
“mas, jika kamu merasa tertekan dengan pernikahan ini aku minta maaf, tapi aku mohon jangan sakiti anakku! Cukup kamu sakiti aku aja, jangan bayiku. Dia gak salah apa-apa mas!”
Sebelum melanjutkan, Selena menghela nafas dalam-dalam.
“lagipula pernikahan ini akan segera berakhir, setelah itu silahkan kamu menikah dengan siapa saja tapi aku mohon jangan sama renata. Bukannya aku mengatur, tapi belajarlah dari nasibku. Aku gak mau jika nantinya kam--emmh..”
Ucapan Selena terputus begitu saja, seketika tubuhnya membeku saat bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Rafael. Ia ingin menolak, namun gerakan tangan Rafael terlalu cepat menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
Rafael ******* habis bibir Selena, menghisap kencang belahan daging kenyal itu bergantian. Ia memang sengaja melakukan itu karena kesal dengan istrinya itu yang sudah menuduhnya tidak-tidak, sekaligus ingin menghukumnya.
Akibatnya membuat Selena menggumam tak jelas karena bibirnya terasa sakit, wanita itu memukul serta mendorong dada bidang suaminya agar bisa terlepas. Namun sayangnya bukannya melepaskan, sang suami malah menahan pergerakan tangannya dan menguncinya, sehingga ia tak mampu lagi bergerak.
Selena tak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya bisa pasrah, menahan rasa sakit di bagian bibir akibat ulah ganas suaminya. Ingin terus melawan pun rasanya ia tak sanggup, tenaganya tak sebanding dengan tenaga Rafael yang jauh lebih kuat darinya. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi mulusnya, hingga lenyap di bibir.
Rafael menghentikan gerakan bibirnya saat merasakan rasa asin, ia tahu saat ini selena sedang menangis namun tak membuatnya menjauh. Bibir keduanya tetap menempel, perlahan ia mengendurkan pegangannya di tubuh selena lalu kembali menggerakkannya, dan kali ini dengan gerakan lembut.
Semakin lama cumbuan Rafael di bibirnya semakin intens, ******* bibirnya dengan penuh rasa dan kelembutan. Tak ada tuntutan maupun gairah, membuat Selena tak mampu untuk tidak membalasnya, dan pada akhirnya pasutri itu pun saling memagut satu sama lain.
Niat Rafael yang awalnya ingin memberi hukuman ke Selena, kini sudah terjebak oleh gairahnya sendiri. Ia merasakan batangnya menegang, dan meminta di puaskan.
“emmhh..” lenguh Selena tanpa sadar, saat merasakan remasan lembut di buah dadanya.
“m-mas.. ah..” desahnya saat ciuman Rafael beralih ke rahangnya, lalu semakin turun ke leher.
Kedua tangannya yang tadinya melingkar di leher sang suami, kini turun ke bahu lebarnya. Ia meremasnya, menandakan jika cumbuan sang suami di lehernya ia nikmati.
Puas mencumbui leher sang istri hingga meninggalkan jejak merah keunguan, kini bibirnya beralih ke bahunya. Hanya dengan satu jari, Rafael sudah bisa menyingkirkan tali tipis berenda itu hingga turun ke lengan. Bibir tebalnya Menghisap dan menggigit kecil area itu, sehingga menimbulkan ******* indah yang keluar dari bibir Selena. Sementara kedua tangannya kembali aktif meremas di dua gunung kembar Selena, yang ukurannya semakin besar akibat hormon kehamilannya.
Merasa puas, Rafael kembali mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Selena dengan kabut gairah.
“apa kita akan melakukannya mas?” tanya Selena dengan suara parau, nampak sebelah tangannya sudah berada di pusat gairah suaminya yang sudah mengeras.
Ah, sepertinya wanita hamil itu juga sudah bergairah.
Sudah lama sekali mereka tak bermesraan secara intim seperti ini, Selena sangat merindukan momen itu. Namun sejak ia mengalami pendarahan beberapa bulan lalu, Rafael selalu menolaknya.
setiap ditanya, pria itu selalu beralasan takut kejadian itu terulang kembali. Padahal Selena sudah berulang kali menjelaskan jika itu tak akan terjadi, jika mereka melakukannya dengan pelan. Bahkan dokter kandungan pun sudah memberi simulasi yang terbaik saat berhubungan badan, namun Rafael tetap saja merasa takut. Padahal menurut ilmu kedokteran, berhubungan badan di hamil tua itu sangat di anjurkan agar nanti proses melahirkannya berjalan lancar.
Rafael tak langsung menjawab, ia menggeram tertahan saat Selena meremas batang amerikanya, meski saat ini ia masih memakai celananya namun hawa hangat itu seakan menembus ke dalam.
Sebenarnya Rafael juga sudah sangat bernafsu dan ada keinginan besar untuk bercinta dengan istrinya, namun keinginan itu segera ia tepis. Rafael tak mau ambil resiko, dan tak mau hal sesuatu yang buruk menimpa istrinya dan kandungannya. Dengan berat hati Rafael menyingkirkan tangan Selena, lalu menangkup sisi wajahnya dan kembali menyerang bibirnya, Sebagai pengalihan. Ia mencium dalam belahan daging itu, lalu ********** dengan penuh perasaan.
Perasaan? Entah perasaan apa yang di maksud, yang jelas Selena tak kuasa untuk tidak membalasnya. Bahkan wanita itu membalas cumbuan suaminya dengan penuh gairah, yang mana membuat Rafael kelabakan.
Kini pasutri itu kembali hanyut oleh gelora panas yang mereka ciptakan, namun tak berani bertindak duluan. Ah, mungkin disini hanya Rafael yang tak mau memulai. Karena sejak pertama mereka bercinta, Selena sudah berani mengibarkan sayapnya. Sama seperti sekarang.
Yah, berawal dari tidak kesengajaan akibat pengaruh obat membuat Rafael harus menyetubuhi Selena di saat usia kehamilannya memasuki awal bulan kelima. Rafael tak tahu siapa yang mencampuri minumannya dengan obat perangsang, yang jelas saat ia menghadiri jamuan makan malam bersama kliennya di sebuah hotel tubuhnya terasa panas. Tadinya sang klien sudah menawarinya kamar hotel dan tentunya satu wanita sebagai pemuas nafsunya, namun untungnya Rafael menolak itu dan lebih memilih pulang.
Sayang sekali, sampai dirumah ia dikejutkan dengan kemunculan Selena dirumahnya. Wanita itu berdiri di ambang pintu untuk menyambut kepulangannya. Meski tadinya sempat menolak, namun karena selena selalu mengekornya pada akhirnya ia lampiaskan itu semua ke wanita hamil tersebut.
Dan.. dari situ Selena sudah kecanduan, mengesampingkan rasa malu dan juga kehamilannya. Ia Mengajak Rafael untuk berhubungan badan dengan dalih bayinya merindukan ayah sambungnya, padahal itu murni atas keinginannya sendiri. Dan syukurnya selama itu Rafael tak pernah menolaknya, ia selalu mengiyakan setiap istrinya mengajaknya bercinta.
Rafael melepaskan pagutannya, deru nafas pria itu terdengar berat dan matanya sayu.
“ah--aku tidak tahu kamu dapat darimana berita yang menuduhku ingin mencelakaimu, yang jelas aku hanya ingin bilang kalau itu semua adalah bohong. Niatku ingin menikahimu itu murni karena ingin menolongmu, aku gak mau kamu terus terjerat oleh keluarga Chandra.” ucap Rafael terbata, dadanya kembang kempis mengatur nafas. “Apa kamu pikir aku sejahat itu, membunuh mahluk yang tak berdosa hanya karena dia anak dari orang aku benci?” sambungnya.
Kemudian Rafael menggeleng lemah. “itu tidak mungkin terjadi.”
Yah, Selena tahu akan hal itu. Selama hampir 10 tahun mereka saling kenal, dan selama itu hubungan mereka bisa dikatakan cukup baik. Makanya banyak orang yang salah paham dengan hubungan keduanya, mengira jika mereka ada hubungan khusus. Apalagi selama ini tak ada wanita lain selain Selena yang dekat secara pribadi dengan Rafael, padahal kenyataannya Rafael sudah memiliki Renata yang kala itu hubungannya masih di sembunyikan.
Begitu pun dengan Selena, hubungan asmaranya dengan Chandra pun tak pernah terendus oleh media manapun. Karena sejatinya mereka sudah berpacaran jauh sebelum Selena pergi ke Korea, dan tentunya masa itu ia belum kenal dengan Rafael. Hubungan mereka kandas setelah 5 bulan berada di Korea, dan pada saat itu ia masih bekerja di kantor Zeous sebagai sekretaris Rafael. Dan dari situlah Rafael bisa tahu jika Selena adalah kekasih Chandra, pria yang sudah membuat Renata berpaling darinya dan tentunya sangat ia benci.
Rafael membenci Chandra bukan semata-mata karena sakit hatinya, tapi jauh sebelum itu keduanya memang selalu tak akur. Sejak jaman kuliah mereka sudah bermusuhan, Chandra selalu merasa iri melihat keberhasilan Rafael. Apapun yang dia punya dan raih, Chandra selalu ingin merebutnya, termasuk soal asmara. Ia pernah berpikir jika perjodohannya dengan Renata adalah salah satu usahanya untuk menghancurkannya, karena pria itu tahu Renata adalah pacarnya.
Dan kini.. Rafael kembali menduga jika kabar Selena hamil anak Chandra adalah salah satu usahanya untuk bisa menghancurkannya, tapi di sisi lain ia juga sempat berpikir jika Chandra benar-benar mencintai Selena. Karena jika alasan perbuatannya saat ini hanya untuk menyakitinya kenapa harus lewat Selena, yang jelas-jelas tak ada hubungan apapun dengannya.
Kecuali... Chandra mengetahui sesuatu tentang dirinya yang orang lain tak tahu.
Apapun itu, Rafael tak akan membiarkannya. Sudah cukup selama ini ia berdiam diri, kali ini Tak akan ia biarkan Chandra untuk menyakiti selena, walau hanya seujung kuku. Itu sumpahnya!
Sebelah tangan Rafael menyentuh perut buncit Selena, perlahan mengelusnya. Ia tersenyum saat ada pergerakan kecil di dalam sana.
“Bukankah sebelumnya aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku sudah Nerima dia sebagai anakku. Tak perduli darah siapa yang mengalir di dalam tubuhnya, yang pasti aku tetap akan menyayanginya.”
Jeda sejenak, ibu jari Rafael mengusap lembut bibir selena yang basah dan bengkak akibat ulahnya
“meskipun kelak nanti kita berpisah, rasa sayangku padanya tak akan pudar. Percayalah.”
Selena diam, tatapannya lurus menatap wajah Rafael. Ia bisa rasakan dari sorot matanya, ada kejujuran dan ketulusan disana. Itu tandanya semua yang Rafael katakan benar adanya, pria itu sangat menyayangi anaknya.
Seharusnya Selena merasa senang karena ada orang lain yang menyayangi anaknya tanpa alasan, tapi kenapa hatinya tetap merasa sakit. Ia seakan tak puas dengan itu?
Apa karena Rafael hanya menyayangi anaknya saja, dirinya tidak?
Selena menghela nafas sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya, rasa panas di wajahnya mulai ia rasakan. Jangan sampai Rafael tahu jika saat ini matanya sudah berkaca-kaca, ia merasa sedih karena Rafael tak pernah tertarik padanya.
‘memangnya siapa aku sampai menginginkan Rafael bisa menyukaiku, mimpi saja! oh ayolah Lena, harusnya kamu sadar dengan keadaanmu. laki-laki baik dan sesempurna Rafael tak mungkin bisa Menyukaimu yang memiliki riwayat skandal buruk!’
“lalu.. soal hubunganmu dengan Renata bagaimana, apa setelah kita cerai kalian akan kembali bersama?”
__ADS_1
Selena bertanya seperti itu tanpa menatap wajah Rafael, ia tetap menunduk. Ia tak sanggup harus menatap Rafael, dan ia juga takut tak bisa menahan air matanya.
“tidak!” jawab Rafael dengan tegas, dan hal itu membuat Selena kembali menatapnya.
“seperti apa yang kamu ucapkan, Renata masih menjadi istri orang dan aku tak mungkin merebutnya dari suaminya.”
“ji--”
“sekalipun nanti mereka bercerai, aku tak akan kembali padanya!” potong Rafael cepat.
“kenapa? Bukankah kamu masih mencintainya?”
“memangnya aku pernah bilang sama kamu kalau aku masih mencintainya?”
Selena menggeleng. Selama menjadi istrinya, Rafael memang tak sekalipun membahas Renata, apalagi sampai mengatakan masih mencintainya.
Pun, saat beberapa kali mereka tak sengaja bertemu di tempat umum. Rafael selalu bersikap acuh, meski Renata selalu memberi kode padanya. Itu yang Selena tahu.
“lalu kenapa kamu bisa berkata begitu?”
Selena kembali diam, ingatannya kembali ke pesan yang Renata kirim ke ponsel Rafael.
“renata mengirim pesan ke hp kamu mas, di dalamnya dia nanyain kamu lagi apa dan kenapa gak angkat teleponnya.”
Rafael mengernyit, lalu ia merogoh kantong celananya dan meraih ponselnya. “tak ada pesan maupun telepon darinya.” ucapnya seraya mengotak-atik ponselnya.
Sedangkan Selena nampak tercengang, Lalu matanya melirik ke ponsel Rafael yang ada di meja, kemudian kembali menatap Rafael.
“kamu punya 2 hp mas?”
Mendengar itu Rafael mendongak, kemudian mengangguk. Sumpah demi apapun Selena tak tahu jika suaminya itu memiliki dua ponsel.
“di hpku gak ada pesan ataupun panggilan dari Renata Len, sekalipun ada pasti aku tahu. Karena selalu aku pegang.”
“di hp satunya lagi mas, itu disana.” ucap Selena seraya tangannya menunjuk ke arah di maksud.
Rafael pun mengikuti, ia diam hingga setelahnya ia menghela nafas panjang.
“kamu gak ingin melihatnya mas?”
Rafael diam sejenak. “sepertinya kamu itu hanya salah paham aja sama aku lena.”
“hah!”
“hp itu jarang aku gunakan lagi, karena kondisinya sudah rusak. Makanya aku beli hp baru, bukan baru lagi sih. Udah lama banget aku belinya.”
“terus kenapa sekarang di nyalain?”
Selena diam seribu bahasa setelah mendengar penjelasan Rafael, raut wajahnya berubah. Ia merasa bersalah karena sudah menuduh suaminya yang tidak-tidak, ia sendiri tak mengerti kenapa bisa langsung berpikiran seperti itu.
Padahal belum ada bukti yang kuat yang mengarah Rafael bisa memiliki niat jahat padanya, tapi sayangnya akal sehatnya sudah di kuasai oleh pikiran negatif.
“maaf mas.” Lirihnya dengan mimik menyedihkan, dan Rafael mengangguk.
“sekarang kamu percaya kan sama omongan aku tadi?”
Selena mengangguk.
“karena permasalahannya sudah clear, jadi sekarang kamu minum ya susunya habis itu tidur. Ini udah malem banget loh.”
Kembali. Selena hanya mengangguk, lalu meraih gelas berisi susu hamilnya di meja. Secara perlahan ia meneguknya hingga tandas, setelah itu ia menyerahkannya ke Rafael.
Rafael pun bangun dari duduknya, ia menyuruh Selena untuk berbaring. Wanita itu hanya bisa menurut, setelah itu Rafael berlalu keluar kamar sambil membawa gelas kosong bekas susu yang ia minum.
...💐💐💐...
Garden Hotel's
Alya membaca papan nama yang ada di berada di belakang meja resepsionis di sebuah gedung, keningnya berkerut dalam. Seakan-akan nama hotel itu tak asing baginya, tapi ia pun tak mengerti apa. Padahal ia berkunjung ke kota ini saja baru kali ini, begitu pun dengan tempat yang saat ini ia pijaki tapi entah kenapa hatinya seakan sudah sering datang kesini.
Saat ini, Alya dan Kevin beserta Sean memang sedang berada di depan meja resepsionis untuk memesan kamar. Kevin nampak fokus mengisi biodata, di sampingnya Sean pun nampak bermain hp seraya menyenderkan tubuh kekarnya di meja tinggi itu. Nampak sebelah tangan bebasnya menjinjing beberapa paperbag, berisi pakaian ganti mereka.
Sebelumnya mereka sempat mampir ke toko pakaian dan supermarket, belanja alat mandi dan beberapa cemilan. Sedangkan Alya, tentunya masih sibuk dengan pikirannya. Sambil matanya menatap liar menelisik setiap sudut ruangan itu. Di bagian lorong kiri, tepatnya di satu ruangan paling pojok yang pintunya sedikit terbuka Alya melihat ada beberapa figura besar terpajang di tembok, namun ia tak bisa melihatnya dengan jelas karena jaraknya yang terlalu jauh.
Alya terkesiap saat merasakan hidungnya di tarik, ia melotot protes. Siapa lagi pelakunya jika bukan suaminya sendiri.
“kenapa?” tanyanya.
“apa?” Alya tak paham.
“dari tadi aku perhatikan kamu kayak gak tenang gitu? Mikirin apa sih?”
Alya langsung menggeleng. “gak apa-apa, aku hanya ngantuk. Udah registrasinya?”
Kevin menggangguk sambil menggumam, lalu menunjukkan kunci kamar ke wajah alya. Setelah itu mereka pun melangkah pergi ke lorong sebelah kanan, untuk mencari lift.
“vin.” panggil Alya saat sudah berada di depan pintu lift.
“hm?”
__ADS_1
“menurutmu hotel ini bangunan baru apa lama?”
Kevin tak langsung menjawab, ia mengernyit sebelum akhirnya menoleh ke sang istri. “kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?” tanyanya.
“gak apa-apa sih, cuma pengen tahu aja.” jawab Alya.
“setahu aku sih operasi hotel ini sudah lama, cuman..”
“cuman apa?”
“menurut berita yang aku dengar dulunya gedung ini adalah restoran mewah, tapi ada kejadian mengerikan yang terjadi disini. aku tak tahu pastinya apa tapi katanya sih sampai memakan korban. Salah satunya pemilik gedung ini.”
“oh ya? Terus kenapa sekarang di bangun menjadi hotel?”
Ting!
Sebelum kembali menjawab, Kevin menarik tubuh Alya untuk masuk lift, di susul Sean kemudian. Jari telunjuk pria itu menekan angka paling atas, lantai dimana nanti keberadaan kamar mereka.
“habis kejadian itu gedung ini sempat di kosongkan beberapa tahun, sebelum akhirnya di beli sama pengusaha lain dan merubahnya menjadi hotel.”
“nama restorannya sama gak kayak nama hotelnya?”
“aku gak tahu sayang, yang aku tahu cuma sepenggal ceritanya aja. Emangnya kenapa sih kamu nanya kayak gini? Kamu kenal sama pemilik sebelumnya?”
“mana ada! Orang ini kali pertama aku datang ke kota ini.” cetusnya.
“terus?”
“entah kenapa aku merasa gak asing sama gedung ini, kayak pernah kesini tapi aku gak ingat. Terus tadi juga di lorong bagian kiri, kayak ada ruangan khusus dan aku juga melihat beberapa figura.”
“masa sih? Kok aku gak lihat disana ada ruangan? Sean, Lo lihat gak di lorong kanan ada ruangan?”
Sean diam sejenak sambil mengingat-ingat, lalu menggeleng. “tidak tuan.”
“tapi beneran loh aku lihat!” serunya.
“ya udahlah sayang jangan di pikirkan lagi, mungkin disana memang ada ruangan cuma aku dan Sean yang gak nyadar. Dan soal foto itu, mungkin foto pemilik hotel ini atau pemilik gedungnya. Udah ya, jangan terlalu di pikirin.” ucap Kevin, seraya tangannya mengusap lembut kepala istrinya.
“terus soal felling aku gimana?”
“lupakan aja.”
“tapi--”
“kalaupun penting, aku yakin suatu saat nanti kamu akan mengingatnya. Tapi aku sih yakin kamu hanya kecapekan aja, makanya pikirannya ngelantur kemana-mana.”
Alya langsung cemberut saat mendengar ucapan terakhir Kevin, dan suaminya itu langsung terkekeh seraya merengkuh erat tubuh mungilnya. Tak lupa ia juga mendaratkan kecupan gemas di dahinya.
Setelah itu tak ada percakapan lagi, hingga 5 menit setelahnya pintu lift kembali terbuka. Mereka pun keluar dari kotak besi itu, lalu berjalan santai menelusuri lorong seraya mencari nomor kamar masingmasing.
Saat sudah menemukannya, Sean memberikan dua paperbag pada Alya dah Kevin, satunya lagi ia bawa. Selepas itu mereka pun masuk kamar masing-masing.
Drrttt..
Tepat saat mereka masuk kamar, ponsel milik Kevin bergetar. Ia pun meraihnya, wajahnya berubah kaku saat ada nama Kenzo disana.
“kamu mandi duluan aja sayang, aku mau terima telpon dari Kenzo dulu.”
Alya mengangguk setuju, ia berencana ingin berendam dulu dengan air hangat untuk meringankan tubuhnya yang terasa pegal, sekaligus rasa nyeri di bawah perutnya.
...💐💐💐...
“ada apa?” tanya Kevin saat panggilan itu sudah tersambung, ia berdiri di balkon kamar hotel.
[Saya ingin mengabarkan jika saya tak jadi mengantar nona Jenifer dan sekretarisnya pulang ke Jakarta malam ini.]
Kening Kevin mengernyit. “kenapa?”
[Dia menolaknya tuan, dan katanya dia juga ingin liburan disini.]
Kevin bisu sejenak, raut wajahnya seperti heran dengan alasan Jenifer yang ingin liburan disini. Bukan apa-apa, setahunya selama ini Jenifer tak suka liburan di kota-kota Indonesia. Paling mentok hanya di Bali, itu pun tak sampai sehari ia langsung minta pindah.
Kendati begitu Kevin tak perduli, terserah dia mau liburan kemana saja yang penting tidak mengganggu me time-nya dengan Alya.
“ya udah biarin aja dia melakukan apa yang dia pengen, yang penting Lo tetap menjaganya dengan baik.”
[Baik tuan.]
“apa om nattan sudah di beri tahu?”
[Sudah tuan, dan dia mengizinkan setelah tahu nona Jenifer akan berlibur bersama anda.]
Kevin tentu kaget mendengarnya, ia tak menyangka wanita itu bisa mengatakan kebohongan kepada ayahnya.
“apa? Dia bilang begitu?”
[Benar tuan, tapi tuan tenang saja nona jeni tak akan bisa mengganggu anda. Saya jamin itu!]
Kevin menghela nafas seraya memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
“ya udah Ken gue percaya banget sama Lo, dan gue harap Lo gak bakal ngecewain gue.”
Di seberang sana Kenzo nampak tertegun, ucapan terakhir Kevin terngiang-ngiang di ingatannya dan hal itu membuat dirinya merasa sedih. Entah karena apa.