
“gimana ini sayang?” tanya Kevin pada Alya.
Alya yang melihat itu tersenyum, seraya tangannya terulur mengusap lembut rahang Kevin yang kasar karena ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.
“gak apa-apa kita samperin aja mereka.” jawabnya.
Kevin meraih tangan Alya, lalu menggenggamnya. Ibu jarinya bergerak untuk mengelus permukaan punggung tangannya.
“tapi disana ada Fani sayang, aku takut dia bakal nyakitin kamu!”
“hanya kak Fani aja kan? Gak apa-apa kok. Aku yakin pasti sebelumnya kak Jeremi sudah memperingatinya, dan dia juga pasti udah tahu dengan kabar Tiara.”
Kevin bisu Sejenak, otaknya mengiyakan ucapan Alya. Tanpa harus di gembar-gembor, Fani pasti tak akan berani berbuat ulah setelah apa yang telah ia perbuat dengan keluarga temannya itu. Meskipun begitu tetap saja Kevin merasa cemas, ia tak mau kecolongan lagi.
“tap--”
“tenanglah Vin, aku bakal baik-baik aja kok. Lagian tadi kamu bisa lihat sendiri, disana dia hanya sendiri Gak sama teman-temannya. Selain itu disana juga ada Tina, dia pasti akan menjagaku. Udah ya, gak usah mencemaskan apapun lagi.” potong Alya.
Kevin mendesah pelan, sebelum akhirnya mengangguk. Melihat itu Alya tersenyum senang, lalu merengsek masuk ke dalam dekapan hangat sang suami. Berharap dengan perlakuannya itu membuat Kevin tenang, dan tak terlalu mencemaskan tentang dirinya.
Karena Alya tahu, gejala paling berbahaya untuk penderita anxiety adalah jangan membebaninya dengan pikiran buruk. Terlebih Kevin mudah sekali emosi, dan suka tak terkontrol jika sudah terpancing.
Sekali lagi. Kevin mendesah pelan, seraya sebelah tangannya merengkuh pinggang alya agar bisa menempel dengan tubuhnya, sedangkan tangan satunya mengusap lembut kepalanya dan bibirnya melayangkan kecupan di keningnya.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, duduk di jok belakang. Sedangkan Sean sudah standby di kursi depan, bagian pengemudi. Posisinya masih di baseman gedung hotel.
Beberapa menit yang lalu Kevin dapat panggilan video dari Jeremi, dan mengatakan untuk menyuruhnya dan alya untuk datang ke villanya yang ada di daerah puncak.
Awalnya Kevin sempat kaget darimana sahabatnya itu tahu tentang keberadaannya yang ada di Bogor, namun setelahnya ia mengerti setelah Jeremi menjelaskan bahwa ia mengetahui itu lewat postingan Alya di akun instagramnya dan sempat melacaknya. Keterkejutannya semakin bertambah begitu tahu semua teman-temannya sudah berkumpul disana, terlebih dengan keberadaan 3 wanita yang mereka bawa.
Namun Kevin tak langsung mengiyakan perintah Jeremi, dia malah langsung mematikan sambungan teleponnya dan memilih mengabaikannya. Tapi sepertinya tidak untuk Alya, karena istrinya itu terus membujuknya untuk segera menyusul.
Dan.. disinilah mereka, berunding tentang ajakan Jeremi di dalam mobil yang masih nangkring manis di baseman hotel yang terlihat sangat sepi.
“kamu yakin dengan keputusanmu itu, Hem?” tanya Kevin memastikan, seraya menundukkan wajahnya untuk menatap Alya.
Dalam pelukan sang suami Alya mengangguk, lalu mendongak. “iya. Lagian udah lama juga kan kamu gak nongkrong sama mereka? Anggap saja ini sebagai reuni, karena aku yakin setelah ini kalian gak bakal ada waktu buat kumpul bareng.” jawabnya.
Alya jelas tahu tentang kesibukan mereka yang kini sudah menjadi bos di perusahaan keluarganya masing-masing, terlebih Samuel dan jeremi. Dua pria yang kini menjadi dokter spesialis dan pengacara, tentunya sebagian waktunya akan dihabiskan ditempat kerja.
Kevin yang mendengar ucapan terakhir Alya mendengus. “aku tak perduli dengan itu, yang aku pikirkan cuma kamu Alya. Gak ada hal lain lagi!” ujarnya.
Alya melonggarkan pelukannya, menatap penuh wajah Kevin seraya tangannya menyentuh dada bidangnya. “sudah kubilang, aku akan baik-baik saja vin. Udah ya kita berangkat sekarang, takut macet dijalan.”
“baiklah, tapi sebelumnya kita sarapan dulu.” ucap Kevin pada akhirnya.
Ia lebih baik memilih mengalah ketimbang harus terus berdebat, Yang ada nanti kejadian saat di kamar hotel tadi kembali terulang.
“aku pengen makan sushi.” pinta Alya, yang langsung di sanggupi oleh sang suami.
Setelah itu kevin memerintahkan Sean untuk menjalankan mobilnya, mencari restoran Jepang yang sudah buka.
...💐💐💐...
Sementara itu di villanya yang ada di daerah puncak, Jeremi nampak menghela nafas panjang. Matanya menatap ke pemandangan luar yang menampilkan kebun teh yang luas, dan beberapa anak gunung yang sebagiannya tertutup awan putih.
Saat ini ia tengah berdiri seorang diri di balkon villa yang letaknya berada di lantai atas, seraya kedua tangannya bersedekap dada. Dalam otaknya tengah memikirkan bagaimana caranya agar Kevin mau datang ke villanya dengan membawa Alya, karena tadi saat ia menghubunginya raut wajah sahabatnya itu terlihat kesal dan langsung menutupnya.
Sejam yang lalu ia bersama teman-temannya sudah sampai di villa, kedatangannya yang tiba-tiba itu disambut hangat oleh mang Asep. Seorang pria paruh baya berbadan sedikit gemuk, yang selama ini tugasnya untuk merawat villa milik keluarganya. Saat di perjalanan tadi Jeremi memang sudah menghubunginya untuk menyiapkan beberapa kamar, dan bahan makanan karena ia ada rencana ingin membuat pesta kecil-kecilan disana.
Setelah meremeh-temeh dengan mang Asep, Jeremi memerintahkan pria itu untuk mengantarkan teman-temannya ke kamar yang sudah di persiapkan. Beda halnya dengan dirinya yang memilih berdiam diri dulu di balkon, sembari menikmati suasana alam yang sejuk.
“sayang.”
Jeremi mengerjap kaget saat mendengar itu, dengan cepat ia pun menoleh ke belakang dan melihat wujud Fani sudah berdiri di ambang pintu balkon.
“kenapa kamu kesini, gak istirahat?” tanyanya dengan suara lembut.
Fani menggeleng, lalu jalan mendekati Jeremi dan langsung memeluknya erat.
“aku bosan.” jawabnya.
“kan ada Tina, kamu ajak dia aja ngobrol.” sahut Jeremi, seraya menurunkan kedua tangannya dan beralih merengkuh tubuh langsing kekasihnya itu.
“dia jutek dan irit bicara, aku gak suka!” balas Fani dengan wajah cemberut.
Jeremi yang mendengar itu tertawa pelan, ia sudah tak heran lagi dengan sifat Tina yang cuek.
“tina memang begitu kalau sama orang baru, tapi kalau udah akrab dia akan berubah cerewet. Asal kamu pinter narik Perhatiannya.”
“iyakah? Berarti sama dong kayak Kevin dan Dimas, mereka kan sama-sama jutek dan irit bicara.”
Jeremi berdehem pelan. ‘dan ajaibnya ketiga orang itu akan berubah cerewet hanya di depan satu orang, yaitu alya!’ batinnya menggerutu.
Jeremi tak mengerti, kekuatan apa yang Alya miliki sehingga bisa meluluhkan tiga orang yang memiliki kepribadian introvert itu. Terlebih Kevin, teman satunya itu sampai tergila-gila dengannya.
Tapi jika dipikirkan lagi, Alya memang bukan gadis sembarangan. Selain cantik dan pintar, Dia juga memiliki attitude yang bagus, mandiri, tulus dan kesabaran ekstra. Tak heran jika sahabatnya itu begitu dalam mencintainya, bahkan sampai depresi saat kehilangannya.
“oh iya ngomong-ngomong soal Kevin, dia jadi gak datang kesini?” tanya Fani, seraya mendongak menatap Jeremi.
Jeremi yang mendengar itu menghela nafas. “entahlah, dia belum kasih kabar lagi. Kamu pasti udah lihatkan ekspresi wajahnya kayak apa tadi?”
Fani mengangguk, wajahnya berubah muram. “pasti karena kehadiranku disini, dia takut aku bakal nyakitin Alya lagi.”
Jeremi diam sejenak, ia menatap lekat wajah fani. “semua manusia yang ada di dunia ini tak pernah luput dari kesalahan, semuanya pasti punya masa lalu. Begitupun dengan kamu, asal kamu gak akan mengulanginya lagi. jadi jangan terlalu di pikirkan. Okey?”
Fani kembali mengangguk, lalu menghela nafas panjang. Ia memang sudah lama menyadari akan kesalahannya itu, dan sudah menghindarinya. Namun Bayangan akan tingkah buruknya di masa lalu kembali menghantui, dimana ia selalu menyakiti Alya bersama teman-temannya hanya karena ia iri. Dari semua gadis yang satu sekolah dengannya, hanya Alya yang bisa kenal akrab dengan geng yang diketuai oleh Kevin. Tentunya Kecuali Jeniffer, karena Fani tahu Kevin sudah kenal Jeniffer sejak awal masuk sekolah.
__ADS_1
The Worldwide Boys.
Itulah nama geng Kevin dan teman-temannya semasa sekolah dulu, hingga sekarang. Sebuah geng yang di isi oleh 6 pria tampan dan kaya, serta dikenal sebagai siswa teladan.
Sebenarnya anggotanya ada 7, hanya saja waktu SMA hingga kuliah mingyu tidak sedang berada di Indonesia. Dia memilih melanjutkan studinya di Amerika, dikarenakan waktu itu ayahnya dipindah tugaskan ke negara itu.
Jika biasanya di setiap geng anak sekolahan, terlebih ini anggotanya cowok semua pasti selalu berbuat nakal, beda ceritanya dengan the worldwide boys. Mereka dikenal baik dan selalu menaati aturan sekolah, selain itu mereka juga sering memenangkan lomba antar sekolah. Seperti lomba cerdas cermat, hingga ke perlombaan olahraga. Khususnya basket. Jadi tak heran jika seluruh siswi Yang ada disana sangat tergila-gila padanya, bahkan hanya sekedar bisa dinotice saja sudah di anggap anugerah paling terindah.
Namun sayangnya tak semudah itu, karena dari keenam cowok itu ada dua anggota yang terkenal cuek dan dingin. Siapa lagi jika bukan Dimas dan Kevin, namun dua cowok itu hanya bisa diluluhkan oleh satu gadis. Yaitu Alya.
“aku ingin minta maaf sama dia, tapi aku takut.” ujar Fani.
Jeremi mengernyit. “takut kenapa?”
Sejenak Fani membisu, ia menggigit bibirnya bawahnya. “aku takut Alya tak mau maafkan aku, kan karena aku dia sampai punya trauma sama hujan dan gelap. Selain itu.. aku juga takut ketemu sama Kevin, setelah dengar berita Tiara.”
Niatan itu sebenarnya sudah lama sekali Fani ingin lakukan, semenjak ia tahu Alya sudah kembali dari tempat persembunyiannya dan masuk kuliah yang sama dengannya. namun seperti apa yang tadi ia ucapkan, Ia takut.
Nyalinya semakin menciut setelah dapat kabar tentang pernikahannya dengan Kevin, dan juga tentang keluarga sahabatnya yang mendeportasikan perusahaannya. Belum lagi dengan kabar Tiara yang kini sudah pindah kuliah ke luar negeri oleh ayahnya, setelah insiden menghina Alya di kampus tempo hari.
Pada hari itu dia ada disana, hanya saja tak ikut nimbrung. Karena memang semenjak ia menyadari akan kesalahannya itu, hubungan pertemanan Fani dan Tiara tak seakrab dulu.
Kini giliran Jeremi yang bisu, ia sebenarnya juga tak yakin Alya akan langsung memaafkan Fani. Terlebih akibat dari kelakuannya itu telah membuat Alya memiliki trauma, dan selalu takut jika berinteraksi dengan orang lain.
“jangan takut, ada aku disini yang akan melindungimu.” ucapnya, lalu mendekap erat tubuh Fani.
...💐💐💐...
Kevin dan Alya sudah tiba di restoran yang dituju, setelah mendapat tempat parkir bergegas pasutri itu pun keluar dari mobil, setelah sebelumnya pintunya sudah dibuka oleh Sean.
Seperti biasa, Kevin selalu menggenggam erat tangan istrinya dan tentunya memamerkan kemesraan di depan publik. Suasana restoran yang mereka datangi belum terlalu ramai, mungkin karena masih pagi.
“kita duduk disana aja ya Vin, lebih adem.” ucap Alya, seraya menuding ke satu arah meja yang dekat dengan tanaman hias.
Kevin pun mengikuti arah yang di maksud sang istri, kemudian mengangguk setuju. Setelahnya mereka pun jalan kesana, diikuti oleh Sean dibelakang.
“kayaknya restorannya belum lama buka, para pegawainya masih pada beberes.” celetuk Alya saat sudah duduk, seraya matanya melirik ke arah dalam restoran.
Lagi-lagi Kevin mengikuti arah pandang Alya, dan memang benar ada tiga karyawan pria yang masih menata kursi dan mengelap meja, satunya berada di meja kasir yang entah apa yang dikerjakan. Namun sudah ada beberapa orang lain yang sudah duduk di dalam selain Alya dan Kevin, entah orang itu beneran konsumen atau pemilik restoran karena meja yang mereka tempati nampak kosong.
Pandangan Kevin kembali teralih sepenuhnya ke wajah Alya, seraya sebelah tangannya menggenggam tangan istrinya.
“mau pindah?” Tanyanya.
Alya menggeleng. “gak perlu, aku udah lapar banget.”
Kevin pun langsung memanggil pelayan dengan sebelah tangannya terangkat, dan tak lama setelahnya datang pelayan wanita sambil membawa buku menu dan sehelai kain.
“maaf pak buk, kami baru saja buka dan tidak tahu kalau sudah ada konsumen lain datang.” ujarnya dengan suara bergetar, lalu tangannya mengelap meja dengan gerakan cepat.
Sang pelayan pun membalasnya dengan senyuman kikuk, sejenak melirik ke arah Kevin lalu meletakkan buku menu di meja. Hal itu ia juga lakukan ke tempat duduk Sean, yang letaknya berada di belakang kursi Kevin.
“silahkan pak Bu dipilih menunya.”
Alya menyambutnya, dan mulai memilah makanan apa yang ingin dia coba. Begitupun dengan Kevin dan sean yang juga ikutan memilah. Dirasa sudah mantap, Alya menyebutkan beberapa menu Handalan di restoran tersebut. Di ikuti oleh kedua pria itu, Dan sang pelayan dengan cekatan langsung mencatatnya.
“baik, pesanannya akan segera datang dimohon tunggu sebentar.” ucap sang pelayan, yang langsung mendapat anggukan dari Alya dan Kevin.
Setelah itu sang pelayan kembali mengambil buku menunya, dan berlalu pergi.
Sambil menunggu pesanannya datang, Alya memilih bermain ponsel. Berselancar ke media sosialnya, siapa tahu ada kabar yang seru. Sedangkan Kevin hanya diam memperhatikan, sambil tangannya memainkan ujung rambut istrinya.
Drrttt..
Terdengar suara getaran, yang ternyata berasal dari saku baju milik Sean. Pria bule itu langsung meraihnya dan beranjak berdiri setelah tahu siapa yang menghubunginya, kemudian dia menoleh ke pasutri itu.
“maaf tuan nona, saya ijin permisi dulu. Mau terima telpon dari saudara saya.” ucapnya.
Kevin nampak mengangguk dan berdehem pelan, tanda mengijinkan. Setelahnya Sean langsung melipir pergi, mencari tempat yang menurutnya sepi.
Sepeninggalan Sean, Kevin malah merasakan kantung kemihnya penuh. Namun ia memilih menahannya sampai Sean kembali, karena tak mau meninggalkan Alya sendirian.
Tapi sayangnya hasratnya yang ingin membuang hajat tak bisa dibendung lagi, ia sampai mengetatkan rahangnya dan tubuhnya bergerak gusar karena saking tak tahan.
‘ah sialan, gue udah gak tahan lagi! ini juga Sean kenapa gak balik-balik sih?’
“aw! Vin, kenapa kamu narik rambut aku?”
Pekikan Alya sukses membuat Kevin kaget, ia menatap wajah sang istri dengan wajah tak karuan. Tak menyadari jika tangannya masih memegang ujung rambutnya, dan menariknya.
“ma-maaf sayang, aku gak sengaja.” ucapnya sedikit terbata, seraya kedua tangannya mengelus kepala alya.
“sakit gak?”
“sakit lah, kamu nariknya kenceng banget tadi!” cetus Alya, seraya menatap jengkel sang suami.
“maaf sayang, aku benar-benar gak sengaja.”
“kamu kenapa sih?” tanya Alya, seraya menatap lekat wajah Kevin.
Kevin menggeleng. “gak apa-apa!”
“terus kenapa wajahmu merah, dan juga.. aku perhatikan cara duduk kamu kayak gelisah gitu.”
“aku gak apa-apa sayang, cuma..”
“cuma apa?”
__ADS_1
“kebelet!” desisnya.
Alya yang mendengar itu mengangkat kedua alisnya. “ya udah ke toilet sana.” titahnya.
Namun Kevin menggeleng. “aku gak gak mungkin ninggalin kamu sendirian disini.” tolaknya.
“gak apa-apa, cuma bentar. udah sana!”
“tapi--”
“kevin, menahan hajat itu gak baik. Yang ada nanti timbul penyakit, udah sana pergi ke toilet.”
Kevin ragu.
“kevin.” geram Alya.
Kevin menghela nafas. “iya, iya.”
setelahnya Kevin beranjak pergi, langkahnya sedikit cepat karena sudah tak tahan lagi. Alya yang melihat itu nampak menahan senyum, sambil geleng-geleng kepala. Lalu kembali melanjutkan bermain ponsel.
Sementara itu tak jauh dari lokasi Alya duduk, lebih tepat di jalan raya nampak ada 2 wanita paruh baya. Penampilan mereka yang hampir mirip seperti ibu-ibu kost itu jalan tergesa-gesa, seraya dua pasang bola matanya menatap liar ke sekitar.
“kau yakin dia ada disini?” tanya seorang ibu dengan wajah menor, tubuhnya sangat gemuk dan memakai pakaian nyentrik.
Ibu di sebelahnya dengan penampilan yang tak jauh berbeda, terlihat mengangguk. “benar. Tadi waktu aku mau beli nasi Padang, aku liat dia bersama 2 laki-laki muda dan ganteng kayak bule gitu. Pakaiannya modis kek orang gedongan!” jawabnya dengan penuh antusias.
“dua laki-laki itu pasti pacar gelapnya! Memang tak tahu diri tuh perempuan, gak malu sama umur! Mentang-mentang janda, daun muda pun di embat!” cetusnya.
“pastilah! Setelah gagal gaet suamimu, dia nyari korban lain. Xixixi..” balas temannya sambil cekikikan.
“ck! Pokoknya setelah ini kita harus berhasil usir dia, gak Sudi aku jika kontrakanku dihuni oleh wanita binal kayak dia!”
“setuju! Aku pun sudah Gedeg sama dia. Sok kecantikan!”
“Tapi.. sekarang dimana dia? Jangan-jangan dia kabur lagi?”
“kita cari dulu, siapa tahu dia masih ada disekitar sini.”
Setelahnya dua wanita itu celingukan, mencari orang yang mereka cari sambil terus melangkah. Mulut keduanya terus saja mengoceh tak jelas, sehingga menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.
Hingga langkah keduanya berhenti di depan palang bertuliskan tentang politik, dan itu tepat disamping restoran Jepang yang Alya dan Kevin sambangi.
“itu dia!” pekik teman ibu berbadan gemuk, seraya menuding ke satu arah.
Si ibu berbadan gemuk pun langsung mengikuti, namun ia tak menemukan siapa-siapa.
“mana sih?”
“itu yang lagi duduk sendirian di depan restoran!”
“ah iya! Akhirnya wanita itu ketemu juga, awas kamu ya!”
Mereka pun kembali melangkah, dan masuk ke pekarangan sebuah restoran Jepang. Langkah keduanya berayun ke tempat dimana ada Alya yang duduk sendirian, dan saat sudah dekat si ibu berbadan gemuk itu langsung menggebrak meja.
BRAK!
Alya terlonjak kaget saat mendengar itu, dan langsung mengangkat pandangan. Netra bulatnya menatap bergantian dua ibu-ibu yang sudah berdiri dihadapannya, dengan memasang wajah murka.
“hei nesa! Kau benar-benar ya, wanita tak tahu malu! Murahan! Pelacur! Setelah gagal menggoda suamiku, sekarang kau mau kabur. bayar dulu itu kontrakan, udah 5 bulan nunggak!” teriak melengking si ibu berbadan gemuk.
“tau nih, jadi orang kok gak bertanggung jawab sama sekali! Cepat bayar sekarang juga!” balas ibu di sebelahnya.
Sedangkan Alya hanya diam saja, mungkin lebih tepatnya bingung. Ia sama sekali tak mengenali dua ibu-ibu yang ada didepannya, apalagi dengan pembahasan mereka.
“maaf, kalian siapa ya?” tanyanya.
“malah pura-pura lupa dia? Udah deh gak usah banyak drama, sebaiknya kamu bayar sisa uang sewanya atau pergi dari kontrakan ku!”
Alya menggeleng. “aku tak paham dengan ucapan kalian. Uang kontrakan apa, ak--”
“alah banyak alasan kamu! Aku lihat kau memakai banyak perhiasan mahal, dan kamu juga punya hp bagus. sini berikan padaku!”
Dengan gerakan cepat tangan teman ibu berbadan gemuk itu merebut ponselnya, dan juga melepas semua perhiasan yang ada di jarinya. termasuk cincin kawin dan gelang pemberian Kevin, hal itu tentu saja sukses membuat Alya langsung berdiri, matanya membola.
“apa yang kau lakukan, kembalikan barang-barangku!” seru Alya, seraya ingin merebut benda-benda berharganya.
Namun ibu itu langsung menghindar, menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya. Ia mengangkat dagunya, menantang Alya.
“kau jangan serakah ya nesa, membeli barang-barang mewah ini saja bisa! Masa bayar kontrakan yang sebulannya hanya 300 ribu tak mampu.” ujarnya.
Alya kembali menggeleng. “Kalian sepertinya salah orang, aku bukan nesa dan aku juga tak mengerti dengan ucapan kalian. Sekarang kembalikan barang-barangku!”
Sejenak kedua ibu itu diam, lalu saling berpandangan. Kemudian kembali menatap Alya, dan berakhir tertawa.
Alya yang melihat itu jelas saja bingung, tadi marah-marah tak jelas dan sekarang tertawa tanpa sebab. Dalam otaknya meyakini jika dua ibu-ibu didepannya adalah orang gila.
Tanpa sadar akibat kericuhan yang di sebabkan oleh dua ibu-ibu itu menarik perhatian seluruh pelayan restoran, dan beberapa orang yang lewat. Tak terkecuali Sean yang kini sudah kembali, dan sudah berdiri dibelakang tubuh Alya.
“sudahlah nesa kamu jangan mengelak terus, apa kamu tidak lelah. Hah!” bentak si ibu berbadan gemuk.
“aku tidak sedang mengelak, kalian itu salah orang!” pekik Alya.
Ibu berbadan gemuk itu terlihat geram, ia pun maju selangkah sebelah tangannya terangkat ke kepala Alya dan ingin menjambaknya. Namun sayangnya jadi, saat sebuah tangan kekar menahannya.
“sekali saja kau berani menyentuh istriku, aku pastikan akan membuat tangan ini lepas dari tubuhmu!”
DEG!
__ADS_1