TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 79~Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

“gimana mas, apa Kevin setuju?” tanya Selena saat melihat Rafael masuk kembali ke kamar.


Saat menelpon Kevin tadi, Rafael memang ada di balkon yang ada di kamarnya dan hal itu membuat Selena yang ada disana bisa mendengar percakapan mereka.


Rafael mengangguk. “dia setuju. Katanya dia akan bicarakan dulu dengan Alya, tapi belum pasti kesininya kapan karena keadaan mereka disana lagi sama-sama sibuk.” jawabnya.


Selena yang mendengar itu manggut-manggut mengerti, ia tahu itu. Karena sebelum masalah ini ada Selena dan Alya sering bertukar kabar, hanya saja Alya tak pernah membahas tentang hubungannya dengan Kevin yang sedikit renggang.


Padahal Selena sudah mengetahui Semuanya, itu pun semenjak kedatangan Kevin di busan yang tiba-tiba dan melihat penampilan wajah Rafael yang babak belur.


Sebagai istri tentu saja ia terkejut begitu melihat wajah tampan Rafael yang sudah rusak, Marissa pun begitu, bahkan wanita itu sampai menangis.


Meski Rafael dan Kevin bukanlah putra kandungnya, tapi ia yang mengurus dan menjaga mereka sejak kecil. Rasa sayang itu sangat tulus ia berikan untuk kedua putra sambungnya, bukan semata-mata karena sudah menikah dengan ayahnya.


Rafael yang melihat itu pun mulai menjelaskan semuanya, dan hal itu membuat tangisan Marissa semakin menjadi. Dengan berlinangan air mata, wanita itu jalan mendekati Kevin dan memeluknya erat.


“maafkan kami nak, bukan maksud kami merahasiakannya darimu. Tapi mungkin itu adalah jalan terbaik untuk kalian berdua, dipisahkan sementara dan disatukan oleh takdir.” ucap Marissa kala itu, sambil terus merengkuh tubuh tegap Kevin yang tak memberi respon apapun.


Namun Selena yang memperhatikannya dengan jelas bisa lihat, Kevin nampak menahan diri untuk tidak menangis. Ia tahu persis sesakit apa rasanya ditinggal oleh orang yang teramat disayangi, karena ia pernah ada di posisi itu.


dari situ Selena tahu jika dulunya Alya dan Kevin pernah pacaran, namun hubungan mereka di kekang keras oleh ayahnya. Tapi yang namanya jalan takdir tak ada yang tahu, mau sekeras apapun manusia menentangnya, jika Tuhan sudah berkehendak, maka semuanya akan terjadi. Sama halnya dengan kisah cinta Alya dan Kevin, meski keduanya sempat dipisahkan tapi takdir mempersatukan mereka kembali.


Saat pertama mendengar fakta ini Selena benar-benar tak menyangka jika Alya pernah pacaran dengan Kevin, seorang pewaris satu-satunya dari keluarga Zein dan adik dari mantan atasannya yang kini menjadi suaminya. Dan lebih terkejut lagi kabar miring tentang Kevin yang pernah depresi akibat putus cinta hingga masuk rumah sakit jiwa itu benar, jadi bisa dikatakan Kevin bisa menderita anxiety itu karena adiknya.


Tapi kenapa Alya tak pernah menceritakan ini padanya, bahkan saat ia memintanya untuk menikah dengan Kevin, Alya malah menolaknya. Apa karena alasan ini membuat adiknya itu menolak, ia takut ayah mertuanya itu akan mencelakainya beserta keluarga pamannya jika ia kembali muncul?


Ya Tuhan..


Jadi ternyata inilah alasannya kenapa Alya dulu tiba-tiba ingin menyusulnya ke Korea, beralasan ingin kuliah disana dan bisa dekat dengannya dan pamannya. Tapi kenyataannya dia sudah membuat perjanjian dengan aji, yaitu meninggalkan Kevin dan meninggalkan Indonesia.


“kamu kenapa?”


Suara Rafael terdengar lembut di telinga Selena, dan ia juga merasakan usapan lembut di kepalanya.


Selena yang kala itu sedang duduk di sisi ranjang mendongak dan melihat suaminya itu sudah berada di depannya, mata sipit itu menatapnya heran.


Selena menggeleng seraya tersenyum tipis. “gak apa-apa mas, aku hanya ke ingat sama kedatangan Kevin beberapa bulan lalu.” jawabnya.


Rafael yang mendengar itu menghela nafas, kemudian duduk di sebelah Selena.


“jangan di ingat-ingat lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Yang penting kan sekarang permasalahan diantara keduanya sudah selesai.”


Selena diam sejenak, kemudian menghela nafas seraya merubah posisi duduknya menghadap ke rafael. “permasalahan antara Kevin, Alya dan Dylan memang sudah selesai mas, tapi papa? Dia belum tahu jika Kevin sudah mengetahui semuanya.”


Rafael bungkam. Apa yang Selena ucapkan memang benar, permasalahan antara kedua adiknya memang sudah usai. Tapi hingga saat ini papa-nya belum tahu apapun, karena ia sendiri yang menginginkannya.


Menurutnya, selama tak ada yang berani bicara maka semuanya akan aman. Terlebih sekarang Kevin sudah memperketat penjagaan, sehingga ia yakin bahwa papa-nya tak akan mampu menyentuh Alya.


Begitu pun dengan dirinya, Selena sudah di kawal oleh beberapa bodyguard. Meski aktifitasnya kali ini tak sepadat yang dulu menjadi artis, tetap saja Rafael tak bisa mengabaikannya.


“lalu masalahnya apa?” Rafael berusaha bersikap santai.


“aku hanya takut mas, jika papa tahu apa dia akan mencelakainya?” tanya Selena cemas.


Rafael tersenyum tipis seraya mengusap Surai panjang istrinya. “kamu tenang aja ya, sekalipun papa mau mencelakainya, dia tak akan berhasil. Karena Alya sudah berada dalam lindungan orang-orang hebat, Kevin sudah melabelinya dengan penjagaan ketat.”


“kamu pasti tahu secerdik apa adikku itu, meski dia cuek tapi sebenarnya dia perhatian. Asal kamu tahu saja Dalam diamnya, dia selalu mengawasi semua gerak-gerik para musuhnya. Termasuk papa.” lanjutnya.


“aku percaya itu mas, tapi Kevin tetaplah manusia biasa. Ia pasti akan mengalami yang namanya kesialan, siapa tahu aja dia kecolongan.”


“ya kamu jangan bicara begitulah, doakan saja semoga semuanya baik-baik saja. Selama ini aku juga selalu mengawasi papa kok, dan sesuai dengan perkataanku tadi. Setiap langkahnya selalu gagal!”


Selena terkesiap mendengar itu. “benarkah? Mas tahu darimana jika semua rencana papa selalu gagal?”


“lewat kamera cctv. Secara diam-diam aku sudah menyuruh orang untuk memasangnya di ruangannya, papa Suka ngamuk pas terima telpon. Selain itu aku juga sudah memasang alat perekam di tas kerjanya, serta meretas ponselnya. Jadi apapun yang dia bicarakan dan siapapun dia hubungi aku tahu.”


Selena nampak tercengang mendengar penjelasan rafael, ia tak menyangka jika suaminya akan berani melakukan itu.


“kamu berani banget sih mas, kalau papa tahu gimana?”


Rafael mengangkat bahu. “biarin aja! Lagian mama dan kakek juga ikut bantu kok.”


“hah! Mama dan kakek juga tahu soal ini?” pekik Selena dengan mata membola, jika saja kamarnya tak kedap suara, pasti akan ada yang mendengarnya.


“iya! Jadi kamu tenang aja ya, Alya dan keluarga pamanmu akan baik-baik saja.”


Selena mengangguk mengiyakan, kali ini ia percaya. “makasih mas.” ucapnya penuh haru, lalu memeluk suaminya dengan erat. “makasih karena sudah mau repot untuk menjagaku dan keluargaku, aku tak tahu lagi harus balas kebaikanmu dengan apa.” lanjutnya.


Rafael nampak kaget dengan perlakuan Selena yang memeluknya tiba-tiba, tapi setelahnya ia kembali santai dan membalas pelukannya.


“tak perlu membalas, aku iklhas melakukannya. Lagian ini sudah menjadi tugasku sebagai suami, anak dan seorang kakak, jadi kamu gak perlu sungkan begitu.” ucapnya seraya tangannya menyentuh perut Selena yang buncit.


Selena tak bersuara, dia hanya mengangguk dalam rengkuhan Rafael. Tanpa suaminya itu tahu jika saat ini Selena tengah menangis, bukan karena sedih tapi karena bahagia. ia merasa sangat beruntung karena memiliki suami sempurna seperti Rafael, Tapi di balik itu ia tersadar karena sebentar lagi akan kehilangannya.


Sesuai dengan perjanjian di awal, mereka akan bercerai setelah melahirkan nanti. Itu artinya tinggal sebulan lagi, setelah itu ia akan menyandang sebagai single parent.


Jika dulu Selena menginginkan itu, Tapi kini ia malah tak mau menginginkannya. dia ingin terus menjadi istrinya dan menghabiskan sisa hidupnya bersamanya, tapi.. rasanya tak mungkin.


‘tuhan.. apakah sekarang aku sudah jatuh cinta dengan suami kontrakku? kenapa setiap mengingat perjanjian itu, hatiku sakit?’ batin Selena bertanya.


Semenjak Selena pindah ke Busan, interaksinya dengan Rafael memang semakin intens. Ia selalu merasa nyaman jika sudah berada disampingnya, mungkin karena itu membuat benih-benih cinta itu tumbuh di hatinya. ditambah dengan keluarganya yang sangat menyayanginya, Kecuali aji.


Hanya papa mertuanya itulah yang bersikap dingin, dan berkata ketus padanya. Meski tak pernah melontarkan kata kasar, tapi begitu melihat tingkahnya membuat Selena menduga jika sejak awal pria paruh baya itu tak pernah menyukai kehadirannya.


Tapi selama itu sebisa dan sekuat mungkin Selena bersikap santai dan tak terlalu di ambil hati, itu semata-mata demi kesehatan bayinya.


Kini, saat ia sudah tahu semuanya membuatnya menjadi takut. Ia takut jika nanti bertatap muka dengan Aji, karena selama ini ayah mertuanya itu selalu menatapnya sinis.


Sejenak Selena menghela nafas, sebelum akhirnya melepaskan rengkuhannya dan menatap penuh wajah rafael.


“mas, sebentar lagi kan aku mau melahirkan dan.. dan sesuai dengan perjanjian awal, kita akan bercerai.”


Rafael mengangguk. “iya. lalu?”

__ADS_1


“bisa tidak, kamu.. tunda dulu sampai aku 40 hari? Setidaknya sampai fisikku kuat.”


‘karena.. rasanya setelah itu aku akan kehilangan semangat hidupku.’ gumamnya dalam hati.


Mendengar itu Rafael diam sejenak, wajahnya datar dan matanya menatap Selena dalam.


“tentu.” jawabnya kemudian, dan hal itu membuat senyuman tipis Selena terbit.


“tapi aku juga pengen minta sesuatu sama kamu.” ucap Rafael lagi.


“apa?”


“jangan pernah larang aku jika aku ingin menjenguknya. Aku pengen sebelum berangkat wamil, aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamanya.”


mendengar kata wamil membuat Selena kaget. “kamu pengen pergi wamil mas? Bukannya kamu masih terdaftar sebagai WNI?”


“aku sudah menggantinya setahun yang lalu. Bisa kan?”


Selena mengangguk pasti. “boleh mas, kamu boleh menjenguknya kapanpun kamu mau. Biar bagaimanapun kamu juga ayahnya, meski bukan kandung.”


Rafael tersenyum lebar, kedua bola matanya yang berwarna biru ke abu-abuan itu nampak berbinar.


“terima kasih.” ucapnya dengan irotasi rendah.


CUP!


DEG!


entah sengaja atau tidak, Rafael mengecup singkat pipi Selena yang tembem. Membuat si empu terpaku, wajahnya merona dengan degupan jantung yang menggila.


“mas..” lirihnya seraya menyentuh pipinya yang tadi di kecup Rafael.


Seakan menyadari dengan perbuatannya, rafael langsung meminta maaf.


“aku gak sengaja, itu reflek karena terlalu senang. Maaf ya..” ucapnya dengan mimik memelas, ia menyesal telah berani mencium Selena tanpa ijin.


“aku janji setelah ini aku gak akan melakukannya lagi.” ucapnya lagi seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v, karena Selena diam saja.


“aku gak marah mas, tapi hanya kaget saja.” ujar Selena.


“serius?”


Selena mengangguk meyakinkan, membuat Rafael tersenyum lega. Dan lagi-lagi Selena dibuat terpana oleh senyuman Rafael, buktinya saja saat ini ia menatap suaminya itu tanpa kedip.


‘seepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya, bahkan aku baru menyadari setelah tinggal disini aku sudah tak mengingat soal Chandra lagi. tapi.. bukankah ini sudah terlambat, karena sebentar lagi kami akan berpisah?’ batinnya.


Benar apa kata orang, cinta akan datang jika sudah terbiasa. Dan kini Selena merasakan itu, ia yakin dengan perasaannya terhadap Rafael adalah perasaan cinta.


Namun sayangnya rasa itu datang terlambat, di saat masa perpisahan itu sudah di depan mata, ia baru menyadarinya.


...💐💐💐...


Alya sudah menyelesaikan semua urusannya dengan dokter Samuel, hatinya senang kala pria itu menyatakan jika kakinya sudah sepenuhnya pulih.


Tapi itu bukan berarti membuatnya menjadi bebas, Samuel menyarankan alya untuk sementara waktu jangan dulu memakai sepatu yang berhak tinggi dan lari cepat. Tak apa-apalah, setidaknya ia sudah bisa bebas jalan dan kakinya tak perlu di bungkus lagi.


“jalannya pelan-pelan saja nona, ingat kata dokter tadi.” ucap Sean memperingati, begitu melihat langkah Alya yang sedikit cepat.


Alya tak menjawab, tapi dia langsung memelankan langkahnya. Dan hal itu membuat Sean tersenyum lega, karena nona mudanya langsung menuruti ucapannya tanpa harus protes.


Namun tak lama setelahnya langkah Alya semakin melambat, saat melihat 2 orang pria berbeda usia tengah bertengkar di koridor yang memang sedang sepi.


Jaraknya yang lumayan jauh membuat Alya tak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi begitu melihat raut wajah kakek itu membuat Alya yakin, jika pria paruh baya itu melontarkan kata-kata yang tak pantas.


Tak berselang lama pria paruh baya itu mendorong tubuh si kakek sampai jatuh ke lantai, tongkat yang sedari ia pegang pun ikutan jatuh. dan hal itu membuat Alya dan Sean yang melihatnya kaget, beda halnya dengan pria paruh baya itu yang pergi begitu saja.


Bergegas Alya pun jalan cepat mendekat ke arah kakek itu, di ikuti oleh Sean. Begitu sudah dekat Alya langsung berlutut, meraih tongkat dan membantu sang kakek berdiri.


“ma-makasih nak.” ucap sang kakek dengan nada gugup, lalu meraih tongkatnya yang di pegang Alya.


“kakek gak apa-apa? Ada yang luka gak?” tanya Alya dengan nada cemas, seraya memperhatikan tubuh si kakek dengan teliti.


Kakek itu sejenak diam, ia menatap wajah Alya dengan penuh makna, Sebelum akhirnya ia melirik Sean dan menggeleng.


“tidak apa-apa. Saya baik-baik saja, terima kasih.” jawabnya.


“pria tadi itu siapanya kakek sih, kok kasar banget sama orang tua!” cetus Alya, ia kesal.


“dia anak saya. Sifatnya memang begitu, suka seenaknya.”


“cih, anak durhaka!”


Si kakek yang mendengar gerutuan Alya hanya tersenyum miris, dalam hati ia pun beranggapan begitu. Tetapi yang namanya orang tua, sebandel apapun anaknya pasti akan di bela.


Tak lama setelah itu terdengar suara derap langkah kaki, dan seruan laki-laki.


“bapak!”


Semua pasang mata yang ada disana langsung menoleh ke arah suara, terlihat ada seorang pria dewasa berpakaian formal jalan cepat ke arah mereka. Sejenak ia berhenti dan wajahnya seperti kaget, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.


“bapak tidak apa-apa?” tanyanya dengan raut wajah antara cemas dan kaget.


“tidak.” jawab si kakek sambil menggeleng. “dimana Bobby?” tanyanya.


“pak Bobby sudah pergi duluan pak, katanya ada urusan. tapi saya dapat perintah darinya untuk mengantar anda pulang.” jawabnya.


Si kakek yang tak lain kakek Rusman itu manggut-manggut, lalu kembali menoleh ke arah Alya dan tersenyum hangat.


“sekali lagi terima kasih ya nak sudah membantu kakek, kalau begitu kami permisi.” pamitnya.


Alya mengangguk dan membalas senyuman itu. “iya kek, kalau anak kakek yang tadi kembali berbuat kasar, lapor polisi aja.”


Sejenak kakek Rusman terkekeh, lalu menjawab. “iya.”

__ADS_1


Setelah itu kakek Rusman dan Adnan pun pergi, namun sesekali kepalanya menoleh ke belakang sambil terus tersenyum. Dalam hati ia merasa bahagia karena bisa bertatap muka langsung dengan cucu perempuannya, namun dibalik itu hatinya juga teriris karena wajah Alya begitu mirip dengan Vanessa.


Dan yang paling mencolok adalah bentuk mata dan warna rambutnya, matanya bulat namun sedikit sipit. persis dengan putranya dan warna rambutnya hitam legam, Sedangkan warna rambut Vanessa adalah coklat keemasan.


...💐💐💐...


“apa bapak sekarang sudah merasa lega, karena sudah bertemu langsung dengannya?” tanya Adnan pada kakek Rusman.


Di tanya seperti itu membuat senyumannya terbit, kemudian mengangguk. “tentu saja aku sangat bahagia, aku tak menyangka akan bertemu dengannya dan untungnya dia datang pas Bobby sudah pergi.” jawabnya.


Adnan yang mendengar itu manggut-manggut setuju, ia juga merasa lega karena atasannya itu tak sampai melihat Alya. Bisa gawat nanti jika Bobby mengetahui kedua keponakannya yang selama ini ia sangka sudah meninggal, nyatanya masih hidup dan berada di Jakarta.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil taksi, membelah jalanan ibukota dengan kecepatan sedang.


“Sesuai dengan apa yang Nattan katakan, dia memang sangat mirip dengan Vanessa. Hanya bedanya di bagian mata dan warna rambut, ngikut Ferdi.”


“itu memang benar pak. Selain itu dia juga punya sifat ramah sama semua orang, itu menurut penilaian saya setiap memantaunya. Tapi banyak pula yang tak menyukainya, terlebih teman-teman di kampusnya.”


Kakek Rusman menghela nafas berat. “begitulah resikonya jika memiliki pasangan yang sempurna.”


Kakek Rusman jelas tahu hal apa saja yang selama ini Alya alami, termasuk dengan kegiatannya selama di kampus. Juga soal kedekatan Andreas dengan Alya, tapi kakek Rusman belum tahu jika cucu lelakinya itu memiliki perasaan lebih ke Alya.


Hingga saat ini kakek Rusman memang masih bungkam dengan keberadaan Alya dan Selena dari keluarganya, termasuk Andreas. Meski ia tahu cucunya itu juga ikut mencari, tapi belum ada informasi apapun.


“lalu rencana bapak setelah ini apa? Tetap bersembunyi atau mengatakan yang sebenarnya?”


“aku tidak tahu.” lirihnya.


“bapak tahu kan kalau sebentar lagi Selena akan melahirkan?”


“ya.”


Meski kakek Rusman tidak tahu berapa usia kandungan Selena, tapi begitu melihat potret-potret yang selama ini di kirimkan anak buahnya, sepertinya itu tak akan lama lagi.


“apa bapak ingin pergi kesana?”


“tentu saja. Aku akan datang kesana secara diam-diam, sekalian aku juga ingin bertemu langsung dengan adinata.”


Adnan nampak kaget mendengar itu. “bapak yakin ingin bertemu pak adi?” tanyanya.


“ya.”


“kalau mereka mengusir bapak bagaimana?” resah Adnan.


“itu resikonya, Berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab.”


“tapi pak.. kalau--”


“tenanglah nan, saya akan baik-baik saja.” ucap kakek Rusman seraya menepuk pelan bahu Adnan, berusaha menenangkan.


Ia tahu keputusannya ini sangat beresiko, tapi tekadnya sudah bulat. Ia ingin meminta maaf pada mereka sebelum ia meninggal, dan dia juga akan menyerahkan sesuatu yang sudah menjadi hak kedua cucunya.


“apa Alya dan suaminya juga akan pergi kesana?” tanya kakek Rusman.


“sepertinya begitu.”


“bagus! Nanti kau siapkan segalanya ya.”


“baik pak. Oh ya, soal hasil otopsi itu bagaimana pak?”


“cocok.”


“hah! Tapi bagaimana bisa?”


“aku pun tak paham bagaimana hasilnya bisa positif, sudah jelas-jelas kedua cucuku itu masih hidup. dan ku peringatkan kau untuk hati-hati padanya, karena sepertinya dia mulai curiga padamu.”


“iya pak.”


...💐💐💐...


Sementara itu di lain tempat nampak Mayra tengah berada di sebuah restoran, ia duduk bersama seorang pria muda dan berparas tampan.


“kau yakin ini akan berhasil?” tanya Mayra pada pria di depannya.


“tentu saja! Malam itu dia sedang tak sadarkan diri, dan bangun tahu-tahu sudah berada di dalam kamar bersamamu. Orang bodoh saja pasti akan langsung berpikiran yang negatif.” jawabnya.


Mayra menghela nafas. “kau tau kan dia bukan orang bodoh, dia tak mungkin semudah itu percaya.”


“kau tenang saja, kali ini target kita bukan lagi Kevin, tapi Alya. Dan kau pasti tahu sifatnya seperti apa.”


Mayra bungkam, ia tahu akan hal itu tapi hatinya ragu.


“inilah jalan satu-satunya agar kita bisa menembus penjagaan kevin, setelah itu kita akan memperdayanya.”


“lewat Alya?”


“ya.”


“apa itu akan berefek bagus, sedangkan kamu sendiri tahu pernikahan itu bisa terjadi karena ada kesepakatan bersama.”


Pria di depan Mayra yang tak lain adalah sanha itu tersenyum smirk, ia sedikit mencondongkan wajahnya ke wajah Mayra.


“bukankah Sebelumnya kamu pernah mengatakan kalau diantara mereka masih ada cinta? Aku yakin dengan cara kita membuat Alya menjadi tumbal, Kevin akan langsung bergerak. Karena sejatinya.. laki-laki tak akan rela jika wanita dicintainya terluka sedikitpun.”


“lalu.. apa yang harus aku lakukan?”


Sanha tersenyum senang mendengar itu, itu tandanya Mayra setuju dengan rencananya.


“aku dapat info jika hari ini Alya akan datang ke kantor Kevin, kamu datanglah kesana dan buat keributan agar bisa menarik perhatiannya. Aku yakin dia pasti akan mengijinkanmu masuk.”


“kalau gagal?”


“aku jamin tidak.”

__ADS_1


“Tenang saja, para sniper akan memantau. Mereka akan langsung menghubungimu jika ada pergerakan dari anak buah Kevin.”


“baiklah.”


__ADS_2