TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 89~Isi Hati Kevin


__ADS_3

Waktu pun terus bergulir, tanpa terasa langit malam sudah berganti menjadi biru cerah. Sinar matahari pagi pun mulai memancarkan cahayanya di balik jendela, hingga perlahan masuk ke dalam kamar yang di singgahi oleh pasutri bucin yang masih bergelung dalam selimut tebal.


Jarum jam di dinding sudah mengarah ke setengah 7, namun pasutri itu belum ada pergerakan untuk bangun. Mereka berdua masih lelap tidur sambil berpelukan, dan saling merapatkan diri.


Hingga akhirnya...


Kriiing.. Kriiinng.. Krriing..


Sontak saja keduanya berjingat kaget begitu mendengar suara nyaring alarm dari ponsel Kevin, yang semalam ia letakkan di meja samping ranjang. Dengan mata yang masih lengket dan gerakan malas, Kevin sedikit membalikkan tubuhnya ke belakang, seraya satu tangannya terulur meraih benda itu dan mematikannya.


Setelah itu ia kembali berbalik, dan tersenyum kala mendapati istrinya sudah berbalik ke arahnya. Kedua matanya masih tertutup rapat, satu tangannya sudah berada di atas perut sixpacknya dan tangan satu lagi berada di belakang kepalanya sebagai tumpuan.


Dalam beberapa saat Kevin hanya diam, seraya menatap penuh memuja wajah bantal Alya namun terlihat sangat cantik dimatanya. Ah, bukankah wanitanya sudah seperti itu sejak dulu? Selalu terlihat mempesona dikondisi apapun? Itulah salah satu alasan kenapa dia bisa menjatuhkan hatinya padanya.


Sejujurnya, hingga saat ini Kevin sendiri masih belum menyangka jika ia bisa merasakan jatuh cinta. Padahal dulu pernah ada pikiran untuk tak akan tertarik dengan namanya wanita dan pernikahan, karena ia takut kelakuannya akan sama seperti ayahnya.


Bukankah ada pepatah yang mengatakan, buah jatuh takkan jauh dari pohonnya? Maka, begitulah dia. Ia sangat takut jika nanti memiliki pasangan, maka dia akan menyakitinya. Sama seperti ayahnya yang menyakiti mama kandungannya, dan juga mama sambungnya.


Namun nyatanya, takdir malah berkata lain. Dia jatuh cinta, bahkan kini ia sudah menikah dan memiliki istri. Meski sebelumnya banyak badai yang menerpa, sehingga membuatnya sempat mati rasa dan menyerah, pada akhirnya tuhan kembali memberinya kebahagiaan.


Kendati begitu, Kevin tak menyesali apa yang sudah terjadi. Ia selalu percaya di balik derasnya air mata pasti ada kebaikan di baliknya, dan buktinya adalah sekarang. Wanita yang dulu ia kira jahat seperti nenek sihir, nyatanya adalah seorang anak kecil yang lugu dan polos. Kepribadiannya yang seperti bidadari, selalu ingin melihat orang-orang disekitarnya aman dan tersenyum bahagia mampu melunakkan hatinya yang beku.


Dalam diri, Kevin sudah bersumpah akan menjaga istrinya sepenuh raganya. Ia akan menyingkirkan siapapun yang berani menyentuh pusat dunianya, sekalipun orang itu adalah keluarganya sendiri.


“bangun sayang, ini udah pagi.” ucap Kevin dengan suara seraknya khas bangun tidur, seraya tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik alami istrinya.


seketika itu pula Kevin dibuat terkejut oleh banyaknya tanda merah keunguan di leher sang istri, akibat ulahnya semalam. dirinya merasa tak percaya jika bisa berbuat seperti itu, pasti rasanya sangat sakit sekali. Tapi.. kalau di ingat-ingat lagi semalam istrinya itu menikmatinya, bahkan suara desahannya begitu kencang saat ia mencumbuinya.


Lalu ingatan Kevin lari ke malam dimana ia pertama kali menembus pertahanan alya, dimana ia melihat istrinya menjerit kesakitan akibat sobekan di selaput daranya. Kala itu Kevin tak memikirkan soal penderitaan yang dirasakan istrinya, karena otaknya sudah di penuhi oleh nafsu dan amarah.


Mengingat itu membuat dada Kevin sesak, ia masih ingat betul ia melakukannya secara kasar dan tanpa berhenti. Bahkan saat istrinya sudah terlihat tak berdaya, ia terus menggerakkan tubuhnya hingga merasa puas.


Di sela-sela lamunannya, Alya mulai membuka matanya dan melenguh, kepalanya mendongak menatap wajah suaminya yang begitu dekat.


“aku masih ngantuk.” balas Alya dengan suara pelan.


Kevin yang mendengar itu kembali melirik dan tersenyum, lalu beringsut mendekat dan mendaratkan ciuman hangat di bibir istrinya. Sebelah tangannya mengusap lembut kepalanya, sedangkan satunya lagi menekuk di atas kasur, seraya menahan beban tubuhnya.


“aku juga sama, tapi hari ini kita harus pergi ke bandung. Kamu gak lupa kan sama omonganku kemarin?”


Alya menggeleng, kemudian menggerakkan kedua tangannya untuk melingkar di leher suaminya. Kevin menganggap itu adalah kode, ia pun semakin memajukan wajahnya, lalu kembali mendarat ke bibir istrinya.


Meski awalnya kaget namun Alya tak menolak, ia pun langsung membalasnya seraya jemarinya meremas rambut tebal suaminya. Dan Dalam beberapa detik pasutri itu hanyut oleh ciuman mesra, saling meresapi rasa bibir satu sama lain sebelum akhirnya melepaskan diri.


“jam berapa ini?” tanya alya.


“setengah 7.” jawab Kevin dengan suara berbisik, seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh Alya. Bahkan kedua tangan kekarnya sudah melingkar di punggung kecilnya.


Setelah itu Kevin kembali menyerang bibir Alya, ********** dengan gerakan lembut namun menuntut. Pria itu seakan tak pernah puas untuk mencumbui belahan daging kenyal yang terasa manis milik istrinya itu, padahal Alya sudah merasakan bibirnya kebas.


Kali ini Alya hanya diam saja, matanya terpejam seraya menikmati cumbuan hangat sang suami. Namun sayangnya itu tak bertahan lama, begitu Kevin mulai menindihnya dan merasakan sesuatu yang tegang di area pahanya, ia langsung mendorongnya.


“sayang..” protes Kevin dengan wajah cemberut.


“semalam kan udah Vin, belum puas juga?”


Kevin menggeleng, seraya tersenyum genit. “belum. Dan kayaknya gak bakal puas!”


“ck! Dasar mesum.”


“apa salahnya mesum sama istri sendiri? Memangnya kamu mau aku berbuat kayak gini sama cewek lain, Hem?”


Mendengar itu mata Alya langsung melebar, dengan perasaan kesal ia pun memukul keras dada suaminya yang dibaluti kaos polos warna putih.


“jangan macam-macam kamu ya!”


Bukannya merasa kesakitan ataupun marah karena sudah di pukul, Kevin malah terkekeh geli.


“aku bercanda sayang, jangan marah ya.” ucapnya dengan nada menggoda.


“bercandamu gak lucu!” cetus Alya.


“memang, kan aku bukan pelawak.” balas Kevin.


“aku serius ya.”


“aku lebih serius!”


“kevin ih!” pekik Alya, lalu kembali memukul tubuh suaminya itu.


Namun lagi-lagi Kevin tak merasa kesakitan sama sekali, pria itu malah tertawa lepas. Menurutnya wajah Alya saat ini Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Sedangkan Alya sendiri merasa dongkol, bisa-bisanya kevin mengatakan seperti itu padanya. Apakah pria itu tak tahu jika ia tak suka dengan ucapannya tadi, tapi suaminya itu malah terlihat bahagia sekali. Dan gadis itu mengsalah artikan kebahagiaan Kevin saat ini, karena akan melakukan apa yang diucapkannya tadi

__ADS_1


Ada yang mengatakan ucapan adalah doa, dan Alya sangat takut apa yang Kevin ucapkan tadi beneran terjadi. Ditambah dengan keberadaan Jenifer dan Mayra yang secara terang-terangan menyukai Kevin, dan ada niatan ingin merusak rumah tangganya. Belum lagi masalahnya dengan ayah mertuanya, membuat pikiran gadis itu kalut.


Bahkan kini dalam otaknya mulai berpikir negatif jika ungkapan cinta suaminya kemarin itu hanyalah bohong semata, dan mungkin dengan itu adalah cara kevin untuk membalas sakit hatinya di masa lalu. Yah, mungkin saja seperti itu. Karena Alya tahu betul watak Kevin seperti apa, dan kalau di pikir-pikir lagi rasanya mustahil Kevin semudah itu melupakan kesalahannya. Namun dengan bodohnya dia percaya begitu saja, dan sekarang dia menyesalinya.


“kamu jahat!” lirihnya dengan nada bergetar, kemudian mendorong kuat tubuh suaminya dan beranjak bangun.


Kevin yang menyadari nada bicara Alya yang berbeda langsung menghentikan tawanya, wajahnya kembali datar. Dan saat istrinya itu ingin turun dari kasur, dengan cepat ia menahannya.


“Lepaskan aku!” pinta Alya setengah menjerit, seraya tangannya menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya.


Kevin membisu, namun kedua tangannya bergerak melingkar di perut sang istri. Memeluknya erat dari belakang, dan mendaratkan dagunya di bahu mungilnya.


“kamu marah sama aku, hem? Tadi itu aku cuma bercanda sayang..” Ucapnya dengan suara rendah.


Kali ini Alya yang membisu, ia melengos. Dan hal itu membuat Kevin menghela nafas, sepertinya ucapannya tadi membuat istrinya tersinggung.


“maafkan aku sayang, aku gak bermaksud bikin kamu marah. Sumpah demi tuhan tadi itu cuma bercanda, mana mungkin sih aku berbuat kaya gitu sama cewek lain. Jangan marah lagi ya?” bujuknya.


“kenapa gak mungkin? Ya kalau kamu mau kayak gitu silahkan aja, aku gak bakal melarang kok. Tapi sebelum kamu lakuin itu, ceraikan aku dulu!” ucap Alya.


DEG!


Mendengar itu mata Kevin kian membola, kemudian berdecak kesal. “kamu ini bicara apa sih, kemarin kan aku sudah katakan kalau kita tak akan bercerai. Apapun kondisinya!” tegasnya.


“itu kan kemarin, bukan sekarang. Lagian aku cukup sadar diri kok siapa aku, dan aku juga tau ungkapan perasaanmu yang kemarin itu hanya sebatas ingin menyenangkan aku aja. Ja--”


SREET!


Ucapan Alya berhenti begitu saja, saat merasakan tubuhnya tertarik secara kasar ke belakang dan melihat ekspresi wajah suaminya yang kaku.


“jadi kamu gak percaya sama perasaanku?” potong Kevin cepat.


Alya diam sejenak. “itu kan yang sebenarnya terjadi?”


“JELAS SAJA TIDAK!” teriak Kevin menggelegar, dan hal itu membuat Alya spontan menutup matanya sejenak karena kaget. “kamu tentu tahu aku kayak apa kan? Setiap ucapan yang keluar dari mulutku, itulah kebenarannya!” sambungnya.


“vin, ak--”


“stop! Aku gak mau dengar alasan apapun lagi darimu, yang jelas aku hanya ingin tegaskan jika aku memang masih mencintaimu! Tak ada satupun kebohongan disini, aku benar-benar cinta sama kamu Alya!”


Sejenak hening, Kevin menghela nafas sepenuh dada sebelum melanjutkan bicara.


“aku akui dulu aku sempat bilang sangat membencimu, bahkan untuk menyebut namamu saja aku sudah emosi. Karena apa? Karena aku selalu ingat dengan video itu, video dimana awal kesalahpahaman ini terjadi. Ditambah dengan sandiwara kalian, yang seakan-akan mengiyakan itu. Tapi setelah kita bertemu kembali dan disatukan dalam pernikahan, aku baru sadar kalau perasaanku sama kamu itu gak pernah hilang. Bayanganmu selalu mengikuti kemanapun aku pergi, dan itu sangat menggangguku. Sempat aku menepisnya, karena aku selalu meyakini kalau aku udah gak cinta lagi sama kamu. Aku selalu mengganggap itu hanyalah rasa nyaman aja. Tapi.. sejak dimana aku tahu semuanya, aku paham kalau aku hanya sekedar kecewa. Jadi aku mohon banget sama kamu jangan ragukan perasaanku, karena memang sejak awal kita kenal sampai sekarang perasaanku tak pernah berubah!”


Bahkan sepanjang mengatakan itu, deru nafas Kevin terdengar berat. Mungkin dikarenakan pria itu sudah lama memendamnya, dan baru kali ini mengutarakannya. Wajar saja, karena pria di depannya itu tak suka curhat dengan siapapun. Sekalipun dengan para sahabatnya, terlebih ini masalah pribadi.


Harusnya dari situ Alya sudah bisa menilai jika Kevin tak pernah main-main dengan perasaannya, di tambah dengan semua tindakannya pasti sudah di pikirkan secara matang-matang.


Tapi kenapa hanya karena pikiran negatifnya membuat dirinya tidak percaya dan meragukan perasaan suaminya itu, padahal ia tentu tahu bagaimana sifat Kevin. Rasa cemburu itu sudah meracuni akal sehatnya, sehingga lupa dengan kenyataan yang ada.


Menyadari itu Alya langsung memalingkan wajahnya ke samping, ia merasa malu. dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu overthingking. Terlalu larut oleh rasa takut dan cemburu sehingga bisa meragukan pria yang teramat sangat mencintainya, bahkan hanya karena kesalahpahaman di masa lalu membuatnya depresi hingga memiliki gejala anxiety.


“katakan padaku, apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya dengan semua ucapanku. Aku janji bakal lakuin itu semua, asal kamu percaya jika apa yang aku ucapkan memang kenyataannya begitu.”


Kevin kembali bersuara, namun Alya masih membisu. Posisinya tetap sama, masih memalingkan wajahnya. Sedangkan Kevin menatapnya dengan tatapan sendu, pria itu terlihat sangat sedih karena Alya tak mempercayai ungkapan cintanya.


Yah, meski awalnya Kevin sempat ragu dengan perasaannya sendiri tapi kini ia sudah benar-benar yakin. Bahwa ia masih sangat mencintai gadis yang 5 tahun lalu berhasil menariknya dari dunia hening, dan gadis itu kini sudah menjadi istrinya.


“alya, please katakan sesuatu. Jangan diamkan aku seperti ini, aku--”


Ucapan Kevin terhenti kala bibirnya sudah dibungkam oleh tangan Alya, seraya menggeleng. Wajahnya sudah merona, begitupun dengan bola matanya.


“tak perlu bicara ataupun membuktikan apapun lagi, aku percaya sepenuhnya dengan semua ucapanmu. Maafkan aku karena sempat ragu, itu karena aku sedang cemburu sekaligus takut Vin. Pikiranku kalut, karena aku sadar masih banyak wanita diluaran sana yang masih terus mengejarmu, ditambah dengan ucapanmu tadi yang akan bermesraan dengan wanita lain. Belum lagi dengan permasalahanku dengan papa, aku takut dia akan kembali memisahkan kita. Maafkan aku..”


Kevin bisu sejenak, matanya melihat bergantian netra istrinya yang memang memancarkan ketakutan dan kegelisahan. Entah hal keji seperti apa yang papanya lakukan dulu, sehingga membuat Alya trauma seperti ini. Tapi yang pasti dia akan melakukan segala cara agar istrinya itu aman, bahkan kalau bisa dia akan membunuh siapapun yang berani menyakitinya.


Tak lama setelahnya Kevin menyingkirkan tangan Alya dari mulutnya, lalu menggenggamnya dan berakhir mengecup jemarinya.


“aku juga minta maaf sayang, akibat dari ucapanku tadi membuatmu ragu. Sumpah demi seluruh alam semesta, aku tak bermaksud begitu. Tadi aku hanya ingin menggodamu saja, kalau endingnya bikin kamu punya pikiran buruk, aku gak mungkin mengatakan itu. Dan aku juga minta mulai sekarang jangan takut sama apapun, termasuk dengan papa. Selama aku masih diberi nafas, maka selama itu kamu dan keluargamu akan aman.”


Alya mengangguk, lalu bergerak mendekati Kevin. Duduk di pangkuannya, dan kedua tangannya menyentuh sisi wajahnya. Jemari lentiknya mengusap sudut matanya yang sudah berair, lalu berakhir mengecupnya bergantian.


“kamu sering bilang kalau kamu gak suka lihat aku nangis, maka aku pun begitu. Aku juga gak suka ada air mata keluar dari sini, jadi mulai sekarang jangan menangis lagi.”


Mendengar itu Kevin tersenyum, seraya kedua tangannya mengangkat pantat istrinya dan merapatkan tubuh. Sehingga kini tak ada celah sedikitnya dari tubuh keduanya.


“iya sayang, dan maaf sudah membuatmu cemburu. Kamu harus percaya bahwa hanya kamu wanita satu-satunya dalam hidupku, dan itu akan selamanya.” bisik Kevin.


“termasuk jeni dan Mayra?”


“tentu saja!”


“tapi mereka menyukai kamu.”

__ADS_1


“aku tidak perduli! Yang pasti aku hanya ingin kamu tahu bahwa di hati ini tak ada nama lain, selain dirimu.”


Mendengar itu Alya tersenyum, kini hatinya benar-benar lega karena sudah mengetahui suaminya juga masih mencintainya. Dalam diri ia bersumpah akan melakukan apapun asal hubungannya dengan Kevin terus terjaga, dan dia juga akan memberantas siapapun yang berani ingin merebut Kevin darinya.


Termasuk juga soal papa mertuanya yang hingga saat ini masih terus mencari celah agar pernikahannya dengan Kevin kandas, meski tak menampakkan diri tapi Alya tahu aji pasti akan melakukan hal licik agar rencananya itu bisa terwujud.


Contohnya lewat Mayra!


Yah, sebenarnya Alya sendiri belum yakin pengakuan Mayra yang hamil anak Kevin itu atas suruhan aji atau memang ada pihak Lain. Tapi yang pasti dia sangat percaya dengan suaminya itu, jika pun benar mungkin sudah sejak dulu Kevin sudah melakukannya.


“sayang..” panggil Kevin dengan suara rendah, ia menatap lekat istrinya.


“apa.”


“kita lanjutkan yang tadi yuk?”


Alya mengernyit. “yang mana?”


“morning kiss.”


Alya bisu sejenak, sebelum akhirnya menggeleng.


“sebentar aja sayang, boleh ya?”


“nanti kamu kebablasan, gak mau ah!”


Mendengar itu Kevin cemberut. “padahal kamu sendiri yang mulai, tapi gak mau bertanggung jawab!”


Alya yang mendengar itu tertohok. “kapan aku mulainya, bukannya kamu yang mulai duluan?”


“terus ini apa? Kamu duduk di pangkuan aku, kalau bukan untuk menggodaku. Hem?”


Alya kembali membisu, ia menatap dirinya dan ia pun langsung kaget. Gadis itu seakan tak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, padahal tadi pikirannya hanya ingin menghapus jejak air mata Kevin. Namun siapa sangka ia malah duduk di pangkuan sang suami, dengan posisinya yang sangat intim.


Karena tak mau terjadi yang buruk, Segera ia pun menyingkir, namun sayangnya Kevin menahannya dengan cepat.


“kamu gak boleh kabur sayang, kamu harus tanggung jawab karena sudah membangunkan dia.” ucap Kevin, lalu menekan pantat Alya ke batangnya yang sudah berdiri.


DEG!


Alya yang merasakan itu tentu saja kaget setengah mati, matanya sedikit melebar ditemani oleh detak jantungnya yang berdebar kencang. Kevin yang kala itu hanya memakai boxer saja, sehingga Alya bisa merasakan betapa keras dan besarnya batang suaminya itu.


Gadis itu mulai panik, tanpa sadar dia menggerakkan pantatnya di atas batang Kevin. Sehingga membuat si empu mendesah keenakan, akibat gesekan dibawah sana.


“ahh! sayang, jangan bergerak. Kamu malah semakin membangunkan dia.”


Seketika Alya kembali diam, tubuhnya membeku di tempat. “m-makanya lepaskan aku Vin, a-aku--”


“aku akan lepaskan, tapi setelah melakukan ini.”


Setelah itu Kevin menekan tengkuk Alya dan menyerang bibirnya, mencumbui belahan daging kenyal itu dengan penuh hasrat. Sedangkan Alya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa pasrah, karena jika ia bergerak sedikit saja maka itu sama saja ia semakin membuat gairah suaminya tersulut.


“balas aku sayang, apa kamu sudah lupa caranya berciuman.” bisik Kevin, sebelum akhirnya kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Alya.


Alya pun mulai membalas cumbuan sang suami, seraya memejamkan matanya. Membuat Kevin yang sudah dilanda gairah semakin memanas, kedua tangannya pun sudah aktif menggerayangi tubuh istrinya. namun tetap saja akal sehatnya masih bekerja. Ia ingat betul jika saat ini istrinya sedang datang bulan, jadi sebisa mungkin ia akan menahannya.


Semakin lama cumbuan Kevin semakin intens dan menuntut, deru nafasnya pun mulai terdengar berat. Gerakan tangan nakalnya mulai menjelajahi area tubuh istrinya ke bagian paling sensitif, membuat si empu tak kuasa mengeluarkan desahannya. Hal itu tentu saja membuat libido Kevin memuncak, kepalanya pun mulai berdenyut saat merasakan batangnya semakin keras. namun sebisa mungkin ia mengaturnya, agar tak sampai melewati batas.


Hingga beberapa saat kemudian Kevin menyudahi cumbuannya, ia menyembunyikan wajah tampannya di dada Alya yang sebagian kancing bajunya sudah terkoyak.


“kita harus siap-siap vin.” bisik Alya, seraya tangannya mengusap kening suaminya yang sudah basah oleh peluh.


Kevin tak bersuara, namun kepalanya mengangguk. Sejenak bibir tipisnya mengecupi belahan empuk itu hingga naik ke bibir, lalu beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi sambil menggendong tubuh Alya.


Alya tak menolak sama sekali saat suaminya melakukan itu, karena ia tahu di dalam sana nanti Kevin akan berendam air dingin di bathub. Meredamkan juniornya yang sudah terlanjur bangun, sekalian menunggunya selesai mandi.


Sejujurnya Alya sendiri sedikit kikuk dan malu karena baru kali ini mereka berada di satu ruangan itu, bahkan dengan tak ada rasa malunya kevin membuka seluruh pakaiannya di depannya sebelum akhirnya tubuh telanjangnya tenggelam di bathup.


“dasar suami gak ada akhlak!” gerutu Alya.


Ia yang saat ini sedang berdiri di depan wastafel sambil menggosok gigi, mendelik kesal ke arah suaminya yang sedang merendamkan tubuhnya di balik tumpukkan busa. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum smirk, lalu mengerling. Kemudian tertawa lepas, begitu melihat Alya memutar matanya jengah.


“mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan ini semua sayang, karena sepertinya kita akan sering melakukannya.” ucap Kevin.


Mendengar itu Alya kembali melirik sang suami, seraya mengernyit. “apa maksudmu?”


“mandi bersama.”


“cih, Dasar mesum!” cetus Alya, lalu kembali melirik ke ke depan. Lebih tepatnya ke arah kaca besar yang ada di hadapannya.


“dan aku begini cuma sama kamu doang, ingat itu!” balas Kevin.


Alya tak kembali bersuara, namun diam-diam ia tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2