TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 84~Fakta Baru


__ADS_3

“permisi Bu, apa disini menjual minuman hangat?” tanya Sean pada seorang wanita paruh baya, yang di perkirakan pemilik warung.


Wanita si pemilik warung tersebut yang baru saja meletakkan segelas kopi dan sepiring gorengan di meja pelanggannya nampak diam sejenak seraya menoleh kemudian mengernyit, tak lama setelahnya ia bersuara.


“minuman hangat? Maksud mister teh kopi?” jawab si ibu dengan logat sunda sambil mendongak, karena postur tubuh Sean yang lebih tinggi darinya.


Sean menggeleng pelan. “bukan Bu, tapi minuman biasa.” balasnya.


“aduh mister kalau itu tidak ada. Disini hanya menyediakan minuman dingin dan biasa, kalau yang hangat itu biasanya untuk kopi atau teh.”


“oh.. begitu ya bu.”


“iya mister. Memangnya minuman itu untuk siapa? Buat mister sendiri?”


“bukan Bu, tapi buat istri dari bos saya. Dia ngeluh sakit perut dan nyuruh saya buat cari minuman hangat.” jelas Sean apa adanya.


“sakit perut?” beo si ibu. “Oh! Mungkin maksudnya wedang jahe kali ya?” tebak si ibu.


“saya kurang tahu.”


“biasanya wedang jahe memang suka dijadikan obat masuk angin dan sakit perut mister, pasti istri dari bos mister lagi masuk angin ya makanya dia minta itu.”


“bisa jadi, apa ibu bisa buatkan sekarang?”


“bisa atuh! Ya sudah, ibu buatkan dulu di dalam, mister duduk aja disini. Atau.. mau pesan yang lain?”


“enggak Bu, saya pesan itu saja.” tolak Sean seraya menarik kursi, lalu duduk.


Sedangkan si ibu pemilik warung langsung bergegas pergi ke dalam, kedua bola matanya yang biru ke abu-abuan itu menatap ke etalase kaca yang menampakkan berbagai macam makanan khas bandung.


Sean yang pada dasarnya sudah mengenali semua makanan itu dan sering memakannya pun tergoda, entah sudah berapa kali jakunnya bergerak naik turun. Sejak dari kampus tadi ia belum sempat makan siang, dan hanya air minum saja yang masuk ke perutnya.


Dan.. saat ini perutnya sedang demo minta di isi, Namun sebisa mungkin ia tahan, karena proritas utamanya saat ini adalah nona mudanya.


Drrttt..


Terdengar suara getaran di saku celananya, Sean langsung merogohnya dan meraih ponselnya. Di layar datar itu terpampang nyata kontak Kevin sedang memanggil, ia pun langsung menggeser tombol hijau.


“ya, tuan muda.”


[Kalian dimana?]


Sejenak Sean diam, keningnya berkerut dan otaknya mulai berpikir.


‘kalian? bukankah disana ada nona muda, kenapa... oh, astaga! jangan bilang nona muda juga ikutan pergi, tapi...’


[Hey, Sean! Kau bisa mendengarku tidak?]


Kevin berteriak di seberang sana, membuat Sean harus sedikit menjauhkan ponselnya karena telinganya berdengung.


“iya tuan muda saya dengar, maaf tadi saya sedang melamun.”


[Ck! Kalau lagi bertugas jangan banyak melamun, sekarang jawab pertanyaanku dimana kalian sekarang? Kenapa kalian tidak ada basecamp?]


“saya lagi ada di warung depan proyek tuan, tadi nona muda menyuruh saya untuk beli minuman hangat.”


[Minuman hangat? Buat apa?]


“saya kurang tahu tuan, tapi tadi nona sempat mengeluh sakit perut dan wajahnya agak pucat.”


[Apa! Sakit perut? Mukanya pucat? Lo serius?]


Nada suara Kevin yang tadinya tinggi, kini semakin naik karena panik. Kenzo juga berada disana  dan mendengarnya, dari mimik wajahnya nampak kaget.


“i-iya tuan.”


[dia sedang sama Lo kan? Sekarang kasihkan hp Lo ke dia, soalnya dari tadi hpnya gak bisa dihubungi]


DEG!


Sean yang mendengar itu pun kaget, matanya membulat sempurna. dugaannya pun semakin kuat, jika selepas ia pergi Alya pun ikutan pergi.


“t-tidak tuan, nona muda tidak bersama saya.”


[Dasar bodoh! Gue kan udah pernah bilang, jangan tinggalkan dia sendirian! Terlebih sekarang kita lagi ada di luar kota, dia belum hafal dengan wilayah sini.]


“maafkan saya tuan, tapi saya juga tak bisa melalaikan keinginannya.”


Kevin tak langsung menjawab, ia tengah mengatur emosinya yang mulai naik sambil memejamkan matanya. Sesekali sebelah tangannya mengibas rambutnya, lalu berakhir mengacaknya. Dalam pikirannya, Sean tak sepenuhnya salah, karena ia tahu watak istrinya itu seperti apa.


[Ya sudah, selesaikan tugasmu yang sekarang. Biar gue dan Kenzo yang cari Alya, semoga saja dia masih di daerah sini.]


“baik tuan.”


Setelah itu panggilan pun berakhir, Sean menghela nafas dalam lalu kembali menyimpan ponselnya ke saku celana. Tak lama setelah itu ibu pemilik warung keluar sambil membawa satu cup minuman yang sudah di bungkus kantong plastik, dan memberikannya pada Sean.


Bergegas Sean langsung membayar dan melipir pergi dari sana, tanpa mendengarkan teriakan si ibu pemilik warung yang ingin memberi uang kembalian.


...💐💐💐...


“lacak keberadaannya sekarang!” titah Kevin pada Kenzo.


Kenzo yang mendengar itu pun langsung melaksanakan tugasnya, ia mengotak-atik tabletnya dan dalam hitungan detik ia sudah tahu keberadaan Alya dimana.


“nona muda masih berada di sekitar sini tuan, tapi...”


“tapi apa?” potong Kevin dengan cepat.


“menurut petunjuk petanya nona muda seperti berada ada di luar wilayah proyek, coba anda lihat ini.” ucap Kenzo seraya menyerahkan tabletnya pada Kevin.


Kevin menerimanya, keningnya berkerut dalam sambil matanya memperhatikan posisi titik merah berada yang sudah di zoom. Dan memang apa yang Kenzo katakan benar, lokasi yang terdeteksi bukanlah area proyek.


“telpon Ridwan!” titah Kevin. Lagi!


Kenzo mengangguk paham. Ia pun langsung menghubungi orang yang di maksud Kevin, dan menanyakan posisinya.


[Nona muda dalam pantauan saya, dia sedang berada di dalam toilet umum.]


Kevin yang mendengar itu pun langsung merebut ponsel Kenzo yang sengaja di loadspeaker.


“toilet umum mana?”


[Samping terminal bus tuan]


“ngapain dia kesana?”


[Saya kurang tahu, tapi sepertinya tadi dia mengendap-endap pergi dari wilayah proyek karena sedang mencari toilet dan nona tidak tahu jika disana juga ada toilet. Makanya dia pergi ke tempat lain, dan berakhir dia disini.]


“jauh tidak lokasinya?”


[Lumayan tuan, 15 kilometer dari wilayah proyek.]


“astaga! Sejauh itu. Ya sudah, kau pantau terus sampai dia kembali kesini.”


[Baik tuan.]


Sambungan telepon pun terputus, Kevin kembali menyerahkan ponselnya ke Kenzo.


“sekarang tuan bisa tenang, nona muda dalam keadaan aman.” ucap kenzo dengan nada lembut, ia tahu saat ini Kevin sedang tak baik-baik saja.


Kevin tak bersuara, dia hanya menghela nafas panjang seraya mengangguk kecil. Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki dari arah luar dan nampaklah sosok Sean disana. Deru nafas pria itu terdengar tak beraturan, karena lari cepat.


“maafkan atas kelalaian saya tuan muda.” ucapnya dengan penuh penyesalan, kemudian menundukkan kepalanya.


Kevin mengangguk samar. “ya, lupakan saja. Lagipula, ini bukan sepenuhnya salahmu. dia memang begitu, keras kepala. Tapi kau juga harus lebih keras kepala lagi, mengerti?”


“iya tuan, maafkan saya..”


“hmm..” Hanya deheman sebagai respon terakhir Kevin, lalu ia menarik kursi dan duduk disana sambil bersedekap dada.


“lalu.. nona sekarang ada dimana?” tanya Sean.

__ADS_1


“dia ada di toilet umum yang ada di samping terminal bus, lokasinya lumayan jauh dari sini. tapi kau tenang saja, disana sudah ada Ridwan dan fahmi memantaunya.” jawab Kenzo, karena Kevin hanya diam saja. Namun matanya fokus ke kantong plastik yang Sean bawa.


Sean yang mendengar itu pun menghela nafas lega, karena selain dirinya ada bodyguard lain yang sedang menjaga Alya.


“Lo beli apa?” tanya Kevin pada Sean.


“oh! Ini.. wedang jahe.” jawab Sean.


“pesanan Alya?”


“iya tuan. Menurut ibu pemilik warung, minuman ini ampuh buat pereda sakit perut.”


“bawa sini.”


Sean pun menurut, tanpa bersuara lagi dia jalan mendekati Kevin dan menyerahkan barang bawaannya.


Kruyuk~~


Bersamaan dengan itu terdengar suara yang ternyata berasal dari perutnya, membuat Kevin dan Kenzo yang mendengarnya sedikit kaget.


“maaf tuan..” lirih Sean seraya menahan malu.


“Lo belum makan?” tanya Kevin, dan langsung di iyakan oleh Sean.


“kenapa?”


“saya belum sempat makan siang tuan, karena nona selesai kuliahnya lebih awal dari jadwalnya. Dan dia langsung meminta saya untuk mengantarnya ke kantor anda.”


Kevin yang mendengar itu mendengus sebal. “jadi dia juga belum makan siang?” tanyanya kemudian.


“kalau itu saya tidak tahu, karena saat itu saya ada di bawah. Sedangkan nona dan temannya berada di lantai atas.”


Sejenak, Kevin melirik arlojinya dan disana sudah menunjukkan jam 5 lewat. Kevin juga baru menyadari jika hari sudah semakin pekat, dan telinganya mulai mendengar lantunan sholawat dari tempat ibadah khusus kaum muslim.


“ken, pesankan restoran dekat sini untuk kita semua! Dan bilangin ke jeni dan Amara, habis  makan malam Lo yang bakal anterin mereka pulang ke Jakarta.” titah Kevin.


“baik tuan.” balas Kenzo, kemudian dia pergi dari sana sambil mengotak-atik ponselnya.


“Lo bisa nunggu sampai Alya balik dulu kan?”


“bisa tuan.”


“bagus!”


Setelah mengatakan itu Kevin mulai membuka bungkusan plastik yang tadi Sean bawa lalu membuka isinya, tanpa ragu lagi dia meminumnya.


“enak tuan?” tanya Sean sambil memperhatikan mimik wajah Kevin yang datar.


Kevin mendongak dan membalas tatapan Sean. “lumayan.” jawabnya, kemudian kembali meminumnya.


Di sela-sela tegukannya, tiba-tiba saja Kevin teringat dengan ucapan Sean yang mengatakan Alya mengeluh sakit perut. Dia mulai overthingking, mungkinkah...


“oh iya, waktu di telpon Lo bilang Alya sakit perut kan?”


“iya tuan.”


“dan langsung nyuruh Lo beli minuman hangat?”


“iya tuan.”


“selain itu dia minta apa lagi?”


“tidak ada tuan, hanya itu saja.”


Kevin diam, namun otaknya sedang berperang. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menyalakannya.


“hem.. pantesan!” Lirihnya.


“kenapa tuan?”


“tidak!”


‘puasanya di perpanjang!’ gerutu Kevin dalam hati.


...💐💐💐...


Keduanya nampak sedang mengobrol sambil ditemani dengan 2 gelas kopi yang sudah tersaji di meja kecil di hadapannya, dari awalnya membahas soal pekerjaan hingga merembet ke masalah pribadi. Termasuk soal kabar Kevin yang datang ke Busan beberapa bulan lalu dan berakhir menyerang rafael, serta terbongkarnya fakta tentang hubungannya dengan Alya di masa lalu.


“jadi orang tuamu udah tahu soal masalah itu?” tanya Rafael saat Rendy membahas soal Alya dan Kevin.


Rendy mengangguk. “ya. Selena yang mengatakan itu, dan jujur awalnya aku gak menyangka jika 2 bocah itu sebelumnya pernah pacaran.” jawabnya.


“terus reaksi mereka bagaimana?” tanya Rafael, lagi.


“udah pasti kagetlah, lebih ke gak nyangka sih. Kita semua gak ada yang tahu soal itu, dan saat Alya memutuskan pindah kuliah ke Seoul juga kami gak curiga sama sekali.”


“itu karena ada alasannya.”


“om aji?”


“jelas!”


Setelah itu keduanya dengan kompak menghela nafas, Rendy nampak mendongak ke atas langit malam yang bertabur bintang.


“pantas saja waktu aku dan Selena memintanya untuk menikah dengan Kevin ia sempat nolak, bahkan aku lihat dia nangis sesenggukan. pasti karena ini.”


Rafael yang mendengar itu nampak tersenyum miris, ia merasa prihatin dengan nasib alya. Hanya karena status kasta, membuat cintanya terhambat dan akhirnya melukai satu sama lain.


“mungkin.. ini yang dinamakan jodoh.”


“ya, kamu benar. Mau sekeras apapun orang-orang ingin memisahkan mereka, pada akhirnya takdir kembali mempersatukan.”


Senyap sejenak.


“sekarang aku paham kenapa dulu Kevin bisa depresi berat, hingga sampai punya penyakit anxiety. Itu karena tekanan batin dari masa lalu ayahnya, di tambah dengan rasa patah hatinya karena merasa di khianati oleh kakaknya.”


Rafael tersenyum miris, lalu berkata. “itulah kenapa aku meminta syarat itu.”


Rendy kaget, ia pun menoleh. “maksudnya?”


“aku memang sengaja meminta kalian untuk menikahkan Alya dengan Kevin, selain karena ingin membebaskannya dari pernikahan paksa, aku juga tahu jika sebelumnya mereka ada hubungan. Dan aku yakin hanya Alya yang bisa mengembalikan karakter Kevin seperti dulu.”


“j-jadi..”


Rafael mengangguk, ia tahu apa yang akan sahabatnya itu katakan. “ya! Sejak awal aku memang sudah tahu jika Alya adalah mantannya kevin, ya meski gak awal-awal banget.”


Rendy Mengernyit heran. “maksudnya bagaimana sih, aku gak paham?”


“masih ingat gak saat aku, Selena dan Alya mau pergi bersama ke Indonesia?”


Rendy mengangguk pasti.


“kan disana kamu ngenalin Alya ke aku, karena menurutmu kami belum kenal sebelumnya. Ya, awalnya memang begitu. Aku belum tahu wajah Alya yang di kenal sebagai adik Selena, tapi saat melihat wajahnya langsung aku merasa gak asing dan entah kenapa tiba-tiba muncul bayangan saat Kevin mengenalkan teman wanitanya waktu SMA. pada saat itu aku belum ada pikiran jika dia memang orangnya, tapi saat mataku melihatnya memakai kalung perak dan ada cincin mama Ara, aku jadi yakin jika Alya adalah mantannya kevin. Aku juga sadar saat itu dia kayak antara kaget dan takut melihatku, Padahal sebelumnya kami belum pernah bertemu.”


“kenapa kamu bisa seyakin itu, bisa aja itu hanya sekedar mirip?”


Rafael menggeleng. “enggak, aku yakin banget cincin itu adalah milik mama Ara. Cincin terakhir kali dia pakai sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku masih ingat betul, sebulan sebelumnya mama Ara pernah berpesan untuk menyerahkan cincin itu ke Kevin nanti. Ya, sebagai anak yang masih berusia 10 tahun aku belum terlalu paham, tapi aku selalu ingat kata-kata itu. Mungkin.. saat itu dia udah tahu kalau umurnya gak bakalan lama lagi, dan menjadikan cincin itu sebagai penggantinya.”


Rendy yang mendengar cerita Rafael manggut-manggut paham. “terus kenapa kamu gak pernah cerita selama ini?”


“sorry, aku gak pernah jujur sama kalian. Aku hanya khawatir saat kalian semua tahu alasannya, kalian bakal batalin pernikahannya. Makanya aku selama ini diam.”


“astaga raf, kenapa kamu punya pikiran kayak gitu sih? Mana mungkin kita batalin gitu aja, sedangkan kami semua tahu apa alasanmu di balik lakukan ini. kalau di pikir-pikir lagi sih yang lebih banyak ruginya itu kamu deh.”


Rafael mengernyit. “rugi kenapa?”


“jelaslah rugi, karena kamu rela mengorbankan dirimu sendiri untuk menikahi selena yang tengah hamil anak dari pria lain. Bahkan kamu mau mengakui anak itu sebagai anak kandungmu sendiri.”


Mendengar itu Rafael pun tersenyum. “gak masalah, yang penting Kevin bisa bebas dari perjodohan itu dan Selena juga bisa bebas dari Chandra.”


“benar! Aku gak tahu bagaimana nasibnya nanti jika dia beneran nikah sama Chandra, pasti dia akan tertekan karena mendapat mertua jahat.”

__ADS_1


“kayaknya kamu lupa deh, kalau papaku juga jahat.”


“cuma dia doang, yang lainnya kan tidak. Apalagi nenekmu itu, dia kelihatan sayang banget sama selena.”


Rafael yang mendengar itu hanya tersenyum, tanpa kembali bersuara.


“kamu memang cowok langka raf, siapapun wanita yang menjadi istrimu nanti pasti akan bangga. Karena memiliki suami sempurna sepertimu, udah mah ganteng, kaya, baik lagi.”


“dan wanita itu adalah adik sepupumu sendiri.”


Rendy diam sejenak, kedua matanya yang sipit menatap rafael serius. “memangnya kamu mau terusin pernikahan ini?”


Seketika itu pula Rafael menjadi linglung, ditambah dengan mimik wajahnya yang cengo.


“hah!”


“jangan pura-pura Amnesia deh raf, aku sama orang tuaku kan udah tahu jika pernikahan ini hanya sementara.”


“O-oh iya, aku lupa..” gagap Rafael seraya nyengir kuda, ia lupa dengan fakta itu.


“terus gimana?”


“gimana apanya?”


“pertanyaanku yang tadi? Mau lanjut atau sesuai dengan perjanjian awal?”


Kini giliran Rafael yang diam, dan wajahnya pun berubah datar dan terkesan dingin. “sesuai dengan perjanjian di awal, aku akan menceraikannya setelah 40 hari melahirkan.”


“kamu yakin gak bakalan nyesel?”


“kenapa harus nyesel? Itu kan isi perjanjiannya.”


“iya sih, tapi..”


“gak ada tapi-tapian ren, aku bakalan lakukan sesuai yang ada di surat kontrak.”


Rendy kembali diam. “aku boleh nanya sesuatu sama kamu, tapi harus jawab jujur.”


“oke.”


“sepanjang dari pernikahan ini apa kalian sudah bercinta?”


DEG!


Rafael terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Sedangkan Rendy nampak tersenyum smirk.


“gak usah kaget begitulah, santai aja kali.”


“pertanyaanmu aneh!”


“aneh apaan, itu wajar!


“wajar matamu!”


“hahahahaha... gak usah malu gitu, akui aja. Gak apa-apa kok.”


“apa sih!”


“pernah gak?”


“Gak!”


“jangan bohong.”


“buat apa aku bohong, gak guna.”


“gak usah ngelak lagi, aku tahu kamu lagi bohong. Itu buktinya kupingmu merah banget, itu menandakan kalau kamu lagi bohong.”


Seketika itu pula Rafael langsung menutupi kupingnya dengan kedua tangannya, membuat tawa Rendy meledak.


“kalau ciuman?”


“sekali doang, itu pun waktu di altar.”


“ah, bohong lagi.”


“serius!”


“gak percaya, Masa iya berbulan-bulan kalian sering menghabiskan waktu bersama, bahkan ya kalian tidur satu ranjang Loh! Ya kali gak ngapa-ngapain? Impossible sekali! Kecuali kalau kamu udah belok.”


“sembarangan aja kalau ngomong! Aku masih normal ya!”


“kalau normal, buktiin dong. Selain dengan mantanmu yang matre itu, selama ini aku gak pernah lihat kamu mesra dengan wanita lain.”


“ya masa aku harus tunjukin itu di depanmu yang jomblo sih? Gak takut kejang-kejang?”


“sialan! Gak usah bawa-bawa jomblo napa.”


“kenyataannya begitu kan?”


“asem!”


"Gu--”


Tok.. Tok.. Tok..


Kreet!..


“mas..”


Rafael sudah siap membuka suaranya, namun tertahan saat mendengar suara ketukan. Tak lama setelahnya pintu ruangan kerjanya terbuka, di susul dengan suara lembut Selena menggema.


“mas, kamu dimana?”


Suara Selena kembali terdengar, dengan cepat Rafael menyahutinya.


“di balkon!”


Tak memakan waktu lama Selena muncul, wanita yang tengah hamil besar itu tersenyum tipis membuat Rafael yang melihatnya terpana.


Sejak usia kandungannya semakin besar, Rafael menyadari jika Selena terlihat semakin cantik. Ditambah dengan postur tubuhnya yang semakin berisi, membuat auranya semakin keluar.


Bohong banget jika Rafael mengatakan tak pernah tergoda sedikit pun dengan Selena, sebagai laki-laki dewasa dan normal tentu saja dia tergoda. Ada keinginan besar dalam dirinya ingin mencumbuinya, menaklukannya di bawah Kungkungannya dan berakhir menciptakan suara-suara indah sepanjang malam. Namun sayangnya dia tak pernah berani melakukan itu secara terang-terangan, kecuali saat Selena menginginkannya.


Yaps, tentu saja mereka pernah bercinta. Apalagi ciuman, mereka sering melakukan itu. Meski dengan alasan bayinya yang menginginkannya. Tapi kegiatan itu tak pernah mereka lakukan lagi saat terakhir kali Selena pendarahan, lebih tepatnya saat usia kandungannya 5 bulan. Bukan Selena yang meminta berhenti, tapi Rafael sendiri. Ia merasa takut jika mereka melakukan hubungan intim lagi, maka Selena akan kembali pendarahan dan akan mengancam keselamatan keduanya.


“paman dan bibi udah mau pulang, katanya kamu mau ikut pulang bareng gak?” tanya Selena pada kakak sepupunya itu.


Tanpa berpikir panjang lagi Rendy mengangguk, kemudian berdiri.


“ya udah raf gue pamit ya, titip Selena ya. Jagain dia dan calon keponakanku dengan baik!”


Rafael ikutan berdiri dan berkata. “tanpa kamu suruh pun aku pasti bakal jagain dia.”


“baguslah kalau Lo udah ngerti, tapi...”


Rafael diam, menunggu Rendy melanjutkan ucapannya. Begitu pun dengan Selena.


“jangan cuma jagain fisiknya aja, tapi batinnya juga harus di jaga. Terutama soal nafkah...”


“maksudmu apa ren?” tanya Selena sambil mengernyit.


Sedangkan Rafael nampak menahan kesal karena ucapan Rendy yang frontal.


“kamu tanyakan saja pada suami tampanmu ini, udah ya bay!”


Setelah mengatakan itu Rendy langsung melipir pergi sambil tertawa.


“maksud Rendy apa ya mas?”


“aku juga gak tahu, sudahlah jangan di pikirkan. Mending kita keluar ya, temuin paman dan bibi.”

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Selena, Rafael langsung merangkul pinggang Selena yang melebar dan membawanya keluar.


__ADS_2