
“ck! Punya suami kok Nyebelin banget sih?”
[yang penting ganteng dan kaya!]
Alya mengerucutkan bibirnya saat dengan pedenya Kevin mengatakan itu.
[Udah gak usah cemberut gitu, kan aku udah minta maaf]
“telat tau gak! Aku udah terlanjur malu.”
[Malu sama siapa sih, yang lihat kamu begitu cuma aku doang kok. Lagian gak dosa juga kan?]
“kenzo emang gak lihat?” tanya Alya menyelidik.
[Enggak]
“kamu yakin?”
[Iya, udah tenang aja. Yang bakal mantau kamar kamu cuma aku doang]
Alya yang mendengar itu menghela nafas lega.
[Udah dulu ya, aku saat ini lagi ada di kantor orang.]
“lagi dimana emang?”
Kreekk..
“halo semuanya, selamat siang.”
DEG!
Belum sempat Kevin menjawab, suara pintu terbuka dan suara seorang wanita menginterupsi Kevin untuk diam. Di layar ponselnya, suaminya menoleh ke lain arah.
Tanpa sadar Kevin mengarahkan kameranya ke beberapa orang yang baru masuk ke ruangan yang Alya yakini adalah ruang rapat, sejenak gadis itu menahan nafasnya saat wajah Jeniffer terpampang disana.
Seketika itu pula rasa panas mulai Alya rasakan saat menyaksikan Kevin dan Jeniffer berdiri bersebelahan, wanita itu nampak begitu senang bertemu dengan suaminya, bisa dilihat dari sorot matanya yang berbinar.
‘apakah hari ini hari tersialku, sehingga dengan bersamaan dua orang itu datang memberiku ancaman bahaya?’ batin Alya pedih.
Ya, di banding dengan Mayra. Jeniffer adalah wanita yang harus Alya waspadai setelah papa mertuanya. Karena balik wajah kalemnya, mereka berdua menyimpan seribu tipu muslihat.
Dan.. untuk kesekian kalinya Alya kembali mengingat ucapan arina untuk berhati-hati padanya, ia meyakini jika Jennifer memang masih menginginkan Kevin seperti dulu.
[vin, kamera Lo masih nyala!]
Terdengar suara lain yang tak lain adalah dylan, memberitahu Kevin jika sambungan telponnya bersama Alya masih berlanjut.
tadi ia sempat pamit ke toilet dan kembali datang bersama Jenifer dan sekretarisnya serta ada beberapa karyawan lainnya.
Sedangkan Kenzo menunggu diruangan itu bersama Kevin, dan yeah.. pria itu mendengar semua perbincangan pasutri itu.
Jennifer yang mendengar ucapan Dylan menoleh, matanya melirik ke ponselnya Kevin. Wanita itu tersenyum samar saat melihat bayangan wajah Alya disana. Tak lama setelahnya Kevin pun sadar, ia kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya.
[Udah dulu ya]
Kevin mengatakan itu dengan nada berbisik dan mencondongkan wajahnya, kemudian langsung memutuskan panggilan teleponnya.
...💐💐💐...
Sementara itu Alya di Di dalam kamarnya terlihat lesu, ia yang kini duduk di tengah-tengah kasur langsung melemparkan ponselnya disana begitu sambungan teleponnya bersama Kevin terputus.
“ya tuhan.. kenapa hidupku selalu tak pernah lepas dari dia sih?” keluh Alya.
“belum selesai soal papa dan Mayra, kini datang Jenifer.” gumamnya, lalu menghela nafas. “Sepertinya.. aku tak sanggup menghadapi mereka semua seorang diri, ditambah Kevin juga membenciku.” sambungnya.
Jika mengingat perbuatannya dulu pasti orang lain akan mengira jika dia adalah wanita licik dan jahat, sudah berselingkuh dengan kakaknya namun malah menikah dengan adiknya.
Tapi kenyataannya tak seperti itu, dia memang masih sangat mencintai Kevin tapi tak ada sebersit pun keinginan untuk bisa menikah dengannya, bahkan semenjak putus ia sudah menghapus semua akses tentang Kevin.
takdir tuhan memang penuh misteri, tak ada yang tahu ke depannya akan seperti apa. Begitu pula dengan apa yang Alya alami, ini semua terjadi karena keadaan dan tentunya atas kehendak Tuhan. Kini dia hanya bisa menjalani takdirnya menjadi istri dan menantu dari keluarga yang membencinya, memang tak semuanya tapi apakah dirinya bisa menjalani ini semua seorang diri?
__ADS_1
“aku harus kuat demi kakak.” gumamnya dengan penuh tekad.
Yah.. sejak awal dia lakukan ini memang demi selena, kakak satu-satunya. Cobaan seberat apapun akan dia lawan asal kakaknya bisa aman, tak perduli dengan masa depannya yang sudah hancur karena pernikahan ini.
Selain itu dia juga sudah bertekad akan membuat Kevin bisa mencintainya lagi, meskipun ia tak yakin akan berhasil begitu mengingat prinsip Kevin yang keras.
...💐💐💐...
Di kediaman keluarga Mahendra tepatnya di sebuah kamar, kakek Rusman tengah mengobrol dengan orang suruhannya untuk mencari keberadaan cucunya di sambungan telepon.
“bagaimana? Apa ada kabar baru?” tanya kakek Rusman, dia sangat berharap kali ini dapat info walaupun sedikit.
[Ada pak, kemarin anak buah saya melihat pak adinata di bandara Soekarno Hatta. Maafkan saya karena baru sekarang kasih tahu]
Mendengar itu senyum kakek Rusman terbit, akhirnya setelah bertahun-tahun mencari ada titik terang juga.
“benarkah dia ada di bandara Indonesia?”
[Iya pak, beliau datang bersama seorang wanita paruh baya dan satu pria muda. Menurut informasi dari pihak bandara mereka mengambil jadwal penerbangan ke Korea, tapi saya tak tahu pasti ada urusan apa mereka datang ke Indonesia.]
“itu pasti istri dan anaknya, lalu apakah anak buahmu melihat orang lain lagi selain istri dan anaknya?”
[Tidak pak, karena anak buahku melihatnya pas mereka mau masuk ke pesawat.]
Kakek Rusman menghela nafas, wajahnya yang tadi berseri kembali muram. Dia sangat berharap cucu perempuannya ada disana juga, tapi nyatanya tak ada.
“kau sudah menyuruhnya untuk mengikutinya kan?”
[Sudah pak, saya sudah mengirim beberapa detektif untuk memantau kegiatan pak adinata dan anaknya dan juga 2 pengawal untuk berjaga di sekitaran rumahnya.]
“bagus. Terus awasi mereka dan jangan sampai ketahuan, aku tak mau kehilangan jejak mereka lagi.”
[Baik, pak.]
Setelah itu sambungan teleponnya berakhir, kakek Rusman kembali menghela nafas panjang. Saat ini dirinya sedang berdiri di depan jendela yang memamerkan suasana taman yang penuh dengan berbagai bunga dan tanaman hijau, disana ia masih bisa melihat para pekerjanya yang begitu telaten menjaganya.
“sebentar lagi aku akan bertemu dengan mereka.” gumamnya dengan senyum tipis.
Kreek!
Terdengar suara ketukan kemudian di susul pintu di buka, kakek Rusman menoleh ke belakang. Disana ia melihat Sarah berjalan masuk mendekatinya, penampilan menantunya itu sudah rapi sambil mentengteng tas Selempangnya.
“papa, hari ini aku mau pergi arisan dulu dan mungkin pulangnya sore. Kalau papa lapar, aku sudah siapkan makanan di meja.” ucap Sarah.
“iya nak, makasih ya.” sahut kakek Rusman dengan senyuman.
“sama-sama pa. Ya udah aku pergi ya, papa hati-hati dirumah.” pamit Sarah dan kakek Rusman hanya mengangguk.
Setelah itu Sarah berlalu pergi dari kamar kakek Rusman, ia melangkahkan kakinya ke teras depan. Disana sudah terparkir mobil mewahnya yang berwarna hitam dan mengkilat. Sarah mengendarai mobil itu seorang diri, tanpa supir.
...💐💐💐...
Alya masih berada di kamarnya, ia duduk di meja belajarnya sambil menyalakan komputer yang sebagian sisinya masih di bungkus plastik. Kevin memang sengaja membeli komputer baru agar Alya bisa mengerjakan tugas kuliahnya dengan baik, jika memakai komputernya yang lama ia takut istrinya akan menghancurkan data-data penting perusahaannya.
Begitu pula dengan laptopnya, Kevin juga membelinya dengan yang baru. Bukan hanya itu, seluruh furniture kamar itu memang masih dalam keadaan baru.
Seperti apa yang pernah dikatakannya, dulu ruangan itu adalah ruangan kerjanya. Memang sudah di fasilitasi kamar mandi dan ruang ganti baju, soalnya dulu Kevin suka sekali berdiam diri di ruangan tersebut. Jadi agar tak repot bolak balik ke kamar mandi bawah atau kamarnya, akhirnya dia menambahkan ruang untuk membuat kamar mandi dan tempat pakaian.
Di kamar itu hanya terdengar suara ketikan komputer yang beradu dengan suara AC, Alya tengah fokus mengerjakan beberapa tugas kuliahnya yang di kirim Arina. Hanya cuti dua hari tapi tugas yang di berikan sahabatnya sangat banyak, dan itu sempat membuat Alya kaget.
Namun itu tak membuat Alya yang memiliki otak cerdas kesusahan, dia bisa mengerjakannya tanpa hambatan. Hanya saja dia sedang mengejar waktu karena setelah itu ia harus memasak untuk suaminya nanti sore.
Alya sudah tahu jadwal intan yang selalu datang pada jam 10 pagi dan pulangnya jam 5 sore, otomatis untuk jatah makan malam dia yang harus siapkan.
Sebenarnya Kevin tak pernah menyuruhnya, itu murni keinginannya sendiri. Lagi pula bukankah itu sudah menjadi tugasnya sebagai istri, yaitu melayani kebutuhan suami. Kecuali soal ranjang! Sungguh, meski mustahil tapi alya sangat takut jika suatu saat nanti Kevin meminta itu.
Sekitar hampir 2 jam Alya berkutat di layar komputernya, jemari lentiknya yang di beri kutek warna pink alami itu tak henti-hentinya bergerak sambil matanya terus bolak balik menatap buku yang dia bawa dari Korea.
Alya menghentikan gerakan jarinya saat semua tugasnya sudah selesai, ia tersenyum begitu manis saat menekan enter dan tugas terakhirnya hanya tinggal print saja.
Ia melirik ke jam yang ada di ponselnya menunjukkan jam 4 sore, gadis itu tersenyum begitu melihat foto pernikahannya bersama Kevin sebagai lockscreen.
__ADS_1
Seketika itu pula ia teringat bagaimana hebohnya arina saat menarik-narik Dylan untuk menyuruhnya foto dirinya bersama Kevin.
pada saat itu Alya sempat menolak untuk di foto karena melihat raut wajah Kevin yang sepertinya tak menyukainya, namun karena terus di desak akhirnya Alya pun mau. Hal itu juga arina lakukan pada Kevin, namun Alya tak bisa mendengar apa saja yang sahabatnya itu katakan sehingga Kevin mau karena jaraknya cukup jauh dari mereka berdua.
‘meskipun aku tahu ini hanya sementara, setidaknya aku beruntung masih di beri kesempatan oleh tuhan untuk bisa bersamamu. dan semoga setelah ini kamu bisa menjalani hidupmu dengan damai, tentunya tanpa aku di dalamnya.’
Alya menghela nafas berat saat mengingat surat perjanjian pernikahannya, dan juga soal perlakuannya dulu terhadap kevin.
‘oh tuhan.. maafkan kesalahanku yang menyakitinya begitu dalam tapi kau tentu sudah tahu keadaannya seperti apa, satu pintaku ya tuhan.. tolong jaga dia setelah aku tak ada di sisinya dan berilah dia kehidupan yang bahagia.’
Alya menutup buku dan layar komputernya, lalu beranjak dari kursi. Ia berlalu keluar kamar, turun ke lantai bawah menuju dapur. Alya melihat intan sedang berjongkok di depan tempat sampah, kedua tangannya tengah sibuk mengikat di ujung plastiknya.
“mba intan.” panggil Alya sambil jalan mendekat.
Intan menoleh ke belakang dan seketika bangun, ia menatap penuh nona mudanya.
“iya non, ada apa?”
“sebentar lagi kan Kevin pulang, biasanya dia suka makan apa kalau malam?” tanya Alya saat sudah berada di dapur.
Sebenarnya Alya sudah tahu makanan apa saja yang disukai Kevin, tapi tetap saja dia ingin bertanya. Takutnya ada tambahan makanan yang di konsumsi Kevin, dan dia belum tahu.
“setahu saya kalau malam tuan muda suka makan sayuran dan makanan berat, tapi yang bebas gula dan minyak berlebih.” jawab intan.
Alya yang mendengar itu manggut-manggut, itu sudah biasa baginya. Semasa SMA dulu Kevin memang suka makan yang tak jauh dari sayuran, setiap dia bawa bekal seperti itu Kevin selalu memintanya.
“kalau pagi?” tanya Alya lagi.
Alya menyadari postur tubuh Kevin sekarang sangat bagus, mirip seperti model susu L-Men. meskipun belum melihatnya secara langsung, tapi dia bisa merasakannya saat memeluknya. Bahkan dia bisa merasakan betapa kencangnya otot lengan Kevin, Alya meyakini Kevin pasti menjaga pola makannya dan rajin olah raga.
“tuan muda kalau pagi makannya hanya telor rebus dan susu, atau gak roti dengan selai coklat aja.” jawab intan lagi.
“cuma itu?” mata Alya sedikit melebar, dia sangat kaget mendengar itu.
“iya non. Setahu saya sih itu tapi selama ini saya tak pernah membuatnya, saya kan selalu datang jam 10 pagi.”
“emang kenyang ya cuma makan rebusan telur atau roti doang?”
“mungkin bagi tuan muda itu cukup, tapi bagi saya itu hanya buat ganjal perut aja. lagian tuan muda kan pernah tinggal lama di luar negeri, Jadi mungkin kebiasaan makannya juga ikutan berubah.”
“mungkin juga. Pantas aja badannya jadi bagus, gak kayak dulu.”
Intan yang mendengar ucapan Alya hanya diam saja, dia tentu tahu maksud dari ucapan nona mudanya. Sebelum bekerja di apartemen Kevin, intan sudah lama bekerja di rumah utama yang saat ini di huni dylan dan tentu dia sangat tahu bentuk tubuh Kevin semasa remaja dulu.
“ya udah mba, nanti aku aja yang masak.” ucap Alya, lalu dia berbalik badan dan membuka kulkas.
“nona mau masak apa, biar saya bantu.”
“gak usah mba, aku mau masak yang simpel dan cepat aja. Biar setelah dia pulang, langsung bisa makan.”
“baiklah, kalau gitu saya mau buang sampah dulu.”
Alya mengangguk mengiyakan sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dan teman-temannya.
“kalau semua kerjaannya udah selesai, mba pulang aja.” ucap Alya setelah intan kembali ke dapur sambil mencuci daging di wastafel.
“tapi kan non belum jam 5.”
“gak apa-apa, mba pulang aja. Jauh gak rumahnya?”
“enggak non, Deket kok dari sini. Sekali naik angkot juga udah sampai.”
“baguslah, tadinya kalau jauh nanti bisa di antar kak Sean.”
“gak perlu non, saya sudah biasa pulang pergi sendiri. baiklah kalau gitu, saya pamit pulang non.”
“iya mba, hati-hati ya.”
Intan mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia berjongkok ke bawah. Membuka laci dan meraih tas dan sepatunya, setelahnya berlalu pergi.
Sepanjang jalan intan terus tersenyum, hatinya merasa bahagia karena mendapat nona muda yang baik dan ramah seperti Alya. Meskipun usianya di bawahnya tapi intan bisa melihat ada aura keibuan terpancar di diri Alya, dan dia sangat bersyukur Kevin tak jadi menikah dengan Mayra yang memiliki watak buruk.
__ADS_1
‘dia memang tak secantik nona Mayra, tapi attitude-nya sangat baik. sekarang aku tahu kenapa tuan muda begitu depresi setelah kehilangannya, karena sosok seperti itulah yang tuan muda butuhkan.’