kakaknya, disana terpampang wajah Chandra sedang tersenyum lebar sebagai lockscreen.
“udahlah Sebaiknya aku keluar cari makan saja, mumpung belum terlalu malam.” gumamnya, seraya menaruh ponsel kakaknya ke kasur.
Alya meraih tasnya, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah, kemudian berlalu keluar kamar. Gadis itu Menelusuri lorong hotel yang terlihat sepi dan terang itu dengan tenang, sambil bersenandung riang.
Tanpa dia sadari jika ada seseorang berpakaian serba hitam dan topi dengan warna senada sedang mengintainya dari belakang, jaraknya lumayan jauh dari Alya yang kini sedang berdiri di depan pintu lift. Lalu tangan orang itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel, menyalakan fitur kamera kemudian mengarahkannya ke arah posisi Alya.
Senyuman smirk orang itu terbit, seraya ibu jarinya menekan tombol merah tanda merekam. Dirasa cukup, ia menurunkan ponselnya, lalu mengirim hasil rekamannya itu ke nomor seseorang.
...💐💐💐...
Ting!
Pintu lift terbuka, dengan segera Alya keluar dari lift lalu berjalan keluar menuju pintu utama hotel. Saat mau melewati lapangan parkir, dia berjalan cepat karena tempat itu sedikit gelap. Walaupun ada satpam jaga disana, tetap saja phobianya pada tempat gelap tak pernah bisa hilang.
Kini Alya sudah berdiri di pinggir jalan, dia celingak-celinguk mencari kendaraan umum namun tak ada satupun yang lewat.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya ada angkot warna biru berhenti di depannya, tapi angkot itu terlihat kosong dan hanya ada dua pria yang Alya yakini sang supir dan sebelahnya kenek.
Alya bergidik ngeri melihatnya, apalagi ekspresi pria itu nampak menyeramkan. Ada keraguan dihatinya untuk menaiki angkot itu apalagi dalam keadaan sepi, tapi rasa laparnya membuatnya harus menaiki angkot itu.
“Sa-saya mau cari tempat makan terdekat pak.” sahut alya dengan gugup.
“Oh, di ujung jalan sana ada warung lesehan yang masih buka. Kalau neng mau kami bisa antar.” ujar pria itu lagi.
Alya diam, wajahnya sangat terlihat jelas menyiratkan ketakutan.
“Jangan takut neng kami orang-orang baik kok.” Ucapnya sedikit mengulas senyum, namun terlihat mengerikan.
Ingin rasanya Alya menolak dan dia akan mencari kendaraan lain, tapi itu pasti akan memakan banyak waktu. Alya masih hafal, di jam segitu jarang ada kendaraan umum lewat. Terlebih kakaknya pasti akan kebingungan saat bangun nanti tak mendapati dirinya di kamar.
Alhasil Alya pun mengangguk dan mengiyakannya. Setelah itu dia berjalan dan masuk angkot, sedetik kemudian angkot itu pun mulai berjalan.
...💐💐💐...
Sepanjang jalan Alya hanya diam sambil kedua tangannya saling meremas, satu hal kebiasaannya jika merasa gelisah.
“Masih jauh gak pak?” tanyanya.
“Enggak kok, sebentar lagi sampai.” kali ini si supir yang menjawab. Penampilannya hampir sama dengan rekannya, hanya saja wajahnya sedikit lumayan.
Namun hingga beberapa menit kemudian perjalanan mobil itu tak kunjung berhenti, si supir angkot itu terus menjalankan kendaraannya hingga masuk ke pemukiman sepi, dan Alya menyadari akan hal itu.
“Pak, kok jalannya sepi gini?” Tanya Alya.
Tak ada sahutan dari mereka, kedua pria itu hanya saling natap sambil menyeringai.
“Pak-”
CKIT!
Alya tak jadi meneruskan ucapannya saat mobil itu tiba-tiba berhenti, dia melihat ke sekeliling tempat tersebut yang terlihat seperti berada di hutan. Karena tempat itu hanya ada rumput liar dan pohon-pohon tinggi, serta suasananya gelap dan hanya terdengar suara kodok saja.
“Kalian mau apa!” Pekik Alya saat salah satu pria itu masuk ke belakang dan menarik paksa tangannya.
“Tentu kami ingin dirimu nona manis.” ucap pria itu sambil mencolek dagu Alya.
“Apa maksudmu?” Tanya Alya dengan wajah panik.
__ADS_1
“Ayo ikut!” Sentaknya sambil menghentakkan tangan gadis itu dengan kasar agar keluar dari mobil.
Alya menggeleng, dia berusaha melepaskan diri namun apalah daya kekuatannya tak sebanding dengan tenaga pria itu. Selain itu pria itu juga mencengkram tangannya dengan kuat, Hingga pada akhirnya pria itu berhasil membuatnya keluar. lalu dengan cepat menyeretnya masuk ke semak-semak.
“tolong jangan lakukan itu, aku mohon.” Jeritnya.
“Jangan takut nona, kami hanya ingin bersenang-senang saja hahaha...” kali ini pria satunya lagi yang menjawab sambil ikutan menarik Alya.
“Tidak! Jangan! Tolong..” Teriak Alya sambil terus berusaha melepaskan diri.
“percuma kau teriak nona, ini di hutan. tak akan ada yang mendengarmu.”
“Lepaskan aku!”
“kami akan melepaskanmu tapi setelah kami menikmati tubuhmu. Hahahaha..”
“Biadab kalian semua! Lepas-akh!”
BRUKK!!
kedua pria itu terus membawa alya masuk hutan hingga mereka berhenti di sebuah gubug yang sudah tak layak lagi di pakai, dengan kasarnya mereka mendorong tubuh Alya hingga jatuh ke tanah. Baju dan celana panjangnya terlihat kotor karena lumpur.
“Awssh..” rintih Alya saat merasakan sakit di kaki kanannya, dia ingin bangun namun berakhir jatuh kembali. Sepertinya kakinya terluka, dan Pada akhirnya dengan keadaan di bawah dia bergerak mundur, menggesek tanah yang terlihat merah dan sedikit basah itu dengan pantat dan kakinya.
“saya mohon lepaskan saya..” suara alya terdengar bergetar, wajahnya memerah serta kedua matanya sudah basah.
“Hahahaha..”
Kedua pria itu tertawa keras, mereka terlihat senang melihat gadis itu ketakutan sambil terus jalan mendekat, begitu pula dengan Alya yang terus bergerak mundur hingga akhirnya dia tidak bisa bergerak lagi karena punggungnya terpentok dinding yang terbuat dari papan tipis.
“Kau tak bisa kabur lagi nona, maka menurut lah.”
SREET!
BRUK!
Salah satu pria itu jalan mendekat lebih cepat, menarik kaki kiri Alya. Sementara pria satunya lagi berlari ke belakang tubuhnya dan menekan kedua bahunya, sehingga membuat gadis itu maju kemudian terlentang. tanpa membuang waktu lagi, kedua pria itu mulai mengukungnya.
Alya terus berontak, kedua kakinya terlihat bergerak-gerak gelisah sambil terus berteriak.
“Tolong! Hiks.. hiks..” Teriaknya setengah menangis.
“Percuma kau teriak-teriak sampai suaramu habis tak akan ada yang bisa menolongku karena tempat ini jauh dari keramaian, sebaiknya simpan suaramu untuk mendesah. Hahaha...”
“Aku mohon jangan lakukan itu.. hiks.. K-kalian boleh ambil uangku tapi tolong lepaskan aku!” Ucap Alya sambil memberikan uang yang dia punya.
“Hahaha.. kami akan mengambil uangmu tapi setelah menikmati tubuhmu tentunya!”
“Jangan! Aku mohon.”
SREETT!!!
Tangan salah satu pria itu menarik paksa kaos Alya ke atas hingga terlepas dari tubuhnya, kemudian membuangnya asal dan terpangpanglah belahan dadanya yang kencang dan padat serta masih tertutup bra. Namun tak sampai lima menit benda itu terlepas dan kembali melemparnya, Kini tubuh bagian atas Alya sudah polos.
Kedua pria itu terlihat sangat girang, tak henti-hentinya mereka terus tertawa, menyaksikan langsung buah dada Alya yang montok. Tangan nakal pria yang menahan bahu Alya mulai meremas dua gunung kembar itu dan memainkan ujungnya dengan penuh hasrat.
pria satunya lagi juga tak tinggal diam, tangan kasarnya yang penuh tato itu terlihat turun ke bawah, mengusap pangkal paha Alya dengan gerakan pelan lalu membuka kancing celana panjangnya dan menurunkannya dengan tak sabar.
Kedua tangan Alya nampak berusaha menahan aksi pria yang ingin membuka celananya, namun pria itu dengan cepat menepisnya dengan kasar. lalu..
PLAKK!
satu tamparan keras mendarat di pipinya hingga sudut bibirnya berdarah. Kini yang bisa dia lakukan hanya menangis terisak-isak, saat tangan-tangan kedua pria itu menjamah tubuhnya.
Alya berusaha kembali berontak dan teriak minta dilepaskan, bahkan suaranya hampir habis karena tak henti-hentinya berteriak. Berharap jika ada seseorang yang menolongnya.
namun hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang mendengar suaranya. Badannya pun tak bisa di gerakan karena kaki dan tangannya di tekan kuat oleh kedua pria itu.
Karena efek terlalu lama berteriak dan rasa lapar, Lama kelamaan tenaganya berkurang, badannya lemas dan pada akhirnya dia pun pasrah.
‘ya tuhan aku percaya rencanamu, jika memang jalan takdirku seperti ini.. aku iklhas.’ doa Alya dalam hati.
Celana jeans warna hitam yang Alya kenakan tadi sudah terlepas dari tubuhnya dan kini tangan tangan dua pria itu kembali meraba tubuhnya, dari mulai leher, dada, perut hingga berakhir di inti tubuh bawahnya. Tanpa membuang waktu lagi, pria itu mulai menurunkan kain tipis berbentuk segitiga itu.
Tak!.. Tak!.. Tak!..
SREET!.. PRAK!..
saat gerakan tangannya semakin turun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, di susul dengan suara dedaunan dan pohon yang kena tebasan benda tajam. hal itu membuatnya berhenti, lalu ia menatap kawannya.
“suara apa itu?” tanyanya.
“kayak suara tebasan benda tajam, tapi siapa pelakunya? Setahuku hutan ini jauh dari pemukiman warga!” balas kawannya.
PUK!
Tiba-tiba saja tubuh kedua pria itu menegang, saat merasakan masing-masing pundaknya di tepuk. Belum sempat menoleh, tapi tubuh salah satu preman itu sudah tertarik ke belakang. Menyeretnya bagai kerbau yang mau di sembelih, lalu dengan kasar mendorongnya hingga jatuh ke tanah.
__ADS_1
Wajah preman itu terlihat kaget, matanya melotot begitu pula dengan kawannya yang melihat kejadian itu. sesosok pria tinggi dan berpakaian casual, sudah berdiri menjulang di hadapannya.
“Siapa kau?”