
Tepat pada jam 2 siang Alya sudah sampai di depan gedung kantor suaminya, dengan gaya elegan dia keluar dari mobil yang sebelumnya pintunya sudah di buka oleh Sean.
Sebisa mungkin Alya bersikap santai, menjalani perannya sebagai istri konglomerat. Meski gugup dan tak percaya diri, setidaknya ia akan berusaha.
Biasanya jika wanita lain sedang berada di posisinya pasti akan lupa diri, berubah sombong dan angkuh ke orang lain, namun tidak bagi Alya. Buktinya, sepanjang jalan ia masuk kantor suaminya, tak henti-hentinya ia menyapa balik semua karyawan yang menyambutnya dengan hormat. Memang tidak semua, karena sebagian ada yang berani bersikap tak sopan padanya.
Mungkin jika Kevin mengetahuinya, pasti detik itu juga karyawan itu akan di depak. Bisa saja Alya mengadu, tapi sayangnya ia masih memiliki akal sehat dan tentunya hati nurani.
“permisi mba, saya mau tanya apa pak Kevin ada ditempat?” tanya Alya saat sudah berada di depan meja informasi dengan nada sesopan mungkin.
Mendengar itu kedua wanita yang duduk di balik meja informasi tersebut langsung berdiri, mereka menatap Alya dengan tatapan gugup.
“O-oh A-ada Bu, pak Kevin ada diruangannya. Sebelumnya beliau juga sudah menginformasi, jika ibu datang suruh masuk saja ke ruangannya.” jawab si salah satu karyawan dengan nada bergetar.
mengingat kesalahannya yang dulu berani mencibir Alya, bahkan sampai membanding-bandingkan dengan Mayra membuatnya takut bersikap di depan alya. Apalagi jika nanti Alya mengadu yang tidak-tidak ke Kevin dan menyuruhnya untuk memecatnya, sumpah demi apapun ia tak mau itu terjadi.
Sedangkan Alya nampak kaget mendengar ucapan terakhir karyawan tersebut, karena Kevin tahu jika dirinya akan datang. Tapi dari siapa, bahkan dia sendiri belum menghubunginya lagi.
‘apa dari bodyguard kali ya?’ batinnya menduga.
“oh begitu, baiklah.” ucapnya kemudian.
Setelahnya ia mengucapkan terima kasih kemudian berlalu pergi menuju lift, di ikuti oleh Sean.
Ting!
Terdengar suara nada khas pintu lift terbuka, bergegas mereka pun masuk ke kotak besi itu dan menekan tombol. Tak lama setelahnya pintu otomatis itu kembali tertutup, membawa diri Alya dan Sean ke lantai khusus pimpinan penting.
Tak sampai 5 menit mereka sudah sampai ke lantai tujuan, dan Alya terkejut begitu pintu lift itu terbuka langsung di sambut oleh sosok suaminya yang sudah berdiri di depannya sambil bersedekap dada. Di belakangnya sudah ada Kenzo dan beberapa karyawan lain, yang juga ikutan menatapnya.
Namun itu tak bertahan lama, karena setelahnya para karyawan itu menunduk hormat dan memberi sapaan. Dan di balas oleh Alya hanya anggukan, lalu kembali menatap Kevin.
“mau pergi ya?” tanyanya sedikit gugup.
Namun Kevin tak menjawab pertanyaan istrinya, melainkan menyuruh Kenzo dan karyawan lain untuk masuk lift.
“kalian pergi duluan ke ruang rapat, nanti saya menyusul.” Titahnya, seraya menarik Alya untuk keluar dari lift. Begitupun dengan Sean.
“baik pak.” balas mereka serempak.
Setelah memastikan semua karyawan masuk lift, Kevin segera membawa Alya masuk keruangannya dan menutup pintu. Sedangkan Sean memilih menunggu di luar, dia duduk di sofa diruangan khusus tamu, dan itu bersebelahan dengan ruangan kenzo.
“mau apa kamu datang kesini?” tanya Kevin dengan nada dingin.
“apa aku tak boleh datang ke kantor suamiku sendiri?”
Bukannya menjawab pertanyaan, Alya malah balas bertanya. Membuat Kevin berdecak kesal, tapi malah terlihat lucu di mata Alya.
“gak ada larangan seorang istri mengunjungi kantor suaminya.” balas Kevin dengan nada yang sama.
Mendengar jawaban Kevin membuat senyum tipis Alya terbit, perlahan tapi pasti dia jalan mendekati suaminya.
“jadi, aku boleh sering datang kesini?” tanyanya lagi, dan kali ini dengan suara pelan. Matanya tak pernah lepas dari wajah tampan suaminya yang sayangnya selalu di pasang kaku.
Kevin diam, ia menelan ludah lalu memalingkan wajah sejenak. “terserah!” jawabnya. “Sekarang katakan, apa maksudmu datang kesini?” tanyanya kemudian.
Alya menggeleng. “gak ada. Aku hanya ingin memastikan jika bekal makan siangmu sudah di makan hingga habis!” jawabnya.
Satu alis Kevin naik, ia menatap Alya dengan tatapan heran. “hanya itu? Kamu datang jauh-jauh kesini, cuma pengen nanya itu?”
“iya. Kenapa?”
“memangnya ponsel yang aku belikan rusak, sehingga kamu gak ada inisiatif untuk menelpon?”
Alya yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya, ia menatap suaminya sebal. “aku sudah mengirimi kamu pesan, tapi nomormu gak aktif mulu!” cetusnya.
Kevin bisu sejenak. “makanannya sudah habis! Kamu bisa cek bekasnya, disana.” balasnya, seraya menunjuk ke satu arah lewat dagunya.
Alya mengikuti arah yang di maksud kemudian menggeleng, lalu kembali menatap suaminya. “gak perlu, aku percaya.”
Setelah itu alya jalan lebih mendekati Kevin, membuat si empu menatapnya waspada. Terlebih saat tangan istrinya itu terulur ke wajahnya dan ibu jarinya mengusap sudut bibirnya, membuat tubuhnya menjadi kaku.
“ada bekas cabe.” ucapnya. “kamu habis makan apa sih, kok bibir kamu berminyak gini? Perasaan aku bikin bekal yang berserat deh.” lanjutnya sambil mengelap bibir Kevin dengan jemarinya, ia tak merasa jijik sama sekali.
Tanpa Alya sadari akibat dari perbuatannya itu membuat tubuh suaminya bergelora, dan entah sejak kapan Kevin merasa jika bersentuhan dengan istrinya membuat jantungnya berdebar.
Kevin tak menjawab ucapan Alya, melainkan ia malah menepis tangannya dan mendorong sedikit kasar tubuhnya. Di perlakukan seperti itu membuat Alya berpikir jika Kevin tak menyukainya, ia pun meminta maaf dan berkata tak akan mengulanginya lagi.
“ya udah kalau gitu aku pulang sekarang, maaf kalau kedatanganku membuatmu terganggu. Oh iya kabarin kalau mau lembur lagi, biar makanan yang aku siapkan nanti tak berakhir di tempat sampah.” ucap Alya dengan nada pelan.
Namun Kevin hanya diam saja, meski tatapan matanya tak lepas dari wajah istrinya yang memancarkan kesedihan. Pria itu tentu tahu Alya sengaja berucap seperti itu untuk menyindirnya, karena memang sejak kejadian dimana alya mengungkapkan isi hatinya, Kevin selalu pulang larut malam.
Kevin menghela nafas panjang, andai saja istrinya itu tahu jika ia terpaksa melakukan itu agar jiwa laki-lakinya tak timbul. Dan andai saja istrinya juga tahu, bahwa setiap malam ia selalu menyelinap masuk ke kamarnya.
Tak mau ambil pusing, Alya memilih berbalik badan, niatnya ingin mengambil bekas kotak bekal, namun aksinya itu terhenti begitu tangannya di tarik oleh Kevin. Dan hal itu membuatnya kembali berbalik badan, dan menatap sang suami.
“kenapa?” tanyanya sambil mendongak, karena kini jarak keduanya kembali dekat.
“gimana kondisi kakinya?”
“seperti yang kamu lihat, kakiku udah sembuh. tapi kata dokter Sam aku belum boleh pakai hills terlalu tinggi dan lari kenceng.”
Kevin yang mendengar itu manggut-manggut mengerti, lalu melepaskan tangan alya. Ia memasukkan kedua tangannya di kantong celananya, seraya menghela nafas lega. padahal tanpa bertanya pun dia sudah tahu, Karena sebelumnya Samuel sudah menjelaskannya lewat telepon.
“habis ini rencanamu apa?”
__ADS_1
“maksudnya?”
“balik lagi ke kampus atau pulang?”
“oh.. pulang. Ya Sebenarnya aku masih pengen disini, kalau di apartemen aku bosen.”
Kevin Mengernyit. “mau ngapain?”
“mau lihat-lihat aja, tapi kayaknya kamu lagi sibuk dan aku gak mau ganggu, jadi lebih baik aku pulang aja.”
Senyap sejenak.
“mau ikut sama aku?”
DEG!
Alya jelas terkejut mendengar itu, benarkah suaminya itu mengajaknya pergi bersama?
“kemana?”
“bogor, mau cek proyek yang ada disana. Tapi setelah rapat selesai.”
Alya nampak diam sambil berpikir. “oh.. yang pembangunan mall dan penginapan itu ya?” tebak Alya, dan Kevin mengangguk.
Alya ingat, Kevin pernah menceritakan rencananya yang sedang membangun mall dan penginapan di daerah bogor. Itu pun tak sengaja saat dia melihat banyak lembaran sketsa bangunan, yang ia temukan di meja kerja Kevin saat ingin mengantar minuman.
Karena Alya penasaran dia pun bertanya, dan tanpa ragu Kevin menjelaskan semuanya. hal ini pula membuatnya sering uring-uringan tak jelas setiap mengetahui Kevin pergi ke kota tersebut, karena proyek ini bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Jenifer yang berkembang di bidang properti.
Jadi bisa di pastikan, sering Kevin berkunjung kesana, maka semakin sering pula mereka bertemu. Meski ia tahu ini demi kerjaan dan pasti disana mereka tak hanya berdua, tapi tetap saja ia merasa tak tenang.
Bagaimana mau tenang, di luar sana suaminya membahas pekerjaan dengan wanita yang dia sendiri tahu menyukai suaminya. Mending jika Kevin tak memiliki rasa yang sama, kalau memang ada Gimana?
“awwshh!!” pekik Alya saat merasakan pipinya ditarik, matanya melotot ke arah suaminya. “kamu apa-apaan sih, kenapa cubit pipi aku!” protesnya.
“siapa suruh melamun!”
“ak-aku gak--”
“udah jangan dibahas. Mending sekarang jawab mau ikut apa enggak, soalnya aku harus keruang rapat sekarang.”
Dengan antusias dan tanpa keraguan Alya mengangguk. Sudah pasti ia akan ikut, mumpung suaminya yang mengajaknya maka ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan.
‘aku gak akan biarkan uler keket itu deket-deket dengan Kevin!’ gumamnya dalam hati, ia bertekad akan menggagalkan obsesi jeni yang dari dulu ingin sekali menjerat Kevin.
“ya udah kamu tunggu aja disini, aku gak bakal lama. Paling cuma satu jam, gak apa-apa kan?” ucap Kevin dengan nada lembut, seraya sebelah tangannya mengelus pipi Alya yang tadi dia cubit.
“iya gak apa-apa.” balas Alya sambil mengangguk.
“kalau merasa haus atau lapar panggil aja Sean, dia ada diluar.” ucap Kevin lagi, dan Alya kembali mengangguk.
Setelah itu Kevin pun pergi, dan tersisa hanya Alya disana. Matanya begitu liar melihat-lihat isi ruangan Kevin yang bernuansa dark, dan tentunya rapi dan wangi.
Untuk mengisi kekosongannya dan menunggu Kevin kembali, Alya memilih bermain ponsel. Mengecek semua sosial medianya, siapa tahu ada yang menarik.
Alya berdecak kesal saat menyalakan data terdapat banyak notifikasi pesan masuk berasal dari nomor Andreas dan juga akun instagramnya, dia terus menanyakan dimana keberadaannya dan sedang apa. Log panggilannya pun sudah penuh oleh nama Andreas, pria itu benar-benar tak pernah kenal lelah.
Memang, semenjak pertengkaran terakhirnya dengan Kevin 3 bulan lalu, Alya selalu menghindar dari pria itu. Setiap Andreas ingin menemuinya, selalu dia tolak. jika ada urusan dengan kuliah, Alya langsung protes ke dosen meminta ganti orang. Begitu pun saat tak sengaja berpapasan, ia selalu bersikap acuh dan ketus.
Bukan apa-apa, hanya saja dia sudah tak mau berurusan apapun lagi dengan pria itu. Terlebih ia juga tak mau membuat Kevin semakin murka padanya, karena masih berhubungan dengan Andreas. Apalagi kini ia tahu semua kegiatannya sudah di pantau oleh para bodyguard, dan akan melaporkan semuanya ke Kevin.
Untuk menghindari sesuatu yang bahaya, makanya Alya memilih untuk menurut. Sebisa mungkin ia menghindari interaksi langsung dengan Andreas, begitu pun dengan mahasiswa lainnya yang secara terang-terangan masih membullynya.
Alya tak mau jika Kevin mengetahui masih ada orang lain yang mengganggunya, cukup Tiara saja menjadi yang terakhir.
Bicara soal Tiara, kini Alya tahu apa yang sudah diperbuat Kevin pada wanita itu. Apalagi, tentu saja Kevin menggunakan kekuasaannya untuk memberinya pelajaran.
Kevin membeli separuh saham yang ada di perusahaannya, dan membongkar aibnya sebagai sugar baby. Tak hanya itu, suaminya juga membongkar kesalahan di masa lalu ayahnya Tiara yang pernah membunuh salah satu pelayan wanita yang bekerja dirumahnya.
Sejak saat itu Alya mulai berhati-hati dalam bersikap, ia tak mau ada korban lagi akibat dari ulahnya. Ditambah sekarang ia sudah mengetahui kondisi Kevin yang memiliki penyakit mental, meski belum yakin tapi setidaknya ia berusaha menghindari agar emosinya tak terpancing.
Sebelumnya Alya sudah mencari tahu apa saja gejala dan penyebab seseorang bisa memliki penyakit anxiety dari internet, dan rencananya setelah ini ia juga akan menginterogasi semua teman-teman kevin.
Karena sudah jengah, Alya memutuskan untuk blokir nomor Andreas. Begitu juga dengan semua sosial medianya, menutup akses pria itu untuk bisa menghubunginya.
“mudah-mudahan setelah ini kamu bisa ngerti dan paham, bahwa aku tidak mungkin kamu dapatkan. Karena.. hati dan hidupku sudah sepenuhnya milik Kevin, meski saat ini aku tidak tahu bagaimana perasaannya.” lirihnya.
...💐💐💐...
Sementara itu Andreas yang kala itu sedang berada di kamarnya nampak prustasi, ia melempar ponselnya ke kasur seraya berteriak setelah menyadari Alya sudah memblokir semua aksesnya. Masih untung kamarnya yang mewah dan luas itu kedap suara, sehingga tak ada yang bisa mendengar teriakannya.
Pria itu tidak terima Alya pergi dari hidupnya, dan lebih memilih Kevin ketimbang dirinya.
“jika kamu pikir dengan memblokir semua akses membuatku akan berhenti mendekatimu, kamu salah besar! Dalam kamusku tak ada namanya mengalah, apapun yang aku inginkan harus ku dapatkan.” desisnya sambil menyeringai.
Lalu pandangannya mengarah ke dinding Mading, disana terdapat ada satu foto Kevin yang di bagian hidungnya sudah tertancap panah kecil.
“gue gak perduli seberapa kaya dan kuasanya Lo, yang jelas Lo udah berani merebut apa yang sudah milik gue, maka bersiaplah Lo akan mati!” ucapnya dengan penuh penekanan, guratan emosi itu begitu kentara di kedua bola matanya.
Andreas sudah kehilangan akal, demi bisa mendapatkan Alya ia rela melakukan apapun agar penghalangnya lenyap. Obsesinya begitu besar, seakan hanya dialah yang pantas bersanding dengan Alya.
Tanpa ia ketahui jika perasaannya terhadap Alya adalah suatu kesalahan besar, dan mungkin saja setelah ia tahu segalanya akan menjadi gila. Kini, hanya tinggal menunggu waktu saja yang mengungkap semuanya.
...💐💐💐...
Waktu pun terus berlalu, jam di dinding sudah mengarah ke angka 3. Namun rapat yang Kevin jalani belum selesai juga, semua karyawan yang ada di sana tak henti-hentinya berbicara. Dan hal itu membuat Kevin dilanda kegelisahan, karena mengingat istrinya sudah menunggunya lama.
__ADS_1
Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang, meski tak dipungkiri matanya tak henti-hentinya melirik arlojinya.
Sebenarnya inti dari rapat itu sudah selesai beberapa menit yang lalu, hanya saja ada beberapa karyawan yang membahas soal event yang akan di selenggarakan di kantor.
Waktu Dylan masih menjabat sebagai CEO, ZN GROUP memang suka mengadakan event dalam setahun sekali. Tak berbeda dengan sekarang, hanya saja karena saat ini pemimpinnya bukan Dylan lagi yang memiliki sifat humble, maka mereka semua kembali mendiskusikannya dengan Kevin.
Mereka tahu sifat antara Dylan dan Kevin sangat bertolak belakang, sehingga mereka takut jika sembarang kasih ide dan Kevin tak menyukainya. Maka dari itu mereka memutuskan membicarakannya sekarang, mumpung ada kesempatan.
Setelah menghabiskan diskusi selama beberapa menit, akhirnya Kevin bisa bernafas lega karena urusannya dengan para karyawan sudah selesai. Ia pun segera beranjak dari kursinya setelah berpamitan pada semua orang yang ada disana, kemudian pergi duluan.
Kenzo yang melihat tingkah tuan mudanya hanya geleng-geleng kepala, ia tentu tahu sedari tadi Kevin sudah tak sabar ingin pergi dan menemui istrinya yang sudah menunggu di ruangannya.
Dengan langkah lebar Kevin jalan menuju lift, jari telunjuknya menekan tombol panah berwarna hijau. Tak lama setelahnya pintu besi itu terbuka, dan Kevin bergegas masuk.
Ting!
Kevin sudah sampai di lantai tujuan, ia keluar dan jalan menuju ruangannya. Keningnya berkerut saat tak mendapati keberadaan Sean di ruang tunggu, ia heran kemana perginya pria bule itu.
Namun setelahnya ia kembali tenang begitu melihat Sean ada di dalam ruangannya yang pintunya terbuka sedikit, bergegas ia pun masuk dan raut wajahnya kembali berubah saat siapa yang sudah ada di ruangannya selain Alya.
“siapa yang mengijinkanmu masuk kesini?” tanya Kevin pada Seorang wanita yang kini sedang duduk di sofa, bersebrangan dengan Alya.
Alya dan wanita tersebut yang mendengar itu langsung menoleh, mereka menatap Kevin dengan beda artian.
“hai sayang.. kita bertemu lagi.” ucap wanita itu dengan nada manja, sambil melambaikan tangannya.
“Pergi!” bentak Kevin dengan mata melotot, telunjuknya mengarah ke pintu pertanda mengusir wanita itu.
Wanita itu yang tak lain adalah Mayra bergeming, ia malah melayangkan tatapannya ke Alya seraya menumpukkan kedua kakinya.
“pergi.” ucapnya pada Alya.
“yang suruh pergi itu kau, bukan istriku!” hardik Kevin.
Mayra kembali menatap kevin. “oh, jadi kamu mengusirku?”
“ya.”
“tapi aku gak mau pergi, gimana dong?”
“wanita sialan!” umpat Kevin kesal.
Kevin sudah siap menerjang Mayra, tangannya pun sudah berada di udara. Namun aksinya itu terhenti begitu dengan cepat Alya menariknya, ia berusaha menahan tubuh suaminya dengan cara memeluknya.
“tenanglah Vin, jangan emosi. Sebenci apapun kamu padanya, jangan pernah berbuat kasar. Biar bagaimanapun dia tetap wanita.” bisik Alya.
Kevin tak bersuara, dia membisu seraya memejamkan matanya sejenak. emosi yang tadi sudah naik berubah turun, begitu mendengar suara Alya.
“soal dia bisa ada disini, itu karena aku yang mengijinkan.” ucap Alya lagi, dan itu membuat Kevin membuka matanya dan menatapnya tajam.
“maaf, aku tahu salah. Tapi itu akan lebih baik, di banding membiarkan dia berteriak dan meminta pertanggung jawaban darimu di lantai bawah.”
Kevin mengernyit. “pertanggung jawaban apa maksudmu?”
Sebelum kembali bersuara, Alya melepaskan pelukannya dan memberi jarak. Ia memandang wajah Kevin dengan tatapan sendu, membuat Kevin yang melihatnya memiliki firasat buruk.
“ia mengaku sedang hamil anak kamu.”
DEG!
Kevin terperangah mendengar itu, ia menatap Mayra dan Alya bergantian. “apa! Hamil anakku?”
“ya! Aku sedang hamil anakmu, dan kamu harus bertanggung jawab. Nikahi aku secepatnya!” balas Mayra dengan tegas dan penuh keyakinan.
“omong kosong macam apa ini?”
“ini bukan omong kosong sayang, aku memang sedang hamil. Ada anakmu di dalam sini.” ujar Mayra sambil tangannya mengelus perutnya yang rata.
“jangan bicara sembarangan! Aku tidak pernah menyentuhmu, bagaimana--”
“jelas saja bisa, kita sudah melakukannya. Apa kamu lupa dengan kejadian sebulan yang lalu waktu di hotel, Hem?”
Sejenak hening. Kevin diam dengan ekspresi wajah kaget, sedangkan Mayra tersenyum puas.
Sementara Alya langsung menunduk begitu melihat ekspresi wajah suaminya, dari situ saja ia sudah yakin jika apa yang Mayra katakan benar adanya. Jangan katakan bagaimana perasaannya sekarang, sudah pasti sudah hancur lebur.
Memang, sebulan yang lalu kevin pernah terjebak satu malam dengan Mayra. Tapi kevin ingat betul malam itu ia tak menyentuh Mayra, meski pagi harinya ia bangun dalam keadaan tanpa pakaian sedikitpun.
Kevin menggeleng. “tidak! Itu tak mungkin terjadi, kamu jangan bicara yang sembarangan.”
“kamu jangan terus mengelaknya Vin, akui saja jika kamu dan Mayra memang sudah tidur bersama.”
sejenak, Alya menghela nafas sebelum kembali bicara.
“Aku akan mengijinkanmu untuk menikah lagi, asal sebelum itu.. kamu ceraikan aku.” lanjutnya dengan nada getir.
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istrinya membuat Kevin berang, ia menatap istrinya dengan tatapan iblis.
“SAMPAI DUNIA INI RUNTUH PUN AKU TAK AKAN PERNAH MENCERAIKANMU, APALAGI HARUS MENIKAH DENGANNYA! JANGAN HARAP!!” teriak Kevin lantang, seraya jari telunjuknya menuding ke wajah Mayra.
“tapi Mayra sedang hamil Vin, dia hamil anakmu!” balas Alya.
“dan kamu percaya? Kamu percaya dengan omongan wanita binal seperti dia?”
Alya mengangguk. “aku percaya karena ada buktinya.” lalu ia mengambil beberapa foto yang ada di meja, dan memberikannya ke Kevin.
__ADS_1
Kevin pun meraihnya, matanya melotot saat melihat lembar demi lembar foto dirinya dan Mayra tengah tidur di satu ranjang luas tanpa pakaian dan hanya tertutup selimut putih, ada juga foto saat dirinya di papah waktu di lorong yang sedikit gelap.
“tidak, ini tidak mungkin!” elak Kevin sambil menggeleng.