
Kreek!
Tak lama setelahnya terdengar suara pintu terbuka, spontan perhatian Dylan dan Kevin beralih ke asal suara.
Kevin terlihat terkejut begitu menyadari siapa yang datang, matanya terbelalak lebar.
Begitu pun dengan Dylan, mulutnya sampai sedikit menganga melihat kedatangan Mayra yang tiba-tiba.
Mayra?
Ya. Seseorang yang datang itu memanglah Mayra, wanita itu masuk ke dalam kamar inap Kevin sambil mentengteng keranjang buah.
“hai, kevin.” sapanya sambil tersenyum cerah.
Namun sayangnya orang disapanya tak memberi respon apapun, malah terkesan tak menyukai keberadaannya.
“Jangan bilang Lo kasih tau dia juga?” tebak Kevin, seraya mendelik tajam ke arah dylan.
Mendengar itu Dylan menggeleng cepat, seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
“sumpah demi tuhan Vin, gue gak ada kontak dia!” elaknya.
“terus darimana dia tahu soal keberadaan gue disini?!”
“ya mana gue tau.”
Dengan gaya anggunnya Mayra jalan mendekati brankar Kevin, ia meletakkan keranjang buah tersebut di meja nakas, lalu menoleh ke Kevin.
“gimana keadaanmu sekarang, sudah baikan?”
Tangan Mayra ingin menyentuh lengan Kevin, namun dengan kasar si empu menepisnya.
“pergi dari pandangan gue sekarang juga, atau gue akan lapor polisi dengan tuduhan penculikan berencana!”
“vin, aku--”
“jangan Lo pikir gue gak tahu apapun, Lo dan si tua Bangka itu bersengkongkol untuk memisahkan gue sama Alya. Bahkan sampai menjerat Kenzo!” potong Kevin cepat, dan hal itu membuat Mayra dan Dylan diam membeku.
DEG!
bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh Mayra kian terpaku dengan degupan jantung yang menggila. Tak lupa juga dengan ekspresi wajahnya yang terkejut, ia tak menyangka jika Kevin mengetahui soal itu.
Dalam pikiran wanita itu darimana mantan tunangannya yang masih sangat dia cintai itu tahu, apakah ada pihak darinya yang memberi tahu Kevin? Tapi rasanya mustahil, karena semuanya memiliki tujuan pribadi masing-masing terhadap Alya maupun Kevin.
Untuk sejenak Mayra lupa tentang siapa Kevin dan betapa kuasanya pria itu, ditambah dengan background keluarganya. Hanya untuk sekedar mencari info tentang hal itu, tentu saja sangat mudah untuk Kevin dapati.
keterkejutan yang Mayra rasakan di rasakan pula oleh Dylan. Dalam sekejap mata Pria tampan yang memiliki postur tubuh tinggi, berkulit putih bersih dan bermata sedikit sipit itu menatap Mayra begitu tajam, rahang tegasnya berubah kaku seraya mengepalkan kedua tangannya.
Dylan tak perlu bertanya lagi kenapa adiknya bisa beramsumsi begitu, karena ia sangat tahu bagaimana Kevin. jika Kevin sudah berkata begitu, maka itulah kenyataannya. Ditambah ia juga tahu antar hubungan ayahnya dengan Mayra sejak dulu, dan perasaan wanita itu sendiri terhadap Kevin.
Pria itu pun maju selangkah dan dengan kasarnya menarik lengan Mayra, lalu mencengkram lehernya. Tak perduli tentang dia seorang wanita, yang jelas saat ini ia sedang dilanda emosi.
“beraninya ya Lo ganggu adik ipar gue, udah bosan hidup Lo hah!” sentaknya, seraya melotot.
Mayra gelagapan, wajahnya kian merona kala pasokan udaranya mulai menipis. Kedua tangannya pun memukul lengan Dylan, dan meronta minta di lepaskan.
Namun sayangnya Dylan tak ingin mendengar itu, malah dia mempererat cekikannya pada Mayra. Rasanya sudah cukup lama ia berdiam diri, mengacuhkan fakta tentang wanita yang ada di depannya adalah salah satu faktor pesakitan yang mendera ibunya.
Selama ini Dylan memilih bungkam dan seolah menjauh dari keluarga, bukan semata-mata karena tak ingin melihat kebencian di mata ayahnya. Melainkan ia sedang menjaga perasaan kakek dan ibunya, jika mengetahui kelakuan bejat ayahnya. Ia takut salah bicara.
Sama seperti Kevin, Dylan sebenarnya memiliki sisi trempamen yang tinggi. Hanya bedanya Dylan masih bisa mengontrolnya, dan akan terlihat baik-baik saja. Sedangkan Kevin tidak.
Meski secara fisik badan Kevin lebih besar dari Dylan yang memiliki badan kurus, namun Kevin memiliki kelainan pada pernafasan. Ditambah ia juga memiliki riwayat anxiety, Sehingga membuatnya tak mampu menahan diri. Jika di paksakan menahan, itu akan berakibat fatal pada tubuhnya. Contohnya dengan kejadian yang menimpanya kini.
Sedangkan Kevin sendiri nampak terkejut melihat kejadian itu, namun setelahnya ia terlihat biasa. Membiarkan kakak keduanya itu berbuat hal demikian, logikanya menginginkan Mayra musnah setelahnya.
Sayangnya kejadian itu tak berlangsung lama, setelah pintu ruang inapnya terbuka dan memperlihatkan teman-teman Kevin yang sudah kembali. Orang yang pertama masuk adalah Jeremi, pria berparas bule itu seketika menegang di tempat kala melihat Dylan tengah mencekik mayra dengan satu tangan.
“astaga! Dylan, Lo apa-apaan!” pekiknya, lalu jalan cepat mendekatinya.
“lepas lan, nanti dia bisa mati!” serunya, seraya melepas paksa lengan Dylan dari leher mayra.
Begitu terlepas, tubuhnya Mayra terhuyung ke belakang. Wanita itu terbatuk-batuk, sambil kedua tangannya menyentuh lehernya.
“Lo udah gila ya, kalau dia mati bagaimana!” pekik Jeremi seraya menahan pergerakan Dylan, begitu sadar pria itu ingin kembali menerjang Mayra.
“itu jauh lebih bagus! Biar Alya dan kevin gak ada yang ganggu lagi.” balas dylan dengan dingin, tatapannya tak lepas dari wajah Mayra.
Mendengar itu Jeremi mengernyit tak paham, ia menatap Dylan dan kevin dengan sorot kebingungan.
“apa maksudnya?” tanyanya.
Senyap melanda, membuat suasana ruangan itu mencekam. Terlebih menyadari aura gelap dari kedua wajah pria yang memiliki ikatan darah, sebelum akhirnya terdengar suara mingyu.
“seharusnya tanpa di jelaskan pun, Lo udah tahu apa makna dari ucapan Dylan. Apa Lo udah lupa jika Mayra adalah mantan tunangannya Kevin?”
Jeremi menoleh ke belakang, menatap sahabatnya itu. “gue tahu soal itu, tapi apa hubungannya sama kejadian yang menimpa Alya dan Kevin saat ini?”
Mendengar kata terakhir Jeremi membuat mingyu berdecak, seraya berkacak pinggang. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat satunya itu.
“gue heran, kenapa mecahin masalah orang lain jago, tapi giliran masalah teman sendiri malah bingung. jelaslah ada hubungannya bego! Karena Mayra belum bisa move on dari Kevin, secara kita semua tahu sebucin apa dulu dia sama Kevin! Dan juga, Dylan gak mungkin sampai menyakitinya kalau tanpa sebab! Apalagi dia sampai berkata seperti itu.”
Seketika itu pula Jeremi membisu, otaknya mengiyakan ucapan mingyu. Begitu pun dengan yang lainnya, mereka jelas tahu seberapa kerasnya Mayra saat semasa sekolah dulu mengejar Kevin, namun yang di kejarnya bagaikan buta dan tuli.
__ADS_1
Tak heran, karena sifat Kevin memang sudah begitu. Cuek. Apalagi sejak ia mengetahui fakta tentang Dylan dan Marissa, dan masalahnya dulu dengan alya. Membuat sifat cueknya semakin menjadi-jadi.
Keadaan kembali senyap, kini semua pandangan mengarah ke Mayra dengan tatapan tajam. Terutama Tina yang sejak ia melihat Mayra ingin mencelakai Alya waktu di restoran milik keluarganya, sejak itu pula ia membencinya. Remaja cantik nan imut itu menatap sinis wajah Mayra yang merona, seraya dalam batinnya menggerutu kesal.
Berbeda halnya dengan Rangga yang sedari tadi fokus memindai penampilan Mayra, kedua mata sipitnya mengarah ke perutnya yang agak membuncit.
‘dia sedang hamil?’ batinnya bertanya-tanya, dan menebak siapa kiranya ayah biologis dari janinnya tersebut.
Lalu tiba-tiba Rangga mengernyit dan memejamkan kedua matanya, setelahnya muncul kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Tak lama kemudian ia kembali membukanya, wajahnya kini berubah pias dan dadanya kembang kempis.
Rangga jalan cepat mendekati Mayra dan menyentuh lembut lengannya, membuat Tina dan si empu tangan mengerjap kaget.
“Lo gak apa-apa?” tanyanya, suaranya terdengar sangat lembut di gendang telinga mayra.
Dengan kaku Mayra menggeleng.
“abang!” pekik Tina menggema, lalu jalan cepat menghampiri sang kakak. menarik Tangannya dan menjauhkan tubuh Rangga dari Mayra.
“jangan pernah menyentuh wanita jahat itu, apalagi kasih perhatian kayak tadi. Aku gak suka!”
“tapi dek, Abang tadi--”
“apapun alasannya aku tetap gak suka!” potong Tina cepat dan setengah menjerit.
Rangga menghela nafas, seraya mengusap sayang puncak kepala Tina. Lalu ia beralih kembali menatap Mayra.
“seharusnya Lo gak usah datang kesini, kalau terjadi apa-apa sama kandungan Lo gimana?”
DEG!
seketika itu tubuh Mayra terpaku di tempat, wajahnya menegang dengan kelopak matanya sedikit melebar. Spontan dia menunduk, menatap ke arah perutnya yang memang sedikit menyembul. Akibat dari pakaiannya yang memakai dres yang pas di badan, membuat perutnya menonjol.
keterkejutan yang Mayra rasakan menular ke seluruh orang yang ada disana, termasuk Kevin sendiri. Pria itu melirik ke perut Mayra, dan menelan ludah.
“hamil?” lirih Tina, seraya menatap tak percaya pada Mayra.
Matanya kian melebar saat menatap perut Mayra, dan apa yang kakaknya katakan memang benar. Meski ukurannya masih di perkirakan kecil, namun karena wanita itu memakai pakaian ketat sehingga mencetak jelas perutnya.
Sama halnya seperti Rangga tadi, Tina dan yang lainnya tengah menebak siapa ayah dari janin tersebut. Pasalnya yang mereka tahu Mayra belum menikah, dan tak ada kabar apapun jika wanita tersebut dekat dengan laki-laki selepas gagalnya pernikahannya dengan Kevin.
“ada tujuan apa Lo datang kesini? Lo sadar kan, dengan kedatangan Lo kesini, itu sama saja Lo menyerahkan diri?” tanya Rangga, suaranya berubah tegas.
Mayra bungkam.
“dan Lo juga gak lupa ingatan kan tentang siapa Kevin, mantan tunangan Lo itu bukanlah laki-laki biasa. Kalian sudah kenal lama dan pernah menjalin hubungan, meski terpaksa. Seharusnya selama itu sudah cukup bagi Lo untuk mengenali bagaimana wataknya, tapi dengan percaya dirinya Lo datang kesini setelah berbuat ulah.”
Raut wajah Mayra kian pias begitu sadar dengan kebodohannya, dia benar-benar lupa tentang fakta itu. Akibat dilanda kepanikan setelah mendapat info dari Roni tentang keadaan Kevin, membuat wanita itu lupa diri apa yang telah terjadi.
Rangga benar, dengan kedatangannya ke rumah sakit tersebut, sama saja dia bunuh diri. Namun ia juga tak mampu mengontrol perasaannya yang memang sangat mengkhawatirkan keadaan Kevin, hingga akhirnya ada keinginan untuk menjenguknya.
“apa aku salah, menjenguk ayah dari anakku sendiri?”
DEG!
ucapan Mayra barusan cukup mengguncangkan seluruh hati orang yang ada disana, terutama Kevin yang langsung melotot. Pria itu sangat terkejut dengan penuturan Mayra, meski sebelumnya ia sudah mendengarnya saat di kantor.
“ayah dari anak Lo? Maksudnya siapa?” tanya Dylan.
“Kevin.”
“APA!” pekik Dylan dan teman-temannya secara bersamaan.
Kecuali Rangga. Pria itu hanya diam saja, seraya kembali menghela nafas.
Syuutt!
Dylan langsung menolehkan kepalanya ke arah Kevin, menatap sang adik dengan tatapan tajam.
“benar apa yang dikatakannya, bayi yang sedang dia kandung adalah anak Lo!” tanyanya penuh penekanan, seraya jari telunjuknya mengarah ke mayra.
Kevin tak langsung merespon, ekspresi wajahnya tak terbaca.
“JAWAB GUE KEVIN DIRGANTARA!!!” bentak Dylan dengan lantang.
Emosinya kini benar-benar tak terkontrol, dan jika tak mengingat kondisi adiknya saat ini mungkin saja dia akan melayangkan pukulan ke wajahnya.
Membayangkan Kevin bersetubuh dengan wanita lain selain Alya membuat hatinya sakit, ia tak ingin adik bungsunya memiliki kebiasaan Sepertinya dan sang ayah. Yaitu bermain perempuan.
“apa Lo percaya gue sampai berbuat begitu? Apalagi sama cewek macam dia?” ucap Kevin balik nanya.
Dylan menyentak nafas kasar. “tak ada yang mustahil dalam dunia ini.” desisnya.
Kevin mendengkus. “bukan. Itu bukan perbuatan gue.”
“kamu jangan terus mengelak Vin, akui saja kalau bayi ini adalah anakmu.” sela Mayra.
“apa yang harus di akui? Udah jelas janin itu bukan milik gue!” tegas Kevin.
“janin ini adalah milikmu Vin, dia darah dagingmu! kita pernah melakukannya, apa kamu lupa dengan malam itu di hotel?”
Kevin bisu sejenak, ia menatap Mayra dengan sangat tajam dan rahangnya mengeras. Seakan dia sedang menahan amarahnya yang ingin sekali dia ledakan di detik itu juga.
“dan itu karena perbuatan Lo sama si tua Bangka itu! Kalian sengaja menjebak gue dengan cara mencekoki minuman beralkohol sampai mabuk, lalu membuat drama seolah-olah kita sudah tidur bersama! Iya kan?”
__ADS_1
Mendengar itu membuat Mayra membeku sejenak, ekspresi wajahnya kembali kaget. Namun detik berikutnya Mayra menggeleng, dan siap membuka suara.
Namun Kevin langsung memotongnya, dan hal itu membuat Mayra dan seluruh orang yang ada disana terpaku di tempat.
“tak hanya itu, Lo juga menyuruh Kenzo untuk membawa gue ke hotel. Sayangnya kalian semua gak tahu, kalau hotel yang kalian pilih itu adalah hotel salah satu milik rangga. Dan Lo juga gak tahu kan, kalau setiap lorong di hotel tersebut memiliki kamera cctv! dan soal siapa ayah dari bayi Lo, jelas saja itu adalah si tua Bangka itu! Apa Lo pikir selama ini gue gak tahu, kalau kalian masih sering berhubungan? Bahkan saat kita masih bertunangan!”
Mayra sepenuhnya bungkam begitu mendengar rentetan ucapan kevin, bibirnya seakan sudah di lumuri lem sehingga tak mampu terbuka. Ekspresi wajahnya pun berubah pias, karena memang apa yang di katakan Kevin benar adanya.
Dirinya dan aji memang bekerjasama untuk memisahkan Alya dari Kevin, yaitu berpura-pura sudah tidur bersama dan sedang mengandung benihnya. Padahal kenyataannya ayah biologisnya bukanlah Kevin, bahkan Mayra sendiri pun tidak tahu pasti siapa ayahnya.
Kenapa begitu?
Sudah jelas, karena Mayra bukan hanya bercinta dengan aji saja. Tapi laki-laki lain juga, termasuk Sanha dan roni.
Namun karena cintanya terhadap Kevin begitu besar, sehingga membuatnya ingin menjerat pria itu agar menjadi ayah dari anaknya. Dan itu juga bukan sepenuhnya karena cinta, melainkan akibat tuntutan aji yang menginginkan Kevin dan Alya bisa berpisah.
Dalam pikiran mereka berdua, hanya inilah cara satu-satunya agar rencana mereka bisa terlaksana. Mayra bisa hidup bahagia dengan Kevin, dan aji berhasil mendapatkan seluruh harta milik mendiang istrinya.
Namun rencana yang telah mereka susun sedemikian rupa, tak mampu membuat Kevin melepas Alya. Bahkan mereka menilai hubungan keduanya semakin lengket dan mesra, begitu mendapat laporan dari mata-mata yang mereka sewa untuk membuntutinya.
Belum lagi dengan laporan dari Kenzo, membuat Mayra meradang.
“kenapa diam? Gak bisa mengelak lagi kan Lo? Semua yang gue ucapkan benarkan?” cerca Kevin seraya tersenyum sinis.
“v-vin, a-ak--”
“jangan pernah bermimpi dengan tindakan Lo yang menjebak gue dengan drama murahan ini berhasil memisahkan gue dari Alya, sampai kapan pun itu tak akan pernah berhasil! Sekalipun nanti dia yang meminta pisah, gue gak akan biarkan itu terjadi! Gue gak segan-segan bakal memukul seluruh tubuhnya hingga remuk, jika dia nekad minta pisah. dan satu lagi gue tegaskan, gue gak pernah menyentuh Lo secuil pun. Dari awal kita bertunangan, hingga sekarang! Apalagi sampai membuat Lo hamil, cih! satu-satunya wanita yang pernah gue tiduri hanyalah Alya. Hanya dia! Dan Hanya dia juga yang bakal jadi ibu dari anak-anak gue. Camkan itu!”
Sementara itu di negara Asia yang terkenal dengan julukan negara gingseng dan tempatnya para idol, lebih tepatnya di sebuah caffe yang ada di bandara Busan. Rafael tengah membujuk Selena untuk berhenti menangis, seraya terus memberikan sentuhan lembut di kepala dan punggungnya serta ucapan menguatkan.
Pria dewasa yang memiliki paras tampan di atas rata-rata orang Asia itu sedikit paham dengan perasaan istrinya, tentunya ia pun pernah merasakannya. Mendapat kabar buruk dari sang adik, sedangkan kondisinya sedang ditempat jauh.
Meski selama ini baik Dylan maupun Kevin belum pernah di culik, namun mengingat hubungan kedua adiknya merenggang saat beranjak remaja. Membuatnya selalu merasa cemas, namun tak bisa menemui. Karena masa itu dia baru saja dilantik menjadi CEO di zeous grup, dan sedang sibuk-sibuknya dengan urusan kantor.
Maka dari itu Rafael memasrahkan masalah kedua adiknya ke pengacara keluarganya, yang memang masih ada hubungan darah dari pihak Tamara. lewat orang itu pula Rafael meminta bantuan untuk mengawasi pergaulan kedua adiknya, terutama Kevin yang masa itu sedang bandel-bandelnya.
Wajar saja. Masa itu usia Kevin masih 15 tahun, masa yang pas untuk mencari jati diri. Kendati begitu, urusan sekolahnya tak ada hambatan. Bahkan, semua nilai pelajarannya sangat bagus. Pun, dengan para sahabatnya. Seakan sudah tahu dengan keadaan keluarganya, Mereka terus mendampingi Kevin dan mengajaknya ke hal-hal positif.
Sebagai seorang kakak, Rafael tentu merasa senang karena melihat adik bungsunya yang memiliki karakter cuek dan dingin itu punya banyak teman. Apalagi Rafael jelas tahu, siapa saja latar keluarga mereka.
Begitu pun dengan Dylan, adik keduanya pun cukup baik menjalani masa remajanya. Meski, beberapa kali Rafael mendapat info tak mengenakan soal kisah asmaranya.
Ya. Sejak usia belia Dylan sudah menunjukkan sisi buruknya soal wanita, suka gonta-ganti pasangan dalam kurang seminggu.
Sama halnya dengan Kevin, dibalik sifat buruknya itu tak ada sedikitpun kesalahan soal pendidikannya. Semua nilainya sangat bagus, dan itu cukup membuat Rafael sedikit lega.
Kedua adiknya memang tak akur dan sama-sama memiliki watak yang buruk, namun soal pendidikan, Mereka sangat jenius. Mungkin itu dikarenakan gen yang di wariskan oleh Sang ayah, sehingga membawa kedua adiknya bisa sukses sekarang.
“mas.”
Rafael tersentak kaget begitu mendengar suara Selena, ia pun langsung menunduk dan menatap wajah sembab istrinya. Jejak air mata itu tercetak jelas di kedua pipi tembemnya, membuat Rafael tak kuasa menahan tangannya untuk tidak menghapusnya.
Usai Rafael menelpon Dylan dan menanyakan keadaan kevin beberapa menit yang lalu Selena memang sudah tak menangis lagi, hanya saja masih sesenggukan. Ia menyadari perasaan yang dirasa, tak sebanding dengan apa yang Kevin rasakan.
Tanpa perlu di jelaskan secara gamblang, cukup melihat keadaan Kevin yang tengah berada dirumah sakit cukup membuat Selena paham. Betapa pria muda yang tak lain adalah adik iparnya itu sangat mencintai adiknya, melebihi dirinya sendiri.
Selena sangat mengsyukuri itu, adik kecilnya sudah memiliki seseorang yang bisa menjaganya.
“ya, kenapa?” tanyanya kemudian.
Selena tak langsung menjawab, perlahan ia beringsut dari dekapan sang suami.
“berapa lama lagi jadwal penerbangannya mas, aku ingin cepat sampai di jakarta.”
“setengah jam lagi.” balas Rafael, seraya merapikan rambut Selena yang berantakan.
Mendengar itu Selena menghela nafas panjang. “lama banget.” keluhnya.
Kemudian tangannya meraih botol minum yang ada di depannya, membukanya dan menenggaknya. Kelamaan menangis membuat tenggorokannya kering, serta ia pun merasa mengantuk.
Namun Selena berusaha menahannya, ia tak mau membuat suaminya kerepotan.
Sedangkan di depan mereka ada kakek Fandy tengah menatap pasutri itu, lebih tepatnya ia sedang menilai sikap Rafael pada Selena. Lalu ia bandingkan dengan sikap aji ke Tamara saat awal pernikahan dulu, dan itu sangat jauh berbeda.
Kakek Fandy masih ingat betul, saat awal-awal pernikahan sikap aji ke Tamara sangatlah kaku. Mungkin di karenakan mereka bisa menikah karena di jodohkan, sementara Rafael bisa menikah atas dasar cinta.
Tanpa kakek Fandy ketahui jika Rafael nekad menikahi Selena bukan karena cinta, melainkan demi menyelamatkan adiknya dari kekejaman aji.
Yah, awalnya memang begitu. Tujuan Rafael memilih menikahi Selena dan mengakui bayi yang di kandungnya adalah anaknya, juga di antara mereka ada perjanjian tertulis.
Begitu pun dengan Selena, ia bersedia menyetujui rencana Rafael demi karir dan nama baiknya bisa terselamatkan hingga mengorbankan masa depan adiknya. Namun seiring berjalannya waktu, mengubah segalanya.
Selena yang dulu begitu terobsesi dengan pekerjaannya sebagai publik figur, perlahan mulai menanggalkan itu semua. Ia memilih menjadi wanita biasa, dan ikut tinggal bersama keluarga suaminya.
‘apa ini sebuah hukum karma untukku?’ batin kakek Fandy bertanya.
Kakek Fandy masih ingat awal kenapa aji bisa menikah dengan Tamara, itu dikarenakan mereka di jodohkan dengan alasan agar dua perusahaan besar bisa terus berjaya.
Pernikahan bisnis!
Yah, itu memang benar. Alasan utama dirinya dulu memaksakan aji untuk setuju adalah demi perusahaan, yang secara kebetulan antara kakek Fandy dan ayah Tamara bersahabat baik.
Padahal masa itu kakek Fandy tahu jika anaknya sudah memiliki tambatan hati, namun karena terobsesinya dia terhadap surga dunia membuatnya melalaikan perasaan aji.
__ADS_1
Dan kini? Aji melakukan hal yang sama pada Kevin, ia memaksakan kehendaknya untuk kelangsungan perusahaan dengan cara menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnisnya.