
Selesai bermain ponsel, Kevin terlihat kembali menyimpannya di saku jasnya, tak sengaja dia melihat Alya yang menatapnya begitu intens.
“kenapa kamu natap aku kayak gitu?” tanyanya dengan kening berkerut.
Mendengar itu membuat si empu mengerjap kaget, kedua bulu matanya yang lentik itu berkedip beberapa kali.
“hah? E-enggak ada apa-apa kok!” Elaknya dengan gugup, setelahnya dia nyengir kuda.
Kevin tak perduli, dia membuang pandangannya lurus ke depan. Namun tak lama setelahnya ia kembali menoleh dan menatap istrinya saat mendengar pertanyaannya.
“apa kamu sakit Vin?”
Kevin diam sejenak sambil menatap aneh ke arah istrinya, keningnya berkerut dalam.
“kenapa kamu nanya gitu?”
“aku hanya pengen tahu aja, takutnya kamu punya penyakit lainnya selain diabetes. Lagian ya Aku kan sekarang sudah menjadi istri kamu, sudah sepatutnya aku menjaga kesehatan kamu agar tetap optimal. mama dan kak Rafa cerita sama aku katanya pola makan dan jam istirahat kamu itu gak teratur. Jadi aku pengen ngubahnya, boleh kan?”
Sejenak Kevin membisu, namun pandangannya tetap lurus ke wajah Alya.
“kamu gak sesak apa ngomong panjang lebar tanpa napas gitu?” ucap kevin balik nanya.
“Hah! E-enggaklah, udah biasa juga!”
Kevin yang mendengar itu berdecih kemudian tersenyum tipis, dia akui dari dulu Alya memang sudah cerewet dan itu sudah menjadi ciri khasnya.
“hm.. terserah kamu aja, kamu kan sudah tahu hal apa aja yang gak dan aku sukai. dan perlu di catat, aku gak mengidap penyakit apapun selain diabetes!” ucap kevin tegas, seraya menuding wajah Alya.
Mendengar itu Alya tersenyum senang, perasaannya lega. Karena jujur sejak tadi pikirannya selalu negatif, takut suaminya memiliki penyakit berbahaya yang mengancam jiwanya.
“syukurlah Kalau begitu, aku jadi tenang.” balasnya, lalu memberanikan diri mengusap lembut lengan Kevin yang di baluti jasnya yang Alya perkirakan sangat mahal.
“Kamu harus baik-baik aja Vin, karena sekarang kamu sudah menjadi seorang pemimpin dari perusahaan besar. Banyak kepala keluarga yang bergantung nasibnya sama kamu.”
“ya!”
hanya kata itu yang keluar dari bibir Kevin, membuat Alya menghela nafas.
...💐💐💐...
Jarak antara rumah utama dan restoran milik Rangga tak terlalu jauh, sehingga tak sampai memakan waktu lama mereka sudah sampai.
Seperti restoran pada umumnya, jika pada jam makan siang suasananya pasti akan ramai. Sebenarnya Kevin tak suka, namun karena dirinya ada sesuatu yang harus di bicarakan dengan sahabatnya itu, Mau tak mau dia harus bertahan.
Dengan gesit, Sean keluar duluan dari mobil. Dia membuka pintu belakang untuk majikannya dan tak lama setelahnya Kevin dan Alya keluar bersama, hal itu membuat semua pasang mata orang-orang yang ada disana langsung menatapnya.
Bagai pasangan selebritis fenomenal, sepanjang langkah pasutri itu tak pernah lepas dari tatapan takjub dari mata pengunjung. Mereka terlihat begitu bersinar dan, sangat serasi.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, pasutri itu akan selalu bersikap mesra di tempat umum. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Kevin membawa Alya ke meja kosong barisan pertama dekat jendela dan mereka duduk bersebelahan. Kursi restoran itu berbentuk seperti sofa dan sandarannya cukup tinggi, sehingga terkesan privasi.
Tangan Kevin melambai ke arah waiters dan dengan sigap waiters tersebut jalan cepat ke arahnya, mereka pun mulai memesan.
Setelah dirasa cukup, waiters tersebut pun pamit.
“aku ke toilet dulu.” ucap Kevin dan Alya meresponnya dengan anggukkan.
Kini, Tersisa Alya sendirian disana, gadis itu menghela nafas pelan seraya menyenderkan bahunya ke sandaran kursi. Matanya liar memperhatikan sudut restoran itu, dalam pikirannya mulai muncul keinginan memiliki usaha kuliner juga.
Sebenarnya keinginan itu sudah dia impikan sejak masih sekolah, dia bercita-cita ingin memiliki usaha restoran sendiri. Namun hal itu tak pernah bisa dia lakukan, selain karena tak punya modal, dia juga sudah berjanji pada pamannya akan bekerja di kantornya ketika wisuda nanti.
“andai saja aku bisa mengubah takdir.” Lirihnya dengan memasang wajah sendu.
TING!
Di tengah-tengah lamunannya, Alya terkejut saat mendengar nada notifikasi pesan masuk dari ponsel Kevin yang tergeletak di meja. Suaminya itu memang sengaja tak membawa ponselnya, dan meletakkan benda pipih itu di meja.
Alya mendesah pelan saat menyadari ponsel Kevin tak terkunci, dan chat roomnya masih terbuka.
“dia tetap saja sama seperti dulu, selalu ceroboh! Untung ponselnya tertinggal pas lagi sama aku, coba kalau lagi sama orang lain? Bisa-bisa privasinya ke bongkar.” gumamnya.
Alya melongokan kepalanya ke arah layar ponsel suaminya, di sana dia melihat ada begitu banyak barisan pesan dari berbagai kontak dan grup. Lalu Alya melihat ke bagian notifikasi, disana ada gambar ikon panggilan tak terjawab. Karena penasaran dia pun menggesernya, ternyata itu dari Mayra dan Mingyu.
Drrtt..
Alya seketika memundurkan wajahnya dan tangannya menggantung di udara saat ada panggilan dari kontak mingyu, gadis itu menoleh ke belakang siapa tahu Kevin sudah datang. Namun tak ada sosok suaminya disana, Kevin masih berada di toilet.
Alya tak beraksi, dia hanya diam sambil memandang benda pipih itu yang terus bergetar tanpa ada niatan untuk mengangkat. Hingga panggilan itu berhenti sendiri, dengan cepat dia menekan tombol off dan layar ponsel itu pun menjadi gelap.
Tak berselang lama Kevin datang dari arah belakang dan kembali duduk, bersamaan dengan itu makanan pesanan mereka pun datang.
“tadi ada yang nelpon kamu.” ucap Alya saat waiters sudah pergi.
“siapa?”
“mingyu.”
“kamu angkat?”
Alya menggeleng. “enggak.”
“Ya sudah, cepat makan nanti keburu dingin!”
Alya menurut, gadis itu mulai meraih sendok dan garpunya. Begitu pun dengan Kevin, mereka pun mulai menyantap makanannya masing-masing.
...💐💐💐...
Sementara itu Di sebuah kamar yang luas, nampak mingyu mondar-mandir gelisah sambil tangannya menggenggam ponsel. Sesekali benda pipih itu dia tempelkan ke telinga, namun tak berselang lama dia kembali menjauhinya.
“astaga Vin, segitu marahnya Lo sama gue gara-gara bawa mayra! Sampai-sampai telpon dan chat gue gak Lo respon sama sekali. Kalo gini ceritanya, ogah gue bawa cewek itu kemarin!”
Mingyu merasa bersalah sudah melakukan itu, dia tak pernah menyangka akibatnya akan sefatal ini. Dalam pikirannya mungkin Kevin marah hanya sebentar saja saat tahu kebenarannya, namun ternyata tebakannya salah. Sahabatnya itu marah besar sehingga semua investasinya pada perusahaan keluarganya ditarik, dan mengakibatkan masalah.
Tentu saja, karena selama ini hanya kevinlah menjadi investor terbesar satu-satunya di kantornya. Selain itu, repotasi sahabatnya dalam dunia bisnis sudah tidak diragukan lagi, banyak pihak perusahaan lain yang bermimpi ingin bekerjasama dengannya. Namun sayangnya tak semudah itu, Kevin selalu menolaknya. Itu pun ada alasannya.
__ADS_1
meski usianya masih sangat muda dan terlihat seperti ogah-ogahan, namun intentasi dalam bekerja Kevin terbilang cemerlang. Itu di karenakan dia di anugerahi otak yang cerdas, kejeniusan dari gen ibu kandungnya yang membawanya menjadi seperti ini.
Mingyu tentu sangat tahu sebenci apa Kevin pada Mayra, setiap menyebut namanya saja sahabatnya itu sudah emosi di tambah dengan kelakuan Mayra kemarin malam. Namun karena rasa kemanusiaan membuatnya lupa dengan itu semua, Dan hal itu berimbas pada perusahaan keluarganya.
“sekarang gue harus gimana coba, papa udah usir gue dari rumah dan Kevin juga susah buat di hubungi. Kalo gue Pergi ke apartemennya juga percuma, gue udah di blokir aksesnya!” Gerutunya sambil terus mondar-mandir.
“Ck, ini semua gara-gara Mayra!” pria itu mengacak-acak rambutnya prustasi.
Mingyu masih terus menggerutu kesal, memaki Mayra dan tak lupa mengutuki perbuatannya sendiri.
“gak lagi-lagi deh gue berurusan sama dia, kapok gue!”
Kini dia mulai berpikir, mungkin saja apa yang Kevin ucapkan selama ini tentang Mayra ada benarnya. Wanita itu tak sebaik yang terlihat, buktinya neneknya Kevin saja terlihat sangat membencinya.
“gue harus cari cara agar Kevin mau mencabut keputusannya, tapi gimana caranya?”
Mingyu diam sejenak sambil berpikir, hingga satu nama muncul di kepalanya.
“alya! Yah, gue harus minta bantuan sama bininya aja. Ide bagus!”
Bergegas dia pun berlari ke lemari, mengambil jaketnya, lalu meraih kunci mobil yang ada di meja nakas kemudian keluar dari kamar.
Kemarin dia mendapat kabar dari Mayra kalau Alya masih anak kuliahan, dan secara kebetulan gadis itu satu kampus dengan Kevin. Jadi dia akan pergi kesana untuk menemuinya, dan meminta bantuannya.
Mingyu menelusuri lorong hotel yang menjadi tempatnya menginap dengan langkah lebarnya, sejenak dia berhenti di depan pintu lift dan jarinya menekan tombol. Setelah nunggu beberapa saat akhirnya pintu lift pun terbuka, dengan cepat pria itu masuk dan menekan angka paling bawah.
Sekitar 5 menit setelahnya pintu kembali terbuka, kini dia sudah berada di lobi kemudian dia berlari keluar dari gedung hotel menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Suasana jalanan siang itu cukup macet, mungkin karena waktunya jam makan siang. Sebenarnya Mingyu ingin sekali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, namun dia memilih dengan kecepatan sedang agar tidak terkena tilang.
Sekitar hampir memakan waktu satu jam dalam perjalanan, akhirnya mingyu sampai di gedung kampus yang dia tuju. Mingyu memarkirkan mobilnya di depan Pos satpam, lalu dia keluar dari mobil dan bergegas masuk area kampus.
Pria itu celingukan sambil terus melangkah mencari sosok Alya, namun tak kunjung dia temui. Dia tak tahu saja jika Alya masih dalam masa cuti, jadi mau selama apapun dia mencari bahkan sampai mengelilingi kampus itu pun tak akan ketemu.
Karena lelah, mingyu mengistirahatkan dirinya di sebuah kursi kayu yang ada di dekat kolam karena dia sekarang sudah ada di halaman depan kampus. Dia sudah mengitari setiap sudut kampus, namun sosok Alya belum dia temukan.
Visualnya yang memang mirip idol Korea itu membuat banyak pasang mata meliriknya, terlebih kaum wanita yang tak sengaja melintas. Mingyu menyadari itu, namun dia tak perduli.
“kemana sih dia, katanya kuliah disini tapi dari tadi gue cari gak ada! Jangan-jangan ucapan Mayra kemarin bohong kali ya?” gumamnya sambil terus celingukan.
Drrtt..
Mingyu mengerjap saat merasakan ponselnya yang ada di saku celananya bergetar, segera dia pun merogohnya. Wajahnya berubah malas begitu melihat siapa yang menelponnya.
“ck! ngapain juga si jimmy nelpon gue, bikin mood gue makin anjlok aja!” Gerutunya kesal kemudian langsung menggeser tombol merah dan mematikan ponselnya.
Dia kembali menyimpan ponselnya di tempat semula, lalu dia pun pergi dari sana dan kembali mencari keberadaan alya.
...💐💐💐...
Di restoran, Kevin dan Alya sudah menyelesaikan acara makan siangnya. Mereka masih berada disana karena harus menunggu kedatangan Rangga yang entah sampai detik ini belum juga sampai, padahal janjinya pas jam makan siang dia akan datang.
Kevin nampak sibuk dengan ponselnya, dia tengah mengirim pesan pada Rangga agar segera datang. Pria itu mendengkus sebal saat melihat status chatnya hanya ceklis satu, pertanda jika nomor sahabatnya itu sedang tidak aktif.
Sementara Alya juga sama, dia sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan dari sahabat dan keluarga pamannya yang berada di Seoul, menanyakan kabarnya dan soal pernikahannya.
Tak lama setelahnya, Alya menyudahi bermain ponsel dan menatap Kevin.
“masih lama gak Vin? Jam berapa Rangga bakal datangnya?” tanyanya.
“belum tahu, nomornya juga gak aktif.” jawab Kevin tanpa menoleh ke arah Alya.
Sementara Alya yang mendengar jawaban sang suami menghela nafas panjang, dan hal itu membuat Kevin menoleh.
“kenapa?”
Alya menggeleng. “aku hanya capek Vin, kita udah cukup lama duduk disini. Rasanya Pantat aku panas banget!”
“gak usah lebay.” cibirnya.
“seriusan Vin, aku gak bohong.” sahut Alya.
Kevin sudah siap membuka suara, namun tertahan kala matanya melihat mobil lexus milik Rangga mulai memasuki parkiran restoran.
Terlihat Rangga langsung keluar setelah memarkirkan mobilnya, pria itu memakai pakaian casual dan masker putih serta kaca mata besar warna hitam, lalu jalan cepat dan masuk restoran.
“dia udah datang.” ucapnya seraya menggerakkan dagunya mengarah ke luar dan Alya mengikutinya.
“sorry telat, tadi ada problem dirumah dan gue harus mengurusnya dulu.” ucap Rangga seraya membuka masker dan kacamatanya, kemudian duduk di hadapan pasutri itu. “Kalian udah lama?” tanyanya kemudian.
“banget!” jawab Alya ketus sambil bersedekap dada, dia menatap wajah Rangga dengan penuh permusuhan.
Bukannya merasa bersalah, pria itu malah tertawa kecil. “jadi gimana, mau langsung aja atau gimana?” tanya Rangga lagi.
“iya, tapi gak di sini. Diruangan Lo aja!” jawab Kevin dan Rangga mengangguk, lalu dia menelpon Sean untuk masuk restoran.
Alya yang mendengar ucapan suaminya pun langsung bertanya. “kenapa harus diruangan Rangga, kenapa gak disini aja?”
“karena ini pembicaraan untuk pria dewasa aja, anak kecil gak boleh tahu!” jawab Kevin seraya menempelkan ponsel ke telinganya.
Sedangkan Alya malah langsung cemberut mendengar jawaban Kevin, dia tidak terima dikatain anak kecil, namun tak juga membalas.
Tak berselang lama Sean datang menghampiri majikannya, Kevin menyuruh Alya agar pergi duluan ke mobil karena dia ada yang mau dibicarakan dengan Rangga. Kevin juga berpesan pada istrinya untuk tidak keluar dari mobil sebelum dirinya kembali, dan gadis itu hanya mengangguk saja.
Setelahnya Alya dan Sean pergi keluar dari restoran menuju parkiran, begitupun dengan Kevin dan Rangga yang langsung beranjak dan pergi ke sudut ruangan dimana biasa sahabatnya itu tempati.
Sesudah di dalam, Rangga menyuruh Kevin untuk duduk di sofa. Di ikuti dengan dirinya yang juga ikutan duduk di sampingnya.
Namun sebelum memulai, Rangga menanyakan kembali keinginan kevin. Pasalnya selama ini sahabatnya itu selalu meminta padanya agar mata batinnya di buka, alasannya adalah dia ingin melihat sosok mamanya.
“Lo yakin mau tutup?” tanya Rangga memastikan.
“iya.” jawab kevin dengan tegas.
__ADS_1
“alasannya?”
“karena gue gak sanggup ngeliat ekspresi wajah mama Ara yang sedih, setiap gue ikut balapan.”
Yah, bayangan seorang wanita yang pernah ia lihat saat melakukan balap liar itu adalah arwah ibunya. Dan dia pun sempat berpikir kenapa Tamara selalu muncul, mungkin wanita itu tak menyukai dengan perbuatannya itu.
“apa mungkin ya mama gak suka liat gue balapan?” tanya Kevin, kedua bola mata bundarnya menatap penuh wajah Rangga.
“bukan hanya Tante Ara saja, kami semua pun gak suka lihat Lo begitu. Dan kayaknya kalau Alya tahu tentang ini, dia bakal marah.”
“ck! Apa pedulinya dia? mau gue sampai mati pun dia kayaknya gak masalah!” cetus Kevin.
PLAK!
“Aw! Sakit nego!” pekik Kevin, seraya menyentuh kepalanya karena kena geplakan tangan Rangga.
“abisnya Lo kalau ngomong suka gak di filter dulu, ngadi-ngadi emang. Ingat Vin, ucapan itu doa! Mau Lo mati muda? Gue sih ogah!” omel Rangga.
“kenyataannya memang gitu kok!”
“udah diem ah, mending sekarang tutup mata lo.” titah Rangga yang langsung di turuti oleh Kevin.
Rangga mengangkat sebelah tangannya seraya memejamkan matanya, lalu meletakkan tangannya tepat di wajah Kevin sambil mulutnya komat-kamit. Sekitar hampir 2 menit tangan Rangga naik ke rambut Kevin, mengusapnya perlahan dan dia lakukan beberapa kali.
“sekarang buka mata lo.” titahnya lagi.
Kevin segera membuka matanya, Rangga langsung memberikan satu botol minum berukuran kecil pada Kevin.
“minum ini.” Ucapnya.
Tanpa ragu lagi Kevin menerimanya dan langsung meminumnya hingga tandas, lalu meletakkannya di meja.
“udah kan?” tanya Kevin dan Rangga mengangguk.
Melihat itu Kevin langsung berdiri, namun tangannya di cekal Rangga.
“ada apa?”
“duduk dulu, gue mau menjelaskan sesuatu hal yang penting sama Lo dan ini berkaitan dengan alya.”
Kevin terlihat malas dan ingin mengucapkan alasannya, namun suaranya langsung tertahan setelah mendengar ucapan Rangga.
“ini demi keselamatannya Vin, dan hanya Lo yang bisa melindunginya!”
...💐💐💐...
Di luar restoran Alya dan Sean sudah sampai dimana mobil parkir, Sean segera membuka pintu mobil belakang dan Alya pun masuk, setelah itu ia kembali menutupnya. namun Sean tak ikut masuk juga, dia masih berdiri di luar, lebih tepatnya di depan pintu yang tadi dia buka.
Sementara di dalam mobil Alya kembali sibuk dengan ponselnya, dia tengah mengecek sosial medianya.
Karena tak ada yang seru, akhirnya dia kembali menyimpan ponselnya di dalam tasnya. Lalu pandangannya beralih ke depan, menatap suasana jalanan yang macet oleh kendaraan lain.
Tiba-tiba dia melihat ada pedagang es krim keliling yang sudah di kerubungi oleh pembeli, membuat dirinya ingin membelinya juga. Namun dia langsung teringat dengan ucapan Kevin tadi agar tak boleh keluar sebelum dirinya kembali.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, pikirannya tengah menimbang-nimbang antara harus nurut atau melawan. Lalu dia menoleh ke belakang dan depan bergantian.
“bodoh amat ah, lagian cuma bentar doang kok.” Ucapnya, kemudian dia kembali membuka pintu mobilnya dan keluar.
“nona mau kemana?” tanya Sean dengan wajah kaget.
“aku mau beli itu.” jawab Alya sambil jari telunjuknya mengarah ke penjual es krim.
jarak penjual es krim itu berada di trotoar seberang, yang mana jika alya ingin kesana harus menyebrangi dua lintas jalan raya.
“tapi kata tuan muda, anda tak boleh pergi kemana-mana.” sahut Sean, dia berusaha menahan langkah Alya yang ingin kembali maju tanpa harus menyentuh.
“cuma sebentar aja kok.”
“tetap saja tidak bisa Nona, kalau nona memaksa nanti tuan marah.”
“tapi aku pengen makan es krim!” keluhnya dengan suara manja.
Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung harus bagaimana lagi membujuk nona mudanya agar tak pergi.
“tunggu sampai tuan kembali saja, lebih baik sekarang nona kembali masuk mobil.”
“ck! Kalau harus nunggu Kevin, penjualnya akan keburu pergi! Udah ah.”
Alya kembali maju melangkah, namun dengan cepat Sean menahannya. Pria bule berbadan kekar itu berdiri di depan Alya sambil merentangkan kedua tangannya.
“minggir!”
“tidak bisa nona!”
Alya menghela nafas kasar. “aku hanya bentar kok, janji deh!”
Sean tak bersuara, pria itu hanya menggeleng membuat Alya berdecak kesal.
“ya udah kalau aku gak boleh pergi, kamu aja yang beliin!”
“tapi Nona..”
”gak mau? Ya udah.”
“eh iya iya, biar saya saja yang beliin. Nona tunggu saja di dalam mobil.”
Alya yang mendengar itu tersenyum senang. “ya udah cepat sana, Sebelum pedagangnya pergi!”
“baik, nona.” Sean segera berjalan cepat ke jalan raya dan mulai menyebrang.
“yang rasa coklat ya!” teriaknya dan Sean hanya mengangguk mengiyakan.
Setelahnya Alya kembali membuka pintu mobil, namun terhenti kala ada tangan menahannya. Dia pun menoleh ke si pemilik tangan, seketika wajahnya berubah kaget begitu melihat siapa orang itu.
__ADS_1