
Dylan masuk ke ruang inap Kevin seraya mendorong meja besi tersebut, ia jalan perlahan mendekati brankar.
“Lo ada disini?”
DEG!
Dylan yang mendengar suara berat namun lirih itu seketika menghentikan langkahnya, ia terkejut begitu melirik ke brankar dan melihat Kevin sudah membuka matanya.
Keadaannya masih terbaring, dengan kondisi tangan dan kakinya terikat tali tambang. Bisa terlihat dengan jelas, di bagian sisinya ada noda merah.
Bukan hanya di bagian itu saja, di sepreinya pun ada bercak merah. Sudah pasti itu adalah darah, karena setiap sadar Kevin selalu berontak.
Selain itu penampilannya pun sangat jauh dari kata baik, rambut tebalnya berantakan, wajahnya sangat pucat dan matanya sayu.
Padahal Kevin belum ada sehari di rawat di rumah sakit itu, namun penampilannya sudah seperti pasien lama.
Sebagai seorang kakak, Dylan sangat sedih melihat kondisi adik kecilnya itu. Sebegitu hancurnya kah Kevin tanpa sosok Alya di sisinya, sampai membuat penampilannya yang biasanya manly, kini bagaikan mayat hidup?
Ah, sepertinya tanpa harus bertanya pun Dylan sudah tahu jawabannya. Sudah pasti kehadiran Alya sangat berarti bagi Kevin, karena menurutnya Alya adalah pusat kehidupan sang adik.
“gimana keadaan Lo?” ucap Dylan balik nanya.
Kevin bisu sejenak, tatapannya begitu tajam mengarah ke wajah dylan.
“pergi! Gue gak butuh belas kasihan Lo!” usirnya.
Mendengar itu Dylan menghela nafas, ia kembali melanjutkan langkahnya dan mendekati brankar Kevin.
“gue gak bakal pergi kemana-mana, setidaknya sampai bang Rafa dan selena datang kesini.”
Akibat dari ucapannya barusan, membuat mata Kevin melotot.
“lo kasih tahu mereka?” tanyanya, menyipitkan matanya.
Dylan mengangguk. “atas suruhan Rangga, gue terpaksa memberi tahu mereka. Semuanya.”
Kevin tak memberi reaksi lebih, ia hanya mengambil nafas panjang. Dylan jelas paham, sudah pasti Kevin tak ingin Rafael mengetahui kondisinya saat ini.
Namun untuk bungkam pun Dylan rasanya tak mampu, karena keadaannya jelas berbeda.
“Dan Rangga juga sempat bilang, kalau om Marvin akan membantu kita untuk menyelamatkan Alya dari penculik. jadi Lo tenang saja.” lanjut Dylan, seraya tersenyum tipis.
Mendengar nama Marvin di sebutkan membuat ekspresi wajah Kevin seperti terkejut, namun setelahnya berubah kesal.
Dylan yang menyadari itu pun mengernyit heran, kenapa adiknya berekspresi seperti tak menyukainya? Bukankah semakin banyak yang membantu, semakin cepat Alya bisa selamat?
“kenapa? Lo kok, kayak gak suka gitu?” tanyanya penasaran.
Sayangnya Kevin kembali membisu, ia mendengus dan membuang wajah.
Tak mau ambil pusing, Dylan segera melepaskan ikatan tali yang ada di pergelangan tangan dan kakinya kevin.
Saat melakukan itu, kevin hanya diam saja. Wajahnya tetap terlihat datar, tak sedikitpun merasa kesakitan.
“lo belum jawab pertanyaan gue!” ujar Kevin tiba-tiba, terdengar tertahan.
“sama. Lo juga belum jawab pertanyaan gue.” balas Dylan santai.
“gue serius ya!”
“gue jauh lebih serius!”
“ck!”
Dylan menanggapi kekesalan Kevin dengan senyuman manis, senyuman yang di wariskan aji.
“ayo bangun, udah waktunya Lo makan siang.” ucap Dylan setelah semua talinya terlepas.
Kevin menurut, secara perlahan dan di iringi dengan ringisan, ia pun merubah posisinya menjadi duduk.
Sebenarnya Dylan ingin membantu, namun Kevin menolaknya mentah-mentah. Alhasil Dylan hanya bisa pasrah dan berakhir diam, karena untuk memaksanya pun akan berakhir sia-sia. Karena Dylan hafal betul watak Kevin seperti apa, semakin di kerasin, maka semakin bebal.
“bisa makan sendiri gak?” tanya Dylan memastikan.
“jelas bisalah! Lo pikir gue bayi?” balas Kevin dengan ketus.
“gue hanya nanya Vin, soalnya kedua tangan Lo luka. Tadi juga Lo sempat meringis kan pas bangun?”
“dan ini gara-gara kalian semua! Kenapa mesti pakai acara di ikat segala?”
“karena Lo terus mengamuk.”
“gue gak bakalan ngamuk, kalau kalian semua ijinkan gue pergi!”
“kami melakukan itu ada alasannya.”
“alasan? gue pun sama! Gue mau keluar juga ada alasannya, dan kalian jelas sudah tahu akan hal itu!”
Dylan menghela nafas lelah, adiknya ini memang pintar sekali menjawab.
“vin, jangan keras kepala!”
“Lo gak akan paham apa yang sedang gue rasakan! gue hanya ingin pergi, itu pun untuk menyelamatkan Alya. Istri gue! Apa perbuatan gue itu salah? Hah!”
Dylan menggeleng. “enggak Vin, Lo gak salah dan gue juga paham. Memang sebagai seorang suami, udah menjadi tugas Lo untuk menjaganya. Tapi pikirkan juga kondisi Lo!”
“gue baik-baik saja!”
“kalau Lo baik-baik saja, gak mungkin Lo sampai pingsan!” sentak Dylan, suaranya cukup tinggi dan hal itu membuat Kevin diam beberapa saat.
Kevin ingin kembali menyela, namun dengan cepat dylan memotongnya.
“cukup Vin, dengerin gue! Gue paham Lo lagi khawatir dengan kondisi Alya, tapi Lo juga percaya kan sama ucapan Rangga?”
Seketika itu pula Kevin membisu, ia masih ingat perkataan sahabat satunya itu saat pertama kali sadar. Rangga mengatakan untuk jangan terlalu khawatir tentang Alya, karena menurut penglihatannya Alya dalam keadaan baik-baik saja.
Selain itu Kevin juga percaya dengan rencana istrinya itu sebelum di bawa pergi, jika ia akan memberi sinyal lewat jam tangan yang ia pakai.
Namun hingga saat ini Alya belum memberi sinyal tersebut, dan hal itu membuat pikiran Kevin selalu buruk. Takut istrinya disana di apa-apakan oleh Roni, atau geng zervanous lainnya.
Secara, Kevin sudah tahu betul sepak terjangnya geng motor tersebut. Di kenal sebagai geng motor paling bermasalah, dan yang paling di cari keberadaannya oleh polisi.
Ditambah Alya memiliki trauma terhadap tempat gelap, siapa nanti yang menenangkannya jika kambuh.
Kevin merespon ucapan Dylan anggukan samar, pandangannya langsung menunduk kala hawa panas mulai ia rasakan di pelupuk matanya.
“maka dari itu Lo mesti tenang, dan yang paling utama adalah pulihkan dulu kondisi Lo. Lo gak mau kan Alya lihat kondisi Lo seperti ini?”
Kevin menggeleng.
“ya udah, makanya Lo harus nurut!”
“tapi.. gue takut bang.” lirihnya, seraya mendongak menatap dylan. Dua pasang matanya sudah merah, dan ada sedikit genangan air.
Perasaan Dylan saat Kevin memanggilnya 'bang' tentunya terkejut, panggilan yang dulu Kevin sematkan sewaktu mereka kecil.
Selama belasan tahun Kevin sudah tak memanggilnya dengan sebutan Abang setelah mengetahui identitasnya yang sebagai kakak tiri, akhirnya kini bisa ia rasakan lagi.
Dylan mengacak-acak pelan rambut adiknya itu sambil tersenyum haru, kedua matanya pun ikutan berkaca-kaca. Selain bahagia karena Kevin kembali memanggilnya Abang, dia juga merasa sedih dengan nasib adiknya itu.
Keinginan Kevin sejak dulu sebenarnya hanya satu, yaitu bisa hidup bahagia bersama Alya. Dylan tahu betul bagaimana dalamnya perasaan adiknya ke gadis lugu tersebut, tapi sepertinya takdir sedang mengajaknya bercanda.
__ADS_1
“tetaplah berpikiran positif agar hati Lo bisa tenang, dan percaya sama kami semua. Gue janji, bakal bawa Alya ke hadapan Lo dengan keadaan baik. tapi sebelum itu Lo juga harus terlihat baik, oke?”
Kevin kembali mengangguk, ia akan mencoba menjernihkan pikirannya dari hal-hal buruk. Dan juga ia percaya, jika kakak dan teman-temannya akan membantunya menyelamatkan Alya.
...💐💐💐...
Sementara itu di markas zervanous Alya tengah di giring ke suatu ruangan yang redup, kedua tangannya yang berada di belakang tubuhnya sudah terikat dan mulutnya tersumpal lakban warna hitam.
Jika sudah dalam keadaan seperti itu Alya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa pasrah, namun tidak dengan isi otaknya yang tengah memikirkan bagaimana caranya bisa kabur dari tempat tersebut.
Meski tak di pungkiri, saat ini hatinya sedang dilanda keresahan akibat traumanya yang takut terhadap tempat gelap, terlebih tentang keadaan kevin.
sejak awal ia di bawa oleh geng motor itu Pikirannya tak pernah lepas dari Kevin, dalam benaknya selalu mempertanyakan apakah suaminya itu akan tetap baik-baik saja usai kejadian ini?
BRUK!
Dengan kasarnya salah satu anggota zervanous menariknya, lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai yang penuh debu dan kotoran binatang.
Terdengar desisan samar keluar dari mulutnya yang di lakban, dan kedua alisnya berkerut. Siku dan lututnya terasa nyeri saat bertabrakan dengan lantai, ia pun melirik sinis ke arah pria yang tadi mendorongnya.
Namun sayangnya yang di lirik malah terlihat tak perduli, justru menampilkan senyum meremehkan.
“baik-baiklah disini nona manis, sampai suamimu yang manja itu datang. Itu pun jika bos tidak berubah pikiran. Hahahaha..”
Setelah mengatakan itu pria tersebut pergi, seraya menutup pintu. Kendati begitu suara tawanya masih terdengar jelas di telinga Alya, membuatnya semakin jengkel.
Rupanya rasa itu tak bisa bertahan lama, karena setelahnya Alya dilanda cemas. Dadanya sesak, dan tubuhnya merasai panas dingin.
Ruangan yang kini ia singgahi benar-benar gelap, tanpa cahaya sedikitpun. Karena ruangan tersebut tak memiliki jendela, atau pun celah udara.
‘ya tuhan, tolong kuatkanlah aku..’ lirih Alya dalam hati.
...💐💐💐...
“dia aman kan?” tanya Roni saat melihat anak buahnya yang tadi membawa Alya sudah kembali.
“aman bos.” balasnya, seraya mengacungkan jempol.
“terus pria yang diruang sebelah gimana bos?” tanyanya kemudian.
Mendengar itu Roni mendengus sebal, ingatannya kembali ke percakapannya dengan Kenzo dan perintah Bobby untuk segera melenyapkan Ferdinan.
“udah Lo cek lagi gak? Pastikan dia udah mati!”
“udah bos, tapi soal mati kayaknya enggak deh. Soalnya nafasnya masih ada, dan gue perhatikan dadanya juga kayak kembang kempis gitu. Macam orang lagi kena asma.”
Roni bisu sejenak.
“gimana tuh bos? Dan juga, kenapa om Bobby sampai sekarang belum kesini?”
“dia gak bakalan kesini!” cetus Roni.
Hal itu membuat seluruh anggota inti zervanous terkejut, semua pasang mata yang ada disana kini meliriknya.
Memang, saat ini di dalam markas tersebut hanya tersisa beberapa anggota saja. Sedangkan lainnya berjaga di sekitar area, berjaga-jaga jikalau ada serangan dari pihak Kevin.
Sementara itu anggota geng cewek di suruh pulang, dan akan kembali besok. Karena peraturannya sudah begitu, anggota cewek dilarang kumpul di malam hari. Kecuali jika dalam keadaan genting.
“lah, kenapa?”
“karena dia sudah tertangkap sama bodyguardnya Kevin, dan katanya sekarang dia sedang di kurung dalam kandang harimau!”
“WHAT!!”
secara serempak seluruh anggota geng zervanous memekik kaget, ia tak menyangka jika keluarga dirgantara memelihara binatang buas.
“kandang harimau? Seriusan bos, Kevin punya peliharaan harimau?” tanya anggota lainnya.
Setelah itu Roni segera merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan ponselnya. Ia menyalakannya, kemudian menunjukkan sebuah foto yang Kenzo sempat kirim ke wajah teman-temannya.
Seketika pula semua mata anggota geng zervanous fokus ke layar ponsel Roni, ekspresi terkejut tercetak jelas di masing-masing wajah mereka.
“gila! Itu harimau putih bro, mana gede banget pula! Lihat tuh taringnya, hih.. tajam banget!”
“itu seriusan harimau atau.. cuma sekedar patung?”
“jelas harimau lah bego, Kenzo pasti gak bakalan bohongin kita!”
“ye.. mana tau itu cuma editan atau emang patung, jaman sekarang kan semakin canggih!”
Mendengar itu Roni nampak ragu, apa yang di ucapkan anak buahnya memang ada benarnya. Tapi ia pun tak yakin jika Kenzo berani menipunya, karena jika benar. Maka itu sama saja dia bunuh diri, karena kelemahannya ada padanya.
“bisa jadi sih, tapi gue yakin Kenzo gak bakalan ngirim sesuatu yang hoax. Kalau pun iya, itu namanya dia cari mati sama bos kita!”
Respon anggota lainnya hanya manggut-manggut, begitu pun dengan Roni. Ia sangat meyakini jika Kenzo tak mungkin senekad itu.
“terus apa harimau itu benar-benar milik Kevin?”
“bukan, tapi milik keluarga besarnya. Gue gak tahu pasti dari siapa, tapi kata Kenzo keluarganya memang memeliharanya.”
Sekali lagi. Para anggota inti zervanous manggut-manggut, mereka percaya dengan informasi yang Roni jabarkan.
“lalu pria itu harus kita apakan bos, masa iya dia akan terus bersama kita?”
“besok kita eksekusi!” ujar Roni.
...💐💐💐...
Di rumah sakit Kevin sedang menikmati jatah makan siangnya, meski dengan gerakan malas. Bukan karena merasa sakit di pergelangan tangannya, melainkan karena dia kurang nafsu makan.
Bagaimana mau nafsu makan, jika hati dan pikirannya masih tertuju ke Alya.
Namun Dylan terus memaksanya untuk makan, dengan alasan agar kondisi fisiknya bisa stabil. Bahkan kini kakak keduanya itu sedang memantaunya, duduk di kursi yang ada di samping brankar sambil bersedekah dada.
Kevin yang memang malas berdebat lebih memilih menurut, toh ucapan kakaknya itu ada benarnya. Tubuhnya butuh nutrisi agar cepat pulih, dengan begitu ia bisa cepat juga pulang dan menyelamatkan Alya dari jeratan Roni dan kawan-kawannya.
Sedangkan Dylan sendiri yang memperhatikan luka di pergelangan tangan adiknya merasa ngeri, Kevin terlihat tak merasakan kesakitan sedikitpun. Bahkan Meringis pun tidak, Wajahnya tetap datar seperti biasanya.
“tangan Lo gak ngerasa perih Vin?” tanya Dylan pada akhirnya.
Kevin melirik sekilas ke arah dylan, lalu ke lukanya, kemudian menggeleng.
“udah biasa.” jawabnya kemudian.
Itu memang benar, dan Dylan pun jelas tahu akan hal itu. Kevin sudah sering melukai dirinya sendiri setiap penyakit anxiety-nya kambuh, jadi dia sudah tak kenal akan rasa sakit.
Sepanjang 2 tahun ini Kevin mengidap penyakit mental tersebut, dan selama itu keluarga dan para sahabatnya selalu merasa khawatir jika Kevin sedang sendirian.
Terlebih sejak ia bertunangan dengan Mayra, hampir setiap hari Kevin tak pernah absen dari rumah sakit. Kalau tidak tentang penyakitnya kambuh, ya dia mengalami kecelakaan saat berkendara.
Dylan dan Rafael memang tahu tentang Kevin yang suka mengikuti balap liar, entah itu motor atau mobil. Dan mereka juga tahu jika Kevin masuk dalam komunitas geng mobil mobil elit, dan menjadi ketua dalam geng tersebut.
Namun baik Dylan maupun Rafael tak ada yang mampu melarang Kevin untuk berhenti, karena mereka jelas tahu watak adik kecil mereka itu seperti apa. Semakin dilarang, maka itu artinya semakin di lakukan.
Drrtt..
Tak berselang lama ponsel Dylan bergetar, ia pun merogohnya dan melihat ada kontak Rafael tengah memanggilnya lewat video call.
“woy, bang!” seru Dylan menyapa kala panggilan itu tersambung, dan menampilkan wajah Rafael.
[ada dimana?]
__ADS_1
“dirumah sakit. Ini gue lagi ada diruang inap, nemenin Adek Badung kita yang lagi makan.”
Lalu Dylan mengalihkan kamera belakang, dan menyorot ke wajah Kevin yang juga sedang meliriknya sambil mengunyah.
Di seberang sana Rafael menghela nafas panjang, wajahnya berubah sendu. Begitu pun dengan kakek Fandy yang ikut melihat kondisi Kevin, perasaan pria tua itu kian hancur kala mengingat perbuatan aji.
Kecuali Selena yang kini tengah menahan tangis, dalam dekapan Rafael. Hati dan pikirannya sedang kalut, sehingga tak bisa memikirkan hal apapun kecuali soal adiknya.
[Keadaannya gimana lan?]
“seperti yang Lo lihat sekarang bang, dia baik-baik saja. Cuma.. ya gitu, Lo Taulah..”
[Dia suka ngamuk?]
Dylan mengangguk. “tapi Lo tenang aja, disini gue gak sendiri kok. Ada teman-temannya yang ikut menjaga, cuman sekarang mereka semua gue suruh makan siang. Kasian bang, sejak awal masuk rumah sakit mereka gak beranjak sedikitpun dari ruang tunggu.”
Rafael nampak manggut-manggut, seraya sebelah tangannya mengusap lembut kepala istrinya yang masih sesenggukan. Sesekali meliriknya.
“lo sendiri lagi ada dimana? Dan.. itu kenapa Selena nangis? Oh! Ya ampun, kakek juga ikut!”
Dylan terlihat begitu heboh, kedua matanya melebar saat menyadari kakeknya juga ada disana. sejak tadi pandangannya hanya fokus ke Rafael, sampai tak menyadari jika di sampingnya ada kakek Fandy dan Selena.
Sedangkan Kevin begitu mendengar Selena sedang menangis dan keberadaan kakek fandy membuat gerakan tangannya yang sedang menyendokan makanan seketika berhenti, namun tak juga bersuara. Ia hanya diam membeku, dan mendengarkan.
[Selena dan kakek udah tau dengan semua yang terjadi, dan sekarang kami udah ada dibandara. Nunggu jam terbang.]
Kini gantian Dylan yang manggut-manggut, ia paham bagaimana perasaaan wanita hamil tersebut. Mendengar kabar adik satu-satunya di culik, pasti akan menjadi beban pikirannya.
“jadi karena itu dia bisa nangis sekarang? Karena mendengar Alya di culik?” tebak Dylan.
[He'em]
Dylan menghela nafas, lalu mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangan.
“lalu paman bibinya?”
[Mereka belum tahu.]
“baguslah. Sebaiknya mereka jangan di kasih tahu bang, takutnya semakin heboh. Terutama grandma.”
[Iya. Gue juga ada pikiran begitu, secara grandma sekarang udah sayang banget sama Alya setelah permasalahan kalian terbongkar.]
“tapi... Memangnya gak apa-apa naik pesawat di saat masa kandungan sudah mendekati hari-h?”
[Kata mama Gak apa-apa, asal jangan di buat capek. Dan sebelumnya juga gue udah nanya ke dokternya, katanya gak apa-apa]
“syukur deh kalau gitu. Oh iya, nanti kalau kalian udah sampai langsung istirahat aja. Gue udah infokan kepulangan kalian ke Darren, nanti dia juga yang akan mengantar kalian kesini.”
Di layar ponselnya Rafael mengangguk patuh, lalu berpesan untuk menjaga Kevin dengan baik. Karena Rafael tahu sejak ada permasalahan diantara mereka, hubungan kedua adiknya itu seperti tikus dan kucing.
“tanpa Lo suruh pun gue bakal menjaganya bang.” balas Dylan kala Rafael tak henti-hentinya memperingatinya untuk jangan pernah tinggalkan Kevin sendiri.
Usai itu sambungan telepon pun terputus, setelah sebelumnya Dylan bercengkrama ringan dengan kakek Fandy dan Selena.
Saat Dylan meminta Selena untuk jangan terlalu khawatir, wanita hamil itu tak merespon banyak. Namun ia tetap mendengarkan.
“udah selesai Lo Vin makannya?” tanya Dylan setelah menyimpan ponselnya ke saku celananya, dan melihat adiknya berhenti makan.
Kevin tak bersuara, dia hanya mengangguk.
Dylan pun langsung melirik ke piring, makanannya masih tersisa setengah. Bahkan sebagian besar lauknya masih utuh, karena memang Kevin makan nasi pakai kuah sayur yang ada di mangkok kecil.
“abisin lah, sayang itu.”
“udah kenyang.”
“ya udah, nih minum dulu.” ujar Dylan, lalu menyodorkan gelas bening yang berisi air putih.
Kevin menerimanya, jemarinya membuka plastik yang ada di ujung gelas dan berakhir menenggaknya hingga setengah.
Dylan kembali meraihnya begitu Kevin selesai minum, dan menaruhnya di meja balas samping ranjang.
Senyap sejenak.
“tadi yang nelpon bang Rafa?” tanya Kevin.
“iya. Dia ngabarin kalau sekarang sudah ada di bandara, sama kakek dan Selena. Tinggal nunggu jam penerbangannya sore nanti, dan mungkin akan sampai sini malam atau besok.” jelas Dylan.
Kevin yang mendengar itu manggut-manggut mengerti, lalu pandangannya liar ke area ranjangnya. Secara tergesa ia Mengibas selimut serta membuka tutup bantalnya, seakan sedang mencari sesuatu.
“Lo cari apa Vin?” tanya Dylan heran.
“jam tangan gue!” jawab Kevin.
Dylan mengernyit. “jam tangan? Perasaan dari tadi Lo gak pakai jam tangan deh, kan tangan Lo di ikat.”
“sebelum Lo datang, gue masih pakai. Tapi--”
Ucapan Kevin tiba-tiba berhenti, tubuhnya membeku dan pandangannya lurus menghadap Dylan.
“tapi apa?”
“kayaknya dokter atau suster yang melepasnya waktu gue pingsan tadi.”
“bisa jadi sih.”
Kreek!
Tak lama setelahnya terdengar suara pintu terbuka, spontan perhatian Dylan dan Kevin beralih ke asal suara.
Kevin terlihat terkejut begitu menyadari siapa yang datang, matanya terbelalak lebar.
Begitu pun dengan Dylan, mulutnya sampai sedikit menganga melihat kedatangan Mayra yang tiba-tiba.
Mayra?
Ya. Seseorang yang datang itu memanglah Mayra, wanita itu masuk ke dalam kamar inap Kevin sambil mentengteng keranjang buah.
“hai, kevin.” sapanya sambil tersenyum cerah.
Namun sayangnya orang disapanya tak memberi respon apapun, malah terkesan tak menyukai keberadaannya.
“Jangan bilang Lo kasih tau dia juga?” tebak Kevin, seraya mendelik tajam ke arah dylan.
Mendengar itu Dylan menggeleng cepat, seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
“sumpah demi tuhan Vin, gue gak ada kontak dia!” elaknya.
“terus darimana dia tahu soal keberadaan gue disini?!”
“ya mana gue tau.”
Dengan gaya anggunnya Mayra jalan mendekati brankar Kevin, ia meletakkan keranjang buah tersebut di meja nakas, lalu menoleh ke Kevin.
“gimana keadaanmu sekarang, sudah baikan?”
Tangan Mayra ingin menyentuh lengan Kevin, namun dengan kasar si empu menepisnya.
“pergi dari pandangan gue sekarang juga, atau gue akan lapor polisi dengan tuduhan penculikan berencana!”
“vin, aku--”
__ADS_1
“jangan Lo pikir gue gak tahu apapun, Lo dan si tua Bangka itu bersengkongkol untuk memisahkan gue sama Alya. Bahkan sampai menjerat Kenzo!” potong Kevin cepat, dan hal itu membuat Mayra dan Dylan diam membeku.