TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 38~Bertemu Andreas


__ADS_3

“Mau sampai kapan kita akan terus disini?” Tanya Kevin sambil menatap jengah istrinya.


Alya yang mendengar itu langsung mendongak, menatap wajah suaminya yang duduk disampingnya. Posisi duduknya tepat menghadap ke arah suaminya yang nampak menyenderkan bahunya ke sandaran kursi mobil.


Saat ini mereka sudah berada di parkiran hotel dan masih di dalam mobil, sudah hampir 40 menit mereka disana tapi Alya masih enggan keluar karena perasaannya tak enak. Dia terus memikirkan bagaimana reaksi keluarga besar Kevin, apakah mereka akan menerimanya seperti ibu mertuanya? Ataukah menolaknya mentah-mentah dan berujung menghinanya seperti ayah mertuanya?


Hingga saat ini aji memang belum memberi Restu, bahkan secara diam-diam papa mertuanya itu mendatanginya ke kamar dan disana pria itu menghinanya habis-habisan. Pria itu terus saja menuduhnya telah menggoda Kevin dan akan menguasai semua hartanya. Dan seperti biasa Alya tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, apalagi dengan suaminya. Dia lebih memilih bungkam agar tak ada keributan lagi.


Di dalam mobil itu hanya ada mereka berdua, sementara Kenzo sudah Kevin suruh untuk masuk duluan.


“Aku takut Vin.” Lirihnya.


“Apa yang kamu takutkan?” Tanya Kevin.


“A-aku takut keluarga ibumu gak bisa Nerima aku, seperti halnya papa Aji.” Jawab Alya.


Kevin tak langsung menjawab, pria itu diam sambil pandangannya mengarah ke arah istrinya dengan tatapan dalam. Hingga akhirnya dia mengeluarkan helaan nafasnya pelan.


“Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu, aku yakin mereka akan menerimamu.” Sahut Kevin meyakinkan.


“Tapi-”


SREET!


Ucapan Alya terhenti saat kevin menarik tubuhnya hingga menubruk ke dada bidangnya, Suaminya itu Mendekapnya dengan erat sambil kedua tangannya mengusap punggung dan rambutnya. Seakan-akan lewat pelukan itu Kevin memberikan kekuatan untuk istrinya.


“Aku udah sering bilang sama kamu kan, Jangan takut! Ada aku disini yang akan selalu menjagamu.” ucapnya dengan nada Bisik.


Alya tak bersuara, namun dia membalas pelukan hangat suaminya. Matanya nampak terpejam sambil hidungnya menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh Kevin, aroma inilah yang selama dua tahun dia rindukan, bahkan Alya bisa mendengar detak jantung Kevin yang teratur.


Seketika itu pula bayangan kenangan manis mereka semasa pacaran dulu terbayang, dimasa mana dirinya selalu di buat tersenyum dan nyaman oleh perlakuan manis kevin. Ungkapan cinta yang tak pernah bosan pria itu katakan setiap bertemu, di tambah pelukan dan ciuman pria itu setiap mereka bertengkar.


Namun momen itu harus terhenti saat mendengar suara getaran ponsel yang berasal dari kantong celana bahan yang Kevin kenakan.


Drrtt..


Kevin mengurai pelukannya dan merogoh kantong celana bahannya lalu mengambil ponselnya. Disana tertera ada nama 'grandma' di layar ponselnya, dia pun melirik ke istrinya.


“Kita keluar sekarang ya, nih grandma udah nelpon aku.” Ucapnya.


Alya menghela nafas pelan kemudian mengangguk setuju, setelah itu mereka pun keluar dari mobil sambil menerima telpon dari Anjeli.


“Halo grandma..”


[Kalian ada dimana, kok belum datang juga?]


“Kami udah di bawah grandma, cuma tadi kami diam dulu di mobil.”


[Ngapain aja disana? Kamu jangan macam-macam ya Vin?]


“grandma ini kayak belum pernah muda aja.”


Terdengar kekehan di seberang sana.


[Dasar anak nakal! Mainnya jangan diluar, bahaya nanti kalian bisa di grebek!]


Kevin yang mendengar itu nampak tertawa lepas, merasa lucu dengan ucapan neneknya itu. Dan karena hal itu membuat Alya sejenak meliriknya penasaran, namun dia tak berbicara apapun.


sedangkan di seberang sana Anjeli tersenyum bahagia, Sudah lama rasanya tak mendengar suara tawa cucunya satu itu. Dan baru kali ini dia bisa mendengarnya, dalam hati wanita itu berdoa semoga pernikahan cucunya dengan wanita pilihannya ini akan bertahan lama.


Langkah Kevin dan alya berhenti saat berada di depan pintu, Alya berinisiatif menekan tombol atas.


[Ya sudah cepatlah kalian datang kesini, grandma gak sabar pengen ketemu cucu menantu.]


“Hm.. kami akan segera kesana.”


Setelah itu panggilan berakhir, Kevin kembali menyimpan ponsel ke kantong celananya.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, Kevin dan Alya jalan masuk. Jari Kevin menekan nomor lantai paling atas, karena memang disana lokasi pestanya.


Namun tiba-tiba..


“Tunggu.. tunggu..” teriak beberapa orang dari pintu lobi sambil berlari kecil.


Dengan cepat tangan kevin terulur untuk menahan pintu lift yang hampir tertutup, dan kini pintu itu kembali terbuka.


“T-terima kasih pak kevin.” Ucap salah satu orang itu yang mengenal sosok kevin sambil menunduk tanda hormat, ia juga menunduk ke arah Alya.


Kevin menanggapi ucapan orang itu lewat deheman dan seperti biasa, selalu memasang wajah kaku. Sedangkan Alya membalas dengan gerakan yang sama sambil tersenyum tipis. Setelah itu mereka yang terdiri dari tiga wanita dan dua laki-laki itu ikutan masuk ke dalam lift.


Alya mengerjap kaget dan spontan mendongak saat tangan Kevin merengkuh pinggangnya, lalu menggeser posisi berdirinya hingga ke pojok. Dan lagi-lagi Alya hanya menurut tanpa banyak bersuara, saat ini suasana hatinya sedang tak karuan. Makanya sejak keluar dari mobil dia diam saja.


Tak lama setelah itu pintu lift sudah kembali tertutup, orang yang tadi masuk tak menekan tombol karena tujuan mereka sama.


Salah satu wanita muda yang berdiri paling belakang nampak curi-curi pandang ke arah Kevin sambil mesem-mesem, dilihat dari gerakan tubuhnya wanita itu seakan tertarik dengan Kevin.


Kevin sadar akan hal itu, dengan sengaja pria itu semakin menarik tubuh istrinya agar menempel dengan tubuh kekarnya. Lalu kedua jarinya mengangkat dagu Alya ke atas lalu mencium dalam bibirnya, hingga terdengar decapannya.


“Malam ini Kamu cantik banget.” Pujinya dengan suara berat, matanya menatap istrinya lekat.


Alya yang di perlakuan seperti itu tentu saja kaget, namun dia tak mampu bersuara. Dia hanya tersenyum kikuk dan Wajahnya merona malu.


Sementara orang-orang yang ada disana langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura menulikan telinganya, sedangkan wanita yang tadi menatap Kevin mendengus kesal.


...💐💐💐...


Ting!


Pintu lift kembali terbuka, satu persatu dari mereka keluar dari lift termasuk Alya dan Kevin. Mereka berjalan di lorong yang sama, namun dengan jarak berjauhan.


Namun seketika langkah Alya langsung berhenti kala matanya melihat sosok pria berperawakan tinggi yang sangat dia kenali, pria itu berpakaian jas rapi sedang berdiri tak jauh dari posisinya tengah mengobrol dengan seorang wanita.


‘ngapain dia ada disini?’ tanya Alya dalam hati.


Kevin yang menyadari istrinya berhenti tiba-tiba segera menunduk, memperhatikan wajah istrinya yang seperti orang kaget.

__ADS_1


“kenapa?” Tanyanya.


mendengar suara suaminya membuat Alya sadar, dia pun langsung menggeleng.


“Ah!.. e-enggak kenapa-kenapa, yuk jalan lagi.” Ucap Alya tergagap, dia langsung melingkarkan kedua tangannya di lengan suaminya lalu menariknya agar kembali berjalan.


‘semoga dia tak melihatku disini.’ gumam Alya dalam hati, dia terus membawa tubuh suaminya jalan.


Namun sialnya langkahnya kembali terhenti saat ada yang memanggil namanya.


“ALYA!”


‘mampus! dia malah manggil lagi.’ gerutunya seraya memejamkan matanya rapat-rapat.


Kevin yang mendengar nama istrinya di panggil langsung menoleh, dia melihat ada sosok pria tampan, tinggi dan berkulit putih bersih berjalan cepat ke arah mereka. Wanita yang bersamanya tadi pun ikutan mendekat. Sedangkan Alya masih mematung di tempatnya, dia nampak menggigit bibir bawahnya.


Pria yang tadi berteriak berjalan cepat mendekati Alya dan Kevin berdiri, begitu dekat dia melengokan kepalanya ke arah Alya yang saat ini menunduk.


“Kamu beneran Alya kan?” Tanya pria itu menatap lekat wajah Alya, dia takut salah orang meskipun dalam hati meyakini.


“I-iya.” Jawab Alya terbata sambil mendongakkan wajahnya perlahan dan menatap pria itu.


bola mata pria itu nampak berbinar dan bibir seksinya melengkung ke atas. Sedangkan wanita di sebelahnya menatap takjub penampilan Alya yang sangat berbeda, biasanya gadis itu selalu berpenampilan sederhana dan polos.


Namun sekarang lihatlah, dia  sangat cantik dan anggun, terkesan seperti orang berada. Wajar saja penampilannya berubah, karena kini Alya sudah menjadi nyonya muda di keluarga dirgantara.


Sosok tuan muda terakhir dari keluarga dirgantara yang selama ini dirahasiakan keberadaannya, tapi kini pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya. Sebenarnya bukan dirahasiakan, tapi lebih ke belum pasti dia tinggal dimana. Pasalnya selama ini Kevin di kenal suka pindah-pindah tempat tinggal.


“Apa kabar Andreas.. Monika.” Sapa Alya dengan senyum terpaksa.


Pria yang Alya sebut Andreas itu mengangguk, begitupun monika.


“Aku baik, kamu gimana?” Tanya Monika balik.


Alya mengangguk. “Aku juga baik.”


Monika yang mendengar itu manggut-manggut, beda halnya dengan Andreas yang diam saja. Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Alya, dan hal itu juga tak luput dari pengawasan mata tajam Kevin.


“kamu kemana aja Al? beberapa hari ini kamu gak pernah masuk kampus dan di apartemen juga sepi. Tetangga kamu bilang, katanya kalian pergi. Kalian pergi kemana? Apa kamu tahu, Selama ini aku mencari kamu.” Ucap Andreas panjang lebar tanpa di jeda.


Alya yang mendengar itu menjadi tak enak, ia tak menyangka ternyata Andreas mencarinya.


“Eum.. Maaf ndre gak kasih tahu dulu tapi aku udah pindah kuliah disini.” Sahut Alya.


Seketika Mata Andreas melebar. “Apa! Pindah kuliah? Kenapa?”


“Ada satu alasan yang gak bisa aku ceritakan ke kamu, maaf ndre.”


Andreas diam, wajahnya berubah sendu. lalu matanya melirik ke lengan Alya yang melingkar di lengan kevin, kemudian naik menatap wajah kevin. Setelahnya kembali menatap Alya dengan tatapan tak suka.


“Dia siapa Al?” Tanyanya.


“Oh, hampir lupa. kenalin, dia Kevin, suamiku.” jawab Alya.


Mendengar kata suami membuat kedua mata Andreas melebar, beda halnya dengan Monika yang nampak biasa-biasa saja.


Namun Andreas hanya diam tak merespon, wajahnya berubah kaku dan rahangnya mengeras. Monika yang menyadari suasananya menjadi tegang langsung ambil posisi, dia pun langsung menerima uluran tangan Kevin dan menyebutkan namanya.


“halo pak Kevin, saya Monika. Saya direktur PT perkasa, dan perusahaan kita pernah menjalin kerja sama. Apa bapak masih ingat?”


“ya, tentu.” sahut Kevin datar, lalu dengan cepat menarik kembali tangannya.


Monika nampak tersenyum senang, karena Kevin masih mengingatnya. Meskipun pada saat itu ia tak bertemu langsung dengan Kevin, melainkan dengan Dylan. Akan tetapi dia merasa sangat bahagia, ternyata benar apa kata rekan-rekan bisnisnya tentang siapa Kevin. Pria itu memang sangat terlihat masih muda dan tentunya sangat tampan jika bertemu langsung, namun memiliki aura arogan dan mengintimidasi.


“senang bisa bertemu dengan anda pak Kevin.” Ucapnya sambil tersenyum senang


“Hm.” ia berdehem, lalu merengkuh pinggang Alya posesif. “Apa kalian teman kuliah ISTRIKU?” Tanyanya dengan nada penekanan di akhir katanya.


Kevin sadar pria yang ada di depannya itu terlihat geram, dia meyakini pria itu dan istrinya ada hubungan lebih dari sekedar berteman. Sebagai sesama pria tentu dia tahu arti tatapan Andreas pada Alya saat mereka berbicara tadi, disana Kevin melihat ada perasaan cinta dan kerinduan seorang pria pada gadis pujaannya.


“Iya, kami dulu satu kampus di universitas yang sama waktu di Korea.” untuk kesekian kalinya Monika yang menjawab.


Kevin yang mendengar itu manggut-manggut.


“Kamu beneran udah nikah Al?” Tanya Andreas, mata pria itu nampak merah.


“Iya. Memangnya kamu gak lihat beritanya?” Ucap Alya balik nanya.


“Aku lihat tapi aku gak percaya, aku pikir itu berita hoax.” Sahut Andreas lirih.


Alya nampak tersenyum manis, senyuman yang mampu membuat Andreas jatuh hati. Namun sayangnya sekarang wanita itu sudah di miliki oleh laki-laki lain.


“Sekarang kamu sudah bertemu langsung dengan suamiku, berarti sekarang percaya kan?”


Andreas mengangguk kecil. Pria itu diam sejenak, hingga akhirnya kembali bersuara yang mana membuat Alya bingung.


“Kenapa kamu bohong Al.”


“Aku bohong apa sama kamu?” Tanyanya.


“Selama ini kamu nolak lamaranku bukan karena ingin fokus kuliah, tapi karena dia kan?” Tuduh Andreas seraya jari telunjuknya mengarah ke wajah Kevin, namun matanya masih tertuju pada Alya.


Mendengar itu Alya nampak salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Kevin yang mendengar itu terlihat kaget, bukan karena status pernikahannya, tapi lebih ke kata  'nolak lamaranku.'


Dari situ saja Kevin sudah paham jika dugaannya adalah benar, Andreas dan Alya memang ada hubungan khusus.


“Maaf Andreas dan Monika kami pergi duluan, udah di tunggu soalnya. Permisi.. ayo Vin.”


Bukannya menjawab, Alya malah berpamitan pada dua orang yang ada di depannya dan langsung menarik lengan suaminya agar segera masuk ke tempat acara.


Kevin tak bersuara, dia menurut saja saat istrinya menariknya untuk segera masuk ruang pesta. Di depan ruangan sana sudah ada dua orang pria berbadan tinggi dan kekar sebagai penjaga.


Sama seperti pengawal dan pelayan yang ada dirumah, Saat Kevin dan Alya melintas dua pria itu menundukkan kepalanya.


Sedangkan Andreas dan Monika masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian pasangan itu dengan pikiran masing-masing. Wajah Andreas nampak sedih dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


“iklhaskan dia ndre.” Ucap Monika lirih, dia merasa prihatin dengan pria itu.

__ADS_1


Andreas menggeleng. “Gak bisa segampang itu, gue yang selama ini berjuang kenapa yang dapat malah pria itu.” Cetusnya.


“Itu tandanya Lo sama dia gak jodoh, udahlah diluar sana masih banyak cewek yang ngantri yang mau jadi pacar Lo.”


Andreas menggeleng. “Gue gak mau yang lain, gue maunya Alya!”


“Tapi dia udah nikah ndre, dan Lo udah tahu siapa suaminya! Kalau pun mau bersaing pasti akhirnya Lo yang kalah.”


Mendengar itu Andreas diam, apa yang diucapkan Monika memang benar. Kevin bukan tandingannya. Soal tampang mungkin mereka masih setara, tapi soal kekayaan tentu keluarga Kevin lebih unggul.


“Lebih baik kita masuk lagi kedalam, pasti disana om sama Tante nyariin Lo.”


Monika ingin menarik lengan Andreas agar kembali masuk dalam pesta, namun pria itu menepisnya.


“Lo aja, tolong bilangin ke mereka gue balik duluan!”


Selepas itu Andreas berbalik badan dan pergi begitu saja. Monika yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, kemudian memilih masuk ke dalam pesta.


...💐💐💐...


“Akhirnya pasangan yang tunggu-tunggu datang juga! Habis kemana aja kalian, hem?”


Terdengar suara Dylan menggema saat melihat Kevin dan Alya jalan ke arahnya, dan hal itu membuat para tamu undangan menoleh padanya.


Sebagian para tamu-tamu itu nampak berbisik-bisik sambil memasang wajah berbagai ekspresi, dan tak lupa pandangan mereka yang menatap penampilan Alya, mungkin orang orang itu sedang menilai perempuan yang Kevin bawa dan digadang-gadang sebagai istrinya.


“Mentang-mentang pengantin baru, hobinya mojok Mulu!” cibir dylan lagi dengan nada sedikit kencang.


“Ngomong apaan sih Lo!” Cetus Kevin. “Dan bisa gak suara Lo dikecilin dikit, orang orang pada lihatin kita!” Sambungnya.


Dylan terkekeh geli. “Gue emang sengaja, biar mereka pada tahu siapa nona muda dirgantara sekarang.” Bisiknya.


Mendengar itu Kevin nampak mengangkat sebelah alisnya, pasti sebelum ia datang ada sesuatu yang terjadi.


“Lo gak tahu aja dari tadi kuping gue udah panas dengerin omongan mereka yang jelek-jelekin Alya karena mengira udah gagalin pernikahan Lo sama Mayra, dan yang lebih parahnya lagi mereka mengatai bini Lo itu pelacur! Sumpah ya kalo kagak ingat mereka perempuan, udah gue bawa ke ring tinju.”


Kevin tak langsung merespon ucapan dylan, tapi dalam hati ia merasa kesal juga. meski ia tahu Alya pernah tidur dengan Dylan, tapi bukan berarti orang lain bisa menghinanya. Dan sepertinya Dylan sendiri juga tak terima itu, makanya pria itu saat nampak kesal.


“Punya nyali gede juga mereka! Siapa aja? Lo pada kenal gak?” Tanya Kevin.


“Pastilah. Kebanyakan dari mereka itu fansnya Mayra dan antek-anteknya, sebagiannya lagi ada anak pak restu dan pak Anjas.”


Kevin nampak menyeringai saat Dylan menyebut nama dua orang yang kebetulan rekan bisnis perusahaannya.


“Lo tahu kan setelah ini tugas Lo apaan?”


“beres, Udah gue atur!”


“Bagus.”


Alya yang melihat gelagat dua pria yang ada di depannya itu mengernyit curiga, terlebih mereka bicara sambil berbisik-bisik. Batinnya menerka, pasti ada yang direncanakan oleh mereka.


“Ngomong-ngomong kok gue dari tadi gak lihat wartawan? Di bawah juga sepi.” tanya Kevin.


“Emang gak ada.” jawab dylan.


“Kenapa? Bukannya mereka udah pada tahu ya soal ini.”


“Bang Rafa yang pengen para wartawan itu gak usah datang, dia mau pernikahan ini digelar secara tertutup. Lagian ada bagusnya juga sih, Alya dan Selena bisa aman untuk sementara.”


Kevin yang mendengar itu mengangguk mengerti, lalu melirik heran saat Dylan mendekat, kemudian merangkul bahu lebarnya.


“Bagaimana? Udah cetak gol berapa semalam?” Tanya Dylan dengan kedua alisnya naik turun sambil menyeringai.


Kevin mengernyit tak mengerti. “Maksud Lo?”


“Ah elah masa Lo kagak ngerti sih?”


“Ya emang gue gak ngerti.”


“jangan pura-pura polos deh Lo, gue tahu Lo pasti paham apa maksud gue.”


Kevin tak langsung menjawab, dia menatap wajah kakak keduanya dengan kesal. Dia memang benar-benar tak paham dengan ucapan Dylan, Alya yang mendengarnya pun ikutan bingung.


“gak jelas Lo ah!”


“CK! Maksudnya kalian udah malam pertama belum? Gimana Al, punya dia gede gak? Lebih gede gak dari punya gue?”


Mendengar itu sontak saja membuat Kevin membulatkan matanya, Dia pun langsung menyingkirkan lengan kakak keduanya itu. Sama halnya dengan Alya yang juga kaget dengan pertanyaan Dylan, tak menyangka pria yang kini menjadi kakak iparnya itu berani bertanya begitu.


“Bacot Lo bisa gak sih di jaga dikit, ini tuh tempat rame!” Desis Kevin.


“Hehehehe..” dengan tak berdosanya Dylan malah cengengesan. “Sorry lah Vin, gue kan penasaran. Lo bisa gak bikin anak, soalnya selama ini Lo kan alergi banget sama cewek.” ucapnya.


“Sembarangan aja kalo ngomong, jelas bisalah. Cuman bedanya punya gue gak kayak punya Lo, murahan!”


“Heleh.. Lo nya aja yang belum rasain, coba aja kalau udah. Gue jamin bakal ketagihan terus. Tapi tetap di satu tempat ya, jangan ditempat lain. Awas aja Lo!”


Kevin tak menjawab ucapan Dylan, dia pun pergi dari sana sambil menarik tangan Alya menuju ke tempat Anjeli berada. Disana neneknya nampak di kursi tamu sambil mengobrol dengan beberapa tamu undangan lainnya.


“Grandma.” Panggil Kevin saat sudah didekat neneknya itu.


Sosok wanita tua namun masih terlihat sangat cantik dan berparas bule itu menoleh ke asal suara, wajah yang tadinya nampak serius kini berubah hangat. Dia tersenyum lebar saat melihat cucu kesayangannya datang.


“Oh.. cucuku akhirnya datang juga.” Ucapnya sambil jalan mendekat, merentangkan kedua tangannya agar Kevin lari ke pelukannya.


Satu hal kebiasaannya setiap kali kevin datang menemuinya, Anjeli selalu merentangkan tangannya dan kevin akan berlarian padanya dan berakhir di pelukannya.


Kalau dulu dia harus berjongkok dulu untuk menyamai tinggi badan Kevin waktu kecil, kini sekarang dia harus berjingjit karena bocah kecil itu sudah tumbuh dewasa dengan postur tubuh lebih tinggi darinya.


Tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Alya, Kevin berjalan cepat ke arah Anjeli lalu memeluk wanita itu dengan satu tangan.


“Kemana aja sih, lama banget.” Ucap Anjeli seraya melepaskan pelukannya.


“Biasalah, anak muda.” Sahutnya.


“Ck, kamu ini..”

__ADS_1


Lalu pandangan Anjeli mengarah ke Alya, yang mana itu membuat perasaan gadis itu tak karuan karena wanita tua yang suaminya panggil Grandma itu menatapnya lekat.


__ADS_2