
“Selena kharisma Putri? Apa kabar?” tanyanya kemudian.
“renata..” lirih Selena tanpa sadar.
Yah, wanita itu memanglah Renata. Niat hati ia masuk ke butik itu ingin berbelanja, namun malah bertemu dengan rival abadinya. Hari itu dia memang sedang ada urusan bisnis di Busan, tentunya bersama suaminya. Namun dia tidak ikut pergi belanja, dengan alasan capek.
Hingga sampai saat ini Renata memang masih menganggap Selena adalah rivalnya, karena suaminya masih saja terus mengejarnya. Meski ia akui semenjak wanita itu berhenti dari dunia keartisan, sejak saat itu pula Selena tak berhubungan lagi dengan Chandra. Ia menutup semua aksesnya, agar Chandra tak bisa lagi menghubunginya. Tak seperti suaminya itu, yang terus berusaha mencari cara agar bisa berkomunikasi dengan Selena.
Awal kebenciannya terhadap Selena memang berawal dari terkuaknya hubungan asmaranya dengan Chandra, itu pun jauh sebelum mereka menikah. Namun Renata yang kala itu sudah terlanjur menyukai Chandra pada pandangan pertama mengacuhkan itu, ia tetap maju dan merebutnya dari Selena dan itu berhasil.
Tapi sayangnya itu tak mampu memudarkan rasa cinta Chandra terhadap Selena, bahkan saking cintanya dan tak mau kehilangannya, Chandra sampai tega menjebak Selena dan berakhir menidurinya.
Renata tentu tahu soal itu, tapi dia memilih bungkam. Dalam pikirannya kala itu pasti Selena akan marah dan berakhir meninggalkan Chandra, namun dugaannya salah. Mereka tetap bersama, dan menjalin hubungan diam-diam. Hingga ke masa penggerebekan di hotel itu, dia sengaja datang bersama para wartawan agar bisa mempermalukan Selena dan karirnya akan hancur.
Sayang sungguh sayang, rencana jahatnya gagal total. Wanita itu tak pernah tahu jika Selena dan Rafael sudah saling mengenal, dan kini kebenciannya semakin meluap begitu mendengar kabar Rafael mengakui kehamilan Selena adalah perbuatannya.
Mantan kekasihnya yang selama 5 tahun terakhir pernah menghiasi hidupnya, namun ia memilih meninggalkannya karena Rafael tak pernah mempublikasikannya ke media dan tak kunjung melamarnya. Dan kini pria itu sudah menjadi suami Selena, dan dikenal sebagai ayah biologis dari bayi yang wanita itu kandung.
Jujur saja, rasa cinta itu masih ada dan ada niatan buruk untuk merebut kembali Rafael. Namun rencananya itu tak pernah bisa ia lakukan, mengingat ada Arjuna di hidupnya dan statusnya masih menjadi istrinya Chandra. Selain itu ia juga harus menjaga nama baik keluarga besarnya agar tak tercoreng, namun bukan berarti dia mengalah.
Secara diam-diam dan pelan-pelan Renata mulai sering menghubungi Rafael, entah itu lewat telepon atau pesan singkat. Bahkan pernah beberapa kali dia mengirim foto seksinya ke kontak Rafael, berharap dengan begitu dia akan tergoda dan mendatanginya. Setiap dia melakukan itu, imajinasi liarnya selalu muncul. Bayangan saat mereka dulu masih berhubungan, dan sering menghabiskan malam indahnya di atas ranjang. Sungguh, Renata ingin sekali mengulang masa-masa itu.
Namun sekali lagi. Rencananya itu tak berhasil, Rafael tak pernah sekalipun meresponnya. Malah bisa dikatakan tak perduli, pria itu seakan tak pernah menganggapnya ada. Bahkan saat mereka tak sengaja bertemu di suatu tempat, atau dipaksa harus bertemu oleh alasan kerjaan. Rafael tetap bersikap acuh, dan selalu menatapnya dingin.
“baik.” jawab Selena singkat, seraya mengulas senyum tipis. “kamu sendiri bagaimana kabarnya, kenapa ada disini?” tanyanya kemudian.
Renata tak langsung bersuara, dia menatap tajam wajah Selena yang nampak berisi akibat hormon kehamilannya. Namun harus Renata akui, Selena semakin cantik dan bersinar. Meski bentuk tubuhnya sudah sangat berubah, ditambah dengan perutnya yang semakin membesar tak membuat aura bintangnya meredup.
“baik.” balasnya ketus, lalu pandangannya mengarah ke perut besarnya. “perutmu sudah sangat besar, pasti sebentar lagi dia akan lahir.” ujarnya kemudian.
Selena yang mendengar itu tersenyum, lalu mengelus perut buncitnya. “iya. Menurut jadwalnya, dia akan lahir di akhir bulan depan.”
Renata jalan mendekati Selena, sambil kedua tangannya masih bersedekap dada. Wajahnya tak berubah, membuat Hani dan Ardian yang melihat itu merasa cemas.
Pasutri itu jelas saja tahu tentang siapa Renata, dia adalah mantan kekasihnya Rafael yang tak pernah orang banyak tahu. Dan mereka juga tahu jika wanita itu kembali menganggu Rafael, karena beberapa waktu yang lalu pria itu pernah mengatakannya. Rafael juga pernah mengatakan untuk menjauhkan selena dari Renata, karena takut terjadi hal buruk dengannya.
Ardian dan Hani memang mengetahui perihal hubungan masa lalu Renata dan Rafael, tapi mereka belum tahu jika itu ada kaitannya dengan Chandra. Mereka hanya mengira Rafael menyuruhnya untuk menjauhkan Selena dari Renata, karena wanita itu ingin merusak rumah tangganya dan menyakiti Selena.
“kau mau apa? Jangan mendekat!” seru Hani, saat melihat tangan Renata terulur ke arah perut Selena.
“aku hanya ingin menyentuhnya, apa salah?” ujar Renata dengan mimik dibuat polos.
“salah besar!” cetusnya, lalu jalan mendekati Selena dan langsung mendorong kasar tubuh Renata. “jangan berani-berani kau menyentuhnya, aku gak Sudi keponakanku disentuh oleh wanita nakal sepertimu!”
Akibat dari aksinya itu membuat suasana butik ramai, banyak orang yang berlalu lalang menatapnya penasaran. Tak terkecuali beberapa pegawai wanita butik tersebut, mereka mulai panik karena ada keributan ditempat kerjanya.
Ardian yang menyadari itu langsung bertindak, dia mendekati istrinya untuk tenang. Namun Hani malah berontak, dan berakhir memarahinya.
“kau tenanglah dulu, jangan teriak-teriak begitu. Kita ini sedang ada ditempat umum!” desis Ardian.
“aku tak perduli! Apa kau sudah lupa dengan amanat oppa Rafa untuk menjauhkan Selena dari wanita jahat ini?”
Sejenak Ardian diam, ia melirik Renata sekilas lalu kembali menatap Hani dan mengangguk.
“aku ingat sayang, tapi kamu juga harus jaga sikap! Bagaimana kalau ada orang lain yang mengenalmu dan diam-diam merekam aksimu ini lalu menyebarkannya ke media, taruhannya saham agensi akan kembali turun. Kamu mau begitu?”
“enggaklah!”
“maka dari itu kamu harus tenang! Dan juga, apa kamu gak lihat ada azura disini? Dia pasti akan takut lihat kamu marah-marah begitu.”
Mendengar itu membuat Hani terdiam dan membenarkan itu, ia hampir saja lupa disana ada bayinya juga.
“kalian ini lebay sekali sih, aku cuma ingin menyapa bayinya Selena saja. Lagian dia juga dari tadi diam aja, kamu aja yang heboh.” cibir Renata, seraya menatap sinis wajah Hani.
Otomatis Pandangan Hani kembali mengarah ke wajah Renata, dia sudah siap membuka suaranya. Namun tertahan saat Selena menarik lengannya.
“sudah Hani jangan di diperpanjang lagi, banyak pasang mata sedang menatap ke arah kita.” Bisiknya.
Seketika itu pula Hani langsung menatap sekitar, dan dia terkejut karena ucapan Selena tadi benar. Para pengunjung lain yang ada di toko itu sedang menatapnya, belum lagi dengan keadaan di luar.
“sebaiknya kita pergi saja dari sini. Ayok.” ujar Ardian setelah menyelesaikan transaksi pembayaran di kasir, lalu meraih dua paperbag yang berisi belanjaan Selena dan Hani kemudian menggiring dua wanita itu untuk melangkah pergi.
Renata hanya diam, seraya menatap kepergian mereka.
‘aku takkan berhenti sampai disini saja, ku pastikan akan membuat hidupmu hancur Selena!’
...💐💐💐...
“buka mulutnya sayang.” pinta Kevin, seraya menyodorkan suapan terakhir pada Alya.
Namun istrinya itu malah menggeleng. “udah kenyang Vin, perut aku udah kenceng banget nih.” balasnya.
“tanggung, ini yang terakhir. Ayo buka.”
Alya kembali menggeleng, dan kali ini ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kevin yang melihat itu menghela nafas.
“sayang.” tekan Kevin, seraya menatap tajam sang istri.
“gak mau Vin, kalau di paksakan nanti gumoh!”
Sekali lagi. Kevin menghela nafas, dan pada akhirnya ia memilih mengalah saja. Benar apa kata Alya, kalau dipaksakan nanti malah mual. Alhasil suapan terakhirnya itu masuk ke dalam mulutnya, lalu meraih gelas yang sudah berisi air dan menyerahkannya ke Alya.
Istrinya itu menerimanya, menenggaknya hingga sampai setengah lalu kembali berikan padanya.
“aku keluar dulu, kamu istirahat saja disini. kalau aku baliknya lama, berarti aku lagi bareng anak-anak.” ujar Kevin, dan Alya mengangguk mengiyakan.
“jangan lupa nanti juga kamu harus makan banyak, ingat itu!” pesan Alya, seraya jarinya mengarah ke wajah Kevin.
“iya bawel.” balas Kevin, seraya mencubit gemas pipi istrinya.
Setelah itu Kevin beranjak dari posisinya, meletakkan piring kosong itu di nampan kemudian mengangkatnya dan berakhir keluar kamar.
...💐💐💐...
“abis makan Lo Vin?”
Kevin tersentak kaget saat mendengar itu, ia menoleh ke samping dan melihat Jeremi baru saja keluar dari kamarnya.
Kevin menggeleng, seraya sebelah tangannya menutup pintu kamar. “bukan gue, tapi alya.” jawabnya, Kemudian berlalu pergi turun ke lantai bawah.
“oh..”
Jeremi hanya ber oh ria saja, tak mau banyak bertanya lagi dan memilih untuk menyusul langkah Kevin untuk turun.
__ADS_1
“vin, nanti malam gue mau bikin acara api unggun.” ujar Jeremi saat sudah berada di sebelah Kevin, seraya terus berjalan.
“atur aja, tapi gue gak janji bakal ikutan.” balas Kevin tanpa menatap si lawan bicara.
Jeremi mengernyit heran. “lah, kenapa?”
“gue harus jaga alya.”
“memangnya Alya kenapa sampai Lo harus jagain, disini gak bakalan ada yang nyakitin dia. Oh, Atau.. dia lagi sakit?”
“gak.”
“terus?”
“pengen jagain aja.”
Jeremi bisu sejenak, ia menatap Kevin curiga. “jangan-jangan Lo masih berpikiran kalau Fani mau nyakitin dia? Vin, gue kan udah sering jelasin sama Lo kalau Fani itu udah berubah. bahkan udah jarang main sama Tiara!” tuduhnya.
“gue tak terlalu ambil pusing soal Fani dan Tiara, tapi ada hal lain yang mengharuskan gue untuk ketat menjaganya.”
“apa?”
Kali ini Kevin yang membisu.
“Vin, kenapa Lo diam aja? Ada masalah?”
“gak ada!”
“terus apa dong? Sumpah ya, semenjak menikah Lo semakin misterius tau gak!”
“lebay Lo! Gue masih sama aja kok.”
Jeremi menggeleng. “gak! Gue merasa Lo tuh kayak menyimpan banyak beban berat, apa ini ada kaitannya dengan fakta keluarga Alya?”
“bisa dibilang begitu.”
Jeremi menghela nafas. “bukan hanya Lo doang sih, kita semua juga syok. Gimana nanti kalau Alya tahu semua ini ya, ditambah dengan fakta Selena yang bukan kakak kandungnya dan--”
“gue yakin sekalipun dia tahu, dia tetap akan menyayangi Selena. Lo pasti udah hafal wataknya kayak apa kan?” potong Kevin.
“jelas! Dan.. karena itu juga Lo bisa sampai tergila-gila sama dia. Iya kan?”
Kevin merespon ucapan Jeremi dengan tersenyum miring.
“dasar bucin.” cibirnya.
“kayak Lo nggak aja!” balas Kevin sinis.
Dan Jeremi hanya bisa tertawa kecil, ia tak memungkiri itu karena pada dasarnya dia juga sama.
Setelah itu tak ada obrolan lagi, Kedua pria itu jalan bersama menuju dapur. terlihat disana sudah ada mingyu tengah duduk di kursi yang ada di ruang makan bersama tina, dengan posisi duduknya menghadap langsung ke gadis remaja itu.
“hey penyu, ngapain Lo?” tanya Jeremi, ia menatap curiga pada sahabat satunya itu.
“gak ngapa-ngapain.” jawabnya.
Jeremi tak percaya, dia pun jalan mendekat dan duduk disamping Tina. Posisinya kini sama seperti mingyu, menghadap ke Tina. Sejenak ia memperhatikan wajah gadis remaja itu yang terlihat tak nyaman, lalu kembali menatap mingyu.
“jangan macam-macam Lo ya sama Tina, bisa abis Lo nanti dihajar sama kedua kakak kembarnya.” ujarnya memberi peringatan.
“muke gile nih anak! Ngajak kencan kok sama abg, yang seumuran aja banyak!” sembur Jeremi.
Kevin yang berdiri di depan wastafel sambil cuci bekas makan istrinya mendengar itu nampak kaget, ia pun menoleh ke belakang.
“Lo suka sama Tina?” tanyanya, dan mingyu langsung mengangguk.
“tapi aku gak suka sama kakak!” tukas Tina, ia menatap jutek wajah mingyu.
“kenapa? Apa aku kurang ganteng? Kurang kaya? Kurang seksi? Atau kurang mapan?”
“umur kakak tua, dan aku gak mau punya pacar tua!”
DENG!
Jawaban telak Tina mampu membungkam bibir mingyu, pria itu terpaku ditempat dengan wajah cengonya.
“hahahahaha..”
Secara kompak Jeremi dan Kevin tertawa keras, jawaban gadis remaja itu tepat dengan sasaran.
“noh, udah denger sendiri kan jawaban Tina apa? Jadi gak usah berharap banyak!” ucap Jeremi di sela-sela ketawanya. “lagian, gak nyadar diri sih. Umur udah mau 30, tapi naksirnya sama bocil! Hahahaha..”
“teganya dirimu Tina berkata begitu, aku ini bukannya tua tapi dewasa! Usiaku sama Kevin selisih setahun lebih tua, masa dibilang tua sih?” protes mingyu, seraya memasang wajah cemberut.
“tetap saja di mataku kakak itu tua!”
Wajah mingyu berubah menjadi murung, baru kali ini dia merasakan sakitnya ditolak. Padahal waktu jaman sekolah dulu dia yang selalu membuat para wanita patah hati, namun kenapa sekarang malah berbalik?
“apa ini karma buat gue ya karena dulu sering menolak cewek?” gumamnya bertanya-tanya.
Kevin sudah menyelesaikan cuci piringnya, lalu menaruhnya di rak. ia jalan ke sudut dapur untuk mengelap tangannya yang basah, kemudian jalan ke ruang makan dan bergabung dengan ketiga orang yang ada disana.
“Lo berani banget ajak Tina kencan, gak takut dapat amukan Rangga nanti?” tanya Kevin, saat sudah duduk di kursi yang ada didepan ketiga orang itu.
“tau nih, nyali Lo gede juga kalau mau jadikan Tina pacar Lo.” balas Jeremi menimpali.
Mingyu yang mendengar itu mengangkat dagunya angkuh. “ngapain meski takut, mereka sama-sama manusia dan sama-sama makan nasi. Sekalipun nanti mereka bakal marah, gue bakal lawan. Kalian berdua gak tahu apa, kalau gue itu jago bela diri?”
“tapi Rangga juga jago, dia bahkan lulusan sabuk biru.”
“gue sabuk hitam!”
“jadi ceritanya Lo mau ngajak gue tarung?”
DEG!
Tubuh mingyu tiba-tiba membeku ditempat, wajahnya terlihat tegang begitu mendengar suara berat dari belakang. Dengan gerakan ragu, ia menoleh, dan melihat sudah ada Rangga disana dengan wajah kakunya.
“abang..” rengek Tina, ia beranjak dan memeluk tubuh kakaknya itu.
Rangga langsung menyambutnya, sebelah tangannya mengusap sayang kepala Tina. Sementara tangan satunya ia masukkan ke kantong celana depannya, dengan mata sipitnya yang menatap tajam wajah mingyu.
Jeremi dan Kevin yang menyadari ekspresi wajah tegang mingyu nampak menahan senyum, mereka seakan puas melihat sahabat satunya itu berada di posisi yang terjepit. Lagian salah pria itu sendiri berani mendekati adik kesayangan twins dari keluarga Kusuma yang selama ini selalu overprotektif.
__ADS_1
“setelah tadi Lo gagal nikung cewek gue, sekarang Lo gaet Tina. astaga mingyu.. mingyu, Sepertinya Lo udah bosan hidup ya.” celetuk Jeremi, seraya geleng-geleng kepala.
“hehehehe..” mingyu malah cengengesan. “gak apa-apa kan kalau gue deketin adek Lo?” tanyanya kemudian.
“kamu mau sama dia dek?” tanya Rangga pada adiknya, dan langsung mendapat gelengan cepat dari Tina.
“udah lihat kan? Dia gak mau, berarti disini udah jelas jawaban gue apa?”
Mingyu melirik tina. “kenapa Tina? Apa karena aku sudah tua, iya? Hey, diluaran sana banyak pasangan yang beda usia tapi mereka bahagia-bahagia aja tuh.”
“tapi aku gak mau seperti mereka, aku maunya punya pasangan yang seumuran!” tolak Tina.
“tapi aku tampan dan kaya!”
“aku gak perduli!”
Mingyu yang mendengar itu mendengus sebal, ia melipat kedua tangannya di dada seraya memutar tubuhnya ke depan. Sementara itu Rangga langsung membawa adiknya untuk duduk di kursi barisan lain, lebih tepatnya di samping Kevin.
“kayaknya Lo ngebet banget pengen jadikan Tina pacar, memangnya para gebetan Lo pada kemana?” tanya Kevin yang sedari tadi diam.
“udah gak nafsu gue sama mereka, kebanyakan menye-menye. Eneg gue!” jawab mingyu ketus.
“terus Lo sukanya sama cewek yang kayak apa?” kali ini Jeremi yang bertanya.
“kayak Alya!”
DEG!
Mendengar nama istrinya disebutkan, otomatis kedua mata Kevin melebar. “coba Lo ulang sekali lagi?”
“kayak Alya!”
“ulangi lagi!” sentak Kevin.
Menyadari itu mingyu menjadi kelabakan. “ma-maksudnya bukan mau merebut Alya dari Lo Vin, tapi gue pengen punya pasangan yang sifat dan kelakuannya kayak Alya.” ralatnya.
“kalau Lo maunya kayak Alya, kenapa tadi Lo ngajak Tina pacaran bego!” cetus Jeremi.
Mingyu tersenyum lebar, seraya melirik Tina. “abisnya dia imut, bikin gue gemes.”
Sedangkan yang di tatap malah bergidik ngeri, dan bersembunyi di balik bahu kakaknya.
“wah, udah gak bener nih anak satu. Ga, sepertinya setelah ini Lo harus nambah bodyguard buat jaga Tina. Biar buaya satu ini gak bisa deket-deket.” ucap Jeremi.
“bisa di atur.” balas Rangga santai.
Tak lama setelah itu dari arah yang tak terlalu jauh, Samuel, Nana, Fina dan Dimas datang. Mereka jalan mendekat, dan langsung duduk di kursi yang masih kosong.
Jeremi pun memanggil bi Minah untuk menyiapkan makan siang, dibantu oleh anak perempuannya yang diperkirakan umurnya 8 tahun.
Rangga dan tina nampak berbinar saat menatap berbagai menu makanan khas kampung namun menggugah selera itu, begitu pun dengan kawan lainnya. Kecuali mingyu, yang terlihat tak suka. Meskipun begitu dia tetap mau memakannya, daripada perutnya dibiarkan kosong.
Setelah semua makanan tersaji, mereka pun mulai menyantapnya. Sedangkan bi minah dan anaknya sudah pergi ke dapur, mereka juga akan makan disana.
“dimana Alya, kok gak turun?” tanya Samuel saat menyadari tak ada sosok Alya disana.
“dikamar, lagi istirahat.” jawab Kevin.
“kenapa? Kakinya sakit lagi?”
“gak, perutnya lagi keram aja karena datang bulan.”
“oh. Terus kenapa gak diajak turun, biar bisa makan siang bareng.”
“dia udah makan tadi di kamar.”
“mas, aku pengen makan kwetiaw goreng.” pinta Nana tiba-tiba.
“kwetiaw?” ulang Samuel, seraya mengernyit dan Nana mengangguk antusias.
Kali ini makanan aneh apalagi yang istrinya inginkan, karena makanan yang Nana sebutkan tadi merasa asing di telinganya.
“makan Yang ada dulu ya sayang, tuh lihat ada capcay dan opor. Kamu suka banget sama makanan itu kan?”
Nana menggeleng. “maunya kwetiaw.”
Samuel menggaruk pipinya yang tak gatal, lalu ia menatap satu persatu wajah sahabatnya. “kalian tau gak tempat yang jual kwetiaw goreng?” Tanyanya.
Namun Nana menyela. “aku maunya kamu yang bikin mas.”
“Aduh sayang, mana bisa aku bikinnya. Tahu namanya aja sekarang.”
Mendengar itu Nana langsung cemberut, lalu tangannya mengelus perutnya yang sedikit menonjol. Membuat Samuel yang melihat itu mendesah pelan, itulah senjata ampuh sang istri agar ia mau memenuhi keinginannya.
“Lo ngidam na?” tanya Jeremi yang sedari tadi menyimak, dan Nana mengangguk.
Sebenarnya semuanya juga menyimak, namun mereka memilih bungkam. Mungkin takut jika nanti bakal kena imbas permintaan aneh Nana, karena selain dengan Alya dan Kevin, Nana juga sering meminta teman-teman suaminya untuk memenuhi ngidamnya itu.
“ya udah sih Sam turutin aja, daripada nanti anak Lo ileran.” tukas mingyu.
“masalahnya gue gak tahu bentukan kwetiaw itu kayak apa.”
“yaelah Lo mah kayak lagi hidup dijaman purba aja, tinggal cari di google atau YouTube. Pasti disana ada tutorialnya.”
“asal jangan bini gue lagi yang disuruh bikin!” cetus Kevin, seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
“enggak kok mas Kevin, kali ini Nana mau makan masakan mas Samuel. Ayo mas, bikin kwetiaw goreng buat aku.”
“iya sayang, mas akan bikinkan tapi mas lihat tutorialnya dulu ya.”
“gak perlu Sam, Lo cukup bertanya sama bi minah aja.”
Setelah itu Jeremi memanggil bi Minah, dan tanpa harus menunggu lama wanita itu datang.
“iya den, ada apa?”
“bibi sering bikin kwetiaw kan?”
“iya den.”
“nah, sekarang ajarin temanku bikin tapi yang digoreng. Soalnya istrinya lagi ngidam.”
Bi Minah mengangguk. “oke siap den.”
__ADS_1
Kemudian dokter muda itu beranjak dari duduknya, dan pergi menuju dapur bersama bi Minah.