
“Jadi Kapan acara pemberkatannya akan dimulai?” tanya Anjeli.
“Sebentar lagi.” jawab Kevin.
Dan benar saja tak lama setelah Kevin mengatakan itu, musik klasik mulai terdengar. Pertanda jika pengantin wanita akan segera datang.
Semua pasang mata langsung tertuju ke pintu masuk, disana mereka melihat Selena di gandeng oleh Adinata. Di belakangnya ada Alya dan arina yang terlihat mengangkat ujung gaun panjang yang Selena pakai.
Sontak saja hal itu membuat para tamu langsung berdiri, mereka semua bertepuk tangan sebagai tanda sambutan untuk calon pengantin perempuan. Tak sedikit dari mereka memuji kecantikan selena yang jauh lebih cantik dari biasanya.
Adinata mengantar Selena ke Rafael yang sudah berdiri di meja pemberkatan dengan senyum mengembang, namun tak dipungkiri kedua matanya nampak berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena terharu.
Meskipun pernikahan ini di awali dengan kesepakatan, tapi adinata sangat berharap Selena selalu merasa bahagia. Begitu pun dengan Alya yang kini sudah dinikahi oleh Kevin, dia sangat percaya kedua pria itu bisa menjaga dua keponakan cantiknya dengan baik.
Saat Selena dan adinata sudah naik ke panggung, Alya dan Arina menyingkir.
Alya jalan mendekat ke tempat Kevin saat suaminya itu mengulurkan tangannya untuk membantunya turun dari panggung, sedangkan arina ikut berkumpul dengan keluarga Jessica.
...💐💐💐...
“Jaga dia dengan baik.” Ucap adinata saat sudah di depan Rafael.
Rafael mengangguk mengiyakan, lalu dia mengangkat tangannya untuk menyambut tangan Selena.
Adinata mengangkat tangan Selena dan menaruhnya di telapak tangan Rafael, setelah itu dia turun dari panggung.
Dalam suasana haru itu ada satu orang yang menatap kedua mempelai itu dengan sendu, siapa lagi jika bukan Chandra. Pria itu memang datang di sana bersama istri dan anaknya.
Jika Chandra menatap kedua mempelai dengan sedih, beda halnya dengan Renata yang menatap mereka dengan sinis. Wajah cantiknya yang selalu terlihat kalem nampak kaku, dia masih belum terima mantan kekasihnya menikah dengan wanita yang suaminya cintai.
Menurutnya, Selena tak pantas mendapatkan pria sebaik Rafael. Dan sejak mengetahui kabar itu, Renata merasa sangat menyesal karena sudah meninggalkan Rafael dulu.
Seandainya saja waktu bisa terulang, dia tak akan mengambil keputusan itu dan akan lebih bersabar lagi. Namun yang namanya penyesalan selalu datang di akhir, bukan?
Rafael menggenggam tangan Selena seraya jalan mendekati pak pendeta yang sudah berdiri di meja pemberkatan.
Pak pendeta mulai membacakan isi buku kitab dan sedikit petuah, selepas itu dia mulai meminta si pengantin untuk mengucapkan janji suci.
Baik Selena dan Rafael mengucapkan janji suci dengan lancar, meski di sela-sela itu ada ketegangan yang luar biasa. Para tamu yang menyadari itu nampak tertawa.
Janji suci sudah terucap, kini giliran tukar cincin. Seorang staf perempuan WO jalan mendekati sang pengantin sambil membawa kotak beludru berisi dua cincin, Rafael sedikit memutar tubuhnya dan mengambil satu cincin lalu menyematnya ke jari manis Selena.
Selena pun begitu, dia melakukan apa yang Rafael lakukan padanya.
Selepas tukar cincin, momen yang paling menegangkan dan paling di tunggu para tamu pun tiba, yaitu momen ciuman.
Rafael menatap lekat Selena yang kini sudah menjadi istrinya, dari sorot mata itu dia seakan meminta izin pada wanita itu untuk menciumnya.
“Lakukan saja mas.” Ucap Selena dengan suara pelan dan wajah santainya, namun aslinya dia gugup juga.
Selena memang sengaja terlihat santai agar Rafael tak ikut gugup juga. Ini adalah momen pertama bagi mereka, selama hampir 10 tahun saling mengenal. Baru kali ini mereka harus bersentuhan layaknya pasangan.
Rafael nampak mengambil nafas panjang sebelum akhirnya bergerak lebih dekat, dia sedikit menundukkan wajahnya dan kedua bibir itu sudah saling menempel.
Seketika itu pula suasana pesta semakin ramai, suara suitan dan tepuk tangan terus terdengar. Di tambah dengan alunan musik klasik, membuat suasana pesta pernikahan itu semakin hikmat.
Dari jarak tak terlalu jauh, Dylan nampak sedang mengambil beberapa potret dengan kamera kecilnya. Bukan hanya mengambil foto pengantin, Dylan juga mefoto beberapa tamu undangan dan berakhir ke Alya dan Kevin yang menatap ke arah pengantin sambil bertepuk tangan.
Dylan tersenyum bahagia melihat pasangan itu, apalagi melihat posisi keduanya yang nampak mesra. orang lain yang melihatnya pasti akan mengira mereka adalah pasutri bahagia, karena tak terlihat canggung sama sekali. Dylan sangat meyakini jika keduanya memang saling mencintai, hanya saja terhalang oleh masalah di masa lalu.
Beberapa saat kemudian Rafael melepaskan pagutannya dan menjauhkan diri, wajahnya nampak memerah malu. Selena yang melihat itu terkekeh geli, harusnya kan dirinya yang begitu kenapa ini malah sebaliknya.
Dan.. sekarang proses terakhir, yaitu pelemparan bunga. Seperti apa yang terjadi pada pernikahan lain, para tamu yang merasa masih jomblo mulai berkumpul agar mendapatkan buket bunga dari pengantin wanita.
Suara riuh dan gelak tawa kembali terdengar saat lagi-lagi yang mendapat bunga adalah Dylan dan Arina.
“Ck! Kenapa harus sama Lo lagi sih dapetnya!” Cetus arina dengan wajah di tekuk.
“Ya mana gue tahu, orang bunganya datang sendiri ke gue! Lagian salah Lo sendiri kenapa deket-deket sama gue.” Balas Dylan dengan nada sewot.
__ADS_1
“Dih, ge'er banget Lo. Siapa juga yang mau deket-deket sama playboy cap sandal jepit kayak Lo!” Elak Arina.
“Emang kenyataannya gitu kan?” Ucap Dylan sambil menyeringai.
“Dih.. ogah gue! Bisa kena penyakit berbahaya yang ada!” Gadis itu bergidik ngeri sambil menampilkan wajah jijik.
“Udah jangan berantem, kalian itu emang udah jodoh!” Celetuk seseorang dari arah belakang, siapa lagi jika bukan Rangga.
Pria itu tak ikut bergabung seperti yang di pernikahan Kevin dan Alya, kali ini dia hanya menonton saja. Disana dia berdiri bersama dimas dan Adrian, saudara kembarnya.
Mendengar kata itu arina dan Dylan malah sama-sama mendengkus dan saling membuang wajah, yang mana itu membuat suasana semakin ramai oleh suara tawa para tamu lain.
...💐💐💐...
Malam semakin naik ke peraduannya, segala proses pernikahan Rafael dan Selena berjalan dengan baik. Meskipun tadi ada sedikit keributan yang di sebabkan oleh Mayra, namun untungnya masih bisa diatasi.
Waktu sudah hampir tengah malam, semua para tamu undangan perlahan-lahan pamit pulang. Para anggota keluarga Rafael dan Selena juga ikut pamit, termasuk Alya dan Kevin.
Sedangkan Rafael dan Selena? Tentu saja mereka akan menginap disana.
Kini, pengantin baru itu tengah berjalan dilorong hotel menuju kamar yang sudah di persiapkan. Selena nampak jalan duluan sambil kedua tangannya menjinjing gaunnya agar kakinya tak tersandung, sementara dibelakang Rafael juga membantu mengangkat gaun itu sambil melangkah.
Saat sudah di depan pintu kamar, Selena menempelkan kartu kunci itu ke layar otomatis lalu mulai mendorong pintunya begitu terdengar suara mesin.
Selena dan Rafael pun masuk dalam kamar, sesampai disana kedua insan itu mematung ditempat. Pandangan mereka menatap dekorasi kamar yang bernuansa putih dan pencahayaan yang remang-remang itu sudah di desain cantik layaknya kamar pengantin baru, terlebih Diranjang. Disana ada patung pasangan angsa dan dilingkari kelopak bunga berbentuk hati.
“Mas mandi duluan saja, aku akan bersihkan ini semua.” Ucap Selena lalu jalan cepat ke ranjang.
“Aku bantuin.” Sahut Rafael yang ikutan melangkah.
“Gak usah mas, kamu pergi mandi aja. kamu pasti capek kan?”
“Kamu juga pasti lebih capek lagi, mana lagi hamil. Mana tega aku ninggalin kamu bersihin ini semuanya sendirian.”
Selena tak lagi bersuara, apa yang di katakan Rafael memang benar. Dia sangat lelah dan ingin cepat-cepat istirahat, terlebih dirinya tengah hamil muda. Wanita itu pun membiarkan pria yang kini menyandang sebagai suaminya itu membantunya membereskan ranjang dari kelopak bunga mawar.
Begitu selesai, Rafael membuka jas dan sepatunya lalu jalan ke arah kopernya yang memang sudah ada tak jauh dari ranjang, membukanya dan mengambil baju ganti. Setelah itu dia berlalu ke kamar mandi. Sementara Selena duduk di sofa sambil membersihkan wajahnya yang di makeup.
“Aku sudah siapkan air hangat, Kamu segeralah mandi tapi jangan lama-lama, karena ini sudah malam.” Ucap Rafael dengan suara lembut tanpa menatap si lawan bicara.
Selena yang masih duduk di sofa mendengar itu segera menoleh ke arah Rafael, dia melihat sosok suaminya itu berjalan ke arah ranjang. wajahnya kini sudah bersih dari makeup, hiasan yang tadi ada dirambutnya pun sudah di lepas semua. Hanya di badannya saja yang masih memakai gaun pengantin.
“I-iya, mas.” Sahutnya gugup begitu melihat penampilan Rafael santai seperti itu, entah kenapa dadanya berdebar tak karuan.
Segera Selena pun bangun dari duduknya, baju gantinya sudah berada di tangannya. namun sebelum benar-benar masuk dia kembali menoleh ke Rafael.
“M-mas.” Panggilnya.
“Ya.” Jawab Rafael tanpa menoleh, pria itu kini nampak fokus pada layar ponselnya.
“Eum.. A-aku ingin minta tolong sama kamu, boleh?” Tanyanya tergagap.
“Minta tolong apa?” Tanya Rafael yang masih belum menoleh.
“B-bukain resleting gaunku ini mas, tadi aku udah coba beberapa kali tapi tanganku gak sampai.” Ucap Selena, dan itu membuat Rafael menoleh.
Wanita itu sebenarnya ragu saat mengatakan itu, takut Rafael akan menolaknya. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang sudah melakukannya beberapa kali tapi selalu tak bisa.
“T-tapi kalau mas gak mau gak apa-apa kok, nanti aku akan minta bantuan staf hotel aja.” Sambungnya cepat.
Rafael nampak menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Kamu ini aku belum bicara apa-apa tapi kamu sudah bilang begitu. Udah, gak Gak perlu panggil orang lain, biar aku saja.”
Mendengar itu Selena nyengir kuda. “Takutnya kamu keberatan mas.”
Rafael tak kembali merespon ucapan Selena, ia menaruh ponselnya di kasur lalu kembali berdiri dan menghampiri Selena. Begitu sudah dekat, kedua tangannya membalikkan badan istrinya dan menyibak rambut panjangnya. Tanpa rasa ragu lagi Kedua jarinya menurunkan resleting gaun itu hingga ke pinggang, hingga terpampanglah punggung mulus milik Selena.
DEG!
__ADS_1
Rafael yang melihat itu terpaku di tempat, ia menelan ludah susah payah. sebagai seorang pria dewasa yang normal di suguhi pemandangan itu tentu dia akan tergoda, di benaknya ada keinginan membelainya, namun sekuat tenaga dia menahannya.
“Udah belum mas?” Tanya Selena.
“S-sudah.” Ucap Rafael terbata seraya memalingkan wajahnya.
“Makasih mas.” Sahut Selena. Kemudian dia melipir pergi dan masuk ke kamar mandi.
Sementara itu Rafael langsung mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya, saat ini dia sedang menahan hasratnya yang timbul begitu melihat punggung mulus Selena.
“Ingat raf dia itu sedang hamil. Tugas Lo hanya perlu menikahinya saja, jangan sampai Lo menidurinya juga.” ucap Rafael pelan, dia mendesah saat merasakan inti tubuh bawahnya yang sudah menegang.
“Ah.. gila! Ini baru punggung loh, belum yang lainnya, dan Lo udah bangun aja. Ck!” Racau Rafael sambil menatap nelangsa kejantanannya.
Drrtt..
Rafael mendengar suara getaran, dia pikir itu berasal dari ponselnya, ternyata bukan. Lalu dia celingukan mencari asal suara, hingga matanya berhenti di sofa. Disana dia melihat ponsel Selena menyala, Rafael pun mendekatinya.
Pria itu menghela nafas pelan saat melihat Di layar ponsel itu tertera ada nama Chandra.
‘kurang kerjaan, ngapain juga dia nelpon Selena malam-malam begini?’
Meski dirinya di Landa penasaran, kenapa malam-malam begini Chandra menelpon istrinya. Tapi Rafael memilih diam, dia membiarkan ponsel itu terus berdering hingga mati sendiri.
Sekarang Selena memang sudah menjadi istrinya dan semua hal tentang wanita itu kini adalah tanggung jawabnya, tapi soal pribadi dia tak akan ikut campur. Dirinya yakin Selena bisa mengatasi pria itu dengan baik, Kecuali jika Chandra melakukan sesuatu diluar batas dan Selena tak mampu menanganinya, baru dia akan bertindak.
...💐💐💐...
Keesokan harinya di apartemen, Kevin dan Alya sudah berada di ruang makan, mereka sedang menyantap sarapannya. Berhubung pelayan akan datang di siang hari, maka kali ini Alya yang memasak.
Selesai sarapan, Kevin langsung pergi dari dapur. Pria itu berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa lalu tangannya meraih remot tv dan menyalakannya.
Sedangkan Alya seperti biasa, gadis itu akan sibuk di dapur. Membereskan apapun yang menurutnya berantakan, dan kali ini Kevin tak akan mengomel. Sudah bosan rasanya dia memberitahu istrinya untuk jangan melakukan itu, jadi mulai sekarang dia akan membiarkannya.
Setelah dirasa dapur sudah selesai, Alya keluar dari sana. Dia menghampiri suaminya berniat untuk meminta izin keluar, Rencananya hari ini dia akan pergi kerumahnya. keluarga pamannya akan kembali ke Korea dan Alya ingin mengantarnya ke bandara.
Sebelumnya Alya juga sudah memberi tahu soal ini ke Selena, dan kakaknya itu meminta maaf tak bisa mengantar. Alya dan keluarga pamannya pun memaklumi.
Kevin yang mendengar itu tentu saja melarangnya, dia pun menawarkan diri untuk mengantar. Lagipula ini adalah hari libur, baik Alya dan Kevin sama-sama tak ada jadwal keluar. Kini pasutri itu sudah berada di dalam mobil, Kevin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai dirumah, Kevin dan Alya pun keluar dari mobil lalu berjalan masuk rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.
Begitu masuk pasutri itu di sambut oleh Yuna, wanita itu memeluk keponakannya erat dengan berderai air mata. Alya dan kevin yang melihat itu pun merasa heran.
“Bibimu sudah tahu apa yang sudah terjadi sama kamu dan Lena, paman sudah menceritakan semuanya.” Ucap Adinata saat melihat keponakannya bingung dengan sikap Yuna.
Mendengar itu sontak saja membuat Alya dan Kevin kaget, dia tak menyangka akan secepat ini bibinya tahu.
“Apa bibi akan memarahiku karena sudah memanfaatkan keadaan?” Kevin bersuara dengan nada pelan, wajah yang biasanya kaku kini terlihat sendu.
Sebelum menjawab Yuna nampak mengusap pipinya yang basah, kemudian mengurai pelukannya lalu menggeleng.
“Tidak nak, bibi tahu kamu dan kakakmu melakukan ini pasti terpaksa. Bibi paham kondisimu yang harus dipaksa menikah dengan wanita yang tak kamu sukai. Bibi sangat berterima kasih pada kakakmu karena sudah membantu Selena, walaupun harus mengorbankan masa depan Alya.”
“Jangan bilang begitu dong bi, aku gak apa-apa kok.” Sahut Alya dengan suara bergetar, wajahnya merona.
Sebelum melanjutkan, Alya nampak menghela nafas dalam-dalam.
“Aku akan melakukan apapun asal keluargaku tetap aman, jadi bibi gak usah sedih lagi ya.” sambungnya.
Yuna mengangguk, sebelah tangannya mengusap lembut bahu kecil alya. “Kamu memang anak baik.”
Lalu pandangan Yuna mengarah ke Kevin. “Bibi titip Alya sama kamu, jaga dan lindungi dia dengan baik.”
Kevin mengangguk mengiyakan.
Tak lama setelah itu Yuna, Rendy dan adinata mulai bersiap-siap untuk pergi. Kevin nampak membantu membawa koper mereka lalu memasukkannya ke bagasi mobilnya, sementara Alya sedang mengunci pintu.
Di sela-sela itu, nampak Rendy menarik Kevin agar menjauh dari mobil. Kedua pria itu seperti membicarakan hal serius, bisa dilihat dari ekspresi wajah Kevin yang berubah.
__ADS_1
Begitu selesai, mereka pun kembali mendekat. Tak lama setelahnya semuanya berangsur-angsur masuk mobil dan sedetik kemudian mobil BMW hitam milik Kevin pun mulai meninggalkan pekarangan rumah minimalis Alya.