TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 24~Kecerdikan Kevin


__ADS_3

Setelah menempuh hingga satu jam akhirnya Chandra sampai dirumah Selena, dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Membuka sealbelt yang membelit tubuhnya, lalu membuka mobil dan segera keluar. Dengan langkah pasti, Chandra berjalan mendekati rumah yang nampak sepi itu.


Tok.. Tok.. Tok..


Chandra mengetuk pintu yang berwarna putih dan tertutup rapat itu, namun tak ada jawaban. Rumah itu benar-benar nampak sepi tak berpenghuni.


Padahal kenyataannya di dalam sana ada adinata, namun pria itu sedang ada di kamar atas. Setelah kepergian Rendy untuk menjemput istri dan keponakannya, adinata memang langsung masuk.


Dia sedang bertekuk serius di depan layar laptop, mengerjakan beberapa urusan kantor yang sekretarisnya kirimkan. Hingga sekarang pria paruh baya itu tak keluar lagi.


Chandra masih penasaran, dia pun jalan ke jendela, wajahnya mendekat dengan kedua tangannya menempel di kaca untuk melihat suasana di dalam. Sepi dan sedikit gelap yang dia lihat, mungkin dugaannya benar pemilik rumah memang sedang tak ada.


Chandra pun menjauhkan wajahnya dari jendela dan jalan mundur, dia mendesah kecewa karena tak bisa bertemu Selena.


BRUUMM!


Tin!.. Tin!..


Tepat pas Chandra balik badan di saat itu pula dia melihat sebuah mobil mewah warna hitam masuk ke pekarangan rumah Selena, kening pria itu berkerut saat kaca mobil itu terbuka dan menampakkan wajah Kevin disana.


Setelah mobil itu terparkir dengan sempurna, satu persatu orang-orang di dalam mobil pun keluar. Chandra terkejut saat melihat Selena keluar dari sana, wajah kecewanya seketika hilang dan di gantikan dengan senyuman sumringah. dengan cepat dia pun berlari ke arah wanita itu, dan langsung memeluknya.


“Sayang.. kamu kemana aja. Dari tadi aku telponin kamu tapi gak angkat, pesan juga gak di balas.” Ucap Chandra.


Selena tak langsung menjawab, dia terkejut dengan kehadiran Chandra dirumahnya. Terlebih pria itu langsung memeluknya erat, di depan keluarganya pula.


“Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!” Teriak Selena meronta setelah kesadarannya tiba.


Namun bukannya melepaskan, Chandra malah mempererat pelukannya. Pria itu melupakan dengan keadaan yang terjadi, dan lebih mementingkan perasaanya sendiri yang tengah merindukan Selena.


Sedangkan Selena terlihat berusaha melepaskan rengkuhan Chandra, namun hasilnya selalu gagal.


“Lepaskan!” Selena kembali berteriak, seraya menggerakkan tubuhnya agar bisa terbebas dari rengkuhan Chandra.


“Gak mau! Aku kangen sama kamu sayang.” Ucap Chandra dengan nada merajuk, dia seakan lupa daratan.


“lepaskan aku!” Seru Selena.


Rendy yang baru keluar dari mobil dan melihat adegan itu pun terkejut, begitu pula dengan yuna. dengan cepat pria itu bertindak, jalan mendekat lalu menyingkirkan tangan chandra dari Selena dan menyembunyikan wanita itu ke belakang tubuhnya.


Nampak, Selena langsung menghela nafas lega begitu terlepas dari jeratan Chandra.


Sementara Alya yang juga terkejut hanya bisa duduk di jok mobil belakang, ingin rasanya dia menendang pria itu. Tapi apalah daya, boro-boro untuk menendang, bangun saja dia harus ada bantuan. Alhasil dia hanya diam sambil menonton adegan yang cukup membuatnya kesal.


Lalu... Alya terpekik saat tubuhnya melayang, reflek kedua tangannya mengalung di leher Kevin yang ternyata sedang menggendongnya untuk memindahkannya ke kursi roda.


Gadis itu mengucapkan terima kasih dengan suara pelan dan seperti biasa Kevin membalasnya dengan deheman saja, tak lupa juga dengan wajah datarnya.


“Ngapain Lo kesini?” Tanya Rendy dengan nada sinis.


“Aku ingin menemui Selena.” Jawab Chandra.


“Gak ada! Sebaiknya Lo pergi dari sini dan jangan ganggu sepupu gue lagi!” Ujar Rendy dengan nada ketus, raut wajahnya nampak tak bersahabat.


“Tapi-”


“umma bawa masuk Selena dan Alya, biar pria brengsek ini jadi urusanku.” Titah Rendy pada yuna, setelah tahu Alya sudah duduk dikursi rodanya.


Yuna mengangguk tanpa berkomentar, lalu menggiring dua keponakannya untuk masuk rumah.


“Ayo nak Kevin, kamu juga masuk istirahat sebentar.” Ajak Yuna pada Kevin.


“Tak perlu Tante, setelah ini saya ada urusan lain yang harus di urus.” Tolak Kevin dengan nada sopan.


“Oh begitu, ya sudah hati-hati di jalannya ya dan terima kasih atas bantuanmu tadi. Kami masuk dulu.”


Kevin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah itu Yuna melangkah sambil mendorong kursi roda yang Alya duduki, begitu pula dengan Selena yang langsung pergi mengikuti langkah bibinya.


Melihat itu Chandra dengan cepat meraih tangan wanita itu, otomatis membuat langkah wanita itu terhenti.


“Lena, tunggu! Aku ingin bicara sama kamu soal tawaranku semalam.” Ucapnya.


“Gak ada yang harus dibicarakan, semuanya sudah selesai!” Sahut Selena tanpa menoleh, lalu menepis kasar tangan Chandra.


Chandra terhenyak mendengar ucapan Selena. “A-apa maksudmu?”


Selena tak menjawab, dia memilih kembali melangkah pergi.


“Lena..” seru Chandra, namun Selena tak perduli.


“Udah denger kan? Sekarang Lo pergi dan jangan berani menampakkan diri lagi dihadapan Selena, biarkan dia bahagia dengan pilihannya!” Sarkas Rendy, seraya tangannya menahan bahu Chandra.


“Tapi Selena sedang hamil anakku ren, dan aku harus tanggung jawab!” balasnya.


“Tanggung jawab?” Rendy tersenyum smirk. “Kenapa baru sekarang bilangnya, kemarin-kemarin Lo kemana aja? Bahkan Lo sendiri yang menyuruhnya untuk aborsi!”


Mendengar itu Chandra tergagap, dia tak mengelak. Apa yang di ucapkan Rendy memang benar adanya, tapi dia juga terpaksa melakukan itu.


“Maafin aku ren, kemarin itu aku terpaksa mengatakannya karena Renata mengancam akan menyebarkan video kami ke medsos. Tapi percayalah aku juga pengen tanggung jawab, tapi ini sulit.”


“Alasan!”


“Beneran ren! Aku sangat mencintai Selena, dan aku gak mau kehilangan dia.”


“Lo mencintainya dan gak mau kehilangan dia, jadinya Lo memperkosanya. Iya kan?”


DEG!


Chandra yang mendengar itu langsung bungkam, wajahnya tegang.


“D-dari mana kamu tahu soal itu? Apa Selena yang menceritakannya?” Tanya Chandra dengan mata melotot.


Rendy tak langsung menjawab, dia menatap sinis ke wajah Chandra. Dan tanpa aba-aba lagi dia langsung memberi beberapa bogeman mentah, yang membuat pria itu tersungkur ke tanah.

__ADS_1


BUK!


BUK!


BUK!


BUK!


Kevin yang melihat itu terkejut, dengan cepat dia menarik tubuh Rendy agar menjauh dari Chandra.


“Kak, tenanglah! Ini kita sedang ada diluar, kalau ada yang melihat kejadian ini pasti akan ada kabar buruk lagi.” Seru Kevin menahan tubuh tegap Rendy yang ingin kembali maju menyerah Chandra.


Lalu Kevin menoleh ke arah Chandra. “Sebaiknya Lo juga pergi dari sini, dan jangan bikin keributan lagi!”


“Aku gak akan pergi sebelum bicara sama Selena.” Keukeuh Chandra.


“Gak ada yang harus dibicarakan! Lo pasti udah lihat di pemberitaan kan? Kalo Selena dan Rafael akan menikah, jadi gue minta jangan ganggu kehidupan Selena lagi! Atau Lo mau gue bunuh!” ucap Rendy dengan nada tinggi, wajah pria itu merona menahan emosi.


Chandra menggeleng. “Enggak, aku gak percaya! Itu pasti cuma bohong, aku tahu Selena hanya mencintaiku!”


“Jangan pernah mengatakan cinta jika Lo gak paham apa artinya itu cinta! Gue beri tahu sama Lo, rasa yang Lo punya untuk Selena itu bukan cinta, melainkan obsesi!”


Chandra kembali menggeleng.


“Kalau Lo benar-benar mencintainya, Lo pasti gak akan nodai dia! Sekarang Terserah Lo mau percaya atau enggak, tapi yang jelas gue udah kasih tahu hal yang sebenarnya kalau selena akan menikah dengan Rafael! Pergi Lo dari sini!”


“Tapi ren aku-”


“PERGI!”


Chandra menghela nafas panjang, perlahan dia bangun dari posisinya sambil tangannya menyentuh wajahnya yang babak belur.


“Oke aku akan pergi, tapi perlu yang kamu ingat aku gak akan biarkan Rafael menikah dengan Selena. Aku pastikan itu!”


Setelah berucap seperti itu Chandra melangkah pergi, tubuhnya sedikit membungkuk karena menahan sakit.


“SILAHKAN AJA KALAU BISA!” Teriak Rendy.


Chandra tak menimpali dan terus berjalan masuk mobilnya, kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil Chandra mengamuk, dengan kesal dia memukul-mukul setir sambil mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata umpatan untuk Rafael.


“Aarrghttt! Gue bersumpah gue bakal hancurin hidup Lo Rafael! Gak akan gue biarkan Lo ambil Selenaku!”


...💐💐💐...


Sementara itu di kantor agensi nampak heboh, hampir semua staff kantor tengah menonton acara konferensi pers yang Kevin adakan pagi tadi di laptop masing-masing. Sepanjang menonton, tak henti-hentinya mulut mereka selalu bergerak mengomentari isi percakapan Kevin yang sudah di translate ke bahasa Hangul. Wajah mereka nampak kaget saat kevin mengatakan jika anak yang dikandung Selena adalah anak Rafael, bukan seperti yang sempat di beritakan.


Berita yang tadinya selena di kabarkan memiliki hubungan khusus dengan chandra langsung hilang, dan digantikan dengan nama Rafael.


Dalam dunia bisnis dan entertainment nama Rafael dirgantara memang tak asing lagi, wajah dan namanya sering muncul di semua media cetak maupun elektronik, ditambah dengan reputasi keluarga besarnya yang terkenal paling berpengaruh membuat berita itu cepat tersebar.


Dan Karena hal itu pula membuat saham GOLDEN ENTERTAINMENT yang tadinya hampir turun, kembali melonjak naik hingga 90%.


Tentu hal ini membuat banyak pihak terkejut dan tak menyangka yang mendengarnya. Bagaimana tidak, selama ini sosok Rafael terkenal tertutup dan hampir tak pernah ada gosip jika dia dekat dengan wanita dan lebih hebohnya lagi dia akan menikah dengan seorang model yang bernaung di agensi milik keluarganya sendiri.


Sebagian Para staf dan rekan kerja yang pernah berhubungan dengan Selena pun tak kalah heboh, mereka yang dulu pernah membully Selena habis-habisan merasa sangat menyesal karena pernah berbuat jahat padanya dan mereka berjanji akan meminta maaf padanya karena saat ini kelangsungan hidup mereka sudah bergantung di tangan gadis itu.


Tapi tak sedikit pula yang semakin membencinya, karena sudah berhasil mendapatkan Rafael yang hampir mendekati kata sempurna sebagai sosok suami idaman.


Sama halnya dengan para karyawannya, Rafael yang kala itu berada di ruangan yang biasa di tempati Hani juga sedang menonton acara itu. Pria itu tersenyum puas sekaligus bangga dengan kecerdikan adik bungsunya itu.


“Tepat dengan sasaran.” gumamnya.


Sesuai apa yang Kevin perkirakan, setelah kejadian konferensi pers itu terjadi semua pemegang saham langsung menghubunginya. Baik itu lewat kantor ataupun pribadi, mereka menanyakan soal apa yang Kevin ucapkan dan tentu saja Rafael membenarkan.


Kemudian dia melirik ke selembar foto usang yang ada di meja, matanya berkaca-kaca. Disana terpampang ada 3 orang, dua perempuan yang duduk di kursi kayu. Satu diantaranya tengah hamil sekitar 5 bulan dan ada satu pria yang berdiri di belakang dua wanita itu, ketiga orang itu menatap ke arah kamera dengan wajah tersenyum.


‘aku harap rencanaku ini tak akan gagal, dan semoga setelah ini Kevin akan hidup bahagia.’ gumam Rafael dalam hati.


Drrtt..


Tak berselang lama ponselnya bergetar, Rafael merogoh saku jasnya. Di layar itu terpampang nama 'mama marisa', tanpa berpikir panjang lagi dia pun segera mengangkatnya.


“Ya ma, ada apa?”


[Sayang, kamu lagi ada dimana?]


Suara Marissa terdengar heboh di telinga Rafael, apakah karena konferensi pers itu? Pasalnya disana terpampang nyata ada wajah Alya dan keluarganya. Besar kemungkinan papa-nya juga sudah melihatnya.


“Masih di kantor agensi dong ma, emang kenapa sih?” Tanya Rafael.


[T-tadi mama dan kakek lihat konferensi pers yang Kevin adain di tv. Mama juga tadi lihat ada.. ada Alya disana.]


Di akhir kalimatnya nada suara Marissa terdengar lirih.


“Mama lihat acara itu dimana? Apa papa juga ikutan nonton?” Selidik Rafael.


[Enggak sayang, waktu nonton mama sedang ada kamar kakek. Kalau soal papamu, mama gak tahu. sejak semalam papamu pergi sampai sekarang belum pulang.]


“Pergi kemana ma?”


[Mama juga gak tahu nak dan gak sempat nanya. Mungkin dia ada tugas dari kantor, soalnya mama lihat dia pergi bawa koper.]


Jika sudah begini pasti mereka pasti habis bertengkar, Rafael sudah hafal dengan kebiasaan orang tuanya itu.


Rafael menghela nafas sambil memijat pangkal hidung bangirnya, satu masalah selesai, datang masalah baru.


“Setahu Rafa papa gak ada jadwal keluar, bahkan Yumna saja sekretarisnya ada di kantor.”


[Benarkah? Lalu papamu kemana dong?]


Rafael tak menyahut, dia nampak berpikir kemana kira-kira sang papa yang tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu Marissa. Biasanya aji setiap mau pergi selalu memberi alasan, bahkan untuk sekedar mampir ke rumah tetangga saja pria itu selalu bilang.

__ADS_1


[Rafa, kamu masih disana?]


“Iya ma.”


[Raf, mama kok punya firasat buruk ya?]


“Maksud mama apa?”


[Mama takut kalau papamu diam-diam pergi ke Indonesia, terus dia akan-]


“Jangan berpikiran macam-macam dulu ma, mungkin aja papa ada urusan penting sehingga gak sempat pamitan sama mama.”


Terdengar helaan nafas berat diseberang sana.


[Mungkin saja, tapi kalau beneran gimana? Ditambah sekarang papamu pasti sudah lihat berita tadi. Mama jadi takut kejadian dulu akan terulang lagi.]


Rafael kembali diam, mendengar kata Marissa membuatnya berpikiran buruk.


“Udah mama tenang aja, itu tak akan terjadi. Sekarang Kevin sudah dewasa, dia pasti sudah tahu apa konsekuensinya sebelum mengadakan acara itu. Apalagi sampai memperlihatkan wajah Alya dan keluarganya.”


[Yah, semoga saja.]


“Ya sudah ma Rafa tutup dulu, di agensi lagi banyak kerjaan.”


[Iya sayang, jangan lupa makan siang.]


“Iya, ma.”


Setelah itu panggilan berakhir, Rafael meletakkan ponselnya ke meja dengan posisi terbalik.


Rafael menyenderkan bahunya ke sandaran kursi sambil terus memikirkan ucapan Marissa, apa benar papanya pergi ke Jakarta untuk merecok rencananya?


Tapi bukankah tadi Marissa bilang jika papa-nya pergi sejak semalam, sedangkan Kevin bikin acara itu pagi tadi. Rasanya itu tak mungkin papa-nya tahu dan mungkin dia ada urusan mendadak sehingga tak sempat pamit. Pikir Rafael seperti itu.


...💐💐💐...


Siang menjelang waktu Indonesia, setelah makan siang Selena membawa adiknya ke kamar untuk istirahat. Dia membantu gadis itu berdiri dan berpindah ke ranjang.


Alya kini sudah duduk selonjoran di kasur, sementara Selena duduk di sisi ranjang.


“Minum obat dulu ya.” Ucap Selena sambil menyodorkan telapak tangannya, disana ada beberapa butir obat.


Alya menurut, dia mengambil obat-obatan itu lalu memasukkannya ke mulutnya, kemudian meraih gelas yang berisi air putih lalu meneguknya.


“Makasih kak.” Ucap Alya yang langsung direspon Selena dengan gumaman sambil menaruh gelas itu ke meja nakas.


Seketika hening.


Selena menatap dalam wajah sang adik, dan Alya menyadari akan hal itu.


“Kenapa kakak natap aku begitu? Ada yang mau kakak tanyakan.” Tanya Alya dengan nada pelan.


“Iya.”


“Apa itu?”


“kamu sudah menyetujui syarat yang mas Rafael inginkan?” Tanya Selena.


Alya mengernyit saat mendengar kata 'mas Rafael' keluar dari mulut selena.


“Tadi kakak bilang apa? Mas? Sejak kapan kakak memanggil pak rafa dengan kata mas?” Tanya Alya sambil terkekeh.


Sebenarnya tak ada yang aneh dengan panggilan itu, karena pada kenyataannya pria itu memang lebih tua dari kakaknya. Tapi kayaknya kurang cocok saja dengan wajah Rafael yang bule, walaupun lebih dominan ke Asia.


“Sejak hari ini. Kakak memutuskan untuk memanggilnya begitu, biar lebih sopan aja.” Sahut Selena santai.


Alya manggut-manggut. “Benar juga sih.”


“Kamu juga nanti harus begitu sama Kevin.”


Alya kaget. “Hah! Aku?”


“Iyalah! Meskipun jarak umur kalian hanya beda 3 tahun, tetap saja kamu harus bersikap sopan padanya setelah menikah nanti.”


Wajah Alya semakin kaget, sementara Selena tersenyum tipis.


“Kakak yakin sebelum konferensi pers itu terjadi kalian sudah bicara, dan kamu menyetujuinya kan?”


Alya tak bersuara, dia hanya mengangguk.


“Kakak minta maaf karena sudah mengorbankan kamu, jujur sebenarnya kakak juga berat tapi hanya ini yang mas Rafael inginkan.” Ucap Selena dengan nada sendu.


Alya menggeleng sambil tersenyum tipis, kedua tangannya meraih tangan Selena dan menggenggamnya.


“Kakak gak perlu minta maaf begitu, aku iklhas kok melakukannya. Yang penting karir kakak bisa selamat, aku gak mau usaha yang selama ini kakak rintis hancur begitu saja hanya karena pria brengsek itu.”


“Makasih dek dan maaf, kakak tak tahu jika kejadiannya akan seperti ini.” Sesal Selena.


“Sudah kak, jangan di sesali lagi. Jadikan ini sebuah pembelajaran agar kakak bisa lebih baik lagi ke depannya.”


Selena menatap haru wajah Alya, meskipun umurnya masih kecil tapi pikirannya sangat dewasa. Selena menjadi merasa malu dengan dirinya sendiri, harusnya dia yang harus menjaga sang adik tapi ini malah sebaliknya.


“Dan.. aku minta mulai sekarang kakak menjauhlah dari Chandra dan keluarganya, bisa?”


Tanpa ragu Selena langsung mengangguk sambil tersenyum tipis, dalam hatinya dia sudah bertekad akan melupakan pria itu dan segala kenangannya.


“Iya dek, kakak akan menjauh dari mereka.”


“Promise?” Ucap Alya sambil menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Selena.


Wanita itu nampak terkekeh, kemudian menautkan jari kelingkingnya dengan jari sang adik.


“yes, promise.”

__ADS_1


__ADS_2