TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 52~Kehangatan Dalam Keluarga


__ADS_3

“vin, kenapa kamu diam aja? Kamu pernah pake Kruk?” tanya Alya, seraya sebelah tangannya menggoyangkan lengan suaminya.


“emm.. pernah dulu.” jawab Kevin singkat.


“kapan? Dan kenapa?” gadis itu mulai penasaran.


Kevin tak langsung menjawab, ia terlihat salah tingkah. “Euu.. beberapa bulan lalu aku pernah kecelakaan Mobil, dan kaki aku sempat cedera.” ucapnya beralasan.


Mendengar itu mata Alya Langsung melotot dengan sebelah tangannya menutupi mulutnya yang sedikit terbuka. “astaga! tapi sekarang udah gak apa-apa kan?” nada bicaranya terdengar panik.


“menurutmu? Kalau aku gak baik-baik saja, mana mungkin aku berdiri di depanmu sekarang.” balas Kevin ketus.


Alya menghela nafas lega, kemudian tersenyum. reflek kedua tangannya melingkar di lengan Kevin, lalu mendongak menatap wajah suaminya. “lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi Vin, atau Kalo perlu kamu pakai supir aja biar aman.”


“hm.” dan hanya sebatas itu jawabannya.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan langkahnya, dan saat Alya ingin menurunkan tangannya, kevin malah menahannya dan kini berganti menggenggamnya.


Alya yang menyadari itu tentu merasa senang, genggaman tangan itu terasa sangat hangat dan nyaman. semangat hidupnya benar-benar sudah kembali, karena memang salah satu tujuannya tetap bertahan adalah pria yang berada di sampingnya itu.


“kamu sendiri gimana?” tanya Alya, setelah sekian lama terdiam.


“apanya?” ucap Kevin balik nanya, melirik istrinya sekilas.


“habis ini mau langsung pulang atau pergi lagi?”


Sejenak Kevin melirik arlojinya. “aku harus balik lagi ke kantor, kebetulan nanti jam 2 ada rapat penting dengan perusahan lain.” jawabnya.


“terus nanti pulangnya jam berapa?”


“kalo gak ada kerjaan lagi, paling jam 5 udah pulang. kenapa memangnya?” tanya Kevin.


Alya menggeleng. “gak ada, aku hanya pengen tahu jadwal kamu aja.” balas Alya.


“yang pasti setelah ini jadwalku akan lebih padat darimu yang hanya anak kuliahan, dan mungkin juga kedepannya aku bakal sering lembur. Nanti kalo di apartemen kamu merasa kesepian, kamu boleh bawa arina dan Jessica kesana tapi dengan catatan, jangan bikin rusuh!”


Alya yang mendengar itu mengangguk paham. “berarti setelah ini kamu udah gak bakal datang lagi ke kampus dong? Soalnya aku denger dari Jessica kalo kamu dan kedua teman kamu itu sebenarnya udah lulus, tapi masih mau ikutin pelajaran kelas.”


“kurang tahu juga, tapi kayaknya sih masih tetap datang meski gak harus setiap hari.”


“kenapa? Bukannya tadi kamu bilang setelah ini jadwal kamu bakal sibuk? Dan menurutku kalian tak perlu lagi datang ke kampus, karena kan sudah lulus.”


“Meskipun secara akademik kami udah lulus, tapi disini kami belum wisuda. Sejak awal Aku, Rangga dan Dimas sudah memutuskan akan kuliah lagi disini sampai gelar sarjana itu di dapatkan.”


“terus atur waktunya gimana, sedangkan kalian juga tetap harus mengelola perusahaan.”


Alya tahu ketiga pria tampan itu tak ada yang kuliah di Jakarta, setelah lulus SMA Dimas memilih kuliah di Thailand, dan Rangga di Amerika. Beda halnya dengan Kevin yang awalnya sempat kuliah di Jakarta, namun pada akhirnya harus pindah ke negara ibunya.


“sudah aku bilang tadi, kami akan tetap pergi kuliah tapi tak setiap hari. Mungkin 3 kali dalam seminggu, hal ini juga sudah di sepakati oleh om Alex dan om justin.”


“mereka langsung setuju?”


“ya.”


“jadi kalian bakal datang ke kampus sampai acara wisuda itu di adakan?”


“hm.”


Alya yang mendengar itu hanya manggut-manggut, dia mulai membayangkan akan wisuda bersama dengan kevin, pasti sangat menyenangkan. Tapi rasanya tak mungkin, begitu mengingat dirinya baru masuk tingkat semester 2 dan dirinya akan lulus sekitar 3 tahun lagi. Sedangkan Kevin adalah seniornya, dan menurut perhitungannya suaminya itu akan wisuda sekitar 5 bulan lagi.


“oh iya aku lupa ngasih tahu kamu, kalau mulai sekarang Sean akan menjadi bodyguard kamu. Jadi mau kemana pun kamu pergi, dia akan ikut. Dan jangan lupa dengan ucapanku semalam, jangan pernah lepaskan jam tangannya. Hp kamu juga harus selalu aktif, untuk antisipasi!” ucap Kevin panjang lebar.


“iya Vin aku masih ingat kok semua ucapan kamu semalam, Tapi apa perlu ya aku pakai bodyguard segala?”


“sangat perlu!”


“tapi aku risih vin kalau ada orang lain yang mengikutiku.”


“harus di biasakan! Ini juga demi keselamatan kamu sendiri, apa kamu lupa pada malam dimana kamu di culik? Mau kamu ngalamin kayak gitu lagi?”


“gak mau..”


“ya udah makanya nurut aja sama omongan aku, itung-itung balas jasa karena aku udah tolongin! Kalo enggak, udah pasti kamu di perkosa sama dua preman itu.”


Mendengar kata terakhir Kevin membuat Alya diam dan kembali menghentikan langkahnya, raut wajahnya merona seperti menahan tangis.


Jika mengingat kejadian malam itu, Alya memang selalu merasa sedih. Meskipun tidak sampai di nodai, Ia tetap merasa kotor karena pria lain sudah melihat tubuh telanjangnya.


Kevin yang menyadari perubahan wajah Alya menghela nafas, segera ia pun membawa tubuh istrinya ke pelukannya.


“sudah sudah, jangan nangis. Disini banyak orang yang lihat, nanti dikiranya aku jahatin kamu lagi.” Bisiknya.


Alya mendongak menatap wajah Kevin, terlihat dua matanya sudah berembun. “kamu kan emang jahat Vin, sering marah-marah sama aku!” balas dengan nada merajuk.


“itu karena kamu gak mau nurut sama omongan aku, coba aja kalo nurut. Aku gak mungkin marah-marah begitu.”


Alya kembali diam dan memalingkan wajahnya, namun dengan cepat Kevin mencegahnya.


“dengerin aku baik-baik, sekarang status kita kan udah beda dan seluruh dunia pun sudah tahu akan hal itu. Selain karena tugas sebagai suami, aku juga dapat amanah dari keluarga kamu untuk menjaga dan melindungi kamu dari bahaya apapun! Jadi.. aku mohon banget sama kamu nurut aja ya?”


“tapi--”

__ADS_1


“gak ada bantahan lagi! Sejak awal aku sudah peringatkan sama kamu untuk jangan banyak bicara, dan cukup nurut aja apapun yang aku bilang. Bisa kan kamu lakukan itu?”


Sebelum kembali menjawab, Alya menghela nafas seraya merubah Wajahnya menjadi cemberut.


“iya..”


“bagus! Sekarang kita pulang ya, udah jangan nangis lagi.” ucap Kevin, seraya jari jempolnya mengusap sudut mata Alya yang sedikit berair.


“makasih udah nolongin aku, jika malam itu kamu tak datang tepat waktu entah apa jadinya aku.”


“hm. lupakan aja yang sudah terjadi, mereka juga udah mendapatkan balasan yang setimpal.”


Alya hanya mengangguk tanpa bersuara seraya melerai pelukan sang suami, namun kedua tangan mereka masih bertaut. Dirinya memang sudah tahu kedua preman itu langsung di bawa anak buah Kevin ke kantor polisi dari kenzo, namun Alya belum tahu jika mereka sudah meninggal.


Setelahnya pasutri itu pun kembali melangkah pergi dari rumah sakit tersebut.


Tanpa sadar dari kejauhan ada sepasang mata tengah menatap gerak-geriknya, seorang pria tua dan memakai pakaian pasien berdiri di satu lorong yang bersebrangan dengan tempat Kevin dan Alya berada.


Pandangan pria itu begitu lekat menatap pasutri itu, lebih tepatnya ke arah Alya. beberapa kali dia mengucek matanya dengan tangannya, untuk sekedar menormalkan penglihatannya. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini, namun nyatanya itu semua memang benar.


“Vanessa..” Lirihnya tanpa sadar.


‘kenapa wajah gadis muda itu sangat mirip dengan Vanessa? jangan bilang jika selama ini ia belum benar-benar meninggal, tapi.. kenapa terlihat begitu muda sekali? dan juga laki-laki itu.. aku seperti melihatnya, tapi dimana?’


Kemudian pria tua itu terdiam, keningnya yang sudah keriput menyatu. Dalam pikirannya sedang menduga-duga yang mungkin saja terjadi.


‘ya tuhan.. jangan-jangan gadis itu adalah.. anaknya!’


...💐💐💐...


Sementara itu dirumah utama, Selena baru saja terbangun dari tidurnya. Matanya mengedar ke seluruh kamar yang sepi, karena memang hanya dirinya disana.


Ia menoleh ke samping, tempat tadi Alya berbaring, namun nyatanya sudah kosong. Pikirannya meyakini, pasti adiknya itu sudah di jemput oleh Kevin.


Perlahan Selena bangun dari pembaringannya, menurunkan kedua kakinya dan diam di tempat. Rasa pusing di kepalanya masih terasa walau sedikit, untungnya badannya tak selemas tadi.


Tak lama setelahnya dia beranjak bangun, dengan langkah pelan ia jalan menuju kamar mandi dan menghilang dari balik pintu.


15 menit kemudian Selena kembali keluar dengan wajah yang sudah segar, ia terkejut kala melihat Rafael sudah berada di kamar. Pria itu duduk di sisi ranjang, dengan ponsel yang ada di genggamannya.


“ngapain mas?” tanya Selena dengan suara lirih.


Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu, pasalnya ponsel yang suaminya pegang itu miliknya. Namun Rafael masih bisa mendengarnya, ia pun mendongak menatap wajah Selena kemudian menggeleng.


“tidak ada, tadi aku hanya melihatnya aja dan maaf gak sengaja aku baca.” ucapnya seraya bangun dari posisinya, lalu jalan mendekati Selena dan menyerahkan benda pipih itu.


“Ada pesan masuk dari Chandra, katanya dia pengen bertemu.” sambungnya.


Tanpa membalas ucapan Rafael, Selena meraih ponselnya dan mengeceknya. Benar saja, di layar datar itu memang ada kontak nama Chandra beserta deretan pesan singkat. Ia pun membukanya, mencebikkan bibirnya kala membaca satu persatu pesan yang pria itu kirim. Kemudian tanpa ragu lagi ia memblokir nomornya, dan menghapus riwayat.


“tapi dia pengen ketemu kamu Len, mungkin aja ada sesuatu yang pengen dia ucapkan.” balas Rafael.


“aku tidak perduli!”


“tapi--”


“Udahlah mas, aku gak mau bahas dia lagi. Aku pengen hidup tenang!” potongnya cepat.


Mendengar nada bicara Selena yang kesal membuat Rafael menghela nafas, ia pun memilih untuk tak bertanya lagi.


“oke oke, maaf aku gak bakal bahas dia lagi. Sekarang kamu duduk ya.”


Rafael merangkul bahu Selena, lalu menuntunnya untuk duduk di pinggiran kasur. “masih pusing?” Tanyanya.


“sedikit.” jawab Selena.


Rafael melirik ke jam weker yang ada di meja nakas, disana sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. “ini sudah jam makan siang, mau makan disini atau di bawah aja?”


“dibawah aja mas, lagian badan aku juga udah enakan.”


“ya udah ayo.”


Rafael kembali menuntun sang istri untuk bangun, mereka pun keluar dari kamar.


Selena melampirkan tangannya di lengan Rafael tanpa ada rasa canggung sedikit pun, beda halnya dengan Rafael yang terlihat grogi.


“oh ya Alya sudah pulang ya mas?” tanya Selena saat berada di tangga.


“iya, kayaknya. Soalnya tadi aku lihat dari balkon ada mobil Kevin.” jawab Rafael.


“kenapa memangnya? Alya gak pamitan sama kamu?”


“iya mas, aku takut dia pergi kemana gitu tanpa sepengetahuan orang rumah.”


Mendengar ucapan Selena membuat Rafael tertawa. “kalau pun Alya pergi sendirian, pasti ada aja orang yang lihat. Aku kasih tau ya, Rumah ini meskipun jarang ditempati tapi banyak pengawal yang menjaga. selain itu di setiap sudut rumah ini juga sudah di lengkapi cctv. Jadi jika ada kegiatan yang mencurigakan pasti akan ketahuan.”


“oh gitu, jadi intinya aman ya kalo rumah ini kosong?”


“aman banget. Selama ini sih belum ada kejadian aneh-aneh dirumah ini, ya mudah-mudahan jangan sampai Lah. Soalnya ini rumah peninggalan mama Ara, dan tentunya banyak kenangannya.”


Selena manggut-manggut mendengarnya dan tak kembali bersuara lagi. Hingga sampailah mereka ke ruang makan, disana seluruh anggota keluarga sudah berkumpul kecuali aji.

__ADS_1


Selena mendudukkan bobot tubuhnya di kursi bagian kanan bersebelahan dengan Grandma Anjeli, di depannya sudah ada Marissa yang tengah menyuapi Fandy dan di sebelahnya sudah ada tiga anak remaja berparas bule yang tak lain adalah sepupunya Rafael dari pihak anjeli.


Sementara Hani memilih makan siang di luar bersama suami dan anaknya, sekaligus ingin mampir ke rumah mertuanya yang tinggal di Jakarta. Setelah itu mereka akan jalan-jalan, sebelum pulang ke Korea.


Dan.. soal keberadaan om Haris, mereka sudah tak ada di Jakarta lagi. Setelah pesta pernikahan Rafael dan Selena di gelar, om Haris beserta istri dan anaknya langsung pamitan pulang ke Inggris. Tuntutan kerjaan dan anaknya yang harus sekolah membuatnya tak bisa berlama-lama di sana, padahal istrinya masih ingin disana.


“udah baikan sayang?” tanya Anjeli pada Selena.


Selena menoleh dan mengangguk. “sudah Grandma.” jawabnya.


“syukurlah.. makan yang banyak ya biar fisik kamu kuat, oh iya tadi Grandma juga udah masakin ati ayam buat kamu.”


“makasih Grandma.”


“sama-sama sayang.” Anjeli terlihat mengusap lembut kepala Selena.


“sayurnya juga jangan lupa di makan ya nak.” kali ini Marissa yang berbicara.


“iya ma, makasih.”


Setelah itu Selena dan anggota keluarga lainnya mulai menikmati makan siangnya, di sela-sela suapannya mata Selena menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana dengan penuh haru. Perasaannya menghangat kala merasakan perhatian tulus dari keluarga Suaminya.


Setelah sekian lama tahun berlalu merasakan kehampaan akibat ditinggal orang tua, akhirnya ia kembali merasakan bagaimana kehangatan keluarga. Meski tak dipungkiri keluarga pamannya memang memberinya perhatian, namun rasanya tetap berbeda jika keluarga lain juga memberinya perhatian. Terlebih sekarang ia memiliki suami yang baik dan perhatian.


Selena merasa sangat beruntung karena mendapatkan sosok suami paket lengkap seperti Rafael, ganteng, kaya dan memiliki sifat baik. Ditambah dengan keluarganya yang menerimanya dengan tulus, membuatnya merasa sangat bahagia.


Namun saat mengingat status pernikahannya hanya sementara, mendadak hatinya sakit. Ia merasa tak rela jika nantinya harus kehilangan itu semua, tapi dia harus bisa menerimanya dengan lapang dada.


‘tuhan.. apa aku egois jika akhirnya aku menginginkan ini semua, padahal semulanya aku yang menginginkan pernikahan ini hanya sebatas anakku lahir?’


...💐💐💐...


Kevin keluar dari mobilnya setelah mobil yang di kendarai Sean sudah sampai di depan kantornya.


“Lo bawa aja mobilnya langsung ke apartemen, nanti gue telpon Lo lagi kalau mau pulang.” titah Kevin pada sean, dan pria itu mengangguk patuh.


Setelah itu Kevin menegakkan tubuhnya dan tangannya menepuk badan mobil, tak lama setelahnya Sean kembali melajukan mobilnya untuk meninggalkan halaman kantor.


Kevin menatap kepergian mobilnya, kedua sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat Alya melambaikan tangannya dengan senyum mengembangnya. Sesekali gadis itu mengucapkan kata 'dadah’ padanya, layaknya seorang anak kecil yang pamitan pada orang dewasa.


Namun setelahnya ia merubah raut wajahnya menjadi datar, kemudian menghela nafas berat. Tak lama setelah itu ia berbalik badan dan masuk dalam kantornya, lalu masuk ke ruangan Dylan. Disana Kevin melihat kakak keduanya sedang duduk di sofa sambil menyantap makan siangnya, namun tak ada Kenzo disana.


“udah balik Lo?” tanya Dylan seraya menyuapkan nasi ke mulutnya.


Kevin hanya berdehem pelan sebagai respon, lalu dia duduk di sofa. Tepatnya di depan Dylan.


“dimana Kenzo?” tanyanya balik.


“makan siang sama Miranda di kantin.” jawab Dylan tak jelas, karena mulutnya sudah penuh dengan makanan.


Kevin yang mendengar itu manggut-manggut saja. Dylan meraih botol minumnya yang ada di meja dan menegaknya hingga setengah, kemudian di taruhnya kembali ke meja.


“oh iya, besok gue kan bakal balik ke China. Bang Rafa dan Selena juga balik ke Korea, sedangkan papa, mama, kakek dan Grandma baliknya lusa.”


“ya, lalu?”


“saran gue sih Lo tempatin aja itu rumah, daripada dibiarkan kosong.”


“gue udah punya rumah sendiri kalau Lo lupa!” desis Kevin.


“gue tau, tapi itu terlalu besar untuk kalian. Nanti ajalah pindah ke sananya kalau kalian udah ada anak.”


Kevin yang mendengar itu hanya diam, namun matanya tetap memperhatikan dylan. Apa kakak keduanya itu sudah lupa ingatan soal status pernikahannya yang hanya sementara, mana mungkin ia memiliki anak dari Alya. Sangat mustahil!


“gue ngomong gini bukan apa-apa Vin, hanya saja kita ini sudah sama-sama dewasa. Ditambah Lo udah nikah, ada Alya yang jadi tanggungan Lo sekarang. Ya gue tahu pernikahan kalian hanya sementara, tapi setidaknya berpikir dewasalah, lupakan juga soal masa lalu. dan.. perlu gue tegaskan juga, gue sama Alya gak ada hubungan apapun.”


Kevin tersenyum sinis mendengar ucapan terakhir dylan. “ya, kalian memang tak ada hubungan spesial karena hubungan kalian hanya sebatas partner ranjang!”


Dylan mendesah pelan. “terserah Lo mau percaya atau gak! Yang penting gue udah kasih tau hal yang sebenarnya!”


Kevin kembali diam, tak memberi respon apapun. Wajahnya pun tetap datar, seakan omongan Dylan tak berpengaruh apapun baginya.


Dylan yang menyadari itu hanya bisa menghela nafas, susah memang menjelaskan sesuatu sama orang yang pikirannya keras. Ingin rasanya dia menceritakan semuanya dari awal, namun ia sudah terlanjur janji sama Alya dulu agar jangan pernah menceritakan apapun terhadap Kevin.


Kini pria itu hanya bisa pasrah, biar Tuhan saja yang memberi jalannya. Dirinya yakin cepat atau lambat rahasia itu akan terbongkar dengan sendirinya.


...💐💐💐...


Sedangkan di lain tempat Alya sedang berada di supermarket, di ikuti oleh sean di belakangnya yang mentengteng keranjang belanjaan. Sebenarnya gadis itu tak nyaman, namun ia sudah berjanji pada suaminya untuk bisa membiasakan diri.


Selepas pergi dari kantor suaminya, Alya memang meminta untuk menepi ke supermarket untuk membeli perlengkapannya. Namanya juga perempuan, melihat sesuatu yang menarik sudah pasti akan langsung mengambilnya. Tak hanya soal keperluan pribadinya saja, alya juga membeli beberapa cemilan dan minuman soda serta susu kaleng kesukaannya.


Hingga Tak terasa keranjang yang di bawa Sean sudah penuh dan tentunya sangat berat, namun tak berefek apa-apa bagi Sean yang memiliki tubuh macam biragawan. Alya pun menyuruh pria bule itu untuk membawanya ke kasir, Tak lupa ia juga memberikan kartu warna hitam pemberian Kevin tempo hari ke karyawan supermarket.


Begitu semuanya selesai, Alya dan Sean keluar dari toko dengan membawa dua kantong belanjaan. kemudian langsung masuk mobil, menancap gas bergegas pergi menuju apartemen.


Hingga satu jam setelahnya mereka sudah sampai di gedung apartemen, dengan ditemani Sean Alya jalan masuk unit apartemen suaminya. Ia langsung pergi menuju dapur untuk menyimpan semua belanjaannya ke dalam kulkas, di bantu oleh pelayan yang baru Alya ketahui bernama intan.


Begitu selesai Alya keluar dari dapur, namun langkahnya terhenti kala mendengar suara ketukan pintu depan.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Intan dengan sigap berlari ke arah sana untuk membuka pintu, di ikuti oleh langkah Alya dan Sean.


Dan alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui siapa yang datang, terlebih alya. mendadak perasaannya tak tenang saat mata tajam sang tamu tertuju ke arahnya.


__ADS_2