TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 04~Terkenang Masa Lalu


__ADS_3

Sebuah mobil taksi warna biru berhenti tepat di depan rumah sederhana, tak lama setelahnya keluarlah Alya dan Selena dari pintu belakang.


Kedua wanita itu membuka bagasi dan mengambil koper-kopernya, di bantu oleh supir taksi.


Setelah mengucapkan terima kasih, Selena dan Alya segera jalan masuk ke halaman rumahnya yang kecil.


Begitu Tiba di teras, Alya nampak merogoh ranselnya untuk mencari kunci rumah. Namun aksinya itu terhenti kala mendengar suara pintu terbuka, di susul dengan teriakan yang menyebut namanya dan seketika membuatnya terkejut.


Ceklek!


“ALYA!!!...” teriak arina dan Jessica serempak.


Bukan hanya dia saja yang terkejut, tapi Selena juga tak kalah terkejut. Namun sedetik kemudian wanita itu tertawa kecil saat melihat dua sahabat adiknya berlari menghambur memeluk Alya, bahkan mereka membuat adiknya berputar-putar sambil jingkrak-jingkrak layaknya Teletubbies.


Awalnya Alya terkejut dan sempat bertanya-tanya kenapa kedua sahabatnya sudah ada dirumahnya dan dari mana mereka tahu tentang kepulangannya, tapi akhirnya dia paham setelah Selena memberi kode dengan mengangkat tangannya dan menggoyang-goyangkan ponselnya, dia pun membalas pelukan mereka.


Setelah puas, arina dan Jessica melepaskan pelukannya. Dengan hebohnya mereka membawa Alya dan Selena untuk masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa yang ada diruang tamu.


Rumah Alya hanya bergaya minimalis namun terlihat luas. Dirumah itu terdapat ada 3 kamar pribadi. 2 kamar di lantai bawah dan satu kamar di lantai. di lantai atas tepatnya sebelah kanan paling pojok kamar mendiang orang tuanya, ada ruangan kosong yang dulunya adalah tempat kerja ayah mereka, namun sekarang sudah dijadikan gudang.


sementara di lantai bawah ada dua kamar pribadi milik selena yang letaknya di sebelah kiri dekat tangga dan kamar Alya berada di sebelah kanan yang berarah ke Ruang tamu. ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di samping dapurnya terdapat ada taman yang cukup luas sudah di penuhi bunga-bunga dengan bermacam jenis dan warna.


di ruang tamu itu terdengar begitu berisik karena suara Arina dan Jessica yang sedang menginterogasi Alya dan gadis itu menjawabnya dengan sabar dan apa adanya, selama alya tinggal di Korea komunikasi mereka memang sedikit renggang. Jadi saat gadis itu sudah kembali, maka mereka akan menjadi wartawan dadakan yang terus-terusan melemparkan pertanyaan.


sementara itu Selena terlihat sedang menelusuri seluruh sudut rumahnya dengan penuh teliti, tak ada yang berubah dengan rumah itu, semuanya terlihat sama.


sudut bibirnya berkedut saat matanya tak sengaja melihat bingkai foto dirinya waktu remaja bersama kedua orang tuanya, di dalam foto itu ibunya yang kala itu sedang hamil besar terlihat duduk di sebuah kursi kayu sambil tersenyum bahagia, begitu pun dengan ayahnya yang berdiri di belakang juga ikutan tersenyum.


Seketika itu pula sekelebatan bayangan masa lalu kembali terbayang, ucapan ibunya yang memberi amanah padanya untuk menjaga adiknya.


Pada saat itu Selena mengira ibunya berkata seperti itu untuk menjaga pertumbuhan adiknya nanti setelah lahir, karena memang waktu itu ia sangat menginginkan adik agar ada temannya di saat orang tuanya pergi bekerja.


Namun sayangnya perkiraannya salah, ucapan ibunya adalah sebuah wasiat yang harus dia jalani hingga sekarang. Di tambah dengan ucapan papa-nya untuk jangan menceritakan apapun pada Alya tentang silsilah keluarga besar ayahnya.


Selena yang kala itu berusia 14 tahun belum terlalu paham dengan masalah orang dewasa, tapi dia tahu jika harus menjauhi orang tua dari ayahnya.


...💐💐💐...


“Gue seneng Akhirnya Lo mau pulang juga Al, Gue pikir itu cuma hoax doang.” ucap Arina, gadis imut berambut sebahu itu memeluk lengan Alya erat sambil menatapnya.


Mendengar itu Alya hanya tersenyum. Jujur, sebenarnya dia juga senang karena bisa kembali ke negara asalnya apalagi bisa berkumpul dengan kedua sahabatnya.


“Gue kan udah bilang kalau itu beneran, Lo nya aja yang gak percaya.” Jessica membalas ucapan Arina.


“Bukannya gue gak percaya tapi Lo kan suka bohong.”


“Kapan Gue bohong? Jangan Ngadi Ngadi Lo ya.”


“Tiap hari.”


“enak aja, gak ya!”


“iya!”


“Gak!”


Alya menghela nafas panjang mendengar perdebatan dua sahabatnya itu, dari dulu arina dan Jessica memang selalu tak pernah akur, selalu ada saja yang di debatkan namun terkadang kompak juga.


“Sudah.. sudah kalian jangan berantem, ini udah malam! malu sama tetangga.” ucap Alya melerai.


seketika Jessica dan arina terdiam, namun tidak dengan tatapan mata mereka.


“kalian mau nginep apa pulang?” tanya Alya.


“tentu saja nginep dong!” jawab mereka secara serempak.


Alya yang mendengar itu geleng-geleng kepala.


“ya udah Gue mau bersih-bersih dulu!”


“eh tunggu!” Jessica menahan tangan Alya. “Lo dan kak Lena pasti belum makan malam kan?”


“belum.”


“bagus! tadi sore gue udah suruh pelayan buat masak banyak makanan, nanti kita makan bareng ya!”


“oke, gue mau mandi dulu.”


setelah mengatakan itu Alya bangun dari posisinya dan berlalu begitu saja sambil menarik kopernya menuju kamarnya.


tak lama setelah kepergian Alya selena datang menghampiri mereka.


“alya kemana?” tanyanya.


“ke kamar, katanya mau bersih-bersih.” saut Arina.


“ya udah Kakak juga mau mau mandi.”


“gak mau makan dulu?” tanya Jessica.


“kalian duluan aja, nanti kakak menyusul.”


“gak deh, kita makan bareng aja kak.”


“takutnya lama loh, apalagi kalian tahu Alya suka merenung di kamar mandi.”


Mendengar kaya terakhir Selena membuat kedua gadis muda di depannya itu tertawa, mereka tentu tahu sejak dulu Alya kalau mandi suka lama. Karena gadis itu selalu berendam dulu, sebelum mandi.


“gak apa-apa kita bisa nunggu, iya kan Rin?”

__ADS_1


“iya kak, lebih baik kita makan bersama-sama aja sekalian melepas rindu.”


“ya udah terserah kalian saja, kakak tinggal ke kamar dulu.”


“oke.”


...💐💐💐...


Alya membuka pintu kamarnya, berjalan masuk lalu kembali menutup pintu. Ia berjalan ke arah ranjang dan duduk disana, matanya menelisik ke seluruh penjuru kamarnya yang masih terlihat sama seperti terakhir kali dia tinggalkan 2 tahun lalu.


Matanya melirik ke arah meja nakas, dan dia terkejut. Bagaimana tidak, ia terlihat disana terdapat ada sebuah bingkai foto wanita dan pria memakai seragam sekolah menengah sambil tersenyum bahagia. Seingatnya foto itu ia simpan di laci, kenapa sekarang ada di meja nakas?


‘siapa yang menaruhnya disini? apa Jessica? ah, tidak mungkin. dia kan gak tahu apa-apa soal ini, atau.. mungkin arina? tapi.. sekalipun iya kenapa dia melakukannya?’


Alya terus bertanya-tanya dalam batinnya, tentang siapa yang sengaja menaruh foto itu disana. Namun gadis itu tak terlalu memikirkannya, kemudian Diraihlah benda itu dan di usapnya pelan, seketika wajahnya menjadi suram.


“bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? aku sangat berharap kamu baik-baik saja.” Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Alya memejamkan matanya sejenak, saat bayangan kenangan masa lalunya muncul di ingatannya.


‘aku pikir kau berbeda, namun nyatanya kau adalah wanita terjahat yang pernah aku temui.’


Alya langsung membuka matanya begitu mengingat kata-kata yang terdengar pelan namun tersirat akan kekecewaan, di tambah dengan bayangan wajah dingin seorang pria yang menatapnya tajam.


“tak terasa 2 tahun telah berlalu sejak aku memutuskan pergi, tapi kenapa rasanya masih saja sama?” lirihnya lagi.


Tok.. Tok.. Tok..


“Al! Gue masuk ya.”


Mendengar itu dengan cepat Alya langsung menormalkan wajah dan penampilannya agar terlihat baik-baik saja, tak lupa juga dia menyembunyikan foto itu di bawah bantal. setelah selesai dia menoleh ke arah pintu yang sudah sedikit terbuka, terlihat Jessica memasuki kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan.


“Gue bawain makanan kesukaan Lo, di makan yah.” ucapnya sambil berjalan ke arahnya.


Alya menerimanya, dan menaruhnya di meja samping ranjang.


“harusnya Lo gak perlu bawa ke kamar segala, nanti juga gue turun kok.”


“gak apa-apa sekali-kali, lagipula gue tau Lo lagi capek kan habis perjalanan jauh.”


Alya mengangguk. “Thanks Jes, Lo memang peka walaupun jarang.”


Jessica terlihat cemberut, sementara Alya terkekeh.


“Oh iya Arina mana?” tanya Alya.


“Lagi Makan di bawah sama Bi Sumi.”


“Lo sendiri gak makan malah datang kesini, inget Lo itu punya riwayat maag akut.”


“iya habis ini gue makan.”


“Hem..”


Jessica diam sejenak, matanya menatap alya dengan intens.


“Al..” panggil Jessica


“hm?” sahutnya.


“Gue mau nanya sesuatu sama Lo.”


“Apa itu?”


“Emang bener ya Lo mau lanjut kuliah disini?”


Alya diam sejenak. “Lo pasti denger dari kak Lena ya?”


Gadis itu mengangguk antusias. “Iya.”


“Lo udah tahu, tapi kenapa nanya lagi?”


kedua mata Jessica seketika membola, walaupun dia sudah di beri tahu Selena namun tetap saja dia merasa tak percaya. “Serius?”


“Kalau gak serius, gak mungkin gue ada disini sekarang.”


“benar juga, Tapi Bukannya Lo bil--”


“Setiap orang bisa berubah kan?” potongnya yang penuh Dusta.


Alya bingung harus jawab apa karena dia sendiri juga tidak tahu apa alasan utama kakaknya menyuruhnya untuk kuliah disini, padahal di Korea juga dia kuliah.


Jessica kembali diam, sambil terus memperhatikan Alya.


“Tapi bukannya Lo pernah cerita kalau Lo betah kuliah di Seoul, bahkan disana gak ada membully Lo. Sementara di kampus yang sekarang sebagian besar teman SMA Lo juga kuliah disana, apa nantinya gak apa-apa?”


Masih teringat dengan jelas di ingatannya saat dirinya pertama kali melihat adegan perundungan yang biasanya dia hanya lihat di drama-drama yang sering dia tonton, kini dia bisa melihatnya dengan langsung.


Kampus yang Selena pilih adalah kampus favorit, hampir semuanya yang kuliah disana adalah anak orang kaya. Sama halnya dengan Arina, Alya juga dulu bisa masuk kesana karena mendapat beasiswa.


“Gak apa-apa Jes, gue udah biasa kok. Dan kenapa alasan gue pengen pindah, karena gue udah gak nyaman disana.”


“Kenapa? Bukannya enak ya kuliah disana, Lo bisa melihat oppa oppa Korea tiap hari? Pasti disana banyak yang ganteng dan tinggi tinggi! Kan kan.” Ucap Jessica sambil kedua alisnya naik turun.


Alya mendengus mendengar ucapan Jessica. “Dasar Lo ya, udah ah gue mau mandi dulu.”


Setelah itu Alya berlalu pergi menuju kamar mandi, menghiraukan sahabatnya yang masih ingin bicara.


Saat Jessica ingin pergi, tak sengaja matanya melihat sesuatu di bawah bantal. Dengan penasaran dia mengambilnya, namun aksinya terhenti begitu ponselnya berdering. Dia menatap layarnya, tertera ada nama id mama.

__ADS_1


Segera dia pun mengangkat teleponnya, sambil berlalu keluar kamar.


“iya ma, haloo..”


...💐💐💐...


Sementara itu di dalam kamar Selena sedang video call dengan seorang pria, dirinya masih memakai handuk dengan rambut panjangnya yang terlihat basah dibiarkan terurai.


[Sayang, malam ini kamu seksi sekali. Aku jadi pengen makan kamu..] ucap vulgar pria tersebut, dari layar tersebut terlihat sosok pria tampan yang tengah duduk di sebuah kursi dan di belakangnya terdapat ada rak berisi buku-buku besar dan tebal.


Selena tersenyum. “Benarkah? Lebih seksi mana? Aku atau wanita yang ada dirumahmu?”


[Tentu kamulah..]


“Bohong banget.” Ucap Selena merajuk.


[Serius sayang.]


“Sayang, Besok kita jadi kan ketemu, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”


[Emm.. kalau Besok gak bisa sayang, aku ada rapat pagi. Memangnya mau bicara apa sih?]


“Ini masalah sangat penting yang gak bisa dibicarakan lewat telpon, hanya sebentar saja kok.”


[Em.. ya udah besok kita ketemu jam 10 pagi di hotel hendricks ya. Kebetulan aku ngadain rapatnya disitu, jadi ketemunya disana aja gimana? Sekalian melepas rindu.]


Mendengar itu Selena terkekeh.


“Baiklah, aku akan kesana. Ya udah sayang aku matiin ya teleponnya, takut nanti Alya nyariin.”


[Oke sayang, see you.. i love you.]


“Love you to.”


Selena pun mengakhiri acara video call dengan pria itu yang tak lain adalah kekasihnya yang bernama, Chandra.


Chandra sendiri adalah seorang CEO dari Danendra Corp. Mereka berpacaran sudah sejak kuliah, namun hingga saat ini Chandra belum ada niatan untuk menikahinya. bukan karena tak mau, tapi ada beberapa hal yang membuatnya harus berpikir dua kali untuk melakukan itu.


Chandra bukanlah pria lajang, melainkan dia sudah punya istri dan anak. meskipun begitu chandra tidak bisa melepaskan Selena begitu saja, karena dia memang masih mencintainya. Selama ini mereka menjalin hubungan secara diam-diam, baik keluarga, teman maupun media tak ada yang tahu.


...💐💐💐...


Mobil yang ditumpangi Kevin dan Rafael mulai memasuki pekarangan rumah yang sangat luas dan megah, di depannya terdapat ada taman mini yang dipenuhi dengan bermacam-macam bunga dan taman hias lainnya. Di lengkapi dengan ayunan besi dan ada tempat istirahat untuk sekedar duduk-duduk saja, Tak jauh dari itu ada juga kolam mini dengan dihiasi pancuran air.


Kevin memberhentikan mobilnya saat sudah berada di depan teras rumah, tak lama setelah itu datang dua orang pengawal jalan cepat ke arah mobil kevin, lalu membuka masing-masing pintu.


Kevin langsung pergi begitu saja dan masuk ke dalam rumah, sementara pengawal tadi bergantian masuk ke mobil Kevin bertujuan untuk memasukkannya ke bagasi.


“kau bawakan koperku langsung ke kamarku aja ya.” titah Rafael pada salah satu pengawal.


“baik, tuan muda.” jawabnya seraya mengangguk.


Selepas itu ia bergegas jalan masuk dalam rumah, yang pintunya sudah terbuka satu. Saat sudah masuk, Rafael di sambut dengan beberapa pelayan yang berdiri berbaris sambil menunduk, Mereka seakan sedang menyambut kedatangannya dirumah tersebut, wajar saja karena sudah lama sekali Rafael tak pulang kesana. Mungkin lebih tepatnya sejak kematian ibu kandungnya, ia memutuskan untuk tinggal di Korea dan melanjutkan studinya di sana.


Rafael memberi kode lewat tangannya pada semua pelayan untuk bubar, dan mereka pun menurut.


Setelah itu ia jalan melangkah ke arah sofa yang ada diruang tamu dan duduk disana, sebelah kakinya bertumpu di kaki satunya sambil mata sipitnya liar memperhatikan semua isi rumahnya.


Sementara itu dari arah tangga ada sosok pria tinggi, berparas tampan dan berpakaian santai tengah jalan menuruni anak tangga. Ia melangkah menuju ruang tamu.


“Udah datang Lo bang.” ucapnya setelah sudah berada diruang tamu, ia mendudukkan dirinya di sofa seberang.


Rafael meliriknya dan mengangguk.


“hmm.. baru aja.” sahutnya. “oh ya, Apa benar Lo yang nyuruh Kevin buat jemput gue bandara?” tanyanya.


Saat di perjalanan pulang tadi Rafael memang sempat bertanya pada kevin, bagaimana bisa ia bisa tahu jika hari itu ia pulang padahal yang tahu kepulangannya hanya orang yang sedang duduk di depannya itu. Tak lain tak bukan adalah Dylan, adik keduanya.


Mendengar itu Dylan menggeleng, dengan bibir sedikit maju.


“enggak bang. Bahkan seharian ini tuh anak gak bisa dihubungi, padahal ada investor yang pengen ketemu dia.”


“tapi.. kata dia Lo yang nyuruh, karena pak madi lagi gak bisa masuk.” ucap Rafael dengan kening berkerut.


“emang sih pak madi gak masuk karena hari ini istrinya mau melahirkan tapi seriusan deh, gue enggak ada nyuruh dia.”


“terus tahu darimana dia?”


Dylan tak bersuara, pria itu hanya menggeleng.


“sekarang anaknya mana?”


“di kamar, katanya mau tidur. Dan pas gue lihat tadi juga wajahnya kayak emang lagi capek gitu.”


Senyap sejenak.


“udahlah lupakan aja, mungkin dia gak sengaja datang kesana buat ketemu orang lain terus liat Lo. Atau mungkin ada temannya yang lihat Lo, terus Kevin dikasih tahu deh.”


Mendengar itu Rafael manggut-manggut, cukup masuk akal juga tapi tetap saja ia merasa heran.


“jadi gimana, Lo tetap mau memaksanya?” tanya Dylan membuyarkan lamunan Rafael.


“tentu.”


“kalo dia tetap nolak gimana? Secara Lo kan tahu gimana dia, gue hanya khawatir penyakitnya bakal kambuh.”


Sebelum menjawab Rafael nampak menghela nafas berat, ia sebenarnya tak mau tapi keadaan yang memaksa.


“tak ada salahnya mencoba.”

__ADS_1


Kali ini Dylan yang menghela nafas berat, wajah tampannya terlihat lesu. Andai saja waktu bisa terulang, mungkin dia akan mencegah itu semua. Karena pada dasarnya titik permasalahan ini berawal darinya, terutama soal penyakit yang di derita Kevin.


__ADS_2