TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 44~Kevin Cemburu?


__ADS_3

“Ya Tuhan nak, akhirnya kamu pulang juga! Dari mana aja sih hm?” Tanyanya seraya jalan cepat mendekati Andreas lalu memeluknya.


Ternyata itu adalah suara mama-nya, Sarah. Wanita itu baru saja selesai masak untuk makan malam.


“Maaf ma kemarin aku pergi gitu aja soalnya lagi ada masalah.” jawab Andreas.


“Terus kenapa gak pulang?” Tanya Sarah lagi.


“aku hanya ingin menenangkan diri.” balas Andreas.


Sarah yang mendengar itu menghela nafas panjang, dia pun mengangguk paham. Entah masalah apa yang dihadapkan putranya itu, sehingga enggan untuk pulang.


“Ya sudah tak apa-apa, tapi lain kali jangan ulangi lagi ya?”


Andreas mengangguk. “Iya ma. Ya sudah Aku mau ke kamar dulu.”


“Iya sayang, jangan lupa nanti turun. kita makan malam bersama.”


“Hm..”


Setelah itu Andreas berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Andreas langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dengan posisi terlentang, pandangannya lurus ke langit-langit kamarnya.


Drrtt..


Tring! Tring Tring! Tring!


Terdengar suara getar dari saku celananya di susul dengan suara notifikasi, dengan segera pria itu merogohnya dan menyalakannya.


Dilayar tersebut terpampang jelas foto Alya tengah tersenyum manis menghadap ke kamera sebagai wallpaper dan ada beberapa notifikasi pesan dan panggilan masuk dari kontak monika dan keluarganya.


Saat dia menaiki anak tangga tadi, Andreas memang langsung menyalakan ponselnya. Dia sangat berharap Alya menghubunginya atau mengirim pesan, namun nyatanya tak ada sama sekali.


Andreas menghela nafas kesal, dia menghiraukan pesan dari Monika yang sebagian besar menanyakan keberadaannya. Lalu dia melempar benda pipih itu ke sampingnya.


...💐💐💐...


Sementara itu Kevin dan Alya juga baru sampai di apartemen, pasutri itu di sambut hangat oleh Kenzo yang kala itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Pria itu nampak sibuk dengan laptop dan beberapa tumpukkan kertas yang entah apa.


Setelah membalas sapaan Kenzo, Alya segera pergi menuju kamarnya. Beda halnya dengan Kevin yang ikut bergabung dengan Kenzo, mendudukkan dirinya di sampingnya.


“Bagaimana Ken, Lo udah dapat info tentang seli?” Tanyanya.


“Sudah tuan, ini berkasnya.” Jawab Kenzo seraya memberikan sebuah map warna biru pada Kevin.


Dengan cepat Kevin menerimanya, dia membuka lembar demi lembar kertas yang sudah terisi riwayat hidup seli. Tak ada yang aneh kecuali Seli memiliki keluarga yang cukup rumit, dan soal itu Kevin memang sudah mengetahuinya dari Jakson.


Selain soal riwayat hidupnya, Disana juga ada beberapa lembar foto Seli bersama orang tuanya dan ada juga bersama Alya dan Jakson.


“Ternyata mereka cukup dekat juga.” Ucap Kevin menilai foto foto Seli bersama Alya dan teman lainnya.


Kening Kevin nampak berkerut saat melihat foto Seli bersama laki-laki lain, seketika itu pula wajahnya berubah kaget saat menyadari siapa pria itu. di foto tersebut mereka tengah duduk berhadapan di sebuah restoran sambil menikmati makanannya, namun yang membuat Kevin kaget adalah tangan pria itu seperti memegang sebuah amplop di hadapan seli.


“Ken.” Panggil Kevin.


“Ya, tuan.” Sahut Kenzo.


“Apa Lo bisa jelaskan apa maksud dalam foto ini dan siapa cowok ini?” Tanya Kevin seraya menunjukkan satu foto yang dia maksud.


Kenzo pun melihatnya, lalu kembali menatap Kevin. “Apa tuan belum tahu siapa pria ini?” Ucapnya balik nanya.


“Tentu saja gue tahu, dia adalah Andreas. Mantannya Alya sekaligus dia juga teman kuliahnya!” Sahut kevin ketus.


“Mantan?” Beo Kenzo sambil mengernyit.


“Ya, dia ini mantan pacarnya Alya. Lo tahu, kemarin dia datang ke pernikahan bang Rafa dan gue juga sempat kenalan sama dia setelah Alya bilang gue suaminya. Tapi dianya malah diam aja, dan ternyata sebelumnya dia pernah melamar Alya namun di tolak. artinya mereka pernah pacaran kan?”


“Saya tidak tahu tuan, tapi kalaupun benar seharusnya tak ada masalah kan?”


“Jelas masalahlah Ken, mereka itu pernah pacaran. Atau jangan-jangan sampai sekarang mereka masih pacaran!”


“Kalau mereka beneran pacaran terus kenapa? Itu sudah hak nona Alya untuk berhubungan sama siapa saja.”


“Tapi sekarang dia udah jadi istri gue ken!” Seru Kevin menegaskan.


“Iya memang tapi itu kan hanya sementara, bukankah tuan juga sudah membuat perjanjian dengan nona agar tak mencampuri urusan pribadi masing-masing?”


Kevin yang mendengar itu bisu sejenak, wajahnya terlihat seperti kaget. Namun detik berikutnya dia menghela nafas.


“Gue tahu, Tapi--”


“Jangan bilang tuan cemburu?” tebak Kenzo.


“Mana ada, ngaco aja Lo!” Elak Kevin dengan mata membola.


“Saya hanya menebak tuan.” Ucap Kenzo santai.


“Cih, Kembali ke topik! Sekarang Lo jelaskan apa maksud foto ini?”


“Tak ada yang aneh tuan, mereka berdua memang dekat. Andreas sengaja mendekati Seli karena ingin mendapatkan informasi tentang nona Alya, karena dia tahu Seli sangat dekat dengannya.”


“Lah, bukannya dia pacarnya Alya?”


“Sepertinya Tidak, hubungan nona Alya dan Andreas hanya teman kuliah biasa. Tapi kayaknya Andreas yang memiliki perasaan lebih ke nona.”


“Benarkah begitu?” Tanya Kevin ragu.


“Ya kalo tuan pengen tahu lebih jelasnya tanya langsung saja ke nona.” Ucap Kenzo memberi usul.


“Dih, ogah! Ngapain juga gue nanya kayak gitu ke dia, yang ada nanti dia besar kepala.”

__ADS_1


“Kan supaya tuan tahu sendiri hubungan mereka kayak apa.”


“Gak perlu! Segini aja udah cukup. Jadi kesimpulannya adalah selain keluarganya, Seli ini gak ada masalah kan?”


“Tak ada tuan. Sepertinya saat itu Andreas memberi amplop itu sebagai imbalan karena sudah membantunya.”


“Lalu soal riwayat Andreas sendiri gimana?” Tanya Kevin.


Kenzo tak langsung menjawab, pria itu nampak tersenyum tipis. Kemudian mengambil satu berkas dari tas kerjanya, lalu memberikannya pada Kevin.


“Silahkan anda baca sendiri tuan.” Ucapnya.


Sama halnya seperti tadi, Kevin langsung menerimanya dan membukanya. Mata bulatnya begitu awas memperhatikan deretan tulisan yang ada disana, rahang tegasnya nampak mengeras dan wajahnya kaku.


“Jadi dia anaknya Bobby Mahendra.” Ucap Kevin dengan lirih sambil terus membaca berkas tersebut.


Namun detik berikutnya dia tersenyum smirk, kemudian menaruh berkas itu ke meja dengan kasar.


“Ken, besok suruh Sean untuk datang kesini.” Titah Kevin.


Kenzo mengangguk patuh, dia tahu apa yang ada di pikiran Kevin sekarang. “Baik, tuan.”


...💐💐💐...


Malam semakin larut dan waktu pun sudah menunjukkan jam setengah 7 malam. Setelah mandi dan perpakaian santai, Alya keluar dari kamar. Dia berniat ingin pergi ke dapur untuk memasak, selepas melihat sunset mereka memang langsung pulang dan belum sempat makan malam.


BRAK!


PRANK!!


langkah Alya langsung terhenti kala mendengar suara berisik dari kamar sebelah, yang tak lain adalah kamar suaminya. Pintu kamar Kevin saat itu memang terbuka sedikit, sehingga Alya bisa mendengar suara dari dalam.


“Kevin?” Panggilnya, namun tak ada jawaban. “Kamu baik-baik saja kan disana?” Lagi, dan Alya hanya menerima keheningan.


Sebenarnya Alya ingin sekali masuk ke dalam sana, namun dia ragu.


‘apa aku salah dengar kali ya?’ batin Alya menerka-nerka.


Gadis itu masa bodoh, dia lebih memilih melanjutkan langkah untuk turun ke bawah.


Sesampainya disana Alya masuk dapur, dia membuka kulkas lalu mulai mengeluarkan bahan makanan yang ada. Sedetik kemudian gadis itu sudah sibuk dengan alat dapur beserta teman-temannya.


Sekitar hampir satu jam Alya berkutat di dapur, hingga akhirnya masakannya pun jadi. Dengan telaten dia menaruh masakannya ke wadah, lalu meletakkannya di meja makan. Setelah selesai Alya melepas apron yang melekat di tubuhnya, kemudian menggantungnya di dekat rak piring. Lalu dia jalan keluar dari dapur dan naik tangga, berniat ingin memanggil suaminya untuk segera turun.


Tok.. Tok.. Tok..


Kedua jari Alya mengetuk pintu kamar Kevin yang kini tertutup rapat.


“Kevin, makan malam sudah siap. Ayo turun.” Seru Alya.


Sama halnya seperti tadi, tak ada sahutan dari suaminya.


Tok tok tok..


Gadis itu kembali mengetuk pintu dan kali ini terdengar sangat keras sambil terus memanggil suaminya untuk keluar, namun kamar itu tak ada tanda-tandanya kebuka.


Lalu tangannya turun ke bawah, menekan knop. Pintunya terkunci!


“Kevin, kamu baik-baik saja kan didalam sana?” Kini suaranya terdengar cemas.


“Kevin! Buka gak pintunya, atau aku dobrak nih?” Ancam Alya.


“Kevin aku serius ya, aku akan dobrak pintu ini!”


“Kevin!”


Alya terus mengetuk-ngetuk pintu kamar suaminya sambil terus bersuara, hingga beberapa saat kemudian terdengar suara kunci dan pintu terbuka. Seketika itu pula Alya menghela nafas lega, saat melihat sosok suaminya yang memakai handuk kimono dan terlihat baru selesai mandi.


“Kamu itu berisik banget sih?” Cetus Kevin.


“M-maaf Vin, habisnya dari tadi aku panggil gak nyahut. Takutnya kamu kenapa-kenapa di dalam.” Ucap Alya.


Kevin mendengkus. “Sekarang udah lihat sendiri kan, aku baik-baik saja!”


Alya mengangguk. “Tapi sebelumnya aku lihat kamarmu itu terbuka, tapi kenapa pas aku balik malah ditutup. Mana di kunci lagi! Dan juga aku dengar ada suara berisik dari dalam seperti barang jatuh, kamu beneran gak apa-apa kan?” Tanya Alya beruntun sambil tangan dan matanya mengecek seluruh wajah dan tubuh Kevin.


Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat istrinya cemas, Kevin malah merasa jengah. Pria itu beranggapan kalau sikap Alya ini hanya pura-pura saja, sama seperti wanita lainnya.


Dengan kasarnya pria itu menyingkirkan tangan Alya dari tubuhnya.


“Gak usah sok kasih perhatian berlebihan gitu, karena itu percuma! jangan kamu pikir aku tak tahu kalau kamu hanya pura-pura baik saja, padahal dalam hati kamu itu ada niatan busuk! Iyakan?”


“Kenapa kamu jadi nuduh aku begitu sih Vin?”


“Aku gak nuduh, aku hanya bicara fakta. Emang kenyataannya begitu kan?”


Mendengar itu Alya bisu sejenak, wajahnya pun kian berubah. “Terserah apa katamu dan aku juga gak perduli kamu berpikir apa tentang aku, tapi yang jelas sekarang Aku gak lagi pura-pura, aku benar-benar cemas sama keadaan kamu.”


Alya menghela nafas seraya memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan. “kamu cepetan turun ke bawah, Makanannya udah siap.”


Setelah mengatakan itu Alya berbalik badan kemudian berlalu pergi kembali turun, dia harus pergi dari hadapan suaminya sebelum hatinya semakin sakit atas tuduhan tak berdasar itu. Jadi lebih baik dia akan menunggu Kevin di meja makan saja.


Sementara itu Kevin masih mematung di tempatnya, raut wajah tetap sama sambil menatap kepergian Alya. Dan saat bayangan istrinya menghilang Kevin menghela nafas dalam-dalam kemudian berbalik badan lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar, sehingga menimbulkan bunyi nyaring.


Setelah menunggu selama hampir 5 menit akhirnya Kevin turun dengan memakai piyama, dia jalan mendekat ke meja makan dan duduk di depan Alya.


Mereka pun menikmati makan malam dengan keheningan dan tentunya dengan pikiran dan suasana hati yang tak baik, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling beradu.


Sebenarnya Alya ingin sekali melakukan kewajiban sebagai istri yaitu mengambilkan makanan untuk suaminya, namun dia urung karena gadis itu sadar Kevin tak akan menyukainya. Apalagi begitu mengingat kejadian tadi, membuat gadis itu semakin canggung.

__ADS_1


Dan.. dia juga sadar pernikahan ini hanya sebagai status publik, kenyataannya hubungan mereka tak lebih dari dua orang yang belum saling kenal.


...💐💐💐...


Selesai makan malam dan beberes di dapur, Alya keluar sambil membawa nampan berisi cangkir teh dan beberapa potong kue yang dia temukan di kulkas. Kemudian dia membawanya ke ruang kerja suaminya, karena sebelumnya pria itu memintanya.


Alya masuk ke ruangan itu setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mendengar suara sahutan dari dalam. Di dalam sana suaminya sedang duduk di kursi singgasananya, pandangannya lurus ke layar laptop yang menyala.


“Ini Vin, tehnya. Aku juga bawa potongan kue, siapa tahu kamu pengen ngemil.” Ucap alya saat sudah berdiri di samping meja kerja kevin.


“Hm.” Kevin membalasnya dengan deheman dan tanpa mengalihkan pandangannya.


Alya segera balik badan dan ingin melangkah pergi, namun tertahan karena suaminya mencekal lengannya.


“Ada apa?” Tanyanya.


“Kamu gak lupa soal besok kan?” Ucap Kevin balik nanya seraya berdiri.


Alya menggeleng. “Enggak.”


“Bagus. Kamu harus persiapkan dirimu besok, baik itu secara penampilan maupun sikap. Kamu ngerti kan maksudku?” Sorot mata pria itu begitu intens menghunus ke netra istrinya.


“Iya, kamu tenang saja. Meskipun aku ini anak orang miskin tapi aku tahu caranya berpenampilan menarik!”


Kening Kevin nampak berkerut saat mendengar kata-kata terakhir yang Alya ucapkan, namun sedetik kemudian wajahnya kembali normal.


“Tapi apakah disana akan kamu mengadakan pesta?” Tanya Alya seraya mendongak menatap suaminya.


“Enggak, hanya penyambutan biasa aja sekalian mengenalkanmu.”


Alya yang mendengar itu manggut-manggut saja.


Lalu Kevin membalikkan setengah badannya, tangannya terulur membuka laci lalu mengambil dua benda di dalam sana. tanpa berkata apapun lagi dia memakaikan dua benda yang tak lain adalah gelas perak berbentuk rantai dan jam tangan di lengan istrinya.


“Pakai ini terus dan jangan sampai lepas!” Ucapnya tegas saat dua benda itu sudah terpasang di kedua tangannya.


“Gelang ini adalah warisan keluarga mama Tamara, setiap menantu di keluarga Zein akan dikasih gelang seperti ini sebagai tanda kalau dia adalah bagian dari keluarga.” Ucap Kevin lagi sambil menjelaskan.


“Lalu jam tangan ini?”


“Kalau ini murni dari aku sendiri, ini jam bukan sembarang jam biasa. Di dalam sini ada alat pendeteksi dan sudah tersambung dengan jam tangan yang biasa aku pakai, jadi dimana pun kamu berada aku akan tahu.”


“Kalau kamu lagi dalam bahaya atau butuh pertolongan cepat, kamu tekan saja tombol ini.” Ucap Kevin seraya menunjukkan satu tombol yang dia maksud.


“Maka akan bunyi seperti alarm di jam tangan yang aku pakai, sekarang kamu paham?”


Alya mengangguk mengiyakan.


“Jadi aku gak boleh melepasnya Termasuk saat aku mau mandi?” Tanyanya.


“Pengecualian.” Jawab Kevin, lalu dia kembali duduk di kursinya.


Sementara Alya nampak menatap kedua lengannya yang sudah tak polos lagi dengan mata berbinar, kini jari kiri manisnya sudah ada cincin dan sekarang ditambah gelang perak dan jam tangan.


Tanpa gadis itu sadari jika Kevin sedang menatapnya. “Kenapa kamu lihatinnya begitu banget, gak suka sama barang yang aku kasih?”


Mendengar itu Alya kembali menatap Kevin, kemudian menggeleng. “Enggak, bukan gitu. Aku suka banget kok! Sesuai dengan seleraku. Makasih.”


“Hm.. sudah sana, keluar.” Usir Kevin seraya mengibas-ngibaskan tangannya.


Alya menurut, dia pun berlalu keluar dari ruang kerja Kevin dengan langkah riang.


...💐💐💐...


Keesokan paginya Alya sudah bangun pada jam 6 pagi, dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesuai dengan perintah Kevin semalam, Alya hanya melepas jam tangannya saja.


Selesai mandi, dia pun keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah lemari untuk mencari baju yang pantas. Seusai itu dia jalan ke meja rias dan mulai berdandan.


Sementara di ruang tengah, Kenzo sudah standby disana bersama seorang pria bule, berbadan kekar dan tinggi, memakai pakaian serba hitam ala bodyguard.


Mereka menunggu persiapan Kevin dan alya dengan ditemani dua gelas kopi dan satu toples kue kering.


Setelah menunggu beberapa menit, nampak sosok Kevin sudah turun dengan pakaian formalnya. Di susul dengan Alya juga yang ikut turun dengan langkah tergesa-gesa di belakang Kevin, bahkan karena aksinya itu membuatnya tak sengaja menabrak punggung kevin.


“maaf..” ucap Alya saat suaminya itu sudah menatapnya tajam.


Kevin tak bersuara, namun sebelah tangannya menepuk sekali puncak kepala Alya sebagai hukuman. Setelahnya ia kembali menatap ke depan dan kembali melangkah.


“Kalian sudah datang ternyata.” Ucap Kevin saat sudah ada di ruang tengah.


Mendengar itu Kenzo dan pria bule yang tak lain adalah Sean itu langsung berdiri, mereka memberi ucapan selamat pagi pada pasutri itu dengan menunduk hormat.


Dan seperti biasa Kevin akan membalasnya dengan deheman, sedangkan Alya membalas dengan ucapan yang sama sambil tersenyum manis.


“Sean, kenalkan. Dia adalah istriku, namanya Alya.” Ucap Kevin memperkenalkan Alya pada Sean.


Sean kembali menunduk hormat, namun kali fokusnya ke Alya.


“Kamu sudah tahu kan tugasmu apa?” Tanya Kevin dengan nada datar.


“Iya tuan, semalam Kenzo sudah menjelaskan semuanya.” Jawab Sean.


“Baguslah. Sebaiknya kita berangkat sekarang.” Ucap Kevin seraya meraih tangan Alya lalu menggenggamnya.


“Kita gak sarapan dulu Vin?” Tanya Alya.


“Nanti aja di kantor.” Jawab Kevin.


Mendengar itu pun alya hanya mengangguk tanpa bersuara, detik berikutnya mereka mulai meninggalkan apartemen.

__ADS_1


__ADS_2